Media Sastra JaTim

Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)

Jumat, 18 September 2009

Wong Jawa

Bandung Mawardi*
http://www.jawapos.com/

“Siapa saja yang ingin menjadi wong Jawa harus membaca dan menulis.” Kalimat dengan pesan imperatif ini disampaikan secara kalem oleh Suparto Brata dalam diskusi Wong Jawa Ilang Jawane di Solo pada 14 Juni 2008. Laku membaca dan menulis diklaim Suparto sebagai pengalaman jadi wong Jawa. Ungkapan relasional tentang wong Jawa dengan tradisi membaca dan menulis memang cukup mencengangkan pada hari ini, ketika sekian orang sibuk mencari definisi, memerkarakan identitas hibrida atau tafsir klise tentang takdir kekuasaan Jawa.

Apakah ciri substantif orang Jawa adalah membaca dan menulis? Pertanyaan ini muncul oleh pengakuan Suparto sebagai pengarang mumpuni dengan puluhan buku sastra dalam bahasa Indonesia dan Jawa. Afirmasi sebagai wong Jawa terselamatkan dan menjadi produktif ketika orang mau menekuni tradisi membaca dan menulis. Kebenaran memang terkandung dalam ungkapan kalem itu jika publik mau membuka kembali lembaran-lembaran kepustakaan Jawa dari zaman kakawin, babad, serat, kidung, sampai adopsi dan eksplorasi terhadap struktur tulisan modern dari peradaban Timur dan Barat.
***

Peran dan kerja keras P.J. Zoetmulder pantas dijadikan sebagai bukti kesuntukan pujangga Jawa untuk mencatatkan konstruksi wong Jawa dalam arus zaman. Penulisan teks-teks sastra dan sejarah membuat pelacakan terhadap deskripsi dan analisis tentang wong Jawa memiliki jejak dan tanda. Laku para pujangga merepresentasikan nubuat untuk generasi lanjutan mengenai kodrat menemukan biografi historis dan kultural dalam konteks Jawa. Pembacaan terhadap teks-teks lawas tentu jadi mekanisme untuk menghidupkan memori kolektif dengan impresi dan implikasi.

Buku Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang (1983) merupakan buku babon untuk penelusuran teks-teks Jawa dalam dialektika zaman. Zoetmulder telaten mengurusi naskah-naskah Jawa kuno untuk ikhtiar merekonstruksi jagat kultural dan estetika Jawa melalui bahasa tulisan. Naskah tertua diperkirakan muncul pada abad IX dalam bentuk kakawin tentang epos Ramayana. Naskah-naskah kuno menjadi “monumen bahasa” untuk dinikmati dengan laku membaca dan menulis. Monumen bahasa lalu terwariskan dalam tingkat keawetan yang mungkin melebihi candi, rumah, gapura, atau prasasti.

Zoetmulder menghadirkan kepada pembaca daftar panjang tentang laku kreatif pujangga-pujangga Jawa untuk mengungkapkan ide-ide religiusitas, estetika, etika, politik, dan kultural. Pilihan terhadap bahasa tulis membuktikan bahwa tradisi aksara sejak lama hidup dan disemaikan di Jawa sebagai bentuk konsekuensi menggerakkan peradaban. Pengekalan jejak historis dan nubuat dalam naskah adalah pertaruhan diri untuk menjadi manusia. Menulis merepresentasikan kesadaran dan strategi kultural untuk pengukuhan eksistensi dan pengajuan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan zaman.

Publik perlu membuka kembali khazanah Jawa dalam naskah Ramayana, Arjunawiwaha, Gatotkacasraya, Samardahana, Bhomantaka, Arjunawijaya, Sutasoma, Negarakretagama, Lubdhaka, dan lain-lain. Naskah-naskah kuno itu mengandung informasi fiksionalitas dan fakta mengenai lakon manusia dalam dialektika zaman. Kehadiran naskah tentu membuat ingatan atas sejarah atau identitas biografi kultural menemukan titik sambung pembayangan terhadap asal usul dalam keterpengaruhan peradaban-peradaban besar di tanah Jawa.

Pengaruh peradaban India tampak kentara dalam naskah-naskah Jawa kuno. Perjumpaan peradaban membuat konstruksi identitas tak permanen, tapi inklusif untuk perubahan. Laku para pujangga membuktikan, ada karakter elegan untuk menjalani lakon kultural dalam tegangan otentisitas dan akulturalisme. Jejak panjang pengaruh India terus terasakan sampai hari ini. Pembacaan atas naskah-naskah Jawa kuno tentu mengesankan bahwa ada kemungkinan kerepotan menguraikan ambiguitas wong Jawa dan kerumitan dalam pewarisan identitas kultural Jawa.
***

Orang Jawa hari ini justru dihadapkan pada pilihan tema-tema besar dan kuasa teks dari pelbagai sumber Timur dan Barat. Teks ikut menentukan kehadiran wong Jawa dan proses kehilangan kejawaan melalui negasi dan afirmasi dari progresivitas peradaban global. Pemahaman identitas lokal menjelma sebagai tema pinggiran dan lekas terhapuskan oleh konsensus tentang manusia kosmopolitan. Pengesahan kerepotan merumuskan identitas manusia hari ini kentara ditentukan oleh kuasa teks, permainan tafsir, dan operasionalisasi ideologi teks melalui ranah politik, ekonomi, teknologi, atau seni.

Perkara identitas orang Jawa pada hari ini mengandung dilema dan ambiguitas dalam batas tegangan tradisionalitas dan modernitas. Pengajuan jawab melalui jejak dan tanda tradisi kelisanan tentu tidak menjadi rumusan utuh. Kesadaran atas tradisi pustaka adalah penggenapan untuk membaca ulang dan merumuskan diri kembali sesuai dengan takdir zaman. Kesadaran pustaka justru melemah karena kelengahan dalam menghadapi mode zaman. Fase tulisan seperti diloncati dengan kultur audiovisual untuk penguatan tradisi kelisanan. Barangkali godaan besar ini mengakibatkan wacana wong Jawa ilang Jawane kehilangan jejak referensial melalui teks kultural.

Dokumentasi pustaka sebagai sumber pengetahuan menjadi keniscayaan untuk tak sekadar menerima kodrat normatif. Suparto mengistilahkan sebagai kodrat weruh lan krungu (melihat dan mendengar). Menulis adalah strategi ampuh untuk sadar pengetahuan. Kesadaran ini dibuktikan oleh kerja keras para pujangga Jawa meski dalam fragmen zaman ini kerap terlupakan atau sekadar dijadikan album nostalgia lama tanpa pesan kontekstual. Pesimisme atas peran kepustakaan dalam pewacanaan identitas kultural Jawa perlu diklarifikasi dengan kehadiran data dan tafsir mutakhir.
***

Ikhtiar menghidupkan kerja literer pujangga Jawa pernah dibuktikan oleh Poerbatjaraka dan Tardjan Hadidjaja dalam buku Kepustakaan Jawa (1952). Buku ini menghadirkan sinopsis atas teks-teks literer Jawa lama dan ulasan pendek. Peran buku ini signifikan untuk pengekalan dan pewacanaan atas tradisi aksara dalam peradaban Jawa. Ensiklopedia naskah Jawa membuktikan, tingkat peradaban dan karakteristik orang Jawa terhadap eksplorasi lakon hidup dalam aksara. Tradisi itu mengalami tragedi ketika zaman berubah dalam kecepatan tinggi dan dijalankan dengan hukum dominasi. Kepustakaan Jawa lalu jadi bab kecil di antara bab-bab besar jagat teks kontemporer.

Ungkapan wong Jawa ilang Jawane mungkin menemukan pembenaran ketika tradisi membaca dan menulis memang diabaikan dan hilang. Kesadaran akan aksara ini mengalami titik kritis ketika kebijakan politik kebudayaan dari negara tidak memberikan akses dan merestui tradisi membaca-menulis. Pemanjaan kultural dalam ideologi konsumsi justru melemahkan kepemilikan identitas kultural Jawa. Menulis bisa jadi subversi untuk tak kalah atau terkooptasi oleh kuasa zaman. Barangkali, untuk menjadi wong Jawa, diperlukan syarat kunci dalam laku membaca dan menulis. Begitukah? (*)

*) Peneliti Kabut Institut Solo.

Read More......

Gus Mus: Semua Penyair Guruku

Ami Herman
http://www.suarakarya-online.com/

Kiai yang juga dikenal sebagai budayawan, pelukis, dan penyair, KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus, mengaku terus terang bahwa semua penyair yang ada di negeri ini, terutama sekali penyair yang usianya di atasnya, adalah teman sekaligus gurunya.

“Saya menganggapnya demikian karena dalam banyak kesempatan, saya tidak sekadar curhat dengan mereka, tetapi juga belajar, terutama dalam proses kreatif kepenyairan. Jujur, puisi-puisi yang saya buat untuk menerjemahkan tentang suatu kenyataan, kezaliman, keangkaramurkaan, kebatilan, dan cinta kepada Allah, mereka kok bisa pas membahasakannya dalam bait-bait yang pendek tapi komunikatif, sedangkan saya belum. Itu yang membuat saya banyak belajar kepada penyair-penyair yang sudah matang memandang kehidupan,” ujar Gus Mus.

Pengakuan Gus Mus itu diungkapkan ketika menjadi pembicara dalam acara peluncuran kumpulan sajak Sihir Cinta karya Timur Sinar Suprabana di DPRD Jawa Tengah, Semarang, Senin lalu, yang kebetulan dihadiri sejumlah cendekiawan, wartawan, belasan penyair termasuk Sitok Srengenge. Namun, beberapa wartawan yang telah mengenal sosok Gus Mus menilai, penuturan sang kiai bahwa semua penyair adalah gurunya merupakan bentuk dari sikapnya yang selalu merendah. “Soalnya, puisi-puisi Gus Mus yang banyak beredar di berbagai penerbitan nasional malah sering disebut para penyair senior sebagai puisi sufi. Kecintaan Gus Mus terhadap kesederhanaan dan kebersahajaan sudah menjadi gaya hidupnya sejak lama. Jadi, kami nggak heran lagi kalau mendengar pernyataan Gus Mus yang merendah itu. Yang pasti, puisi-puisi dan cerpen-cerpen Gus Mus sangat khas,” tutur beberapa penyair di Semarang.

Karya sastra Gus Mus bisa khas antara lain karena tidak mengikuti satu gaya kepenyairan dari orang tertentu. Kenyataan itu pula yang kerap menyulitkan orang lain untuk mencari-cari kesamaan gaya kepenyairan penulis Kumpulan Puisi Balsem ini dengan penyair lainnya. “Namun, kalau mau meneliti baris per baris puisi saya, mungkin di setiap baris ada gaya Timur Sinar Suprabana, Sitok Srengenge, atau Beno (Siang Pamungkas). Inilah Indonesia, tidak ada yang tahu,” katanya disambut tawa hadirin.

Gaya banyak penyair yang ada dalam puisinya itulah yang, menurut pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuth Thalibin, Rembang ini, menjadi kehebatan dirinya dalam menciptakan puisi. Kini Gus Mus sering bolak-balik Rembang-Jakarta untuk mengisi rekaman acara menjelang Ramadhan di sebuah stasiun televisi swasta di Jakarta.

Read More......

Kamis, 17 September 2009

Cak Nur: Cendekiawan-Aktivis

Abdul Razak
http://www.jurnalnasional.com/

Nurcholish Madjid adalah ikon pemikiran pembaruan dan gerakan Islam di Indonesia. Cak Nur, panggilan populernya, bukan hanya seorang cendekiawan yang berdiam di menara gading intelektualitas. Namun dia juga adalah seorang aktivis pergerakan, bahkan politikus.

Politik praktis merupakan jalan hidup yang mendominasi perjalanan hidup Cak Nur. Dia lahir di tengah-tengah keluarga Masyumi. Ayahnya, KH Abdul Madjid, dikenal salah seorang tokoh partai politik Islam terbesar di era Orde Lama itu.

Politik praktis mulai ditekuni Nurcholish saat menjadi mahasiswa, pertengahan tahun 1960-an. Ia terpilih sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ciputat, tempat dia menimba ilmu di Fakultas Sastra dan Kebudayaan Islam Institut Agama Islam Negeri Syarief Hidayatullah, Jakarta. Anak Jombang, Jawa Timur yang lahir 17 Maret 1939 ini bahkan menduduki jabatan Ketua Umum Pengurus Besar HMI dua periode berturut-turut, 1966-1969 dan 1969-1971. Meski begitu, sebetulnya politik sudah ada dalam pikiran santri Pondok Pesantren Darussalam, Gontor, Ponorogo, Jawa Timur itu sejak Pemilu 1955.

Ketika masih berstatus mahasiswa, Cak Nur tampil sebagai seorang intelektual muda. Dirinya banyak bicara soal demokrasi, pluralisme, dan humanisme.

Gagasan dan pemikiran pria yang sempat menjabat Presiden Persatuan Mahasiswa Islam Asia Tenggara ini memukau banyak orang. Oleh orang-orang Masyumi dia digelari “Natsir muda”. Pemikiran Nurcholish yang paling menggegerkan, terutama para aktivis gerakan Islam, adalah saat dirinya melontarkan pernyataan politik “Islam yes, partai Islam no”. Sebuah pemikiran politik yang face to face langsung dengan mainstream semangat politik persatuan Islam yang menguat kala itu.

Meski begitu, pada Pemilu 1977, ketika para aktivis mahasiswa cenderung memilih Golkar sebagai kendaraan politik, Cak Nur satu-satunya tokoh yang meminta agar mahasiswa tidak memilih Golkar. Dia memilih kampanye bersama Partai Persatuan Pembangunan, partai Orde Baru yang terbentuk dari fusi partai-partai Islam peninggalan era Orde Lama.

Setelah Cak Nur kuliah di Universitas Chicago, Illinois, Amerika Serikat, untuk meraih gelar doktor dalam bidang filsafat, awal 1990-an, dirinya mulai tampil sebagai cendekiawan-intelektual yang lebih memenara gading. Cak Nur banyak berkecimpung di ranah akademik, dan meninggalkan hingar bingar dunia politik praktis.

Ia kembali memasuki ranah politik praktis jelang berakhirnya Orde Baru. Pada Mei 1998, terlihat besarnya pengaruh Cak Nur. Saat itu Nurcholish berbicara langsung kepada Soeharto, memintanya mundur. Dan, berakhirlah kekuasaan Orde Baru yang telah mengakar selama 35 tahun. Puncaknya, dia sempat tampil sebagai salah seorang kandidat presiden pada Pemilu 2004. Namun, itu berakhir antiklimaks, karena akhirnya ia mengundurkan diri dari proses pencalonan melalui Konvensi Partai Golkar.

Read More......

Abdul Hadi WM: Malaysia Remehkan Indonesia

Abdul Hadi WM (Wawancara)
http://suaramerdeka.com/

KASUS model asal Indonesia Manohara Odelia Pinot dan Raja Kelantan Tengku Muhammad Fakhry serta konflik Ambalat memanaskan lagi hubungan diplomatik dan budaya antara Malaysia dan Indonesia. Sejak sama-sama berdiri tahun 40-an, hubungan bilateral selalu pasang surut. Ada kalanya panas, ada kalanya mesra. Untuk mengetahui kenapa pasang-surut itu terjadi, berikut wawancara dengan Prof Dr Abdul Hadi MW, pengajar Universitas Paramadina yang tahun 1991-1997 menjadi penulis tamu dan pengajar di Universiti Sains Malaysia.

Hubungan Malaysia-Indonesia memanas lagi sampai-sampai Wapres Jusuf Kalla menyatakan kita siap berperang. Menurut pandangan Anda, apa sebab relasi Indonesia-Malaysia begitu rapuh?

Ya jelas masalah politik dan ekonomi. Harap diingat, kolonialisme yang memisahkan negara-negara di Asia Tenggara. Pada masa kolonial itu, komposisi kependudukan Malaysia adalah China, Melayu, dan India. Usaha kolonial untuk memisahkan ras-ras itu tampaknya berhasil.

Tentu ada kelompok rasial yang tidak senang Malaysia dekat dengan Indonesia karena secara kultural, etnik dan agama memang satu rumpun. Mereka bermain dalam percaturan politik dalam negeri di Malaysia yang kemudian berdampak pada hubungan dengan Indonesia. Biasa, mental kolonial itu menganggap bahwa hal-hal yang berkaitan dengan budaya tradisional Asia lebih rendah.

Dulu percaturan politik dan ekonomi Indonesia lebih diperhitungkan di kawasan Asia, tapi belakangan Malaysia menggungguli. Apa superioritas ekonomi Malaysia sekarang yang membuat mereka cenderung memandang rendah Indonesia?

Dilihat dari segi ekonomi, mereka memang merasa lebih unggul dan berhasil. Tentu mereka akan memperlakukan negara-negara di sekitarnya, termasuk Indonesia yang belum berhasil membangun ekonominya itu sebagai bagian dari ekspansi ekonomi mereka.

Penggerak ekonomi di sana tidak hanya dari rumpun Melayu. Jangan lupa, pengusaha di sana banyak yang terdidik secara Barat. Dan tidak bisa disalahkan ada segi rasialnya juga. Apalagi Singapura. Ini harus diakui oleh mereka sendiri.

Adakah pemimpin yang tampil di negara itu turut berperan memperkeruh hubungan kedua negara?
Pemimpin-pemimpin Malaysia, dari Mahathir hingga sekarang itu kan orang-orang Melayu didikan Barat yang dekat dengan pemikiran kolonial yang menganggap Batat atau Inggris itu contoh segala-galanya. Dari segi kultur, orang-orang Melayu merasa memimpin dunia Melayu. Kemelayuan itu kan ada dua, di Indonesia dan Malaysia. Di Indonesia tidak terbangun karena kesalahan pemerintahan. Kaum intelektual Indonesia, kalau berbicara tentang Melayu, rujukannya selalu Malaysia. Kita lupa bahwa di Indonesia juga ada Melayu.

Kalau orang berbicara Islam, kan selalu berpikir, oo.. Islam yang di Jawa. Kita lupa bahwa Islam yang di Melayu ini yang menjadi perekat dengan Melayu di Indonesia.

Belakangan ini banyak karya budaya Indonesia yang diklaim oleh Malaysia. Dari batik, reog, sampai saman dari Aceh mereka promosikan sebagai budaya Melayu.

Itu setengahnya tidak salah. Banyak orang Malaysia yang keturunan Jawa dan Aceh. Sejak lama mereka punya batik Melayu, batik Kelantan. Tapi orang Indonesia tidak mau menegaskan ada batik Jawa, ada batik Pekalongan, ada batik Madura. Lalu dalam kajian-kajian tentang seni, batik itu pengaruh China pada budaya Jawa. Pengaruh Islam-nya mana, pengaruh Persi-nya di mana, tidak ditegaskan.

Kita di Indonesia dididik hindusentris. Ada islamophobia di dalam penelitian ilmiah di Indonesia. Nah, Islam-nya itu yang diklaim oleh Malaysia. Dalam sastra Melayu kan pengaruh Islam sangat kuat. Di Indonesia itu tidak dipelajari, tapi di sana, karena merasa orang Melayu, mereka mempelajari dan mengembangkannya.

Kerajaan Melayu kan terdiri atas Samudera Pasai, Malaka, dan Aceh Darussalam. Dari tiga kerajaan itu, satu ada di Malaysia (Malaka), dan satu di Indonesia. Sejarawan kita menganggap perkembangan kebudayaan Melayu selalu dimulai dari Malaka. Makanan empuk bagi mereka. Lupa bahwa Samudera Pasai lebih dulu dari Malaka. Dan Aceh itu selalu dianggap Aceh saja, padahal Aceh Darussalam itu sumber peradaban Melayu. Persepsi sejarah ini mereka manfaatkan bahwa pusat kebudayaan Melayu itu Malaka. Jadi Indonesia itu hanya periferal Kerajaan Malaka.

Itu sudah ada sejak zaman Inggris dan Belanda, dan masuk ke dalam pemikiran kaum intelektual dan negarawan Indonesia. Pelopor sastra Melayu modern itu selalu dikatakan Abdullah bin Abdulkadir Munzi di Malaysia. Padahal di sini ada Raja Ali Haji. Ada Hamzah Fansuri di Aceh yang lebih dulu. Tapi kita tidak mau mengangkat.

Kecenderungan orang Malaysia memandang rendah Indonesia sepertinya mulai menguat saat kita mengirimkan TKI ke sana. Anda juga melihatnya demikian?

Jelas. Keunggulan ekonomi itu memang sesuatu yang penting. Sejak awal 70-an, pemerintah kita belum berhasil membangun ekonomi dengan baik. Akibatnya, Malaysia selalu menganggap rendah Indonesia.

Mereka itu kan orang-orang yang memiliki kompleks inferioritas terhadap orang Indonesia dalam pencapaian intelektual. Dan setelah maju secara ekonomi, mereka ingin membalas, merasa lebih unggul, dan menganggap orang Indonesia yang bekerja di sana lebih rendah.

Pada tahun 70-an, orang Indonesia dibawa ke Malaysia untuk mengatasi ketimpangan populasi Melayu dengan etnis China. Tapi hubungan dengan perusahaan-perusahaan, baik milik ras Melayu maupun China yang semula mesra kemudian berbalik menjadi hubungan perbudakan.

Ada hal menarik. Di satu sisi, mereka merasa lebih unggul, tapi di sisi lain tidak. Bahkan musik dan sinetron Indonesia, begitu meraja di Malaysia. Mereka berkiblat ke kita.

Ya. Tapi itu bisa menyebabkan kecemburuan para seniman di sana. Dan lagi, yang secara umum kita ketahui kan hanya di bidang musik dan film. Sebetulnya, bukan hanya di bidang itu. Di bidang sastra, ilmu pengetahuan, pemikiran keagamaan, mereka juga berorientasi ke sini.

Sayangnya, kita memperlakukan pemikiran kita setengah hati. Pemikiran pada pemikir Islam di Indonesia seperti Hamka atau M Natsir dipelajari di perguruan tinggi di Malaysia. Buku-buku Pramoedya, Ahdiat Kartamiharja, Hamka, dijadikan teks wajib di sana.

Mereka ingin lebih setara dengan seniman-seniman Indonesia. Tapi tidak berhasil juga. Secara tradisi, Indonesia memang jauh lebih unggul. Tapi usaha mereka untuk memperkenalkan karya tentang kemelayuan ke dunia internasional, sangat tinggi, dibiayai pemerintah. Kesusastraan Malaysia itu diperkenalkan ke mana-mana. Tapi lihat, bagaimana pemerintah memperlakukan sastrawan kita. Temasuk kajian kita tentang budaya Melayu.

Apa yang bisa kita lakukan untuk menumbuhkan kembali hubungan antara kedua negara yang lebih harmonis?

Upaya yang terbaik, pemerintah mesti bertindak tegas dan cepat terhadap, pertama, kalau berhubungan dengan pelanggaran wilayah, seperti kasus Ambalat dan Sipadan-Ligitan. Cepat panggil Dubes Malaysia di sini.

Yang kedua, pemerintah harus menangani setiap kasus perlakuan terhadap TKI di sana. Saya lihat Dubes RI di Malaysia itu tidak pernah membantu sejak dulu sampai kasus Manohara sekarang. Lepas tangan saja, sepertinya kita itu tunduk.

Yang ketiga, dalam hukum internasional, kita harus aktif mendata pulau-pulau yang kita miliki dan memberikan batas wilayah. Jangan lupa, mereka membangun angkatan laut dan angkatan udara yang kuat. Sementara angkatan bersenjata kita semakin lemah. Kita terlalu mengandalkan pertahanan rakyat. Zaman Soeharto masih efektif, karena rakyat masih punya patriotisme. Tapi sekarang, saat tingkat kemiskinan demikian tinggi, tidak ada pertahanan rakyat.

Di tingkat Asia Tenggara, Indonesia harus punya pusat kebudayaan di Malaysia, Filipina, dan sebagainya. Martabat kita ada di situ. China, misalnya, punya tokoh-tokoh besar di bidang intelektual, kesenian, segala macam. Indonesia, bangsa yang begini besar ini, punya filsuf tidak, punya sastrawan tidak, punya ilmuwan tidak, punya nabi juga tidak. Indonesia menjadi bangsa yang rapuh karena pencitraan semacam itu tidak dibangun. Padahal, kita punya tokoh-tokoh besar yang dikagumi di Malaysia dan Asia Tenggara.

Sekarang di Facebook muncul slogan ”Malaysia Trully Indonesia”. Apa komentar Anda?

Ya bagaimana.. Di Malaysia itu, museumnya tidak terlalu bagus. Isinya banyak benda dari Indonesia. Tapi itu diaku sebagai museum terbesar di Asia Tenggara. Padahal, benda-benda Islam-nya dari Sumatera, Jawa. Ya seperti Museum Malaka yang memamerkan peninggalan sejarah Hang Tuah, Hang Lekir, Hang Jebat, dan sebagainya.

Tapi mereka memiliki kelebihan di bidang ekonomi dan politik, mereka angkat di situ. Sedangkan kakak tua ini (Indonesia), miskin secara ekonomi, jadi seperti raksasa yang lumpuh.

Barangkali harus menunggu ekonomi kita lebih kuat?

Ya, tapi ekonomi dan kebudayaan itu kan dua sisi dari mata uang yang sama. Kadangkala ekonomi yang makmur memengaruhi perkembangan kebudayaan, kalau ada kesadaran tentang kebudayaan. Kalau tidak, ya akan begini saja, terus-nenerus berpikir kebendaan. Tapi ada kalanya kebudayaan yang membangkitkan ekonomi.

Selain ekonomi yang lebih mapan, promosi budaya dan wisata Malaysia di luar negeri gencar sekali. Bukankah itu membuat klaim mereka terhadap produk-produk kebudayaan Melayu makin menyudutkan Indonesia?

Ini juga menyangkut infrastruktur pengetahuan kita. Dalam dunia pariwisata, misalnya, Indonesia selama ini berorientasi ke zaman Hindu. Yang bisa dijual ya cuma Bali, Prambanan, Borobudur. Lupa bahwa setelah zaman Hindu ada zaman Islam. Ada juga zaman Kristen berkembang seperti di Ambon, Batak, Manado.

Profil: ABDUL Hadi Wiji Muthari, Lahir di Madura 24 Juni 1946.
Dia memperoleh pendidikan di Fakultas Sastra dan Kebudayaan serta Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada. Gelar PhD dia peroleh dari Pusat Pengajian Ilmu Kemanusiaan, Universiti Sains Malaysia. Selain mempelajari kesusastraan Melayu/Indonesia dan falsafah Barat, dia juga mempelajari kebudayaan dan kesusastraan Timur. Sebagai penyair, dia telah menhadiri berbagai pertemuan sastrawan internasional. Puisi dan esai-esainya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Bukunya antara lain Riwayat, Laut Belum Pasang, Potret Panjang Pengunjung Pantai Sanur, Cermin, Meditasi, Tergantung Pada Angin, Anak Laut Anak Angin, Pembawa Matahari dan Madura, dan Luang Prabhang.(/)

Read More......

Amir Hamzah dan Jalan Terjal Menuju Tuhan

Grathia Pitaloka
http://www.jurnalnasional.com/

ADA banyak cara menuju Tuhan. Salah satunya seperti yang dilakukan Amir Hamzah melalui sajak-sajaknya. Dalam bait liris Amir berkeluh kesah tentang kerinduannya pada Sang Pencipta. Setelah Amir meninggal dunia, hampir tidak ada penyair Indonesia lain yang begitu bergetar rasa rindunya kepada Zat yang Mahagaib itu.

Amir terlahir sebagai seorang aristokrat Melayu. Ia merupakan anggota keluarga Sultan Langkat, bagian kelas feodal yang saat itu dipandang hormat oleh masyarakat. Semenjak kecil Amir sudah akrab dengan sastra melayu. Konon nama yang ia sandang merupakan bentuk kekaguman sang ayah, Tengku Muhammad Adil terhadap Hikayat Amir Hamzah.

Sejak kecil Amir dibesarkan dalam lingkungan agama Islam yang taat. Selain bersekolah di Langkatsche School (HIS), sekolah dengan tenaga pengajar orang-orang Belanda, ia juga belajar mengaji di Maktab Putih. Setiap sore tiba, Amir dan teman-temannya melangkah ke rumah besar bekas istana Sultan Musa itu untuk belajar kitab suci.

Paduan ajaran Barat dan ilmu agama yang dipelajari membentuk suatu reaksi kegelisahan di kepala Amir. Kegelisahan itu semakin menggebu ketika ia menjejakan kaki ke tanah Jawa untuk melanjutkan pendidikan di Aglemeene Middelbare School (AMS) jurusan Sastra Timur di Solo.

Rasa rindu itu semakin meluap dan butuh saluran pelampiasan. Maka bak remaja yang tengah jatuh cinta, Amir pun mulai mengungkapkan kerinduannya lewat sajak. Namun bukan lewat sajak yang merayu Tuhan dengan menempatkannya sebagai kekuasaan, melainkan sesuatu yang digandrungi. Jalan yang tidak akan dipilih oleh mereka yang memaknai Tuhan dengan teratur, steril dan tidak gaduh.

Horatius, penulis puisi liris terkemuka di Roma abad ke-7 sebelum Masehi, pernah berseru untuk berani menggunakan pengertian sendiri. Sapere aude!. Baginya kemandirian merupakan pilar utama. Puisi yang hanya mengulang kaji akan mati sebelum sampai. Dan ratusan tahun setelah masa Horatius, Amir tampil sebagai penyair yang tak luruh dengan pengertian masal. Ia muncul sebagai bagian dari modernitas, manusia dari masa tatkala kemandirian dinyatakan sebagai tanda pencerahan.

Tengok saja sajaknya yang satu ini: Hatiku yang terus hendak mengembara ini membawa daku ke tempat yang dikutuk oleh segala kitab suci di dunia, tapi engkau, hatiku, berkitab sendiri, tiada sudi mendengarkan kitab lain.

Pasti orang jarang menduga jika sajak “tak biasa” itu lahir dari tangan seorang laki-laki berparas alim dengan kopeah yang selalu melekat dikepala. Laki-laki bernama Amir Hamzah. Kegelisahan yang mengalir dalam darahnya memacu untuk terus hendak mengembara. Gairahnya begitu binal, bandel, dan berontak. Tak gamang memasuki tempat terkutuk. Tak sudi mendengarkan segala kitab suci.

Dalam sajak-sajaknya, Amir melukiskan hubungannya dengan Tuhan sebagai “bertukar tangkap dengan lepas”. Sebuah akidah, serumus hukum, paling banter hanya bisa menuntutnya untuk jinak. Tapi bukankah penyair yang paling rapi sekalipun selalu punya saat-saat yang majenun.

“Engkau ganas// Engkau cemburu…// Mangsa aku dalam cakarmu// bertukar tangkap dengan lepas.” Begitulah cara Amir menggambarkan keagungan Tuhan. Penggambaran yang terkadang membuat orang yang tidak mengenalnya menjadi salah tafsir.

Dengan caranya sendiri Amir menggambarkan Tuhan sebagai satu wujud yang keindahan tak terperi, satu kenyataan yang kedalamannya tak terbatasi.Metafora, perumpamaan, teladan, dan dongeng-dongeng, bukan sekadar bumbu, melainkan sebuah jalan menuju Tuhan.

Read More......

Rabu, 24 Juni 2009

Puisi-Puisi A. Ginandjar Wiludjeng

RIWAYAT KEMATIAN

Dia disini lagi, entah dari mana dia datang
kuyup dibulir-bulir hujan, kemarau mengeringkan
merenggut segala rengkuh,
menghampa segala udara
melepas segala rupa,
memburai segala bentuk,
bersama usia, tipis saja
datang dan pergi, segaris saja
tak berjarak, tak berjarak.

Kusentuh dia berguguran :
seperti galau, seperti resah, seperti sangsai,
seperti sepi, seperti dingin, seperti sangsai,
terpisah.

Terentang,
teregang,
terpasung,
tersalib,

Dia menungguku
di hari kelahiran
di kematian

Akupun tak bermaksud tuk pergi, karena ku takkan bisa berlari
akupun tak bermaksud menolak, karena ku tak bisa



SEMUSIM BERSAMA LUKA YANG MAHA DUKA

Limbung segala jiwa, angin membawaku linglung,
serasa anak kecil, yang berlari mengejar layang-layang daun gadung,
tersesat dia dikembara senja, sendirian terjebak rumpun-rumpun bambu,
disitu jalan kecil penuh kerikil, sayup menabuh kesunyian senja,
jiwamu Yang Paling Sunyi, terdampar dipesisir gamang

Dalam pusara musim, angin terus meringkik, memanggigil-manggil
kalan-jalan sendiri dibalur gamang persimpangan
lantas menemu diriku yang lain, yang asing dipenjuru mata angin,
seperti keterasingan yang kau tepis selagi sendiri,
mengadu pada kesunyian Yang Maha Tahu

Yang mungkin lain bagimu
yang mungkin asing bagimu

Jejalan asing, musim asing
orang-orang asing
rumah-rumah berdesak
menepi di paling tepi
digigir yang paling gigir

Tinggal resah disini, mendekam tak juga dia berpaling
musim yang selalu memanggil, aku menggigil-mengutuk segala dinding

Anak-anak terluka terluka di musim
luka yang sama
keterasingan yang sama
semusim bersama luka,
luka yang maha duka

Selasa, 15 Juli 2008



SAJAK KERETA EKONOMI
; penumpang yang sabar

Szgeghzst...zwrughzst...plegetszghstreegetzst...grtagetzs...ughts...

nasi-nasi, sisa si raja tikus, repotnasi, padi di sawah disiangi globalisasi.
duaribuan-duaribuan, ribuan tahun menjadi budak, pribumi itu-itu lagi.
makan-makanlah kenyang, sekenyang perut celeng, muka serigala, buronan peradilan.
nasi goreng-nasi goreng, nasi-nasional, gorengan kemiskinan, terpanggang kebijakan,
pasar-pasar tradisional terpanggang, mall-mall tegak berdiri,
saham gorengan ditawar muka bopeng investasi.

Szgeghzst...zwrughzst...plegetszghstreegetzst...grtagetzs...ughts....

rokok-rokok, ayam berkokok, pahlawan kesiangan, minta sanjungan.
permen-permen, preman-preman bersorban, orang-orang berseragam, naik pitam.
air-air, dalam botol, dijual-dijual, diambil dari pegunungan, dibotol-dibotol.
kipas-kipas, bablas, demokrasi kebablasan, buat semua jadi amblas.
soto jaran, soto gajah, sontoloyo, wakil rakyat sontoloyo, minta tunjangan lagi.

Szgeghzst...zwrughzst...plegetszghstreegetzst...grtagetzs...ughts...

koran-koran, berita naiknya harga-harga, artis yang selingkuh, cerai, dan kawin lagi, dll, dll, dll, dll.
kopi-kopi, anget-anget, ingat-ingat jangan salah pilih dihari pemilu, nanti ketipu lagi.
kacang goreng-kacang rebus, rebuslah hari-hari kami, gorenglah hari depan kami.
yang melambai payah pada bus-bus penyok, yang menunggu lemah pada kereta ini.

Szgeghzst...zwrughzst...plegetszghstreegetzst...grtagetzs...ughts...

susu hangat, susu murni, susah hidup, hidup susah,
hidup-hidup kok susah terus,
susah-susah kok hidup terus.
tahu asin, seasin keringat kami mengalir, engkau bilang kami malas dan tidak disiplin.
kopi-kopi, pinokio tukang tipu, uang rakyat dikorupsi.
jahe-jahe, pahe-pahe, paket hemat regulasi, privatisasi, cabut subsidi,
hegemoni ala kolonial, liberalisasi, konglomerasi,
kapitalisasi, imperialisme tai kucing.
istirahat lama, lebih baik minum bajigur, sarjana-sarjana nganggur,
yang lain jadi penggusur.

Szgeghzst...zwrughzst...plegetszghstreegetzst...grtagetzs...ughts...

minyak angin, harga minyak naik lagi, gila hormat apa lagi.
tisu-tisu basah, lahan basah, jadi rebutan menteri-menteri dan orang berdasi.
diobral-diobral, baju-baju, murah-murah, segala tambang, hasil bumi, tenaga kerja, silahkan beli semua, silahkan ambil semua, semuanya, semaunya.
tandas-tandaskan distasiun penghabisan.

Pekalongan-Semarang, November 2008.



SENJA MERAH SAGA

Lelaki letih itu datang disenja.Lantas dia tandaskan segala, pada senja yang diam. Diam sediam batu. Dan semua dikekalkan. Sejauh lelaki berjalan. Kemana angin berlari, disitu bara dia hunjamkan. Senjauh kapal melayar kesamudera yang lain, dia lemparkan sauh diketerasingan pulau-pulau. Diujung senja yang letih, dia kalungkan pualam dileher senja. Gelang-Gelang ditangan senja. Cincin dijemari senja. Senja yang melepas sejarah merah saga. Sejarah kelu, penuh : antagonis, tritagonis, protagonis. Lelaki itu menandai gua-gua senja dengan totem-totem wayang. Semar, gareng, petruk, bagong. Merapal doa-doa, matera-mantera. Tanda dia baca, lewat kata. Dia dedahkan peta-peta kuno ditubuh senja. Utara, selatan ,timur, barat. Berkecamuk-berkecamuk Ribuan tahun.Berperang. Bertempur. Diburu.Memburu.Memakan. Dimakan. Melindas. Ditindas. Dia selami kitab-kitab para nabi. Dan dia berkhayal menjadi salah satu diantara mereka. Bersemedi, menyambut wahyu-wahyu yang berlereran. Turun bersama jarum-jarum hujan. Iqro,Iqro,Iqro.Dia sambangi gua Hiro, Taman Getsmani. Gunung Golgota. Jabal Rahmah. Sampai disenja ini, lelaki itu terdiam dihening yang paling bening. Membuncah segala. Hanya hening yang paling tahu tentang senja yang menyejarah. Tentang pertempuran yang belum usai. Adam dan Hawa yang terusir dari surga sore itu.

1 Desember 2008. Yogyakarta.



TOTEM - PATOKADO

Malam merambat, tambatkan diresah itu lagi
serupa buluh-buluh gelombang laut, tak habis-habisnya menjilati pasir pesisir
resah ini mumbang dari arwah nenek moyang,
dari debur tenang laut Jawa, dari ganas laut Cina selatan,
membuncah dalam debur, dari kerling tajam mata Patokado,
“ Aku adalah perompak penguasa Lautan Nusantara!”

Menyeru dari zaman ke zaman, tak putus di bayonet Kolonial, tak gentar dalam dentum meriam Marsose.

Cut bung, itu menderu-deru dipesisir Jawadwipa,
dipenghujung Tumasik, Di Goa- Tallo, dipesisir Swarnadwipa,
disepanjang pasir laut nusantara

Sejak lama tertambat dan dia tak mau pergi,
totem-totem itu memanggil,
anak-anak yang lahir dari buluh-buluh air yang berselingkuh dengan karang,
dihajar matahari, sebengkah tanah garing,
dihunjam jarum-jarum hujan, seganas liar gelombang nusa

Totem-totem itu menyeruak, membuncah dimalam mandi cahaya
serupa pertautan jiwa yang tak lerai dalam
bias jarak yang menggaung dalam goa-goa totem,
peng-alam-an yang kekal dalam prasasti-prasasti,
mumbang serupa mitos, klenik, metafisis

Jejalan menderu, malam yang rindu
padamu segala tertuju, kutak bisa berpaling,
padamu yang menyambangiku dari masa lalu
segala keramat dan segala yang ilok dan segala nenek moyang
yang sekarang tandas, lebur dalam perayaan massal
dikremasi dalam binar-binar lelampu, yang membuat mata mengadu,
mungkin bukan getir, bukan hitam, bukan putih,
merayakan penyesalan, semacam kesia-siaan, ekstase, trans,
serupa perayakan suku-suku tak bernama,
di 2.000 th SM dalam goa-goa totem

lelampu itu lagi, lelampu yang setia pada gelap
totem itu lagi, totem yang setia mencari pelabuhan yang lain,
laut yang lain, tanah yang lain, langit yang lain.

Malam mandi lelampu, lelampu yang setia pada jejalan itu,
pada bebangunan itu, yang berdesak itu,
lelampu yang setia pada gelap, pada deru yang menyeru

Sayup-sayup perayaan itu selesai, lampu-lampu temaram dipojok bar,
gelas-gelas kosong, kursi-kursi berantakan,
nyinyir alkohol, sisa lagu yang mendayu-haru,
semua orang terkapar dalam keisengan masing-masing,
hanya deru yang memanggil dipesisir sana, tak sampai-sampai.

Merapal doa-doa matera-matera dipertemuan sungai-sungai keyakinan,
dimuara negeri yang hilang bentuk,
melarungkan segala perdebatan, pertentangan,
kemenangan, kekalahan, melarungkan abad-abad yang lebih dulu pergi.

Condongcatur – Tamansiswa, 20 Oktober 2008

Read More......

Senin, 15 Juni 2009

TAFSIR SEJARAH DALAM NOVEL “SALAH ASUHAN”

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Setiap karya sastra adalah hasil pengaruh yang rumit dari faktor-faktor sosial-politik-kultural. Novel Salah Asuhan (1928) karya Abdoel Moeis, juga kelahirannya tak dapat dilepaskan dari faktor-faktor tersebut. Itulah sebabnya, usaha mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi dibalik teks Salah Asuhan, penting artinya untuk menangkap amanat pengarangnya yang juga berkaitan erat dengan situasi sosial dan semangat zamannya.

Novel Salah Asuhan ditulis awal tahun 1927 ketika Abdoel Moeis sudah meninggalkan kegiatan politiknya dalam Sarekat Islam (1912-1924), dan menjadi petani di Garut sejak tahun 1924. Waktu itu (sejak 19 Januari 1924), Abdoel Moeis dikenai larangan mengunjungi semua daerah di luar Jawa dan Madura sebagai akibat terjadinya peristiwa Toli-Toli di Sulawesi Tengah (Juni1919), pemogokan pegawai pegadaian di Jawa (11 Februari 1922), dan keterlibatannya dalam membantu masyarakat Minangkabau dalam memperjuangkan hak-hak tanahnya yang juga berkaitan dengan masalah belasting (pajak).

Pada Februari 1928, naskah Salah Asuhan dikirimkan ke Balai Pustaka. Sebelumnya novel itu pernah dimuat di harian De Express sebagai cerita bersambung. Balai Pustaka yang menerima naskah itu, tidak segera menerbitkannya, bahkan bermaksud menolaknya. Menurut kriteria Balai Pustaka, Salah Asuhan menampilkan tokoh wanita Belanda (Corrie) yang justru dapat menimbulkan citra buruk bangsa Belanda (Barat) secara keseluruhan.
* * *

Menurut Dr Drewes, Hoofdambtenaar Balai Pustaka waktu itu, Salah Asuhan termasuk karangan yang ditulis secara lancar dan memikat, tetapi karena adanya unsur-unsur “negatif” yang digambarkan pada diri tokoh wanita Belanda itulah yang membuat Balai Pustaka merasa perlu mempertimbangkan kembali penerbitannya.

Selanjutnya, Dr Drewes, menyatakan bahwa bagi Balai Pustaka akan sulit mempertahankan diri terhadap kemungkinan kritik tentang penerbitan karangan itu. Volkslectuur seharusnya memperhatikan batas-batas dalam penerbitannya. “Saya kira kepada Volkelectuur saya tidak dapat menyarankan untuk diterbitkan,” demikian Drewes yang dikutip Sjafi’i St Batuah dalam esai Di Balik Tirai Salah Asuhan, Pustaka dan Budaya, 22/V/November - Desember 1964.

Pertimbangan K St Pamuntjak, salah seorang redaktur Balai Pustaka kala itu antara lain begini: Saya kira tak akan melebih-lebihkan kalau saya katakan bahwa oleh Volkslectuur belum ada diterbitkan suatu roman pribumi yang dapat dibandingkan dengan karangan ini. Dari mula sampai akhir perhatian pembaca terikat olehnya. “Ia mempunyai nilai didikan besar bagi orang pribumi yang menganggap diri mereka orang-orang Eropa hanya karena dapat bicara Hollands dan adalah suatu pedoman bagi orang-orang tua pribumi dalam memberikan didikan kepada anak-anak mereka.” Tanggapan Pamuntjak ini berbeda dengan salah seorang pegawai Belanda waktu itu: “Seluruh pokok karangan dan penggarapannya tak simpatik. Ini bukanlah karangan yang baik untuk Volkslectuur.”

Setelah Abdoel Moeis diminta untuk mengadakan perubahan pada peranan yang dimainkan tokoh Hanafi dan Corrie, akhirnya Salah Asuhan dapat juga diterbitkan. Dalam hal ini, St Batuah menyatakan: “Dalam naskah asli Corrie adalah wanita “royal” yang disamping menjadi istri Hanafi, juga “main” dengan laki-laki lain. Hanafi tidak sanggup lagi, karena itu mereka bercerai. Corrie terjerumus dalam percabulan: Ia menjual dirinya untuk membayar utang kepada seorang Arab, dan jadi langganan kapten kapal, akhirnya jadi pelacur umum. Ia mati ditembak salah seorang “kekasih”-nya yang cemburuan. Beda sekali dengan Corrie versi Balai Pustaka yang dibidadarikan. Pembeberan Abdoel Moeis yang menelanjangi kehidupan “donker Batavia”, juga dihilangkan!”

Sebuah resensi buku berjudul Abdoel Moeis: Salah Asuhan (Indonesia, 1954:662 –5) menyatakan hal yang sama, bahwa naskah asli roman itu telah banyak diubah dan diolah Balai Pustaka. “Hingga di mana unsur-unsur autobiografis terdapat di dalam Salah Asuhan masih belum diketahui, tapi tidak mustahil, bahkan sangat boleh jadi terdapat unsur tersebut. Tentu dengan paduan seperlunya antara Dichtung und Wahrheit.”

Demikianlah, dilihat dari segi orisinalitas Salah Asuhan sudah mengalami perubahan yang masalahnya erat kaitannya dengan kebijaksanaan pemerintah kolonial Belanda di tanah jajahan. Disamping itu, kita sesungguhnya masih dapat melihat sikap seorang bumiputera terhadap masalah sosial politik yang terjadi pada zamannya. Untuk mengungkapkan masalah tersebut, tidak bisa lain, kita terpaksa mengandalkan sumber-sumber sejarah yang tersedia.
* * *

Secara tematis Salah Asuhan mempertegas tema novel-novel sebelumnya, Azab dan Sengsara dan Sitti Nurbaya; tema tidak lagi terkukung pada masalah adat, melainkan pada hubungan Timur (Hanafi) dan Barat (Corrie). Dalam kaitannya dengan masalah itu, Salah Asuhan dapat dipandang sebagai kritik Abdoel Moeis atas kebijaksanaan pemerintah kolonial Belanda dan orang (-orang) yang membelanda. Gambaran Hanafi yang menjadi “Malin Kundang” adalah sikap keprihatinannya pada golongan terpelajar kita waktu itu yang tak sedikit justru melupakan bangsanya sendiri. pembicaraan Corrie dengan ayahnya, Du Bussee, tampak jelas hendak mengangkat ketidakadilan yang berlaku di tanah jajahan. Jika lelaki Eropa (: Belanda) dapat begitu gampang memelihara istri-istri simpanan (nyai-nyai), lalu mengapa pula ada semacam larangan bagi lelaki bumiputera yang hendak mengawini wanita Eropa ?

Alasan yang dikemukakan Du Bussee yang mengutip kata-kata Rudyard Kipling, “Timur tinggal Timur, Barat tinggal Barat, dan tidaklah keduanya menjadi satu” (hlm 27) sesungguhnya merupakan pembenaran pada ketidakadilan rezim penjajah. Kipling dikenal sebagai penyair imperialisme. Menurutnya, imperialisme bagaikan agama; ia merupakan “kekuatan pembudaya” (civilizing force). Salah satu kewajiban imperialisme adalah membawa misi “membudayakan orang-orang pribumi”. Dengan kata lain, ia harus bertindak sebagai “mesias”, sebagaimana yang menjadi misi sistem pendidikan kolonial di tanah jajahan.

Tindakan Hanafi yang memandang rendah bangsanya sendiri, juga merupakan “pantulan” pandangan Belanda terhadap bumiputera. Demikian pula perlakuan tak adil yang dialami Hanafi dalam usahanya memperoleh pengakuan haknya sederajat dengan bangsa Eropa, merupakan satu ironi bahwa seorang bumiputera dinegerinya sendiri, justru harus bersusah payah mengurusi soal haknya sebagai manusia. Ini menunjukkan ketidakadilan bangsa penjajah yang merasa lebih berbudaya dan menjunjung tinggi hak asasi manusia, namun malah mencampakkan hak manusia bangsa lain.

Masalah ketidakadilan bangsa Belanda itu, terutama dalam memandang rendah bangsa Timur, tampak pula dalam peristiwa di dalam hal yang ditumpahi Hanafi. “Seorang penumpang sedang membaca sehelai surat kabar Belanda yang terbit di Betawi, yang sudah masyuhur bencinya kepada Bumiputera. Surat kabar itu memperkatakan hal pertunangan seorang studen bangsa Indonesia (Moeis tidak menyebut bangsa Bumiputera; MSM) di Nederland dengan seorang nona, yang sama-sama menuntut ilmu di sekolah tinggi dengan dia. Bukan sedikit nista dan maki dituliskan oleh surat kabar itu terhadap kepada kaum Bumiputera yang terpelajar terhadap kepada ethischepolitiek …”

Begitulah dalam banyak hal Salah Asuhan condong mengangkat persoalan ketidakadilan bangsa penjajah. Hanafi laksana simbol seorang bumiputera yang lupa akan kewajibannya terhadap bangsanya sendiri. dalam hal ini, sumber sejarah menyebutkan bahwa studen bangsa Indonesia di Nederland yang bertunangan dengan seorang nona, tidak lain adalah Dr Abdoel Rivai. Dokter pertama yang mendapat beasiswa ke Belanda itu memperistri gadis Belanda. Ia kemudian tinggal di sana.
* * *

Sikap Abdoel Moeis kiranya makin jelas jika kita perhatikan novel Abdoel Moeis lainnya, katanya, Robert Anak Surapati (1953). Tokoh Robert hasil perkawinan Surapati (Timur) dan Suzane Moor (Barat/Belanda), dihadapan dua dunia. Ia berkeras untuk diakui sebagai bangsa Belanda, tapi bangsa Belanda sendiri menolaknya. Sementara, ayahnya, Surapati, secara ksatria menawarkan pilihan; memilih bangsa ayahnya (Indonesia) atau bangsa ibunya (Belanda). Secara naif akhirnya Robert memilih menjadi bangsa Belanda dan bertempur dengan pasukan ayahnya sendiri. Robert akhirnya mati, dan bangsa Belanda baru mengakui kebelandaanya justru setelah Robert tewas. Inikah sikap bangsa yang konon hendak mengadabkan bangsa lain? Sebuah sikap diskriminatif yang sering justru dipertahankan bangsa Barat.

Jelas kiranya bahwa kasus Hanafi — Corrie lebih merupakan sebuah binkai untuk menutupi kecamannya terhadap bangsa penjajah. Bangsa Timur memang memerlukan pendidikan Barat, tetapi tidak berarti bahwa semuanya harus dibaratkan. Itulah sebabnya, tokoh Syafei (bandingkan dengan tokoh Robert) merasa perlu untuk menyatakan janjinya: “Sepulangnya dari negeri Belanda kelak, akan kembali ke kampung meluku sawah …”

Itulah yang tampaknya menjadi sikap Abdoel Moeis dalam memandang persoalan Timur — Barat. Dunia Barat tetap dipandang penting dalam hubungannya dengan dunia pendidikan waktu itu. Akan tetapi, kemajuan yang telah diperoleh dari dunia Barat, hendaknya jangan sampai melupakan tradisi dan akar budaya tanah tumpah darah sendiri. Malahan, lewat kemajuan yang telah dicapai di dunia Barat itulah, keadaan dunia pendidikan bangsa Timur (Indonesia) justru harus lebih ditingkatkan. Persoalan itulah yang sesungguhnya menjadi amanat novel Salah Asuhan.

SUARA KARYA, Minggu, 15 Mei 1994

Read More......