Tampilkan postingan dengan label Tjahjono Widijanto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tjahjono Widijanto. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Agustus 2011

Sajak-sajak Mardiluhung Perbenturan Budaya Pesisiran dan Pedalaman

Tjahjono Widijanto
11 Mei 2008, Jurnal Nasional

Sulit membayangkan seorang penyair dan sajak berangkat dan hadir dari sebuah kekosongan, nihil ex nihilo: tidak ada sesuatu yang lahir atau berasal dari ketiadaan. Sajak lahir dari persentuhan indrawi atau rohani, antara penyair dan semesta seperti gesekan ranting dengan ranting di musim kering yang menghasilkan api, karena itu sajak —dalam publik yang paling terbatas sekalipun— akan senatiasa mendiskusikan, mendialogkan, dan memperbincangkan “sesuatu”.

Pada sisi lain persoalan ekspresi selalu membawa penyair pada dua ujung kontinum yang ekstrem: penyederhanan atau simplikasi dan perumitan. Kedua kutub ini dapat diibaratkan dalam cerita persilatan sebagai dua pendekar dari perguruan berbeda yang turun gunung dengan semangat yang berbeda pula. Yang pertama menulis dengan sangat memperhatikan dan memperdulikan kepentingan akan pesan dan pembaca; yang kedua bertujuan untuk kepentingan ekspresi tumpahnya kesadaran bawah sadar sehingga hajat-hajat puitiknya terpenuhi, tumpah tanpa sisa.

Penyair H.U Mardi Luhung yang lahir dan bermukim di Gresik adalah satu diantara penyair Jawa Timur yang mendapatkan perhatian lebih dari publik sastra Indonesia karena “keteguhannya” memilih warna ekspresi-estetika pada jalur pilihan kedua yang seakan-akan menafikan pesan dan menafikan pembaca seperti yang terlihat kumpulan puisinya Ciuman Bibirku yang Kelabu (2007)

Bahasa dan Benturan Budaya

Bahasa dan kata dalam puisi mempunyai kedudukan yang paradoksal. Di satu titik dibebani untuk menyampaikan pengertian, di titik lain dalam puisi kata dan bahasa menjungkir-balikkan pengertian umum yang disandang olehnya sendiri. Pada titik ini penyair menggempur, memperhitungkan, bahkan mengingkari berbagai ‘atribut‘™ yang sudah lazim diemban oleh kata tersebut. Sebagai penyair Mardi Luhung terikat pada kodrat ini, namun yang membedakannya dengan Chairil atau Amir Hamzah yang begitu “serius”, Mardi Luhung dengan rilek dan santai memberlakukan dan menyikapi pemilihan kata ini. Bagi Mardi Luhung penyair tak lebih dari “pengrajin” kata-kata , tak heran dalam sajak-sajaknya sering dijumpi kata-kata “enteng” yang jauh dari lazimnya citra estetika bahasa puisi, seperti kata-kata: kosro, kakus, kecebong, dubur, kencing, kulit kadal, menjotosi, jinabat, cawat, pengutil, dan sebagainya yang meluncur begitu saja tanpa beban.

Dalam sajak-saja Mardi Luhung tampak ada paradoksal antara kebanggaan identitas budaya dan kegetiran identitas budaya. Kebanggaan dan kegetiran seakan-akan menyimpan ironi sebuah komologi budaya yang satu sisi dibanggakan dan sisi lainnya pada posisi inlandeert yang tak berdaya berhadapan dengan identitas budaya lainnya. Hal ini dapat dilacak pada sajak “Pengantin Pesisir”:Aku datang dalam seragam penganten pesisir/ Seperti arak-arakan masa silam/Jidor, kenong, terbang, lampu karbit mengiring/ di depan para pesilat bertopeng monyet /‘¦../ dan tahukah kau yang paling aku benci?/ adalah ketika kita sama-sama sekolah/ dan sama-sama disebut: “Orang Laut”/ orang yang dianggap sangat kosro/ kurang adat dan keringatnya pun seamis/ lendir kakap yang sebenarnya sangat mereka sukai/‘¦ / dan mengharapkan lahirnya bocah-bocah pantaimu/ tapi, seperti juga mencusuar yang kini tinggal letak/ dan para nelayan kehilangan jaring dan perahu/ adakah masih sempat kita lakukan persetubuhan ombak/ sementara itu, kertas-kertas kwitansi/ telah mengubah sperma-sperma kita menjadi/ lumut-lumut yang entah siapa pamggilannya.

Dari sajak Pengantin Pesisir di atas tampak bahwa penyair ingin memperlihatkan dirinya dan identitas budayanya sebagai sosok masyarakat pantai. Gresik sebagai tempat lahir dan mukim penyair secara geografis budaya merupakan budaya pesisiran yang memiliki karakter yang berbeda dengan budaya pedalaman (Mentaraman)..Dalam sajak di atas juga terungkap kegeraman dan traumatis masa lampau akibat perbenturan dan pertentangan budaya antara budaya pedalaman dan budaya pesisiran, budaya kerataon dengan budaya rakyat dan budaya santri dengan budaya abangan. Budaya pedalaman membuat benteng budaya yang kokoh berupa kraton dan pembagian daerah kraton. Kraton dilegimitasikan sebagi sentrum budaya dan semua yang berasal dari kraton dianggap sebagi produk budaya “resmi” dan adi luhung. Sedangkan daerah pesisir (pantai) dan derah-daerah yang beruda di luar wilayah kraton (pesisran, manca nagari, brang wetan) produk-produk budayanya dianggap sebagai budaya pinggiran yang secara etik atau estetik berada di bawah kebudayaan kraton (pedalaman). Dalam bahasa Mardi Luhung kondisi ini dikatakan sebagai “dan tahukah kau yang paling aku benci?/ adalah ketika kita sama-sama ke sekolah/ dan sama-sama disebut: “Orang Laut,”/ orang yang dianggap sangat kosro/ kurang adapt dan keringatnya pun seamis/ lender kakap yang sebenarnya sangat mereka sukai”/

Meski pada awalnya penyair dengan lantang, bangga dan gagah mengungkapkan identitas budayanya namun ia tak mampu memendam kegetirannya akan fakta historis bahwa pesisir selama ini selalu berada pada pihak yang “kalah” dalam perbenturan budaya dengan pedalaman dan juga kini malah semakin tergerus dengan arus budaya lainnya. Serangkaian kegetiran dan kekalahan ini oleh Mardi Luhung disimbolkan sebagai “mercusuar yang kini tinggal letak”, “para nelayan kehilangan jaring dan perahu” bahkan dengan sarkas dikatakannya “kertas-kertas kwitansi telah mengubah sperma-sperma kita menjadi lumut-lumut yang entah siapa panggilannya”.

Citra budaya pesisiran yang terbuka, urakan, ekspresif, dan sangat terbuka untuk berimprovisasi yang merupakan antitesis dari budaya pedalaman yang serba halus, hati-hati, penuh sofistifikasi dan sakralisasi menjadi semacam “kredo” bagi sajak-sajak Mardi Luhung seterusnya. Kekasaran, kenakalan, urakan, ekpresif dan bahasa yang sangat terbuka khas masyrakat pantai dapat dengan mudah ditemui pada puisi-puisi lainnya, misalnya; “‘¦./ “Kami telah putuskan untuk memotong/ alat kelamin suami-suami kami, yang telah/ membikin kami bolak-balik melakukan abortus!”/ ‘¦..” (Dari Jalanan); “‘¦Ada di reruntuhan makammu, dan kembali simpulkan:/ memang cuma lubang kakus/ sebuah pembuangan sia-sia, yang melintas/ antara mulut dan dubur, yang bergerak antara vitamin/ dan sampah akhir/ ‘¦” (Ziarah ke Reruntuhan Makammu); “‘¦untuk kemudian berdikit-dikit/ menjadi tai dan kencing, menjadi kesuraman/ yang tak bisa mencari jalan pulang/ ‘¦” (Keheningan Apakah). Bahkan ada yang sangat kurang ajar seperti dalam puisi Wanita Yang Kencing di Semak yang seperti penggalan berikut ini: Wanita yang kencing di semak/ takut apa, jengah apa?/kerumitan-rahasianya terbuka/ pada rumput, batu dan tanah/ bayangan pun tercetak lewat genangan/ /‘¦./ lalu, jalan-jalan pun berbiak/ dan karunia? Siapa yang menolak/ jika semuanya telah digenangi?/ yang jelas, kuyup dan kuncup silih-ganti/ silih-sembul, dengan sedikit guncang/ mata terpejam tapi selalu saja/ betapa lorong itu menggundang duga/ agar segera mengerut seperti kerut-jeruk/ yang telah lama terpetik/ ‘¦..//

Sajak di atas sebenarnya hanya sekedar mendeskripkan sesuatu belaka. Namun seperti halnya kesenian lain dalam produk budaya pesisiran yang serba permisif, terbuka dan menafikan keteraturan, sajak ini seperti menjungkirbalikan citra tentang estetika yang terlanjur terpatri di benak kita. “Sesuatu” yang diungkapkan dalam sajak di atas adalah “sesuatu” yang selama ini dianggap tabu dan menjijikan namun malah dideskripsikan dengan detail dan lancang oleh Mardi Luhung dengan cara yang khas pesisir. Sajak di atas dapat diibaratkan sebagai tari ronggeng, tayub, ledek, atau tandak yang meledek ke-adiluhungan tari bedhaya ketawang —mainstreem estetika sastra Indonesia, yang selama ini dicitrakan serba rumit, teratur, canggih, serba halus, dan hati-hati.

Dari sudut linguistik, berhadapan dengan bahasa dalam sajak-sajak Mardi Luhung mengingatkan orang pada konsep Halliday (1992) yang menjelaskan bahwa teks mesti dipahami sebagai bahasa yang sedang berfungsi, atau dengan kata lain bahasa yang sedang melaksanakan tugas tertentu dalam situasi tertentu yang tentu saja berlainan dengan kata-kata atau kalimat-kalimat lepas yang mungkin ditulis pada sebuah papan tulis. Berangkat dari penrnyataan Halliday ini maka bahasa atau kata-kata yang digunakan Mardi Luhung tidak dapat diperlakukan sebagai perpanjangan tata bahasa dan sentaksi semata-mata karena lebih berupa memperlakukannya sebagai teks yang tidak semata-mata diterjemahkan tetapi lebih kearah penafsiran. Bahasa-bahasa puisi Mardi Luhung lebih bersifat satuan makna yang harus dipandang dari dua sudut yang bersamaan, sebagai produk maupun sebagai proses.

Sebagai produk dalam arti ia merupakan output yang dapat dipelajari karena mempunyai susunan tertentu yang dapat diungkapkan secara sistematik. Sebagai proses dalam arti merupakan proses pemilihan makna terus menerus, sesuatu perubahan melalui jaringan makna dengan setiap perangkat pilihan yang membentuk suatu lingkungan bagi perangkat yang lebih lanjut. Dengan demikian puisi Mardi Luhung sarat mengemban makna sosial budaya dalam kontek situasi tertentu pada masa lampau dan masa kini. Jadilah puisi-puisi Mardi Luhung sebagai jalan setapak atau jalan kecil yang menautkan masa lalu, masa kini dan masa akan datang, puisi menjadi sebagai kegiatan sosial budaya yang terikat dengan setting sosial budaya tertentu dan berbagai kepentingan yang bermain di dalamnya.

Sajak-sajak Mardi Luhung juga memperlihatkan bagaimana penyairnya berada pada kosmologi yang retak dan koyak moyak karena serbuan anasir kosmologi dan mitologi luar berkat hempasan kekuatan politik, budaya, teknologi, komunikasi dan ekonomi. Pada sajak-sajak Mardi Luhung, Jawa Pesisiran yang diakui dan diagungkannya sebenarnya makin samar dan kabur sedangkan kosmologi Indonesia yang dihadapi kini masih begitu cair dan gamang juga.Tak ayal lagi, beberapa puisi dalam antologi Ciuman Bibirku yang Kelabu ini menyiratkan kegelisahan Mardi Luhung sebagai musyafir yang berada pada kondisi yang rancu, satu sisi kosmologi dan mitologi Jawa pesisiran (masa lampau) tak lagi mampu menopang kehidupannya secara penuh, pada sisi lain kosmologi dan mitologi Indonesia juga belum mampu menopangnya, begitu pula kosmologi dan mitologi Barat tak begitu “terang”. Akibatnya beberapa sajak menggambarkan hasrat penyair untuk tak terikat dan membebaskan diri pada tarikan atau gravitasi sebuah kosmologi dan mitologi tertentu. Kegelisahan membebaskan diri dari tarikan kosmologi ini terekam pada baris-bari sajak berikut: ‘¦”Apa yang bisa aku baca dari reuntuhan makammu/ yang kini tinggal kakusnya itu”/‘¦. / dan dunia sana, duniamu tempo dulu/ yang berbinar oleh umbul-umbul kuda dan para/ syuhada jadi kecebong-kecobong/ yang rasanya begitu gerah untuk memetamorfosa/ apalagi memahat perjamuan antara aku dank au”/ “Pertemuan antra pencari dan yang di cari ‘¦.” (Ziarah ke Reruntuhan Makammu).

Bahkan kadang-kadang penyair merasakan ambiguitas dan paradoksalnya identitas dan kosmologi budaya yang mengikatnya selama ini. Jadilah dalam diri penyair keterbelahan menyikapi identitas dan kosmologi budaya pesisirnya sebagai sesuatu yang dicintai sekaligus sesuatu yang ingin ditinggalkannya. Kosmologi budaya pesisir sebagai kosmologi budaya lampaunya merupakan jejak moyangnya yang berubah menjadi memedi atau hantu yang selalu mengikatnya. Hal ini ditunjukkan pada sajak Bapakku Telah Pergi: Bapakku telah pergi/ menemui pembakaran/ ruang suci tempat selesaian/ tapi ekor-ekor yang ditinggalnya/ membelit tubuhku/ menciptakan jarak, yang ujungnya/ masih dipegangnya/ batasnya tak teraba/ maka jadilah itu: “Hantu”/ bapakku telah pergi, memang/ tapi hantunya itu demikian kuat/ demikian mendesak/ sampai bagian dalam tubuhku/ bergetar, berpusar, ‘¦./

Mitos dan Kontra Mitos

Berangkat dari kegamangan, bimbang dan paradoksal terhadap identitas dan kosmologi budayanya ini memaksa Mardi Luhung dalam perantauan budaya untuk mengolah, merekontruksi bahkan membongkar mitologi-mitologi lama untuk menghasilkan dan menggenggam pemikiran baru. Jadilah beberapa sajak Mardi Luhung mengangkat dan mengukuhkan suatu mitos tertentu (myth of concern) dan sekaligus pula menentang mitos tersebut (myth of freedom).

Dalam dua sajaknya berjudul Giri: Ciuman Bibirku yang Kelabu dan Malik Ibrahim mengangkat dua mitos tentang tokoh Wali yang sangat disegani dan dihormati ajarannya di Gresik, Sunan Giri dan Sunan Maulana Malik Ibrahim. Namun dua mitos ini disikapi Mardi Luihung jauh dari rasa takzim bahkan ada nada cemooh, penentangan, ironi, sinisme bahkan sarkasme.

Dalam Giri: Ciuman Bibirku yang Kelabu tokoh Sunan Giri di gambarkan sebagiai pemburu yang membawa asosiasi orang pada sosok yang kejam dan suka memburu. Sunan Giri yang perkasa, yang begitu disegani pada masa kejayaan Demak, keheroannya dipertanyakan kembali dengan sinis: “‘¦./ yang entah datang dari sisi mana, akibat peperangan/ apa, dan membela dewa dan kitab siapa? Oh, aku pun/ Cuma sanggup mengigau sambil membayangkan sebuah/ jalan-berkelok menuju keratonmu yang hilang itu‘¦”

Dalam sajak Malik Ibrahim muncul nada yang tak kalah sinisnya: “‘¦./ mencoba kembali menyentuh lipatan-lipatan kitab/ kuningmu yang berhuruf kemuning itu, kitab-kitab yang/ telah lama terkunci di mulut-asap-jingga:/ “Tapi Malik, apakah itu memang kitab ataukah cuma/ serbuk tuak ataukah cuma kemabukan biasa”/ ‘¦.”

Tak heran dari identitas dan kosmologi budaya yang pada awalnya dibanggakannya sebagai budaya pesisiran yang berbeda dengan pedalaman tetapi yang kemudian dirasakannya menjadi koyak moyak, Mardi Luhung mencoba menggenggam mitologi kosmologi baru yang berbeda sama sekali. Keinginan untuk menggenggam kosmologi yang lain dan yang baru ini nampak dalam puisi-puisinya Zion dan Restoran & Tas Ransel. Kegairahan dan semangat untuk menggenggam kosmologi baru yang sama sekali baru itu digambarkannya : “Aku punya nabi. Si orang suci yang hanya sekali marah/ Sebab, ada yang menghunus parang sambil menggertak:/ “Aku ingin mendengar langkah kaki yang bergegas/ ke gunung dan membuat bulan yang lain, orang yang lain/ dan bumi yang lain, dari asap dan kincir yang lain!”/ Selanjutnya, tiap pipi pun dirajah seperi kegirangan/ ‘¦.” (Zion); atau secara lebih ekstrem dikatakannya: Copotlah dulu gigi-palsumu, lalu ciumlah aku,/ hisaplah nafasku, hiruplah umurku, milikku,/ segalaku, sebab aku kini tak takut lagi, jika/‘¦.” (Restoran & Tas Ransel).

Dari perantaun budaya dari satu mitologi-kosmologi ke mitologi-kosmologi yang lain itu, penyair akhirnya menemukan kesadaran bahwa dalam membentuk dan menemukan kosmologi baru, tidak ada kosmologi yang mampu secara mutlak berdiri sendiri. Kosmologi baru yang akan dibentuk dan diraih sejatinya merupakan persilangan dari berbagai mitologi-kosmologi, entah itu pedalaman, pesisiran, Barat, Timur atau yang lainnya. Persilangan antar kosmologi budaya itu diungkapkannya dalam sajak berjudul Kitaran Bersilangan yang merupakan sajak terakhir pada buku antologi Ciuman Bibirku Yang Kelabu, berikut ini: Ayahku berwarna putih, ibuku berwarna hitam/ lalu aku apa? Sebutlah, dan cari dalam jisim/ yang mengudar warna dabn nasib kulit abu-abuku/ jika berdoa, apakah aku akan mengutuk atau memuja?/ percaya pada bumi atau justru menginjaknya?/ ya, dengan sepedak-yang-mengerikan, aku kitari kampungku/ ….

Keterjebakan Kreativitas

Keasyikan bemain-main dengan bahasa membuat Mardi Luhung kelewat “bernafsu” untuk tampil “berbeda dan ‘unik‘™ sehingga dalam beberapa sajak terjebak untuk sekedar menggambarkan fantasinya semata sehingga beberapa puisi tidak berbicara apa-apa hanya menyampaikan dunia ganjil yang aneh, kelebatan liar yang menghasilkan imaji anarki semata. Seperti misalnya dalam puisi Sekilat Pikiran : Pikiran mungil dalam tempurung mungil/ berdiam si aneh-besar-kelabu/ yang separuh wajahnya penuh rambut/ separuh yang lain seperti/ khusus tercetak di ceruk kursi/ racikan manis dari dahak/ mengendap di jurang matanya, tempat lewat/ setiap mayat yang akan dihantukan/ dengan kedua lengan yang gemetar/ saat terulur di ukuran sekarat-bulan-kejang/‘¦../ aroma yang tersegel dan juga disegelkan/ pada kening tebal setiap para pemuji/ pemuji yang selalu disibukkan dengan kain, benang/ kancing dan setangkup karung kasar/ ranjang bagi tengkurap dan terlentangnya:/ “Si aneh-besar-kelabu.

Saking kelewat bernafsu, Mardi Luhung juga menjadi sangat boros untuk melebih-lebihkan sesuatu atau menyatakan sesuatu yang sebenarnya sederhana. Jadilah beberapa sajaknya penuh dengan hiperbola yang menyesakkan dada pembacanya, seperti: “‘¦../ Mana ada orang-waras percaya itu?/ ada yang meledak di pasar-daging-babi!” (Pikiran Tersembunyi); “‘¦/ lalu sambil memainkan pecut, parut, dan/ pisau. Kaupun memeluki sekian pancang dan/ cerobong yang dating lewat kegelapan dan/ yang selalu mabuk/ ‘¦” (Reis), atau “‘¦selaksa gugusan dungu, yang membuat kemustahilan/ menjadi utuh, dan ingatan melulu menggigilkan jurang yang miring.”/ ( Takwil yang ke-13), akibatnya beberapa sajak itu membuat kenyang sebelum selesai mengunyahnya.

Senin, 13 September 2010

Sajak-Sajak Tjahjono Widijanto

http://www.infoanda.com/Republika
MENJELANG KEBERANGKATAN YANG TERTUNDA

ada seribu tanda tanya menghujam di benak
ketika mendung lindap mengendap atas kota
setia menemani saat sendiri
menjelang keberangkatan yang tertunda
tak tahu mana yang mesti dialunkan:
kinanti, megatruh atau durma?
atau barangkali kita mesti kembali bungkam
seperti hari-hari yang telah berpacu



MENUNGGUI HARI-HARI
DAN BATU-BATU TERASING SENDIRI


ingin kupahat wajahmu pada pucat wajah bulan
sementara di batas kota ada gerbang
yang tak pernah jemu menunggui
hari-hari dan batu-batu terasing sendiri

adakah catatan telah selesai dituliskan?
sementara ruh-ruh telah mabuk di perjlanan
menghitung tetes air mata mengucur deras
membakar bumi bersama buncah-buncah lukanya

sajak-sajak turut membisu
menatap cermin menggigil retak
meratapi pertempuran demi pertempuran
dari ranjang pembantaian yang tersisa



DIALOG SENJA HARI

ijinkan aku mencuri waktumu semenit saja
bukankah telingamu tak pernah payah
dengar celoteh usang senja dan dini hari?
sejak kau beri masa berlimpah
sering senja lewat tanpa salam

(juga kini masih enggan kujabat tanganmu
meski sisa tinggal sejengkal)

kuulangi doaku
ijinkan kucuri waktumu semenit saja
dan besuk tambahi aku
sedetik waktu lagi...



HUJAN MEMBACA CINTA

menghitung rambutmu berlepasan sehelai-helai seperti menyimak perjalanan penuh reportase di antara bisik lampu taman dan bangku semen asing membeku debu dan keringat bermuara pada riwayak kelopak mata melahirkan sungai: menderas-deras, gericiknya sampai ke hulu nadi menikam waktu meronta minta kembali tempat yang dulu pernah disinggahi seperti syahwat Musa mengintip tuhannya

kini tak ada dermaga untuk mengulangnya kembali kecuali sekedar mengingat setangkai warna bunga yang dulu pernah kukirim tak sampai-sampai. juga surat cinta yang terus menggigil kehilangan sampul tempat alamat dipahat: aroma purba menguap bersama desir almanak rontok diterbangkan cuaca bersama pelaut ditakdir tak bosan berlayar mencumbu taufan lalu pecah di ceruk karang

menunggui musim berbiak membutuhkan kesabaran air kali menghayut hingga kelak samodra memilinnya menjadi sepasang kekasih seorang bocah telanjang kaki dan dada bertanya-tanya dimana letak kubur ibu bapa tempat alamat ditulis dimana mereka kembali bisa bercinta sampai kelak waktu membisikinya dengan bijaksana:

tak ada yang akan mati untuk merampungkan percakapan

Ngawi, Mei 2006

Tjahjono Widijanto lahir di Ngawi, 18 April 1969. Alumnus Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Malang 1992 ini menulis banyak puisi dan esai sastra. Karya-karyanya dipublikasikan di berbagai media cetak, seperti Ulumul Quran, Horison, Media Indonesia, Kompas, Suara Pembaruan, Jawa Pos, dan Jurnal Perempuan, serta sejumlah antologi puisi. Buku kumpulan sajaknya yang telah terbit, antara lain Monolog Ibu (1990) dan Ekstase Jemari (1995). Saudara kembar Tjahjono Widarmanto ini sering diundang membacakan sajak-sajaknya dalam berbagai acara sastra di berbagai kota.

Minggu, 31 Agustus 2008

Puisi-Puisi Tjahjono Widijanto

Jurnal Nasional, 03, 08, 2008
BISMA

“telah kusediakan hari dan pengantinku sendiri…!”

desir pasir di gigir ini menyimpan rahasianya sendiri
ramalan musim berbiak sejarah melata di selakang waktu
memintal kembali tekstur buram rajah nasib lancip di urat nadi

tak ada waktu untuk kembali
seonggok jubah kelabu, mahkota terbelah
mengubur syahwat yang juga gelisah

jagat dalam tatapan lensa tua terbungkuk-bungkuk
menanggung riwayat larut oleh hujan
yang mendadak berubah lempeng logam

seperti memahat batu yang tak henti belajar beku
tafakur serupa bayang-bayang kastil purba
dalam tatapan letih mata malaikat tua
yang perlahan-lahan mendengkur

tak ada yang dapat dilakukan kecuali mentakzim sunyi
angslup ke dasar jantung dalam gelora gemuruh
sesaat setelah tabik terakhir
dalam sayatan yang juga terakhir

Ngawi, 2007



ARAFAH

entah siapa menyuruhku menghitung kembali tulang igaku, tetap saja hilang satu
berjuta yang lain juga mencari tak ketemu-temu sebelum pada senja yang mendekati gelap ia datang sendiri mengetuk pintu pelan-pelan

“apa kabarmu? lama tak jumpa akhirnya rambutmu memutih juga seperti kabut yang cuma sesekali sambang di dini hari”

aku menjawabnya dalam keisengan anak remaja mengingat cinta pertamanya
“cipir godhong tela, kau tak mampir hatiku jadi nelangsa!”

aku tak tahu mengapa gigir bukit ini begitu bersedia menyediakan altarnya untuk kebisuan yang kering, menyimpan rendevous mefosil dalam urut-urutan waktu bergerak mengambang dalam musim yang tak pernah ditumbuhi gerimis

dan kini kenduri ini dimulai lagi, orang-orang kembali menghitung tulang-tulang rusuknya. tetap saja hilang satu, mencari dalam lipatan baju, saku celana, jaket atau kaos kaki yang cuma sesekali di cuci.

2007



DEPAN KA’BAH

seperti pemula dalam panggung yang gagal
aku mabuk memimpikan pengunjung yang
setia memberikan tepuk tangannya.
yang kulihat cuma kenangan-kenangan tua, beruban.
menyendiri menunggui cintanya yang hilang sia-sia

kenapa kau seret aku seperti darwis dilanda mabuk tak tuntas-tuntas
sedang aku tak pandai menari?
setelah kau jeret laherku dan rontokkan tulang-tulangku
tak ada lagi yang bisa kubagi, tinggal asin keringat
yang dapat kau peras sebagai maharku untukmu
dan sebelum kau copot biji mataku
biarkan aku mencakar-cakarmu

2007



GERIMIS DI TAN’IM

seperti dalam lurung dengan seribu pintu terkunci
aku hanya bisa membayangkanmu, samara-samar
sekali ini ada gerimis, di dalamnya aku berlari-lari
mengejar bayang-bayang sendiri
bayang-bayang yang membelah diri
berkelebatan, berjumpalitan, bertubrukan
menjadi sempalan-sempalan tak terbaca
sempalan-sempalan yang meleleh kembali jadi sperma
meluncur mencari kembali liang-liangnya

di tan’im ini kau serupa jagal
membelah leher, mengelupas tempurung
yang menyimpan rahasia api ,buah larangan, juga ular
ular yang mendesis dalam lolong panjang
sempurna seperti malam yang terbelah
dengan bulan yang menggigil di atasnya

di tan’im ini aku gagal menguntitmu
tali yang kusediakan untuk menjeratmu
malahan mencekik leherku sendiri
dan bayang-bayangku yang menariknya,
pelan-pelan, seinci demi seinci
aku sekarat dalam senyummu

Tan’im, 2007/2008



PASUNG

tak ada lemut hanya derit jangkrik desir ular dalam urat perut. mereguk sungai
memahat riwayat nasib. ingatan lari pada tali gantungan meringis di sela-sela dingin yang terbatuk-batuk
tak ada kabar di sini cuma bulan menyisakan sedikit cahayanya angin mengabarkan busuk semboja bersama langit yang menjerit

“jangan berontak hikmati kekal asing ini!”

tak ada waktu untuk mendongeng sehabis percakapan selepas malam yang payah
gagak senggama di nadimu berbiak musim dan kematian riuh silih berganti
jalanan membara oleh geram demonstran sesekali dikuyupi tik-tak bom di jakun
tak ada pangeran dan kereta perang menggempur sarang nasib sialan ini, don kisot telah lama berpulang di selakang ibunya.

bila kau temukan sebilah sangkur dalam mimpimu rajah
suratan kisah pada kulit jangat banjir asin keringatmu geram
nyeri kerongkongmu akan menjelma erang birahi penyair mabuk dan sekarat

Jakarta, 002/005



KWATRIN-KWATRIN GERIMIS BULAN SEIRIS

1.
di ujung gerimis bulan seiris tak lagi mampu membaca isyarat
sedang subuh semalaman protes pada embun
yang terlampau setia mendekap bumi
meski kabut masih ingin bersetubuh dengannya

2.
sepanjang ini tak ada yang pernah mengerti
tentang musim yang setia menderu
batu-batu tafakur mendengar requiem daun
memeluk bumi dengan bau kembang pecah putiknya

3.
selalu kau tak pernah mau percaya
ketika pernah dibisikkan pada hari-hari
mengapa harus ditulis sepenggal sajak
menjerit disembelih pagi tenggelam di palung kali

4.
apakah perlu kita mengadu pada perdu
setelah gagal meraih matahari
bersama sebilah galah tua, lapuk tangkainya
bulan sungsang tangsang dipucuk bambu

5.
selalu ada yang mencoba setia pada sebaris sajak
yang lelah ditulis selepas senja bersama kunang-kunang
gelisah mencemburu nyala api
meringkuk di ladang kehilangan petani

6.
dalam nadi horizon dan candikala bertemu
ayat-ayat bangkit dari tidur bersama pelafal kehilangan lidah
roh yang bernyanyi bersama separuh malam, separuh bulan
hujan layu di sisa malam

Ngawi, 2005



SUKUH

Ceruk liat.
Seribu urat mengeram di sini
ini pelabuhanku. Persinggahan tanpa loket dan penjual karcis
di pinggulku tersimpan rahasia api
api,api! aku membakarmu!

Liang yang tak pernah padam. Lampu terang
rambu-rambu tentang nikmat buah larangan
: jangan tinggalkan aku
aku tak bisa ranggas sendiri
seribu sungai berpusar dalam perut
riak- gelegak merambah menerjang bulu-bulu pohon

Berlatihlah jadi nahkoda
menyaisi perahu oleng ditimpuk badai
hanyut ke rawa-rawa juga hutan
pohon-pohon dengan sulur mengkilap
goa-goa pertemuan yang bacin
tempat matahari menyembunyikan rembesan cahaya
basah oleh ludah dan air mata
awal sepenggal kitab riwayat
fosil coklat liat

Jasad dengan bau lumpur dan humus
sebermula kenangan di mulai
julangan bukit cadas
terjal
mengacung
batu-batu tersusun dengan angkuh
pelaminan abadi

002/2006



HIKAYAT KOTA

Ingin kuledakkan matahari pada pusar-pusarmu. Kota akan jadi mimpi yang sibuk dengan tafsir tak pernah usai. Diam-diam kubayangkan Tuhan berbisik: bukalah! maka semoga terbuka pintumu.

Seorang anak di seberang jalan dengan kaki telanjang dituntun ibunya tak juga memberimu senyuman, berlutut dengan cara ganjil pada batas trotoar kota: matahari itu milikku dan milikmu, tapi kapan kita berbagi?

Tak ada siapa-siapa di sini. Orang cuma bicara dengan wajah asing sambil membayangkan kampung halaman setelah bertahun-tahun melipatnya pada saku celana.
Orang-orang segera jadi tua dan pemurung di sini. Mengembara serupa ahasveros kehilangan jejaknya sendiri, menemukan seutas tali gantungan saat sepatu terkoyak dan gerimis berubah jadi bongkahan api menerpa wajah kepala dan kita merayap keluar dari rahim waktu

Tak ada yang sempat menyebutkan nama di sini.
Tuhan dibayangkan turun sebagai bocah jahil, bermain-main pada sisa lapangan rumput di batas-batas jalan dan berfirman, jadilah kalian kanak-kanak kembali, ayo kita bikin manusia, pasar, kota, dunia dengan fantasi cilikmu sesukamu!

Tak ada yang dapat mengeja namanya sendiri di sini. Orang-orang sibuk menggambar wajah sendiri pada lempung yang makin hari makin mengering sambil bersama-sama menyanyikan himne perkabungan bersama kelebet bendera yang turut menjadi sayu
esoknya anak-anak beramai-ramai mendulang kubur bapa-ibunya dan berkata

“papa, mama ajari kami bunuh diri!”

Ngawi-Surabaya, 003/006

A Rodhi Murtadho A. Ginandjar Wiludjeng A. Junianto A. Kurnia A. Qorib Hidayatullah A. Yusrianto Elga A.S Laksana A’yat Khalili Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Razak Abdul Rosyid Abdul Wahab Abdurrahman Wahid Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adam Chiefni Ade P. Nasution Adhitia Armitriant Adi Prasetyo Adrizas AF. Tuasikal Afriza Hanifa Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agnes Rita Sulistyawaty Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunyoto Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Baso Ahmad Faishal Ahmad Fatoni Ahmad Hasan MS Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Khotim Muzakka Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Naufel Ahmad Rofiq Ahmad S. Zahari Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Ainul Fiah Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Alex R. Nainggolan Alfian Dippahatang Ali Audah Ali Mahmudi CH Ali Rif’an Almania Rohmah Ami Herman Amien Wangsitalaja Aminah Aminullah HA.Noor Amir Sutaarga Anam Rahus Anata Siregar Andari Karina Anom Andina Dwifatma Andong Buku #3 Andre Mediansyah Andri Awan Anett Tapai Anggie Melianna Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Wahyudi Anwar Nuris Ardi Bramantyo Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arie Yani Arief Joko Wicaksono Arief Junianto Ariera Arif Bagus Prasetyo Aris Kurniawan Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asmaul Fauziyah Asti Musman Atafras Awalludin GD Mualif Ayu Wulan Sari Aziz Abdul Gofar Azizah Hefni Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Balok Sf Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Benny Arnas Benny Benke Beno Siang Pamungkas Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Bernando J Sujibto Berthold Damshauser BI Purwantari Binhad Nurrohmat Bobby Gunawan Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Burhanuddin Bella Camelia Mafaza Catatan Cerbung Cerpen Chairul Akhmad Chamim Kohari Chavchay Syaifullah Cover Buku Cucuk Espe D. Zaini Ahmad D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Dahta Gautama Daisuke Miyoshi Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Danusantoso Dareen Tatour Darju Prasetya David Kuncara Denny Mizhar Denza Perdana Desi Sommalia Gustina Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewi Indah Sari Dewi Susme Dian Sukarno Didik Harianto Didik Kusbiantoro Dina Jerphanion Dina Oktaviani Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur Dipo Handoko Diyah Errita Damayanti Djoko Pitono Djoko Saryono Doddy Wisnu Pribadi Dody Kristianto Dody Yan Masfa Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi SS MHum Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Wiyana Dyah Ratna Meta Novia Dyah Sulistyorini Ecep Heryadi Eddy Pranata PNP Edeng Syamsul Ma’arif Eep Saefulloh Fatah EH Kartanegara Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Hendrawan Sofyan Eko Hendri Saiful Eko Windarto Elnisya Mahendra Elva Lestary Emha Ainun Nadjib Emil WE Endah Sulwesi Endo Suanda Eppril Wulaningtyas R Esai Evan Ys F. Moses F. Rahardi Fadlillah Malin Sutan Fahmi Faqih Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Kurnianto Fanani Rahman Fanny Chotimah Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Febby Fortinella Rusmoyo Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Gabriel Garcia Marquez Galang Ari P. Galuh Tulus Utama Gampang Prawoto Gandra Gupta Ganug Nugroho Adi Gerson Poyk Ghassan Kanafani Gita Nuari Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunoto Saparie H.B. Jassin Habibullah Hadi Napster Hadriani Pudjiarti Halim HD Halimi Zuhdy Hamberan Syahbana Han Gagas Hanibal W. Y. Wijayanta Hardi Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Hartono Harimurti Hary B Kori’un Hasan Aspahani Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana HE. Benyamine Hendra Junaedi Hendra Makmur Heri CS Heri Latief Heri Listianto Herman RN Herry Lamongan Heru CN Heru Nugroho Hikmat Gumelar HL Renjis Magalah Hudan Nur Hujuala Rika Ayu Huminca Sinaga IBM. Dharma Palguna Ibnu Wahyudi Ida Farida Idris Pasaribu Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilham Khoiri Imam Cahyono Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indiar Manggara Indra Intisa Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ira Puspitaningsih Irfan Budiman Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Zulkarnain Ismail Marzuki Iva Titin Shovia Iwan Kurniawan Jabbar Abdullah Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D. Rahman Jamal T. Suryanata Javed Paul Syatha Jayaning S.A JILFest 2008 Jody Setiawan Johan Edy Raharjo Johannes Sugianto Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Juan Kromen Julika Hasanah Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN Juwairiyah Mawardy Ka’bati Karanggeneng Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Keith Foulcher Kemah Budaya Panturan (KBP) Khansa Arifah Adila Khoirul Inayah Khoirul Rosyadi Khudori Husnan Ki Ompong Sudarsono Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Sastra Ilalang Indonesia Korrie Layun Rampan Kostela Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie L.N. Idayanie Laili Rahmawati Lamongan Lan Fang Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lely Yuana Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Liestyo Ambarwati Khohar Lina Kelana Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lucia Idayanie Lukman A Sya Lutfiah Lynglieastrid Isabellita M Arman AZ M Ismail M Thobroni M. Afifuddin M. Arwan Hamidi M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Luthfi Aziz M. Nurdin M. Yoesoef M.D. Atmaja M.S. Nugroho Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Mahmud Syaltut Usfa Mahmudi Arif Dahlan Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Martin Aleida Maruli Tobing Mas Ruscita Mashuri Masuki M. Astro Matroni Matroni Muserang Media: Crayon on Paper Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Mia Arista Mia El Zahra Mikael Johani Misbahus Surur Misran Mohamad Ali Hisyam Mohammad Eri Irawan Much. Khoiri Muh. Muhlisin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun Muhammadun AS Muhidin M Dahlan Mujtahid Mujtahidin Billah Mukti Sutarman Espe Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Munawir Aziz Musfarayani Musfi Efrizal Nafisatul Husniah Nandang Darana Naskah Teater Nelson Alwi Ni Made Purnamasari Nikmatus Sholikhah Nina Herlina Lubis Nina Susilo Ning Elia Noor H. Dee Noval Jubbek Novel-novel berbahasa Jawa Novelet Nunuy Nurhayati Nur Azizah Nur Hamzah Nur Kholiq Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurul Aini Nurul Anam Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi SA Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Okty Budiati Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Otto Sukatno CR Oyos Saroso H.N. Pagan Press Pagelaran Musim Tandur Palupi Panca Astuti Parimono V / 40 Plandi Jombang Pawang Surya Kencana PDS H.B. Jassin Petrus Nandi Politik Politik Sastra Pradana Boy ZTF Pramoedya Ananta Toer Pramono Pringadi AS Prof Dr Fabiola D. Kurnia Prosa Puisi Puji Santosa Puji Tyasari Puput Amiranti N Purnawan Andra Purnawan Kristanto Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang Group PUstaka puJAngga Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Ng. Ronggowarsito Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Kemat Hidayatullah Rahmat Sularso Nh Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rasanrasan Boengaketji Raudal Tanjung Banua Redland Movie Reiny Dwinanda Resensi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Ririe Rengganis Risang Anom Pujayanto Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roso Titi Sarkoro Rozi Kembara Rukardi Rumah Budaya Pantura (RBP) Rusmanadi S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saiful Amin Ghofur Saiful Anam Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Salman S. Yoga Samsudin Adlawi Samsul Anam Sanggar Lukis Alam Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang KSII Santi Puji Rahayu Sapardi Djoko Damono Saroni Asikin Sartika Dian Nuraini Sastra dan Kuasa Simbolik Sastra Jawa Timur Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil SelaSastra Boenga Ketjil #33 Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sinopsis Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputra Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soegiharto Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Spectrum Center Press Sri Weni Sri Wintala Achmad Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudirman Sugi Lanus Sukron Ma’mun Sulaiman Djaya Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungging Raga Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Supriyadi Surya Lesmana Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyanto Syaf Anton Wr Syaifuddin Gani Syaiful Amin Syarif Wadja Bae Sylvianita Widyawati TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie (1961-2019) Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Presetyo Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Tia Setiadi Tirto Suwondo Tita Tjindarbumi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tosa Poetra Tri Nurdianingsih Triyanto Triwikromo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus S Ulul Azmiyati Umar Fauzi Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Utari Tri Prestianti Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W Haryanto W.S. Rendra Wahyu Prasetya Wan Anwar Wawan Eko Yulianto Wawancara Wina Bojonegoro Wita Lestari Wong Wing King Wowok Hesti Prabowo Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yanusa Nugroho Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yopi Setia Umbara Yudhi Herwibowo Yudi Latif Yusri Fajar Yusuf Ariel Hakim Yuval Noah Harari Zacky Khairul Uman Zainuddin Sugendal Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zed Abidien Zehan Zareez Zhaenal Fanani Zubaidi Khan Zuniest