Tampilkan postingan dengan label Damhuri Muhammad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Damhuri Muhammad. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Oktober 2011

Ateisme Kepenyairan, Jalan Menuju Tuhan

Damhuri Muhammad*
Kompas, 9 Desember 2008

BISAKAH sastra dan agama bersekutu, lalu mendedahkan kebenaran yang sama? Bila pertanyaan ini diajukan kepada Adonis, dipastikan jawabnya mustahil. Bagi penyair Arab terkemuka itu, puisi dan agama bagai dua sumbu kebenaran yang bertolak belakang.

Puisi adalah pertanyaan, sementara agama adalah jawaban. Puisi adalah pengembaraan yang dituntun oleh keragu-raguan, sedangkan agama adalah tempat berlabuhnya iman dan kepasrahan. Lebih jauh, di ranah kesusastraan Arab, puisi dan agama bukan saja tak seiring jalan, agama bahkan memaklumatkan, jalan puisi bukan jalan yang menghulu pada kebenaran, tetapi menjerumuskan pada lubang kesesatan. Agama menyingkirkan para penyair Arab jahiliah ke dalam kelompok orang-orang sesat, orang-orang majnun (gila), penyihir. Inilah muasal segala kegelisahan dalam kepenyairan Adonis, yang disampaikannya pada kuliah umum di Komunitas Salihara, Jakarta (3/11/2008).

Tak ragu Adonis mengatakan bahwa sejak munculnya agama, tradisi puisi Arab redup dan akhirnya padam. Para penyair dianggap gila lantaran jalan puisi adalah jalan sesat, lagi menyesatkan. Itu sebabnya Adonis menjadi pembela jalan puisi yang telah disumbat rapat-rapat itu. Lahir dengan nama asli Ali Ahmad Said di Desa Al-Qassabin, Suriah, 1930. Meski baru bersekolah di usia 13 tahun, anak seorang petani yang juga imam masjid itu sudah belajar menulis dan membaca pada seorang guru di desanya dan sudah hafal Al Quran di usia sebelia itu.

Pada tahun 1944 ia membacakan puisi heroiknya di hadapan Presiden Suriah Shukri al-Kuwatli. Presiden terpesona dan mengirimkan Adonis masuk ke sebuah sekolah Perancis di kota Tartus. Adonis lulus dari Universitas Damaskus (1954) dengan spesifikasi filsafat.

Ia menerbitkan kumpulan sajak pertamanya pada 1955 dan pernah dipenjara karena pandangan politiknya. Pada 1956, Adonis meninggalkan tanah airnya, pindah ke Lebanon. Selama 20 tahun ia tinggal dan jadi warga negara di tanah jiran itu. Sejak 1986 Adonis pindah ke Paris. Ia telah menulis karya: puisi dan prosa lebih kurang 30 buku dan telah diterjemahkan ke pelbagai bahasa. Namanya kerap disebut sebagai calon kuat peraih Hadiah Nobel Sastra (tahun 2005, 2006, 2007).

Antologi puisi Nyanyian Mihyar dari Damaskus (terjemahan dari Aghânî Mihyâr Dimasyqî ini disebut-sebut sebagai karyanya yang paling masyhur di samping al-Tsawâbit wal Mutahawwil (Yang Tetap dan Yang Berubah)—yang kerap disebut karya pengarang ateis khas Timur. Adonis mengagumi pencapaian puitis para penyair Arab klasik seperti Imrul Qays (w. 550 M) yang menurutnya telah meniupkan ruh kebebasan berkreasi, memperlihatkan upaya pencarian ”yang baharu” dalam ungkapan, susunan kata, dan tidak mengacu pada ukuran-ukuran masa lampau. Namun, menurut dia, tradisi puisi yang gemilang ini mati sejak munculnya tradisi wahyu. Dalam pencarian kebenaran, penyair digantikan nabi. Di titik inilah ateisme kepenyairan Adonis bertumbuh, berkembang lalu memuncak pada sajak-sajak pendeknya seperti;

kita mati jika tidak kita ciptakan Tuhan
kita mati jika tidak kita bunuh Tuhan (dari sajak ”Sebuah Kematian”).

Mihyar sebentuk lagu pilu, elegi guna meratapi matinya kebebasan di jalan puisi. Adonis membangun sekian banyak pengamsalan tentang ketersingkiran penyair Arab kuno; penyihir debu, lonceng tanpa denting, orang-orang asing yang bahkan diasingkan oleh bahasanya sendiri. Ini senada dengan penilaian Ulil Abshar Abdalla (2004) bahwa Adonis mengumpamakan tradisi kepenyairan Arab seperti keterlunta-luntaan dan kepahitan hidup Al-Mutanabbi, penyair besar masa Dinasti Abbasiyah (abad ke-9). Al-Mutanabbi salah satu penyair yang dikagumi Adonis dan ia hendak mengasosiasikan diri pada sosok penyair yang hidupnya penuh liku dan dramatis itu. Satu ketika menjadi penyair istana, dipuja-puji, dihormati, tetapi kemudian dimusuhi istana, dijauhi oleh masyarakat, sejak itu ia menulis sajak-sajak yang pesimistis. Hidupnya berantakan dan akhirnya meninggal dengan cara yang tragis karena miskin. Pesimisme macam itu juga tergambar dalam sajak-sajak Adonis;

akan kami bunuh kebangkitan dan harapan
kami akan menyanyi dan berlindung
kami akan hidup bersama batu: kami, puisi, dan hujan
Biarkan kami o, Abu Nuwas. (Elegi untuk Abu Nuwas).

Adonis ateis?

Akan tetapi, benarkah Adonis mengingkari jalan wahyu karena tradisi kenabian telah mengalahkan tradisi kepenyairan? Apakah tuduhan ”ateis” layak diberikan kepadanya lantaran ia hendak meniadakan Tuhan demi kelapangan jalan puisi? Kalaupun ada teks agama yang memaktubkan ketersesatan penyair Arab, tentu tidak serta-merta berarti ketersesatan semua penyair pada masa itu. Tengoklah Hasan bin Tsabit yang tetap menggubah syair-syair madah (pujian) setelah teks turun. Berapa banyak penyair Arab yang cemerlang di masa nabi, lebih- lebih masa sesudah nabi? Lagi pula setiap ayat yang turun selalu dilatarbelakangi oleh asbab an-nuzul (sebab-sebab turun ayat). Artinya, penegasan teks perihal penyair sebagai penyihir dan majnun itu sifatnya kasuistik, tidak menggeneralisasi semua penyair. Bila Adonis kecewa dengan jalan kepenyairan yang menurutnya telah dibuntukan itu, kenapa ia masih mengakui pencapaian estetik Al-Mutanabbi, Al-Ma’arri dan Al-Buhturi yang ketiganya hidup di kurun pasca-kenabian?

Meski Adonis ”meniadakan” Tuhan di jalan kepenyairan, tetapi ”ateisme” itu tidak dalam rangka menjauhi Tuhan sebagaimana lelaku para ateis lain. Tampaknya Adonis hanya sedang dijangkiti kegelisahan lantaran sekian banyak jalan lama ternyata gagal mengantarkannya kepada Tuhan. Itu sebabnya ia meneruka jalan baru, yang meski tanpa Tuhan, tetapi pasti menghulu ke hadirat-Nya. Diam-diam Adonis sedang mempersiapkan sajak-sajaknya menjadi sebentuk ”bahasa lain” guna menjelaskan Tuhan masa depan:

sungguh, aku bahasa untuk Tuhan masa depan
sungguh aku penyair debu (Orpheus).

Jalan puisi yang hendak menyelamatkan nama Tuhan, yang selama berkurun-kurun terperangkap dalam bahasa agama- agama. Sampai di sini, Mihyar bukan lagi elegi untuk kematian puisi, di tangan Adonis, ia menjadi gairah asketis yang tiada bersudah dalam meraih persekutuan dengan Tuhan. Maka, tak ada yang perlu dicemaskan pada kepenyairan Adonis sebab ia bukan ateis, tetapi (mungkin) seorang perenialis….

*) Cerpenis Bergiat di Balesastra Kecapi, Jakarta
Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/12/sastra-dan-agama-ateisme-kepenyairan.html

Senin, 30 Mei 2011

Elitisme Kritikus Seni

Damhuri Muhammad
Kompas, 2 Januari 2011

ARIF B Prasetyo memaklumatkan kurun Facebook dan Twitter sebagai era kematian kritikus seni (Kompas, 19/12). Ia membincang berlimpah ruahnya ulasan karya seni di dunia maya, yang lantaran demokratisasi pembacaan, kemudian merenggut otoritas para kritikus.

”Siapa pun kini bisa menjadi kritikus yang berhak mengevaluasi puisi dan melegitimasi siapa pun yang ingin menjadi penyair,” ungkap Arif. Ia memperkokoh argumentasinya dengan diktum ”kematian pengarang” Roland Barthes (1915-1980) sebagai akibat dari meluasnya pembaca. Menurut Arif, otoritas pengarang yang telah dilumpuhkan oleh perayaan tafsir-bebas pembaca juga berakibat pada ”kematian kritikus”. Sebab, dalam banalitas pembacaan, komentar pakar seni tidak ada lagi bedanya dengan suara khalayak ramai. Tak jarang, pembaca jamak lebih berwibawa ketimbang kritikus seni.

Dalam konteks ”kematian pengarang”, Barthes hanya mendeklarasikan perluasan hak pembaca agar pengarang tidak menjadi satu-satunya penentu bulat-lonjongnya makna sebuah teks. Barthes tidak mengklaim ”kematian kritikus”—yang juga pembaca—seperti disinyalir Arif. Justru bila Arif mengatakan ”kematian pengarang” sebagai momen ”kelahiran pembaca”, itu juga berarti ”kelahiran kritikus”, bukan sebaliknya, bahkan kematian kritikus konvensional sekalipun. Bukankah pada akhir esainya Arif menegaskan bahwa kematian pengarang dapat menjadi momen kebangkitan kritikus?

Selain itu, merajalelanya ulasan-ulasan karya seni dalam hiruk-pikuk banalitas pembacaan di jagat maya yang tak terbendung itu, tidak relevan dengan diktum ”kematian pengarang”. Ada atau tidaknya diktum itu, perluasan hak pembacaan terhadap karya seni tetap tak terelakkan karena yang bekerja bukan lagi gagasan filsafat, melainkan teknologi IT yang bergerak sedemikian cepat dan pesat.

Demokratisasi

Demokratisasi pembaca lebih tepat ditimbang sebagai akibat paling nyata dari gelombang industrialisasi sejak awal abad ke-20, yang telah memperlakukan karya seni sebagai komoditas, sebagaimana barang-barang hasil produksi. ”Nilai-guna” karya seni telah merosot menjadi sekadar ”nilai-tukar”, begitu sinisme filsuf Jerman, Theodor W Adorno (1903-1969). Maka, parameter keberhasilan sebuah karya sastra kini hanya ditakar dengan jumlah eksemplar buku yang terjual di pasaran. Padahal, membeli sebuah novel belum tentu berarti memahami dan menyelami kedalamannya. Fenomena pergeseran paradigma seni semacam inilah yang ditandai Walter Benjamin (1892-1940) sebagai akibat dari reproduksi mekanistik hingga seni kehilangan aura, subtilitas, dan otentisitasnya.

Dalam khazanah sastra Indonesia mutakhir, tengoklah fenomena berhamburannya novel dengan embel-embel ”pembangunan jiwa”, ”kisah inspiratif”, yang sejak lima tahun terakhir menggemparkan dunia perbukuan karena angka penjualannya mencapai ratusan ribu eksemplar, puluhan kali lipat dibandingkan dengan penjualan karya sastra semacam Ronggeng Dukuh Paruk, Kunang-kunang di Manhattan, dan Orang-orang Bloomington. Meski buku laku belum tentu buku bermutu. Bagaimana bisa dikatakan bermutu bila yang bermunculan hanya prosa yang mementingkan segi didaktik (motivasi, menginspirasi, how to) ketimbang unsur estetik sebagai kekuatan paling inti. Kematian kritikus barangkali bukan karena banalitas pembacaan, melainkan karena sastra kita sedang defisit mutu estetik.

Gagasan Arif tentang kematian kritikus seni menyisakan dua hal penting yang patut dibincang. Pertama, hak pembacaan yang panjang-lebar diuraikannya. Kedua, kualitas pembacaan yang kurang dipertimbangkan, atau memang sengaja dilupakan. Muncul kesan, Arif memandang sebelah mata pada mutu pembacaan khalayak ramai dan menaruh respek kepada pembaca ”yang kritikus”.

Padahal, dalam kejamakan pembacaan yang dilakukan oleh para blogger dan facebooker tidak bisa dipukul rata bahwa semuanya berselera rendah. Emas tiada bakal menjadi loyang meski tercampak di comberan. Masalahnya hanya karena mereka tidak berbasis akademik, atau tidak berafiliasi pada sebuah ”institusi sastra” yang kerap menjadi tolak-ukur sebuah pengakuan.

Sebagai contoh, kajian komprehensif penyuka sastra Amerika Latin, Ronny Agustinus, terhadap novel-novel Isabel Allende di blog pribadinya (www.sastraalibi.blogspot.com), menurut saya, bisa bersaing dengan ulasan para akademisi di jurnal sastra. Dalam keriuhan tafsir-bebas pembaca—apa pun medianya—tetap ada yang dapat ditimbang sebagai kerja kritikus, bukan ”pembaca sekadar”. Lagi pula, bila Arif sudah meniscayakan tidak ada lagi beda antara suara kritikus seni dan suara pembaca massal, tentulah esai perihal kematian kritikus seni itu tidak akan muncul. Maka, alih-alih meratapi kematian kritikus, esai itu malah membuat saya riang-gembira karena ia justru memperlihatkan jantung kritikus seni masih berdetak dan akan terus bersuara dalam gemuruh banalitas pembacaan.

Analogi kritikus sebagai ”ia yang menari” dan pembaca awam sebagai ”mereka yang berjoget” dapat membuktikan mutu pembacaan yang terabaikan itu. ”Ia yang menari”, menyiratkan sebentuk elitisme kritikus yang masih berhasrat menggenggam otoritas penilaian terhadap karya seni. Garis demarkasi ini mengingatkan saya pada masalah usang tentang otoritas filsuf dan nonfilsuf dalam sejarah filsafat.

Tokoh filsafat profetik, Al-Farabi (850-950), membuat kategori ’am (umum) dan khawwas (khusus). Hanya kelompok khawwas yang berpeluang meraih aql al-mustafad, kemampuan kognitif paling puncak dalam abstraksi filsafat. Di ranah penciptaan ”surplus makna”, kaum khawwas dapat dinisbahkan kepada seniman dan kritikus. Bila Arif bereksperimen dengan menceburkan dirinya dalam kemassalan penikmat seni, menyiarkan esai-esainya di blog pribadi, akan tetap terasa beda antara pembaca expert dan pembaca biasa—yang menulis secara instan, tanpa pijakan metodologi, dan tentu saja serampangan sebagaimana analogi; ”yang berjoget”.

Begitu pula dengan endorsement di sampul buku-buku sastra. Akan sangat berbeda mutu endorsement yang ditulis kritikus sastra, seperti Budi Darma, Sapardi Djoko Damono, Melani Budianta—untuk menyebut beberapa nama—dengan testimoni seorang artis yang dipasang hanya untuk mendongkrak penjualan. Akan tampak jelas mana emas, mana loyang, mana yang hampa, mana yang bernas. Maka, kritikus seni tak pernah mati, ia akan terus menguasai panggung sebagai ”penari” dengan pesona lenggang lenggok tubuhnya di tengah-tengah kerumunan ”pejoget” yang berjingkrak-jingkrak dengan hasrat murahan….

Damhuri Muhammad, Cerpenis, Esais
Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2011/01/elitisme-kritikus-seni.html

A Rodhi Murtadho A. Ginandjar Wiludjeng A. Junianto A. Kurnia A. Qorib Hidayatullah A. Yusrianto Elga A.S Laksana A’yat Khalili Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Razak Abdul Rosyid Abdul Wahab Abdurrahman Wahid Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adam Chiefni Ade P. Nasution Adhitia Armitriant Adi Prasetyo Adrizas AF. Tuasikal Afriza Hanifa Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agnes Rita Sulistyawaty Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunyoto Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Baso Ahmad Faishal Ahmad Fatoni Ahmad Hasan MS Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Khotim Muzakka Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Naufel Ahmad Rofiq Ahmad S. Zahari Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Ainul Fiah Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Alex R. Nainggolan Alfian Dippahatang Ali Audah Ali Mahmudi CH Ali Rif’an Almania Rohmah Ami Herman Amien Wangsitalaja Aminah Aminullah HA.Noor Amir Sutaarga Anam Rahus Anata Siregar Andari Karina Anom Andina Dwifatma Andong Buku #3 Andre Mediansyah Andri Awan Anett Tapai Anggie Melianna Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Wahyudi Anwar Nuris Ardi Bramantyo Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arie Yani Arief Joko Wicaksono Arief Junianto Ariera Arif Bagus Prasetyo Aris Kurniawan Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asmaul Fauziyah Asti Musman Atafras Awalludin GD Mualif Ayu Wulan Sari Aziz Abdul Gofar Azizah Hefni Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Balok Sf Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Benny Arnas Benny Benke Beno Siang Pamungkas Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Bernando J Sujibto Berthold Damshauser BI Purwantari Binhad Nurrohmat Bobby Gunawan Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Burhanuddin Bella Camelia Mafaza Catatan Cerbung Cerpen Chairul Akhmad Chamim Kohari Chavchay Syaifullah Cover Buku Cucuk Espe D. Zaini Ahmad D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Dahta Gautama Daisuke Miyoshi Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Danusantoso Dareen Tatour Darju Prasetya David Kuncara Denny Mizhar Denza Perdana Desi Sommalia Gustina Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewi Indah Sari Dewi Susme Dian Sukarno Didik Harianto Didik Kusbiantoro Dina Jerphanion Dina Oktaviani Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur Dipo Handoko Diyah Errita Damayanti Djoko Pitono Djoko Saryono Doddy Wisnu Pribadi Dody Kristianto Dody Yan Masfa Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi SS MHum Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Wiyana Dyah Ratna Meta Novia Dyah Sulistyorini Ecep Heryadi Eddy Pranata PNP Edeng Syamsul Ma’arif Eep Saefulloh Fatah EH Kartanegara Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Hendrawan Sofyan Eko Hendri Saiful Eko Windarto Elnisya Mahendra Elva Lestary Emha Ainun Nadjib Emil WE Endah Sulwesi Endo Suanda Eppril Wulaningtyas R Esai Evan Ys F. Moses F. Rahardi Fadlillah Malin Sutan Fahmi Faqih Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Kurnianto Fanani Rahman Fanny Chotimah Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Febby Fortinella Rusmoyo Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Gabriel Garcia Marquez Galang Ari P. Galuh Tulus Utama Gampang Prawoto Gandra Gupta Ganug Nugroho Adi Gerson Poyk Ghassan Kanafani Gita Nuari Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunoto Saparie H.B. Jassin Habibullah Hadi Napster Hadriani Pudjiarti Halim HD Halimi Zuhdy Hamberan Syahbana Han Gagas Hanibal W. Y. Wijayanta Hardi Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Hartono Harimurti Hary B Kori’un Hasan Aspahani Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana HE. Benyamine Hendra Junaedi Hendra Makmur Heri CS Heri Latief Heri Listianto Herman RN Herry Lamongan Heru CN Heru Nugroho Hikmat Gumelar HL Renjis Magalah Hudan Nur Hujuala Rika Ayu Huminca Sinaga IBM. Dharma Palguna Ibnu Wahyudi Ida Farida Idris Pasaribu Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilham Khoiri Imam Cahyono Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indiar Manggara Indra Intisa Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ira Puspitaningsih Irfan Budiman Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Zulkarnain Ismail Marzuki Iva Titin Shovia Iwan Kurniawan Jabbar Abdullah Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D. Rahman Jamal T. Suryanata Javed Paul Syatha Jayaning S.A JILFest 2008 Jody Setiawan Johan Edy Raharjo Johannes Sugianto Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Juan Kromen Julika Hasanah Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN Juwairiyah Mawardy Ka’bati Karanggeneng Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Keith Foulcher Kemah Budaya Panturan (KBP) Khansa Arifah Adila Khoirul Inayah Khoirul Rosyadi Khudori Husnan Ki Ompong Sudarsono Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Sastra Ilalang Indonesia Korrie Layun Rampan Kostela Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie L.N. Idayanie Laili Rahmawati Lamongan Lan Fang Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lely Yuana Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Liestyo Ambarwati Khohar Lina Kelana Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lucia Idayanie Lukman A Sya Lutfiah Lynglieastrid Isabellita M Arman AZ M Ismail M Thobroni M. Afifuddin M. Arwan Hamidi M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Luthfi Aziz M. Nurdin M. Yoesoef M.D. Atmaja M.S. Nugroho Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Mahmud Syaltut Usfa Mahmudi Arif Dahlan Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Martin Aleida Maruli Tobing Mas Ruscita Mashuri Masuki M. Astro Matroni Matroni Muserang Media: Crayon on Paper Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Mia Arista Mia El Zahra Mikael Johani Misbahus Surur Misran Mohamad Ali Hisyam Mohammad Eri Irawan Much. Khoiri Muh. Muhlisin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun Muhammadun AS Muhidin M Dahlan Mujtahid Mujtahidin Billah Mukti Sutarman Espe Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Munawir Aziz Musfarayani Musfi Efrizal Nafisatul Husniah Nandang Darana Naskah Teater Nelson Alwi Ni Made Purnamasari Nikmatus Sholikhah Nina Herlina Lubis Nina Susilo Ning Elia Noor H. Dee Noval Jubbek Novel-novel berbahasa Jawa Novelet Nunuy Nurhayati Nur Azizah Nur Hamzah Nur Kholiq Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurul Aini Nurul Anam Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi SA Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Okty Budiati Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Otto Sukatno CR Oyos Saroso H.N. Pagan Press Pagelaran Musim Tandur Palupi Panca Astuti Parimono V / 40 Plandi Jombang Pawang Surya Kencana PDS H.B. Jassin Petrus Nandi Politik Politik Sastra Pradana Boy ZTF Pramoedya Ananta Toer Pramono Pringadi AS Prof Dr Fabiola D. Kurnia Prosa Puisi Puji Santosa Puji Tyasari Puput Amiranti N Purnawan Andra Purnawan Kristanto Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang Group PUstaka puJAngga Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Ng. Ronggowarsito Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Kemat Hidayatullah Rahmat Sularso Nh Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rasanrasan Boengaketji Raudal Tanjung Banua Redland Movie Reiny Dwinanda Resensi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Ririe Rengganis Risang Anom Pujayanto Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roso Titi Sarkoro Rozi Kembara Rukardi Rumah Budaya Pantura (RBP) Rusmanadi S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saiful Amin Ghofur Saiful Anam Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Salman S. Yoga Samsudin Adlawi Samsul Anam Sanggar Lukis Alam Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang KSII Santi Puji Rahayu Sapardi Djoko Damono Saroni Asikin Sartika Dian Nuraini Sastra dan Kuasa Simbolik Sastra Jawa Timur Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil SelaSastra Boenga Ketjil #33 Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sinopsis Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputra Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soegiharto Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Spectrum Center Press Sri Weni Sri Wintala Achmad Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudirman Sugi Lanus Sukron Ma’mun Sulaiman Djaya Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungging Raga Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Supriyadi Surya Lesmana Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyanto Syaf Anton Wr Syaifuddin Gani Syaiful Amin Syarif Wadja Bae Sylvianita Widyawati TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie (1961-2019) Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Presetyo Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Tia Setiadi Tirto Suwondo Tita Tjindarbumi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tosa Poetra Tri Nurdianingsih Triyanto Triwikromo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus S Ulul Azmiyati Umar Fauzi Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Utari Tri Prestianti Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W Haryanto W.S. Rendra Wahyu Prasetya Wan Anwar Wawan Eko Yulianto Wawancara Wina Bojonegoro Wita Lestari Wong Wing King Wowok Hesti Prabowo Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yanusa Nugroho Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yopi Setia Umbara Yudhi Herwibowo Yudi Latif Yusri Fajar Yusuf Ariel Hakim Yuval Noah Harari Zacky Khairul Uman Zainuddin Sugendal Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zed Abidien Zehan Zareez Zhaenal Fanani Zubaidi Khan Zuniest