Tampilkan postingan dengan label Agus Sulton. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agus Sulton. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 April 2013

Semangat Perjuangan Dalam Sastra Buruh

Agus Sulton
Radar Mojokerto, 1 Nov 2009

Apa itu sastra buruh? Istilah ini adalah suatu yang baru—belum satupun para ahli yang mendefinisikan pengertian sastra buruh itu sendiri. Mungkin sastra buruh adalah sastra yang ditulis dari kalangan buruh (kasar) atau aktivis gerakan buruh atas dasar resisitensi atau semacam propaganda. Walaupun dalam konteksnya—sastra buruh sudah lama ada, namun perkembangannya kurang begitu meluas.

Rabu, 04 April 2012

Arogansi Teks Dan Elaborasi Penakluk Ide: Sebuah Prolog Kegelisahan

Agus Sulton
http://sastra-indonesia.com/

Manusia adalah pencipta budaya, dan sosial sebagai kekuatan ambisi untuk proses berbudaya. Individualitas berfikir setidaknya mampu membentuk budaya, namun budaya sendiri akan mempengarui manusia terhadapa kepribadian seseorang. Keduanya sebagai akar relasi akomodatif, dalam artian saling menyesuaikan dan dapat berkembang selama manusianya tidak menafikan sejarah pendahulu, kamudian dikemas ke dunia kekinian. Sebab itulah, sejarah sebagai tiang kekuatan bangsanya bahwa bangsa tersebut dikatakan bangsa yang banyak menyimpang tradisi-berbudaya.

Jumat, 30 Desember 2011

MANUSKRIP DAERAH: PELESTARIAN IDENTITAS KULTURAL MENUJU KOMODITAS

Agus Sulton
Radar Mojokerto, 1 Mei 2011

Mayoritas masyarakat kita tidak mengenal apa itu filologi, apa itu manuskrip, dan arti pentingnya. Ini setidaknya menjadi suatu fenomena besar, mungkin terjadi kesalahan dari sistem pendidikan kita sehingga hal semacam ini tidak diperkenal di tingkat sekolah lanjutan. Padahal orang yang kredibel dibidang ini berpendapat manuskrip adalah benda bersejarah dan masuk dalam cagar budaya yang harus dilindungi akan keberadaannya. Edwar Djamaris menyayangkan apabila manuskrip tidak dirawat dengan cermat akan cepat sekali hancur dan tidak bernilai lagi sebagai warisan budaya nenek moyang. Manuskrip bukanlah perhiasan yang harus dibanggakan dan mempertontonkan saja. Manuskrip itu baru berharga apabila masih dapat dibaca dan dipahami isinya.

Rabu, 28 September 2011

Berburu Rongsokan: Sebagai Langkah Menyelamatkan Artefak

Agus Sulton
http://sastra-indonesia.com/

Membicarakan barang rongsokan, yaitu manuskrip atau orang pedesaan menyebutnya sebagai buku kuno pastinya setiap orang mempunyai statemen, setidaknya argumen tekstual tersendiri dalam memperlakukannya. Pihak lain ada substansi otoritas koheren dengan menjadikan manuskrip layaknya benda keramat, seolah-olah terselip teks mantra—yang bahkan bisa juga menjadikan orang impulsifitas; mempraktekkan dan memenuhi sebuah struktur ideal. Discourse masyarakat mengais ide sebagai perpanjangan pertahanan keimanan yang baru dalam kepentingan-kepentingan transendental dan keuniversalan Tuhan, mungkin juga (tentatif).

Masyarakat ada kehendak lain atau inpresif lain pihak bahwa, manuskrip/artefak itu terdapat makhluk Tuhan yang menghuninya, ada ritual (jalinan komunikasi) eksperimentasi dalam membongkar simbolisme terselubung. Ini saya beranggapan sebagai kegelisahan ruang kedap tersendiri untuk membongkar program tindakan yang berada atas eksploitasi sistem-sistem kepercayaan. Kalau menyoal makhluk Tuhan yang secara kasat mata terselip pada kekuatan iman kita. Bagaimana kita memperlakukan-nya atau mungkin mengganggapnya teman sama-sama makhluk Tuhan yang lemah, dan Tuhan adalah maha segala-galanya. Sekejam Iblis-pun yang lincah bertaktik komunikasi untuk mendustai manusia, baik sebagai objek referensi sejarah beradaban manusia sampai menyoal penggusuran akan hunian yang—sepatutnya mencelakai keberadaan manusia yang secara keimanan itu lemah. Lagi-lagi tergantung bagaimana manusianya itu dalam mendekatkan dirinya kepeda Tuhan. Dan beranggapan makhluk Tuhan selain manusia, yang sebagian orang tidak ada kekuatan untuk mengaksesnya, toh itu juga sahabat kita yang memiliki ruang dan waktu tersendiri. Tuhan sendiri bersabda ”Bahwa aku (Allah) tidak akan menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah,” itu benar adanya, tergantung manusia dan jin untuk menyikapi itu semua. Manusia keblinger isi perut, entah sampai tidak terlintas apa yang terjadi setelah roh tidak mau bersetubuh dengan jasad kita. Hunian dunia tak ubahnya hunian kontrak’an, dengan hasil akhir adalah kekuatan ibadah. Beda lagi pada kontruksi sosial jin, yang tiap-tiap individunya bisa mencapai ribuan tahun. Kelompok lain, dosa seperti sebuah keharusan membunuh, pemabuk, menggoda manusia yang tidak berdosa. Bahkan sebagian jin beranggapan, mereka melakukan itu semua karena nenek dan buyut mereka sudah mengklaim anak turunnya tidak akan bisa masuk surga, kebimbangan ini berdampak pada anak cucunya yang selalu pasrah akan sebuah kondisi, dan perbuatan merugikan sesama atau manusia menjadikan sajian utama untuk mengekspresikan kekesalan. Pendapat lain mengakatan, kalau manusia ramai menyoal isi perut sebagai kekuatan sebuah strata sosial, beda persoalan pada jin eks Islam yang rame terkait sebuah kekuatan ilmu hitam dan taktik strategi sebagai strata sosial. Kekuatannya sebagai tolak ukur kekuatan kerajaan atau suku yang dikuasainya dengan prajurit yang dimiliki. Kita punya satu kekuatan agama ”Manusia adalah makhluk sempurna.”

Sedikit deskripsi tersebut membukakan pemikiran tersendiri, bahwa manuskrip adalah benda mati sebuah kekuatan manuskrip diselip di dalam teks. Tergantung bagaimana manusia itu mengolah kekuatan teks tersebut. Teks itu akan meloncat-loncat kesadaran, dan kehilangan talinya pada masalah tunggal, terletak pada pribadi setiap pihak. Hanafi (2005) menyebutnya sebuah keajaiban adalah bisa jadi sebuah kekacauan hukum alam, namun kehendak mengesampingkan keindependenan akal dan kebebasan berkehendak manusia maka hukum alam itu susah untuk dirusak.

Pembicaraan sisi eksternal manuskrip memang tak ada habisnya. Terkadang masyarakat membakarnya, beranggapan tidak ada guna dan manfaat yang dapat diambil untuk memperlakukan benda tersebut. Dan selama saya mengais rongsokan itulah yang sering ditemukan, pembakaran manuskrip, pembiaran manuskrip tanpa perawatan sampai akhirnya menjadikan menu favorit dari pihak rayap, bahkan manuskrip itu rusak karena virus telah menyublin di peredaran darah mendekati ambang kematian yang sebelumnya tidak pernah diperlakukan kontrol ke unit gawat darurat saat terjangkit inveksi sampai akhirnya meninggal dunia menjilma menjadi bongkahan abu.

Penyebab lain, perdagangan yang tidak jelas mau diperlakukan seperti apa. Yang pasti sejak tahun 70-an sampai sekitar 2007 perdagangan manuskrip dilakukan besar-besaran melalui kolektor jalur pulau Bali, surga para anjing untuk membawa manuskrip ke negara asal masing-masing kolektor. Bukan hanya manuskrip yang ekspor, tetapi semua barang antik lain yang memiliki nilai jual dan unsur sejarah bisa dirupiahkan. Satu sisi masyarakat tidak peduli, selanjutnya dijual pada para kolektor barang antik atau bahkan tidak ada perlakuan sama sekali. Lain pihak, manuskrip dijadikan sesuatu yang sakral. Menurut saya, dikotomi tersebut tidak bisa dijadikan suatu pondasi gelisah, yang kita butuhkan hanya bagaimana untuk menyelamatkan sisa-sisa manuskrip yang tersimpan di masyarakat dengan diperlakukan lebih ekstra, selanjutnya memanfaatkan teks itu sendiri untuk dunia kekinian.

Menyoal kerakusan dan keserakahan manusia yang tidak bertanggung jawab pada manuskrip memang tidak ada habisnya, malah berakibat sebuah butiran air mata yang didapat. Tidak bisa saling menyalahkan kesana-kemari, yang patut disalahkan kita yang sadar dan tahu akan manfaat manuskrip itu sendiri tetapi tidak pernah memperhatikannya. Pemerintah lebih berdosa akan hal ini, tapi labih berdosa lagi orang yang punya letar belakang dibidang sastra lama atau didikan filologi—yang tidak ada perhatian sama sekali pada masnuskrip-manuskrip yang masih tersimpan di masyarakat (memburunya), bahkan mereka duduk asyik, keenakan, bisa jadi terlalu manja menjadikan proyek tersendiri pada koleksi di museum. Kita tidak usah banyak bacot, bahasa orang Jombang ”kakean cangkem” atau berlagak sedih pada kondisi sumber kebudayaan (manuskrip) bangsa Indonesia yang dicomot dan dibeli oleh negara lain, yang kita harapkan bersama adalah bagaimana tanggung jawab kalian selama studi filologi agar bisa dan mampu untuk memberikan sumbangan menyelamatkan naskah-naskah kita di masyarakat yang jumlahnya masih ribuan. Apalah gunanya memperbanyak dan mengenyam pendidikan megister dan doktor departemen filologi kalau sebatas sebuah eksistensi, bagi saya merupakan beban moral dan penderitaan.

Marilah kita sama-sama saling menyadari akan kondisi pernaskahan di Nusantara, jangan sampai naskah-naskah kita di masyarakat diperlakukan ala kadarnya berakibat musnah, diperjualbelikan, dan tidak ada semangat inventarisasi atau menyelamatkannya. Bagi mereka yang belum tersadar, hanya sibuk soal proyek akhirnya berujung pada perut mari saat ini kita memulai kesadaran untuk menyelamatkan naskah-naskah di lingkungan sekitar, yang tidak disadari menyimpan jumlah manuskrip yang luar biasa.

27 September 2011
Salam Filologi’ers.

Selasa, 04 Januari 2011

KURANG PEDULINYA MASYARAKAT PADA NASKAH KUNO

Agus Sulton
http://sastra-indonesia.com/

Kepulauan nusantara sejak kurun waktu yang lampau memiliki banyak sejarah peradaban dan kebudayaan yang cukup berfariasi—yang terus mengalami perubahan sesuai dengan pola pikir masyarakat. Di antara peninggalan-peninggalan itu antara lain berupa naskah kuno atau manuskrip. Orang awam menyebutnya sebagai buku kuno biasanya kondisi buku tersebut sudah kumel, warna kuning kecoklatan, bersifat anonim, dan banyak bagian lembaran sudah hilang atau sobek, walaupun ada juga yang kondisinya masih utuh.

Naskah kuno itu merupakan salah satu warisan budaya lelulur kita yang ditulis tangan di atas kertas (impor dari eropa), lontar, tumbukan kulit kayu (deluwang atau kertas jawa) kemudian orang yang ingin memiliki naskah tersebut dan mendalami isinya diperbanyak dengan cara menyalin secara pribadi.

Karya tulis nenek moyang kita itu—yang berupa naskah kuno diindikasikan banyak menyimpan berbagai puspa ragam isi, diantaranya; pengobatan herbal, perdukunan, cerita pada zamannya, hukum adat, tauhid, silsilah (keturunan raja, tariqat, keluarga), biatan tariqat, doa, syair, dan sebagainya. Naskah kuno tersebut, juga mengandung sebuah nilai-nilai yang dapat dipetik, berupa nilai moral, kepemimpinan, amar ma’ruf nahi mungkar atau dinrang pratidina, seharwan pasaman (sabar dan sareh), dan ajaran tasawuf. Di sisi lain manfaat lebih yang dapat ambil dari mempelajari naskah kuno, antara lain dapat menggali sumber-sumber dari masa lampau untuk menemukan kepribadian bangsa sendiri dalam arus perkembangan masyarakat pada saat ini. Dengan demikian, naskah kuno bisa dijadikan suatu jembatan bagi pemikiran masa lampau dengan pemikiran masa kini.

Siti Chamamah Soeratna, dalam Filologi Sebagai Pengungkap Orisionalitas dan Transformasi Produk Budaya (2003) mengatakan, secara teoritis, naskah klasik menyimpan berbagai informasi yang berguna bagi perkembangan ilmu pengetahuan sesuai dengan kandungan informasi yang dibawanya seperti sastra, sejarah, pengobatan, adat istiadat, agama, dan sebagainya. Konsep tersebut jelas kedudukan naskah kuno lebih ada tingkatannya, bukan hal yang remeh dan akhirnya dibakar, tetapi kenyataan lapangan jauh berbeda terhadap nilai dan kegunaan suatu naskah.

Menurut hemat penulis selama study lapangan, naskah kuno yang ada di Jombang kondisinya sangat memperihatinkan, pada awal tahun 2010 penulis mencoba menelisik naskah Panji Asmoro di kecamatan Mojowarno, ternyata naskah tersebut sudah dibakar oleh pihak kedua (anak), beranggapan barang (naskah) wus elek, tidak berguna, dan tidak bisa membaca. Padahal tiga tahun yang lalu naskah itu masih ada, data tersebut penulis peroleh dari pihak pembakar naskah, alasan pemusnahan naskah karena pemilik naskah sudah meninggal dunia.

Kasus kedua, penulis ambil di kecamatan Ngoro Jombang sebuah naskah dari lontar tersimpan di dalam bumbung (bambu) diduga hilang diambil seseorang karena kurang pedulinya pihak pemilik naskah. Menurut pemiliknya, naskah itu dari Surakarta antara pemilik dengan pihak abdi dalem keraton Surakarta dalam silsilahnya masih ada ikatan saudara.

Kedua contoh tersebut merupakan sebuah dilema. Disatu sisi kita sebagai orang yang mencintai budaya bangsa Indonesia merasa kehilangan, di sisi lain karena lambannya kita dalam memberikan proses pencerahan kepada masyarakat akan manfaat lain dari naskah kuno itu sendiri.

Tragedi semacam itu tak berhenti sampai disini, kesedihan penulis datang dari para kolektor di Pare Kediri, sebuah naskah cerita berbentuk prosa (bunga rampai) beraksara jawa warisan dari Kanjeng Jombang kondisinya sudah berlubang dan sobek. Ada juga naskah bercerita Angling Darma (menggunakan tinta mas), Layang Ambiyo, tiga naskah bunga rampai (ilmu tauhid, pengobatan, doa nurbuat), dan beberapa naskah lain yang kondisinya kurang perawatan dari pihak pemilik.

Sebulan yang lalu penulis juga meneliti di kecamatan Ngoro Jombang dari kolektor naskah pribadi, menemukan naskah Aji Saka Versi Islam (pegon, 17 x 21 cm), dua naskah bunga rampai (pengobatan, doa, herbal, silsilah tariqat, tauhid, biatan tariqat, ilmu perdukunan), naskah tauhid, Al-Qu’an bertuliskan tangan. Kesemua naskah tersebut kondisinya kurang perawatan, berakibat lembar naskah bagian pojok kanan banyak yang sobek (antara 0,5 – 2 cm), berlubang, dan teks isi antar lembar tidak saling korelasi, diperkirakan lembar naskah banyak yang hilang.

Tidak hanya sampai di sini, penulis juga menemukan Syi’ir Nabi (pegon, 11 x 17,5 cm), dua naskah beraksara jawa kuno, dan beberapa kitab kuno berbahasa arab (terdapat cap watermark) tepatnya di kecamatan Bluluk Lamongan. Kesemua naskah tersebut kondisinya perlu segera mungkin mendapatkan perawatan khusus, karena sudah mulai terkena bubuk.

Sederetan kasus tersebut merupakan fenomena besar, sebenarnya banyak kasus lain yang belum terungkap tentang pernaskahan di masyarakat. Meski begitu, kita sebagai masyarakat yang sadar terhadap kondisi seperti itu segera bertindak untuk menyelamatkan naskah kuno dengan jalan digitalisasi dan deskripsi naskah. Setelah melakukan digitalisasi kemudian hasil jepretan foto di buka melalui program windows photo gellery (komputer) atau program lain dan di print out, maka akan menemukan hasil yang maksimal dari kerja digitalisasi. Foto copy bukanlah alternatif untuk konservasi (menyelamatkan) naskah, malah berakibat pada rusaknya naskah itu sendiri karena dapat merusak jilidan dan efek dari sinar foto copy akan mengurangi usia kertas dan ketajaman warna tinta. Sehingga ada sesuatu yang konyol dan cela apabila seorang filolog atau dosen—menyuruh mahasiswanya untuk memfoto copy naskah kuno yang berada di masyarakat. Alasan tidak berdasar kalau keterbatasan dari kamera digital itu sendiri untuk melakukan digitalisasi naskah, karena banyak petugas cetak foto yang menyediakan jasa penyewaan kamera dengan ongkos super murah.

Dapat dibayangkan, apabila naskah kuno tidak dirawat dengan cermat, maka berakibat pada hancur dan tidak bernilainya lagi sebagai sumber budaya. Menurut Edwar Djamaris (2002), naskah bukanlah perhiasan yang bisa dibanggakan dengan mempertontonkan saja. Naskah itu baru berharga apabila masih dapat dibaca dan dipahami isinya.

Penulis berharap kepada pemilik naskah-naskah kuno (buku kuno) yang ada di masyarakat agar memperhatikan naskah koleksinya secara ekstra karena di dalamnya banyak terkandung nilai-nilai yang bisa dimanfaatkan bagi kehidupan kita sekarang. Selain itu kondisi pernaskahan kita sudah cukup memperihatinkan, disamping kondisi fisiknya sudah banyak yang rapuh, peminat yang mau menggeluti dan melestarikan sudah mulai berkurang.

Kita sudah sakit terhadap Malaysia dan Singapura gara-gara masalah pemburuan naskah-naskah yang ada di Riau dan sebagian pelosok nusantara. Mereka bergentayangan mencari naskah melayu klasik untuk digondol kenegaranya. Bila naskah yang dikehendaki tidak boleh dibeli, mereka memotretnya. Menurut Al-azhar (2007), naskah-naskah di pedalaman nusantara yang tidak boleh dibeli, mereka melakukan cara dengan proses digitalisasi, kemudian hasil pemotretan itu oleh pihak Malaysia dibuatkan situs tersendiri. Jika orang kita mau mengakses naskah-naskah itu, harus membayar.

Memang ini sebuah pelajaran bagi kita untuk lebih meningkatkan kewaspadaan dan kemampuan dari berbagai aspek ilmu, karena apabila kita ingin maju dan tidak kehilangan stamina untuk hal-hal yang esensial, maka strategi kebudayaan yang berakar pada nilai-nilai budaya bangsa Indonesia perlu dikedepankan.

*) Tinggal dan berkarya di Ngoro-Jombang

Kamis, 23 September 2010

RASA MARDIKA: REPRESENTASI PSIKOLOGI TOKOH PROPAGANDIS ATAS PERLAWANAN KAUM KROMO

Agus Sulton *
http://www.sastra-indonesia.com/

PENDAHULUAN

Rasa Merdika adalah novel karya Soemantri. Ditulis memakai ejaan Melayu lama yang terdiri dari 134 halaman, harga f 0,25. Diterbitkan oleh PKI Semarang, Juli 1924 dan ditulis dalam penjara di Semarang, tertangkap lantaran terdakwa melanggar artikel 161 bis dari stafwetboek yang akhirnya dihukum selama lima bulan. Selama di prefentief atau penjara Soemantri dapat menulis dua buah karya yaitu, Rasa Merdika dan Rahasia Terboeka, suatu cerita kesusahan atau penindasan yang terjadi di Kota Semarang pada masa Kolonial Hindia Belanda—saat bersamaan PKI mulai melebarkan sayapnya.

Rasa Merdika: Hikajat Soedjanmo yang ditulis oleh Soemantri menjadi perdebatan hingga sekarang untuk mencari tahu siapa pengarang sebenarnya, apakah Mas Marco Kartodikromo atau Soemantri? Benedit Anderson dalam Imagines Communities menegaskan bahwa Soemantri adalah teman Mas Marco. Mendiang Bujang Saleh—yang kompeten dalam bidang ini menegaskan bahwa Rasa Mardika adalah karya Mas Marco. Dalam kesempatan ini saya menegaskan bahwa novel ini dikarang oleh Soemantri sendiri. Kenapa ? karena, dari berbagai sumber data menjelaskan, bahwa Mas Marco tidak pernah menulis karya yang berjudul Rahasia Terboeka, bukti otentik penulis peroleh dalam ”permoela’an kata” di situ menyebutkan bahwa, Soemantri dipenjara selama lima bulan menulis dua buah novel, yaitu Rasa Merdika dan Rahasia Terboeka.

Lebih lanjut, Sub judul novel ini adalah Hikajat Soedjanmo, keterangan ini dibuat karena cerita ini berkisar pada tokoh Soedjanmo—sebagai tokoh utama, psikologi Soedjanmo dilukiskan sebagai pemuda yang baik budi, patuh, pemberani, dan berdarah dingin. Selain itu, novel ini banyak mengandung sisi humanisme yang perlu untuk dijadikan tauladan yang baik, sehingga penulis sangat tertarik pada penggambaran psikologi tokoh-tokohnya dalam novel Rasa Merdika ini. Walaupun orang memandang novel ini adalah novel bacaan liar, itu semua tidak lepas dari luapan orang yang sudah dininabobokkan oleh Kolonial Hindia Belanda pada saat itu, yaitu Balai Pustaka. Yang perlu diingat lagi adalah, novel ini didalamnya banyak mengajarkan sikap bijak kepada semama manusia, agar nantinya tidak ada sikap saling serakah.

PSIKOLOGI SASTRA DAN PSIKOLOGI TOKOH

Psiokologi sastra adalah kajian sastra yang memandang karya sebagai aktivitas kejiwaan. Pengarang akan menggunakan cipta, rasa, dan karya dalam berkarya. Begitu pula pembaca, dalam menanggapi karya juga tak akan lepas dari kejiwaan masing-masing. Bahkan, psikologi sastra pun mengenal karya sastra sebagai pantulan kejiwaan. Pengarang akan menangkap gejala jiwa kemudian diolah ke dalam teks dan dilengkapi dengan kejiwaannya. Proyeksi pengalaman sendiri dan pengalaman hidup di sekitar pengarang, akan terproyeksi secara imajiner ke dalam teks sastra.

Pada dasarnya, psikologi sastra akan ditopang oleh tiga pendekatan sekaligus. Pertama, pendekatan tekstual, yang mengkaji psikologi tokoh dalam karya sastra. Kedua, pendekatan reseptif-pragmatik, yang mengkaji aspek psikologi pembaca sebagai penikmat karya sastra yang terbentuk dari pengaruh karya sastra yang dibacanya, serta proses resepsi pembaca delam menikmati karya sastra. Ketiga, pendekatan ekspresif, yang mengkaji aspek psikologi sang penulis ketika melakukan proses kreatif yang terproyeksi lewat karyanya, baik penulis sebagai pribadi maupun wakil masyarakatnya (Endraswara, 2003: 99).

Aplikasi konkritnya, terlukiskan pada novel Rasa Mardika karya Soemantri, disini pengarang menggambarkan di Kota Semarang yang masyarakatnya mengalami penindasan dengan cara menyewa tanah petani kecil dengan paksa dan ongkos sewa yang sangat rendah. Uang yang didapat petani itu tidak seimbang dengan keperluan hidupnya, sehingga banyak petani yang beralih pekerjaan menjadi kuli di kota-kota besar. Deskripsi tersebut nampak jelas pada diri psikologi tokoh Kromotjiloko—bekas petani yang merantau menjadi buruh di kota.

Selain itu, terdapat juga tokoh putih atau tokoh central dalam novel ini yaitu, Soedjanmo dan Sastro. Sastro diangkat oleh Soedjanmo sebagai guru karena dapat memberikan jalan keluar pada Soedjanmo yang mula-mula mempunyai pandangan yang kabur tentang kehidupan sosial. Melalui Sastro, pengarang memasukkan ideologi komunis kepada Soedjanmo. Sastro, dalam hal ini termasuk golongan intelektual. Dia menjadi pembawa paham komunis dan menyebarkannya. Tokoh lain yang menjadi corongpengarang adalah Soedarmo. Ia seorang wartawan dan umumnya wartawan pembawa ide baru. Selain itu, novel ini paham internasionalisme dipertentangkan dengan paham nasional dan dimasukkan pengarang melalui cakapan antara Sastro dan Soedjanmo.

Deskripsi watak tokoh tersebut, diperjelas dalam perkembangan teori psikologi Sigmund Freud yang memfokuskan pada perilaku manusia. Tetapi perlu dipahami bahwa di dalam disiplin psikologi ini terdapat banyak cabang yang mesti sama-sama menjelaskan faktor-faktor determinan perilaku manusia, namun tak jarang bertolak belakang secara ekstrim. Salah satu titik ekstrim adalah aliran behavioristik, beserta derivatnya, yang berkeyakinan bahwa segala macam perilaku manusia dipengarui oleh faktor-faktor di luar dirinya yang disebut stimulus. Tujuan perilaku manusia adalah merespon stimulus ini.

PROPAGANDA DAN RESISTENSI RASA MRDIKA

Sastra menampilkan kehidupan, dan kehidupan adalah kenyataan sosial (Damono: 1999). Kutipan ini memberikan makna, bahwa pengarang dan peristiwa yang dialami serta masyarakat merupakan siklus yang tidak bisa dipisahkan dalam sastra. Ketiga unsur itu merupakan siklus penting dalam pembentukan sebuah dunia baru yang ideal berdasarkan keinginan pengarang.

Sastra merupakan cerminan fiktif kehidupan masyarakat yang banyak mengangkat permasalahan yang ada dalam masyarakat. Unsur-unsur yang terdapat dalam masyarakat itu diantaranya adalah politik, ekonomi, norma-norma sosial, agama, adat istiadat dan unsur-unsur lainnya.

Sastra sebagai sebuah institusi, mempergunakan bahasa tulis sebagai media komunikasinya. Dengan demikian bahasa tulis, pengarang bebas untuk lebih jeli dalam mengolah realitas politik yang berkembang dalam masyarakat sehari-hari dan memadukan dengan daya imajinasinya, kemudian dikemas menjadi karya sastra. Karya sastra hadir dalam masyarakat dikarenakan faktor-faktor sejarah dan lingkungan tempat karya itu dilahirkan.

Dari masyarakat itulah sebuah karya terbentuk, baik itu sifatnya realis sosialis atau hanya bersifat fiksi. Tapi penggambaran tokoh-tokoh dalam karya sastra itu sedikit banyak—tidak bisa lepas dari kejadian atau penggambaran fiktif dari sang pengarang. Tokoh-tokoh dalam sebuah karya sastra tidak lepas dari bumbuan atau ideologi yang dianut pengarang. Dalam hal ini, apabila pengarang tokoh propagandis dari sebuah partai, maka psikologi tokoh-tokoh yang diciptakan dalam karya tersebut tidak akan lepas dari latar belakang yang dibidangi oleh pencipta karya tersebut.

Lebih lanjut Damono (1999) dalam Politik, Ideologi, dan Sastra Hibrida menyatakan bahwa sastra propaganda atau karya sastra yang mengandung suatu ajaran politik tertentu akan berhasil bila pengarangnya terlibat secara langsung dengan kegiatan politik. Dalam hal ini novel-is politik harus melibatkan dari sebaik-baiknya dalam pergolakan politik karena tanpa hal itu karya sastra akan mentah.

Pada dasarnya, psikologi tokoh propagandis dalam novel Rasa Merdika lebih bersifat radikal. Pencipta mempunyai tujuan untuk mempengarui pembaca yang memakai medium tokoh-tokoh pemberani dan bijaksana dalam novel tersebut. Karena sedikit banyak novel ini membicarakan tentang kaum kromo yang semakin terpinggirkan karena ladang-ladang mereka dipaksa oleh kaum borjuis—kapitalis untuk disewa dengan harga yang sangat murah, sehingga masyarakatnya semakin klabakan untuk menyambung kehidupan dengan jalan merantau ke Kota.

Ringkasnya, tokoh propagandis dalam novel Rasa Merdika ini banyak memberikan proses pencerahan kepada masyarakat kaum kromo, agar sadar akan penindasan yang dialami selama hidupnya. Bentuk ini sebagai bukti resistensi (perlawan) masyarakat pribumi yang anti Kolonial Hindia Belanda. Disamping itu, penulisan novel Rasa Merdika banyak didasarkan pada ajaran Marx. Di sini, persoalan perjuangan kelas sangat diutamakan. Kelas menurut Marxisme pada pokoknya ada dua macam dalam setiap masyarakat, yaitu kelas yang memiliki tanah (alat produksi) dan kelas yang tidak memiliki tanah—tenaga disumbangkan dalam proses produksi (Soewarsono: 2000).

Namun pada pokoknya, novel monumental Rasa Mardika paling tidak dapat memberikan sugestif (propaganda) dan aspek referensial dalam proses perjuangan (resistensi) akan keberadaan rezim penguasa yang haus kekuasaan (wilayah). Yang jelas tiap-tiap psikologi tokoh, baik arti nama atau sikap antar tokoh selalu mencerminkan dan menentang sistem kelas, kelas dalam arti Marxisme senantiasa berada dalam perebutan kekuasaan, sehingga Rasa Mardika patut untuk dijadikan sebagai bekal dalam memahami arti kemanusiaan dan dasar pemikiran, karena apa yang direpresentasikan Soemantri terhadap tokoh-tokoh di dalamnya menunjukkan gagasan untuk menyadarkan masyarakat melalui pergerakan politik agar persamaan hak dapat diwujudkan tanpa ada yang saling dirugikan (korban).

*) Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Jombang.
Tinggal dan berkarya di Ngoro, Jombang, Jawa Timur.

A Rodhi Murtadho A. Ginandjar Wiludjeng A. Junianto A. Kurnia A. Qorib Hidayatullah A. Yusrianto Elga A.S Laksana A’yat Khalili Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Razak Abdul Rosyid Abdul Wahab Abdurrahman Wahid Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adam Chiefni Ade P. Nasution Adhitia Armitriant Adi Prasetyo Adrizas AF. Tuasikal Afriza Hanifa Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agnes Rita Sulistyawaty Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunyoto Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Baso Ahmad Faishal Ahmad Fatoni Ahmad Hasan MS Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Khotim Muzakka Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Naufel Ahmad Rofiq Ahmad S. Zahari Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Ainul Fiah Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Alex R. Nainggolan Alfian Dippahatang Ali Audah Ali Mahmudi CH Ali Rif’an Almania Rohmah Ami Herman Amien Wangsitalaja Aminah Aminullah HA.Noor Amir Sutaarga Anam Rahus Anata Siregar Andari Karina Anom Andina Dwifatma Andong Buku #3 Andre Mediansyah Andri Awan Anett Tapai Anggie Melianna Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Wahyudi Anwar Nuris Ardi Bramantyo Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arie Yani Arief Joko Wicaksono Arief Junianto Ariera Arif Bagus Prasetyo Aris Kurniawan Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asmaul Fauziyah Asti Musman Atafras Awalludin GD Mualif Ayu Wulan Sari Aziz Abdul Gofar Azizah Hefni Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Balok Sf Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Benny Arnas Benny Benke Beno Siang Pamungkas Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Bernando J Sujibto Berthold Damshauser BI Purwantari Binhad Nurrohmat Bobby Gunawan Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Burhanuddin Bella Camelia Mafaza Catatan Cerbung Cerpen Chairul Akhmad Chamim Kohari Chavchay Syaifullah Cover Buku Cucuk Espe D. Zaini Ahmad D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Dahta Gautama Daisuke Miyoshi Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Danusantoso Dareen Tatour Darju Prasetya David Kuncara Denny Mizhar Denza Perdana Desi Sommalia Gustina Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewi Indah Sari Dewi Susme Dian Sukarno Didik Harianto Didik Kusbiantoro Dina Jerphanion Dina Oktaviani Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur Dipo Handoko Diyah Errita Damayanti Djoko Pitono Djoko Saryono Doddy Wisnu Pribadi Dody Kristianto Dody Yan Masfa Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi SS MHum Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Wiyana Dyah Ratna Meta Novia Dyah Sulistyorini Ecep Heryadi Eddy Pranata PNP Edeng Syamsul Ma’arif Eep Saefulloh Fatah EH Kartanegara Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Hendrawan Sofyan Eko Hendri Saiful Eko Windarto Elnisya Mahendra Elva Lestary Emha Ainun Nadjib Emil WE Endah Sulwesi Endo Suanda Eppril Wulaningtyas R Esai Evan Ys F. Moses F. Rahardi Fadlillah Malin Sutan Fahmi Faqih Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Kurnianto Fanani Rahman Fanny Chotimah Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Febby Fortinella Rusmoyo Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Gabriel Garcia Marquez Galang Ari P. Galuh Tulus Utama Gampang Prawoto Gandra Gupta Ganug Nugroho Adi Gerson Poyk Ghassan Kanafani Gita Nuari Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunoto Saparie H.B. Jassin Habibullah Hadi Napster Hadriani Pudjiarti Halim HD Halimi Zuhdy Hamberan Syahbana Han Gagas Hanibal W. Y. Wijayanta Hardi Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Hartono Harimurti Hary B Kori’un Hasan Aspahani Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana HE. Benyamine Hendra Junaedi Hendra Makmur Heri CS Heri Latief Heri Listianto Herman RN Herry Lamongan Heru CN Heru Nugroho Hikmat Gumelar HL Renjis Magalah Hudan Nur Hujuala Rika Ayu Huminca Sinaga IBM. Dharma Palguna Ibnu Wahyudi Ida Farida Idris Pasaribu Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilham Khoiri Imam Cahyono Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indiar Manggara Indra Intisa Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ira Puspitaningsih Irfan Budiman Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Zulkarnain Ismail Marzuki Iva Titin Shovia Iwan Kurniawan Jabbar Abdullah Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D. Rahman Jamal T. Suryanata Javed Paul Syatha Jayaning S.A JILFest 2008 Jody Setiawan Johan Edy Raharjo Johannes Sugianto Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Juan Kromen Julika Hasanah Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN Juwairiyah Mawardy Ka’bati Karanggeneng Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Keith Foulcher Kemah Budaya Panturan (KBP) Khansa Arifah Adila Khoirul Inayah Khoirul Rosyadi Khudori Husnan Ki Ompong Sudarsono Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Sastra Ilalang Indonesia Korrie Layun Rampan Kostela Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie L.N. Idayanie Laili Rahmawati Lamongan Lan Fang Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lely Yuana Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Liestyo Ambarwati Khohar Lina Kelana Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lucia Idayanie Lukman A Sya Lutfiah Lynglieastrid Isabellita M Arman AZ M Ismail M Thobroni M. Afifuddin M. Arwan Hamidi M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Luthfi Aziz M. Nurdin M. Yoesoef M.D. Atmaja M.S. Nugroho Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Mahmud Syaltut Usfa Mahmudi Arif Dahlan Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Martin Aleida Maruli Tobing Mas Ruscita Mashuri Masuki M. Astro Matroni Matroni Muserang Media: Crayon on Paper Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Mia Arista Mia El Zahra Mikael Johani Misbahus Surur Misran Mohamad Ali Hisyam Mohammad Eri Irawan Much. Khoiri Muh. Muhlisin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun Muhammadun AS Muhidin M Dahlan Mujtahid Mujtahidin Billah Mukti Sutarman Espe Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Munawir Aziz Musfarayani Musfi Efrizal Nafisatul Husniah Nandang Darana Naskah Teater Nelson Alwi Ni Made Purnamasari Nikmatus Sholikhah Nina Herlina Lubis Nina Susilo Ning Elia Noor H. Dee Noval Jubbek Novel-novel berbahasa Jawa Novelet Nunuy Nurhayati Nur Azizah Nur Hamzah Nur Kholiq Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurul Aini Nurul Anam Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi SA Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Okty Budiati Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Otto Sukatno CR Oyos Saroso H.N. Pagan Press Pagelaran Musim Tandur Palupi Panca Astuti Parimono V / 40 Plandi Jombang Pawang Surya Kencana PDS H.B. Jassin Petrus Nandi Politik Politik Sastra Pradana Boy ZTF Pramoedya Ananta Toer Pramono Pringadi AS Prof Dr Fabiola D. Kurnia Prosa Puisi Puji Santosa Puji Tyasari Puput Amiranti N Purnawan Andra Purnawan Kristanto Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang Group PUstaka puJAngga Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Ng. Ronggowarsito Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Kemat Hidayatullah Rahmat Sularso Nh Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rasanrasan Boengaketji Raudal Tanjung Banua Redland Movie Reiny Dwinanda Resensi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Ririe Rengganis Risang Anom Pujayanto Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roso Titi Sarkoro Rozi Kembara Rukardi Rumah Budaya Pantura (RBP) Rusmanadi S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saiful Amin Ghofur Saiful Anam Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Salman S. Yoga Samsudin Adlawi Samsul Anam Sanggar Lukis Alam Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang KSII Santi Puji Rahayu Sapardi Djoko Damono Saroni Asikin Sartika Dian Nuraini Sastra dan Kuasa Simbolik Sastra Jawa Timur Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil SelaSastra Boenga Ketjil #33 Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sinopsis Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputra Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soegiharto Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Spectrum Center Press Sri Weni Sri Wintala Achmad Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudirman Sugi Lanus Sukron Ma’mun Sulaiman Djaya Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungging Raga Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Supriyadi Surya Lesmana Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyanto Syaf Anton Wr Syaifuddin Gani Syaiful Amin Syarif Wadja Bae Sylvianita Widyawati TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie (1961-2019) Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Presetyo Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Tia Setiadi Tirto Suwondo Tita Tjindarbumi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tosa Poetra Tri Nurdianingsih Triyanto Triwikromo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus S Ulul Azmiyati Umar Fauzi Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Utari Tri Prestianti Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W Haryanto W.S. Rendra Wahyu Prasetya Wan Anwar Wawan Eko Yulianto Wawancara Wina Bojonegoro Wita Lestari Wong Wing King Wowok Hesti Prabowo Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yanusa Nugroho Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yopi Setia Umbara Yudhi Herwibowo Yudi Latif Yusri Fajar Yusuf Ariel Hakim Yuval Noah Harari Zacky Khairul Uman Zainuddin Sugendal Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zed Abidien Zehan Zareez Zhaenal Fanani Zubaidi Khan Zuniest