Indrian Koto
oleh Koto Saja pada 31 Januari 2011 jam 1:40
http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150089188639318
Saya melampirkan dua tulisan dengan tidak menyertakan komentar2 di bawahnya tentang kasus cerpen Dadang Ari Murtopo yang dumuat di Kompas minggu 30 Januari 2011 dan sebelumnya di muat di Lampung Post 5 Desember 2010. Sebelumnya Bamby Cahyadi menulis di status FB-nya ketika pertama kali cerpen itu dimuat di lampung post tentang beberapa cuplikan bagian yang dianggap plagiasi tersebut (http://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=173967789294627&id=1093612902). Hal itu sempat pula membuat Dadang Ari Murtono membuat semacam tanggapan atas ramainya tuduhan atas cerpennya yang diplagiasi tersebut.
Hari ini cerpen tersebut kembai menjadi perbincangan. www.indonesiabuku yang pertama kali saya baca memuat lampiran surat terbuka Bamby Cahyadi kepada Redaktur Kompas dan tanggapan Dadang ketika cerpen tersebut belum dimuat di kompas. di FB Dadang sendiri juga ada beberapa komentar yang menyayangkan kejadian tersebut. Dalam surat terbuka Bamby juga ramai(http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150134531719359&comments) serta status ‘rutin’ Bamby setiap minggu juga terjadi beberapa perbincangans eru seputar itu (http://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=195850313759636&id=1093612902).
Sebelumnya di catatan M Anshor Sja’roni juga( http://www.facebook.com/note.php?note_id=478580568475) yang mengambil dari Catatan Dadang Ari Murtopo Sendiri (http://www.facebook.com/note.php?note_id=476252430274).
Saya tidak siapa lagi yang pernah membicarakan hal ini di FB dan jejaring lainnya. Sungging Raga juga memberikan beberapa catatan tentang bagian-bagian yang dicuplik oleh DAM.
Dibawah ini saya lampiran hak jawab Dadang tersebut dengan memberikan beerapa penekanan (sekaligus menjadi fokus kebingungan saya atas peristiwa semacam ini) yang saya ambil dalam catatan di FB-nya.
Perempuan Tua Membaca Rashomon
Sungguh, saya tak ingin membuat tulisan ini sebenarnya meski saya tahu kalau polemik berkaitan dengan hal ini, berkaitan dengan cerpen saya Perempuan Tua dalam Rashomon yang terbit pertama kali di harian Lampung Post hari minggu tanggal 5 Desember 2010 kemarin terus berkembang lewat situs jejaring sosil facebook (dan barangkali juga melalui beberapa media massa cetak). Saya ingin membiarkannya saja sebenarnya. Selain karena saya jarang menggunakan situs jejaring sosial itu, alasan lain yang lebih penting adalah karena saya sesungguhnya telah pula menjelaskan permasalahan ini dalam cerpen itu sendiri dan dalam catatan kecil yang menyertainya. Namun desakan beberapa kawan yang mengikuti polemik ini dari mulai mencuat hingga hari ketika tulisan ini saya buat, membuat saya tak kuasa terus mengelak.
Saya tidak hendak menjawab dan menjelaskan satu per satu tuduhan plagiatisme yang dialamatkan beberapa kawan atas cerpen saya itu. Sebab sesungguhnya saya telah menjawabnya. Dalam catatan kecil yang menyertai cerpen itu, telah saya jelaskan bahwa cerpen Perempuan Tua dalam Rashomon bersumber dari cerpen Akutagawa Ryunosuke yang berjudul Rashomon. Penjelasan tentang istilah Rashomon itu sendiri pun telah saya terangkan yang merujuk persis pada terjemahan kumpulan cerpen Akutagawa Ryunosuke berjudul Rashomon hasil kerja Bambang Wibawarta yang diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia, cetakan pertama tahun 2008. Jadi, tanpa ada satu pun yang mengata-kaitkan cerpen saya itu dengan cerpen Rashomon Akutagawa pembaca sudah akan mengetahuinya melalui keterangan yang saya cantumkan.
Inti dari cerpen saya sendiri adalah upaya mengalihkan – bila istilah perlawanan terlalu berlebihan – cerpen Akutagawa ke konteks pemaknaan dunia sekarang ini yang saya yakini kebenarannya. Seperti inilah idenya: merubah sudut pandang yang dipakai Akutagawa tentang kehidupan itu sendiri, tanpa merubah dunia yang telah dibangunnya.
Mari kita pelajari cerpen Akutagawa itu.
Akutagawa menghadirkan tokoh utama yang sakit, tokoh yang kecewa dengan kondisi sosial yang berubah teramat cepat di sekitarnya. Kondisi yang membuatnya menjadi gelandangan, lontanglantung, terdampar di Rashomon, gerbang dengan menara yang menjadi tempat pembuangan mayat. Akutagawa menyelesaikan perkara-perkara itu dengan tindakan merenggut pakaian perempuan tua yang membuat cemara dari rambut mayat-mayat yang berserakan di sana. Tindakan itu diakhiri dengan perginya Genin itu, pergi dengan membawa pakaian yang ia renggut.
Apa yang bisa kita ambil dari akhir cerita seperti itu? Adalah sebuah harapan, adalah sebuah kemenangan. Genin itu pergi dengan membawa harapan bahwa ia akan dapat bertahan hidup – entah berapa lama – dengan kondisi sosial yang demikian kacau. Genin itu pergi dengan membawa kemenangan atas perempuan tua yang bahkan kondisi fisiknya digambarkan demikian jelek itu.
Dalam kondisi mutakhir seperti sekarang ini, hal itu seakan menemukan pembenarannya. Dalam kondisi yang susah dan semrawut seperti sekarang ini, Genin itu adalah perwujudan mereka yang berkuasa – dilambangkan dengan samurai yang ia bawa – berkuasa dan menindas – paling tidak berkuasa atas perempuan tua itu yang saya tafsirkan berada dalam dasar rantai kekuasaan, dasar rantai makanan kekuasaan – orang-orang yang dikuasainya. Namun Akutagawa juga memberi harapan perempuan tua itu dengan menuliskan, “tubuh telanjang nenek tuan yang roboh seperti orang mati itu baru bisa bangkit dari onggokan mayat-mayat beberapa saat kemudian. Sambil menggerutu dasn mengerang ia merangkak mencapai mulut tangga dibantu cahaya obor yang masih menyala. Dari tempat itu ia melongok ke bawah gerbang dengan ubannya yang pendek menjuntai”.
Mari kita perhatikan kata-kata “bangkit” dan “cahaya obor”. Tidakkah itu simbol harapan bagi perempuan tua yang dikalahkan itu? Dan pada titik inilah saya bersebarangan dengan Akutagawa. Titik inilah yang terus mendesak saya untuk menulis Perempuan Tua dalam Rashomon. Bagi saya (sekali lagi bagi saya) tidak ada lagi harapan bagi perempuan tua itu. Jika ia terus dipaksa berharap, maka ia akan terus menerus merasa sakit. Dan ini pulalah yang terjadi pada kebanyakan orang dewasa ini. Kebanyakan orang yang tak henti-henti dikalahkan pengambil kebijakan, dikalahkan penguasa namun terus dipaksa berharap. Maka yang terjadi adalah lamunan-lamunan kosong tentang mesiah, tentang satria piningit. Ya… inilah intinya.
Pada titik ini pula saya menyelamatkan perempuan tua itu. Memberinya hak bicara. Karena itu saya menulis, “beberapa saat kemudian, tubuh perempuan tua yang telanjang itu menggeliat di antara tumpukan mayat-mayat. Ia pandang berlama-lama tumpukan tubuh tak bernyawa itu seperti tak pernah memandang sebelumnya. Tiba-tiba ia menggumam, ‘alangkah damai mayat-mayat itu, alangkah tenang mereka yang tak lagi berurusan dengan perkara lapar.’ Pada waktu itu ia ingin menjadi mayat, terlentang di tempat itu, tak lagi berpikir apa-apa, tak lagi merasa sedih sewaktu ada seseorang yang datang mencabut rambut atau mengiris sekerat dagingnya.”
Yang bisa kita baca dari Rashomon dan Perempuan Tua dalam Rashomon adalah bila Rashomon lebih memberi suara pada Genin, lebih berpihak pada mereka yang menang dan berkuasa, maka Perempuan Tua dalam Rashomon lebih membunyikan mereka yang kalah, lebih berpihak pada mereka yang dikalahkan.
Dan kenapa ada beberapa kalimat yang sama persis dalam Perempuan Tua dalam Rashomon dengan kalimat-kalimat dalam Rashomon adalah karena saya ingin menjaga ingatan pembaca kepada Rashomon, agar dunia yang dibangun dalam Perempuan Tua dalam Rashomon tidak merusak apa-apa yang telah terbangun dalam Rashomon. Sebab ini perkara tafsir dan sudut pandang melihat sesuatu. Sebab ini perkara perlawanan dan keberpihakan.
Seperti itulah saya menulis Perempuan Tua dalam Rashomon. Seperti itulah hal-hal yang saya yakini kebenarannya dan saya berpihaki. Dan bila di kemudian hari adas yang menganggap cerpen itu gagal, mengecewakan, sekadar menyalin atau apa pun, akan saya terima dengan legawa seperti juga akan saya sambut dengan senang hati bila ada yang dapat menyelam ke kedalaman ceritanya itu, menangkap apa-apa yang saya tebar di sana.
Terimakasih.
Dadang Ari Murtono, penulis cerpen Perempuan Tua dalam Rashomon. Lahir dan tinggal di Mojokerto. Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.
Demikian DAM menberikan penjelesan. Huruf tebal dan miring dari saya. Setidaknya ada dua hal besar yang menjadi perhatians aya di sini: Pertama mengenai catatan kecil yang menyertai cerpen itu. Saya tidak tahu apakah di Lampung Post catatan yang dimaksud itu ada atau tidak, saya sudah mencari arsibnya, karena waktu saya agak terburu2 di warnet saya belum menemukan cerpen tersebut lai di Lampost (mungkin ada yang bisa membantu). Di Kompas hari ini, sepertinya tidak terdapat catatan yang dimaksud DAM.
Catatan yang bagaimanakah itu?
Jika memang DAM menulis semacam catatan atas cerpen tersebut dan kita tidak menemukannya di koran yang dimaksud, bagaimana kita melihat soal ini? kemanakah catatan itu hilang?
Lalu soal pemuatan ganda. Dalam beberapa kasus (dan mungkin nyaris keseluruhan kasus) pemuatan ganda disebabkan lamanya naskah tertahan di media tanpa ada kabar yang pasti. penulis dalam hal ini misalnya, seelah menunggu beberapa waktu tanpa kepastian tentu ingin mengirimkan karya tersebut ke media yang lain. Siapa pun bisa mengalami kasus semacam ini. Saya juga pernah. Mungkin tidak semua orang pula, karena bisa jadi seseorang mengirimkan karya hanya ke satu koran saja dan setelah itu membiarkannya. entah.
Seringkali dalam hal ini pengarang yang menerima beban pemuatan doble tersebut. Namun demikian, redaktur juga setiap hari disesaki sekian puluh, mungkin ratusan, naskah cerpen sehingga sangat kesulitan untuk melakukan pengecekan sebelum pemuatan. Namun demikian apa koran dan redakturnya tidak pula bisa dipersalahkan dan ditanya? Saya tidak tahu jawabanya. Dan saya kira ini bisa menjadi diskusi yang bagus dan bisa memberikan gambaran setidaknya kepada kita yang memang tidak mengerti soal ini sama sekali.
Soal berikutnya adalah soal dalam istilah DAM adalah: upaya mengalihkan – bila istilah perlawanan. yakni dengan
merubah sudut pandang , tanpa merubah dunia yang telah dibangunnya. Bagi Dadang ini perkara tafsir dan sudut pandang melihat sesuatu.
Saya berharap akan ada pencerahan sebab saya tidak paha sama sekali bagaimana sebenarnya kerja mengalihkan, merubah sudut pandang dan tafsir. Apakah upaya menyelamatkan perempuan tua itu. Memberinya hak bicara. memang dibenarkan atau bagaimana? Jangan-jangan upaya penafsiran semacam ini dibenarkan, sebagai respon sebuah karya, di mana pengarang kedua hanya mengganti beberapa bagian detail atau inti cerita dan membelokkan sesuai keinginan. Namun jika upaya itu sesuatu yang salah bagaimana pula seharusnya pengarang yang ‘terpengaruh’ memberikan respon terhadap karya yang ‘mempengaruhi’nya?
sebagai gambaran ujung, saya mencoba mengira-ngira (sebab hanya DAM yang lebih tahu kronologinya) jangan2 DAM mengirimkan cerpen ini ke Kompas dulu sebelum ia mengirimkan ke Lampung Post. Sebab menurut saya hanya penulis nekat yang berani mengirimkan karyanya ke media Jakarta setelah pemuatannya di media luar Jakarta (yang kebetulan kedua2nya bisa diakses di internet). Karena bisa saja cerpen ini ‘nganggur’ lama di meja redaksi, sementara DAM sudah tak sabar menunggu. Salahkah penulis yang melakukan hal demikian?
Saya tidak berada dipihak yang mana karena ini benar2 berangkat dari kebingungan saya, sebab kasus semacam ini hanya satu dari beberapa kasus yang pastinya pernah dan akan terus terjadi. Beruntung sekali ada orang2 yang mau membicarakannya. Semoga saya dan (mungkin) banyak orang yang tidak paham akan tercerahkan.
ternyata rumit sekali ya. Setidaknya akan ada dua narasi ang berbeda atas peran Pengarang dan media (redaktur).
Terimakasih.
Tidak SukaSuka · Komentari · Bagikan
*
*
Anda, Dwi S. Wibowo, Yayan Triyansyah, Drew Aninditya, dan 12 orang lainnya menyukai ini.
*
o
Thendra Malako Sutan
Mengenai pemuatan ganda di beberapa media, itu tergantung mediannya. Aku pernah nulis satu esei, lalu dimuat di beberapa media cetak (koran) dan cyber. Yakni Minggu Pagi, Jurnal Bogor, Jambi Independent, langit-puisi.blogspot.com, sastra-in…donesia.blogspot.com mediasastra.com dan bebrp weblog personal. Untuk koran, aku bilang aja ama redakturnya, “bro men, esei aku itu dah pernah dimuat di koran lain tapi koran daerah, lho.” Ya si redaktur oke aja. Sedang yang cyber, ada yang bilang dan minta izin posting, dan yang weblog main posting aja, tapi mereka sih masih nyantumin nama aku gitu, hehe…
Cobak kalok setiap media yang memuat satu esei aku itu ngasih aku honor semua, lumayan jugak ya :) )
Oh iya, akhir tahun 2010 ini puisi Deddy Arsa yang pernah dimuat di Koran Tempo, buku kumpulan puisi TSI III, dimuat pulak di koran Jurnal Nasional. Begitupula puisi Saut Situmorang yang pernah dimuat di Jurnal Rumahlebah ruang puisi (edisi1) dimuat pulak di koran Jurnal Nasional. Kok bisa ya? Ya bisa aja lagee :) )Lihat Selengkapnya
Kemarin jam 2:17 · SukaTidak Suka
o
Thendra Malako Sutan Masalah plagiat, apakah DAM membaca istilah yang dipakai Harold Bloom kecemasan (atas) pengaruh” atau ” the anxienty of influnce”, yakni merupakan sebuah untuk teori yang diciptakannya yang merevisi secara radikal teori lama di atas yang menganggap pengaruh hanya sebagai sebuah “peminjaman” langsung, atau asimilasi, dari material dan unsur-unsur penting sastrawan sebelumnya. Tapi dalam hal ini Harold lebih banyak berbicara di ranah puisi, hehe…
Kemarin jam 2:25 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Koto Saja
sip mas men. Berarti dalam beberapa kasus plagiasi juga tidak masalah ya. Ih dimuat banyak dan dapat honor semua? traktir doong…
nah soal Harold Bloom bagaimana mislanya masmen? jadi tetap tidak diperkenankan mengutip dua pertiga atau lebi…h ya?Lihat Selengkapnya
Kemarin jam 2:34 · SukaTidak Suka
o
Thendra Malako Sutan Kadang, aku berpikir nakal, bagaimana kalok aku mengganti satu kalimat di awal atau di tengah atau di akhir pada sebuah cerpen, tapi yang lainnya aku biarkan tetap utuh. Dan satu kalimat itu–yang milik aku–bisa mengubah cerpen tersebut atau malah menghancurkannya. Misalnya itu cerpen Indrian Koto. Dan itu aku lakukan dengan sadar, dan menjadikannya sebagai cerpen karyaku, hehe…
Kemarin jam 2:37 · SukaTidak Suka
o
Koto Saja hehhe.. atau DAM sedang berusaha melakukan itu? memberikan hak bicara pada sang perempuan yang oleh Akutagawa tidak diberi ‘hak bicara’? hehehe….
Kemarin jam 2:39 · SukaTidak Suka
o
Thendra Malako Sutan Tenang mas men Koto, nanti aku ubah satu kalimat dalam sebuah cerpen mas men Koto yang telah pernah dimuat di koran, lalu aku jadikan itu milikku dan kukirim ke media yang menyediakan honor. Nah, kalau dimuat, dari honor cerpenku itu, kita makan-makan di angkringan Iboekoe, hehe…
Kemarin jam 2:40 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Koto Saja hehehe.. boleh2 boleh, istilahnya muhidin dan ismanto ‘ngetes redaktur’ hehehe
Kemarin jam 2:44 · SukaTidak Suka
o
Khrisna Pabichara Telaah yang apik, Bang Koto. Saya juga menangkap keganjilan dari pembelaan diri Dadang–seperti yang diterakan pada catatannya di atas–karena sama sekali tidak menyentuh substansi dan esensi kecurigaan. Hanya sebentuk kilah, itu pun setelah didesak oleh teman-temannya. Sekali lagi, setelah didesak oleh teman-temannya. Dan itu bagi saya sudah selesai.
Kemarin jam 3:24 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Thendra Malako Sutan
Oh iya, masalah plagiasi, aku pernah ngalami lho (kayaknya aku ini dah pengalaman banget yak, wekekke, duhai daku ini, hehe), malah dua kali dan yang melakukannya cewek, dua lagi. Dan puisi itu dimuat di buku, satu buku kumpulan puisi Dian …Sastro for Presiden #1 dan satu lagi buku puisi “Dongeng-dongeng Masa Tua” Iyut Fitra. Yang bikin aku jengkel, dua orang cewek tersebut (kata orang sih cantik gitu, hehe) hanya mengubah beberapa kata dalam puisiku itu, tapi tidak mengubah puisi secara makna, pun alurnya (ceile sublim banget, cyin). Cobak kalau mereka bisa mengubah puisi aku itu jadi milik mereka, aku bakal TABIK pada mereka & muaahhhh…
Nah, gimana dengan DAM. Silahkan mas men Koto baca, apakah DAM sudah melakukan perubahan terhadap cerpen Rashomon karya Akutagawa Ryunosuke, sehingga cerpen Perempuan Tua dalam Rashomon bisa disebut sebagai karya DAM? (Tukul2, DAM jugak telah membaca cerpen Rashomon itu dalam bahasa aslinya, wah ini keren bange, cuy). Monggo mas men koto baca, penaknya sambil minum wedang ronde, terasa istimewa lho,hehe….Lihat Selengkapnya
Kemarin jam 4:22 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Thendra Malako Sutan Oh iya lagi ding, begitulah komen saya atas catatan mas men Koto ini. Saya yang BIJAKSANA BIJAKSINI, mohon pamit, mau jalan2 dulu. Silahkan dilanjutken. Kalau ada salah & kurang, mohon maaf sebesar-besarnya. Terimakasih. Wabillahitaufik Walhidayah Wassalamu’alaikum Wr.Wb…
Kemarin jam 4:23 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Bamby Cahyadi Terima kasih tambahan catatan bung koto ini. Semoga bermanfaat. Amin.
Kemarin jam 6:23 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Langgeng Prima Anggradinata DAM perlu belajar tentang pengaluran, hubungan kausalitas (tanggapan untuk cerpen DAM di Pikiran Rakyat 23 Januari 2011).
Kemarin jam 6:50 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Fahri Asiza Pembelaan DAM bikin aku ngakak, seperti sedang mencoba mengelabui anak kecil dengan permen. Dan apa pun itu, dia tetap sang plagiator…
Makasih tambahan infonya, Mas Koto
Kemarin jam 8:10 · SukaTidak Suka
o
Ganda Pekasih
DAM tahu itu dia memplagiat total, pengaruh lain yg ingin dia sampaikan mengada ada, naif. Lalu untuk apa pengarang mempertaruhkan jiwanya, mau di taruh kemana darah, keringat/susu dan air mata pengarang yg mencurahkan segenap pikiran,raga … bahkan harta untuk memperjuangkan kata dan keyakinannya jika hak pengarang atas karyanya bisa diveto pihak lain yg ingin meluruskan/menafsirkan ulang, dimana karya yg didapat penulis tidak mudah, dengan proses panjang dan benturan khidupan yg dilaluinya sehingga dia menghasilkan karya hebat, apalagi jika si Plagiat termasuk penulis junior pula.
Jika karya saya yg diplagiat DAM, saya tentu merasa dizalimi, sayangnya Akutagawa…Lihat Selengkapnya
Kemarin jam 8:59 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Nurel Javissyarqi di jogja kurang lebih sepuluh tahun lalu ada plagiat, lantas orangnya kabur ke kota k, padahal dirinya sangat dielu-elukan menjadi gawang kepenyairan di masanya, ia sosok tekun dan pekerja keras, mungkin hanya satu yang diplagiat, namun karena kejatuhan tersebut, sulit sekali naik lagi, padahal karya-karya lainnya ampuh, –salam untuk kejujuran dalam berkarya!!!:)
Kemarin jam 9:08 · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat…
o
Anita Lindawaty SSi MSi
makasih dah di tag, koto :-) . sah-sah saja jika mengutip sebagian atau nyaris keseluruhan karya orang lain, tp sepanjang yg saya tau, ada etika penulisan yg jelas utk itu, yaitu menyebutkan sumber aslinya & tidak mengakuinya sbg karya sendi…ri. kecuali menjelma menjadi bentuk tulisan yg lain, misalnya mengutip puiisi atau cerpen menjadikannya sebuah essai, ok no problem. tp ini menyalin cerpen menjadi cerpen lain, yg jelas serupa. istilah yg cocok untuk kasus ini yaaa plagiarisme!
kenapa DAM tidak membuat cerpen baru saja, dengan tokoh cerita baru & konsep yg berbeda dengan akutagawa. ini pun dia wajib menuliskan sebaris pengantar: cerpen ini diilhami oleh cerpen Roshomon karya Akutagawa Ryunosuke.
catatan kaki yg katanya hilang itu, sy melihatnya hanya sebagai alibi lemah yg tidak merubah opini sy ttg plagiarisme yg dilakukan DAM. MAAF!Lihat Selengkapnya
Kemarin jam 9:09 · Tidak SukaSuka · 1 orangAnda menyukai ini.
o
Endah Sulwesi masih lanjut, ya?
Kemarin jam 9:32 · SukaTidak Suka
o
Anita Lindawaty SSi MSi iya nih jeng ES, pindah lapak tapi hihi… *numpang ngerumpi di sini yak koto ;) *
Kemarin jam 9:45 · SukaTidak Suka
o
Dwi S. Wibowo makin rame aja nih…, pokoknya dukung bang koto aja lah…
Kemarin jam 10:21 · SukaTidak Suka
o
Sungging Raga
kalo pemuatan ganda tu mngkin bisa ditoleransi…tp yg parah ya plagiatnya, lbih parah lagi dia gak nyadar kalo dia itu plagiat… hebat kan? bikin cerpen cuma ambil karya orang, trus ganti sudut pandang tokoh, dg tetap “mempertahankan teks…” untuk “menjaga ingatan pembaca kepada Rashomon”… cara sprti itu sih 1 jam bisa dapet 3 cerpen. kalo itu dibolehkan, aku pengen juga bikin novel baru dari Beauty & Sadness-ya kawabata lewat tokoh Otoko, dg mmprtahankan 90% teks asli bikinan kawabatan, haha…
dan lagi, sukur2 kalo teks yg dipertahankan itu hasil trjemahan bebasnya dadang sendiri, lah ini ngambil dr terjemahan org yg sudah dibukukan pula. berarti usahanya dia sedikit banget kan…
ditambah sekali lagi, dia pun tidak konsisten dg “teks yg sama persis / dipertahankan” itu, karena trnyata dadang juga mengganti2 pula teks terjemahan itu, semacam “nenek” diganti “perempuan tua”, dsb…Lihat Selengkapnya
Kemarin jam 10:23 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
o
Dwi S. Wibowo itulah parahnya ga, setidaknya DAM harus lebih bijak sejak awal dengan melampirkan penjelasannya. dan selain itu, redaktur juga harus lebih selelktif dalam memilih karya. jadi ya fokus utama tidak pada DAM semata, tapi redaktur juga cukup bermasalah dalam persoalan ini.
Kemarin jam 10:25 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Anita Lindawaty SSi MSi DWI, orang bijak taat pajak, orang bijak gak bakal melakukan PLAGIAT!
Kemarin jam 10:39 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Dwi S. Wibowo bener tuh… aduh, jadi inget bayar pajak bumi n bangunan…, mak minta duit…
Kemarin jam 10:40 · SukaTidak Suka
o
Munajat Sunyi disana donat disini donat, di tengah-tengahnya pasti bolong
cerpenisnya plagiat cerpennya duplikat, ternyata tukang bohong…
Kemarin jam 10:49 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Dwi S. Wibowo wakaka…
Kemarin jam 10:49 · SukaTidak Suka
o
Adin Mbuh asik mas he2
23 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Syaifuddin Gani chairil anwar pernah dicap sebagai plagiat, tetapi karena karya2 lainnya begitu mencengangkan maka cap plagiat hilang dengan sendirinya. karya chairil yg lain menegaskan diri chairil yang sesungguhnya. untuk thendra, hati2 di jalan yah, nanti ditabrak becak. hehehe.
22 jam yang lalu · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Han Gagas SAYA DAH IKUT2 KEMARIN MAS, JUGA JAUH2 HARI SEBELUMNYA, SEKARANG DAH MALAS, MAU MIKIR YG LAIN MAS KOTO, MENDING MIKIRAN BETAPA BAGUSNYA PUISIMU KEMARIN DI KOMPAS, ITU MAH ASYIK, HAHAHAHA
22 jam yang lalu · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Thendra Malako Sutan DAM KEREN BISA NGERJAiN KOMPAS dan BIKIN FANS SASTRA KOMPAS NGAMUK, HAHAHA..SALUT BUAT KAU DADANG ARI MURTONO…
21 jam yang lalu · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Bode Riswandi saya ingin berkenalan dengan DAM
21 jam yang lalu · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Thendra Malako Sutan ?@kawan gani
aku baru pulang jalan2 nih, mau jalan2 lagi ntar sore, mau ikut ga? hehe…
21 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Adin Mbuh aku juga salut!
21 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Syaifuddin Gani mau dong. kita ke lorong “magrib” lagi yuk, dekat kamar KKN koto waktu itu. hehehehehe.
21 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Thendra Malako Sutan ?@Adin
kamu salutnya interteks atau plagiat, nih, hahaha…
@Gani
siapkan tolak angin ya. mana tau nanti kamu menggigil gara2 angin yang berhembus sepoi2 dari paha mulus cewek2 di sekitar jalan itu, haha
21 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Syaifuddin Gani hahahahaha. angin magrib yang membangkitkan gairah puisi….
21 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Adin Mbuh gimana kabar mas ghani dan mas thendraa?? hhihihi
21 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Muhidin M Dahlan KOK ORANG PADA RIBUTIN INI MANUSIA KECIL. PADAHAL DI ATAS SANA, DI DALAM ISTANA KEPRESIDENAN, PLAGIAT ITU KERJA TERHORMAT…………… MEMANG MUDAH NGEROYOK ORG KECIL….
21 jam yang lalu · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Dwi S. Wibowo ?:)
20 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Yadhi Rusmiadi Jashar Kejahatan Literasi. Honornya sebakul terasi.
13 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Koto Saja
wah-wah wa, terima kasih, terima kasih atas komentarnya yang luar biasa mas thendra, mas khrisna, mas bambi, langgeng, fahri, mas ganda, mas nurel, mbak anita, mbak endah, dwi, sungging raja, munajat sunyi, adin gani, bode, gus muh, mas yad…hi… komentar yang luar biasa dan masukan yang sngat bagus untuk saya.
kita berharap ada hikmah besra yang dapat diambil dari sini dan tidak pula menyurutkan langkah DAM untuk melahirkan karya2 besarnya nanti. komentar bung norel dan bung thendra tentang kasus plagiasi memang ngeri.
sebagai sesama pengarang tentu kita berharap juga DAM akan kembali berkarya dan kesempatan2nya atas media tidak hilang.
pertanyaan besar saya soal plagiasi dan upaya DAM dalam menafsir sudah mendapat jawaban. Mungki saja DAM berpikir upayanya itu sah-sah saja dan merupakan bagian dari kerja kreatif pengarang. dalam konteks ini sekali lagi soal sudut pandang.Lihat Selengkapnya
5 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Koto Saja
hal lain adalah dalam hal ini apakah ini akan menjadi tanggungjawab pengarang seorang? Apakah media yang bersangkutan dan redakturnya tidak pula bisa digugat? Karya pemuatan karya di media adalah kerja pengarang dan redaktur juga toh? Maksu…d saya jika pledoi DAM tentang tafsir dan semacam ‘pembelaan’ kepada salah satu tokoh sulit kita terima, bagaimana pula alasan redaktur yang cukup bingung menyeleksi naskah yang bertumpuk?
Nah kan, bingung lagi saya.
dan yang saya penasaran soal catatan kaki yang DAM maksud itu loo…
semoga DAM tetap bisa berkarya. Hal yang dialami DAM menurut saya bs teralami oleh siapa pun sehingga bisa menjadi pelajaran bersama, terutama bagi khatib yang menyampaikan. hahahaha…Lihat Selengkapnya
5 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Koto Saja Sukses untuk kita semua, sukses untuk DAM dan saya. haha
5 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Sungging Raga kayaknya kasus udh slsai nih, soalnya kompas udah menyatakan cerpen itu gak pernah dimuat. hehe.
3 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Koto Saja masa bung? kapan?? wah.. wah…
3 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Sungging Raga sudah tp lewat twiter
http://twitter.com/fajar_arcana?max_id=32240190743379969&page=2&twttr=true
2 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Koto Saja waduh kesian juga DAM.
eh katanya Bernas mau ke jogja. doi mau ada sambutan tuh. gimana penyambutannya?
2 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Sungging Raga ketika ditelp sama pak fajar pun, DAM bersikeras yg dilakukannya bukan plagiat hehe…
ayo sambut beni arnas, sabtu – minggu ya. bung Koto aja bikin acara kecil2an di blandongan aja hehe.
2 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Koto Saja RungRa: nah itu maksud saya kawan. misalnya, bahwa koran (dalam hal ini kompas) misalnya mencabut sebuah karya. konsekwensi seolah jadi tanggungjawab pengarang begitu saja.
Aku rada2 ngeri deh jadinya…
2 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Koto Saja
jangan2 DAM seperti konsep awalnya itu, semacam upaya dia untuk menafsirkan sebuah karya (memang terlalu banyak nyonteknya sih. hihihi) dan dia meyakini itu benar2 murni karya dia toh. itu upaya dia dan dengan memberikans emacam catatan dia… merasa bisa menjelaskan.
nah catatan dia itu aku gak baca je.
wah ndak bisa ada acara mendadak begitu. ngapain di blandongan. saya takut rame2. emang hari sabtu ya benny ke jogja. aku mau nyuri dia saja buat wawancara antologi cerpennya. hihihiLihat Selengkapnya
2 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Sungging Raga
enak bener konsep kayak gitu… catatan apa ya? di lampost kan catatannya cuma gini:
“Rashomon sering dikaitkan dengan Rajomon, pintu gerbang pada zaman Heian (794—1185), sekarang terletak di Perfektur (daerah setingkat provinsi) Nara. Mon b…erarti gerbang. Ketika itu, ibu kota Jepang terletak di Nara. Rashomon juga merupakan judul cerpen Akutagawa Ryunosuke yang menjadi sumber penulisan kisah di atas.”
benny tgl 4 – 6 di jogja,,, jumat – minggu… tp aku nanti mau wisata kereta ke jakarta smpe jumat, jdinya sabtu – minggu aja ya..
wawancaranya ajak yg lain juga dong biar bisa denger & curi ilmunya benny, hehehe. jdi wawancara live gitu.Lihat Selengkapnya
2 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Koto Saja
hehe.. aduh, aduh… kesian juga kalau begitu. Mungkin maunya DAM bereksplorasi mungkin…
wah aku mau nanya2 soal stasiun dari Bekasi menuju Karawang dong. aku mau belajar bikin cerpen soal kereta api juga nih. hehhe..
deg2an aku mau ketemu… pakbos benny arnas. takut sambutannya gak meriah diomelin saya. pengennya pinta tanda tangan juga, tapi blum punya bukunya. gimana ya?
bernas dalam rangka apa ya ke jogjanya?Lihat Selengkapnya
2 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Sungging Raga dia diundang jdi pembicara di acaranya FLP, maka itu, kita arus cari2 jdwal dia yg kosong, hehehe…
coba beni ngasi info dari bulan lalu, bisa disiapin acara bedah buku tuh.
2 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Koto Saja itu dia. aku juga mikirnya begitu. cuma FLP mungkin sudah mau bikin acara juga kali ya? Sibuk. Trus soal nama2 stasiun gimana nih? Nanti dilampirkan dicatatan kaki deh, kalau cerpennya jadi, biar gak plagiat. hehe
2 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Sungging Raga karawang bekasi aku gak hapal nih, googling dulu…tp di puisi kompas kemarin, di atasnya bung koto ada tuh yg bikin puisi jdulnya “Prupuk – Linggapura”, tu jalur paling indah di purwokerto… tp puisinya gak bagus, hehe.
2 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Budhi Setyawan
dari niatan awal waktu menulis, sebenarnya sudah ada ‘perang batin’. nah memang perlu kepekaan yang lebih dalam untuk mengambil keputusan. secara influence, tentu banyak sekali karya seni indoenesia yg terpengaruh dari karya2 di luar. terma…suk di musik juga sgt banyak. kl di musik memang lmuyn jelas, kalau ada kesamaan irama minimal 8 bar, itu adalah jiplakan/plagiat. nah di sastra mgkn blum ada aturan yg rigid & konkret.
salam kejujuran.Lihat Selengkapnya
2 jam yang lalu · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Koto Saja
mungkin dari sini kita bisa sama2 belajar. wah, dnegan begitu kita telah berhutang budi pada Dadang Ari Murtopo dong…
Tapi penjelasan dari ma sPutu Fajar Arcana yang saya sadur di punyanya mas Dedy Tri Riyadihttp://www.facebook.com/notes/d…edy-tri-riyadi/klarifikasi-kontroversi-pemuatan-cerpen-perempuan-tua-dalam-rashomon-karya-dadan/10150091857106683#!/notes/koto-saja/tentang-cerpen-perempuan-tua-dalam-rashomon-dadang-ari-murtono/10150089188639318?notif_t=note_comment
Kabarnya ini diambil dari twitter. Tapi menurut saya kompas juga harus minta maaf. karena tanpa pemuatan di korannya kasusnya tidak akan sejauh ini. Jangan cuma pengarang sajaLihat Selengkapnya
2 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Koto Saja sungging raga: kalau jadi ke jakarta inget2in ya nama stasiunnya. soalnya penting banget. mau curhat perjalanan nih. jakarta-jogja naik kereta ekonomi. hehhe….
nanti diberi catatan kaki, beneran… hahhaaha
2 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Sungging Raga nihdaftar stasiun dari bekasi ke karawang:
http://id.wikipedia.org/wiki/Jalur_KA_Jatinegara-Cikampek
hehe.
2 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Koto Saja trims bung. bagaimana catatan kakinya? hehehe.. biar enggak plagiat nih
2 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Sungging Raga hhahaha, ya gak usah catatan kaki, stasiun kan milik umum :D & ternyata, setiap stasiun menawarkan budaya setempat yg berbeda. kalo dikaji lebih dalam kayaknya menarik. apalagi stasiun2 daerah bandung sip bwt cucimata ehehe…
2 jam yang lalu · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Koto Saja wah ke bandung aku blum pernah bung. aduh, bandung ceweknya kan emnag.. gimana gituuu….. ishhh.. pengen deh.. pengeeeennnn….
2 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Han Gagas ?2 orang ini penggemar sesuatu yg mulus dan bulat2 penuh….
20 menit yang lalu · SukaTidak Suka
o
Han Gagas KALAU DICABUT DAN DINYATAKAN TIDAK DIMUAT HARUSNYA TERTULIS DI KORANNYA DOOOONGGG, BUKAN HANYA DI TWITTER
19 menit yang lalu · SukaTidak Suka
o
Sungging Raga logikanya, bakal ditulis di kompas hari minggu depan… tp g tau juga.
16 menit yang lalu · SukaTidak Suka
o
Nurel Javissyarqi ser men:)
2 menit yang lalu · Suka
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Dadang Ari Murtono. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dadang Ari Murtono. Tampilkan semua postingan
Rabu, 02 Februari 2011
Senin, 17 Januari 2011
Hantu Mei
Dadang Ari Murtono
http://www.surabayapost.co.id/
Sampai manakah batas kesetiaan itu barangkali tak ada yang tahu benar. Seperti pula tak ada yang tahu benar sejauh mana batas cinta itu. Kadangkala teramat tak masuk akal. Seperti kisah ini. Kisah tentang gadis yang memutuskan menjadi hantu. Setia menjaga rumah yang oleh orang-orang disebut rumah hantu. Setia menjaga dendam.
Semua dimulai ketika orang-orang mendadak lihai menjarah dan membakar, memperkosa dan membunuh pada suatu mei yang rusuh. Dan keluarga Mei adalah salah satu keluarga yang menjadi korban. Ibu dan kakak perempuannya diperkosa sebelum kemudian dipotong kedua puting payudaranya. Ayah dan kakak laki-lakinya dibunuh dan dibakar setelah sebelumnya dipaksa menyaksikan ibu dan kakak perempuannya diperkosa bergantian dengan brutal. Ia selamat. Mei selamat. Semata karena ayahnya memasukkannya ke dalam lemari kosong yang lama tak terpakai dab teronggok di sudut gudang. Orang-orang itu, pada akhirnya membakar pula rumahnya. Seperti tak menyisakan ada satu pun dari keluarganya yang tersisa. Semuanya mesti menjadi abu. Begitu pula tubuh ibu dan kakak perempuannya yang pingsan setelah diperlakukan seperti itu. Semua mesti menyusul jasad ayah dan kakak laki-lakinya yang telah lebih dulu diabukan hidup-hidup. Namun selalu ada keajaiban. Baru setengah rumah terbakar, hujan turun. Hujan yang ajaib. Hujan yang sasar musim. Hujan deras yang segera berhenti setelah api padam. Hujan yang seakan dikirim semata untuk menyelamatkannya. Menyelamatkannya dari jilatan api yang semestinya tak lama lagi bakal menyentuh gudang. Mengusap lemari sembunyinya. Menjadikan tulang dan daging-dagingnya bara sate yang tak sedap.
Ia ke luar dengan cara merangkak dari lemari sembunyinya. Masih 5 tahun ia waktu itu. Tak banyak yang dapat dipahaminya dari apa yang baru saja terjadi. Ia menangis. Ia menangisi mainan-mainannya yang telah terbakar. Ia menangisi ayah ibunya yang tak juga muncul padahal ia telah keras-keras memanggili mereka. Ia menangisi kakak laki-laki dan kakak perempuannya yang tak juga datang mengajaknya bermain. Ia merasa sendirian. Ia merasa kesepian.
Ia tak mengerti kenapa ayahnya memasukkannya ke lemari gudang. Ia tak mengerti kenapa tak ada satu pun keluarganya yang datang menggendongnya. Ia tak mengerti kenapa mainan-mainannya dibakar begitu rupa. Apakah ia telah berbuat nakal dan ayahnya tengah menghukumnya seperti beberapa waktu yang lalu ayahnya menghukumnya dengan tidak memberi uang saku selama 3 hari hanya karena ia malas berangkat mengaji ke masjid yang berjarak 500 meter dari rumahnya? Tapi ia merasa tak sedikit pun berbuat nakal atau melanggar perintah ayahnya beberapa hari ini.
Sungguh ia merasa tak melakukan sesuatu yang membuat ayahnya tidak suka dan menghukumnya sedemikian rupa. Ia ke masjid untuk mengaji tiap jam 3 sore hingga setengah 5. Ia juga bangun pagi terus untuk membantu ibu menyapu halaman sementara kakak laki-lakinya menyiapkan barang dagangan di toko dan kakak perempuannya membantu ibu menyiapkan sarapan. Sedang ayahnya berbelanja kekurangan-kekurangan barang dagangan ke pasar kecamatan. Setelah semuanya beres, kakak laki-lakinya berangkat sekolah. Kakaknya itu masih kelas 2 SMP. Begitu pula kakak perempuannya yang bersekolah di SMA kecamatan kelas 3. Sebulan lagi, pada akhir juni, kakaknya yang cantik, berkulit putih, bermata sipit dan rajin sholat itu akan menempuh ujian akhir kelulusan. Menurut rencana yang telah disetujui ibu ayahnya, kakaknya itu akan melanjutkan ke jurusan kedokteran universitas yang ada di luar kota. Ia tak ingat nama universitasnya sebab namanya teramat sulit bagi lidahnya yang masih cadel. Keluarganya termasuk keluarga yang berkecukupan. Jadi tak ada masalah tentang biaya besar yang dibutuhkan untuk kuliah di jurusan kedokteran. Toko ayahnya adalah toko paling besar dan lengkap di desa itu. Dan keluarga itu adalah keluarga terkaya di desa itu. Mei sendiri masih TK nol kecil.
Dengan kondisi perekonomian semacam itu, bukanlah hal yang aneh bila ia mempunyai banyak mainan. Bahkan bila dibandingkan dengan keseluruhan mainan kawan-kawannya kampung sepantarannya, mainannya masih lebih banyak. Karena itulah sepulang sekolah ia kerap mengajak kawan-kawannya bermain di rumahnya. Dakon, bongkarpasang, rumah-rumahan, monopoli, ular tangga, boneka-boneka barbie dan masih banyak lagi. Ibunya yang mirip kakak perempuannya itu, cantik dan sipit, selalu saja menyambut tamu-tamu kecil itu dengan suka cita, dengan senyum manis dan kue-kue yang tak kalah manis dengan senyum ibu itu. Begitu pula bila kakak laki-laki atau kakak perempuannya mengajak kawan sekolah mereka menginap di rumah untuk mengerjakan tugas kelompok atau sekadar bermain.
Namun perkara-perkara menyenangkan semacam itu tak bertahan lama. Ketika harga barang-barang terus menanjak dan televisi serta surat kabar terus-terusan mengabarkan bank yang dilikuidasi, demonstrasi dan kerusuhan, situasi berubah dengan cepat. Orang tua kawan-kawannya mulai melarang anak-anak mereka bermain bersamanya atau berkunjung ke rumahnya. Demikian pula kawan-kawan kakak laki-laki dan kakak perempuannya. Tak ada lagi yang menginap. Pada waktu itu ia tak mengerti kenapa kawan-kawan dan tetangga-tetangganya bertingkah aneh seperti itu, seperti mengucilkan keluarganya meskipun ia tak yakin keluarganya telah berbuat salah pada orang-orang itu.
Ia hanya ingat meskipun waktu itu tak paham maksudnya, ayahnya berkata, “satu-satunya alasan kenapa orang-orang memperlakukan kita seperti ini adalah karena kita putih dan sipit. Ayah sendiri juga tak mengerti, sejak kapan kiranya sipit dan putih itu menjadi dosa. Barangkali semenjak beberapa orang menyebarkan isu bahwa kenaikan harga barang-barang itu disebabkan oleh orang-orang semacam kita. Orang-orang yang putih dan sipit. Ayah sama sekali tak percaya dengan isu itu. Orang-orang semacam kita , orang-orang sipit dan putih itu kebanyakan memang berprofesi sebagai pedagang, mulai dagang kelontongan hingga pusat-pusat perbelanjaan raksasa. Tapi,sungguh, bukan mereka yang menaikkan harga-harga sesuka hati. Mereka juga merasa susah dengan kenaikan harga-harga itu. Dengan kondisi seperti ini. Penjualan menurun karena daya beli masyarakat juga turun. Itu berarti keuntungan juga menurun. Persis seperti toko kita itu. Ada banyak hal lain yang menyebabkan harga-harga naik dan krisis parah seperti sekarang ini. Teramat rumit. Dan sungguh itu bukan semata salah orang-orang seperti kita. Namun orang-orang terlanjur mencap kita seperti itu. Itu bukan hal yang baik. Maka tak kita mesti segera bersiap. Bersiap untuk hal paling buruk yang mungkin saja terjadi. Hal-hal yang barangkali tak pernah sanggup kita bayangkan.”
Namun semua berlangsung teramat cepat. Sebegitu cepat hingga mereka tak sempat bersiap. Televisi, radio, dan surat kabar telah tiba-tiba memberitakan hal-hal yang buruk itu. Hal-hal yang ditakutkan ayahnya itu. Perampokan, penjarahan dan pembakaran toko-toko yang dimiliki mereka yang berkulit putih dan bermata sipit seperti keluarganya. Pemerkosaan dan penyiksaan perempuan-perempuan bermata sipit dan berkulit putih seperti keluarganya. Orang-orang yang tiba-tiba dituduh pengrusak perekonomian, orang-orang yang tiba-tiba dijuluki pendatang yang tak tahu diri. Orang-orang yang diharuskan bertanggungjawab terhadap krisis yang tak jelas ini. Orang-orang yang mesti segera dihabisi, dibersihkan dari permukaan tanah negeri ini. Negeri yang sebenarnya juga tanah air, tempat lahir mereka, orang-orang bermata sipit dan berkulit putih, orang-orang seperti keluarganya itu.
Tak butuh waktu lama agar pembersihan itu merambat ke mana-mana. Menjalar ke seluruh negeri dan hinggap pula di kampung mereka. Maka begitulah, orang-orang berbondong-bondong datang ke toko ayahnya. Bukan untuk membeli atau berhutang seperti dulu, melainkan merampok dan menjarah, memperkosa dan menyiksa, membunuh dan membakar. Dan tinggallah ia sendiri yang luput.
Baginya, butuh bertahun-tahun untuk mengerti itu semua. Untuk mengerti bahwa ia kini sebatang kara. Dan selama itu pula ia tidak berani keluar dari reruntuhan sisa bakaran rumah dan toko ayahnya. Ia ketakutan dan buru-buru sembunyi tiap ada orang yang lewat di depan reruntuhan itu. Meski pun waktu itu ia tak mengerti apa dan kenapa hal buruk seperti itu terjadi, namun jauh di bawah alam sadarnya, sesuatu menggerakkan ia untuk sembunyi dan merasa ketakutan. Sesuatu itu barangkali adalah teriakan penuh marah dan umpatan orang-orang yang didengarnya samar-samar dari lemari sembunyinya dulu. Barangkali juga erangan permohonan ampun ayah dan kakak laki-lakinya atau isak kesakitan ibu dan kakak perempuannya.
Seperti biji beringin, sesuatu yang tersemai dengan tidak sengaja di kedalaman alam bawah sadarnya itu terus tumbuh. Terus tumbuh dan tak henti memekarkan tunas daun dan cabangnya. Terus tumbuh menjadi beringin raksasa dengan sulur-sulur akar dahan yang menyeramkan. Terus tumbuh seperti rambutnya yang awut-awutan. Terus tumbuh seperti kuku-kukunya yang kian panjang, tajam dan kotor. Sesuatu itu tumbuh menjadi dendam yang demikian besar seiring dengan pemahamannya tentang apa yang terjadi. Tentang apa-apa yang dalam kenangannya terlihat kian jelas. Kian terang. Kian menyakitkan. Kian membuatnya menangis.
Bertahun-tahun ia bertahan seperti itu. Dendam dan kemarahan sebenarnya yang membuat ia bertahan. Atau kesetiaan pada dendam dan kemarahan itulah. Yang jelas, itu semua pula yang mengajarkan pencernaannya untuk sanggup mencerna jatuhan daun-daun, daging tikus mentah, air selokan, bahkan batu bata dan kereweng untuk menebus lapar dahaganya.
Dan tiap malam ia menangis. Begitu lirih. Dan orang-orang yang lamat mendengar tangisan itu mulai ketakutan. Mereka berpikir tangisan itu adalah ratapan arwah keluarganya yang mereka bantai dulu. Mereka mulai beranggapan rumah itu berhantu. Dan kadang-kadang, ketika anak-anak muda yang dengan sok jagoan ingin menemui hantu itu, mendatangi sumber ratapan itu, ia dengan samar-samar menampakkan diri di kegelapan. Dan anak-anak muda itu akan segera lari terbirit-birit dan menceritakan kepada orang-orang yang lain bahwa hantu itu berambut panjang jelek awut-awutan dan berkuku hampir 30 sentimeter.
Dan orang-orang mulai menjauhi rumah itu. Menjauhi ia yang tetap setia. Bersetia menjaga warisan keluarganya. Bersetia merawat ingatan-ingatan dan kenangan-kenangan tentang keluarganya. Bersetia pada dendam dan amarah sebab diperlakukan teramat tak adil, teramat tak manusiawi.
Kesetiaan itu telah membuatnya menjadi hantu.
http://www.surabayapost.co.id/
Sampai manakah batas kesetiaan itu barangkali tak ada yang tahu benar. Seperti pula tak ada yang tahu benar sejauh mana batas cinta itu. Kadangkala teramat tak masuk akal. Seperti kisah ini. Kisah tentang gadis yang memutuskan menjadi hantu. Setia menjaga rumah yang oleh orang-orang disebut rumah hantu. Setia menjaga dendam.
Semua dimulai ketika orang-orang mendadak lihai menjarah dan membakar, memperkosa dan membunuh pada suatu mei yang rusuh. Dan keluarga Mei adalah salah satu keluarga yang menjadi korban. Ibu dan kakak perempuannya diperkosa sebelum kemudian dipotong kedua puting payudaranya. Ayah dan kakak laki-lakinya dibunuh dan dibakar setelah sebelumnya dipaksa menyaksikan ibu dan kakak perempuannya diperkosa bergantian dengan brutal. Ia selamat. Mei selamat. Semata karena ayahnya memasukkannya ke dalam lemari kosong yang lama tak terpakai dab teronggok di sudut gudang. Orang-orang itu, pada akhirnya membakar pula rumahnya. Seperti tak menyisakan ada satu pun dari keluarganya yang tersisa. Semuanya mesti menjadi abu. Begitu pula tubuh ibu dan kakak perempuannya yang pingsan setelah diperlakukan seperti itu. Semua mesti menyusul jasad ayah dan kakak laki-lakinya yang telah lebih dulu diabukan hidup-hidup. Namun selalu ada keajaiban. Baru setengah rumah terbakar, hujan turun. Hujan yang ajaib. Hujan yang sasar musim. Hujan deras yang segera berhenti setelah api padam. Hujan yang seakan dikirim semata untuk menyelamatkannya. Menyelamatkannya dari jilatan api yang semestinya tak lama lagi bakal menyentuh gudang. Mengusap lemari sembunyinya. Menjadikan tulang dan daging-dagingnya bara sate yang tak sedap.
Ia ke luar dengan cara merangkak dari lemari sembunyinya. Masih 5 tahun ia waktu itu. Tak banyak yang dapat dipahaminya dari apa yang baru saja terjadi. Ia menangis. Ia menangisi mainan-mainannya yang telah terbakar. Ia menangisi ayah ibunya yang tak juga muncul padahal ia telah keras-keras memanggili mereka. Ia menangisi kakak laki-laki dan kakak perempuannya yang tak juga datang mengajaknya bermain. Ia merasa sendirian. Ia merasa kesepian.
Ia tak mengerti kenapa ayahnya memasukkannya ke lemari gudang. Ia tak mengerti kenapa tak ada satu pun keluarganya yang datang menggendongnya. Ia tak mengerti kenapa mainan-mainannya dibakar begitu rupa. Apakah ia telah berbuat nakal dan ayahnya tengah menghukumnya seperti beberapa waktu yang lalu ayahnya menghukumnya dengan tidak memberi uang saku selama 3 hari hanya karena ia malas berangkat mengaji ke masjid yang berjarak 500 meter dari rumahnya? Tapi ia merasa tak sedikit pun berbuat nakal atau melanggar perintah ayahnya beberapa hari ini.
Sungguh ia merasa tak melakukan sesuatu yang membuat ayahnya tidak suka dan menghukumnya sedemikian rupa. Ia ke masjid untuk mengaji tiap jam 3 sore hingga setengah 5. Ia juga bangun pagi terus untuk membantu ibu menyapu halaman sementara kakak laki-lakinya menyiapkan barang dagangan di toko dan kakak perempuannya membantu ibu menyiapkan sarapan. Sedang ayahnya berbelanja kekurangan-kekurangan barang dagangan ke pasar kecamatan. Setelah semuanya beres, kakak laki-lakinya berangkat sekolah. Kakaknya itu masih kelas 2 SMP. Begitu pula kakak perempuannya yang bersekolah di SMA kecamatan kelas 3. Sebulan lagi, pada akhir juni, kakaknya yang cantik, berkulit putih, bermata sipit dan rajin sholat itu akan menempuh ujian akhir kelulusan. Menurut rencana yang telah disetujui ibu ayahnya, kakaknya itu akan melanjutkan ke jurusan kedokteran universitas yang ada di luar kota. Ia tak ingat nama universitasnya sebab namanya teramat sulit bagi lidahnya yang masih cadel. Keluarganya termasuk keluarga yang berkecukupan. Jadi tak ada masalah tentang biaya besar yang dibutuhkan untuk kuliah di jurusan kedokteran. Toko ayahnya adalah toko paling besar dan lengkap di desa itu. Dan keluarga itu adalah keluarga terkaya di desa itu. Mei sendiri masih TK nol kecil.
Dengan kondisi perekonomian semacam itu, bukanlah hal yang aneh bila ia mempunyai banyak mainan. Bahkan bila dibandingkan dengan keseluruhan mainan kawan-kawannya kampung sepantarannya, mainannya masih lebih banyak. Karena itulah sepulang sekolah ia kerap mengajak kawan-kawannya bermain di rumahnya. Dakon, bongkarpasang, rumah-rumahan, monopoli, ular tangga, boneka-boneka barbie dan masih banyak lagi. Ibunya yang mirip kakak perempuannya itu, cantik dan sipit, selalu saja menyambut tamu-tamu kecil itu dengan suka cita, dengan senyum manis dan kue-kue yang tak kalah manis dengan senyum ibu itu. Begitu pula bila kakak laki-laki atau kakak perempuannya mengajak kawan sekolah mereka menginap di rumah untuk mengerjakan tugas kelompok atau sekadar bermain.
Namun perkara-perkara menyenangkan semacam itu tak bertahan lama. Ketika harga barang-barang terus menanjak dan televisi serta surat kabar terus-terusan mengabarkan bank yang dilikuidasi, demonstrasi dan kerusuhan, situasi berubah dengan cepat. Orang tua kawan-kawannya mulai melarang anak-anak mereka bermain bersamanya atau berkunjung ke rumahnya. Demikian pula kawan-kawan kakak laki-laki dan kakak perempuannya. Tak ada lagi yang menginap. Pada waktu itu ia tak mengerti kenapa kawan-kawan dan tetangga-tetangganya bertingkah aneh seperti itu, seperti mengucilkan keluarganya meskipun ia tak yakin keluarganya telah berbuat salah pada orang-orang itu.
Ia hanya ingat meskipun waktu itu tak paham maksudnya, ayahnya berkata, “satu-satunya alasan kenapa orang-orang memperlakukan kita seperti ini adalah karena kita putih dan sipit. Ayah sendiri juga tak mengerti, sejak kapan kiranya sipit dan putih itu menjadi dosa. Barangkali semenjak beberapa orang menyebarkan isu bahwa kenaikan harga barang-barang itu disebabkan oleh orang-orang semacam kita. Orang-orang yang putih dan sipit. Ayah sama sekali tak percaya dengan isu itu. Orang-orang semacam kita , orang-orang sipit dan putih itu kebanyakan memang berprofesi sebagai pedagang, mulai dagang kelontongan hingga pusat-pusat perbelanjaan raksasa. Tapi,sungguh, bukan mereka yang menaikkan harga-harga sesuka hati. Mereka juga merasa susah dengan kenaikan harga-harga itu. Dengan kondisi seperti ini. Penjualan menurun karena daya beli masyarakat juga turun. Itu berarti keuntungan juga menurun. Persis seperti toko kita itu. Ada banyak hal lain yang menyebabkan harga-harga naik dan krisis parah seperti sekarang ini. Teramat rumit. Dan sungguh itu bukan semata salah orang-orang seperti kita. Namun orang-orang terlanjur mencap kita seperti itu. Itu bukan hal yang baik. Maka tak kita mesti segera bersiap. Bersiap untuk hal paling buruk yang mungkin saja terjadi. Hal-hal yang barangkali tak pernah sanggup kita bayangkan.”
Namun semua berlangsung teramat cepat. Sebegitu cepat hingga mereka tak sempat bersiap. Televisi, radio, dan surat kabar telah tiba-tiba memberitakan hal-hal yang buruk itu. Hal-hal yang ditakutkan ayahnya itu. Perampokan, penjarahan dan pembakaran toko-toko yang dimiliki mereka yang berkulit putih dan bermata sipit seperti keluarganya. Pemerkosaan dan penyiksaan perempuan-perempuan bermata sipit dan berkulit putih seperti keluarganya. Orang-orang yang tiba-tiba dituduh pengrusak perekonomian, orang-orang yang tiba-tiba dijuluki pendatang yang tak tahu diri. Orang-orang yang diharuskan bertanggungjawab terhadap krisis yang tak jelas ini. Orang-orang yang mesti segera dihabisi, dibersihkan dari permukaan tanah negeri ini. Negeri yang sebenarnya juga tanah air, tempat lahir mereka, orang-orang bermata sipit dan berkulit putih, orang-orang seperti keluarganya itu.
Tak butuh waktu lama agar pembersihan itu merambat ke mana-mana. Menjalar ke seluruh negeri dan hinggap pula di kampung mereka. Maka begitulah, orang-orang berbondong-bondong datang ke toko ayahnya. Bukan untuk membeli atau berhutang seperti dulu, melainkan merampok dan menjarah, memperkosa dan menyiksa, membunuh dan membakar. Dan tinggallah ia sendiri yang luput.
Baginya, butuh bertahun-tahun untuk mengerti itu semua. Untuk mengerti bahwa ia kini sebatang kara. Dan selama itu pula ia tidak berani keluar dari reruntuhan sisa bakaran rumah dan toko ayahnya. Ia ketakutan dan buru-buru sembunyi tiap ada orang yang lewat di depan reruntuhan itu. Meski pun waktu itu ia tak mengerti apa dan kenapa hal buruk seperti itu terjadi, namun jauh di bawah alam sadarnya, sesuatu menggerakkan ia untuk sembunyi dan merasa ketakutan. Sesuatu itu barangkali adalah teriakan penuh marah dan umpatan orang-orang yang didengarnya samar-samar dari lemari sembunyinya dulu. Barangkali juga erangan permohonan ampun ayah dan kakak laki-lakinya atau isak kesakitan ibu dan kakak perempuannya.
Seperti biji beringin, sesuatu yang tersemai dengan tidak sengaja di kedalaman alam bawah sadarnya itu terus tumbuh. Terus tumbuh dan tak henti memekarkan tunas daun dan cabangnya. Terus tumbuh menjadi beringin raksasa dengan sulur-sulur akar dahan yang menyeramkan. Terus tumbuh seperti rambutnya yang awut-awutan. Terus tumbuh seperti kuku-kukunya yang kian panjang, tajam dan kotor. Sesuatu itu tumbuh menjadi dendam yang demikian besar seiring dengan pemahamannya tentang apa yang terjadi. Tentang apa-apa yang dalam kenangannya terlihat kian jelas. Kian terang. Kian menyakitkan. Kian membuatnya menangis.
Bertahun-tahun ia bertahan seperti itu. Dendam dan kemarahan sebenarnya yang membuat ia bertahan. Atau kesetiaan pada dendam dan kemarahan itulah. Yang jelas, itu semua pula yang mengajarkan pencernaannya untuk sanggup mencerna jatuhan daun-daun, daging tikus mentah, air selokan, bahkan batu bata dan kereweng untuk menebus lapar dahaganya.
Dan tiap malam ia menangis. Begitu lirih. Dan orang-orang yang lamat mendengar tangisan itu mulai ketakutan. Mereka berpikir tangisan itu adalah ratapan arwah keluarganya yang mereka bantai dulu. Mereka mulai beranggapan rumah itu berhantu. Dan kadang-kadang, ketika anak-anak muda yang dengan sok jagoan ingin menemui hantu itu, mendatangi sumber ratapan itu, ia dengan samar-samar menampakkan diri di kegelapan. Dan anak-anak muda itu akan segera lari terbirit-birit dan menceritakan kepada orang-orang yang lain bahwa hantu itu berambut panjang jelek awut-awutan dan berkuku hampir 30 sentimeter.
Dan orang-orang mulai menjauhi rumah itu. Menjauhi ia yang tetap setia. Bersetia menjaga warisan keluarganya. Bersetia merawat ingatan-ingatan dan kenangan-kenangan tentang keluarganya. Bersetia pada dendam dan amarah sebab diperlakukan teramat tak adil, teramat tak manusiawi.
Kesetiaan itu telah membuatnya menjadi hantu.
Senin, 06 Desember 2010
Perempuan Tua dalam Rashomon (dan catatan penting)
Dadang Ari Murtono
http://www.lampungpost.com/
PEREMPUAN itu berjongkok di antara mayat-mayat yang hampir membusuk dalam Menara Rashomon. Perempuan yang tua, berbaju kecokelatan, bertubuh pendek dan kurus, berambut putih dan mirip seekor monyet. Dengan oncor dari potongan kayu cemara di tangan kanannya, perempuan itu memandangi wajah sesosok mayat. Mayat seorang perempuan dengan rambut panjang.
Bagaimana bisa ada tumpukan mayat dalam Menara Rashomon, baiknya kuceritakan dulu. Ini adalah Kyoto, kota yang ramai dan permai, dulu. Namun, beberapa tahun silam, kota ini didera bencana beruntun. Gempa bumi, angin puyuh, kebakaran, dan paceklik. Itulah sebab kota ini menjadi senyap dan porak-poranda. Menurut catatan kuno, patung Buddha dan peralatan upacara agama Buddha lainnya hancur, dan kayu-kayunya yang masih tertempel cat dan perada ditumpuk di pinggir jalan, dijual sebagai kayu bakar. Dengan kondisi seperti itu, perbaikan Rashomon sulit diharapkan. Rubah dan cerpelai, musang dan burung punai, juga para penjahat, memanfaatkan reruntuhannya sebagai tempat tinggal. Dan akhirnya, bukan perkara aneh membawa dan membuang mayat ke gerbang itu. Setiap senja seperti sekarang ini, seperti saat si perempuan tua itu berjongkok sambil memandang wajah mayat perempuan itu, suasana menjadi teramat menyeramkan. Tak seorang pun— kecuali perempuan tua itu, tentu saja—berani mendekat.
Perempuan itu sebatang kara, tak mempunyai keluarga. Perempuan itu tak menikah sebab tak ada lelaki yang ingin menikah dengan perempuan berwajah buruk seperti monyet. Apalagi ia bukan seorang kaya atau turunan bangsawan. Dulu, ia bekerja sebagai pelayan di rumah bangsawan Kyoto. Bertahun-tahun ia bekerja dengan baik dan tak pernah mengeluhkan gaji yang terlalu sedikit. Majikannya menyayanginya. Ia merasa bahagia. Dan sepertinya tak bakal ada alasan bagi majikannya untuk memberhentikannya. Ia sudah seperti keluarga saja dengan keluarga majikannya. Karena perlakuan seperti itulah ia tak terlalu bersedih sewaktu bapak ibunya meninggal terkena wabah penyakit.
Namun ia keliru. Kondisi Kyoto pada waktu seperti ini mengalami kemunduran yang teramat cepat. Dan majikannya yang baik itu juga merasakan dampak kemunduran itu. Majikannya memecatnya. Majikannya bilang tak mampu lagi membayar gajinya yang tak banyak dan memberinya makan. Majikannya tak sekaya dan sebaik yang ia sangka ternyata. Kemudian ia pergi dari rumah majikannya. Dan karena ia tak mempunyai sanak famili untuk menumpang tinggal, juga rumah orang tuanya yang sempit telah lama dijual untuk biaya pengobatan mereka, maka ia melantung, tidur di emper rumah penduduk atau meringkuk di relung-relung reruntuhan bangunan yang banyak terdapat di seantero Kyoto bersama pencoleng dan orang-orang buangan.
Awalnya ia kebingungan bagaimana bekerja dan mendapat uang untuk menopang kehidupannya. Ia tak punya keahlian apa-apa selain menyiapkan teh dan membikin sushi, menyapu rumah dan mencuci pakaian. Ia tahu, tak bakal ada yang mau menerimanya sebagai pelayan. Semenjak krisis berkepanjangan ini, orang-orang kaya tak lagi mencari pelayan baru, sebagian besar malah memecat pelayan mereka. Dan para istri saudagar atau bangsawan mesti belajar menanak nasi, membersihkan rumah, dan merawat kebun. Krisis berlangsung terlalu panjang dan menimbulkan akibat yang teramat hebat. Pemecatan perempuan tua itu dan pelayan-pelayan lainnya barangkali hanya sekadar riak kecil saja dari kemunduran itu.
Dalam kebingungan seperti itu, perempuan tua itu berpikir untuk menjadi pencuri. Ia kelaparan. Daripada mati kelaparan lebih baik ia mencuri. Tidak ada yang bisa dilakukannya untuk menopang hidupnya selain dengan mencuri. Namun belum sempat menjalankan pikiran itu, kesadarannya timbul. Tubuhnya sudah lemah dimakan usia, ia tak bakal bisa berlari cepat menyelamatkan diri bila terpergok pemilik rumah. Ia akan mudah tertangkap dan menjadi bulan-bulanan penduduk Kyoto. Itu akan sangat memalukan. Memang, seringkali rasa malu lebih penting dari perut yang kelaparan.
Hingga pada suatu ketika, ia sampai di Rashomon. Dengan menaiki beberapa anak tangga, ia menuju menara yang teduh untuk beristirahat. Alangkah terkejut ia dan hampir saja semaput demi dilihatnya dalam menara itu bertumpuk mayat-mayat. Sebagian mayat-mayat itu berpakaian, sebagian lagi telanjang. Sebagian mayat laki-laki dan sebagian lagi perempuan. Mayat-mayat itu berserakan dan bertumpuk di lantai, serupa boneka-boneka dari tanah. Ada yang mulutnya menganga dan tangan terentang. Sulit baginya membayangkan bahwa mayat-mayat mengerikan itu pernah hidup sebelumnya.
Perempuan tua itu nyaris berlari balik ke arah darimana ia datang, ke jalan yang tadi ia tempuh. Namun secepat ia berbalik badan, secepat itu pula terbersit pikiran untuk mendapatkan uang dari mayat-mayat itu. Barangkali di saku baju mayat-mayat yang masih berpakaian ada barang berharga yang tertinggal, barang berharga yang bisa dijual. Tapi mayat-mayat itu adalah mayat buangan. Bagaimana bisa ada barang berharga dari mayat-mayat semacam itu. Tentu orang yang membuang mayat-mayat itu telah lebih dulu mengambilnya.
Namun ia menemukan ide yang lebih cemerlang. Dulu, sewaktu masih kanak-kanak, bapaknya pernah mengajarinya membuat cemara palsu dari bahan rambut. Itu bisa dijual. Dan kini di hadapannya, tersedia banyak sekali rambut untuk membuat cemara. Rambut mayat-mayat itu. Ia tinggal mencabutinya. Kemudian ia putuskan untuk tinggal dalam menara itu, tidur bersama tumpukan mayat-mayat itu.
Senja ini, hujan mengguyur Kyoto. Perempuan tua itu tak peduli. Ia merasa nyaman dan terlindung dalam menara itu. Tadi siang seseorang melempar mayat baru ke dalam menara itu. Mayat perempuan dengan rambut panjang yang lembut, perempuan yang seperti ia kenal, atau paling tidak pernah ia jumpai, hanya saja ia tak tahu persisnya di mana dan kapan. Ia tak tahu kenapa wanita itu mati dan dibuang ke dalam menara. Tak ada bekas luka di tubuh mayat itu, karena itulah ia menyimpulkan perempuan itu meninggal karena wabah penyakit. Tapi itu tak menjadi pikiran yang penting dan perlu berlama-lama direnungkan. Ia juga tak peduli siapa yang membuang mayat perempuan itu. Yang penting baginya adalah sesegera mungkin mencabuti rambut di kepala wanita itu untuk membuat cemara. “Alangkah bagus rambut ini. Tentu bakal jadi cemara yang bagus dan berharga mahal nantinya,” bisiknya pada diri sendiri.
Setelah mengamati beberapa saat, perempuan itu menancapkan oncor kayu cemara di sela lantai papan, kemudian menaruh kedua belah tangannya pada leher mayat itu. Perempuan tua itu mulai mencabuti rambut panjang si mayat helai demi helai. Persis seekor monyet yang sedang mencari kutu di tubuh anaknya. Pada waktu itulah, ia teringat siapa perempuan yang kini menjadi mayat dan tengah ia cabuti rambutnya itu.
Ia terlalu bersemangat mencabuti rambut mayat itu sampai tak tahu bahwa sedari tadi seseorang tengah mengamatinya. Seorang Genin, samurai kelas rendah. Genin itu tiba-tiba saja melompat dari tangga. Sambil menggenggam gagang pedang, lelaki itu menghampirinya dengan langkah lebar.
Ia terkejut. Saking kagetnya, ia sampai terlonjak bagai dilontarkan dengan ketapel.
“Hei, mau ke mana kau?” hardik Genin itu seraya mencengkeram tangan perempuan itu yang bermaksud melarikan diri. Ia masih meronta-ronta dengan hebat. Namun sehebat apa pun rontaan dari tubuhnya yang lemah, tetap saja tak mampu membuatnya lolos dari cengkeraman Genin itu.
“Apa yang sedang kamu lakukan? Jawab! Kalau tidak mau mengaku….”
Genin itu melepasKan cengkeramannya seraya menghunus pedang baja putih berkilau dan mengacungkannya ke depan mata perempuan tua itu. Namun perempuan itu bungkam, kedua tangannya gemetar hebat, napasnya terengah, matanya membelalak seperti hendak melompat keluar dari kelopaknya. Genin mengerti perempuan tua itu tengah ketakutan.
“Aku bukan petugas Badan Keamanan. Aku kebetulan lewat di dekat gerbang ini. Maka aku tidak akan mengikatmu atau melakukan tindakan apa pun terhadapmu. Kau cukup mengatakan sedang melakukan apa di sini.”
“Aku mencabuti rambut…. Aku mencabuti rambut untuk membuat cemara.”
Genin itu merasa kecewa dan kaget dengan jawaban sederhana dan di luar dugaannya itu.
Perempuan tua itu melanjutkan, “Ya… memang, mencabuti rambut orang yang sudah mati bagimu mungkin merupakan kejahatan besar. Tapi mayat-mayat yang ada di sini semua pantas diperlakukan seperti itu. Perempuan yang rambutnya barusan kucabuti, biasa menjual daging ular kering yang dipotong-potong sekitar 12 cm ke barak penjaga dan mengatakannya sebagai ikan kering. Kalau tidak mati karena terserang wabah penyakit, pasti sekarang pun ia masih menjualnya. Para pengawak katanya kerap membeli, dan mengatakan rasanya enak. Perbuatannya tak dapat disalahkan, karena kalau tak melakukan itu ia akan mati kelaparan. Ia terpaksa melakukannya. Jadi, yang kulakukan pun bukan perbuatan tercela. Aku terpaksa melakukannya, karena kalau tidak, aku pun akan mati kelaparan. Maka, perempuan itu tentunya dapat pula memahami apa yang kulakukan sekarang ini.”
Genin menyarungkan pedangnya kembali. Ia mendengar ocehan perempuan tua itu dengan dingin. “Kau yakin begitu?” tanyanya dengan nada mengejek ketika perempuan itu telah selesai bicara. Lalu sambil mencengkeram leher baju perempuan itu, ia berkata geram.
“Kalau begitu, jangan salahkan aku bila aku merampokmu. Aku pun akan mati kelaparan kalau tak melakukannya.”
Dengan kasar, lelaki itu merenggut pakaian si perempuan tua, menarik tangan dan menyepak tubuh ringkih itu hingga jatuh menerpa tumpukan mayat-mayat. Dengan mengempit pakaian hasil rampasan, Genin itu menuruni tangga dan hilang di ujung jalan.
Beberapa saat kemudian, tubuh perempuan tua yang telanjang itu menggeliat di antara tumpukan mayat-mayat. Ia pandang berlama-lama tumpukan tubuh tak bernyawa itu sambil memijit-mijit bagian tubuhnya yang sakit karena ditendang dan jatuh tadi. Ia memandang jasad-jasad itu seperti tak pernah memandang sebelumnya. Tiba-tiba ia bergumam, “Alangkah damai mayat-mayat itu, alangkah tenang mereka yang tak lagi berurusan dengan perkara lapar, dengan perkara duniawi.”
Pada waktu itu, ia ingin menjadi mayat. Terlentang di tempat itu. Tak lagi berpikir apa-apa. Tak lagi merasa sedih sewaktu ada seseorang yang datang mencabut rambut atau mengiris sekerat dagingnya.
Catatan:
Rashomon sering dikaitkan dengan Rajomon, pintu gerbang pada zaman Heian (794—1185), sekarang terletak di Perfektur (daerah setingkat provinsi) Nara. Mon berarti gerbang. Ketika itu, ibu kota Jepang terletak di Nara. Rashomon juga merupakan judul cerpen Akutagawa Ryunosuke yang menjadi sumber penulisan kisah di atas.
———-
Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto. Sebagian tulisannya pernah terbit di beberapa surat kabar, majalah, dan jurnal. Sebagian yang lain menjadi bagian dari antologi bersama.
CATATAN PENTING
Ini diambil dari Catatan Sungging Raga di Facebook berikut komentar dari berbagai pihak atas catatan tersebut yang dikutip Rabu, 15 Desember 2010 pukul 14.40 WIB.
Plagiat Rashomon
oleh Sungging Raga pada 14 Desember 2010 jam 10:41
saya di sini cuma melanjutkan bukti2 plagiat Dadang Ari Murtono terhadap karya Akutagawa yg berjudul Rashomon, saya sendiri belum sempat membuat esai, tapi sebagai soft opening, saya meminta teman dekat saya yg kebetulan juga teman dekat Dadang untuk bertanya via sms, dan Dadang mengirimkan sms balasan kepada teman dekat saya itu, lalu teman saya ini lantas menerjemahkan sms Dadang yg berbahasa Jawa kedalam bahasa Indonesia kepada saya yg isinya seperti ini:
“maaf ya, aku gak peduli orang bilang apa. menyelesaikan? gimana? apa aku harus datang keorang orang seluruh indonesia satu persatu buat jelasin masalahnya? lha masalahnya apa? aku gak merasa punya masalah. terserah orang mau bilang apa. lha redakturnya aja nyantai kok, gak anggap plagiat kok. ya memang aku diam soalnya aku gak merasa ada apa-apa.”
berikut ini sedikit bukti2nya antara Cerpen Dadang di Lampung Post & buku Akutagawa yg diterbitkan KPG
oya, ternyata cuplikan utuh Rashomon versi Akutagawa bisa dilihat di google books:
http://books.google.co.id/books?id=IL2M2djhQmoC&printsec=frontcover
=====
Cerpen Dadang:
Ini adalah Kyoto, kota yang ramai dan permai, dulu. Namun, beberapa tahun silam, kota ini didera bencana beruntun. Gempa bumi, angin puyuh, kebakaran, dan paceklik. Itulah sebab kota ini menjadi senyap dan porak-poranda. Menurut catatan kuno, patung Buddha dan peralatan upacara agama Buddha lainnya hancur, dan kayu-kayunya yang masih tertempel cat dan perada ditumpuk di pinggir jalan, dijual sebagai kayu bakar. Dengan kondisi seperti itu, perbaikan Rashomon sulit diharapkan. Rubah dan cerpelai, musang dan burung punai, juga para penjahat, memanfaatkan reruntuhannya sebagai tempat tinggal. Dan akhirnya, bukan perkara aneh membawa dan membuang mayat ke gerbang itu. Setiap senja seperti sekarang ini, seperti saat si perempuan tua itu berjongkok sambil memandang wajah mayat perempuan itu, suasana menjadi teramat menyeramkan. Tak seorang pun— kecuali perempuan tua itu, tentu saja—berani mendekat.
Halaman 2 Akutagawa:
Kota Kyoto sesepi itu karena beberapa tahun silam didera bencana beruntun, mulai dari gempa bumi, angin puyuh, kebakaran, dan paceklik. Karena itu Kyoto jadi senyap dan porak-poranda. Menurut catatan kuno, patung Buddha dan peralatan upacara agama Buddha lainnya hancur, dan kayu-kayunya yang masih tertempel cat dan perada ditumpuk di pinggir jalan, dijual sebagai kayu bakar. Karena kondisi Kyoto seperti itu, perbaikan Rashomon sulit diharapkan. Rubah dan cerpelai, juga para pelonceng, memanfaatkan reruntuhan sebagai tempat tinggal. Akhirnya, lazim membawa dan membuang mayat tak dikenal ke gerbang itu. Karena bila senja telah tiba suasana menjadi menyeramkan. Tidak ada orang yang berani mendekat.
========
Cerpen Dadang:
Setelah mengamati beberapa saat, perempuan itu menancapkan oncor kayu cemara di sela lantai papan, kemudian menaruh kedua belah tangannya pada leher mayat itu. Perempuan tua itu mulai mencabuti rambut panjang si mayat helai demi helai. Persis seekor monyet yang sedang mencari kutu di tubuh anaknya.
Halaman 7 Akutagawa:
Perempuan tua itu menancapkan oncor kayu cemara di sela lantai papan, kemudian menaruh kedua belah tangannya pada leher mayat yang sejak tadi dipandanginya. Perempuan tua itu mulai mencabuti rambut panjang si mayat helai demi helai, persis seekor monyet yang sedang mencari kutu di tubuh anaknya.
=======
Cerpen Dadang:
Sambil menggenggam gagang pedang, lelaki itu menghampirinya dengan langkah lebar.
Ia terkejut. Saking kagetnya, ia sampai terlonjak bagai dilontarkan dengan ketapel.
“Hei, mau ke mana kau?” hardik Genin itu seraya mencengkeram tangan perempuan itu yang bermaksud melarikan diri.
Halaman 8:
Sambil menggenggam gagang pedang ia menghampiri nenek tua itu dengan langkah lebar.
Sekilas ia melihat ke arah Genin. Dan saking kagetnya seketika itu pula iaterlonjak bagai dilontarkan dengan ketapel.
“Hei, mau ke mana kau?” hardik Genin seraya mencengkeram tangan si nenek yang bermaksud melarikan diri,
======
Cerpen Dadang:
“Apa yang sedang kamu lakukan? Jawab! Kalau tidak mau mengaku….”Genin itu melepasKan cengkeramannya seraya menghunus pedang baja putih berkilau dan mengacungkannya ke depan mata perempuan tua itu. Namun perempuan itu bungkam, kedua tangannya gemetar hebat, napasnya terengah, matanya membelalak seperti hendak melompat keluar dari kelopaknya.
Halaman 8:
“Apa yang sedang kamu lakukan? Jawab! Kalau tidak mau mengaku….”Genin itu melepaskan cengkeramannya seraya menghunus pedang baja putih berkilau dan mengacungkannya ke depan mata si nenek. Tapi, nenek tua itu tetap bungkam, kedua tangannya gemetar hebat, napasnya terengah, matanya membelalak seperti hendak melompat keluar dari kelopaknya,
======
Cerpen Dadang:
“Aku bukan petugas Badan Keamanan. Aku kebetulan lewat di dekat gerbang ini. Maka aku tidak akan mengikatmu atau melakukan tindakan apa pun terhadapmu. Kau cukup mengatakan sedang melakukan apa di sini.”
Halaman 9:
“Aku bukan petugas Badan Keamanan. Aku kebetulan lewat di dekat gerbang ini. Maka aku tidak akan mengikatmu atau melakukan tindakan apapun terhadapmu. Kau cukup mengatakan sedang melakukan apa di sini.”
========
Terakhir, yg sudah sempat di-paste Bung Bamby:
Cerpen Dadang:
Perempuan tua itu melanjutkan, “Ya… memang, mencabuti rambut orang yang sudah mati bagimu mungkin merupakan kejahatan besar. Tapi mayat-mayat yang ada di sini semua pantas diperlakukan seperti itu. Perempua…n yang rambutnya barusan kucabuti, biasa menjual daging ular kering yang dipotong-potong sekitar 12 cm ke barak penjaga dan mengatakannya sebagai ikan kering. Kalau tidak mati karena terserang wabah penyakit, pasti sekarang pun ia masih menjualnya. Para pengawak katanya kerap membeli, dan mengatakan rasanya enak. Perbuatannya tak dapat disalahkan, karena kalau tak melakukan itu ia akan mati kelaparan. Ia terpaksa melakukannya. Jadi, yang kulakukan pun bukan perbuatan tercela. Aku terpaksa melakukannya, karena kalau tidak, aku pun akan mati kelaparan. Maka, perempuan itu tentunya dapat pula memahami apa yang kulakukan sekarang ini.”
Halaman 9 – 10:
“Ya… memang, mencabuti rambut orang yang sudah mati mungkin bagimu merupakan kejahatan besar. Tapi, mayat-mayat yang ada di sini semuanya pantas diperlakukan seperti it…u. Perempuan yang rambutnya barusan kucabuti, biasanya menjual daging ular kering yang dipotong-potong sekitar 12 sentimeter ke barak penjaga dan mengatakannnya sebagai ikan kering. Kalau tidak mati karena terserang wabah penyakit, pasti sekarang pun ia masih menjualnya. Para pengawal katanya kerap membeli, dan mengatakan rasanya enak. Perbuatannya tidak dapat disalahkan, karena kalau tidak melakukan itu ia akan mati kelaparan. Ia terpaksa melakukannya. Jadi, yang kulakukan pun bukan perbuatan tercela. Aku terpaksa melakukannya, karena kalau tidak, aku pun akan mati kelaparan. Maka, perempuan itu tentunya dapat memahami pula apa yang kulakukan sekarang ini.”
====
karena terburu-buru, cukup sekian yg bisa ditampilkan :)
SukaTidak Suka · Komentari · Bagikan
*
*
Nihayatun Ni’mah, Ahmad Muhakkam El Zein, Esha Tegar Putra dan 15 lainnya menyukai ini.
*
o
Langit Biru sip bung,bakat juga jd detektif sastra, mungkin dadang bermasalah dg kejujuran
Senin pukul 21:49 · SukaTidak Suka
o
Bamby Cahyadi
Pendapatku begini, mungkin banyak di antara kita yang ingin cepat mendapat nama (popularitas) dalam dunia sastra (cerpen). Sehingga berbagai upaya dilakukan, misalnya seperti yang saudara Dadang lakukan. Memang ada keterangan dalam cerpen D…adang di Lampung Post. Tetapi, Dadang mengutip semua isi cerpen dengan membolak-balik paragrafnya.
Pada cerpen Dadang, diceritakan perempuan tua itu yang ingin menjarah mayat. Sementara dalam cerpen aslinya, Genin tersebut yang berpikiran seperti itu (menjarah mayat).
Jadi dadang hanya mengubah sudut pandang, tanpa mengembangkan cerita Rashomon tersebut. Sehingga, wajarlah kalau karya tersebut, adalah karya PLAGIAT.
Kadang popularitas itu mebuat kita BODOH. Dan, kadang juga teman-teman kita sendiri menjerumuskan ke dalam kebodohan tersebut. (Maaf, saya tidak bisa menyebut nama lembaga tersebut di sini). Semoga tulisan Raga, menjadi WARNING bagi para pencari popularitas instan.
“Katakan TIDAK! Untuk karya PLAGIAT!”Lihat Selengkapnya
Senin pukul 21:59 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Esha Tegar Putra waw
Senin pukul 22:00 · SukaTidak Suka
o
Sungging Raga yg aku sesalkan, dadang nggak mau mengakui, itu aja.
Senin pukul 22:02 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Esha Tegar Putra laporin ke KPK!
Senin pukul 22:04 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Bamby Cahyadi Jadi, berita bahwa dia menjadi murung, tidak makan dan menyendiri dan menarik diri dari berbagai acara sastra, hanyalah sandiwara belaka? Sungguh aku sesalkan. Semoga secara terbuka ia mengakuinya, selesai. Karena tidak ada pengadilan kasus karya plagiat.
Senin pukul 22:04 · SukaTidak Suka
o
Khrisna Pabichara Kejujuran bukanlah sesuatu yang sulit, selama kita memiliki kebesaran hati. Hanya saja, semangat aku bisa menenggelamkan hasrat berjujur itu. Andai saja Mas Dadang mau berbesar hati, tentulah akan lebih melegakan. Ihwal mendatangi satu demi satu penyuka sastra di Indonesia–atau di Jepang, negeri asal kisah ini–taklah perlu dilakukan. Cukup lewat Lampung Post.
Senin pukul 22:04 melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat…
o
T Agus Khaidir Hal lain yang tak kalah mengherankan adalah, kenapa cerpen ini bisa lolos seleksi redaksi Lampung Post yang biasanya ketat?
Senin pukul 22:12 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Khrisna Pabichara
Perihal redaktur yang tenang-tenang saja dn tak mencap ini hasil plagiat, mestinya Mas Dadang menyadari bahwa redaktur memiliki keterbatasan untuk memeriksa kesahihan sebuah karya.
Sekadar berbagi kabar, ketika cerpen saya disabot pengarang …lain di media yang sama, sayalah yang menghubungi redakturnya. Alhasil, sang penyabot diundang redaktur untuk menjelaskan asal-muasal cerita anggitannya. Jadi, apakah perlu Akutagawa sendiri yang menghubungi redaktur sastra Lampung Post? Mustahil, kan?Lihat Selengkapnya
Senin pukul 22:21 melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Muhammad Anhar Husyam
Terkadang memang bisa terbawa, ya gaya,kata atau penggalan penulis yang di-idolakan. tapi nggak separah ini!!
semoga cukup sampai di sini.
(skdar mengingatkan. Cerpen bg khrisna pernah diplagiat juga:
repost: http://blogkoma.blogspot.com/201…0/03/amang-oi.html)Lihat Selengkapnya
Senin pukul 22:23 · SukaTidak Suka
o
Komunitas Ketik astaga…
Senin pukul 22:24 · SukaTidak Suka
o
Sungging Raga mungkin dadang menganggap kita-kita sebagai pembaca ini gak punya hak sama sekali untuk menggugat… mngkin bagi dia, mekanisme kehidupan cerpen koran cuma berawal dari ngirim email, trus bersaing dg karya lain, trus berakhir di persetujuan redaktur utk memuatnya.
Senin pukul 22:32 · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat…
o
Khrisna Pabichara
?@Raga: Kalau cuma sebatas itu, dalam seminggu saya bisa mengirim 5-10 cerpen ke media berbeda. Hahaha. Persoalannya adalah kejujuran dan keberanian mengakui “kesalahan”. Jika di batas itu saja kita belum lolos, bagaimana kita berharap memb…erikan sesuatu yang berharga bagi pembaca? Kasihan sekali jika kita martabat kepengarangan demi sebatas ketenaran.
Saya sangat berharap ada seseorang atau lembaga tertentu yang mau mengetuk hati Mas Dadang agar berkenan berbesar hati untuk tak melukai penyuka sastra.Lihat Selengkapnya
Senin pukul 22:46 melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka
o
Khrisna Pabichara Dan, tentu saja, kepada Redaktur Sastra Lampung Post agar memberikan peringatan keras agar Mas Dadang tidak melakukan hal sama di cerpen-cerpen sesudahnya.
Senin pukul 22:50 melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka
o
Langit Biru jika masalahnya kejujuran dalam berkarya,ini fundamental,jadi tertarik menelisik karya dadang sebelumnya
Senin pukul 22:56 · SukaTidak Suka
o
T Agus Khaidir
Sekali lagi komentarku harus bernada heran. Kali ini untuk oknum bernama Dadang. Taruhlah dia memang berniat untuk plagiat, tapi kenapalah yang diplagiati itu justru Rashomon, karya Akutagawa yang sudah sangat masyhur? Kenapa tidak karya la…in saja yang “tidak terlalu terkenal”?
Tapi dia memang memplagiat Rashomon dan aku curiga jangan-jangan ini orang menganggap tak ada yang tahu bahwa cerpen itu ia plagiat – lantaran ditulis orang Jepang sekian puluh tahun lalu. Atau jangan-jangan dia pakai semacam ilmu hitam sehingga Rashomon tulisannya yang hampir tak berbeda dengan Rashomon asli itu bisa lolos dari seleksi awal redaksi, menyingkirkan barangkali puluhan cerpen lain dan dimuat di media sekelas Lampung Post.
Aku tiba-tiba membayangkan, dalam minggu-minggu ke depan akan muncul cerpen karya Sungging Raga, Bamby Cahyadi, Khrisna Pabichara, atau bahkan Seno Gumira Ajidarma, Putu Wijaya dan Budi Darma dengan nama Dadang Ari Murtono dan dimuat di Kompas, Koran Tempo, dan Suara Merdeka, karena Myrna, Nirwan Dewanto dan Triyanto Triwikromo merasa terpesona sebab sudah kena guna-guna. hahahahaha…Lihat Selengkapnya
Senin pukul 23:03 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Khrisna Pabichara ?@Agus K: Yang pasti, Bang, cerpen Mas Dadang di Kompas memiliki kemiripan dengan cerpen Ratih Kumala. Saya sedang membaca ulang cerpen Mas Dadang yang dimuat di Republika. Jangan-jangan…
Senin pukul 23:13 melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka
o
Khrisna Pabichara ?@Anhar H: Jadi teringat kasus lama, Bang. Saya sampai mencari nomor kontak “sang penyabot” agar bisa klarifikasi langsung. Bukannya meminta maaf, yang bersangkutan malah meminta saya untuk melindungi sesama penulis. Hahaha. Miris!
Senin pukul 23:19 melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka
o
Simalakama Rindu saya hanya ingin agar Dadang segera mermberikan keterangan. semoga cepat selesai.
Kemarin jam 4:43 · SukaTidak Suka
o
Imam Wahyudi
Saya hanya mau sedikit urun komentar. Diakui atau tidak, gaya dan penulisan para cerpenis, khususnya yang baru berkembang, kebanyakan memang terpengaruh oleh penulis yang kebetulan sedang menjadi anutannya. Tak jarang, cerita yang mereka tu…lis
hampir mirip dengan pengembangan disana-sini. Saya rasa itu tak masalah, asal tidak sama persis benar dengan cerpen acuannya. Meminjam istilah Agus Noor, diberi cita rasa baru yang berbeda. Soal cerpen Mas Dadang itu, saya berbaik sangka saja, mungkin ada yang ingin ditujunya, entah apa, dengan membuat cerpen semacam itu. Tetapi diatas semua itu, memang seyogianyalah mas Dadang memberikan sekedar penjelasan tentang tulisannya itu….Lihat Selengkapnya
Kemarin jam 5:47 · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat…
o
Endah Sulwesi hari gini kok masih nyontek sih? Anak nakal! *pukul pantat Dadang* :D
Kemarin jam 8:21 · SukaTidak Suka
o
Han Gagas Sungging, di awal kau blg melanjutkan berarti ada yg sebelum ini. Wah aku terlewatkan neh. Mas bamby nt di inbox ke saya ya lembaga itu. Oya ada ketrangan di lampung pos itu apaya? Dadang oh dadang, aneh2 sj org ini. Kok redaktur lampung gak kau tandai ngging?
Kemarin jam 8:28 melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka
o
Lan Fang coba tlg di tag ke wall ku ya…,
Kemarin jam 10:16 · SukaTidak Suka
o
Lan Fang
semua penulis kebanyakan “pasti” terinspirasi dengan tulisan2 yg pernah dibaca sebelumnya. “pasti” juga “mencuri” untuk eksplorasi. sebab untuk menjadi penulis itu harus memiliki “kecerdasan di atas rata2″ harus bisa menjadi “pencuri” yg ce…rdas.
jadi plagiator adalah penulis yg dengan sadar menunjukkan kedunguannya sendiri.
akh, gol bunuh diri!Lihat Selengkapnya
Kemarin jam 11:44 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Sungging Raga
tp kan inspirasi lain dg plagiasi,, kadang memang sering ditemukan bbrapa frase yg sudah dipakai seorg penulis tp juga ada di karya penulis lain, atau juga karya2nya bernafas sama..
kalo dadang ini udah trbukti masuk kategori plagiasi nih. b…ahkan karya2nya yg lain pun mulai dicurigai, terutama yg di Kompas (Lelaki Sepi) yg mirip cerpennya Ratih Kumala. cuma kalo kata mas khrisna, di kompas itu Dadang bermain lebih cantik (& cerdas), hehe. di sini kacaubalau.Lihat Selengkapnya
Kemarin jam 11:50 · SukaTidak Suka · 1 orangKhrisna Pabichara menyukai ini.
o
Lan Fang saya tidak khusus menujukan pada dadang seorang. tapi harapan saya, semua yg berkaitan dengan tulis menulis bisa mengambil hikmah & bisa belajar dari urusan ini.
Kemarin jam 11:55 · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat…
o
Aida Radar Wew!
ck…ck…ck…
Kemarin jam 13:12 · SukaTidak Suka
o
Benny Arnas plagiat! apa kata dunia? *kok dadang tak kau tag, Ga?
Kemarin jam 14:03 · SukaTidak Suka
o
Sungging Raga aku gak jdi friend-nya dadang sih.. yg pasti sblum mnulis ini, aku udah brusaha mendapatkan pnjelasannya scara langsung. hehe. tp di acara sastra trakhir yg mncantumkan namanya sbg pmbicara, trnyata dia pun gak dtg.
Kemarin jam 14:08 · SukaTidak Suka
o
Benny Arnas HALOOOO, SEMUAAA!! KITA NGE-ADD DADANMG YUKKKKK! :-)
Kemarin jam 14:17 · SukaTidak Suka
o
Imam Wahyudi Nah, mungkin yang akan saya pertanyakan disini sebagai orang yang baru belajar sastra, kadang seorang ‘pencuri cerdas’ pun, sengaja atau tidak sengaja, akan menemui masa-masa sial terjatuh menjadi pencuri yang ‘tidak cerdas’. Bagaimana itu ? Ambil contohlah cerpen terakhir SGA di Kompas itu, yang sangat mirip karya Pablo Coelho, meski di akhir cerpen disebutkan bahwa cerpen tersebut mengambil inspirasi dari beberapa cerita yang berkembang di masyarakat. Plagiasi atau sekedar terinspirasi oleh karya lain itu ?
Kemarin jam 14:24 · SukaTidak Suka
o
Aida Radar Idem dengan K’Imam, plagiasi atau terinspirasi?
Kemarin jam 14:26 · SukaTidak Suka
o
Sungging Raga apakah paragraf2 di seno ada yg sama dg coelho? apakah seno melakukan copy paste sprti yg kubuktikan di atas itu?
bedakan antara eksplorasi / inspirasi dg plagiasi.
Kemarin jam 14:30 · SukaTidak Suka
o
Aida Radar Oh begitu ya… ^_^
Kemarin jam 14:31 · SukaTidak Suka
o
Lan Fang kecerdasan bukan untuk membuat semua hal tanpa kesalahan, namun untuk mempercepat amatan bagaimana membuatnya (suatu karya) menjadi (lebih) bagus.
(bertolt brecht, pujangga & dramawan Jerman, 1898-1956)
Kemarin jam 14:32 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Imam Wahyudi Intinya, mungkin begini. Bolehlah kita mengutip bagian dari karya orang lain, asal (mungkin) diberi catatan kaki, bahwa kalimat ini diambil dari karya ini atau itu, umpamanya. Dan dilihat secara utuh (keseluruhan) karya itu tidak sama persis dengan yang menjadi inspirasinya. Begitu pa ya…hehe
23 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Langit Biru
hal-hal teknis dan teoretis mengenai eksplorasi, inspirasi, dan plagiasi selalu bisa diperdebatkan, termasuk dalam hal ini cerpen SGA.
semua berpulang pada niatan pengarang (kejujuran).
sesorang bisa saja tidak jujur (bohong) pada orang la…in tapi dia tdk akan bisa berbohong (tidak jujur) pada dirinya sendiri.
ada kepuasan batin yang tdk bisa dibeli dg materi dan popularitas ketika menghasilkan karya sastra. dan ini saya rasa tidak akan didapatkan oleh seorang plagiat.Lihat Selengkapnya
23 jam yang lalu · SukaTidak Suka · 3 orangMemuat…
o
Han Gagas Kalo kasus dadang neh plagiat wong hampir tiap katanya sama plek gt. Kalo SGA kan tdk, terinspirasi. Itu kan bedane jelas. Aneh2 aja neh teman2. Kayak haram dan halal dlm islam. Ha3. Bangkai,darah, siapa muslim yg lurus mengatakannya sbg halal? Bukan abu2 kawan. Kalo tiap kata hmpir sama apalagi ide&latar jg sejurus itu sdh jls masuk mana. Ha3. Ada org yg menghamba pd fana, semu. Ada org yg benci pd itu. Huahaha3. Glegekk.
22 jam yang lalu melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka
o
Han Gagas Kok aku dakwah, ha3. Huaha3x. Gelekgek. Trnyt ak dah agak lama hub fb ma dadang jauh sblm urusan buruk ini tp ga prnah kontak2. Kalo kau bc, dang, wah gol bunuh diri, betul kak lf. Kdg kt mmg brdosa, mns, lupa, mari brusaha trs spy jd mns yg baik. Khilaf, alpa, mari kt perbaiki. Ngomong apa aku ini. He3. Menertawai keseriusan ki namane.
22 jam yang lalu melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka
o
Han Gagas kt tmnku yg dl cerpenis hebat, sga yg di kompas kmrn sdkt abu2. Ha3
21 jam yang lalu melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka
o
Khrisna Pabichara
Sepakat dengan Mbak Lan, kejujuran adalah sesuatu yang niscaya dimiliki oleh siapa saja yang berkaul jadi pengarang. Boleh jadi karya kita dianggap hebat oleh khalayak pembaca, tetapi karena proses penciptaannya tidak jujur–semisal meminda…hkan karya orang lain dan mengakuinya sebagai karya sendiri–tidak akan menemukan kepuasan batin yang sama ketika kita menghasilkan satu karya dengan jujur. Istilah Bang Han, lebih menghasilkan karya yang biasa tetapi murni karya sendiri.
Kembali ke kasus Mas Dadang, dari klarifikasi yang disampaikannya lewat sms, menunjukkan ketidakseriusan Mas Dadang dalam membabarkan “ada apa dengan karyanya” dan “mengapa pembaca terus bertanya”. Secara implisit, ini menunjukkan arogansi Mas Dadang, yang sekaligus juga menunjukkan ketidakbesaran hatinya. Tentu saja, ini dengan asumsi bahwa Mas Dadang berkeras tidak ada masalah karena cerpen “palsu”-nya ini.
Karena itu, tepatlah kiranya jika ada pihak yang berkenan menyampaikan atau mengunjukkan perbincangan ini ke hadapan Mas Dadang. Dan, bagi kita semua, tentulah banyak hikmah yang bisa kita petik dari kasus ini. Salam takzim buat semuanya.Lihat Selengkapnya
16 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Rama Dira mentalitas pengen dapat hasil tanpa kerja keras kayak gini nih yang mesti diberangus. masa buat cerpen sekedar kopas aja. hah…macam macam saja si dadang ini..
7 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Kartolo Kempol Geyong-Geyong setelah saya baca di kereta, kata, bahkan kalimat karya Bung Dadang itu sama persis. Dalam satu paragraf hanya beberapa kata dan kalimat yang diubah. Sebagai penulis, setidaknya Bung Dadang lebih beretika, dengan menanggapi reaksi teman-teman. Kalau memang MALAS atau KESULITAN mengeksplorasi, jujur lah sama teman-teman. Toh itu bagian dari proses kreatif, kecuali kalau terburu-buru tenar. Tidak usah begitu saja sudah tenar kok. Salam
6 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Munajat Sunyi kasihan teman-teman yang sudah berusaha mengirim cerpen ke lampung post dengan karya original, tapi yang dimuat malah karya plagiasi. ckckckckckckck…
4 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Han Gagas
betul mas khrisna tuh, mending nulis banyak cerpen jelek2 drpd palsu, huahahahah, itu karyaku, asli lho. mentang2 namaku disebut jd mbetulin dia hahaha, sopan santun, hehehe.
betul juga mas munajat sunyi neh, gara2 dadang neh cerpenku gak di…muat lampung post utk ke2 kali, jan-jan, nasib-nasib.Lihat Selengkapnya
sekitar sejam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Sungging Raga ?12 desember cerpen dadang ari murtono di Suara Pembaruan, cerpen yg sama dg di Nova edisi mingu sblumnya.
sekitar sejam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Kartolo Kempol Geyong-Geyong mojleng…
sekitar sejam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Han Gagas waduh alamak, kalau begitu saya dulu kalau mau ya bisa, wong cerpenku di lampung post itu juga dimaui nova, tapi aku tarik dari nova karena lampung post mau muat, alamak, dasar neh orang.
sekitar sejam yang lalu · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Han Gagas hahahaha, aku girang neh, rama dira kasih jempol, barti nasib baik neh
sekitar sejam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Rama Dira ?@ Han : sepakat. aku juga melakukan hal yang sama. toh kalaupun ndalalah termuat di dua media, itu bukan kesalahanku. tidak ada pemberitahuan dari redaksi yg menjadi penyebabnya sehingga tidak sempat ditarik.
sekitar sejam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Han Gagas betul rama dira, aduh alamak kok kita cocok betul ya, aduh sayang kau jauh, andai dekat aku sudah tempelin kau. kayak ma sungging neh, cocok mak plek.
sekitar sejam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Sungging Raga rama lain tuh, dia ngirim ke dua media nggak di waktu yg sama, menggilir dulu,, trus kbtulan salah satu media lama bgt memuatnya… kalo yg DAM ini tematik. kjadian bulan lalu.
sekitar sejam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Han Gagas cocok tuh maksudku pikiran2ne, wah sungging ki baca2 yg atas doooooooong
sekitar sejam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Rama Dira
ya. kalau sampai kejadian dimuat bareng di dua media (padahal kita tau) itu sama saja merampas rejeki teman penulis yg lain. cerpenku pernah hampir dimuat di nova & femina dalam waktu yg berdekatan. untung redaktur femina telpon. akhirnya a…ku tarik. ada sih cerpenku yg sebelumnya dimuat media lokal kemudian kukirimkan ke media nasional dan kemudian dimuat. itu terjadi karena honorku nda dibayar2 dan waktu nagih seolah2 aku melakukan kesalahan dan dipimpong sana sini. akhirnya aku nekat menariknya dan menyatakannya tak pernah dimuat di situ.Lihat Selengkapnya
sekitar sejam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Han Gagas ooo, gitu rama dira, okelah, aku belum pernah seh dimuat bareng, kalau pernah mungkin nanti salahku, karena kadang lewat tiga minggu aku dah pindah tuh cerpen, kenapa ya para media itu gak kasih batas waktu yg jelas gitu, sebagian memang sudah tapi gak semua.
sekitar sejam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Han Gagas mas rama dira, media lokal apa tuh yg suka ping pong?inisial ajah
sekitar sejam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Rama Dira he..he.. ada ajah..tapi kayaknya setelah kejadian aku buat statement penarikan di fb itu, medianya sekarang nda kayak gitu lagi kok. honor sudah dibayar dengan baik menurut info yg kudapat dari teman sesama penulis.
sekitar sejam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Han Gagas alhamdulillah dah insyaf tuh media, hahaha
sekitar sejam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Sungging Raga surabaya post.
sekitar sejam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Rama Dira ha..ha..ha.. akhirnya Raga membocorkannya. Ya udah deh
sekitar sejam yang lalu · Suka
Sumber: http://ceritaujungpulau.blogspot.com/search/label/Dadang%20Ari%20Murtono
http://www.lampungpost.com/
PEREMPUAN itu berjongkok di antara mayat-mayat yang hampir membusuk dalam Menara Rashomon. Perempuan yang tua, berbaju kecokelatan, bertubuh pendek dan kurus, berambut putih dan mirip seekor monyet. Dengan oncor dari potongan kayu cemara di tangan kanannya, perempuan itu memandangi wajah sesosok mayat. Mayat seorang perempuan dengan rambut panjang.
Bagaimana bisa ada tumpukan mayat dalam Menara Rashomon, baiknya kuceritakan dulu. Ini adalah Kyoto, kota yang ramai dan permai, dulu. Namun, beberapa tahun silam, kota ini didera bencana beruntun. Gempa bumi, angin puyuh, kebakaran, dan paceklik. Itulah sebab kota ini menjadi senyap dan porak-poranda. Menurut catatan kuno, patung Buddha dan peralatan upacara agama Buddha lainnya hancur, dan kayu-kayunya yang masih tertempel cat dan perada ditumpuk di pinggir jalan, dijual sebagai kayu bakar. Dengan kondisi seperti itu, perbaikan Rashomon sulit diharapkan. Rubah dan cerpelai, musang dan burung punai, juga para penjahat, memanfaatkan reruntuhannya sebagai tempat tinggal. Dan akhirnya, bukan perkara aneh membawa dan membuang mayat ke gerbang itu. Setiap senja seperti sekarang ini, seperti saat si perempuan tua itu berjongkok sambil memandang wajah mayat perempuan itu, suasana menjadi teramat menyeramkan. Tak seorang pun— kecuali perempuan tua itu, tentu saja—berani mendekat.
Perempuan itu sebatang kara, tak mempunyai keluarga. Perempuan itu tak menikah sebab tak ada lelaki yang ingin menikah dengan perempuan berwajah buruk seperti monyet. Apalagi ia bukan seorang kaya atau turunan bangsawan. Dulu, ia bekerja sebagai pelayan di rumah bangsawan Kyoto. Bertahun-tahun ia bekerja dengan baik dan tak pernah mengeluhkan gaji yang terlalu sedikit. Majikannya menyayanginya. Ia merasa bahagia. Dan sepertinya tak bakal ada alasan bagi majikannya untuk memberhentikannya. Ia sudah seperti keluarga saja dengan keluarga majikannya. Karena perlakuan seperti itulah ia tak terlalu bersedih sewaktu bapak ibunya meninggal terkena wabah penyakit.
Namun ia keliru. Kondisi Kyoto pada waktu seperti ini mengalami kemunduran yang teramat cepat. Dan majikannya yang baik itu juga merasakan dampak kemunduran itu. Majikannya memecatnya. Majikannya bilang tak mampu lagi membayar gajinya yang tak banyak dan memberinya makan. Majikannya tak sekaya dan sebaik yang ia sangka ternyata. Kemudian ia pergi dari rumah majikannya. Dan karena ia tak mempunyai sanak famili untuk menumpang tinggal, juga rumah orang tuanya yang sempit telah lama dijual untuk biaya pengobatan mereka, maka ia melantung, tidur di emper rumah penduduk atau meringkuk di relung-relung reruntuhan bangunan yang banyak terdapat di seantero Kyoto bersama pencoleng dan orang-orang buangan.
Awalnya ia kebingungan bagaimana bekerja dan mendapat uang untuk menopang kehidupannya. Ia tak punya keahlian apa-apa selain menyiapkan teh dan membikin sushi, menyapu rumah dan mencuci pakaian. Ia tahu, tak bakal ada yang mau menerimanya sebagai pelayan. Semenjak krisis berkepanjangan ini, orang-orang kaya tak lagi mencari pelayan baru, sebagian besar malah memecat pelayan mereka. Dan para istri saudagar atau bangsawan mesti belajar menanak nasi, membersihkan rumah, dan merawat kebun. Krisis berlangsung terlalu panjang dan menimbulkan akibat yang teramat hebat. Pemecatan perempuan tua itu dan pelayan-pelayan lainnya barangkali hanya sekadar riak kecil saja dari kemunduran itu.
Dalam kebingungan seperti itu, perempuan tua itu berpikir untuk menjadi pencuri. Ia kelaparan. Daripada mati kelaparan lebih baik ia mencuri. Tidak ada yang bisa dilakukannya untuk menopang hidupnya selain dengan mencuri. Namun belum sempat menjalankan pikiran itu, kesadarannya timbul. Tubuhnya sudah lemah dimakan usia, ia tak bakal bisa berlari cepat menyelamatkan diri bila terpergok pemilik rumah. Ia akan mudah tertangkap dan menjadi bulan-bulanan penduduk Kyoto. Itu akan sangat memalukan. Memang, seringkali rasa malu lebih penting dari perut yang kelaparan.
Hingga pada suatu ketika, ia sampai di Rashomon. Dengan menaiki beberapa anak tangga, ia menuju menara yang teduh untuk beristirahat. Alangkah terkejut ia dan hampir saja semaput demi dilihatnya dalam menara itu bertumpuk mayat-mayat. Sebagian mayat-mayat itu berpakaian, sebagian lagi telanjang. Sebagian mayat laki-laki dan sebagian lagi perempuan. Mayat-mayat itu berserakan dan bertumpuk di lantai, serupa boneka-boneka dari tanah. Ada yang mulutnya menganga dan tangan terentang. Sulit baginya membayangkan bahwa mayat-mayat mengerikan itu pernah hidup sebelumnya.
Perempuan tua itu nyaris berlari balik ke arah darimana ia datang, ke jalan yang tadi ia tempuh. Namun secepat ia berbalik badan, secepat itu pula terbersit pikiran untuk mendapatkan uang dari mayat-mayat itu. Barangkali di saku baju mayat-mayat yang masih berpakaian ada barang berharga yang tertinggal, barang berharga yang bisa dijual. Tapi mayat-mayat itu adalah mayat buangan. Bagaimana bisa ada barang berharga dari mayat-mayat semacam itu. Tentu orang yang membuang mayat-mayat itu telah lebih dulu mengambilnya.
Namun ia menemukan ide yang lebih cemerlang. Dulu, sewaktu masih kanak-kanak, bapaknya pernah mengajarinya membuat cemara palsu dari bahan rambut. Itu bisa dijual. Dan kini di hadapannya, tersedia banyak sekali rambut untuk membuat cemara. Rambut mayat-mayat itu. Ia tinggal mencabutinya. Kemudian ia putuskan untuk tinggal dalam menara itu, tidur bersama tumpukan mayat-mayat itu.
Senja ini, hujan mengguyur Kyoto. Perempuan tua itu tak peduli. Ia merasa nyaman dan terlindung dalam menara itu. Tadi siang seseorang melempar mayat baru ke dalam menara itu. Mayat perempuan dengan rambut panjang yang lembut, perempuan yang seperti ia kenal, atau paling tidak pernah ia jumpai, hanya saja ia tak tahu persisnya di mana dan kapan. Ia tak tahu kenapa wanita itu mati dan dibuang ke dalam menara. Tak ada bekas luka di tubuh mayat itu, karena itulah ia menyimpulkan perempuan itu meninggal karena wabah penyakit. Tapi itu tak menjadi pikiran yang penting dan perlu berlama-lama direnungkan. Ia juga tak peduli siapa yang membuang mayat perempuan itu. Yang penting baginya adalah sesegera mungkin mencabuti rambut di kepala wanita itu untuk membuat cemara. “Alangkah bagus rambut ini. Tentu bakal jadi cemara yang bagus dan berharga mahal nantinya,” bisiknya pada diri sendiri.
Setelah mengamati beberapa saat, perempuan itu menancapkan oncor kayu cemara di sela lantai papan, kemudian menaruh kedua belah tangannya pada leher mayat itu. Perempuan tua itu mulai mencabuti rambut panjang si mayat helai demi helai. Persis seekor monyet yang sedang mencari kutu di tubuh anaknya. Pada waktu itulah, ia teringat siapa perempuan yang kini menjadi mayat dan tengah ia cabuti rambutnya itu.
Ia terlalu bersemangat mencabuti rambut mayat itu sampai tak tahu bahwa sedari tadi seseorang tengah mengamatinya. Seorang Genin, samurai kelas rendah. Genin itu tiba-tiba saja melompat dari tangga. Sambil menggenggam gagang pedang, lelaki itu menghampirinya dengan langkah lebar.
Ia terkejut. Saking kagetnya, ia sampai terlonjak bagai dilontarkan dengan ketapel.
“Hei, mau ke mana kau?” hardik Genin itu seraya mencengkeram tangan perempuan itu yang bermaksud melarikan diri. Ia masih meronta-ronta dengan hebat. Namun sehebat apa pun rontaan dari tubuhnya yang lemah, tetap saja tak mampu membuatnya lolos dari cengkeraman Genin itu.
“Apa yang sedang kamu lakukan? Jawab! Kalau tidak mau mengaku….”
Genin itu melepasKan cengkeramannya seraya menghunus pedang baja putih berkilau dan mengacungkannya ke depan mata perempuan tua itu. Namun perempuan itu bungkam, kedua tangannya gemetar hebat, napasnya terengah, matanya membelalak seperti hendak melompat keluar dari kelopaknya. Genin mengerti perempuan tua itu tengah ketakutan.
“Aku bukan petugas Badan Keamanan. Aku kebetulan lewat di dekat gerbang ini. Maka aku tidak akan mengikatmu atau melakukan tindakan apa pun terhadapmu. Kau cukup mengatakan sedang melakukan apa di sini.”
“Aku mencabuti rambut…. Aku mencabuti rambut untuk membuat cemara.”
Genin itu merasa kecewa dan kaget dengan jawaban sederhana dan di luar dugaannya itu.
Perempuan tua itu melanjutkan, “Ya… memang, mencabuti rambut orang yang sudah mati bagimu mungkin merupakan kejahatan besar. Tapi mayat-mayat yang ada di sini semua pantas diperlakukan seperti itu. Perempuan yang rambutnya barusan kucabuti, biasa menjual daging ular kering yang dipotong-potong sekitar 12 cm ke barak penjaga dan mengatakannya sebagai ikan kering. Kalau tidak mati karena terserang wabah penyakit, pasti sekarang pun ia masih menjualnya. Para pengawak katanya kerap membeli, dan mengatakan rasanya enak. Perbuatannya tak dapat disalahkan, karena kalau tak melakukan itu ia akan mati kelaparan. Ia terpaksa melakukannya. Jadi, yang kulakukan pun bukan perbuatan tercela. Aku terpaksa melakukannya, karena kalau tidak, aku pun akan mati kelaparan. Maka, perempuan itu tentunya dapat pula memahami apa yang kulakukan sekarang ini.”
Genin menyarungkan pedangnya kembali. Ia mendengar ocehan perempuan tua itu dengan dingin. “Kau yakin begitu?” tanyanya dengan nada mengejek ketika perempuan itu telah selesai bicara. Lalu sambil mencengkeram leher baju perempuan itu, ia berkata geram.
“Kalau begitu, jangan salahkan aku bila aku merampokmu. Aku pun akan mati kelaparan kalau tak melakukannya.”
Dengan kasar, lelaki itu merenggut pakaian si perempuan tua, menarik tangan dan menyepak tubuh ringkih itu hingga jatuh menerpa tumpukan mayat-mayat. Dengan mengempit pakaian hasil rampasan, Genin itu menuruni tangga dan hilang di ujung jalan.
Beberapa saat kemudian, tubuh perempuan tua yang telanjang itu menggeliat di antara tumpukan mayat-mayat. Ia pandang berlama-lama tumpukan tubuh tak bernyawa itu sambil memijit-mijit bagian tubuhnya yang sakit karena ditendang dan jatuh tadi. Ia memandang jasad-jasad itu seperti tak pernah memandang sebelumnya. Tiba-tiba ia bergumam, “Alangkah damai mayat-mayat itu, alangkah tenang mereka yang tak lagi berurusan dengan perkara lapar, dengan perkara duniawi.”
Pada waktu itu, ia ingin menjadi mayat. Terlentang di tempat itu. Tak lagi berpikir apa-apa. Tak lagi merasa sedih sewaktu ada seseorang yang datang mencabut rambut atau mengiris sekerat dagingnya.
Catatan:
Rashomon sering dikaitkan dengan Rajomon, pintu gerbang pada zaman Heian (794—1185), sekarang terletak di Perfektur (daerah setingkat provinsi) Nara. Mon berarti gerbang. Ketika itu, ibu kota Jepang terletak di Nara. Rashomon juga merupakan judul cerpen Akutagawa Ryunosuke yang menjadi sumber penulisan kisah di atas.
———-
Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto. Sebagian tulisannya pernah terbit di beberapa surat kabar, majalah, dan jurnal. Sebagian yang lain menjadi bagian dari antologi bersama.
CATATAN PENTING
Ini diambil dari Catatan Sungging Raga di Facebook berikut komentar dari berbagai pihak atas catatan tersebut yang dikutip Rabu, 15 Desember 2010 pukul 14.40 WIB.
Plagiat Rashomon
oleh Sungging Raga pada 14 Desember 2010 jam 10:41
saya di sini cuma melanjutkan bukti2 plagiat Dadang Ari Murtono terhadap karya Akutagawa yg berjudul Rashomon, saya sendiri belum sempat membuat esai, tapi sebagai soft opening, saya meminta teman dekat saya yg kebetulan juga teman dekat Dadang untuk bertanya via sms, dan Dadang mengirimkan sms balasan kepada teman dekat saya itu, lalu teman saya ini lantas menerjemahkan sms Dadang yg berbahasa Jawa kedalam bahasa Indonesia kepada saya yg isinya seperti ini:
“maaf ya, aku gak peduli orang bilang apa. menyelesaikan? gimana? apa aku harus datang keorang orang seluruh indonesia satu persatu buat jelasin masalahnya? lha masalahnya apa? aku gak merasa punya masalah. terserah orang mau bilang apa. lha redakturnya aja nyantai kok, gak anggap plagiat kok. ya memang aku diam soalnya aku gak merasa ada apa-apa.”
berikut ini sedikit bukti2nya antara Cerpen Dadang di Lampung Post & buku Akutagawa yg diterbitkan KPG
oya, ternyata cuplikan utuh Rashomon versi Akutagawa bisa dilihat di google books:
http://books.google.co.id/books?id=IL2M2djhQmoC&printsec=frontcover
=====
Cerpen Dadang:
Ini adalah Kyoto, kota yang ramai dan permai, dulu. Namun, beberapa tahun silam, kota ini didera bencana beruntun. Gempa bumi, angin puyuh, kebakaran, dan paceklik. Itulah sebab kota ini menjadi senyap dan porak-poranda. Menurut catatan kuno, patung Buddha dan peralatan upacara agama Buddha lainnya hancur, dan kayu-kayunya yang masih tertempel cat dan perada ditumpuk di pinggir jalan, dijual sebagai kayu bakar. Dengan kondisi seperti itu, perbaikan Rashomon sulit diharapkan. Rubah dan cerpelai, musang dan burung punai, juga para penjahat, memanfaatkan reruntuhannya sebagai tempat tinggal. Dan akhirnya, bukan perkara aneh membawa dan membuang mayat ke gerbang itu. Setiap senja seperti sekarang ini, seperti saat si perempuan tua itu berjongkok sambil memandang wajah mayat perempuan itu, suasana menjadi teramat menyeramkan. Tak seorang pun— kecuali perempuan tua itu, tentu saja—berani mendekat.
Halaman 2 Akutagawa:
Kota Kyoto sesepi itu karena beberapa tahun silam didera bencana beruntun, mulai dari gempa bumi, angin puyuh, kebakaran, dan paceklik. Karena itu Kyoto jadi senyap dan porak-poranda. Menurut catatan kuno, patung Buddha dan peralatan upacara agama Buddha lainnya hancur, dan kayu-kayunya yang masih tertempel cat dan perada ditumpuk di pinggir jalan, dijual sebagai kayu bakar. Karena kondisi Kyoto seperti itu, perbaikan Rashomon sulit diharapkan. Rubah dan cerpelai, juga para pelonceng, memanfaatkan reruntuhan sebagai tempat tinggal. Akhirnya, lazim membawa dan membuang mayat tak dikenal ke gerbang itu. Karena bila senja telah tiba suasana menjadi menyeramkan. Tidak ada orang yang berani mendekat.
========
Cerpen Dadang:
Setelah mengamati beberapa saat, perempuan itu menancapkan oncor kayu cemara di sela lantai papan, kemudian menaruh kedua belah tangannya pada leher mayat itu. Perempuan tua itu mulai mencabuti rambut panjang si mayat helai demi helai. Persis seekor monyet yang sedang mencari kutu di tubuh anaknya.
Halaman 7 Akutagawa:
Perempuan tua itu menancapkan oncor kayu cemara di sela lantai papan, kemudian menaruh kedua belah tangannya pada leher mayat yang sejak tadi dipandanginya. Perempuan tua itu mulai mencabuti rambut panjang si mayat helai demi helai, persis seekor monyet yang sedang mencari kutu di tubuh anaknya.
=======
Cerpen Dadang:
Sambil menggenggam gagang pedang, lelaki itu menghampirinya dengan langkah lebar.
Ia terkejut. Saking kagetnya, ia sampai terlonjak bagai dilontarkan dengan ketapel.
“Hei, mau ke mana kau?” hardik Genin itu seraya mencengkeram tangan perempuan itu yang bermaksud melarikan diri.
Halaman 8:
Sambil menggenggam gagang pedang ia menghampiri nenek tua itu dengan langkah lebar.
Sekilas ia melihat ke arah Genin. Dan saking kagetnya seketika itu pula iaterlonjak bagai dilontarkan dengan ketapel.
“Hei, mau ke mana kau?” hardik Genin seraya mencengkeram tangan si nenek yang bermaksud melarikan diri,
======
Cerpen Dadang:
“Apa yang sedang kamu lakukan? Jawab! Kalau tidak mau mengaku….”Genin itu melepasKan cengkeramannya seraya menghunus pedang baja putih berkilau dan mengacungkannya ke depan mata perempuan tua itu. Namun perempuan itu bungkam, kedua tangannya gemetar hebat, napasnya terengah, matanya membelalak seperti hendak melompat keluar dari kelopaknya.
Halaman 8:
“Apa yang sedang kamu lakukan? Jawab! Kalau tidak mau mengaku….”Genin itu melepaskan cengkeramannya seraya menghunus pedang baja putih berkilau dan mengacungkannya ke depan mata si nenek. Tapi, nenek tua itu tetap bungkam, kedua tangannya gemetar hebat, napasnya terengah, matanya membelalak seperti hendak melompat keluar dari kelopaknya,
======
Cerpen Dadang:
“Aku bukan petugas Badan Keamanan. Aku kebetulan lewat di dekat gerbang ini. Maka aku tidak akan mengikatmu atau melakukan tindakan apa pun terhadapmu. Kau cukup mengatakan sedang melakukan apa di sini.”
Halaman 9:
“Aku bukan petugas Badan Keamanan. Aku kebetulan lewat di dekat gerbang ini. Maka aku tidak akan mengikatmu atau melakukan tindakan apapun terhadapmu. Kau cukup mengatakan sedang melakukan apa di sini.”
========
Terakhir, yg sudah sempat di-paste Bung Bamby:
Cerpen Dadang:
Perempuan tua itu melanjutkan, “Ya… memang, mencabuti rambut orang yang sudah mati bagimu mungkin merupakan kejahatan besar. Tapi mayat-mayat yang ada di sini semua pantas diperlakukan seperti itu. Perempua…n yang rambutnya barusan kucabuti, biasa menjual daging ular kering yang dipotong-potong sekitar 12 cm ke barak penjaga dan mengatakannya sebagai ikan kering. Kalau tidak mati karena terserang wabah penyakit, pasti sekarang pun ia masih menjualnya. Para pengawak katanya kerap membeli, dan mengatakan rasanya enak. Perbuatannya tak dapat disalahkan, karena kalau tak melakukan itu ia akan mati kelaparan. Ia terpaksa melakukannya. Jadi, yang kulakukan pun bukan perbuatan tercela. Aku terpaksa melakukannya, karena kalau tidak, aku pun akan mati kelaparan. Maka, perempuan itu tentunya dapat pula memahami apa yang kulakukan sekarang ini.”
Halaman 9 – 10:
“Ya… memang, mencabuti rambut orang yang sudah mati mungkin bagimu merupakan kejahatan besar. Tapi, mayat-mayat yang ada di sini semuanya pantas diperlakukan seperti it…u. Perempuan yang rambutnya barusan kucabuti, biasanya menjual daging ular kering yang dipotong-potong sekitar 12 sentimeter ke barak penjaga dan mengatakannnya sebagai ikan kering. Kalau tidak mati karena terserang wabah penyakit, pasti sekarang pun ia masih menjualnya. Para pengawal katanya kerap membeli, dan mengatakan rasanya enak. Perbuatannya tidak dapat disalahkan, karena kalau tidak melakukan itu ia akan mati kelaparan. Ia terpaksa melakukannya. Jadi, yang kulakukan pun bukan perbuatan tercela. Aku terpaksa melakukannya, karena kalau tidak, aku pun akan mati kelaparan. Maka, perempuan itu tentunya dapat memahami pula apa yang kulakukan sekarang ini.”
====
karena terburu-buru, cukup sekian yg bisa ditampilkan :)
SukaTidak Suka · Komentari · Bagikan
*
*
Nihayatun Ni’mah, Ahmad Muhakkam El Zein, Esha Tegar Putra dan 15 lainnya menyukai ini.
*
o
Langit Biru sip bung,bakat juga jd detektif sastra, mungkin dadang bermasalah dg kejujuran
Senin pukul 21:49 · SukaTidak Suka
o
Bamby Cahyadi
Pendapatku begini, mungkin banyak di antara kita yang ingin cepat mendapat nama (popularitas) dalam dunia sastra (cerpen). Sehingga berbagai upaya dilakukan, misalnya seperti yang saudara Dadang lakukan. Memang ada keterangan dalam cerpen D…adang di Lampung Post. Tetapi, Dadang mengutip semua isi cerpen dengan membolak-balik paragrafnya.
Pada cerpen Dadang, diceritakan perempuan tua itu yang ingin menjarah mayat. Sementara dalam cerpen aslinya, Genin tersebut yang berpikiran seperti itu (menjarah mayat).
Jadi dadang hanya mengubah sudut pandang, tanpa mengembangkan cerita Rashomon tersebut. Sehingga, wajarlah kalau karya tersebut, adalah karya PLAGIAT.
Kadang popularitas itu mebuat kita BODOH. Dan, kadang juga teman-teman kita sendiri menjerumuskan ke dalam kebodohan tersebut. (Maaf, saya tidak bisa menyebut nama lembaga tersebut di sini). Semoga tulisan Raga, menjadi WARNING bagi para pencari popularitas instan.
“Katakan TIDAK! Untuk karya PLAGIAT!”Lihat Selengkapnya
Senin pukul 21:59 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Esha Tegar Putra waw
Senin pukul 22:00 · SukaTidak Suka
o
Sungging Raga yg aku sesalkan, dadang nggak mau mengakui, itu aja.
Senin pukul 22:02 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Esha Tegar Putra laporin ke KPK!
Senin pukul 22:04 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Bamby Cahyadi Jadi, berita bahwa dia menjadi murung, tidak makan dan menyendiri dan menarik diri dari berbagai acara sastra, hanyalah sandiwara belaka? Sungguh aku sesalkan. Semoga secara terbuka ia mengakuinya, selesai. Karena tidak ada pengadilan kasus karya plagiat.
Senin pukul 22:04 · SukaTidak Suka
o
Khrisna Pabichara Kejujuran bukanlah sesuatu yang sulit, selama kita memiliki kebesaran hati. Hanya saja, semangat aku bisa menenggelamkan hasrat berjujur itu. Andai saja Mas Dadang mau berbesar hati, tentulah akan lebih melegakan. Ihwal mendatangi satu demi satu penyuka sastra di Indonesia–atau di Jepang, negeri asal kisah ini–taklah perlu dilakukan. Cukup lewat Lampung Post.
Senin pukul 22:04 melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat…
o
T Agus Khaidir Hal lain yang tak kalah mengherankan adalah, kenapa cerpen ini bisa lolos seleksi redaksi Lampung Post yang biasanya ketat?
Senin pukul 22:12 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Khrisna Pabichara
Perihal redaktur yang tenang-tenang saja dn tak mencap ini hasil plagiat, mestinya Mas Dadang menyadari bahwa redaktur memiliki keterbatasan untuk memeriksa kesahihan sebuah karya.
Sekadar berbagi kabar, ketika cerpen saya disabot pengarang …lain di media yang sama, sayalah yang menghubungi redakturnya. Alhasil, sang penyabot diundang redaktur untuk menjelaskan asal-muasal cerita anggitannya. Jadi, apakah perlu Akutagawa sendiri yang menghubungi redaktur sastra Lampung Post? Mustahil, kan?Lihat Selengkapnya
Senin pukul 22:21 melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Muhammad Anhar Husyam
Terkadang memang bisa terbawa, ya gaya,kata atau penggalan penulis yang di-idolakan. tapi nggak separah ini!!
semoga cukup sampai di sini.
(skdar mengingatkan. Cerpen bg khrisna pernah diplagiat juga:
repost: http://blogkoma.blogspot.com/201…0/03/amang-oi.html)Lihat Selengkapnya
Senin pukul 22:23 · SukaTidak Suka
o
Komunitas Ketik astaga…
Senin pukul 22:24 · SukaTidak Suka
o
Sungging Raga mungkin dadang menganggap kita-kita sebagai pembaca ini gak punya hak sama sekali untuk menggugat… mngkin bagi dia, mekanisme kehidupan cerpen koran cuma berawal dari ngirim email, trus bersaing dg karya lain, trus berakhir di persetujuan redaktur utk memuatnya.
Senin pukul 22:32 · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat…
o
Khrisna Pabichara
?@Raga: Kalau cuma sebatas itu, dalam seminggu saya bisa mengirim 5-10 cerpen ke media berbeda. Hahaha. Persoalannya adalah kejujuran dan keberanian mengakui “kesalahan”. Jika di batas itu saja kita belum lolos, bagaimana kita berharap memb…erikan sesuatu yang berharga bagi pembaca? Kasihan sekali jika kita martabat kepengarangan demi sebatas ketenaran.
Saya sangat berharap ada seseorang atau lembaga tertentu yang mau mengetuk hati Mas Dadang agar berkenan berbesar hati untuk tak melukai penyuka sastra.Lihat Selengkapnya
Senin pukul 22:46 melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka
o
Khrisna Pabichara Dan, tentu saja, kepada Redaktur Sastra Lampung Post agar memberikan peringatan keras agar Mas Dadang tidak melakukan hal sama di cerpen-cerpen sesudahnya.
Senin pukul 22:50 melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka
o
Langit Biru jika masalahnya kejujuran dalam berkarya,ini fundamental,jadi tertarik menelisik karya dadang sebelumnya
Senin pukul 22:56 · SukaTidak Suka
o
T Agus Khaidir
Sekali lagi komentarku harus bernada heran. Kali ini untuk oknum bernama Dadang. Taruhlah dia memang berniat untuk plagiat, tapi kenapalah yang diplagiati itu justru Rashomon, karya Akutagawa yang sudah sangat masyhur? Kenapa tidak karya la…in saja yang “tidak terlalu terkenal”?
Tapi dia memang memplagiat Rashomon dan aku curiga jangan-jangan ini orang menganggap tak ada yang tahu bahwa cerpen itu ia plagiat – lantaran ditulis orang Jepang sekian puluh tahun lalu. Atau jangan-jangan dia pakai semacam ilmu hitam sehingga Rashomon tulisannya yang hampir tak berbeda dengan Rashomon asli itu bisa lolos dari seleksi awal redaksi, menyingkirkan barangkali puluhan cerpen lain dan dimuat di media sekelas Lampung Post.
Aku tiba-tiba membayangkan, dalam minggu-minggu ke depan akan muncul cerpen karya Sungging Raga, Bamby Cahyadi, Khrisna Pabichara, atau bahkan Seno Gumira Ajidarma, Putu Wijaya dan Budi Darma dengan nama Dadang Ari Murtono dan dimuat di Kompas, Koran Tempo, dan Suara Merdeka, karena Myrna, Nirwan Dewanto dan Triyanto Triwikromo merasa terpesona sebab sudah kena guna-guna. hahahahaha…Lihat Selengkapnya
Senin pukul 23:03 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Khrisna Pabichara ?@Agus K: Yang pasti, Bang, cerpen Mas Dadang di Kompas memiliki kemiripan dengan cerpen Ratih Kumala. Saya sedang membaca ulang cerpen Mas Dadang yang dimuat di Republika. Jangan-jangan…
Senin pukul 23:13 melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka
o
Khrisna Pabichara ?@Anhar H: Jadi teringat kasus lama, Bang. Saya sampai mencari nomor kontak “sang penyabot” agar bisa klarifikasi langsung. Bukannya meminta maaf, yang bersangkutan malah meminta saya untuk melindungi sesama penulis. Hahaha. Miris!
Senin pukul 23:19 melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka
o
Simalakama Rindu saya hanya ingin agar Dadang segera mermberikan keterangan. semoga cepat selesai.
Kemarin jam 4:43 · SukaTidak Suka
o
Imam Wahyudi
Saya hanya mau sedikit urun komentar. Diakui atau tidak, gaya dan penulisan para cerpenis, khususnya yang baru berkembang, kebanyakan memang terpengaruh oleh penulis yang kebetulan sedang menjadi anutannya. Tak jarang, cerita yang mereka tu…lis
hampir mirip dengan pengembangan disana-sini. Saya rasa itu tak masalah, asal tidak sama persis benar dengan cerpen acuannya. Meminjam istilah Agus Noor, diberi cita rasa baru yang berbeda. Soal cerpen Mas Dadang itu, saya berbaik sangka saja, mungkin ada yang ingin ditujunya, entah apa, dengan membuat cerpen semacam itu. Tetapi diatas semua itu, memang seyogianyalah mas Dadang memberikan sekedar penjelasan tentang tulisannya itu….Lihat Selengkapnya
Kemarin jam 5:47 · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat…
o
Endah Sulwesi hari gini kok masih nyontek sih? Anak nakal! *pukul pantat Dadang* :D
Kemarin jam 8:21 · SukaTidak Suka
o
Han Gagas Sungging, di awal kau blg melanjutkan berarti ada yg sebelum ini. Wah aku terlewatkan neh. Mas bamby nt di inbox ke saya ya lembaga itu. Oya ada ketrangan di lampung pos itu apaya? Dadang oh dadang, aneh2 sj org ini. Kok redaktur lampung gak kau tandai ngging?
Kemarin jam 8:28 melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka
o
Lan Fang coba tlg di tag ke wall ku ya…,
Kemarin jam 10:16 · SukaTidak Suka
o
Lan Fang
semua penulis kebanyakan “pasti” terinspirasi dengan tulisan2 yg pernah dibaca sebelumnya. “pasti” juga “mencuri” untuk eksplorasi. sebab untuk menjadi penulis itu harus memiliki “kecerdasan di atas rata2″ harus bisa menjadi “pencuri” yg ce…rdas.
jadi plagiator adalah penulis yg dengan sadar menunjukkan kedunguannya sendiri.
akh, gol bunuh diri!Lihat Selengkapnya
Kemarin jam 11:44 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Sungging Raga
tp kan inspirasi lain dg plagiasi,, kadang memang sering ditemukan bbrapa frase yg sudah dipakai seorg penulis tp juga ada di karya penulis lain, atau juga karya2nya bernafas sama..
kalo dadang ini udah trbukti masuk kategori plagiasi nih. b…ahkan karya2nya yg lain pun mulai dicurigai, terutama yg di Kompas (Lelaki Sepi) yg mirip cerpennya Ratih Kumala. cuma kalo kata mas khrisna, di kompas itu Dadang bermain lebih cantik (& cerdas), hehe. di sini kacaubalau.Lihat Selengkapnya
Kemarin jam 11:50 · SukaTidak Suka · 1 orangKhrisna Pabichara menyukai ini.
o
Lan Fang saya tidak khusus menujukan pada dadang seorang. tapi harapan saya, semua yg berkaitan dengan tulis menulis bisa mengambil hikmah & bisa belajar dari urusan ini.
Kemarin jam 11:55 · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat…
o
Aida Radar Wew!
ck…ck…ck…
Kemarin jam 13:12 · SukaTidak Suka
o
Benny Arnas plagiat! apa kata dunia? *kok dadang tak kau tag, Ga?
Kemarin jam 14:03 · SukaTidak Suka
o
Sungging Raga aku gak jdi friend-nya dadang sih.. yg pasti sblum mnulis ini, aku udah brusaha mendapatkan pnjelasannya scara langsung. hehe. tp di acara sastra trakhir yg mncantumkan namanya sbg pmbicara, trnyata dia pun gak dtg.
Kemarin jam 14:08 · SukaTidak Suka
o
Benny Arnas HALOOOO, SEMUAAA!! KITA NGE-ADD DADANMG YUKKKKK! :-)
Kemarin jam 14:17 · SukaTidak Suka
o
Imam Wahyudi Nah, mungkin yang akan saya pertanyakan disini sebagai orang yang baru belajar sastra, kadang seorang ‘pencuri cerdas’ pun, sengaja atau tidak sengaja, akan menemui masa-masa sial terjatuh menjadi pencuri yang ‘tidak cerdas’. Bagaimana itu ? Ambil contohlah cerpen terakhir SGA di Kompas itu, yang sangat mirip karya Pablo Coelho, meski di akhir cerpen disebutkan bahwa cerpen tersebut mengambil inspirasi dari beberapa cerita yang berkembang di masyarakat. Plagiasi atau sekedar terinspirasi oleh karya lain itu ?
Kemarin jam 14:24 · SukaTidak Suka
o
Aida Radar Idem dengan K’Imam, plagiasi atau terinspirasi?
Kemarin jam 14:26 · SukaTidak Suka
o
Sungging Raga apakah paragraf2 di seno ada yg sama dg coelho? apakah seno melakukan copy paste sprti yg kubuktikan di atas itu?
bedakan antara eksplorasi / inspirasi dg plagiasi.
Kemarin jam 14:30 · SukaTidak Suka
o
Aida Radar Oh begitu ya… ^_^
Kemarin jam 14:31 · SukaTidak Suka
o
Lan Fang kecerdasan bukan untuk membuat semua hal tanpa kesalahan, namun untuk mempercepat amatan bagaimana membuatnya (suatu karya) menjadi (lebih) bagus.
(bertolt brecht, pujangga & dramawan Jerman, 1898-1956)
Kemarin jam 14:32 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Imam Wahyudi Intinya, mungkin begini. Bolehlah kita mengutip bagian dari karya orang lain, asal (mungkin) diberi catatan kaki, bahwa kalimat ini diambil dari karya ini atau itu, umpamanya. Dan dilihat secara utuh (keseluruhan) karya itu tidak sama persis dengan yang menjadi inspirasinya. Begitu pa ya…hehe
23 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Langit Biru
hal-hal teknis dan teoretis mengenai eksplorasi, inspirasi, dan plagiasi selalu bisa diperdebatkan, termasuk dalam hal ini cerpen SGA.
semua berpulang pada niatan pengarang (kejujuran).
sesorang bisa saja tidak jujur (bohong) pada orang la…in tapi dia tdk akan bisa berbohong (tidak jujur) pada dirinya sendiri.
ada kepuasan batin yang tdk bisa dibeli dg materi dan popularitas ketika menghasilkan karya sastra. dan ini saya rasa tidak akan didapatkan oleh seorang plagiat.Lihat Selengkapnya
23 jam yang lalu · SukaTidak Suka · 3 orangMemuat…
o
Han Gagas Kalo kasus dadang neh plagiat wong hampir tiap katanya sama plek gt. Kalo SGA kan tdk, terinspirasi. Itu kan bedane jelas. Aneh2 aja neh teman2. Kayak haram dan halal dlm islam. Ha3. Bangkai,darah, siapa muslim yg lurus mengatakannya sbg halal? Bukan abu2 kawan. Kalo tiap kata hmpir sama apalagi ide&latar jg sejurus itu sdh jls masuk mana. Ha3. Ada org yg menghamba pd fana, semu. Ada org yg benci pd itu. Huahaha3. Glegekk.
22 jam yang lalu melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka
o
Han Gagas Kok aku dakwah, ha3. Huaha3x. Gelekgek. Trnyt ak dah agak lama hub fb ma dadang jauh sblm urusan buruk ini tp ga prnah kontak2. Kalo kau bc, dang, wah gol bunuh diri, betul kak lf. Kdg kt mmg brdosa, mns, lupa, mari brusaha trs spy jd mns yg baik. Khilaf, alpa, mari kt perbaiki. Ngomong apa aku ini. He3. Menertawai keseriusan ki namane.
22 jam yang lalu melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka
o
Han Gagas kt tmnku yg dl cerpenis hebat, sga yg di kompas kmrn sdkt abu2. Ha3
21 jam yang lalu melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka
o
Khrisna Pabichara
Sepakat dengan Mbak Lan, kejujuran adalah sesuatu yang niscaya dimiliki oleh siapa saja yang berkaul jadi pengarang. Boleh jadi karya kita dianggap hebat oleh khalayak pembaca, tetapi karena proses penciptaannya tidak jujur–semisal meminda…hkan karya orang lain dan mengakuinya sebagai karya sendiri–tidak akan menemukan kepuasan batin yang sama ketika kita menghasilkan satu karya dengan jujur. Istilah Bang Han, lebih menghasilkan karya yang biasa tetapi murni karya sendiri.
Kembali ke kasus Mas Dadang, dari klarifikasi yang disampaikannya lewat sms, menunjukkan ketidakseriusan Mas Dadang dalam membabarkan “ada apa dengan karyanya” dan “mengapa pembaca terus bertanya”. Secara implisit, ini menunjukkan arogansi Mas Dadang, yang sekaligus juga menunjukkan ketidakbesaran hatinya. Tentu saja, ini dengan asumsi bahwa Mas Dadang berkeras tidak ada masalah karena cerpen “palsu”-nya ini.
Karena itu, tepatlah kiranya jika ada pihak yang berkenan menyampaikan atau mengunjukkan perbincangan ini ke hadapan Mas Dadang. Dan, bagi kita semua, tentulah banyak hikmah yang bisa kita petik dari kasus ini. Salam takzim buat semuanya.Lihat Selengkapnya
16 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Rama Dira mentalitas pengen dapat hasil tanpa kerja keras kayak gini nih yang mesti diberangus. masa buat cerpen sekedar kopas aja. hah…macam macam saja si dadang ini..
7 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Kartolo Kempol Geyong-Geyong setelah saya baca di kereta, kata, bahkan kalimat karya Bung Dadang itu sama persis. Dalam satu paragraf hanya beberapa kata dan kalimat yang diubah. Sebagai penulis, setidaknya Bung Dadang lebih beretika, dengan menanggapi reaksi teman-teman. Kalau memang MALAS atau KESULITAN mengeksplorasi, jujur lah sama teman-teman. Toh itu bagian dari proses kreatif, kecuali kalau terburu-buru tenar. Tidak usah begitu saja sudah tenar kok. Salam
6 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Munajat Sunyi kasihan teman-teman yang sudah berusaha mengirim cerpen ke lampung post dengan karya original, tapi yang dimuat malah karya plagiasi. ckckckckckckck…
4 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Han Gagas
betul mas khrisna tuh, mending nulis banyak cerpen jelek2 drpd palsu, huahahahah, itu karyaku, asli lho. mentang2 namaku disebut jd mbetulin dia hahaha, sopan santun, hehehe.
betul juga mas munajat sunyi neh, gara2 dadang neh cerpenku gak di…muat lampung post utk ke2 kali, jan-jan, nasib-nasib.Lihat Selengkapnya
sekitar sejam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Sungging Raga ?12 desember cerpen dadang ari murtono di Suara Pembaruan, cerpen yg sama dg di Nova edisi mingu sblumnya.
sekitar sejam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Kartolo Kempol Geyong-Geyong mojleng…
sekitar sejam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Han Gagas waduh alamak, kalau begitu saya dulu kalau mau ya bisa, wong cerpenku di lampung post itu juga dimaui nova, tapi aku tarik dari nova karena lampung post mau muat, alamak, dasar neh orang.
sekitar sejam yang lalu · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
o
Han Gagas hahahaha, aku girang neh, rama dira kasih jempol, barti nasib baik neh
sekitar sejam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Rama Dira ?@ Han : sepakat. aku juga melakukan hal yang sama. toh kalaupun ndalalah termuat di dua media, itu bukan kesalahanku. tidak ada pemberitahuan dari redaksi yg menjadi penyebabnya sehingga tidak sempat ditarik.
sekitar sejam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Han Gagas betul rama dira, aduh alamak kok kita cocok betul ya, aduh sayang kau jauh, andai dekat aku sudah tempelin kau. kayak ma sungging neh, cocok mak plek.
sekitar sejam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Sungging Raga rama lain tuh, dia ngirim ke dua media nggak di waktu yg sama, menggilir dulu,, trus kbtulan salah satu media lama bgt memuatnya… kalo yg DAM ini tematik. kjadian bulan lalu.
sekitar sejam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Han Gagas cocok tuh maksudku pikiran2ne, wah sungging ki baca2 yg atas doooooooong
sekitar sejam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Rama Dira
ya. kalau sampai kejadian dimuat bareng di dua media (padahal kita tau) itu sama saja merampas rejeki teman penulis yg lain. cerpenku pernah hampir dimuat di nova & femina dalam waktu yg berdekatan. untung redaktur femina telpon. akhirnya a…ku tarik. ada sih cerpenku yg sebelumnya dimuat media lokal kemudian kukirimkan ke media nasional dan kemudian dimuat. itu terjadi karena honorku nda dibayar2 dan waktu nagih seolah2 aku melakukan kesalahan dan dipimpong sana sini. akhirnya aku nekat menariknya dan menyatakannya tak pernah dimuat di situ.Lihat Selengkapnya
sekitar sejam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Han Gagas ooo, gitu rama dira, okelah, aku belum pernah seh dimuat bareng, kalau pernah mungkin nanti salahku, karena kadang lewat tiga minggu aku dah pindah tuh cerpen, kenapa ya para media itu gak kasih batas waktu yg jelas gitu, sebagian memang sudah tapi gak semua.
sekitar sejam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Han Gagas mas rama dira, media lokal apa tuh yg suka ping pong?inisial ajah
sekitar sejam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Rama Dira he..he.. ada ajah..tapi kayaknya setelah kejadian aku buat statement penarikan di fb itu, medianya sekarang nda kayak gitu lagi kok. honor sudah dibayar dengan baik menurut info yg kudapat dari teman sesama penulis.
sekitar sejam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Han Gagas alhamdulillah dah insyaf tuh media, hahaha
sekitar sejam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Sungging Raga surabaya post.
sekitar sejam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Rama Dira ha..ha..ha.. akhirnya Raga membocorkannya. Ya udah deh
sekitar sejam yang lalu · Suka
Sumber: http://ceritaujungpulau.blogspot.com/search/label/Dadang%20Ari%20Murtono
Selasa, 15 Juli 2008
Puisi-Puisi Dadang Ari Murtono
Jurnal Kebudayaan The Sandour III 2008
TIGA BELAS FRAGMEN BUAT SINDHU
sepasang mata selebar piring berdiri di dada ibumu,
di kelamin ayahmu
1. Tidur
aku bermimpi menjadi sebatang pohon
dan saat terbangun
rambutku telah berganti daun-daun
2. Pertemuan
menuju muara
tubuhku mencair dan mengalir
mengikuti liku-liku tubuhmu
3. Keberangkatan
satu persatu orang-orang pergi
dan tubuhku tinggal gerimis
4. Handphone
jerit yang terus menyala
ijinkan aku tidur di relung matamu
5. Di Bawah Akasia
gerimis telah menjadi hujan
mari, berlindung di balik puisi
6. Bir
di riak busanya
tertulis norma, agama dan dunia
“mabuklah”
7. Kerinduan
pantatmu tercecer di lorong-lorong sunyi
yang membentang dalam tumpukan
puisiku
8. Doa
setelah berjuang melahirkan kata
aku ingin mati di rindang senyummu
9. Buka
segera siapkan pisau paling tajam
kita tikam lapar di ulu jantungnya
agar tuntas segala dendam
biar lepas segenap beban
10. Sendiri
masuklah ketubuhku
penuhi relung dan lorong
juga gang-gang sempit berbahaya
tak perlu sungkan atau malu
sekian lama aku menunggu
menancapkan kejujuran di
antara belahan dada
dan lingkar pinggulku
11. Bagaimana
bagaimana bisa kubentangkan
lanskap senja di tengah hamparan
gerimis
bila hujan dan malam
telah merobek-robek sajakku
12. Eden
di kelopak matanya
adam meringkuk telanjang
menunggu kata-kata
yang tak kunjung pulang
mencari selembar daun salam
untuk menghias kelamin istrinya
13. Mawar
mekarlah, bersahajalah
seperti senja yang teduh dan cantik
sepasang mata selebar piring berdiri di dada ibumu,
di kelamin ayahmu
2007
Dadang Ari Murtono, lahir di Mojokerto, 28 Maret 1984.
TIGA BELAS FRAGMEN BUAT SINDHU
sepasang mata selebar piring berdiri di dada ibumu,
di kelamin ayahmu
1. Tidur
aku bermimpi menjadi sebatang pohon
dan saat terbangun
rambutku telah berganti daun-daun
2. Pertemuan
menuju muara
tubuhku mencair dan mengalir
mengikuti liku-liku tubuhmu
3. Keberangkatan
satu persatu orang-orang pergi
dan tubuhku tinggal gerimis
4. Handphone
jerit yang terus menyala
ijinkan aku tidur di relung matamu
5. Di Bawah Akasia
gerimis telah menjadi hujan
mari, berlindung di balik puisi
6. Bir
di riak busanya
tertulis norma, agama dan dunia
“mabuklah”
7. Kerinduan
pantatmu tercecer di lorong-lorong sunyi
yang membentang dalam tumpukan
puisiku
8. Doa
setelah berjuang melahirkan kata
aku ingin mati di rindang senyummu
9. Buka
segera siapkan pisau paling tajam
kita tikam lapar di ulu jantungnya
agar tuntas segala dendam
biar lepas segenap beban
10. Sendiri
masuklah ketubuhku
penuhi relung dan lorong
juga gang-gang sempit berbahaya
tak perlu sungkan atau malu
sekian lama aku menunggu
menancapkan kejujuran di
antara belahan dada
dan lingkar pinggulku
11. Bagaimana
bagaimana bisa kubentangkan
lanskap senja di tengah hamparan
gerimis
bila hujan dan malam
telah merobek-robek sajakku
12. Eden
di kelopak matanya
adam meringkuk telanjang
menunggu kata-kata
yang tak kunjung pulang
mencari selembar daun salam
untuk menghias kelamin istrinya
13. Mawar
mekarlah, bersahajalah
seperti senja yang teduh dan cantik
sepasang mata selebar piring berdiri di dada ibumu,
di kelamin ayahmu
2007
Dadang Ari Murtono, lahir di Mojokerto, 28 Maret 1984.
Langganan:
Postingan (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Ginandjar Wiludjeng
A. Junianto
A. Kurnia
A. Qorib Hidayatullah
A. Yusrianto Elga
A.S Laksana
A’yat Khalili
Aang Fatihul Islam
Abdul Azis Sukarno
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi WM
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Malik
Abdul Razak
Abdul Rosyid
Abdul Wahab
Abdurrahman Wahid
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adam Chiefni
Ade P. Nasution
Adhitia Armitriant
Adi Prasetyo
Adrizas
AF. Tuasikal
Afriza Hanifa
Afrizal Malna
Agama Para Bajingan
Agnes Rita Sulistyawaty
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Buchori
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahmad Baso
Ahmad Faishal
Ahmad Fatoni
Ahmad Hasan MS
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Khotim Muzakka
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Naufel
Ahmad Rofiq
Ahmad S. Zahari
Ahmad Syauqi Sumbawi
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ahsanu Nadia
Aini Aviena Violeta
Ainul Fiah
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sekhu
Akhmad Sofyan Hadi
Akhmad Taufiq
Akhudiat
Akmal Nasery Basral
Alam Terkembang
Alang Khoiruddin
Alex R. Nainggolan
Alfian Dippahatang
Ali Audah
Ali Mahmudi CH
Ali Rif’an
Almania Rohmah
Ami Herman
Amien Wangsitalaja
Aminah
Aminullah HA.Noor
Amir Sutaarga
Anam Rahus
Anata Siregar
Andari Karina Anom
Andina Dwifatma
Andong Buku #3
Andre Mediansyah
Andri Awan
Anett Tapai
Anggie Melianna
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anjrah Lelono Broto
Anton Bae
Anton Kurnia
Anton Wahyudi
Anwar Nuris
Ardi Bramantyo
Ardus M Sawega
Arie MP Tamba
Arie Yani
Arief Joko Wicaksono
Arief Junianto
Ariera
Arif Bagus Prasetyo
Aris Kurniawan
Arman A.Z.
Arswendo Atmowiloto
Arti Bumi Intaran
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Asmaul Fauziyah
Asti Musman
Atafras
Awalludin GD Mualif
Ayu Wulan Sari
Aziz Abdul Gofar
Azizah Hefni
Bagus Takwin
Bahrul Ulum A. Malik
Balada
Bale Aksara
Balok Sf
Bambang Kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Beni Setia
Benny Arnas
Benny Benke
Beno Siang Pamungkas
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita
Berita Duka
Berita Koran
Bernando J Sujibto
Berthold Damshauser
BI Purwantari
Binhad Nurrohmat
Bobby Gunawan
Bonari Nabonenar
Brunel University London
Budaya
Budi Darma
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Burhanuddin Bella
Camelia Mafaza
Catatan
Cerbung
Cerpen
Chairul Akhmad
Chamim Kohari
Chavchay Syaifullah
Cover Buku
Cucuk Espe
D. Zaini Ahmad
D. Zawawi Imron
Dadang Ari Murtono
Dahta Gautama
Daisuke Miyoshi
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Danusantoso
Dareen Tatour
Darju Prasetya
David Kuncara
Denny Mizhar
Denza Perdana
Desi Sommalia Gustina
Desiana Medya A.L
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dewi Indah Sari
Dewi Susme
Dian Sukarno
Didik Harianto
Didik Kusbiantoro
Dina Jerphanion
Dina Oktaviani
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur
Dipo Handoko
Diyah Errita Damayanti
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Doddy Wisnu Pribadi
Dody Kristianto
Dody Yan Masfa
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dorothea Rosa Herliany
Dr Junaidi SS MHum
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi Wiyana
Dyah Ratna Meta Novia
Dyah Sulistyorini
Ecep Heryadi
Eddy Pranata PNP
Edeng Syamsul Ma’arif
Eep Saefulloh Fatah
EH Kartanegara
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Hendrawan Sofyan
Eko Hendri Saiful
Eko Windarto
Elnisya Mahendra
Elva Lestary
Emha Ainun Nadjib
Emil WE
Endah Sulwesi
Endo Suanda
Eppril Wulaningtyas R
Esai
Evan Ys
F. Moses
F. Rahardi
Fadlillah Malin Sutan
Fahmi Faqih
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Kurnianto
Fanani Rahman
Fanny Chotimah
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Febby Fortinella Rusmoyo
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Gabriel Garcia Marquez
Galang Ari P.
Galuh Tulus Utama
Gampang Prawoto
Gandra Gupta
Ganug Nugroho Adi
Gerson Poyk
Ghassan Kanafani
Gita Nuari
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gunoto Saparie
H.B. Jassin
Habibullah
Hadi Napster
Hadriani Pudjiarti
Halim HD
Halimi Zuhdy
Hamberan Syahbana
Han Gagas
Hanibal W. Y. Wijayanta
Hardi
Haris del Hakim
Haris Saputra
Harri Ash Shiddiqie
Hartono Harimurti
Hary B Kori’un
Hasan Aspahani
Hasan Junus
Hasif Amini
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
HE. Benyamine
Hendra Junaedi
Hendra Makmur
Heri CS
Heri Latief
Heri Listianto
Herman RN
Herry Lamongan
Heru CN
Heru Nugroho
Hikmat Gumelar
HL Renjis Magalah
Hudan Nur
Hujuala Rika Ayu
Huminca Sinaga
IBM. Dharma Palguna
Ibnu Wahyudi
Ida Farida
Idris Pasaribu
Ignas Kleden
Ignatius Haryanto
Iksan Basoeky
Ilham Khoiri
Imam Cahyono
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indiar Manggara
Indra Intisa
Indra Tjahyadi
Indra Tranggono
Indrian Koto
Ira Puspitaningsih
Irfan Budiman
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Iskandar Zulkarnain
Ismail Marzuki
Iva Titin Shovia
Iwan Kurniawan
Jabbar Abdullah
Jafar Fakhrurozi
Jalan Raya Simo Sungelebak
Jamal D. Rahman
Jamal T. Suryanata
Javed Paul Syatha
Jayaning S.A
JILFest 2008
Jody Setiawan
Johan Edy Raharjo
Johannes Sugianto
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Jual Buku
Jual Buku Paket Hemat
Juan Kromen
Julika Hasanah
Jurnalisme Sastrawi
Jusuf AN
Juwairiyah Mawardy
Ka’bati
Karanggeneng
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Keith Foulcher
Kemah Budaya Panturan (KBP)
Khansa Arifah Adila
Khoirul Inayah
Khoirul Rosyadi
Khudori Husnan
Ki Ompong Sudarsono
Kirana Kejora
Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Sastra Ilalang Indonesia
Korrie Layun Rampan
Kostela
Kritik Sastra
Kukuh S Wibowo
Kurnia Effendi
Kurniawan
Kuswaidi Syafi'ie
L.N. Idayanie
Laili Rahmawati
Lamongan
Lan Fang
Langgeng Widodo
Lathifa Akmaliyah
Leila S. Chudori
Lely Yuana
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Liestyo Ambarwati Khohar
Lina Kelana
Linda Sarmili
Liza Wahyuninto
Lucia Idayanie
Lukman A Sya
Lutfiah
Lynglieastrid Isabellita
M Arman AZ
M Ismail
M Thobroni
M. Afifuddin
M. Arwan Hamidi
M. Lukluk Atsmara Anjaina
M. Lutfi
M. Luthfi Aziz
M. Nurdin
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.S. Nugroho
Mahendra Cipta
Mahmud Jauhari Ali
Mahmud Syaltut Usfa
Mahmudi Arif Dahlan
Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Martin Aleida
Maruli Tobing
Mas Ruscita
Mashuri
Masuki M. Astro
Matroni
Matroni Muserang
Media: Crayon on Paper
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
MG. Sungatno
Mh Zaelani Tammaka
Mia Arista
Mia El Zahra
Mikael Johani
Misbahus Surur
Misran
Mohamad Ali Hisyam
Mohammad Eri Irawan
Much. Khoiri
Muh. Muhlisin
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Aris
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Rain
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun
Muhammadun AS
Muhidin M Dahlan
Mujtahid
Mujtahidin Billah
Mukti Sutarman Espe
Mulyadi SA
Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik
Munawir Aziz
Musfarayani
Musfi Efrizal
Nafisatul Husniah
Nandang Darana
Naskah Teater
Nelson Alwi
Ni Made Purnamasari
Nikmatus Sholikhah
Nina Herlina Lubis
Nina Susilo
Ning Elia
Noor H. Dee
Noval Jubbek
Novel-novel berbahasa Jawa
Novelet
Nunuy Nurhayati
Nur Azizah
Nur Hamzah
Nur Kholiq
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nurul Aini
Nurul Anam
Nurul Komariyah
Nuryana Asmaudi SA
Nyoman Tusthi Eddy
Obrolan
Okty Budiati
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Otto Sukatno CR
Oyos Saroso H.N.
Pagan Press
Pagelaran Musim Tandur
Palupi Panca Astuti
Parimono V / 40 Plandi Jombang
Pawang Surya Kencana
PDS H.B. Jassin
Petrus Nandi
Politik
Politik Sastra
Pradana Boy ZTF
Pramoedya Ananta Toer
Pramono
Pringadi AS
Prof Dr Fabiola D. Kurnia
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Puji Tyasari
Puput Amiranti N
Purnawan Andra
Purnawan Kristanto
Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin
Pustaka Ilalang Group
PUstaka puJAngga
Putu Wijaya
Qaris Tajudin
R. Ng. Ronggowarsito
Rachmad Djoko Pradopo
Radhar Panca Dahana
Rahmat Kemat Hidayatullah
Rahmat Sularso Nh
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rasanrasan Boengaketji
Raudal Tanjung Banua
Redland Movie
Reiny Dwinanda
Resensi
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Riki Dhamparan Putra
Riki Utomi
Ririe Rengganis
Risang Anom Pujayanto
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Roso Titi Sarkoro
Rozi Kembara
Rukardi
Rumah Budaya Pantura (RBP)
Rusmanadi
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Saiful Amin Ghofur
Saiful Anam
Sainul Hermawan
Sajak
Salamet Wahedi
Salman S. Yoga
Samsudin Adlawi
Samsul Anam
Sanggar Lukis Alam
Sanggar Pasir
Sanggar Rumah Ilalang KSII
Santi Puji Rahayu
Sapardi Djoko Damono
Saroni Asikin
Sartika Dian Nuraini
Sastra dan Kuasa Simbolik
Sastra Jawa Timur
Satmoko Budi Santoso
Saut Situmorang
Sayyid Fahmi Alathas
SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang
SelaSastra Boenga Ketjil
SelaSastra Boenga Ketjil #33
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Setia Naka Andrian
Shiny.ane el’poesya
Sholihul Huda
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sinopsis
Siti Khoeriyah
Siti Muyassarotul Hafidzoh
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputra
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Soegiharto
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sosiawan Leak
Spectrum Center Press
Sri Weni
Sri Wintala Achmad
Suci Ayu Latifah
Sucipto Hadi Purnomo
Sudirman
Sugi Lanus
Sukron Ma’mun
Sulaiman Djaya
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sungging Raga
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Supriyadi
Surya Lesmana
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Suyanto
Syaf Anton Wr
Syaifuddin Gani
Syaiful Amin
Syarif Wadja Bae
Sylvianita Widyawati
TanahmeraH ArtSpace
Tarmuzie (1961-2019)
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Presetyo
Teguh Setiawan
Teguh Winarsho AS
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Tia Setiadi
Tirto Suwondo
Tita Tjindarbumi
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan
Tosa Poetra
Tri Nurdianingsih
Triyanto Triwikromo
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Tulus S
Ulul Azmiyati
Umar Fauzi
Umar Fauzi Ballah
Umar Kayam
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Universitas Jember
Usman Arrumy
Utari Tri Prestianti
Viddy AD Daery
Virdika Rizky Utama
W Haryanto
W.S. Rendra
Wahyu Prasetya
Wan Anwar
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wina Bojonegoro
Wita Lestari
Wong Wing King
Wowok Hesti Prabowo
Xu Xi (Sussy Komala)
Y. Thendra BP
Y. Wibowo
Yanusa Nugroho
Yasraf Amir Piliang
Yayat R. Cipasang
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yopi Setia Umbara
Yudhi Herwibowo
Yudi Latif
Yusri Fajar
Yusuf Ariel Hakim
Yuval Noah Harari
Zacky Khairul Uman
Zainuddin Sugendal
Zamakhsyari Abrar
Zawawi Se
Zed Abidien
Zehan Zareez
Zhaenal Fanani
Zubaidi Khan
Zuniest