Salamet Wahedi *
Jawa Pos, 6 Maret 2011
Dalam sejarah sastra Indonesia, pengarang yang menulis berbagai genre bisa dihitung dengan jari. Bahkan, kalau pun ada, itu hanya sekadar metamorfosa pencarian, atau pelarian di tengah kebosanan proses. Dengan kata lain, seorang pengarang selalu identik dengan satu genre. Misal Sutardji Calzoum Bahri, sefantastis apa pun dia menulis karya selain puisi, semisal cerpen, tetap dikatakan penyair yang menulis cerpen. Atau Sapardi Djoko Damono ketika menghadirkan kumpulan cerpen “Orang Gila”, tidak serta merta mendapatkan label cerpenis. Dia tetap diidentikkan dengan penyair yang melakukan petualangan estetika di negeri lain.
Lalu apa yang menyebabkan label cerpenis atau penyair tak bisa disandang sekaligus? Dalam realitasnya, ambillah Sapardi Djoko Damono, dalam membangun struktur karya prosanya (:cerpen) tak jauh beda dangan puisinya. Kekuatan cerita, yang semestinya menampilkan karakter tokoh, penokohan, plot, yang kuat untuk membedakannya dengan puisi, ternyata hanya menjadi unsur pendukung. Dengan kalimat lain, kekuatan cerita yang ditulis oleh para penyair, terletak pada nuansa, suasana, dan tema yang diusung.
Membaca 12 cerpen dalam “Aku jatuh cinta lagi pada istriku” karya Mardi Luhung, kurang lebih sama. Cerpen-cerpen yang ditulis dalam rentang 1994-2009 ini, terbangun atas dasar kesadaran seorang penyair. Bukan cerpenis. Dengan demikian, dapat didedahkan cerpen-cerpen dalam buku ini, cerita yang memiliki kekuatan pada realitas suasana, liris diksi dan gerak imaji tanpa konstruk alur. Sehingga, lahirlah cerita dengan tokoh-tokoh yang meracau, berpidato atau sesekali terpelanting oleh deraman bawah sadarnya. Atau dialog-dialog yang membanal pada ambang batas kesadaran estetika puitis. Atau suasana yang jungkir balik. Seperti yang ditunjukkannya pada narasi pembuka cerpen “Sore ini, Sepedaku Menabrak Dinding”, Sore ini sepedaku menabrak dinding. Tapi tak terguling. Terus menembus dan menggelinding. Menuju ke kedalaman laut. Di kedalaman itu sepedaku terus aku kayuh. Melewati moral, terumbu dan karang… (hal, 59).
Dunia yang dibangun Mardi, dunia meta-realitas. Kita disuguhi oleh panorama yang linear, berjalan lancar, tapi sungguh diluar logika. Meta-realitas ini semakin menemukan keunikannya ketika dipadukan dengan daya kritis. Aku, istriku dan kedua mertuaku serta orang-orang sekampung blingsatan. Dan yang lebih aneh, seperti punya mata, ke mana pun kami lari, tembok pabrik itu selalu mengejarnya. Jadinya, setiap hari dan setiap waktu kami selalu dikejari tembok pabrik itu. Sedang di atas sana, berdikit –dikit matahari menjauhi bumi sebab terus di sodok oleh ketinggian tembok pabrik.(hal. 15)
Di sinilah, kekuatan meta-realitas dan daya kritis mampu menghadirkan ruang-bangun cerita yang liar: memukau, sekaligus penuh magis. Jalinan suasana yang dibangun benar-benar menciptakan dunia keberadaan yang menawarkan ruang tafsir atas realitas di sekitarnya.
Lebih jauh, persoalan meta-realitas Mardi tak hanya sekadar menghadirkan dunia baru. Dunia yang penuh keliaran penghuninya. Di luar itu, Mardi juga melakukan dialog akan rentang waktu dan cinta. Ya, cinta, yang dalam perspketif kekinian dipahami sebagai dialog kau dan aku, ternyata juga mesti dipagami sebagai pergumulan dengan waktu. Mengenai cinta ini, Mardi menghadirkan beberapa pendangan cita-rasa yang menggugah dan penuh gairah. Pertama, cinta dan perjalanan waktu. Kebosanan, merupakan sesuatu yang tak terelakkan. Dia merupakan ancaman yang pasti dan menyakitkan. Bahkan tidak jarang, kebosanan membuat segalanya berubah. Sehingga perlu kiranya diupayakan eksplorasi dan permainan dunia imaji yang liar, untuk menghadirkan rasa cinta kembali pada istri, yang selama 20 tahun dinikmati tanpa sadar dan makna.
Kedua, cinta dan dinamika hidup. Beranjaknya usia dan pergeseran ragam budaya hidup, dengan serta merta menggeser cita rasa cinta. Istri yang sejak semula menyatakn setia, harus berkelit dan banyak menuntut di tengah gemerlapnya hidup. Dengan kata lain, cinta sudah seyogyanya diimbangi oleh kesadaran untuk mengutuhkan dan menyelaraskannya dengan tuntutan zaman.
Ketiga, cinta dan ego manusia yang membudak. Tak bisa dihindari, rasa yang mendalam serta keterjebakan naluri-jiwa, menyebabkan seseorang terjerembab pada kubangan ketakberdayaan. Demi seorang istri, kita pun mesti memainkan peran yang tak lazim: tukang cuci. Tapi apa boleh buat, kita mesti memerankannya, sambil sesekali menguak misteri lain dari dunia ketakberdayaan ini.
Kekuatan lain Mardi dalam menghadirkan dunia yang liar, cerita yang penuh cinta, adalah eksotisme tokoh-tokohnya dalam membawakan peran yang nakal. Bahkan, tidak jarang tokoh-tokoh itu mengerang, menerjang, dan sesekali berkecipak ria dengan dialog-dialog ringan nan menggelitik. “Begini, ibuku kan bukan priyayi. Dan sukanya pun keluyuran. Aduh, bagaimana jadinya, jika waktu keluyuran itu kakinya menginjak tai. Apa sorga tidak bau?’ (hal. 112).
Keliaran narasi, kesadaran akan rasa (:cinta), dan kenakalan yang kritis a la Mardi, tentunya merupakan warna baru dalam eksplorasi estetika. Dia tak hanya menjelma sebagai dunia yang mambang dengan dunia meta-realitasnya. Tapi sekaligus dunia yang berpusar di relung ruang kesadaran yang berlumut. Dengan simpulan yang belum usai, cerpen-cerpen “Aku jatuh Cinta lagi Pada istriku”, memberikan satu sugesti yang mengoyak emosi, memecah kebekuan imaji serta memainkan paradigma yang jumud.
Sehingga, sudah sepantasnya, buku “Aku Jatuh Cinta Lagi pada Istriku” menempati ruang apresiasi yang layak. Sebuah ruang untuk berdialog, berbagi dan sesekali bertegur sapa dalam kesadaran akan realitas yang nakal dan penuh cinta. Buku ini, sungguh menyajikan sesuatu yang segar. Yang liar. Yang mesti kita baca untuk mengungsikan setiap kengerian dan ketragisan hidup di tengah deru kemajuan dan pembangunan ini.
*) Salamet Wahedi, Lahir di Sumenep, 03 Mei 1984. Menulis puisi, cerpen, dan esai. Karya-karyanya pernah dipublikasikan di berbagai media, antara lain: Majalah Sastra Horison, Radar Madura, Suara Pembaruan, dan Batam Pos. Juga dalam beberapa antologi: Nemor Kara (antologi puisi Madura, Balai Bahasa Surabaya, 2006), Yaa-sin (antologi puisi santri Jawa Timur, Balai Bahasa Surabaya, 2007), dan lain-lain. Tinggal di di Lidah Wetan, Gang VI No. 24 Surabaya.
Dijumput dari: http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150174746217275
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Salamet Wahedi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Salamet Wahedi. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 15 Oktober 2011
Senin, 19 September 2011
Bulan Kertas
Salamet Wahedi *
tabloid Memo edisi 121
Di awal pagi yang cerah, Amoi termenung. Pak pos baru saja berlalu. Bayangan kemeja orangenya begitu lekat dalam ingatannya. Dari juru alamat inilah, Amoi menerima bungkusan-bungkusan mungil. Bungkusan kotak berukuran 20 cm persegi.
Di pagi yang cerah tak berkabut ini, kembali Amoi menerima bungkusan bersampul pink. Ini merupakan bungkusan kedua puluh yang diterimanya. Tapi sampai detik ini, pengirim kotak mungil itu, masih bersembunyi di kotak lain: kotak rahasia!
“Jangan pernah bertanya tentag aku”
Seperti kotak-kotak yang lalu, sepotong pesan singkat menghantar ketibaannya. Sepotong pesan yang akan begitu lekat dan mengikat ingatan Amoi. Seperti bulan kertas-bulan kertas yang lalu, Amoi meremasnya, lalu membuangnya di tong sampah depan pagar rumahnya. Dan berharap tukang sampah mengirimnya ke tempat paling jauh.
Dan seperti kejadian-kejadian yang lalu, setelah bertemu Pak pos, menerima kotak mungil, meremas bulan kertas, membaca pesan singkat dengan “cihh!”, dengan raut muka bergayut mendung, Amoi akan mendapati dinding rumahnya berkilauan: bulan kertas-bulan kertas bergelantungan di dinding kamar tidur, kamar mandi, kamar makan, dapur.
Di atas pintu, di atas meja, di atas ranjangnya, di bawah lampu kamar tamunya…
Di tengah kegelisahannya akan ketibaan bulan kertas, Amoi sering mencoba kembali membuka lipatan ingatannya akan potongan peristiwa demi peristiwa hidupnya. Amoi hanya menduga. Terus menduga: siapa pengirim bulan kertas itu? Amoi terus mengira: apa maksudmu, hei pengirim bulan kertas?
***
“Apa kabar cinta?”
Bulan-kertas pertama diterimanya di siang hari. Menerima bungkusan kecil berisi bulan kertas yang dihiasi namanya, Amoi hanya tersenyum kecut. Matanya tak menyiratkan akan sesuatu yang mengancamnya. Dalam hatinya, Amoi menghapus bintik penasarannya dengan tawa kecil sedikit kesal: dasar tak ada kerjaan...
“Cinta, aku berharap kejujuran sejarah, keiikhlasan waktu, serta ketulusan nasib mempertemukan kita”
Bulan kertas kesebelas diterimanya waktu Amoi di sekolah. Waktu itu, Amoi berkumpul dengan teman-temannya: Nini, Ninok, Dulkar, Tomen. Maka, seperti hujan di awal kemarau, menguarlah kabar bulan kertas. Tersiarlah kegelisahan Amoi.
Sejak itu, misteri bulan kertas menjadi bahan pembicaraan di antara orang-orang sekitar Amoi. Bahkan tidak bisa dipungkiri, kehadiran bulan kertas telah menimbulkan berbagai spekulasi dan warna percakapan beragam: kegelisahan di hati Amoi, kecemburuan di hati orang-orang yang menyimpan kasih-sayang untuknya, serta setitik kegembiraan di hati sang pengirim. Meski begitu, Amoi masih terbatas dalam berbagi kegelisahan, kegundahan serta kekesalannya akan bulan kertas pada teman-temannya. Ninok, teman seia-sekatanya, menyarankan untuk mengingat segala kejadian yang telah menjelma renik-renik kenangan.
“Semuanya berawal dari kita” kata Ninok dengan wajah penuh simpati. Wajah yang membuat Amoi tenang memandangnya. Lalu, dengan penuh tekanan empati Ninok melanjutkan “mungkin ada ucapan, tingkah lakumu yang mengundang semua ini?”
“Entahlah?” jawab Amoi pasrah. Lalu meluncurlah kata-katanya yang beterbangan seperti kapas. Mengalir laksana air dari puncak mata air. Berceritalah Amoi tentang kebiasaannya: “ambilkan aku bulan dan bintang” katanya pada setiap pangeran yang mencurahkan isi hatinya. Amoi pun tak mengira bahwa kata-katanya yang seringan udara memenuhi rongga dadanya, kini akan menjadi muasal badai jiwanya. Menjadi mata air kegundahannya.
***
“Bulan kertas ini sungguh indah Amoi” kata ibunya di suatu malam. Di ruang tamu. Amoi terkesiap. Bulan kertas keempat puluh satu, ternyata diterima ibunya. Hatinya pun makin berkecamuk. Apalagi mata ibunya menyiratkan ketulusan dan rasa suka yang dalam akan bulan kertas yang ditimangnya.
Di sini, Amoi tak kuasa untuk menahan gejolak perasaannya, membuka lipatan peristiwa demi peristiwa yang dijalaninya. Peristiwa yang telah merenik dalam alam bawah sadarnya. Peristiwa yang menandai usianya semakin lampau dan lanjut. Sorot mata ibunya, seolah-olah memintanya menemukan sosok yang bersembunyi di balik kota lain bulan kertas: sosok rahasia!
“Apa ini dari pacarmu Amoi?”
Amoi tersenyum gamang. Pertanyaan ibunya menggantung. Untuk menghilangkan berbagai rasa yang berkecamuk: gundah, gelisah, kesal dan …, Amoi mencoba merangkai cerita akan kebiasaan teman-temannya: saling berbagi hadiah!
“Tapi bulan kertas ini kulihat menghias kamarmu. Lemari riasmu, ranjang tidurmu, bahkan di kamar mandi pun, bulan-bulan kertas ini bergelantungan. Sungguh indah Amoi”
“Tapi Ibu…” Amoi hendak menepis bahwa bulan kertas itu tidak ada. Bulan kertas itu telah diremas dan dibuang ke tong sampah depan rumahnya. Tapi suaranya tersekat.
Kata-katanya beku. Bulan kertas-bulan kertas berwarna emas, tiba-tiba menyembul di dinding, di bawah gemeriap lampu 80 waat ruang tengah. Juga di setiap sudut rumahnya. Bulan kertas-bulan kertas itu terus menyembul. Bersinar. Bercahaya gilang-gemilang. Membuat matanya begitu silau. Matanya berkunang-kunang. Amoi pun kehilangan keseimbangan tubuhnya. Kesadarannya, ah entah di mana?
***
Pagi tersaji dengan rancak-ria. Burung menebar riang, terbang melanglang buana ke langit lepas. Matahari mengerling dengan sapuan cahaya murni. Seluruh panorama pagi ini, direguk habis oleh Amoi. Sejak kejadian malam itu. Kejadian Amoi tak sadarkan diri, seorang dokter menyarankan Amoi untuk istirahat total. Amoi disarankan untuk mengurangi dan menepis segala beban yang menggayutinya selama ini. Terutama beban pikiran.
Amoi, kini sejak kejadian itu, di bawah pengawasan keluarga, melepas hari-harinya dengan duduk di depan rumah. Menghitung orang-orang yang bergegas di kejar waktu. Diburu nafsu. Sambil sesekali membaca buku.
Lambat laun, rutinitinas yang berkisar di area yang begitu familiar di otaknya: kamar tidur, kamar mandi, ruang tamu, buku, nonton televise, membuat Amoi lebih cepat menemui kesuntukan. Amoi mudah tersinggung. Bahkan sikapnya yang ramah, penuh senyum dan dengan tutur yang halus, pun mulai pudar.
“Istirahatlah Moi. Bebaskan semua beban pikiranmu. Biar cepat sembuh! Biar cepat kembali ke sekolah” Ninok datang menjenguk di hari ke sepuluh Amoi menjadi ‘tahanan rumah’. Ini kali ketiga Ninok mencoba mengurangi penat dan beban Amoi.
“Tapi Nok, aku tidak kuat dengan semua ini. Apa salahku?” tangis Amoi tumpah. Ninok hanya menyambut kepala Amoi yang rebah di pangkuannya. Di tengah isaknya, Amoi mulai mengenangkan segala peristiwa yang selama ini menindih kepalanya. Peristiwa yang akan membuka kemungkinan pengirim bulan kertas yang masih bersembunyi di kotak hitam hidupnya.
Amoi mengawali ceritanya dengan pertemuannya dengan Andra. Pemuda tetangga desanya. Ia merupakan orang pertama yang menyatakan cintanya pada Amoi. Mereka bertemu pertama kali dalam acara festival musik tujuh belasan. Cerita cinta Amoi dengan Andra berakhir, tatkala Andra memutuskan memilih orang tuanya: Andra dijodohkan dengan saudara jauhnya!
Setelah Andra, berturut-turutlah beberapa nama: Kordos, Dedy, Rasyid, Encek. Yang semuanya seperti pelancong dalam dermaga cinta Amoi. Mereka datang hanya berbagi keluh kesah. Lalu menghilang tanpa jejak. Tanpa ingatan kapan akan memenuhi janji. Mungkin hanya Kordos yang pergi dengan sepenggal jejak: bulan itu akan kuraih!
Amoi pun patah arang. Hidup kini menjelma lautan yang hanya menjanjikan badai. Tak ada rasi bintang. Tak ada tepi. “Kita hanya perahu yang mesti memainkan diri seirama gelombang dan hembusan angin” batinnya.
Hidup telah mengajari Amoi untuk bermain. Menerima dan melepas segala sesuatu tanpa beban. Amoi mengisi hari-harinya dengan tetasan airmata. Sejarah yang bersijingkat seperti anak kecil.
Danto pun, yang datang dengan senampan ketulusan, hanya disambut dengan senyum dingin. Amoi telah terlanjur mematri kata-katanya: semua lelaki busuk! Begitu pun Danto. Di mata Amoi, lelaki, siapa pun dia, tetaplah pelancong yang hanya bisa melepas penat dan lelah. Lalu menghilang tanpa jejak. Tanpa alamat kepastian. Dan berulang Danto menepis mitos Amoi. Meyakinkan akan ketulusannya.
“Dulu seorang pangeran merayuku dengan bulan dan bintang. Apakah kau bisa mengambilkannya untukku?” mata Amoi begitu ceria dan jenaka menatap Danto. Danto hanya menanggapi dengan raut segar. Kerling retinanya tajam. Senyumnya menebar aura kesabaran. Ah Danto? Kau pun menghilang.
Hilangnya Danto pun seakan menjadi titik klimaks Amoi menerima laki-laki. Lelaki, baginya tak ubahnya para penumpang bis yang menunggu di peron. Para turis atau pesiar, yang sekadar singgah melepas lelah. Selebihnya mereka hanya meninggalkan jejak di pasir, hilang disisir ombak.
***
Semalam, sehabis tertidur dalam tangisnya, dalam pangkuan Ninok, Amoi bermimpi. Ia melihat seribu bulan mengitarinya. Berhias bintang-gemintang. Dan suara kidung mengalun lirih. Semacam erang kerinduan. Semacam bait-bait nawala yang menusuk ulu hati. Lalu dihadapannya terbentang taman. Penuh bunga warna-warni. Kupu-kupu menjadi isyarat kedamain dan kesyahduan taman. Dan yang paling melekat dalam benak Amoi: Kordos! Lelaki yang ditolaknya dengan penuh sarkasme. Bahkan mengingatnya pun, Amoi begitu jijik. “Iih, mending cari tema lain dech” cibir Amoi setiap teman-temannya memperbincangkan Kordos.
Tapi malam itu, di lubuk mimpi paling nanarnya, Amoi melihat Kordos bak peri turun dari langit. Kedua matanya berbinar. Cahaya retinanya sebening embun pagi. Dan kata-katanya terasa sejuk dan lembut menyapa Amoi, “Apa kabar Amoi?”. Amoi hanya menanggapi dengan raut muka tersapu malu. Yang paling membuat Amoi bergidik dan mengigau, Bulan emas yang diberikan Kordos. “Amoi, sayang aku bukan seorang pangeran, atau dewa atau… ah, aku hanya anak seorang petani”. Setelah memberikan bulan emas, tubuh Kordos menjelma asap. Menggulung. Lalu menghilang.
“Kordos...” Amoi tersentak.
Pagi ini, wajah Amoi sumringah. Di depannya segulung karton, gunting, spidol. Amoi membuat bulan kertas. Dan dengan sepotong pesan singkat bulan kertas itu digantungnya di atas pintu kamarnya: Datanglah wahai pengembara. Hatiku kini gubuk kecil teduhmu!
Suarabaya, Maret 2009
*) Salamet Wahedi, Lahir di Sumenep, 03 Mei 1984. Menulis puisi, cerpen, dan esai. Karya-karyanya pernah dipublikasikan di berbagai media, antara lain: Majalah Sastra Horison, Radar Madura, Suara Pembaruan, dan Batam Pos. Juga dalam beberapa antologi: Nemor Kara (antologi puisi Madura, Balai Bahasa Surabaya, 2006), Yaa-sin (antologi puisi santri Jawa Timur, Balai Bahasa Surabaya, 2007), dan lain-lain. Tinggal di di Lidah Wetan, Gang VI No. 24 Surabaya.
Dijumput dari: http://www.facebook.com/note.php?note_id=196366447274
tabloid Memo edisi 121
Di awal pagi yang cerah, Amoi termenung. Pak pos baru saja berlalu. Bayangan kemeja orangenya begitu lekat dalam ingatannya. Dari juru alamat inilah, Amoi menerima bungkusan-bungkusan mungil. Bungkusan kotak berukuran 20 cm persegi.
Di pagi yang cerah tak berkabut ini, kembali Amoi menerima bungkusan bersampul pink. Ini merupakan bungkusan kedua puluh yang diterimanya. Tapi sampai detik ini, pengirim kotak mungil itu, masih bersembunyi di kotak lain: kotak rahasia!
“Jangan pernah bertanya tentag aku”
Seperti kotak-kotak yang lalu, sepotong pesan singkat menghantar ketibaannya. Sepotong pesan yang akan begitu lekat dan mengikat ingatan Amoi. Seperti bulan kertas-bulan kertas yang lalu, Amoi meremasnya, lalu membuangnya di tong sampah depan pagar rumahnya. Dan berharap tukang sampah mengirimnya ke tempat paling jauh.
Dan seperti kejadian-kejadian yang lalu, setelah bertemu Pak pos, menerima kotak mungil, meremas bulan kertas, membaca pesan singkat dengan “cihh!”, dengan raut muka bergayut mendung, Amoi akan mendapati dinding rumahnya berkilauan: bulan kertas-bulan kertas bergelantungan di dinding kamar tidur, kamar mandi, kamar makan, dapur.
Di atas pintu, di atas meja, di atas ranjangnya, di bawah lampu kamar tamunya…
Di tengah kegelisahannya akan ketibaan bulan kertas, Amoi sering mencoba kembali membuka lipatan ingatannya akan potongan peristiwa demi peristiwa hidupnya. Amoi hanya menduga. Terus menduga: siapa pengirim bulan kertas itu? Amoi terus mengira: apa maksudmu, hei pengirim bulan kertas?
***
“Apa kabar cinta?”
Bulan-kertas pertama diterimanya di siang hari. Menerima bungkusan kecil berisi bulan kertas yang dihiasi namanya, Amoi hanya tersenyum kecut. Matanya tak menyiratkan akan sesuatu yang mengancamnya. Dalam hatinya, Amoi menghapus bintik penasarannya dengan tawa kecil sedikit kesal: dasar tak ada kerjaan...
“Cinta, aku berharap kejujuran sejarah, keiikhlasan waktu, serta ketulusan nasib mempertemukan kita”
Bulan kertas kesebelas diterimanya waktu Amoi di sekolah. Waktu itu, Amoi berkumpul dengan teman-temannya: Nini, Ninok, Dulkar, Tomen. Maka, seperti hujan di awal kemarau, menguarlah kabar bulan kertas. Tersiarlah kegelisahan Amoi.
Sejak itu, misteri bulan kertas menjadi bahan pembicaraan di antara orang-orang sekitar Amoi. Bahkan tidak bisa dipungkiri, kehadiran bulan kertas telah menimbulkan berbagai spekulasi dan warna percakapan beragam: kegelisahan di hati Amoi, kecemburuan di hati orang-orang yang menyimpan kasih-sayang untuknya, serta setitik kegembiraan di hati sang pengirim. Meski begitu, Amoi masih terbatas dalam berbagi kegelisahan, kegundahan serta kekesalannya akan bulan kertas pada teman-temannya. Ninok, teman seia-sekatanya, menyarankan untuk mengingat segala kejadian yang telah menjelma renik-renik kenangan.
“Semuanya berawal dari kita” kata Ninok dengan wajah penuh simpati. Wajah yang membuat Amoi tenang memandangnya. Lalu, dengan penuh tekanan empati Ninok melanjutkan “mungkin ada ucapan, tingkah lakumu yang mengundang semua ini?”
“Entahlah?” jawab Amoi pasrah. Lalu meluncurlah kata-katanya yang beterbangan seperti kapas. Mengalir laksana air dari puncak mata air. Berceritalah Amoi tentang kebiasaannya: “ambilkan aku bulan dan bintang” katanya pada setiap pangeran yang mencurahkan isi hatinya. Amoi pun tak mengira bahwa kata-katanya yang seringan udara memenuhi rongga dadanya, kini akan menjadi muasal badai jiwanya. Menjadi mata air kegundahannya.
***
“Bulan kertas ini sungguh indah Amoi” kata ibunya di suatu malam. Di ruang tamu. Amoi terkesiap. Bulan kertas keempat puluh satu, ternyata diterima ibunya. Hatinya pun makin berkecamuk. Apalagi mata ibunya menyiratkan ketulusan dan rasa suka yang dalam akan bulan kertas yang ditimangnya.
Di sini, Amoi tak kuasa untuk menahan gejolak perasaannya, membuka lipatan peristiwa demi peristiwa yang dijalaninya. Peristiwa yang telah merenik dalam alam bawah sadarnya. Peristiwa yang menandai usianya semakin lampau dan lanjut. Sorot mata ibunya, seolah-olah memintanya menemukan sosok yang bersembunyi di balik kota lain bulan kertas: sosok rahasia!
“Apa ini dari pacarmu Amoi?”
Amoi tersenyum gamang. Pertanyaan ibunya menggantung. Untuk menghilangkan berbagai rasa yang berkecamuk: gundah, gelisah, kesal dan …, Amoi mencoba merangkai cerita akan kebiasaan teman-temannya: saling berbagi hadiah!
“Tapi bulan kertas ini kulihat menghias kamarmu. Lemari riasmu, ranjang tidurmu, bahkan di kamar mandi pun, bulan-bulan kertas ini bergelantungan. Sungguh indah Amoi”
“Tapi Ibu…” Amoi hendak menepis bahwa bulan kertas itu tidak ada. Bulan kertas itu telah diremas dan dibuang ke tong sampah depan rumahnya. Tapi suaranya tersekat.
Kata-katanya beku. Bulan kertas-bulan kertas berwarna emas, tiba-tiba menyembul di dinding, di bawah gemeriap lampu 80 waat ruang tengah. Juga di setiap sudut rumahnya. Bulan kertas-bulan kertas itu terus menyembul. Bersinar. Bercahaya gilang-gemilang. Membuat matanya begitu silau. Matanya berkunang-kunang. Amoi pun kehilangan keseimbangan tubuhnya. Kesadarannya, ah entah di mana?
***
Pagi tersaji dengan rancak-ria. Burung menebar riang, terbang melanglang buana ke langit lepas. Matahari mengerling dengan sapuan cahaya murni. Seluruh panorama pagi ini, direguk habis oleh Amoi. Sejak kejadian malam itu. Kejadian Amoi tak sadarkan diri, seorang dokter menyarankan Amoi untuk istirahat total. Amoi disarankan untuk mengurangi dan menepis segala beban yang menggayutinya selama ini. Terutama beban pikiran.
Amoi, kini sejak kejadian itu, di bawah pengawasan keluarga, melepas hari-harinya dengan duduk di depan rumah. Menghitung orang-orang yang bergegas di kejar waktu. Diburu nafsu. Sambil sesekali membaca buku.
Lambat laun, rutinitinas yang berkisar di area yang begitu familiar di otaknya: kamar tidur, kamar mandi, ruang tamu, buku, nonton televise, membuat Amoi lebih cepat menemui kesuntukan. Amoi mudah tersinggung. Bahkan sikapnya yang ramah, penuh senyum dan dengan tutur yang halus, pun mulai pudar.
“Istirahatlah Moi. Bebaskan semua beban pikiranmu. Biar cepat sembuh! Biar cepat kembali ke sekolah” Ninok datang menjenguk di hari ke sepuluh Amoi menjadi ‘tahanan rumah’. Ini kali ketiga Ninok mencoba mengurangi penat dan beban Amoi.
“Tapi Nok, aku tidak kuat dengan semua ini. Apa salahku?” tangis Amoi tumpah. Ninok hanya menyambut kepala Amoi yang rebah di pangkuannya. Di tengah isaknya, Amoi mulai mengenangkan segala peristiwa yang selama ini menindih kepalanya. Peristiwa yang akan membuka kemungkinan pengirim bulan kertas yang masih bersembunyi di kotak hitam hidupnya.
Amoi mengawali ceritanya dengan pertemuannya dengan Andra. Pemuda tetangga desanya. Ia merupakan orang pertama yang menyatakan cintanya pada Amoi. Mereka bertemu pertama kali dalam acara festival musik tujuh belasan. Cerita cinta Amoi dengan Andra berakhir, tatkala Andra memutuskan memilih orang tuanya: Andra dijodohkan dengan saudara jauhnya!
Setelah Andra, berturut-turutlah beberapa nama: Kordos, Dedy, Rasyid, Encek. Yang semuanya seperti pelancong dalam dermaga cinta Amoi. Mereka datang hanya berbagi keluh kesah. Lalu menghilang tanpa jejak. Tanpa ingatan kapan akan memenuhi janji. Mungkin hanya Kordos yang pergi dengan sepenggal jejak: bulan itu akan kuraih!
Amoi pun patah arang. Hidup kini menjelma lautan yang hanya menjanjikan badai. Tak ada rasi bintang. Tak ada tepi. “Kita hanya perahu yang mesti memainkan diri seirama gelombang dan hembusan angin” batinnya.
Hidup telah mengajari Amoi untuk bermain. Menerima dan melepas segala sesuatu tanpa beban. Amoi mengisi hari-harinya dengan tetasan airmata. Sejarah yang bersijingkat seperti anak kecil.
Danto pun, yang datang dengan senampan ketulusan, hanya disambut dengan senyum dingin. Amoi telah terlanjur mematri kata-katanya: semua lelaki busuk! Begitu pun Danto. Di mata Amoi, lelaki, siapa pun dia, tetaplah pelancong yang hanya bisa melepas penat dan lelah. Lalu menghilang tanpa jejak. Tanpa alamat kepastian. Dan berulang Danto menepis mitos Amoi. Meyakinkan akan ketulusannya.
“Dulu seorang pangeran merayuku dengan bulan dan bintang. Apakah kau bisa mengambilkannya untukku?” mata Amoi begitu ceria dan jenaka menatap Danto. Danto hanya menanggapi dengan raut segar. Kerling retinanya tajam. Senyumnya menebar aura kesabaran. Ah Danto? Kau pun menghilang.
Hilangnya Danto pun seakan menjadi titik klimaks Amoi menerima laki-laki. Lelaki, baginya tak ubahnya para penumpang bis yang menunggu di peron. Para turis atau pesiar, yang sekadar singgah melepas lelah. Selebihnya mereka hanya meninggalkan jejak di pasir, hilang disisir ombak.
***
Semalam, sehabis tertidur dalam tangisnya, dalam pangkuan Ninok, Amoi bermimpi. Ia melihat seribu bulan mengitarinya. Berhias bintang-gemintang. Dan suara kidung mengalun lirih. Semacam erang kerinduan. Semacam bait-bait nawala yang menusuk ulu hati. Lalu dihadapannya terbentang taman. Penuh bunga warna-warni. Kupu-kupu menjadi isyarat kedamain dan kesyahduan taman. Dan yang paling melekat dalam benak Amoi: Kordos! Lelaki yang ditolaknya dengan penuh sarkasme. Bahkan mengingatnya pun, Amoi begitu jijik. “Iih, mending cari tema lain dech” cibir Amoi setiap teman-temannya memperbincangkan Kordos.
Tapi malam itu, di lubuk mimpi paling nanarnya, Amoi melihat Kordos bak peri turun dari langit. Kedua matanya berbinar. Cahaya retinanya sebening embun pagi. Dan kata-katanya terasa sejuk dan lembut menyapa Amoi, “Apa kabar Amoi?”. Amoi hanya menanggapi dengan raut muka tersapu malu. Yang paling membuat Amoi bergidik dan mengigau, Bulan emas yang diberikan Kordos. “Amoi, sayang aku bukan seorang pangeran, atau dewa atau… ah, aku hanya anak seorang petani”. Setelah memberikan bulan emas, tubuh Kordos menjelma asap. Menggulung. Lalu menghilang.
“Kordos...” Amoi tersentak.
Pagi ini, wajah Amoi sumringah. Di depannya segulung karton, gunting, spidol. Amoi membuat bulan kertas. Dan dengan sepotong pesan singkat bulan kertas itu digantungnya di atas pintu kamarnya: Datanglah wahai pengembara. Hatiku kini gubuk kecil teduhmu!
Suarabaya, Maret 2009
*) Salamet Wahedi, Lahir di Sumenep, 03 Mei 1984. Menulis puisi, cerpen, dan esai. Karya-karyanya pernah dipublikasikan di berbagai media, antara lain: Majalah Sastra Horison, Radar Madura, Suara Pembaruan, dan Batam Pos. Juga dalam beberapa antologi: Nemor Kara (antologi puisi Madura, Balai Bahasa Surabaya, 2006), Yaa-sin (antologi puisi santri Jawa Timur, Balai Bahasa Surabaya, 2007), dan lain-lain. Tinggal di di Lidah Wetan, Gang VI No. 24 Surabaya.
Dijumput dari: http://www.facebook.com/note.php?note_id=196366447274
Langganan:
Postingan (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Ginandjar Wiludjeng
A. Junianto
A. Kurnia
A. Qorib Hidayatullah
A. Yusrianto Elga
A.S Laksana
A’yat Khalili
Aang Fatihul Islam
Abdul Azis Sukarno
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi WM
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Malik
Abdul Razak
Abdul Rosyid
Abdul Wahab
Abdurrahman Wahid
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adam Chiefni
Ade P. Nasution
Adhitia Armitriant
Adi Prasetyo
Adrizas
AF. Tuasikal
Afriza Hanifa
Afrizal Malna
Agama Para Bajingan
Agnes Rita Sulistyawaty
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Buchori
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahmad Baso
Ahmad Faishal
Ahmad Fatoni
Ahmad Hasan MS
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Khotim Muzakka
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Naufel
Ahmad Rofiq
Ahmad S. Zahari
Ahmad Syauqi Sumbawi
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ahsanu Nadia
Aini Aviena Violeta
Ainul Fiah
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sekhu
Akhmad Sofyan Hadi
Akhmad Taufiq
Akhudiat
Akmal Nasery Basral
Alam Terkembang
Alang Khoiruddin
Alex R. Nainggolan
Alfian Dippahatang
Ali Audah
Ali Mahmudi CH
Ali Rif’an
Almania Rohmah
Ami Herman
Amien Wangsitalaja
Aminah
Aminullah HA.Noor
Amir Sutaarga
Anam Rahus
Anata Siregar
Andari Karina Anom
Andina Dwifatma
Andong Buku #3
Andre Mediansyah
Andri Awan
Anett Tapai
Anggie Melianna
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anjrah Lelono Broto
Anton Bae
Anton Kurnia
Anton Wahyudi
Anwar Nuris
Ardi Bramantyo
Ardus M Sawega
Arie MP Tamba
Arie Yani
Arief Joko Wicaksono
Arief Junianto
Ariera
Arif Bagus Prasetyo
Aris Kurniawan
Arman A.Z.
Arswendo Atmowiloto
Arti Bumi Intaran
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Asmaul Fauziyah
Asti Musman
Atafras
Awalludin GD Mualif
Ayu Wulan Sari
Aziz Abdul Gofar
Azizah Hefni
Bagus Takwin
Bahrul Ulum A. Malik
Balada
Bale Aksara
Balok Sf
Bambang Kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Beni Setia
Benny Arnas
Benny Benke
Beno Siang Pamungkas
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita
Berita Duka
Berita Koran
Bernando J Sujibto
Berthold Damshauser
BI Purwantari
Binhad Nurrohmat
Bobby Gunawan
Bonari Nabonenar
Brunel University London
Budaya
Budi Darma
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Burhanuddin Bella
Camelia Mafaza
Catatan
Cerbung
Cerpen
Chairul Akhmad
Chamim Kohari
Chavchay Syaifullah
Cover Buku
Cucuk Espe
D. Zaini Ahmad
D. Zawawi Imron
Dadang Ari Murtono
Dahta Gautama
Daisuke Miyoshi
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Danusantoso
Dareen Tatour
Darju Prasetya
David Kuncara
Denny Mizhar
Denza Perdana
Desi Sommalia Gustina
Desiana Medya A.L
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dewi Indah Sari
Dewi Susme
Dian Sukarno
Didik Harianto
Didik Kusbiantoro
Dina Jerphanion
Dina Oktaviani
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur
Dipo Handoko
Diyah Errita Damayanti
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Doddy Wisnu Pribadi
Dody Kristianto
Dody Yan Masfa
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dorothea Rosa Herliany
Dr Junaidi SS MHum
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi Wiyana
Dyah Ratna Meta Novia
Dyah Sulistyorini
Ecep Heryadi
Eddy Pranata PNP
Edeng Syamsul Ma’arif
Eep Saefulloh Fatah
EH Kartanegara
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Hendrawan Sofyan
Eko Hendri Saiful
Eko Windarto
Elnisya Mahendra
Elva Lestary
Emha Ainun Nadjib
Emil WE
Endah Sulwesi
Endo Suanda
Eppril Wulaningtyas R
Esai
Evan Ys
F. Moses
F. Rahardi
Fadlillah Malin Sutan
Fahmi Faqih
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Kurnianto
Fanani Rahman
Fanny Chotimah
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Febby Fortinella Rusmoyo
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Gabriel Garcia Marquez
Galang Ari P.
Galuh Tulus Utama
Gampang Prawoto
Gandra Gupta
Ganug Nugroho Adi
Gerson Poyk
Ghassan Kanafani
Gita Nuari
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gunoto Saparie
H.B. Jassin
Habibullah
Hadi Napster
Hadriani Pudjiarti
Halim HD
Halimi Zuhdy
Hamberan Syahbana
Han Gagas
Hanibal W. Y. Wijayanta
Hardi
Haris del Hakim
Haris Saputra
Harri Ash Shiddiqie
Hartono Harimurti
Hary B Kori’un
Hasan Aspahani
Hasan Junus
Hasif Amini
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
HE. Benyamine
Hendra Junaedi
Hendra Makmur
Heri CS
Heri Latief
Heri Listianto
Herman RN
Herry Lamongan
Heru CN
Heru Nugroho
Hikmat Gumelar
HL Renjis Magalah
Hudan Nur
Hujuala Rika Ayu
Huminca Sinaga
IBM. Dharma Palguna
Ibnu Wahyudi
Ida Farida
Idris Pasaribu
Ignas Kleden
Ignatius Haryanto
Iksan Basoeky
Ilham Khoiri
Imam Cahyono
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indiar Manggara
Indra Intisa
Indra Tjahyadi
Indra Tranggono
Indrian Koto
Ira Puspitaningsih
Irfan Budiman
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Iskandar Zulkarnain
Ismail Marzuki
Iva Titin Shovia
Iwan Kurniawan
Jabbar Abdullah
Jafar Fakhrurozi
Jalan Raya Simo Sungelebak
Jamal D. Rahman
Jamal T. Suryanata
Javed Paul Syatha
Jayaning S.A
JILFest 2008
Jody Setiawan
Johan Edy Raharjo
Johannes Sugianto
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Jual Buku
Jual Buku Paket Hemat
Juan Kromen
Julika Hasanah
Jurnalisme Sastrawi
Jusuf AN
Juwairiyah Mawardy
Ka’bati
Karanggeneng
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Keith Foulcher
Kemah Budaya Panturan (KBP)
Khansa Arifah Adila
Khoirul Inayah
Khoirul Rosyadi
Khudori Husnan
Ki Ompong Sudarsono
Kirana Kejora
Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Sastra Ilalang Indonesia
Korrie Layun Rampan
Kostela
Kritik Sastra
Kukuh S Wibowo
Kurnia Effendi
Kurniawan
Kuswaidi Syafi'ie
L.N. Idayanie
Laili Rahmawati
Lamongan
Lan Fang
Langgeng Widodo
Lathifa Akmaliyah
Leila S. Chudori
Lely Yuana
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Liestyo Ambarwati Khohar
Lina Kelana
Linda Sarmili
Liza Wahyuninto
Lucia Idayanie
Lukman A Sya
Lutfiah
Lynglieastrid Isabellita
M Arman AZ
M Ismail
M Thobroni
M. Afifuddin
M. Arwan Hamidi
M. Lukluk Atsmara Anjaina
M. Lutfi
M. Luthfi Aziz
M. Nurdin
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.S. Nugroho
Mahendra Cipta
Mahmud Jauhari Ali
Mahmud Syaltut Usfa
Mahmudi Arif Dahlan
Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Martin Aleida
Maruli Tobing
Mas Ruscita
Mashuri
Masuki M. Astro
Matroni
Matroni Muserang
Media: Crayon on Paper
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
MG. Sungatno
Mh Zaelani Tammaka
Mia Arista
Mia El Zahra
Mikael Johani
Misbahus Surur
Misran
Mohamad Ali Hisyam
Mohammad Eri Irawan
Much. Khoiri
Muh. Muhlisin
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Aris
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Rain
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun
Muhammadun AS
Muhidin M Dahlan
Mujtahid
Mujtahidin Billah
Mukti Sutarman Espe
Mulyadi SA
Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik
Munawir Aziz
Musfarayani
Musfi Efrizal
Nafisatul Husniah
Nandang Darana
Naskah Teater
Nelson Alwi
Ni Made Purnamasari
Nikmatus Sholikhah
Nina Herlina Lubis
Nina Susilo
Ning Elia
Noor H. Dee
Noval Jubbek
Novel-novel berbahasa Jawa
Novelet
Nunuy Nurhayati
Nur Azizah
Nur Hamzah
Nur Kholiq
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nurul Aini
Nurul Anam
Nurul Komariyah
Nuryana Asmaudi SA
Nyoman Tusthi Eddy
Obrolan
Okty Budiati
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Otto Sukatno CR
Oyos Saroso H.N.
Pagan Press
Pagelaran Musim Tandur
Palupi Panca Astuti
Parimono V / 40 Plandi Jombang
Pawang Surya Kencana
PDS H.B. Jassin
Petrus Nandi
Politik
Politik Sastra
Pradana Boy ZTF
Pramoedya Ananta Toer
Pramono
Pringadi AS
Prof Dr Fabiola D. Kurnia
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Puji Tyasari
Puput Amiranti N
Purnawan Andra
Purnawan Kristanto
Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin
Pustaka Ilalang Group
PUstaka puJAngga
Putu Wijaya
Qaris Tajudin
R. Ng. Ronggowarsito
Rachmad Djoko Pradopo
Radhar Panca Dahana
Rahmat Kemat Hidayatullah
Rahmat Sularso Nh
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rasanrasan Boengaketji
Raudal Tanjung Banua
Redland Movie
Reiny Dwinanda
Resensi
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Riki Dhamparan Putra
Riki Utomi
Ririe Rengganis
Risang Anom Pujayanto
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Roso Titi Sarkoro
Rozi Kembara
Rukardi
Rumah Budaya Pantura (RBP)
Rusmanadi
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Saiful Amin Ghofur
Saiful Anam
Sainul Hermawan
Sajak
Salamet Wahedi
Salman S. Yoga
Samsudin Adlawi
Samsul Anam
Sanggar Lukis Alam
Sanggar Pasir
Sanggar Rumah Ilalang KSII
Santi Puji Rahayu
Sapardi Djoko Damono
Saroni Asikin
Sartika Dian Nuraini
Sastra dan Kuasa Simbolik
Sastra Jawa Timur
Satmoko Budi Santoso
Saut Situmorang
Sayyid Fahmi Alathas
SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang
SelaSastra Boenga Ketjil
SelaSastra Boenga Ketjil #33
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Setia Naka Andrian
Shiny.ane el’poesya
Sholihul Huda
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sinopsis
Siti Khoeriyah
Siti Muyassarotul Hafidzoh
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputra
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Soegiharto
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sosiawan Leak
Spectrum Center Press
Sri Weni
Sri Wintala Achmad
Suci Ayu Latifah
Sucipto Hadi Purnomo
Sudirman
Sugi Lanus
Sukron Ma’mun
Sulaiman Djaya
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sungging Raga
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Supriyadi
Surya Lesmana
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Suyanto
Syaf Anton Wr
Syaifuddin Gani
Syaiful Amin
Syarif Wadja Bae
Sylvianita Widyawati
TanahmeraH ArtSpace
Tarmuzie (1961-2019)
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Presetyo
Teguh Setiawan
Teguh Winarsho AS
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Tia Setiadi
Tirto Suwondo
Tita Tjindarbumi
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan
Tosa Poetra
Tri Nurdianingsih
Triyanto Triwikromo
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Tulus S
Ulul Azmiyati
Umar Fauzi
Umar Fauzi Ballah
Umar Kayam
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Universitas Jember
Usman Arrumy
Utari Tri Prestianti
Viddy AD Daery
Virdika Rizky Utama
W Haryanto
W.S. Rendra
Wahyu Prasetya
Wan Anwar
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wina Bojonegoro
Wita Lestari
Wong Wing King
Wowok Hesti Prabowo
Xu Xi (Sussy Komala)
Y. Thendra BP
Y. Wibowo
Yanusa Nugroho
Yasraf Amir Piliang
Yayat R. Cipasang
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yopi Setia Umbara
Yudhi Herwibowo
Yudi Latif
Yusri Fajar
Yusuf Ariel Hakim
Yuval Noah Harari
Zacky Khairul Uman
Zainuddin Sugendal
Zamakhsyari Abrar
Zawawi Se
Zed Abidien
Zehan Zareez
Zhaenal Fanani
Zubaidi Khan
Zuniest