Tampilkan postingan dengan label Emha Ainun Nadjib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Emha Ainun Nadjib. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 September 2017

Belajar Manusia Kepada Sastra

Untuk 50 tahun Majalah Horison, 26 Juli 2016
Emha Ainun Nadjib
caknun.com

Sastra Generasi Millenial

Sejak hampir dua dekade yang lalu lahir Generasi Millenial, juga dalam sastra. Kaum muda usia 18 sd 39-an tahun yang seakan-akan merupakan “putra langit”, bukan anak-anak yang dibesarkan oleh tata nilai kepengasuhan di bumi. Memang indikator kelahiran adalah semakin dominannya peradaban IT, tetapi tidak bisa disebut sebagai kontinyuitas dari karakter kebudayaan generasi sebelumnya yang melahirkan IT. Anak-anak itu seperti makhluk baru yang lebih genuin, seolah-olah ada pengasuh yang lain yang tidak berada di bumi.

Senin, 16 April 2012

Puasa, Setan, dan Gempa

Emha Ainun Nadjib

PUASA itu melatih “tidak” karena kehidupan sehari-hari kita adalah melampiaskan “ya”. Sekurang-kurangnya mengendalikan “ya”. Mental manusia lebih berpihak pada “melampiaskan” dibanding “mengendalikan”.

Padahal, keselamatan peradaban, keindahan kebudayaan, tata kelola manajemen, kepengurusan negara dan kemasyarakatan lebih mengacu pada pengendalian daripada pelampiasan.

Sabtu, 15 Oktober 2011

Harga Diri Ayam

Emha Ainun Nadjib
http://sastra-indonesia.com/

AYAM memang hewan atau binatang, tetapi tak sekadar hewan atau binatang, ia adalah juga ayam. Ia bahkan punya banyak identitas dan kemungkinan eksistensi yang lain.

Ayam juga makhluk dunia, warga dunia, bagian dari alam, peliharaan Pak Kardjo, temannya ayam lain, putra atau putrinya bapak ayam ibu ayam, penghuni kandang ayam pojok RT. Ayam adalah juga hewan, bukan bebek, bukan angsa, bukan burung bukan anjing, bahkan bukan manusia. Identitas mana yang primer mana yang sekunder, itu soal cara pandang.

Mana kedirian yang “sekadar”, mana yang “bahkan”, mana yang “utamanya”, itu soal konsep nilai dan bisa berbeda-beda. Sebuah cara pandang bisa meletakkan ayam sebagai “sekadar ayam”. Namun cara pandang lain menyebut “mending ayam”, maksudnya: umpamanya “dibandingkan manusia”. Lho kok dibandingkan manusia? Cara pandang itu menemukan bahwa ayam sangat mungkin lebih berguna bagi kehidupan seluruh makhluk alam semesta ini, sekurang-kurangnya bagi umat manusia, dibandingkan manusia sendiri.

Umpamanya masih lebih baik ayam yang tidak mungkin mencuri manusia dibandingkan “manusia pencuri ayam”. Bahkan ada cara pandang nilai yang meletakkan ayam di wilayah kemuliaan: segala perilaku ayam, langkahnya, makan minumnya, mati hidupnya, 100% menaati sunnah Tuhan atau tradisi penciptaan yang di-set up Tuhan. Ayam sepenuhnya patuh kepada Tuhan, sementara manusia dikasih peluang demokrasi: berpikir sendiri, menentukan sendiri keputusan-keputusan hidupnya.

Maka manusia bergerak ke berbagai kemungkinan arah: ada yang menjadi lebih baik dari ayam, ada yang lebih hina dari ayam. Ayam disembelih saja berguna dan hasil masakannya enak dimakan manusia. Sementara manusia tak enak dimakan dan tidak punya posisi nilai untuk baik disembelih. Ketika ayam disembelih, digoreng atau digodok: itulah puncak kemuliaan kemakhlukannya.

Kata Alquran lagi: bersuku-suku, berbangsa-bangsa itu tak lain tak bukan untuk berkenalan, berempati satu sama lain, saling menghormati, menyayangi, bekerja sama, menjadi negara, kerajaan, PBB, parpol, ormas, perusahaan, warung, masjid dan gereja, gardu, SMS, cyber world, dan segala macam produk kerja sama kemanusiaan yang lain. Maka lima pilar yang menyangga berdirinya Republik Indonesia – rakyat, kaum intelektual, TNI/Polri, kekuatan adat dan tradisi serta sumber-sumber keagamaan – harus diterjemahkan secara matang di dalam budaya dan konstitusi, harus dijadikan pijakan setiap inisiatif transformasi sejarah yang menentukan arah pembangunan di bidang apa pun.

Selama 62 tahun merdeka yang pegang kendali hanya dua: kaum intelektual dan tentara-polisi. Rakyat hanya tunggangan, agama, dan adat tradisi hanya dieksploitasi dan dikomoditaskan. Salah satu akibatnya, etnisitas menjadi sama dengan kekerdilan, identitas keagamaan menjadi eksklusivisme. Begitu kita berpikir tentang pluralisme, maunya ayam kita tak anggap ayam, melainkan kita sebut hewan saja. Ayam tak boleh menonjolkan keayamannya.

Bahkan ayam harus disembunyikan penampakan ayamnya. Ayam harus agak kebebek-bebekan, bebek harus keangsa-angsaan, kerbau harus jangan terlalu jelas kerbaunya, lembu kalau bisa mirip kerbau, anjing seyogianya mirip manusia dan manusia bagus kalau seperti anjing. Orang tidak bisa menjadi dirinya sendiri dan tak terbiasa melihat orang lain sebagai diri orang lain. Orang hanya siap melihat dirinya dalam keseragaman dengan kebanyakan orang. Orang sakit hati kalau menemukan orang lain tidak seperti dirinya.

Orang tidak tahan hati untuk berbeda. Kalau saya suka bergurau dengan kambing, para tetangga menyimpulkan saya adalah kambing. Kalau saya hadir ke acara partai komunis internasional, orang menyimpulkan saya sudah murtad dan keluar dari Islam. Padahal saya senang bergaul dengan setan, saya tidak pernah memusuhi setan, karena antara setan dengan saya sudah ada pemahaman dua pihak bahwa saya tidak mungkin mampu memengaruhi setan, sementara saya juga insya Allah tidak akan pernah membiarkan diri saya dipengaruhi oleh setan.

Maka setan lebih merupakan partner dialektika, sebagaimana kegelapan diperlukan untuk mempertegas cahaya, hitam diperlukan untuk menghayati putih dan warna-warna lain. Pada suatu waktu bersama kelompok Kiai Kanjeng kami tiba di Roma sesudah Aberdeen, London, dan Berlin. Begitu mendarat, layar televisi mengumumkan bahwa Paus Johannes Paulus II gerah alias sakit. Beberapa hari kemudian wafat. Kami pun ikhlas tidak jadi pentas. Karena kalau beliau wafat, pertandingan sepak bola di Roma atau mungkin seluruh Italia harus ditunda.

Semua tempat hiburan tutup. Yang buka cuma restoran dan warung. Tatkala Paus masih sakit, kami sempat berpentas di Teatro Dalmazia. Kemudian ketika kami menyiapkan pementasan di Teramo dan Napoli, ternyata Wali Kota Roma senang atas rencana pementasan Kiai Kanjeng di Roma sehingga memberi izin. Maka kami kembali menyiapkan diri dan membangun empati. Kami menyusun sejumlah aransemen baru untuk obituari Paus; saya menulis puisi:

Poesia per un Grande

L’uomo buono non puo’ morire Perche’ la bonta’ e’ piu’ forte della morte L’ uomo dal cuore sublime E’ il sole che irradia la terra Se lui muore Il sole si sposta Dal cielo Nell’anima di ogni essere umano L’uomo dall’animo puro Deve essere pronto a perdere se stesso Perche’ ognuno sente il diritto di possederlo E perche’ per amare tutti gli uomini Dovrebbe vivere mille anni Se l’uomo dall’animo puro Fa il suo dovere Di lasciare la terra In realta’ la terra non lo vuole lasciar andar via Milioni di persone lo piangono Mare e monti desiderano andare con lui Anzi la vita vorrebe fermarsi Piuttosto che continuare il suo cammino Senza essere accompagnata dall’uomo dall’animo sublime

Roma,5 Aprile 2005.

TENTU saja jangan menyangka saya bisa berbahasa Italia, apalagi menulis puisi berbahasa Italia. Sedangkan menulis puisi bahasa Indonesia saja dibolak-balik tetap tak kan sampai pada tingkat kemampuan Sutardji Calzoum Bachri, penyair asal Riau yang lahir dari rahim ibunya bahasa Indonesia.

Untunglah kekurangan berbahasa bisa bermanfaat untuk memperdekat hubungan kemanusiaan. Pluralisme tidak hanya berbekal kemampuan. Ketidakmampuan pun menjadi bekal yang baik, asal digoreng dari ketulusan hati. Ketika saya keliling Filipina pada 1980 bersama teman Ambon yang bahasa Inggrisnya hanya dua biji – “Yes” dan “No” – saya kalah dari dia soal memperoleh banyaknya teman. Dengan menggunakan bahasa badan, sorot mata, ekspresi wajah, teman saya itu menerobos siapa saja dan akhirnya menjadi sahabatnya.

Sementara saya sibuk minder karena bahasa Inggris saya juga hanya unggul beberapa biji dibanding dia. Kalau di luar negeri di mana kita berkomunikasi dengan bahasa Inggris, saya selalu mengawali pidato saya dengan, “Memohon maaf atas kacaunya bahasa Inggris saya karena dulu studi saya lebih fokus ke bahasa Arab.” Sementara kalau ke negara-negara Timur Tengah tinggal saya balik: “….fokus studi saya pada bahasa Inggris.”

Hadirin selalu tertawa. Semakin saya berusaha memperbaiki bahasa saya sehingga semakin tampak begonya, mereka semakin sayang sama saya. Puisi untuk Paus itu bahasa Indonesianya dibaca oleh istri saya, bahasa Italianya dibaca oleh teman Italia, musiknya oleh KiaiKanjeng dibikin sangat ‘gerejawi’ (sesungguhnya tidak ada musik, nada, irama yang beragama apa pun…).

Ditambah beberapa nomor lain yang memang kami aransemen khusus untuk publik Italia – penonton Indonesia hanya 5 sampai 7 orang, yang duduk di depan hanya 1 orang: cukuplah untuk membuat banyak orang menangis. Mungkin dalam bayangan mereka orang Islam itu hobinya makan orang, menggoreng jari-jari, kuping, dan buah pelir. Mungkin mereka selama ini berpendapat bahwa bagi orang Islam semua penghuni dunia yang tidak beragama Islam wajib dibunuh, disembelih, ditembak atau dibom. Mungkin secara antropologis mereka punya hipotesis bahwa kaum Muslimin kayaknya bukan berasal dari homo erectus atau homo sapien, mungkin homo bombus….

Ternyata orang Islam kenal cinta juga. Seusai pentas, selalu, tiga kali standing ovation, soundman KiaiKanjeng dijunjung duduk di atas pundak soundman setempat yang semula cemberut melulu sebelum pementasan. Rizki KiaiKanjeng terbesar di muka bumi ini adalah selalu diremehkan ke manapun mereka pergi, kemudian disayang dengan kadar yang plus karena menyesal meremehkan sebelumnya. Kecuali di Indonesia: KiaiKanjeng tidak diremehkan, juga tidak dijunjung karena tidak ada.

Yang jelas, setelah pementasan di Vatikan itu, juga setelah sekian puluh kali di berbagai negara, Kiai Kanjeng pentas dengan audiens lintas agama atau lain agama sama sekali, tidak seorang pun dari anggota KiaiKanjeng yang berganti agama, malah semakin pintar menggali dan mengembangkan rasa syukur.

Kiai Kanjeng juga tidak pernah berpikir bahwa orang non-Islam akan menjadi Muslim sesudah nonton Kiai Kanjeng karena kata Allah, “Sesungguhnya engkau tak bisa memberi petunjuk kepada siapa pun saja yang kau cintai, melainkan Allah yang memberi petunjuk kepada siapa saja yang Ia maui.” Tahun 2008 Kiai Kanjeng diundang ke Belanda berdasarkan pertimbangan sesudah adanya kasus Theo van Gogh.

Barusan di sebuah kampung Katolik di Sleman Utara Yogyakarta KiaiKanjeng juga diminta kasih pengajian, padahal penduduk Islamnya hanya penghuni tiga rumah. Di Pasuruan, Pesantren Darut Taqwa yang punya Universitas Yudharta, baru saja minggu kemarin membuka panggung untuk Kiai Kanjeng memandu silaturahmi antara para pastor, kiai-kiai, tokoh-tokoh Budha dan Hindu, dengan audiens yang juga campuran. Acara-acara semacam itu bukan untuk mencampuradukkan antara agama Islam dengan agama lain.

Justru dipakai untuk menarik bersama garis-garis “offside”, “handsball”, “cornerball” dst. di antara koridor-koridor teologi yang tegas perbedaannya, namun membuka pintu-pintu butulan kultural, kerja sama ilmu, kongsi ekonomi, dan komitmen politik menjunjung keadilan plural. Saya pribadi melakukan kontrak seumur hidup dunia akhirat tidak akan memasukkan kata “permusuhan” di dalam harddisk kalbu saya. Kalau dimusuhi saya oke, bahkan berterima kasih, sebab itu menguji cinta saya dan menambah kualitas cinta saya jika mampu saya pertahankan di hadapan kebencian dan permusuhan orang lain kepada saya.

Bagi saya, permusuhan tidak ada hubungannya dengan kehidupan, permusuhan hanya punya jodoh kematian. Permusuhan tidak punya ekspresi apa pun kecuali membunuh atau memusnahkan. Tak ada permusuhan dengan perang kata, debat pendapat, persaingan dagang, atau politik. Semua yang ada dalam kehidupan adalah cinta. Jika dipaksa melakukan permusuhan, langkah cuma satu: mati.

Maka saya tak pernah tega melihat orang didorong ke kematian di luar kehendak Tuhan. Misalnya disakiti, dianiaya, ditindas. Seorang sopir ditendang petugas di Bandara Juanda dengan sangat kasar, saya langsung meloncat ke petugas itu, saya banting, saya kunci dan baru saya lepaskan sesudah dia minta maaf kepada orang yang ditendangnya. Sedangkan ayam punya harga diri, apalagi sopir.

Pendalaman ilmu dan nilai seperti ini bisa kita perluas sampai detail dan beribu-ribu halaman kita hasilkan. Substansi yang akan kita ambil adalah bahwa ayam adalah ayam: ia tidak bisa hanya disebut hewan. Si Abdul, Bambang, John, bukan “hanya” manusia: ia juga orang Arab, Jawa atau Amerika. Ia juga orang Islam, orang Kristen, atau atheis. Pada mereka juga terdapat berbagai dimensi identitas: etnik, agama, budaya, golongan, jenis, spesies, gen, kelompok, kata Alquran: syu’ub wa qabail. Itulah pluralisme.

Suatu siang saya tiba di Tinambung, 350 km Makassar ke utara, keributan terjadi. “Pasukan Mandar”, sekitar 200 orang rakyat, beramai-ramai membawa senjata tajam naik motor, truk, Kijang, dll., menuju Kota Majene. Mereka akan menyerbu kelompok masyarakat di sana yang katanya “menghina Balanipa”. Balanipa adalah Kerajaan Mandar, 7 di pantai 7 di pegunungan, pusatnya di Tinambung. Balanipa adalah kata yang padanya terletak kehormatan dan harga diri suku Mandar. Ada orang-orang di Pasar Majene bilang bahwa Balanipa sudah tinggal khayalan dan omong kosong.

Orang-orang Tinambung naik pitam, ramai-ramai menyerbu Majene. Saya ajak seseorang sekenanya naik motor, ngebut sengebut-ngebutnya, kami kejar mereka, kami balap, dan sekitar 200 meter di depan rombongan motor saya hentikan dan saya parkir melintang di tengah jalan. Saya turun dan mencegat menghentikan mereka. “Kembali semua! Saya tunggu di masjid Jami’ bersama Mara’dia!”.

Mara’dia adalah sebutan untuk Raja Mandar. Mereka berbalik arah, saya menguntit di belakang mereka. Memasuki Tinambung mereka ke masjid, saya ke rumah Mara’dia, lapor ini itu kemudian kami sama-sama ke Masjid”. Suasana sangat tegang, sunyi, namun semua menundukkan muka. Saya membaca Surah An-Nur ayat 35, surat cahaya. Saya katakan kepada mereka “….musuh kita bukan manusia.”

Musuh kita adalah sistem yang sedang dibangun oleh sebagian manusia yang akan menghancurkan manusia. Sebentar lagi Jembatan Sungai Mandar di utara itu akan dibangun, kelak truk-truk akan masuk dan keluar wilayah Anda. Pikirkan truk itu akan membawa rezeki bagi masyarakat Tinambung ataukah akan merampok kekayaan Anda. Kalau Anda mulai berpikir untuk menjawab itu, maka itulah harga diri Mandar yang kembali dibangkitkan…”(*)

Dijumput dari: http://muhammad-abid.blogspot.com/2008/07/harga-diri-ayam.html

Kamis, 28 Oktober 2010

Emha Ainun Nadjib, Pengelana dari Menturo

Sudah dimuat di Majalah alKisah edisi No 25/III/2005

Ia adalah sosok multikreatif. Kreativitasnya telah mengantarkan langkah kakinya ke berbagai dimensi kehidupan: santri, gelandangan, dan seniman sastra.

Tanggal 17 malam, di Dusun Tamantirto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta.

Halaman pesantren yatim piatu itu sudah nyaris penuh oleh jemaah. Nuansa putih mewarnai ribuan orang yang duduk di atas puluhan tikar yang terhampar, sampai ke luar kompleks Pesantren Zaituna. Pukul sembilan tepat, acara pun dibuka dengan pembacaan surah Al-Fatihah oleh seorang pria gagah yang juga mengenakan baju dan kopiah putih.

Acara demi acara pun kemudian mengalir dengan lancar. Selawat pembuka, yang diambil dari beberapa syair Maulid Simthud Durar, mengawali prosesi spiritual malam itu. Lantunan syair selawat itu semakin indah saat diiringi irama rancak yang berasal dari perpaduan berbagai alat musik modern dan tradisional. Jemaah, yang sebagian besar pemuda dan mahasiswa, pun segera larut dalam kesyahduan.

Usai beberapa lagu pembuka, acara yang dinantikan jemaah pun tiba. Sang pemimpin kelompok musik asal Jawa Timur kembali tampil, meraih mikrofon dan menyapa hadirin. Dengan lugas ia lalu menyampaikan sebuah prolog diskusi yang cukup panjang. Dengan gaya bicaranya yang agak “nakal” dan penuh sentilan, tokoh yang belakangan tubuhnya “membesar” ini menyoroti berbagai permasalahan kemasyarakatan.

Forum malam itu semakin semarak setelah sang narasumber membuka kesempatan dialog. Bergantian, beberapa orang yang hadir menyampaikan unek-uneknya. Terkadang hadirin ger-geran ketika audiens berbicara dengan gaya yang lugu. Maklum, jemaah yang hadir di pengajian rutin bulanan itu memang berasal dari berbagai golongan dan strata sosial.

Sang narasumber, tokoh sentral kita kali ini, adalah sosok yang dikenal multikreatif. Ia melintasi berbagai dimensi kreativitas, diawalinya sejak usia muda, yang membuatnya bisa masuk ke hampir semua golongan. Dialah Muhammad Ainun Najib, yang lebih dikenal dengan Emha Ainun Najib atau Cak Nun.

Berbagai predikat, seperti budayawan, kolumnis, seniman, bahkan kiai, kini kerap dinisbatkan kepada pria yang mengaku mengawali segalanya dengan keterbatasan-keterbatasan yang melingkarinya. Sebuah proses panjang yang, menurutnya, berliku.

Dikenal memiliki stamina ketekunan dan keuletan yang menggebu-gebu dalam mengatur energi kebaikan, suami Novia Kolopaking ini mampu tetap eksis dalam berbagai geliat kehidupan. Ia bahkan mampu mewarnainya secara langsung dengan arif.

Santri Gelandangan

Lahir pada 27 Mei 1953 di Menturo, Jombang, Jawa Timur, Emha adalah anak keempat dari lima belas bersaudara. Ayahnya, Muhammad Abdul Lathif, seorang petani dan kiai surau, sering menjadi muara keluh kesah masyarakat di sekitarnya. Begitu pula dengan ibunya, Chalimah.

Emha menjalani hampir seluruh episode awal kehidupannya di dusun kecilnya, Menturo. Ia bersyukur menjadi anak desa, yang memberinya pengalaman dan pelajaran tentang kesederhanaan, kewajaran, dan kearifan hidup.

“Saya banyak belajar dari orang desa yang berhati petani. Mereka makan dari hasil yang ditanam. Semuanya berdasarkan kewajaran, kerja sebagai orientasi hidup, tak pernah mempunyai keinginan menguasai atau mengeksploitasi alam dan sesama manusia. Mereka tabah meskipun ditindih penderitaan,” kata Cak Nun.

Setamat SD, Emha melanjutkan ke Pondok Pesantren Gontor. Namun, di pesantren yang diasuh oleh K.H. Imam Zarkasyi itu ia hanya bertahan selama dua setengah tahun. Emha, yang sejak kecil dikenal kritis, melancarkan aksi protes terhadap ketidakadilan petugas keamanan pondok, sehingga “diusir” dari Pondok Pesantren Gontor.

Pengalaman dua setengah tahun di Gontor, tampaknya begitu berkesan bagi Emha, yang memang dibesarkan dengan kultur santri. Sekelumit pengalaman itu pula yang kelak kerap mewarnai berbagai karyanya yang sarat kritik sosial, lugas tapi sufistis.

Keluar dari Gontor, Emha lantas hijrah ke Yogyakarta, kota yang membuka peluang bagi pengembangan kreativitasnya. Usai menamatkan pendidikan menengah di SMA Muhammadiyah I pada 1969, ia juga sempat masuk ke Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada. Namun setelah kuliah empat bulan, pada hari kedua ujian semester I, ia keluar.

Gejolak jiwa seniman Emha, membawa langkah kakinya ke “Universitas” Malioboro. Sepanjang kurun 1970-1975, ia menggelandang hidup di komunitas Maliboro. Ia bergabung dengan kelompok penulis muda Persada Studi Klub, yang kala itu diasuh oleh “mahaguru” Umbu Landu Paranggi. Saat itulah pengembaraan sosial, intelektual, kultural, maupun spiritual Cak Nun memasuki babak baru, berkarya.

Nama Emha mulai dikenal orang, saat tulisan-tulisannya yang berupa esai, puisi, dan cerpen, bertebaran di berbagai media massa. Waktu yang hampir bersamaan ketika ia mulai rajin mementaskan pembacaan-pembacaan puisinya bersama Teater Dinasti pada tahun 1980-an.

Selepas bergulat panjang di “Universitas” Malioboro, dekade ’80-an, sering dianggap sebagai periode produktif Cak Nun. Dalam rentang waktu tersebut, ia melahirkan beberapa antologi puisi, di antaranya Sajak-sajak Sepanjang Jalan (1977), Cahaya Maha Cahaya (1988), Syair Lautan Jilbab (1989), dan Suluk Pesisiran (1990).

Kini, setelah 30 tahun berkarya, Emha Ainun Nadjib telah mela¬hirkan lebih kurang 25 antologi puisi yang berisi sekitar 800 judul puisi. Ciri khas puisi karyanya adalah kandungan protes sosial, sosio-religius, dan mistik Islam. Di luar puisi, Cak Nun, bersama Halim H.D., “pengasuh” jaringan kesenian Sanggarbambu, aktif di Teater Dinasti dan mengasilkan beberapa repertoar serta pementasan drama.

Di antara karya fenomenalnya adalah drama kolosal Santri-santri Khidhir, yang dipentaskannya bersama Teater Salahudin di lapangan Gontor, dengan seluruh santri menjadi pemain, dan Lautan Jilbab, yang dipentaskan secara massal di Yogya, Surabaya, dan Makassar, tahun 1990.

Rumah Hantu

Hal unik lain dari tokoh satu ini adalah kenekatannya yang sering overdosis. Setelah sebelumnya pernah menggelandang di sepanjang emperan toko Malioboro, Yogyakarta, Cak Nun juga pernah menjadi gelandangan di Amsterdam, Belanda. Ketika itu, usai mengikuti salah satu event kepenyairan ia kehabisan bekal. Bahkan untuk membeli tiket pesawat pulang pun Cak Nun tidak mampu.

Beruntung, jiwanya adalah petualang. Ketidakberdayaan ini dimanfaatkannya untuk menimba pengalaman hidup. Bersama temannya, seorang penyair asal Amerika Serikat yang menjadi imigran gelap di Belanda, selama dua bulan Cak Nun, yang tak memegang uang sepeser pun, menempati satu petak flat yang tak berpenghuni.

Di Negeri Kincir Angin itu ada kebiasaan, jika ada sebuah rumah yang ditelantarkan atau ruang kosong yang tak ditempati lebih dari dua bulan, setiap orang berhak menempatinya. “Tapi jangan dianggap itu rejeki nomplok dulu,” kelakarnya. “Tinggal di rumah tanpa pemanas saat musim salju sama saja dengan kos di dalam kulkas.”

Beruntung tubuhnya telah terbiasa dengan kemelaratan. Meski melawan suhu di bawah nol derajat, Cak Nun tak pernah merasakan sakit. “Untuk mengisi kamar itu, kami menunggu setiap Senin malam orang-orang Belanda buang barang. Kasur, selimut, mesin ketik, teve hitam putih, kompor fungsi separo, meja, kursi, dan sebagainya kami angkut dari tempat pembuangan,” katanya lagi.

Untuk makan, keduanya mengais sisa-sisa restoran dan rumah tangga kaya yang membuang makanan agak kadaluwarsa.

“Rupanya, makin miskin dan menderita, perut kita makin tahan racun,” ujarnya terkekeh.

Di tempat itulah Cak Nun mengenal dan berinteraksi dengan para pengungsi, yang kebanyakan adalah pelarian politik dari berbagai negara Afrika.

“Tiap hari kami bercengekrama sambil mencari secuil roti di sekitar Centraal Station Amsterdam.”
Dari para “panduduk haram” ini pula ia mengaku mengetahui cara membongkar kotak telepon agar ratusan koinnya ambrol keluar. Atau teknik benang koin yang digunakan untuk untuk menipu telepon umum, sehingga satu koin bisa dipakai berulang kali, bahkan bisa dipakai menelepon ke luar negeri.

Belakangan, ketika punya sedikit uang, ia menyewa kamar yang tarifnya murah, karena dipercayai penduduk sekitar ada hantunya. Di Denhaag, pertengahan 1980-an, misalnya, Cak Nun pernah menyewa kamar yang konon juga ada setannya. Tarif sewanya kurang dari separuh harga normal, karena pernah ada penghuni kamar itu yang gantung diri. Setiap penghuni berikutnya selalu merasa terganggu.

“Saya ikhlas menyediakan diri diganggu dan berjanji tidak akan mengikutinya gantung diri, he he,” candanya.

Sepulang dari luar negeri, Cak Nun makin produktif berkarya dan bahkan mulai merambah ke dunia musik. Ia melahirkan genre baru, musikalisasi puisi. Meski demikian, dalam berbagai kesempatan ia menolak disebut artis musik atau “penyanyi”.

Bersama Kyai Kanjeng, grup musik yang didirikannya, ia menelurkan album kaset bertajuk Kado Muhammad (1996), Wirid Padhang Mbulan (1997), Menyorong Rembulan (1999), Jaman Wis Akhir (1999), Perahu Nuh (1999), Kepada-Mu Kekasih-Ku (2000), Kenduri Cinta dan Maiyah Tanah Air (2002), dan Ummi Khultsum (2005).

Penulis Muda

Emha sebenarnya lahir bukan dari kultur “penyanyi”, ia lebih tepat sebagai pemikir dan penulis serba bisa. Sejak muda ia gandrung menulis puisi, cerpen, naskah drama, makalah, dan esei (kolom). Tahun 1977-1978, tulisan-tulisannya sudah sering dimuat di harian Kompas. Juga di rubrik kolom di majalah Tempo pada tahun 1981. Bisa dibilang, waktu itu ia termasuk salah satu penulis termuda yang mampu menembus ketatnya seleksi dua media terbesar di tanah air tersebut.

Di antara sekian banyak tulisannya, jenis esei merupakan salah satu yang menonjol dan banyak dibukukan. Hingga tahun ini, tulisan-tulisannya yang terserak di berbagai media itu telah dikumpulkan menjadi lebih dari 30 buku.

Tulisan Cak Nun yang ekspresif memang mempunyai kekuatan untuk disukai. Ada banyak cara yang digunakan buat mengekspresikan “dirinya” ke dalam jagat kata, yang membuat pembacanya kerap ikut terbawa mangkel, geli, tertawa, berduka, marah, atau terbakar.

Dalam hal ini Emha pernah berpendapat, jika seseorang ingin menghadirkan suatu karya, ia harus meyakin¬kan diri bahwa salah satu penikmatnya adalah dirinya sendiri. Dan jadilah orang banyak. Artinya, pada saat yang bersamaan, agar karya bisa dinikmati oleh orang banyak, ia juga harus rela untuk menjadi siapa saja.

Tentu saja ilustrasi tersebut tidak mengatakan bahwa Emha cukup sukses mengatasi persoalan tersebut. Tetapi paling tidak untuk perspektif linguistis, karyanya memang memiliki “kelebihan” tertentu; dengan bahasanya yang padat, lugas, rileks, nakal, imajinatif, dan cerdas.

Pada kurun waktu selepas Orde Baru jatuh, produktivitas Emha tampak mulai menurun. Keadaan itu berlangsung sekitar tiga tahun. Hal ini tentu saja menggelisahkan teman-temannya, jangan-jangan Emha akan mengalami masa aus. Seperti mesin, secanggih apa pun, lambat laun ia akan men¬ghadapi suatu masa yang tak bisa dipakai lagi. Dengan tersenyum Emha mengatakan, “Manusia kan sama sekali bukan mesin.”

Kegelisahan atau mungkin juga asumsi di atas sering tidak sesuai kenyataan. Bukankah, dalam dunia pemikiran, makin matang usia, makin kreatif dan produktif pula seseorang?

Ia merasa, apa yang selama ini dapat dilakukannya tidak lepas dari kealamiahan yang Allah anugerahkan. Otak, yang dibantu akalnya, secara alamiah mengolah gagasan yang muncul dengan sendirinya, yang kemudian menghasilkan sebuah karya.

Keliling Dunia

Saat ini Emha lebih banyak menekuni aktivitas rutin bulanan dengan komunitas Masyarakat Padhang Mbulan di sejumlah kota. Hingga rata-rata 10-15 kali pertemuan digelarnya setiap bulan bersama musik Kyai Kanjeng. Sampai sekarang, Kyai Kanjeng telah menggelar pentas di lebih dari 8.500-an kota kecamatan se-Indonesia.

Sekali waktu, Kyai Kanjeng juga mengelana ke berbagai kota di luar negeri. Seperti, beberapa waktu lalu, Kyai Kanjeng mengadakan pentas muhibah ke Mesir, Hong Kong, Malaysia, Eropa dan Italia. Acara pentas tersebut, yang umumnya diselenggarakan di lapangan terbuka, diikuti berbagai golongan, aliran, dan agama. Ia dan kelompoknya menawarkan kegembiraan menikmati kebersamaan seraya menghargai nilai-nilai kemanusiaan.

Kyai Kanjeng juga merupakan satu-satunya grup musik muslim yang mengiringi prosesi pemakaman Paus Johannes Paulus II dengan iringin musik dan puisi-puisi khusus untuk suasana duka itu. Bahkan Comune di Roma, semacam wali kota, mengizinkan pentas Kyai Kanjeng di Teatro Dalmazia pada 5 April 2005 malam, yang membawakan lagu-lagu spiritual. Ini menunjukkan betapa Kyai Kanjeng diterima oleh semua kelompok dan kalangan masyarakat di mana pun.

Adapun jemaahnya di berbagai wilayah Nusantara yang rutin dikunjungi Kyai Kanjeng, antara lain, jemaah “Padang Bulan” tiap pertengahan bulan (15 malam 16, bulan Jawa) di Menturo, Jombang, Jawa Timur; jemaah “Mocopat Syafaat” tiap tanggal 17 malam di Ponpes Az-Zaituna, Tamantirto, Kasihan Bantul, Yogyakarta; jemaah Maiyah, tiap akhir pekan, sistem giliran (infak) di seluruh pelosok Yogyakarta; jemaah “Gambang Syafaat” di Semarang; “Pengajian Izroil” di Wonosobo, Jawa Tengah; “Papparandang Ate” di Sulawesi Selatan; “Haflah Shalawat” di Surabaya; “Tombo Ati” di Malang, Jawa Timur; jemaah “Kenduri Cinta”, tiap Jumat malam, minggu kedua, di halaman Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, atau plaza Universitas Paramadina di Pancoran, Jakarta Selatan, tiap Sabtu malam, minggu kedua. Perubahan jadwal biasanya diinformasikan melalui milis kenduricinta atau website resminya, www.padhangmbulan.com

A Rodhi Murtadho A. Ginandjar Wiludjeng A. Junianto A. Kurnia A. Qorib Hidayatullah A. Yusrianto Elga A.S Laksana A’yat Khalili Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Razak Abdul Rosyid Abdul Wahab Abdurrahman Wahid Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adam Chiefni Ade P. Nasution Adhitia Armitriant Adi Prasetyo Adrizas AF. Tuasikal Afriza Hanifa Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agnes Rita Sulistyawaty Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunyoto Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Baso Ahmad Faishal Ahmad Fatoni Ahmad Hasan MS Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Khotim Muzakka Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Naufel Ahmad Rofiq Ahmad S. Zahari Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Ainul Fiah Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Alex R. Nainggolan Alfian Dippahatang Ali Audah Ali Mahmudi CH Ali Rif’an Almania Rohmah Ami Herman Amien Wangsitalaja Aminah Aminullah HA.Noor Amir Sutaarga Anam Rahus Anata Siregar Andari Karina Anom Andina Dwifatma Andong Buku #3 Andre Mediansyah Andri Awan Anett Tapai Anggie Melianna Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Wahyudi Anwar Nuris Ardi Bramantyo Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arie Yani Arief Joko Wicaksono Arief Junianto Ariera Arif Bagus Prasetyo Aris Kurniawan Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asmaul Fauziyah Asti Musman Atafras Awalludin GD Mualif Ayu Wulan Sari Aziz Abdul Gofar Azizah Hefni Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Balok Sf Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Benny Arnas Benny Benke Beno Siang Pamungkas Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Bernando J Sujibto Berthold Damshauser BI Purwantari Binhad Nurrohmat Bobby Gunawan Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Burhanuddin Bella Camelia Mafaza Catatan Cerbung Cerpen Chairul Akhmad Chamim Kohari Chavchay Syaifullah Cover Buku Cucuk Espe D. Zaini Ahmad D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Dahta Gautama Daisuke Miyoshi Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Danusantoso Dareen Tatour Darju Prasetya David Kuncara Denny Mizhar Denza Perdana Desi Sommalia Gustina Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewi Indah Sari Dewi Susme Dian Sukarno Didik Harianto Didik Kusbiantoro Dina Jerphanion Dina Oktaviani Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur Dipo Handoko Diyah Errita Damayanti Djoko Pitono Djoko Saryono Doddy Wisnu Pribadi Dody Kristianto Dody Yan Masfa Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi SS MHum Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Wiyana Dyah Ratna Meta Novia Dyah Sulistyorini Ecep Heryadi Eddy Pranata PNP Edeng Syamsul Ma’arif Eep Saefulloh Fatah EH Kartanegara Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Hendrawan Sofyan Eko Hendri Saiful Eko Windarto Elnisya Mahendra Elva Lestary Emha Ainun Nadjib Emil WE Endah Sulwesi Endo Suanda Eppril Wulaningtyas R Esai Evan Ys F. Moses F. Rahardi Fadlillah Malin Sutan Fahmi Faqih Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Kurnianto Fanani Rahman Fanny Chotimah Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Febby Fortinella Rusmoyo Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Gabriel Garcia Marquez Galang Ari P. Galuh Tulus Utama Gampang Prawoto Gandra Gupta Ganug Nugroho Adi Gerson Poyk Ghassan Kanafani Gita Nuari Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunoto Saparie H.B. Jassin Habibullah Hadi Napster Hadriani Pudjiarti Halim HD Halimi Zuhdy Hamberan Syahbana Han Gagas Hanibal W. Y. Wijayanta Hardi Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Hartono Harimurti Hary B Kori’un Hasan Aspahani Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana HE. Benyamine Hendra Junaedi Hendra Makmur Heri CS Heri Latief Heri Listianto Herman RN Herry Lamongan Heru CN Heru Nugroho Hikmat Gumelar HL Renjis Magalah Hudan Nur Hujuala Rika Ayu Huminca Sinaga IBM. Dharma Palguna Ibnu Wahyudi Ida Farida Idris Pasaribu Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilham Khoiri Imam Cahyono Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indiar Manggara Indra Intisa Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ira Puspitaningsih Irfan Budiman Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Zulkarnain Ismail Marzuki Iva Titin Shovia Iwan Kurniawan Jabbar Abdullah Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D. Rahman Jamal T. Suryanata Javed Paul Syatha Jayaning S.A JILFest 2008 Jody Setiawan Johan Edy Raharjo Johannes Sugianto Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Juan Kromen Julika Hasanah Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN Juwairiyah Mawardy Ka’bati Karanggeneng Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Keith Foulcher Kemah Budaya Panturan (KBP) Khansa Arifah Adila Khoirul Inayah Khoirul Rosyadi Khudori Husnan Ki Ompong Sudarsono Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Sastra Ilalang Indonesia Korrie Layun Rampan Kostela Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie L.N. Idayanie Laili Rahmawati Lamongan Lan Fang Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lely Yuana Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Liestyo Ambarwati Khohar Lina Kelana Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lucia Idayanie Lukman A Sya Lutfiah Lynglieastrid Isabellita M Arman AZ M Ismail M Thobroni M. Afifuddin M. Arwan Hamidi M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Luthfi Aziz M. Nurdin M. Yoesoef M.D. Atmaja M.S. Nugroho Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Mahmud Syaltut Usfa Mahmudi Arif Dahlan Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Martin Aleida Maruli Tobing Mas Ruscita Mashuri Masuki M. Astro Matroni Matroni Muserang Media: Crayon on Paper Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Mia Arista Mia El Zahra Mikael Johani Misbahus Surur Misran Mohamad Ali Hisyam Mohammad Eri Irawan Much. Khoiri Muh. Muhlisin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun Muhammadun AS Muhidin M Dahlan Mujtahid Mujtahidin Billah Mukti Sutarman Espe Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Munawir Aziz Musfarayani Musfi Efrizal Nafisatul Husniah Nandang Darana Naskah Teater Nelson Alwi Ni Made Purnamasari Nikmatus Sholikhah Nina Herlina Lubis Nina Susilo Ning Elia Noor H. Dee Noval Jubbek Novel-novel berbahasa Jawa Novelet Nunuy Nurhayati Nur Azizah Nur Hamzah Nur Kholiq Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurul Aini Nurul Anam Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi SA Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Okty Budiati Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Otto Sukatno CR Oyos Saroso H.N. Pagan Press Pagelaran Musim Tandur Palupi Panca Astuti Parimono V / 40 Plandi Jombang Pawang Surya Kencana PDS H.B. Jassin Petrus Nandi Politik Politik Sastra Pradana Boy ZTF Pramoedya Ananta Toer Pramono Pringadi AS Prof Dr Fabiola D. Kurnia Prosa Puisi Puji Santosa Puji Tyasari Puput Amiranti N Purnawan Andra Purnawan Kristanto Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang Group PUstaka puJAngga Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Ng. Ronggowarsito Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Kemat Hidayatullah Rahmat Sularso Nh Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rasanrasan Boengaketji Raudal Tanjung Banua Redland Movie Reiny Dwinanda Resensi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Ririe Rengganis Risang Anom Pujayanto Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roso Titi Sarkoro Rozi Kembara Rukardi Rumah Budaya Pantura (RBP) Rusmanadi S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saiful Amin Ghofur Saiful Anam Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Salman S. Yoga Samsudin Adlawi Samsul Anam Sanggar Lukis Alam Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang KSII Santi Puji Rahayu Sapardi Djoko Damono Saroni Asikin Sartika Dian Nuraini Sastra dan Kuasa Simbolik Sastra Jawa Timur Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil SelaSastra Boenga Ketjil #33 Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sinopsis Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputra Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soegiharto Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Spectrum Center Press Sri Weni Sri Wintala Achmad Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudirman Sugi Lanus Sukron Ma’mun Sulaiman Djaya Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungging Raga Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Supriyadi Surya Lesmana Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyanto Syaf Anton Wr Syaifuddin Gani Syaiful Amin Syarif Wadja Bae Sylvianita Widyawati TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie (1961-2019) Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Presetyo Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Tia Setiadi Tirto Suwondo Tita Tjindarbumi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tosa Poetra Tri Nurdianingsih Triyanto Triwikromo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus S Ulul Azmiyati Umar Fauzi Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Utari Tri Prestianti Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W Haryanto W.S. Rendra Wahyu Prasetya Wan Anwar Wawan Eko Yulianto Wawancara Wina Bojonegoro Wita Lestari Wong Wing King Wowok Hesti Prabowo Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yanusa Nugroho Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yopi Setia Umbara Yudhi Herwibowo Yudi Latif Yusri Fajar Yusuf Ariel Hakim Yuval Noah Harari Zacky Khairul Uman Zainuddin Sugendal Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zed Abidien Zehan Zareez Zhaenal Fanani Zubaidi Khan Zuniest