Senin, 19 September 2011

Bulan Kertas

Salamet Wahedi *
tabloid Memo edisi 121

Di awal pagi yang cerah, Amoi termenung. Pak pos baru saja berlalu. Bayangan kemeja orangenya begitu lekat dalam ingatannya. Dari juru alamat inilah, Amoi menerima bungkusan-bungkusan mungil. Bungkusan kotak berukuran 20 cm persegi.

Di pagi yang cerah tak berkabut ini, kembali Amoi menerima bungkusan bersampul pink. Ini merupakan bungkusan kedua puluh yang diterimanya. Tapi sampai detik ini, pengirim kotak mungil itu, masih bersembunyi di kotak lain: kotak rahasia!
“Jangan pernah bertanya tentag aku”

Seperti kotak-kotak yang lalu, sepotong pesan singkat menghantar ketibaannya. Sepotong pesan yang akan begitu lekat dan mengikat ingatan Amoi. Seperti bulan kertas-bulan kertas yang lalu, Amoi meremasnya, lalu membuangnya di tong sampah depan pagar rumahnya. Dan berharap tukang sampah mengirimnya ke tempat paling jauh.

Dan seperti kejadian-kejadian yang lalu, setelah bertemu Pak pos, menerima kotak mungil, meremas bulan kertas, membaca pesan singkat dengan “cihh!”, dengan raut muka bergayut mendung, Amoi akan mendapati dinding rumahnya berkilauan: bulan kertas-bulan kertas bergelantungan di dinding kamar tidur, kamar mandi, kamar makan, dapur.

Di atas pintu, di atas meja, di atas ranjangnya, di bawah lampu kamar tamunya…
Di tengah kegelisahannya akan ketibaan bulan kertas, Amoi sering mencoba kembali membuka lipatan ingatannya akan potongan peristiwa demi peristiwa hidupnya. Amoi hanya menduga. Terus menduga: siapa pengirim bulan kertas itu? Amoi terus mengira: apa maksudmu, hei pengirim bulan kertas?
***

“Apa kabar cinta?”
Bulan-kertas pertama diterimanya di siang hari. Menerima bungkusan kecil berisi bulan kertas yang dihiasi namanya, Amoi hanya tersenyum kecut. Matanya tak menyiratkan akan sesuatu yang mengancamnya. Dalam hatinya, Amoi menghapus bintik penasarannya dengan tawa kecil sedikit kesal: dasar tak ada kerjaan...

“Cinta, aku berharap kejujuran sejarah, keiikhlasan waktu, serta ketulusan nasib mempertemukan kita”

Bulan kertas kesebelas diterimanya waktu Amoi di sekolah. Waktu itu, Amoi berkumpul dengan teman-temannya: Nini, Ninok, Dulkar, Tomen. Maka, seperti hujan di awal kemarau, menguarlah kabar bulan kertas. Tersiarlah kegelisahan Amoi.

Sejak itu, misteri bulan kertas menjadi bahan pembicaraan di antara orang-orang sekitar Amoi. Bahkan tidak bisa dipungkiri, kehadiran bulan kertas telah menimbulkan berbagai spekulasi dan warna percakapan beragam: kegelisahan di hati Amoi, kecemburuan di hati orang-orang yang menyimpan kasih-sayang untuknya, serta setitik kegembiraan di hati sang pengirim. Meski begitu, Amoi masih terbatas dalam berbagi kegelisahan, kegundahan serta kekesalannya akan bulan kertas pada teman-temannya. Ninok, teman seia-sekatanya, menyarankan untuk mengingat segala kejadian yang telah menjelma renik-renik kenangan.

“Semuanya berawal dari kita” kata Ninok dengan wajah penuh simpati. Wajah yang membuat Amoi tenang memandangnya. Lalu, dengan penuh tekanan empati Ninok melanjutkan “mungkin ada ucapan, tingkah lakumu yang mengundang semua ini?”

“Entahlah?” jawab Amoi pasrah. Lalu meluncurlah kata-katanya yang beterbangan seperti kapas. Mengalir laksana air dari puncak mata air. Berceritalah Amoi tentang kebiasaannya: “ambilkan aku bulan dan bintang” katanya pada setiap pangeran yang mencurahkan isi hatinya. Amoi pun tak mengira bahwa kata-katanya yang seringan udara memenuhi rongga dadanya, kini akan menjadi muasal badai jiwanya. Menjadi mata air kegundahannya.
***

“Bulan kertas ini sungguh indah Amoi” kata ibunya di suatu malam. Di ruang tamu. Amoi terkesiap. Bulan kertas keempat puluh satu, ternyata diterima ibunya. Hatinya pun makin berkecamuk. Apalagi mata ibunya menyiratkan ketulusan dan rasa suka yang dalam akan bulan kertas yang ditimangnya.

Di sini, Amoi tak kuasa untuk menahan gejolak perasaannya, membuka lipatan peristiwa demi peristiwa yang dijalaninya. Peristiwa yang telah merenik dalam alam bawah sadarnya. Peristiwa yang menandai usianya semakin lampau dan lanjut. Sorot mata ibunya, seolah-olah memintanya menemukan sosok yang bersembunyi di balik kota lain bulan kertas: sosok rahasia!
“Apa ini dari pacarmu Amoi?”

Amoi tersenyum gamang. Pertanyaan ibunya menggantung. Untuk menghilangkan berbagai rasa yang berkecamuk: gundah, gelisah, kesal dan …, Amoi mencoba merangkai cerita akan kebiasaan teman-temannya: saling berbagi hadiah!

“Tapi bulan kertas ini kulihat menghias kamarmu. Lemari riasmu, ranjang tidurmu, bahkan di kamar mandi pun, bulan-bulan kertas ini bergelantungan. Sungguh indah Amoi”
“Tapi Ibu…” Amoi hendak menepis bahwa bulan kertas itu tidak ada. Bulan kertas itu telah diremas dan dibuang ke tong sampah depan rumahnya. Tapi suaranya tersekat.

Kata-katanya beku. Bulan kertas-bulan kertas berwarna emas, tiba-tiba menyembul di dinding, di bawah gemeriap lampu 80 waat ruang tengah. Juga di setiap sudut rumahnya. Bulan kertas-bulan kertas itu terus menyembul. Bersinar. Bercahaya gilang-gemilang. Membuat matanya begitu silau. Matanya berkunang-kunang. Amoi pun kehilangan keseimbangan tubuhnya. Kesadarannya, ah entah di mana?
***

Pagi tersaji dengan rancak-ria. Burung menebar riang, terbang melanglang buana ke langit lepas. Matahari mengerling dengan sapuan cahaya murni. Seluruh panorama pagi ini, direguk habis oleh Amoi. Sejak kejadian malam itu. Kejadian Amoi tak sadarkan diri, seorang dokter menyarankan Amoi untuk istirahat total. Amoi disarankan untuk mengurangi dan menepis segala beban yang menggayutinya selama ini. Terutama beban pikiran.

Amoi, kini sejak kejadian itu, di bawah pengawasan keluarga, melepas hari-harinya dengan duduk di depan rumah. Menghitung orang-orang yang bergegas di kejar waktu. Diburu nafsu. Sambil sesekali membaca buku.

Lambat laun, rutinitinas yang berkisar di area yang begitu familiar di otaknya: kamar tidur, kamar mandi, ruang tamu, buku, nonton televise, membuat Amoi lebih cepat menemui kesuntukan. Amoi mudah tersinggung. Bahkan sikapnya yang ramah, penuh senyum dan dengan tutur yang halus, pun mulai pudar.

“Istirahatlah Moi. Bebaskan semua beban pikiranmu. Biar cepat sembuh! Biar cepat kembali ke sekolah” Ninok datang menjenguk di hari ke sepuluh Amoi menjadi ‘tahanan rumah’. Ini kali ketiga Ninok mencoba mengurangi penat dan beban Amoi.

“Tapi Nok, aku tidak kuat dengan semua ini. Apa salahku?” tangis Amoi tumpah. Ninok hanya menyambut kepala Amoi yang rebah di pangkuannya. Di tengah isaknya, Amoi mulai mengenangkan segala peristiwa yang selama ini menindih kepalanya. Peristiwa yang akan membuka kemungkinan pengirim bulan kertas yang masih bersembunyi di kotak hitam hidupnya.

Amoi mengawali ceritanya dengan pertemuannya dengan Andra. Pemuda tetangga desanya. Ia merupakan orang pertama yang menyatakan cintanya pada Amoi. Mereka bertemu pertama kali dalam acara festival musik tujuh belasan. Cerita cinta Amoi dengan Andra berakhir, tatkala Andra memutuskan memilih orang tuanya: Andra dijodohkan dengan saudara jauhnya!

Setelah Andra, berturut-turutlah beberapa nama: Kordos, Dedy, Rasyid, Encek. Yang semuanya seperti pelancong dalam dermaga cinta Amoi. Mereka datang hanya berbagi keluh kesah. Lalu menghilang tanpa jejak. Tanpa ingatan kapan akan memenuhi janji. Mungkin hanya Kordos yang pergi dengan sepenggal jejak: bulan itu akan kuraih!

Amoi pun patah arang. Hidup kini menjelma lautan yang hanya menjanjikan badai. Tak ada rasi bintang. Tak ada tepi. “Kita hanya perahu yang mesti memainkan diri seirama gelombang dan hembusan angin” batinnya.

Hidup telah mengajari Amoi untuk bermain. Menerima dan melepas segala sesuatu tanpa beban. Amoi mengisi hari-harinya dengan tetasan airmata. Sejarah yang bersijingkat seperti anak kecil.

Danto pun, yang datang dengan senampan ketulusan, hanya disambut dengan senyum dingin. Amoi telah terlanjur mematri kata-katanya: semua lelaki busuk! Begitu pun Danto. Di mata Amoi, lelaki, siapa pun dia, tetaplah pelancong yang hanya bisa melepas penat dan lelah. Lalu menghilang tanpa jejak. Tanpa alamat kepastian. Dan berulang Danto menepis mitos Amoi. Meyakinkan akan ketulusannya.

“Dulu seorang pangeran merayuku dengan bulan dan bintang. Apakah kau bisa mengambilkannya untukku?” mata Amoi begitu ceria dan jenaka menatap Danto. Danto hanya menanggapi dengan raut segar. Kerling retinanya tajam. Senyumnya menebar aura kesabaran. Ah Danto? Kau pun menghilang.

Hilangnya Danto pun seakan menjadi titik klimaks Amoi menerima laki-laki. Lelaki, baginya tak ubahnya para penumpang bis yang menunggu di peron. Para turis atau pesiar, yang sekadar singgah melepas lelah. Selebihnya mereka hanya meninggalkan jejak di pasir, hilang disisir ombak.
***

Semalam, sehabis tertidur dalam tangisnya, dalam pangkuan Ninok, Amoi bermimpi. Ia melihat seribu bulan mengitarinya. Berhias bintang-gemintang. Dan suara kidung mengalun lirih. Semacam erang kerinduan. Semacam bait-bait nawala yang menusuk ulu hati. Lalu dihadapannya terbentang taman. Penuh bunga warna-warni. Kupu-kupu menjadi isyarat kedamain dan kesyahduan taman. Dan yang paling melekat dalam benak Amoi: Kordos! Lelaki yang ditolaknya dengan penuh sarkasme. Bahkan mengingatnya pun, Amoi begitu jijik. “Iih, mending cari tema lain dech” cibir Amoi setiap teman-temannya memperbincangkan Kordos.

Tapi malam itu, di lubuk mimpi paling nanarnya, Amoi melihat Kordos bak peri turun dari langit. Kedua matanya berbinar. Cahaya retinanya sebening embun pagi. Dan kata-katanya terasa sejuk dan lembut menyapa Amoi, “Apa kabar Amoi?”. Amoi hanya menanggapi dengan raut muka tersapu malu. Yang paling membuat Amoi bergidik dan mengigau, Bulan emas yang diberikan Kordos. “Amoi, sayang aku bukan seorang pangeran, atau dewa atau… ah, aku hanya anak seorang petani”. Setelah memberikan bulan emas, tubuh Kordos menjelma asap. Menggulung. Lalu menghilang.
“Kordos...” Amoi tersentak.

Pagi ini, wajah Amoi sumringah. Di depannya segulung karton, gunting, spidol. Amoi membuat bulan kertas. Dan dengan sepotong pesan singkat bulan kertas itu digantungnya di atas pintu kamarnya: Datanglah wahai pengembara. Hatiku kini gubuk kecil teduhmu!

Suarabaya, Maret 2009

*) Salamet Wahedi, Lahir di Sumenep, 03 Mei 1984. Menulis puisi, cerpen, dan esai. Karya-karyanya pernah dipublikasikan di berbagai media, antara lain: Majalah Sastra Horison, Radar Madura, Suara Pembaruan, dan Batam Pos. Juga dalam beberapa antologi: Nemor Kara (antologi puisi Madura, Balai Bahasa Surabaya, 2006), Yaa-sin (antologi puisi santri Jawa Timur, Balai Bahasa Surabaya, 2007), dan lain-lain. Tinggal di di Lidah Wetan, Gang VI No. 24 Surabaya.
Dijumput dari: http://www.facebook.com/note.php?note_id=196366447274

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Ginandjar Wiludjeng A. Junianto A. Kurnia A. Qorib Hidayatullah A. Yusrianto Elga A.S Laksana A’yat Khalili Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Razak Abdul Rosyid Abdul Wahab Abdurrahman Wahid Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adam Chiefni Ade P. Nasution Adhitia Armitriant Adi Prasetyo Adrizas AF. Tuasikal Afriza Hanifa Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agnes Rita Sulistyawaty Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunyoto Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Baso Ahmad Faishal Ahmad Fatoni Ahmad Hasan MS Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Khotim Muzakka Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Naufel Ahmad Rofiq Ahmad S. Zahari Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Ainul Fiah Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Alex R. Nainggolan Alfian Dippahatang Ali Audah Ali Mahmudi CH Ali Rif’an Almania Rohmah Ami Herman Amien Wangsitalaja Aminah Aminullah HA.Noor Amir Sutaarga Anam Rahus Anata Siregar Andari Karina Anom Andina Dwifatma Andong Buku #3 Andre Mediansyah Andri Awan Anett Tapai Anggie Melianna Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Wahyudi Anwar Nuris Ardi Bramantyo Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arie Yani Arief Joko Wicaksono Arief Junianto Ariera Arif Bagus Prasetyo Aris Kurniawan Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asmaul Fauziyah Asti Musman Atafras Awalludin GD Mualif Ayu Wulan Sari Aziz Abdul Gofar Azizah Hefni Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Balok Sf Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Benny Arnas Benny Benke Beno Siang Pamungkas Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Bernando J Sujibto Berthold Damshauser BI Purwantari Binhad Nurrohmat Bobby Gunawan Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Burhanuddin Bella Camelia Mafaza Catatan Cerbung Cerpen Chairul Akhmad Chamim Kohari Chavchay Syaifullah Cover Buku Cucuk Espe D. Zaini Ahmad D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Dahta Gautama Daisuke Miyoshi Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Danusantoso Dareen Tatour Darju Prasetya David Kuncara Denny Mizhar Denza Perdana Desi Sommalia Gustina Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewi Indah Sari Dewi Susme Dian Sukarno Didik Harianto Didik Kusbiantoro Dina Jerphanion Dina Oktaviani Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur Dipo Handoko Diyah Errita Damayanti Djoko Pitono Djoko Saryono Doddy Wisnu Pribadi Dody Kristianto Dody Yan Masfa Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi SS MHum Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Wiyana Dyah Ratna Meta Novia Dyah Sulistyorini Ecep Heryadi Eddy Pranata PNP Edeng Syamsul Ma’arif Eep Saefulloh Fatah EH Kartanegara Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Hendrawan Sofyan Eko Hendri Saiful Eko Windarto Elnisya Mahendra Elva Lestary Emha Ainun Nadjib Emil WE Endah Sulwesi Endo Suanda Eppril Wulaningtyas R Esai Evan Ys F. Moses F. Rahardi Fadlillah Malin Sutan Fahmi Faqih Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Kurnianto Fanani Rahman Fanny Chotimah Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Febby Fortinella Rusmoyo Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Gabriel Garcia Marquez Galang Ari P. Galuh Tulus Utama Gampang Prawoto Gandra Gupta Ganug Nugroho Adi Gerson Poyk Ghassan Kanafani Gita Nuari Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunoto Saparie H.B. Jassin Habibullah Hadi Napster Hadriani Pudjiarti Halim HD Halimi Zuhdy Hamberan Syahbana Han Gagas Hanibal W. Y. Wijayanta Hardi Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Hartono Harimurti Hary B Kori’un Hasan Aspahani Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana HE. Benyamine Hendra Junaedi Hendra Makmur Heri CS Heri Latief Heri Listianto Herman RN Herry Lamongan Heru CN Heru Nugroho Hikmat Gumelar HL Renjis Magalah Hudan Nur Hujuala Rika Ayu Huminca Sinaga IBM. Dharma Palguna Ibnu Wahyudi Ida Farida Idris Pasaribu Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilham Khoiri Imam Cahyono Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indiar Manggara Indra Intisa Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ira Puspitaningsih Irfan Budiman Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Zulkarnain Ismail Marzuki Iva Titin Shovia Iwan Kurniawan Jabbar Abdullah Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D. Rahman Jamal T. Suryanata Javed Paul Syatha Jayaning S.A JILFest 2008 Jody Setiawan Johan Edy Raharjo Johannes Sugianto Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Juan Kromen Julika Hasanah Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN Juwairiyah Mawardy Ka’bati Karanggeneng Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Keith Foulcher Kemah Budaya Panturan (KBP) Khansa Arifah Adila Khoirul Inayah Khoirul Rosyadi Khudori Husnan Ki Ompong Sudarsono Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Sastra Ilalang Indonesia Korrie Layun Rampan Kostela Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie L.N. Idayanie Laili Rahmawati Lamongan Lan Fang Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lely Yuana Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Liestyo Ambarwati Khohar Lina Kelana Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lucia Idayanie Lukman A Sya Lutfiah Lynglieastrid Isabellita M Arman AZ M Ismail M Thobroni M. Afifuddin M. Arwan Hamidi M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Luthfi Aziz M. Nurdin M. Yoesoef M.D. Atmaja M.S. Nugroho Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Mahmud Syaltut Usfa Mahmudi Arif Dahlan Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Martin Aleida Maruli Tobing Mas Ruscita Mashuri Masuki M. Astro Matroni Matroni Muserang Media: Crayon on Paper Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Mia Arista Mia El Zahra Mikael Johani Misbahus Surur Misran Mohamad Ali Hisyam Mohammad Eri Irawan Much. Khoiri Muh. Muhlisin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun Muhammadun AS Muhidin M Dahlan Mujtahid Mujtahidin Billah Mukti Sutarman Espe Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Munawir Aziz Musfarayani Musfi Efrizal Nafisatul Husniah Nandang Darana Naskah Teater Nelson Alwi Ni Made Purnamasari Nikmatus Sholikhah Nina Herlina Lubis Nina Susilo Ning Elia Noor H. Dee Noval Jubbek Novel-novel berbahasa Jawa Novelet Nunuy Nurhayati Nur Azizah Nur Hamzah Nur Kholiq Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurul Aini Nurul Anam Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi SA Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Okty Budiati Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Otto Sukatno CR Oyos Saroso H.N. Pagan Press Pagelaran Musim Tandur Palupi Panca Astuti Parimono V / 40 Plandi Jombang Pawang Surya Kencana PDS H.B. Jassin Petrus Nandi Politik Politik Sastra Pradana Boy ZTF Pramoedya Ananta Toer Pramono Pringadi AS Prof Dr Fabiola D. Kurnia Prosa Puisi Puji Santosa Puji Tyasari Puput Amiranti N Purnawan Andra Purnawan Kristanto Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang Group PUstaka puJAngga Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Ng. Ronggowarsito Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Kemat Hidayatullah Rahmat Sularso Nh Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rasanrasan Boengaketji Raudal Tanjung Banua Redland Movie Reiny Dwinanda Resensi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Ririe Rengganis Risang Anom Pujayanto Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roso Titi Sarkoro Rozi Kembara Rukardi Rumah Budaya Pantura (RBP) Rusmanadi S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saiful Amin Ghofur Saiful Anam Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Salman S. Yoga Samsudin Adlawi Samsul Anam Sanggar Lukis Alam Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang KSII Santi Puji Rahayu Sapardi Djoko Damono Saroni Asikin Sartika Dian Nuraini Sastra dan Kuasa Simbolik Sastra Jawa Timur Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil SelaSastra Boenga Ketjil #33 Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sinopsis Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputra Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soegiharto Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Spectrum Center Press Sri Weni Sri Wintala Achmad Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudirman Sugi Lanus Sukron Ma’mun Sulaiman Djaya Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungging Raga Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Supriyadi Surya Lesmana Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyanto Syaf Anton Wr Syaifuddin Gani Syaiful Amin Syarif Wadja Bae Sylvianita Widyawati TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie (1961-2019) Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Presetyo Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Tia Setiadi Tirto Suwondo Tita Tjindarbumi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tosa Poetra Tri Nurdianingsih Triyanto Triwikromo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus S Ulul Azmiyati Umar Fauzi Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Utari Tri Prestianti Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W Haryanto W.S. Rendra Wahyu Prasetya Wan Anwar Wawan Eko Yulianto Wawancara Wina Bojonegoro Wita Lestari Wong Wing King Wowok Hesti Prabowo Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yanusa Nugroho Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yopi Setia Umbara Yudhi Herwibowo Yudi Latif Yusri Fajar Yusuf Ariel Hakim Yuval Noah Harari Zacky Khairul Uman Zainuddin Sugendal Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zed Abidien Zehan Zareez Zhaenal Fanani Zubaidi Khan Zuniest