Tampilkan postingan dengan label Nurdin Kalim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nurdin Kalim. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 September 2010

Sekeranjang Sastra tanpa Sayembara

Nurdin Kalim, Rofiqi Hasan
http://majalah.tempointeraktif.com/

Suatu hari pada tahun 1983, Ida Ayu Oka Rusmini hijrah ke Bali dengan hati gundah. Di tanah leluhurnya itu, Oka berhadapan dengan sekeping realitas: perempuan Bali masih berada di persimpangan. Mereka berhadapan dengan hal-hal baru, sementara pakem-pakem adat istiadat tertanam kuat dalam struktur masyarakat Pulau Dewata itu. Tak ada pilihan, bila ingin maju, mereka harus siap menghadapi benturan sosial.

Bertolak dari kenyataan kultural itulah Oka mulai menggoreskan karyanya. “Saya ingin terus menjadi saksi Bali dan perempuannya yang sedang berubah, kemudian menuangkannya menjadi tulisan sastra yang menarik,” ungkap perempuan kelahiran Jakarta, 11 Juli 1967, ini.

Oka mengawali karier kepengarangannya sebagai penulis puisi. Dari situ ia terbang ke cerpen dan akhirnya berujung di novel. Tiga novelnya—Sagra, Tarian Bumi, dan Kenanga—telah diterbitkan menjadi buku. Bahkan novel keduanya, Tarian Bumi, menjadi fenomenal sekaligus kontroversial. Novel itu dengan sangat terbuka menghantam keadaan yang melingkupi kehidupan perempuan di kalangan bangsawan Bali yang masih sangat feodal. Dan dalam konteks adat istiadat Bali, novel kedua Oka itu dipandang sebagai sebuah pemberontakan terhadap adat.

Di luar novel-novel sayembara, juga ada Cala Ibi karya Nukila Amal pada 2003. Nun di Maluku, cala ibi adalah nama burung sejenis kolibri. Tapi, dalam goresan Nukila—gadis kelahiran Ternate, Maluku Utara, pada Desember 1971—Cala Ibi disematkan sebagai nama seekor naga. Menurut Nukila, tema sentral novel itu sebetulnya perjuangan seorang manusia—yang kebetulan berjenis kelamin perempuan—di sebuah kota besar. Sang gadis harus menyesuaikan hidupnya dengan nilai-nilai yang dianggap baik—tentu menurut kacamata sosial.

Sebuah tema sederhana, memang. Namun, di tangan Nukila, menjadi istimewa ketika tema itu dipolakan dalam bentuk angka delapan yang bersisipan, bolak-balik, tak runtut, fragmentaris. Pola itu juga dijalaninya dalam proses menulis. Meloncat-loncat. Karena itu, ia sempat mengirimkan salah satu bagiannya sebagai cerita pendek berjudul Laluba ke Jurnal Kalam pada November 2001—sebuah naskah yang berusia cukup lama, yang ditulisnya sejak 1997.

Tarian Bumi dan Cala Ibi tergolong novel yang memikat. Sejumlah kritikus sastra memuji keduanya. Tarian Bumi dianggap sebagai novel yang membuka ruang wacana pembebasan perempuan—terutama di Bali. Novel itu juga dijadikan topik studi Harry Aveling dari Latrobe University, Australia, dan Sinta Situmorang dari program pascasarjana kajian wanita di Universitas Indonesia.

Sedangkan novel Cala Ibi oleh sastrawan Budi Darma disebut sebagai novel eksperimental. “Bahasa metafora yang digunakan Nukila serba menabrak logika,” ujarnya. “Karena mimpi dipuja, realitas ditabrak, realisme digempur, sebagai konsekuensinya filsafat diusung masuk. Maka suara eksistensialisme pun masuk,” Budi menambahkan.

Kehadiran Oka dan Nukila juga ikut memperkuat deretan novelis perempuan kita. Sebab, dalam sejarah panjang sastra Indonesia, pengarang perempuan memang tak sebanyak pengarang pria. Novelis perempuan tertinggal sekitar 13 tahun dari novelis pria. Seperti diketahui, baru pada 1933 terbit novel Kalau tak Untung karya Selasih, karya yang dianggap sebagai tonggak kemunculan pengarang perempuan dalam jagat sastra Indonesia. Dan kini, hingga tahun 1995, hanya dijumpai 45 nama novelis perempuan Indonesia.

Waktu terus bergulir. Jagat sastra Indonesia kembali tersentak tatkala Ayu Utami muncul dengan novel Saman. Novel perdana Ayu itu dinobatkan sebagai pemenang pertama sayembara penulisan novel yang digelar Dewan Kesenian Jakarta pada 1998. Dan terlepas dari kontroversi yang mengikutinya kemudian, penobatan itu seakan menjadi perayaan atas “kebangkitan” pengarang perempuan kita. Sebab, beberapa tahun berselang, selain Oka dan Nukila yang disebut di atas, muncul novelis perempuan lainnya. Mereka masih belia, rata-rata berusia 20-an tahun. Mereka pun tak lahir melalui proses sayembara penulisan sastra—seperti halnya Ayu.

Sebut saja Dewi Lestari, Dinar Rahayu, Fira Basuki, Nova Riyanti Yusuf, Herlinatiens, dan Rachmania Arunita. Belakangan muncul Stefani Hid. Gadis kelahiran Surabaya, Jawa Timur, tahun 1985 itu Rabu pekan lalu meluncurkan novel perdananya, Bukan Saya, tapi Mereka yang Gila. Novel setebal 184 halaman itu berkisah tentang seorang gadis 17 tahun yang berjiwa labil, berasal dari keluarga broken home. Nian—begitu nama gadis belia itu—senantiasa gamang dalam melangkah, sehingga ia menganggap semua tindakannya adalah kebodohan. Dan satu di antara kebodohannya itu: ia menikmati hubungan gelap dengan seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang telah beristri. Nah, ketegangan-ketegangan dalam hubungan “cinta terlarang” itulah yang mewarnai novel karya mahasiswi desain grafis Universitas Trisakti, Jakarta, tersebut.

Di luar para novelis, muncul pula sejumlah penulis cerpen perempuan. Ada Djenar Maesa Ayu, misalnya, yang meluncurkan buku kumpulan cerpen Mereka Bilang, Saya Monyet!. Lalu Linda Christanty dengan kumpulan cerpennya Kuda Terbang Mario Pinto. Yang disebut terakhir ini baru diluncurkan pada Maret lalu. Kepada TEMPO, Linda mengaku bahwa cerpen-cerpennya itu sesungguhnya bertemakan percintaan. “Hanya, percintaan yang tragis,” ujar Linda.

Secara keseluruhan, buku Kuda Terbang Mario Pinto cukup menarik. Kita bisa menemukan realisme yang menantang: kaya dengan detail cerita, keunikan watak para tokohnya, dialog-dialog nan bernas, dan deretan kalimat yang lincah. Linda mengungkapkan, untuk menemukan kata yang pas dalam sebatang kalimat, misalnya, ia merenung sampai berhari-hari. “Hanya gara-gara mencari satu kata yang pas, saya sampai enggak bisa tidur,” kata pengagum Ronald Dahl dan Isabel Allende ini.

Begitulah. Sepanjang lima tahun terakhir, jagat sastra Indonesia memang dilimpahruahi puluhan karya sastra pengarang perempuan, baik berupa novel, kumpulan cerpen, maupun buku antologi puisi. Bila melihat kondisi ini, ungkapan sastrawan Sapardi Djoko Damono bahwa “masa depan sastra Indonesia berada di tangan perempuan” rasanya tak berlebihan.

Minggu, 11 Juli 2010

Energi Baru Achdiat

Nurdin Kalim, L.N. Idayanie
http://majalah.tempointeraktif.com/

Sastrawan angkatan Pujangga Baru, Achdiat Kartamihardja, ramah melayani puluhan penggemar yang antre meminta tanda tangan. Jari-jarinya yang sudah tampak keriput bergetar saat menorehkan pulpen di buku Manifesto Khalifatullah, Rabu sore pekan lalu, dalam acara peluncuran buku terbarunya itu di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. “Saya sangat bahagia bisa datang lagi ke sini,” ujar kakek yang 43 tahun terakhir menetap di Canberra, Australia, itu dengan sumringah.

Buku setebal 219 halaman yang diterbitkan Arasy Mizan, Bandung, itu bukanlah roman atau novel. Achdiat lebih suka menyebutnya “kispan” atau kisah panjang, sebagai pengganti istilah novelet.

Kisah panjang itu lahir dari pergumulan pemikiran dan keyakinan Achdiat, dalam menjalankan kegiatan keagamaan. Sekaligus merupakan proses perenungan makna hidup. Lewat buku tadi, ia kembali mengingatkan tujuan hidup manusia sebagai wakil Tuhan di dunia.

Lebih dari setengah abad lalu, saat berusia 37, Achdiat menulis roman Atheis. Roman sensasional yang berbicara tentang proses pencarian Tuhan. Dalam Khalifatullah, pencarian itu telah selesai. Buku itu lebih banyak mempertanyakan peran manusia di dunia yang kini diliputi pemikiran sekuler.

Sementara pada 1949 ia menentang ateisme lewat Atheis, kini lewat buku terbarunya itu, “Saya ingin menentang sekularisme,” ujar ikhwan Tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah dari Pesantren Godebag, Tasikmalaya, Jawa Barat itu. Pimpinan pesantren itu ayah dari Abah Anom, pemilik pesantren Suryalaya.

Achdiat mengisahkan dua peristiwa menarik yang kemudian menjadikan energi untuk menulis kisah panjang itu. Suatu hari dalam perjalanan dengan kereta api Canberra-Sydney, Achdiat berkenalan dengan seorang turis Amerika. Keduanya lantas terlibat perbincangan pelbagai hal, dari topik ringan hingga soal yang berat.

Dalam salah satu topik percakapannya mengenai Tuhan, sang turis, yang menganut paham sekuler, berkeyakinan bahwa Tuhan, dalam kehidupan alam semesta ini, tidaklah memiliki peran yang penting atau bahkan tak ada sama sekali. Yang mahapenting adalah manusia, yang berarti segala-galanya di alam semesta.

Di lain kesempatan, dalam jamuan makan di rumah koleganya di Canberra, Achdiat kembali terlibat perbincangan tentang Tuhan. Menurut tuan rumah, manusia adalah ciptaan alam. Tidak ada Yang Maha Pencipta. “Alam sendiri itulah Sang Maha Pencipta,” kata koleganya itu. Achdiat tak sependapat. Bagi dia, alam harus ada yang menciptakannya, yang tak lain adalah Tuhan. Perbincangan itu memang tak dimaksudkan mencari titik temu.

Namun dua peristiwa itu terus mengusiknya. Dan Achdiat terpompa mendalami aliran filsafat sekularisme itu melalui buku-buku. Hingga suatu hari, hasratnya kian menggebu untuk merespons sikap hidup sekularisme dalam bentuk semacam novel bertema imaniah-agamawi. “Saya langsung teringat kisah tentang khalifatullah,” ujarnya.

Sayang, semangatnya yang menggebu terhambat kondisi penglihatannya yang buruk akibat penyakit katarak yang telah dideritanya sejak sepuluh tahun terakhir. Terlebih oleh dokter dirinya dinyatakan terkena glaukoma, sehingga matanya terancam buta.

Beruntung, atas bantuan juru ketik dari Kedutaan Besar RI, Titin Fatimah, akhirnya ia bisa menyelesaikan buku itu. Proses penulisan buku itu melalui dua tahap. Pertama, ia merekam gagasannya yang ada di kepala lewat alat perekam. Lalu, rekaman suara tadi dialihkan ke bentuk tulisan oleh Titin Fatimah. “Proses pembuatan Khalifatullah sekitar dua sampai tiga bulan,” kata ayah empat anak, kakek 10 cucu dan 7 cicit itu menjelaskan.

l l l

Lahir di Cibatu, Garut, Jawa Barat, pada 6 Maret 1911, ia melewati masa kecilnya di lingkungan santri sebagai anak menak (priayi Sunda). Ayahnya, Kosasih Kartamihardja, pegawai sebuah bank rakyat di Kabupaten Garut. Sedangkan ibunya adalah adik seorang Wedana Ciawi, Tasikmalaya, Jawa Barat.

Setamat sekolah rendah (HIS), Achdiat melanjutkan ke MULO (setingkat SMP) di Bandung. Saat itulah, ia mulai keranjingan membaca buku karya sastrawan besar dunia koleksi ayahnya. Antara lain, buku William Shakespeare, Alexander Dumas, Leo Tolstoy, dan Multatuli. Boleh dibilang, buku-buku itulah yang telah mendorongnya menjadi seorang pengarang.

Anak kedua dari tujuh bersaudara itu kemudian melanjutkan ke AMS (setingkat SMA). Mula-mula ia masuk AMS Jurusan Bahasa dan Sastra Barat di Bandung. Tapi ia pindah ke AMS Solo, Jawa Tengah, Jurusan Bahasa dan Sastra Timur. Saat sekolah di Solo, Achdiat tinggal di rumah dokter Sulaeman Mangunhusodo, anak penggagas berdirinya Budi Utomo, dokter Wahidin Sudirohusodo. Padanyalah Achdiat banyak belajar.

Achdiat menuturkan pengalamannya ketika berada di kediaman dokter itu. Setiap malam purnama, Kanjeng Sinuhun Keraton Surakarta punya kebiasaan berkeliling kota dengan mengendarai mobil yang disopiri seorang Belanda. Klaksonnya memekik-mekik. Menurut tradisi, siapa saja yang berada di pinggir jalan yang dilalui mobil itu wajib berjongkok memberi hormat. “Dokter Sulaeman ikut berjongkok,” kata Achdiat seraya tertawa.

Pada 1932, Achdiat, yang satu kelas dengan penyair Amir Hamzah dan Sanusi Pane, akhirnya berhasil menamatkan sekolahnya di tingkat menengah. Sebenarnya ia ingin meneruskan kuliah di fakultas hukum. Tapi, karena saat itu sedang terjadi krisis (dikenal dengan malaise), dan ayahnya juga telah memasuki masa pensiun, ia pun kemudian memutuskan bekerja. Achdiat muda sempat bekerja di sejumlah media massa. Sebelum menjadi Kepala Redaksi Balai Pustaka, ia pernah menjadi redaktur Bintang Timur dan Mingguan Peninjauan, Betawi. Sambil bekerja, ia juga mengikuti kuliah-kuliah non-gelar filsafat Barat di Universiteit van Indonesia.

Mantan Kepala Jawatan Kebudayaan DKI itu banyak menulis esai dan kritik mengenai sastra, budaya, keagamaan, dan politik. Pada 1956, ia memperoleh Hadiah Sastra Nasional BMKN. Dan 15 tahun kemudian, ia mendapat kehormatan menerima Anugerah Seni dari Pemerintah RI.

Pada zaman ingar-bingar Orde Lama, mantan anggota Partai Sosialis Indonesia itu “menyingkirkan diri” ke Australia. Ia mengisahkan kepergiannya ke Negeri Kanguru itu diawali ketika suatu malam Profesor A.H. Jones dari Australian National University, Canberra, bertandang ke rumahnya di bilangan Galur, Jakarta Pusat. Jones mengundang Achdiat untuk mendirikan Departemen Kajian Indonesia di perguruan tinggi itu. Awalnya, Achdiat menolak. Tapi, karena dorongan istrinya, ia menyetujuinya. “Istri saya pengen ke luar negeri,” ujar mantan dosen Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Jakarta, itu mengisahkan.

l l l

Kini Achdiat telah berusia 94 tahun. Kulitnya keriput, giginya pun sebagian besar sudah ompong. Langkahnya tertatih dibantu sebatang tongkat, yang telah tiga tahun belakangan setia menemaninya ke mana-mana. Penggemar banyak cabang olahraga itu kini hanya bisa berjalan-jalan di sekitar rumahnya. “Itu pun hanya mampu berjalan maksimal 20 menit,” katanya.

Di rumahnya yang sentosa di pinggiran Kota Canberra, Achdiat melewati hari tuanya bersama Tati Suprapti Noor, istrinya yang dinikahinya pada 9 Juni 1938. Pasangan ini selalu seiring sejalan. Tapi kondisi indra keduanya sedikit berbeda. Achdiat memiliki pendengaran dan ingatan masih cukup kuat, hanya penglihatannya yang sudah kabur. Sebaliknya Suprapti, yang kini 88 tahun, sudah sulit mendengar dan sering lupa.

Selain berjalan-jalan, Achdiat mengisi harinya dengan membaca, meski dengan susah payah dibantu surya kanta (kaca pembesar). Ia sangat ingin membaca lagi tulisan Sir Frank Macfarlaine Burneton tentang “mati sempurna”. Burneton adalah seorang profesor sains dari St. John Curtin School of Medical Research, Australian National University, yang pada 1960 meraih Hadiah Nobel bersama pakar ilmu kedokteran dari Inggris, Sir Peter Medawar.

Dalam tulisan Burneton dinyatakan, kalau hidup kita sehat, niscaya akan panjang umur. Lalu ditutup dengan “mati sempurna”. Bagi Achidat, orang yang baik dan mengalami “mati sempurna”, jika dalam detik-detik terakhir hidup manusia, ingat dan pasrah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Achdiat berharap, kelak ketika maut menjemput, dirinya berada dalam kondisi seperti yang diyakininya.

Kini Achdiat masih memendam sejumlah impian, setelah Manifesto Khalifatullah diluncurkan. Dirinya masih ingin menerbitkan buku kumpulan cerpen religius. “Sekarang dalam proses penyelesaian.” Dan terakhir, ia ingin menulis kisah diri (otobiografi) yang diterbitkan Balai Pustaka. “Karena saya tumbuh dan dibesarkan oleh lembaga itu,” katanya.

Senin, 14 Juni 2010

Perjalanan 70 Tahun Sapardi Djoko Damono

Nurdin Kalim
http://www.tempointeraktif.com/

Sapardi Djoko Damono – lahir di Solo, Jawa Tengah, 20 Maret 1940 – adalah salah seorang penyair terbaik yang dimiliki Indonesia. Dengan karir yang panjang sebagai penyair, penerjemah, redaktur, dan pengajar sastra, Sapardi telah melahirkan banyak karya, murid, maupun peniru, yang tersebar di pelbagai penjuru.

Sajak-sajaknya, yang sederhana dan jernih namun menyimpan kedalaman tak terduga, telah menjadi suara tersendiri dan memberi corak baru dalam khasanah puisi Indonesia.

Sebagai sastrawan Sapardi Djoko Damono telah berjalan jauh. Berikut kisah perjalanan sang sastrawan:

Sejak di sekolah dasar, Sapardi sudah suka membaca karya sastra, termasuk sajak-sajak penyair nasional dan dunia. Dari sinilah minatnya kepada puisi muncul. Apalagi, setelah bersama keluarganya pindah dari tengah kota yang ramai ke pinggiran kota Solo yang sepi, ia punya banyak waktu luang karena tak memiliki teman. Sejak kelas II SMA itulah ia mulai menulis puisi – padahal ia harus belajar keras karena sedang menghadapi ujian kenaikan kelas.

“Saya masih ingat betul, bagaimana saya harus menyembunyikan puisi yang saya buat di bawah buku, bila ayah datang dan melihat saya belajar,” ujar si sulung dua bersaudara ini. Walau masih pemula, Sapardi mengirimkan puisi-puisinya ke majalah sastra. Karya pertamanya dimuat di Post Minggu, Semarang, Desember 1957. Selanjutnya puisi-puisinya menghiasi media Ibu Kota, termasuk majalah Mimbar Indonesia pimpinan H.B. Jassin, sang “paus” sastra Indonesia.

Cucu abdi dalem Keraton Surakarta, yang gemar membuat wayang kulit, ini belakangan menjadi salah-satu penyair terkemuka Indonesia. Melalui kumpulan puisinya, Sihir Hujan, yang memuat 51 sajak, Sapardi menerima anugerah “Puisi Putra II” dari Gabungan Persatuan Penulis Nasional (Gapena) Malaysia, 1983. Wardiningsih—bekas adik kelasnya di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, yang dinikahi pada pada 1965—ikut dalam penerimaan hadiah itu, walau sebelumnya ia tak pernah mau diajak menghadiri acara sastra karena memang tak suka sastra.

Beruntung Sapardi masuk Jurusan Sastra Barat UGM. “Karena, dengan penguasaan bahasa itu, saya langsung bisa menikmati dan berhubungan dengan sastra asing,” katanya. Kegiatannya di seputar kesenian, teater mahasiswa, musik, mengisi acara sastra RRI, cukup mendukung proses kreatifnya. “Saat itu saya juga sering keliling daerah untuk bermain sandiwara,” ujarnya.

Sapardi pernah bergabung dengan beberapa grup teater, antara lain, Bengkel Teater pimpinan Rendra. Bahkan, untuk membiayai pementasan, ia pernah menggadaikan sepedanya. Ia pun masih sempat menerjemahkan sajak-sajak Yunani, Cina, Rusia. Karena itu, “Saya tidak ada waktu untuk hal yang aneh-aneh.”

Begitu lulus UGM pada 1964, ia mengajar di IKIP Malang cabang Madiun, Jawa Timur, selama empat tahun, dilanjutkan di Universitas Diponegoro Semarang, Jawa Tengah, juga empat tahun. Sejak 1974, Sapardi mengajar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Sebagai dosen yang sastrawan, Sapardi merasa lebih santai, misalnya, sering mengenakan celana jins. “Saya selalu pakai sepatu sandal kalau mengajar,” katanya. Kalau telat menghadiri rapat, “Orang-orang jadi memaklumi karena mereka anggap sastrawan identik dengan ketidakteraturan,” ujarnya, tertawa.

Baginya menulis puisi itu seperti orang melukis. Seperti coretan demi coretan bagi pelukis, ia menyusun kata demi kata sampai susunan huruf atau kata itu menjadi bermakna. Selanjutnya, Sapardi menyerahkan kepada pembaca untuk memaknai sendiri. “Saya membuat puisi itu bukan untuk menyampaikan suatu pesan atau apa pun,” kata penyair yang salah satu sajaknya, Berjalan Ke Barat Waktu Pagi Hari dimuat dalam antologi puisi dunia.

Penyair yang pernah kuliah di Universitas Hawaii, Honolulu, Amerika Serikat ini sudah menjelajah ke pelbagai negara untuk mengikuti festival puisi. “Benua yang belum pernah saya kunjungi hanya Afrika,” tuturnya. Ia melihat, pembacaan puisi di banyak negara belum sepopuler di Indonesia. “Waktu pementasan festival puisi di Tokyo, yang menonton tidak lebih dari 30 orang,” katanya.

Sapardi juga menulis buku ilmiah. Di antaranya Sosiologi Sastra, Sebuah Pengantar Ringkas (1978), Novel Indonesia Sebelum Perang (1979, dan Sastra Indonesia Modern: Beberapa Catatan (1983).

Di waktu luang, ia mendengarkan musik. Koleksinya cukup lengkap: dari jazz sampai dangdut. Olahraganya senam ringan, yang penting baginya dapat mengeluarkan keringat. “Kalau orang seperti saya ini kan sudah tidak perlu lagi olahraga yang membentuk otot,” ujarnya.
(Nurdin Kalim/PDAT)

Karya-Karya Sapardi Djoko Damono:
Kumpulan Puisi/Prosa:

Duka-Mu Abadi, Bandung (1969)
Lelaki Tua dan Laut (1973; terjemahan karya Ernest Hemingway)
Mata Pisau (1974)
Sepilihan Sajak George Seferis (1975; terjemahan karya George Seferis)
Puisi Klasik Cina (1976; terjemahan)
Lirik Klasik Parsi (1977; terjemahan)
Dongeng-dongeng Asia untuk Anak-anak (1982, Pustaka Jaya)
Perahu Kertas (1983)
Sihir Hujan (1984; mendapat penghargaan Puisi Putera II di Malaysia)
Water Color Poems (1986; translated by J.H. McGlynn)
Suddenly the night: the poetry of Sapardi Djoko Damono (1988; translated by J.H. McGlynn)
Afrika yang Resah (1988; terjemahan)
Mendorong Jack Kuntikunti: Sepilihan Sajak dari Australia (1991; antologi sajak Australia, dikerjakan bersama R:F: Brissenden dan David Broks)
Hujan Bulan Juni (1994)
Black Magic Rain (translated by Harry G. Aveling)
Arloji (1998)
Ayat-ayat Api (2000)
Pengarang Telah Mati (2001; kumpulan cerpen)
Mata Jendela (2002)
Ada Berita Apa hari ini, Den Sastro? (2002)
Membunuh Orang Gila” (2003; kumpulan cerpen)
Nona Koelit Koetjing: Antologi cerita pendek Indonesia periode awal (1870an - 1910an)” (2005; salah seorang penyusun)
Mantra Orang Jawa (2005; puitisasi mantera tradisional Jawa dalam bahasa Indonesia)
Kolam (2009; kumpulan puisi)

Sapardi juga menerjemahkan beberapa karya Kahlil Gibran dan Jalaluddin Rumi ke dalam bahasa Indonesia.

Musikalisasi Puisi

Musikalisasi puisi karya Sapardi dimulai pada 1987, saat beberapa mahasiswanya membantu program Pusat Bahasa membuat musikalisasi puisi karya beberapa penyair Indonesia. Tujuannya , untuk mengapresiasikan sastra kepada siswa SLTA.

Saat itulah tercipta musikalisasi Aku Ingin oleh Ags. Arya Dipayana dan Hujan Bulan Juni oleh H. Umar Muslim. Dalam perjalanannya, Aku Ingin diaransemen ulang oleh Dwiki Dharmawan dan menjadi bagian dari soundtrack film Cinta dalam Sepotong Roti (1991), dibawakan oleh Ratna Octaviani.

Setelah itu lahirlah album Hujan Bulan Juni (1990), yang seluruhnya merupakan musikalisasi dari sajak-sajak Sapardi Djoko Damono. Duet Reda Gaudiamo – Ari Malibu dan sejumlah penyanyi lain yang memiankannya. Album Hujan Dalam Komposisi menyusul dirilis pada 1996.

Karena banyaknya permintaan, pada 2006 dirilis Album Gadis Kecil. Album itu diprakarsai oleh duet Dua Ibu, yang terdiri dari Reda Gaudiamo dan Tatyana. Setahun kemudian dirilis album musikalisasi puisi Becoming Dew oleh duet Reda – Ari Malibu.

Pada Tahun Baru 2008, pianis Ananda Sukarlan menggelar konser kantata Ars Amatoria, yang berisi interpretasinya atas puisi-puisi Sapardi serta karya beberapa penyair lain.

Buku
Sastra Lisan Indonesia (1983), ditulis bersama Subagio Sastrowardoyo dan A. Kasim Achmad. Seri Bunga Rampai Sastra ASEAN.
Puisi Indonesia Sebelum Kemerdekaan
Dimensi Mistik dalam Islam (1986), terjemahan karya Annemarie Schimmel “Mystical Dimension of Islam”, salah seorang penulis.
Jejak Realisme dalam Sastra Indonesia (2004), salah seorang penulis.
Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas (1978).
Politik ideologi dan sastra hibrida (1999).
Pegangan Penelitian Sastra Bandingan (2005).
Babad Tanah Jawi (2005; penyunting bersama Sonya Sondakh, terjemahan bahasa Indonesia dari versi bahasa Jawa karya Yasadipura, Balai Pustaka 1939).
(Nurdin Kalim/Pelbagai Sumber)

A Rodhi Murtadho A. Ginandjar Wiludjeng A. Junianto A. Kurnia A. Qorib Hidayatullah A. Yusrianto Elga A.S Laksana A’yat Khalili Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Razak Abdul Rosyid Abdul Wahab Abdurrahman Wahid Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adam Chiefni Ade P. Nasution Adhitia Armitriant Adi Prasetyo Adrizas AF. Tuasikal Afriza Hanifa Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agnes Rita Sulistyawaty Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunyoto Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Baso Ahmad Faishal Ahmad Fatoni Ahmad Hasan MS Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Khotim Muzakka Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Naufel Ahmad Rofiq Ahmad S. Zahari Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Ainul Fiah Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Alex R. Nainggolan Alfian Dippahatang Ali Audah Ali Mahmudi CH Ali Rif’an Almania Rohmah Ami Herman Amien Wangsitalaja Aminah Aminullah HA.Noor Amir Sutaarga Anam Rahus Anata Siregar Andari Karina Anom Andina Dwifatma Andong Buku #3 Andre Mediansyah Andri Awan Anett Tapai Anggie Melianna Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Wahyudi Anwar Nuris Ardi Bramantyo Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arie Yani Arief Joko Wicaksono Arief Junianto Ariera Arif Bagus Prasetyo Aris Kurniawan Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asmaul Fauziyah Asti Musman Atafras Awalludin GD Mualif Ayu Wulan Sari Aziz Abdul Gofar Azizah Hefni Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Balok Sf Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Benny Arnas Benny Benke Beno Siang Pamungkas Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Bernando J Sujibto Berthold Damshauser BI Purwantari Binhad Nurrohmat Bobby Gunawan Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Burhanuddin Bella Camelia Mafaza Catatan Cerbung Cerpen Chairul Akhmad Chamim Kohari Chavchay Syaifullah Cover Buku Cucuk Espe D. Zaini Ahmad D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Dahta Gautama Daisuke Miyoshi Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Danusantoso Dareen Tatour Darju Prasetya David Kuncara Denny Mizhar Denza Perdana Desi Sommalia Gustina Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewi Indah Sari Dewi Susme Dian Sukarno Didik Harianto Didik Kusbiantoro Dina Jerphanion Dina Oktaviani Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur Dipo Handoko Diyah Errita Damayanti Djoko Pitono Djoko Saryono Doddy Wisnu Pribadi Dody Kristianto Dody Yan Masfa Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi SS MHum Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Wiyana Dyah Ratna Meta Novia Dyah Sulistyorini Ecep Heryadi Eddy Pranata PNP Edeng Syamsul Ma’arif Eep Saefulloh Fatah EH Kartanegara Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Hendrawan Sofyan Eko Hendri Saiful Eko Windarto Elnisya Mahendra Elva Lestary Emha Ainun Nadjib Emil WE Endah Sulwesi Endo Suanda Eppril Wulaningtyas R Esai Evan Ys F. Moses F. Rahardi Fadlillah Malin Sutan Fahmi Faqih Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Kurnianto Fanani Rahman Fanny Chotimah Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Febby Fortinella Rusmoyo Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Gabriel Garcia Marquez Galang Ari P. Galuh Tulus Utama Gampang Prawoto Gandra Gupta Ganug Nugroho Adi Gerson Poyk Ghassan Kanafani Gita Nuari Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunoto Saparie H.B. Jassin Habibullah Hadi Napster Hadriani Pudjiarti Halim HD Halimi Zuhdy Hamberan Syahbana Han Gagas Hanibal W. Y. Wijayanta Hardi Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Hartono Harimurti Hary B Kori’un Hasan Aspahani Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana HE. Benyamine Hendra Junaedi Hendra Makmur Heri CS Heri Latief Heri Listianto Herman RN Herry Lamongan Heru CN Heru Nugroho Hikmat Gumelar HL Renjis Magalah Hudan Nur Hujuala Rika Ayu Huminca Sinaga IBM. Dharma Palguna Ibnu Wahyudi Ida Farida Idris Pasaribu Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilham Khoiri Imam Cahyono Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indiar Manggara Indra Intisa Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ira Puspitaningsih Irfan Budiman Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Zulkarnain Ismail Marzuki Iva Titin Shovia Iwan Kurniawan Jabbar Abdullah Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D. Rahman Jamal T. Suryanata Javed Paul Syatha Jayaning S.A JILFest 2008 Jody Setiawan Johan Edy Raharjo Johannes Sugianto Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Juan Kromen Julika Hasanah Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN Juwairiyah Mawardy Ka’bati Karanggeneng Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Keith Foulcher Kemah Budaya Panturan (KBP) Khansa Arifah Adila Khoirul Inayah Khoirul Rosyadi Khudori Husnan Ki Ompong Sudarsono Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Sastra Ilalang Indonesia Korrie Layun Rampan Kostela Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie L.N. Idayanie Laili Rahmawati Lamongan Lan Fang Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lely Yuana Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Liestyo Ambarwati Khohar Lina Kelana Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lucia Idayanie Lukman A Sya Lutfiah Lynglieastrid Isabellita M Arman AZ M Ismail M Thobroni M. Afifuddin M. Arwan Hamidi M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Luthfi Aziz M. Nurdin M. Yoesoef M.D. Atmaja M.S. Nugroho Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Mahmud Syaltut Usfa Mahmudi Arif Dahlan Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Martin Aleida Maruli Tobing Mas Ruscita Mashuri Masuki M. Astro Matroni Matroni Muserang Media: Crayon on Paper Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Mia Arista Mia El Zahra Mikael Johani Misbahus Surur Misran Mohamad Ali Hisyam Mohammad Eri Irawan Much. Khoiri Muh. Muhlisin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun Muhammadun AS Muhidin M Dahlan Mujtahid Mujtahidin Billah Mukti Sutarman Espe Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Munawir Aziz Musfarayani Musfi Efrizal Nafisatul Husniah Nandang Darana Naskah Teater Nelson Alwi Ni Made Purnamasari Nikmatus Sholikhah Nina Herlina Lubis Nina Susilo Ning Elia Noor H. Dee Noval Jubbek Novel-novel berbahasa Jawa Novelet Nunuy Nurhayati Nur Azizah Nur Hamzah Nur Kholiq Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurul Aini Nurul Anam Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi SA Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Okty Budiati Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Otto Sukatno CR Oyos Saroso H.N. Pagan Press Pagelaran Musim Tandur Palupi Panca Astuti Parimono V / 40 Plandi Jombang Pawang Surya Kencana PDS H.B. Jassin Petrus Nandi Politik Politik Sastra Pradana Boy ZTF Pramoedya Ananta Toer Pramono Pringadi AS Prof Dr Fabiola D. Kurnia Prosa Puisi Puji Santosa Puji Tyasari Puput Amiranti N Purnawan Andra Purnawan Kristanto Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang Group PUstaka puJAngga Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Ng. Ronggowarsito Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Kemat Hidayatullah Rahmat Sularso Nh Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rasanrasan Boengaketji Raudal Tanjung Banua Redland Movie Reiny Dwinanda Resensi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Ririe Rengganis Risang Anom Pujayanto Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roso Titi Sarkoro Rozi Kembara Rukardi Rumah Budaya Pantura (RBP) Rusmanadi S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saiful Amin Ghofur Saiful Anam Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Salman S. Yoga Samsudin Adlawi Samsul Anam Sanggar Lukis Alam Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang KSII Santi Puji Rahayu Sapardi Djoko Damono Saroni Asikin Sartika Dian Nuraini Sastra dan Kuasa Simbolik Sastra Jawa Timur Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil SelaSastra Boenga Ketjil #33 Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sinopsis Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputra Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soegiharto Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Spectrum Center Press Sri Weni Sri Wintala Achmad Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudirman Sugi Lanus Sukron Ma’mun Sulaiman Djaya Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungging Raga Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Supriyadi Surya Lesmana Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyanto Syaf Anton Wr Syaifuddin Gani Syaiful Amin Syarif Wadja Bae Sylvianita Widyawati TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie (1961-2019) Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Presetyo Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Tia Setiadi Tirto Suwondo Tita Tjindarbumi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tosa Poetra Tri Nurdianingsih Triyanto Triwikromo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus S Ulul Azmiyati Umar Fauzi Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Utari Tri Prestianti Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W Haryanto W.S. Rendra Wahyu Prasetya Wan Anwar Wawan Eko Yulianto Wawancara Wina Bojonegoro Wita Lestari Wong Wing King Wowok Hesti Prabowo Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yanusa Nugroho Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yopi Setia Umbara Yudhi Herwibowo Yudi Latif Yusri Fajar Yusuf Ariel Hakim Yuval Noah Harari Zacky Khairul Uman Zainuddin Sugendal Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zed Abidien Zehan Zareez Zhaenal Fanani Zubaidi Khan Zuniest