Tampilkan postingan dengan label Abdul Kadir Ibrahim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Abdul Kadir Ibrahim. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Januari 2009

Gelombang Puisi Hasan Aspahani

Abdul Kadir Ibrahim*
http://batampos.co.id/

Membaca puisi-puisi Hasan Aspahani seperti kita tengah membaca lekuk-lekuk, turun-naik, cekung, beralun-alun lautan yang bergelombang hebat. Terbayang dan dirasakan gelombang dahsyat tengah menuju pantai-gigi pasir pantai atau gelombang kecil di tepi pantai dan semakin ke tengah lautan yang semakin membumbung. Gelombang puisi Hasan Aspahani membuat kita menjadi “mantra”.

Sebagaimana lazimnya, berlaku selama terkembangnya zaman—lautan ketika angin sepoi-sepoi, maka gelombangnya biasa-biasa saja. Bahkan ketika musim teduh, lautan selalu dikatakan oleh orang tua-tua Melayu seperti air dalam talam, tenang, berdelau, terhampar maha luas dan menakjubkan! Namun, ketika angin bertiup kencang dan semakin kencang, maka gelombang di lautan pun semakin tinggi—yang dalam bahasa di tanah kelahiran saya, Natuna, gelombang “besar”, laut mengamuk.

Ketika gelombang lautan mengamuk, maka tampaklah pucuknya menyambar-nyambar, memecah buih dan memutih, yang dalam bahasa di tanah kelahiran saya Natuna, disebut pula bekat. Sehigga dikenal istilah gelombang laut besar dan bekat bak ketupang—sebagai menggambarkan lautan yang tengah mengamuk akibat topan-badai yang luar biasa.

Pun ketika kita menyaksikan, mengikuti, menyimak dan menikmati puisi-puisi Hasan Aspahani, niscayalah sangat merasakan semakin meningginya gelombang yang saya maksudkan itu. Tambah lagi kalau kita sudah menyaksikan dia membaca puisi-puisinya. Dia membaca dari tekanan suara yang sedang-sedang saja pada awal pembacaan, kemudian semakin meninggi-semakin meninggi dan akhirnya terasa sangat menyentak membuat kita terhenyak dan seketika meraba perih hati-nurani atas apa-apa yang tiada patut sudah terlanjur kita buat atau alami. Maka jangan heran, ketika Hasan Aspahani sedang membaca puisi lalu seorang penyair besar sekelas Rida K. Liamsi pun sempat menitikkan airmata dan itu pula yang saya saksikan di “Batam Kota Tengkorak Hitam”.

Dalam perjalanannya sebagai penyair—yang menurut perkiraan saya, Hasan Aspahani jikapun menjadi penyair, tetapi saya sangat yakin dia tidak akan sebesar sekarang, seandainya ia menetap (berpenghidupan) di tanah kelahirannya atau berada di kota lain sekalipun. Dia muncul dan kemudian menjadi penyair yang dikenal di tanah Indonesia dan beberapa negara mana-mana dunia, tersebablah adanya oleh karena ia tinggal, menentap (berpencaharian) di Kota Batam khususnya dan Kepulauan Riau umumnya. Tanah Melayu Kepulauan Riau (sebelumnya termasuk Riau daratan yang kini Riau) telah menjadi roh, inti-teras bagi kepengarangannya. Tanah ini telah menempa, mencemeti, menyemangati, dan membekali dia dalam membernaskan akal-pikirannya sehingga fasih memakai dan memaknai kata-kata.

Dari tanah ini (Kepulauan Riau) ada, hidup, tumbuh dan berkembang tradisi bahasa-sastra Melayu berupa cerita rakyat, syair, pantun, sapah-serapah (maksunya bukan “sumpah-serapah” atau kata yang benar “sumpah-seranah”, melainkan sejenis mantra tetapi kalimatnya pendek, singkat dan padat. Misalnya, hai ikan! Air pasang bawa ke insang/ air surut bawa ke perut/ sintak ragut/ biar putus daripada rabut/ puah!), mantra, gurindam, dan sebagainya. Di samping bahasa-sastra lisan tersebut, di kawasan ini ada sastrawan besar antara lain Raja Ali Haji, Ibrahim Sattah, Sutardji Calzoum Bachri, Aisyah Sulaiman Riau, Hasan Junus, Rida K. Liamsi dan BM. Syamsuddin.

Generasi selepas itu sebagai generasi baru, antara lain ada “Budak Natuna” kata Taufik Ikram Jamil dalam makalahnya sewaktu Dialog Selatan II di Pekanbaru (1995) Husnizar Hood, Hasan Aspahani, Samson Rambah Pasir dan Ramon Damora. Tak kalah penting, kawasan ini menyimpan “kekuatan gaib” yang luar biasa bagi lahirnya pengarang dengan karya-karya besar. Agaknya, karena dibangun dan ditopang bentangan lautan yang luas dan oleh banyaknya pulau yang kata Duad Kadir dalam satu di antara lagunya, “Segantang Lada”.

Di samping itu pula, di tanah ini pernah tumbuh, berkembang dan jaya Kerajaan Melayu (Kerajaan Bintan, Johor-Riau-Pahang-Lingga yang kemudian bernama Riau saja) dalam kurun waktu berabad-abad. Kerajaan Melayu dengan kebudayaan dan perabadannya yang sangam itu, niscayalah telah menjadi “hal penting” muncul dan besarnya nama-nama pengarang dari kawasan ini. Hal lain, di kawasan ini ketika Indonesia merdeka sebelum otonomi daerah berlaku boleh dikatakan “entah di mana kemerdekaan” itu. Dan, ketika otonomi daerah berlaku, ternyata hati-nurani, akal-pikiran pengarang tetap terusik oleh pedih-pilu kebodohan, kemiskinan dan pengrusakan lingkungan, baik di darat maupun di laut yang entah sampai bila pula tak lagi “berdarah” di tengah kehidupan masyarakat.

Tanah ini, adalah tanah yang bertuah bagi pemuliaan kata-kata (bahasa) dan budi (maknanya adalah jasa tetapi tidak mengharapkan balas jasa dan berbuat baik dengan ikhlash). Sebagaimana petuah Raja Ali Haji dalam Gurindam Dua Belas-nya “jika hendak melihat orang berbangsa/ lihatlah kepada budi dan bahasa”. Raja Ali Haji telah dengan sungguh-sungguh memarwahkan bahasa. Untuk itu atas usulan Walikota Tanjungpinang, Dra. Hj. Suryatati A. Manan kepada Guberur Riau, lalu kepada pemerintah pusat Presiden Republik Indonesia pun mengangkatnya menjadi pahlawan nasional pada November 2004: “sebagai pemurni bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia”.

Pada Agustus 2008 lalu, Presiden Penyair Indonesia kepenyairannya bermula dari Tanjungpinang mendapat penghargaan dari Presiden Republik Indonesia. Lalu, masih segar dalam ingatan kita, pada 28 Oktober 2008, Walikota Tanjungpinang, Dra. Hj. Suryatati A. Manan yang belakangan juga dikenal sebagai penyair dengan “gayanya” sendiri kabarnya satu-satunya kepala daerah yang mendapat menghargaan dari Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional RI atas jasanya melakukan pembinaan bahasa dan sastra di daerah. Juga menjadi pemakalah dan baca puisi serta berpantun dalam Kongres IX Bahasa Indonesia.

Anugerah pahlawan nasional yang diterima Raja Ali Haji atas jasanya dalam bidang bahasa dan sastra pada masa lalu yang makna-nilainya tetap mengkini, Sutardji Calzoum Bachri yang menerima anugerah atas “luar biasa” puisi-puisinya bagi perpuisian Indonesia modern bahkan memberi andil terhadap puisi-puisi dunia, serta Hj. Suryatati A. Manan pada masa kini menerima penghargaan secara nasional juga atas jasa dalam hal yang hampir sama, tidak dapat kita katakan sebagai sebuah kebetulan. Ketiga penghargaan secara nasional terhadap tiga tokoh tersebut, menjadi “penanda” yang jelas sudah, bahwa daerah ini memang mempunyai “marwah” dan “martabat” dalam bidang bahasa dan sastra.

Di bila-bila masa mendatang, tidaklah sebagai hal mengada-ada apabila Hasan Aspahani atau yang lainnya juga masuk dalam leretan yang mendapatkan penghargaan bukan hadiah sebagai pemenang dalam suatu sayembara secara nasional itu. Namun pada sisi lain, adalah kita tercuguk seperti kadam, ketika ada orang muncul mengkhotbahkan dirinya atau temannya sebagai penyair tapi entah di mana ia adanya pernah menulis puisi apa berupa koran, majalah, apatah lagi berupa buku atau agaknya di papan batu dengan alat tulis anak batu seperti zaman saya sekolah semasa SD dulu di kampung jauh, Natuna tak taulah.

Lainnya, tatkala rambut di kepala sudah beruban baru cerita nak menerbitkan buku kumpulan puisi, pun ada. Mengaku pula sebagai “datuk” penyair pun ada, meskipun sepengetahuan ramai orang yang bersangkutan tak dikenal dan tak pernah pun menulis apa-apa dalam bentuk lembaran apalagi di koran atau majalah. Agaknya di jendela serambi dapur ianya menulis. Seteruk itukah dunia sastra, Hasan?! Begelige, Wai!

Lain halnya dengan Hasan Aspahani karya-karyanya tak sulit diperoleh, dapat ditengok di koran-koran atau majalah lokal maupun nasional. Beberapa buku kumpulan puisinya secara sendirian atau beramai-ramai (bersama) penyair lainnya, juga ada. Puisinya, juga sudah dibincangkan ramai orang, baik dari kalangan sastrawan, kritikus sastra maupun lainnya. Agakanya, adanya penyair berkat “lampu aladin” semacam itu “lantaklah”. Bolehjadi, itu bahagian dari demokrasi juga dan “cara baru” untuk bertahan hidup?!

Di tanah Melayu, hakikat kata-kata sesungguhnya pantang diucapkan serampangan dan apalagi tidak memberi manfaat, tiada faedah, mendatangkan dosa. Kata-kata bagi orang Melayu amatlah pada inti-terasnya untuk memuliakan Tuhan, manusia dan kehidupan. Kata-kata dihadirkan dari mulut, antara hidup dan maut, tidak sekedar untuk mengucapkan atau menyampaikan sesuatu, melainkan ada kebaikan dan penuh pertanggungjawaban, baik kepada dirinya sendiri, orang lain bahkan kepada Allah SWT. Tersebab itulah, Raja Ali Haji mengatakannya “lihat kepada budi dan bahasa”. Kata-kata haruslah baik, indah dan terpuji.

Bagi orang Melayu terasa amatlah perih di hati bila ada orang tengah membaca katanya membaca puisi kata-kata yang dipakainya terang benderang menyebut apa-apa alat vital manusia atau semacam dengan itu. Misalnya, kata “selangkangan”, “perawan”, “vagina”, “pelacur”, “bersetubuh”, “mani”, dan sebagainya. Jika ia paham, sadar, tahu diri bahwa ianya orang Melayu atau hidup-tinggal-menentap (berpengidupan/bermata pencaharian) dan berkarya (mengarang) di tanah Melayu, kata-kata semacam itu malu ia pergunakan. Niscayalah ia akan berupaya sedapat-dapatnya memakai kata-kata kias, simbol, metafora atau lainnya sesuai hakikat bahasa bagi orang Melayu sebagaimana kita seneraikan di atas.

Puisi-puisi Hasan Aspahani sungguh bertabur, berlompatan, dan bertepek simbol, metafora (perlambangan). Kata-kata yang didipakai sebagai rangkaian kata-kata menjadi kalimat sepanjang puisinya benar-benar pilihan, bernas, bermartabat dan memuliakan manusia, alam-lingkungan dan Tuhan. Ini artinya, dia telah berhasil menjadi penyair (pengarang) bukan sekedar berjejak dan bertapak kaki di tanah Melayu Kepualauan Riau, melainkan “mengakar ke bumi dan menggapai ke langit” meminjam “istilah” judul buku Taufiq Ismail tanah (dunia) Melayu di masa lalu, kini dan mendatang.

Kita akan merasakan betapa Hasan Aspahani seolah-olah tidak memberi kesempatan kepada kita untuk rehat sebentarpun dan sebaliknya terus berlari, berpacu semakin kencang, semakin “menggila” agar mengikuti serangkaian kata-kata puisinya, baik setiap puisi maupun seluruh puisi dalam sebuah kumpulan buku puisinya. Makanya, di awal seneraian ini saya katakan, puisi Hasan Aspahani ibarat gelombang atau dengan kata lain puisi-puisinya benar-benar menjadi gelombang puisi. Merekam jitu masa lalu, mendedah bernas masa kini dan brilian ide bagi masa depan manusia dan kemanusiaan terhadap alam jua Tuhan. Penyair ini telah menjadikan kata-kata tidak seperti buih di pertemuan sungai dengan lautan, tetapi menjadikannya “mutiara” di tengah kata-kata “sakti” para pujangga.

Hasan Aspahani, menampilkan puisi saya tidak mengutif satu baris pun puisinya, karena sudah ada dalam buku kumpulan puisinya, antara lain Orgasmaya, (Sagang, 2008), yang kita masing-masing dapat membacanya yang kata-katanya bak merangkum pantun, petuah-petuah, syair, dongeng, gurindam, dan bahkan mantra. Tersebab itulah menjadikan puisinya kaya rasa, bernas nilai, sarat cita-cita, mulia pesan. Tersebab itulah, puisinya terasa tak puas-puas untuk dibaca, dinikmati dan niscayalah bila-bila masa tetap “mengkini” meminjam istilah Sutardji Calzoum Bachri (2004) aktual dan orisinal.

Hasan Aspahani, kalau diturutkan tulisan ini tak hendak usai. Kekayaan inetelektual dikau dalam meletakkan kata-kata pada singgasana meminjam istilah Kazzaini KS (2000) baik puisi maupun bentuk tulisan lainnya membuat orang lain hanya bisa temberang dan berkata-kata di balik jendela tua yang segera pengempapnya sampai tak berkutik. Entah berapa macam bunga untuk dapat melambangkan kata-kata yang kau “sabdakan” bagi dunia perpuisian Indonesia mutakhir dunia itu telah dicapai elok nian!

Tapi, sudahlah. Tahniah! Ehhm. Saya jadi teringat ketika kita baca puisi di Batam beberapa tahun lalu, penyair A. Aris Abeba sebelum baca puisi sempat “berkhotbah”. Katanya, jadilah penyair yang tidak terkena sindiran Tuhan, bahwa penyair yang hanya menulis syair atau puisi-puisi dengan kata-kata penuh kemuliaan tetapi tidak mengamalkan kemuliaan, atau kata-kata puisinya penuh kata-kata kotor, tidak senonoh, maka termasuklah dalam kelompoknya syaithan. Dalam kaitan ini, jangan pula awak sampai menjadi “penjual kata-kata”, nanti digelar “Nabi Palsu” dan penjaralah alamatnya. Nauzubillaahi min zaalik.

Oh, ya, kata sahabat kita di “seberang yang jauh” sayangnya sahabat itu tidak berkenan mengatakan nama daerah/kota sebenarnya daripada “seberang yang jauh” itu ternyata di kawasannya ada yang mengaku penyair, dan sudah berusia di atas 40 tahun bahkan hampir 60 tahun, tetapi kesukaannya mencaci-maki orang. Orang lain tak boleh “berpucuk” hebat, tersebab merasa ia sajalah “pemilik sahnya” hebat itu sepanjang masa. Kelakuannya sungguh susah mau disandingkan dengan Gurindam Dua Belas gubahan Raja Ali Haji. Perangainya seperti budak-budak degil yang tengah berebut pisang rebus.

Mendengar pernyataan pedihnya itu, saya hendak membantah keras, tetapi dia katakan, ada baiknya kita pinjam istilah Ebit G Ade: “tanyakan kepada rumput yang bergoyang” saja. Atau kita tanyakan kepada Dewa Mendu? Selambe sajalah! Tak kesah... Saya pun menelan ludah, mengurut dada, sabar! Sidang pembaca, cukuplah seadanya seneraian ini. Mohon maaf atas segala kesilafan dan kesalahan. Wassalam. ***

Tanjungpinang, Zulkaidah 1429/ November 2008

* Sastrawan (penyair & cerpenis Indonesia).

A Rodhi Murtadho A. Ginandjar Wiludjeng A. Junianto A. Kurnia A. Qorib Hidayatullah A. Yusrianto Elga A.S Laksana A’yat Khalili Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Razak Abdul Rosyid Abdul Wahab Abdurrahman Wahid Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adam Chiefni Ade P. Nasution Adhitia Armitriant Adi Prasetyo Adrizas AF. Tuasikal Afriza Hanifa Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agnes Rita Sulistyawaty Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunyoto Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Baso Ahmad Faishal Ahmad Fatoni Ahmad Hasan MS Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Khotim Muzakka Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Naufel Ahmad Rofiq Ahmad S. Zahari Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Ainul Fiah Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Alex R. Nainggolan Alfian Dippahatang Ali Audah Ali Mahmudi CH Ali Rif’an Almania Rohmah Ami Herman Amien Wangsitalaja Aminah Aminullah HA.Noor Amir Sutaarga Anam Rahus Anata Siregar Andari Karina Anom Andina Dwifatma Andong Buku #3 Andre Mediansyah Andri Awan Anett Tapai Anggie Melianna Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Wahyudi Anwar Nuris Ardi Bramantyo Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arie Yani Arief Joko Wicaksono Arief Junianto Ariera Arif Bagus Prasetyo Aris Kurniawan Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asmaul Fauziyah Asti Musman Atafras Awalludin GD Mualif Ayu Wulan Sari Aziz Abdul Gofar Azizah Hefni Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Balok Sf Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Benny Arnas Benny Benke Beno Siang Pamungkas Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Bernando J Sujibto Berthold Damshauser BI Purwantari Binhad Nurrohmat Bobby Gunawan Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Burhanuddin Bella Camelia Mafaza Catatan Cerbung Cerpen Chairul Akhmad Chamim Kohari Chavchay Syaifullah Cover Buku Cucuk Espe D. Zaini Ahmad D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Dahta Gautama Daisuke Miyoshi Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Danusantoso Dareen Tatour Darju Prasetya David Kuncara Denny Mizhar Denza Perdana Desi Sommalia Gustina Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewi Indah Sari Dewi Susme Dian Sukarno Didik Harianto Didik Kusbiantoro Dina Jerphanion Dina Oktaviani Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur Dipo Handoko Diyah Errita Damayanti Djoko Pitono Djoko Saryono Doddy Wisnu Pribadi Dody Kristianto Dody Yan Masfa Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi SS MHum Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Wiyana Dyah Ratna Meta Novia Dyah Sulistyorini Ecep Heryadi Eddy Pranata PNP Edeng Syamsul Ma’arif Eep Saefulloh Fatah EH Kartanegara Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Hendrawan Sofyan Eko Hendri Saiful Eko Windarto Elnisya Mahendra Elva Lestary Emha Ainun Nadjib Emil WE Endah Sulwesi Endo Suanda Eppril Wulaningtyas R Esai Evan Ys F. Moses F. Rahardi Fadlillah Malin Sutan Fahmi Faqih Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Kurnianto Fanani Rahman Fanny Chotimah Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Febby Fortinella Rusmoyo Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Gabriel Garcia Marquez Galang Ari P. Galuh Tulus Utama Gampang Prawoto Gandra Gupta Ganug Nugroho Adi Gerson Poyk Ghassan Kanafani Gita Nuari Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunoto Saparie H.B. Jassin Habibullah Hadi Napster Hadriani Pudjiarti Halim HD Halimi Zuhdy Hamberan Syahbana Han Gagas Hanibal W. Y. Wijayanta Hardi Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Hartono Harimurti Hary B Kori’un Hasan Aspahani Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana HE. Benyamine Hendra Junaedi Hendra Makmur Heri CS Heri Latief Heri Listianto Herman RN Herry Lamongan Heru CN Heru Nugroho Hikmat Gumelar HL Renjis Magalah Hudan Nur Hujuala Rika Ayu Huminca Sinaga IBM. Dharma Palguna Ibnu Wahyudi Ida Farida Idris Pasaribu Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilham Khoiri Imam Cahyono Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indiar Manggara Indra Intisa Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ira Puspitaningsih Irfan Budiman Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Zulkarnain Ismail Marzuki Iva Titin Shovia Iwan Kurniawan Jabbar Abdullah Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D. Rahman Jamal T. Suryanata Javed Paul Syatha Jayaning S.A JILFest 2008 Jody Setiawan Johan Edy Raharjo Johannes Sugianto Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Juan Kromen Julika Hasanah Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN Juwairiyah Mawardy Ka’bati Karanggeneng Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Keith Foulcher Kemah Budaya Panturan (KBP) Khansa Arifah Adila Khoirul Inayah Khoirul Rosyadi Khudori Husnan Ki Ompong Sudarsono Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Sastra Ilalang Indonesia Korrie Layun Rampan Kostela Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie L.N. Idayanie Laili Rahmawati Lamongan Lan Fang Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lely Yuana Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Liestyo Ambarwati Khohar Lina Kelana Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lucia Idayanie Lukman A Sya Lutfiah Lynglieastrid Isabellita M Arman AZ M Ismail M Thobroni M. Afifuddin M. Arwan Hamidi M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Luthfi Aziz M. Nurdin M. Yoesoef M.D. Atmaja M.S. Nugroho Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Mahmud Syaltut Usfa Mahmudi Arif Dahlan Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Martin Aleida Maruli Tobing Mas Ruscita Mashuri Masuki M. Astro Matroni Matroni Muserang Media: Crayon on Paper Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Mia Arista Mia El Zahra Mikael Johani Misbahus Surur Misran Mohamad Ali Hisyam Mohammad Eri Irawan Much. Khoiri Muh. Muhlisin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun Muhammadun AS Muhidin M Dahlan Mujtahid Mujtahidin Billah Mukti Sutarman Espe Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Munawir Aziz Musfarayani Musfi Efrizal Nafisatul Husniah Nandang Darana Naskah Teater Nelson Alwi Ni Made Purnamasari Nikmatus Sholikhah Nina Herlina Lubis Nina Susilo Ning Elia Noor H. Dee Noval Jubbek Novel-novel berbahasa Jawa Novelet Nunuy Nurhayati Nur Azizah Nur Hamzah Nur Kholiq Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurul Aini Nurul Anam Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi SA Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Okty Budiati Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Otto Sukatno CR Oyos Saroso H.N. Pagan Press Pagelaran Musim Tandur Palupi Panca Astuti Parimono V / 40 Plandi Jombang Pawang Surya Kencana PDS H.B. Jassin Petrus Nandi Politik Politik Sastra Pradana Boy ZTF Pramoedya Ananta Toer Pramono Pringadi AS Prof Dr Fabiola D. Kurnia Prosa Puisi Puji Santosa Puji Tyasari Puput Amiranti N Purnawan Andra Purnawan Kristanto Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang Group PUstaka puJAngga Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Ng. Ronggowarsito Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Kemat Hidayatullah Rahmat Sularso Nh Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rasanrasan Boengaketji Raudal Tanjung Banua Redland Movie Reiny Dwinanda Resensi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Ririe Rengganis Risang Anom Pujayanto Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roso Titi Sarkoro Rozi Kembara Rukardi Rumah Budaya Pantura (RBP) Rusmanadi S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saiful Amin Ghofur Saiful Anam Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Salman S. Yoga Samsudin Adlawi Samsul Anam Sanggar Lukis Alam Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang KSII Santi Puji Rahayu Sapardi Djoko Damono Saroni Asikin Sartika Dian Nuraini Sastra dan Kuasa Simbolik Sastra Jawa Timur Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil SelaSastra Boenga Ketjil #33 Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sinopsis Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputra Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soegiharto Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Spectrum Center Press Sri Weni Sri Wintala Achmad Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudirman Sugi Lanus Sukron Ma’mun Sulaiman Djaya Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungging Raga Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Supriyadi Surya Lesmana Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyanto Syaf Anton Wr Syaifuddin Gani Syaiful Amin Syarif Wadja Bae Sylvianita Widyawati TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie (1961-2019) Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Presetyo Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Tia Setiadi Tirto Suwondo Tita Tjindarbumi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tosa Poetra Tri Nurdianingsih Triyanto Triwikromo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus S Ulul Azmiyati Umar Fauzi Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Utari Tri Prestianti Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W Haryanto W.S. Rendra Wahyu Prasetya Wan Anwar Wawan Eko Yulianto Wawancara Wina Bojonegoro Wita Lestari Wong Wing King Wowok Hesti Prabowo Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yanusa Nugroho Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yopi Setia Umbara Yudhi Herwibowo Yudi Latif Yusri Fajar Yusuf Ariel Hakim Yuval Noah Harari Zacky Khairul Uman Zainuddin Sugendal Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zed Abidien Zehan Zareez Zhaenal Fanani Zubaidi Khan Zuniest