Tampilkan postingan dengan label Hasnan Bachtiar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hasnan Bachtiar. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 September 2012

Melawan Dehumanisasi Sastra Sutardjian

Hasnan Bachtiar *
http://sastra-indonesia.com/

“Kritik sastra…mencerminkan bukan saja kematangan estetik kita, tetapi juga kejelasan intelektual, kesungguhan moral yang sekaligus mentakrif kemanusiaan kita.” (Azhar Ibrahim Alwee)

SUATU artikulasi estetis yang dituangkan dalam karya sastra bukanlah kata-kata tanpa mutu, karena selalu memiliki kualitas-kualitas makna. Makna hidup, makna dunia, dan makna-makna yang terlahir dari nurani penciptanya. Namun yang jarang disadari adalah, sebagai goresan pena penyair,

Jumat, 23 Desember 2011

Pak Tua dan Anjing Muda

Hasnan Bachtiar
http://sastra-indonesia.com/

“Cinta dan sakit jiwa adalah saudara kembar. Teruslah tertawa, bergembira dengan kegilaan.”

Entahlah, kegilaan ini dimulai dari cinta atau cinta dimulai dari kegilaan. Mencintai adalah seberapa sabar ia hari ini harus duduk berlama-lama menikmati secangkir kopi mocca, yang dihirup wanginya setiap setengah jam sekali.

Lelaki itu memang sudah beruban, wajahnya berkerut, tangan kirinya menyangga, menggaruk rambutnya yang terasa gatal karena ulah nakal kehidupan. Tangan kanannya menyeruput pelan tapi pasti, kopi yang belum dingin, lalu menghempaskan nafas serasa lega. “Hah…”.

Tetapi, sejurus kemudian seraya memaki-mbatin, “Anjing…!” duduk santai di depannya memelototi seonggok daging hidup yang tak berdaya di seberang jalan. Tubuh itu duduk-setengah berjongkok memeluk kedua kaki, sedang punggung dan pundak kirinya tersangga pohon besar yang kokoh.

Tempat duduk itu sangat nyaman, tak tergerus hangat terik mentari, tak terbelai halus rintihan gerimis dan tak pula harus merogoh kocek berlebih. Namun siang ini terasa sangat panas. Di samping kaca lebar, itulah di mana ia memperhatikan “Anjing” umpatannya tadi.

Kini ia memperhatikan putaran jarum jam. Kira-kira hampir tiga jam ia belum beranjak, bahkan merubah posisi duduknya. Lalu, ia mengangkat tangan sambil memantik ibu dan jari tengahnya, “ctak” (isyarat, hei kemarilah).

Datanglah gadis muda yang cantik, meskipun tak begitu seksi karena pakaiannya nampak sopan. “Kali ini bawakan aku secangkir kopi seperti ini lagi!” serunya tegas, serak dan putus-putus. Pelayan itu hanya menundukkan wajahnya sembari tersenyum cerah.

Setelah segelas kopi mocca panas datang, ia tak lagi menyeruput minumannya yang semula, namun meminumnya tanpa etika, tanpa gaya sama sekali, seperti derita tenggorokan yang kering, “haus”, menghabiskan begitu saja air hitam-coklat tak terlalu manis itu.

Semena-mena ia meninggalkan meja-kursinya, menaruh tas kulit coklat berisi laptop sekenanya, tak merasa kuatir sedikitpun barangnya akan dicuri pencuri. Ia berjalan gagah, punggunya agak bengkok ke depan, yang kuyakin, kegagahannya tak bakal runtuh.

Ia mengangkat tangan kanan lalu menoleh kekiri, mengayunkan, melambaikan sedikit. Kendaraan-kendaraan, mobil-mobil, motor-motor dan sepeda-sepeda berhenti. Tentulah demikian, karena memang berjalan di jalur hitam-putih memotong jalan raya, menuju orang diam di seberang jalan yang bersandar di pohon besar. Tangan kirinya menenteng secangkir kopi panas dengan tangkas.

***

Benarlah dugaanku, ia menemui Anjing umpatannya.

“Hei Anjing! Kupandang, kuperhatikan, kau benar-benar Anjing! Sangat mengganggu pandanganku dari sana” makinya menyemburat sambil menunjuk kafe tempat ia duduk tadi. “Maumu apa, mengotori pandang luasku!? Hei! Jawab…, dasar Anjing…?”

Memang senyatanya daging ini lemas, tak berdaya, lalu ia mengangkat mukanya, kaget. Mukanya memelas, matanya menatap tak bergairah, kantung-matanya menggantung tebal, sepertinya ia tak pernah hidup, tak pernah tidur. Lalu berucap, “Ha…?” – maksudnya ingin mendengar ulang, apa maunya si orang sepuh tadi – kulihat dahinya bergaris-garis, berlipat-lipat, seperti gelombang air.

“Apa yang kau lakukan, duduk di sini seharian, berhari-hari, tanpa makan minum, apa yang kau lakukan hei Anjing muda!?”

(Orang muda itu berkulit putih bersih, namun tetap saja terlihat kumuh, meskipun kaos tipis yang ia pakai nampak masih bersih dan tak terlalu bau. Hidungnya mancung, dan menurutku lebih tampan bila disandingkan dengan Antonio Banderas). Dengan bodohnya ia mengulang jawaban, “Ha…?”

“Ah…, bodohnya kau Anjing…., lalu duduk di pinggir trotoar, kira-kira setengah meter mendekat ke Anjing muda itu. Sekarang posisinya sama. Ia sederajat dengan orang muda itu, karena sama-sama di bawah.

“Hei Anjing, kau kenapa duduk berdiam di sini, dan kukira, kau tak hidup, mati pula tidak…,” ia memperpelan suaranya.

Sekarang bukan sekedar menyeruput kopi panasnya, tapi dihirupnya dalam-dalam. Seolah tak peduli dengan kejadian hidup apa saja, tanpa beban, lepas begitu saja. Ia memandang langit biru dengan teriknya yang menyengat, melawan arus, namun takkan pernah tersengat, karena memang pohon besar tempat Anjing muda bersandar, begitu rindang, lebat dengan daun-daun yang saling menyelimuti.

“Aku dulu bukan Anjing,” hanya itu yang Anjing muda katakan.

Kulihat, matanya berkaca-kaca lalu, menundukkan muka pun ia tak berani, hanya wajah yang pasrah dengan keadaan. Seolah tak ada tempat lagi untuk menyembunyikan malu.

“Dan kau juga anjing, bukan?” selorohnya asal untuk orang tua beruban yang masih menikmati kopi panas. Sontak saja kaget mendengar selentingan panas si Anjing muda.

“Kau bukan sekedar binatang, hei Anjing muda! Tapi kau sudah gila! Ucapanmu ngawur, ingin sekali tanganku ini menamparmu! Rasa-rasanya kau ingin meludahiku!?” Ternyata sampai juga ia menapaki api amarah, naik darah, agak memerah mukanya karena mendengar gongongan Anjing muda.

Anjing muda itu nyengir, menangis, meratap, merintih-rintih, tapi juga tertawa, terkekeh-kekeh. Hampir tak ada batas lagi antara senang dan susah, gembira dan sedih, atau gila-sakit jiwa dan gila-genius luar biasa.

Hari semakin sore, karena matahari mulai condong. Merah surya berubah menjadi oranye di lautan udara lepas yang menyimpan-memantulkan energi besar semesta. Burung-burung gereja beterbangan pulang ke kandang-kandang alaminya, dan kulihat kopinya tinggal beberapa sruput lagi.

Pak Tua:

“Lantas kenapa aku juga kau sebut anjing, hei Anjing muda?”

Anjing Muda:

“Aku dulu pemilik seluruh kota ini, termasuk kafemu yang nampak ramai sekali. Benar aku masih muda, tapi sepuluh tahun yang lalu, usiaku masih 17 tahun, tapi semuanya telah dalam genggamanku.”

Pak Tua:

“Aku tak mengerti apa maksudmu…?”

Anjing Muda:

“Aku juga tidur dengan keempat anak perempuanmu, lalu dua di antaranya hamil bukan!? Dan kau juga yang menyuruh menggugurkannya! Seluruh gadis cantik dan yang mampu mempesonaku di kota ini ada 90 orang, dan semuanya sudah kutiduri pula.”

“Jangan berpikiran macam-macam karena badanku kurus lalu aku penyakitan pak tua, semua yang kutiduri, mereka semua gadis baik-baik, virgin! Aku si Raja Cinta yang tenar itu!”

“Engkau tahu pak tua, siapa yang menguasai pusat perjudian di kota ini? Aku juga yang punya! Rumah bordil dan apartemen di tengah kota juga milikku!”

“Kafemu memang ramai, tapi diskotik di ujung jalan sangat ramai, itu semua karena kendaliku. Tempat itu surga obat-obat terlarang. Mariyuana, sabu-sabu, ekstasi, kokain dan heroin, semuanya berkualitas dan komoditas utama!”

“Aku biasa membunuh orang. Saingan bisnisku, bos-bos yang enggan menguntungkanku dan siapapun yang menyulut kebencianku!”

Pak Tua:

“Kau bajingan itu rupanya!?” Bukan sekedar mengumpat, tapi sedikit terkejut dan merasa bangga karena duduk bersama dengan orang gila-tak berguna, sekaligus bos besar yang sangar.

Anjing muda:

“Benar sekali! Semuanya tunduk padaku! Walikota, pengusaha, polisi, jaksa, para hakim, guru-guru, anak-anak kecil, ibu-ibu, para pengemis pun suka padaku!”

“Semuanya suka padaku! Aku yang memelihara mereka, dengan uang apa saja yang ada di gengamku! Kau tahu gereja-gereja, kuil-kuil, Katedral kota, masjid-masjid, semuanya terbangun atas kuasaku, bahkan khutbah-khutbah agama pun bisa kupesan sesuai selera dan tak ada satupun yang berani melawan!”

“Tapi kau tahu siapa aku?”

Pak tua hanya menggelengkan kepalanya sekali.

“Aku lah si Raja Iblis dan Malaikat dalam satu jasad!”

“Ah…, sudahlah, tidak penting baik dan buruk, sama saja. Semuanya sama saja, orang waras atau edan sepertiku, sama saja.”

Sejurus kemudian, mereka berdua terdiam, semuanya menjadi sunyi, bertambah sunyi karena tak ada satupun kendaraan yang melintas, sepi.

“Ya, semuanya sama saja. Baik itu dari buruk. Jahat itu dari kebaikan. Benar dan salah adalah dua sisi mata uang. Cinta dan sakit jiwa adalah bersaudara.” Pak Tua menginsyafi suatu hal yang sangat penting dalam hidupnya.

***

“Aku masih tak mengerti hei Anjing muda, mengapa kau sebut aku anjing pula!?” Kini kata yang keluar dari mulutnya tak lagi bermuatan emosi, namun tegas ingin tahu betul apa yang sedang terjadi.

Anjing muda:

“Kau bodoh sekali, bukannya itu semua menandakan, dengan kuasa, dengan uang, dengan kekuatan kepalamu pula, dengan keberanianmu, semuanya sama saja? Semuanya bisa kukendalikan!?”

“Bagiku tak ada bedanya antara pria hidung belang, penjudi, tukang minum, dan perampok dengan pemimpin agama, pastur, pendeta, ustadz, mereka semua sama saja!”

“Mereka dipenjara oleh nafsu-nafsu, nafsu birahi, nafsu amarah, dan keinginan-keinginan yang ‘harus’ dipenuhi, termasuk nafsu religius, memenuhi keingingan Tuhan yang menurutku tak ada bedanya dengan memenuhi keinginan iblis!”

“Tidak ada baik dan buruk, tidak pula benar dan salah, tidak ada indah dan jelek, yang hitam untuk kebahagiaan, yang putih pula demikian. Gelap dan terang sama saja, tidak ada bedanya sama sekali!”

Pak Tua:

“Anjing muda, aku semakin tak mengerti ocehanmu!”

Anjing muda:

“Bebal benar kau anjing! Dengan kehendak, aku bisa mencipta apapun!”

“Kubangun sekolah-sekolah agama dari hasil pelacuran, kudirikan rumah bordil dan pusat perjudian dari hasil bisnis percetakan dan penerbitan kitab suci, buku-buku, literatur-literatur keagamaan, bahkan separuhnya dari wakaf dan uang zakat yang diberikan oleh kolegaku yang agamis!”

“Menurutku, menurut kuasaku, mereka yang ditangkap polisi, dipidanakan oleh jaksa dan diadili oleh hakim, kemudian dipenjarakan, bukan hanya para pencuri, perampok dan pembunuh. Siapapun yang semisal dengan mereka, juga mestinya dipenjarakan!”

“Para agamawan, para orang suci, para pendeta, mereka mengajak manusia berbuat baik atas nama Tuhan? Tuhan yang mana? Siapa dia? Berbuat baik apa? Tindakan mereka? Bukannya mereka sama saja?”

“Sesungguhnya mereka telah mencuri waktu, merampok ‘diri’ dan menamakannya kesalehan, membunuh ‘manusia’ atas nama memenjarakan nafsu, hasrat dan kejahatan, tapi yang mana? Nafsu, hasrat, dan kepentingan Tuhanlah kejahatan itu!”

Pak Tua:

“Demi Tuhanku yang kucintai, aku tak mengerti kata-katamu Ajing muda…, apa maksudnya?”

Anjing muda:

“Sekarang aku bertanya padamu, apa bedanya bersembahyang di kuil, ruku’ dan sujud di depan altar menghadap Tuhan dengan mandi bersama gadis-gadis seksi berdada besar? Sama-sama menyenangkan kan? Lalu apa bedanya?”

Pak Tua:

“Demi Tuhanku, agama memiliki hukum-hukum yang harus dipenuhi, untuk keteraturan!”

Anjing muda:

“Agama yang mana anjing tua!? Siapa yang menulis kitab suci? Tuhan? Bohong sekali jika penulis kitab suci bak puisi itu Tuhan! Kapan dia menulisnya? Di mana? Kecuali kamu sakit, atau aku yang sakit!”

“Tak pentinglah…, tapi yang kau mesti tahu dengan hatimu, kuyakini Tuhan tetaplah ada. Namun bukan berarti Ia punya pensil dan selembar kertas, atau Ia punya mesin ketik untuk menulis syair-syair. Semua tulisan sama saja. Ya tulisan. Manusia seperti aku ini yang membuat.”

“Itu sekedar tulisan pak tua. Tak mungkin makna semesta, ide-ide, pikiran-pikiran Tuhan terangkum dalam buku kecil bersampul kulit itu pak tua!”

Pak Tua:

“Aku mengerti, kita berdua bertuhan, tetapi kau tak beragama, atau kau punya agamamu sendiri, seleramu.”

“Lalu bagaimana jika ibuku adalah isteriku, anakku juga isteriku dan anak-anak gadisku memiliki lebih dari seratus suami? Itu yang kamu inginkan!? Atau satu suami saja dalam kitab suci? Atau isteri adalah isteri yang kita cintai, kami saling memasangkan cincin di jari manis dan berciuman di depan pendeta atas nama Tuhan, berjanji sehidup semati tanpa terpisahkan kecuali karena kematian?”

“Lalu bagaimana jika barang-barangmu, rumah-rumah, kantor, pabrik, ladang, sekolah-sekolah adalah milikku juga, secara bergantian semauku, aku pun memilikinya? Ataukah milikmu adalah milikmu yang absah, kau dapat dari hasil kerja kerasmu, keringat darahmu?”

“Lalu bagimana jika sesukaku aku menyeret orang yang kubenci, kuseret ibumu, kuperkosa kemudian kubunuh di alun-alun kota dan mayatnya kugantung di pelataran? Ataukah berlaku seperti nasehat dalam kitab suci, hidup rukun, harmonis, saling menghormati, saling menyayangi dan hidup dalam damai?”

Anjing muda:

“Tak penting semua itu bagiku hei anjing! Sama sekali tak penting!”

“Inginku, kubikin sendiri agamaku, kitab suciku, norma-norma, hukum-hukum, aturan-aturan benar dan salah, baik dan buruk, bukankah semua itu mudah? Bukankah kau sendiri juga membuatnya, semua agama juga membuatnya, tuan-tuan mereka? Tapi nanti, tak perlulah dengan semua itu kau beri aku gelar nabi!”

Pak Tua:

“Bukannya tadi kau berbicara tak ada benar dan salah, baik dan buruk!?”

Anjing muda:

“Apa bedanya ‘ada’ dengan ‘tak ada’ bagiku? Sama sekali aku tak tertarik untuk mengikuti aturan apa pun yang menurutku tak penting.”

“Kau sama saja denganku, kau anjing, lidahmu terlalu sering menjilat, menjilat Tuhanmu, agamamu, kitab sucimu, dan tak apalah kau sebut aku anjing pula, aku menjilat apapun sesukaku!”

Pak Tua:

“Demi Tuhan, Puji Tuhan, tak sesabar ini aku duduk menikmati kopi mocca yang begitu nikmat…,” lalu ia mengaitkan kancing-kancing jas hitam yang dikenakan, mengusap-usap kotoran patahan daun-daun kering yang jatuh dari atas, dan barulah aku tahu mengapa tadi menaruh tasnya sembarangan di kafe, lalu memesan kopi panas dan membawanya keluar ke seberang jalan tanpa meminta izin terlebih dahulu.

Ternyata, ia “bos” pemilik kafe di seberang tempat ia duduk. Ia merasa tak nyaman dengan orang gila yang ia namakan Anjing muda itu, karena mengurangi estetika mengopi dari kafenya.

Lalu ia bertutur kembali di episode kopi mocca ini, “Apa yang kau tahu tentang ‘cinta’ hei Anjing bijak?”

Anjing muda:

“Cinta itu cinta, atau cinta itu tak ada, sama saja.”

“Sesuatu yang ada dan tak ada tak penting, sama saja!”

“Seperti halnya aku hidup, aku mati, sama saja.”

“Aku makan, minum, tidur dengan perempuan, atau tidak, sama saja!”

“Aku tahu kau orang baik orang tua, kau taat aturan-aturan! Tetapi aku lebih dari itu, aku tahu banyak hal dan tak banyak orang yang mengetahuinya. Hingga aku menemukan kebenaran bahwa benar dan salah menjadi tak penting lagi!”

“Aku hanya bergembira dengan kebenaran, ketiadaan, ya, kebenaran itu patut untuk ditertawakan! Apa kamu pernah berpikir jika yang benar itu ternyata sebenarnya adalah salah, dan sebaliknya yang salah adalah benar, atau keduanya salah, atau keduanya benar? Semua itu terjadi Pak Tua…”

Lalu ia tertawa lepas, mengangkat wajah menengadah ke langit, sampai kedua matanya tertutup, “Ha ha ha ha…”

***

Orang tua itu merogoh sesuatu yang ia simpan di balik punggungnya. Tepatnya, sesuatu yang ia selipkan di celananya, “pistol”. Ia mengelapnya dengan sapu tangan yang diambil dari saku celana, mengecek enam peluru yang menempel di wadah silinder dan menarik pemicunya.

Kini, ia hendak bertutur ringan, “Kau hebat sekali Anjing muda. Ya, cinta itu tak ada, atau cinta itu cinta saja, atau cinta itu, terserah aku menamakannya apa. Mungkin cinta itu, seberapa sabar aku hari ini harus duduk berlama-lama bersamamu menikmati secangkir kopi mocca. Semua kata tidak bermakna atau semua kata bermakna banyak tak terhingga, sama saja!”

Anjing muda:

“Benar-benar mengerikan pak tua! Kau benar-benar anjing yang mengerikan orang tua! Ha ha ha ha…”

Pak Tua:

“Anjing muda, terimakasih, karenamu, aku telah mengerti cinta dan kehidupan itu apa.”

“Sekarang aku ingin tahu, aku ingin kau mencontohkan bagaimana kau menertawakan kebenaran itu! Ini, ambillah pistolku!”

Anjing muda:

“Ya…?” Kini nampak kerutan tanya di antara kedua alisnya yang bertarung.

Pak Tua:

“Cinta itu tidak hidup dan tidak mati, atau tidak apa pun! Sama saja bukan!? Benarkah jika kau mati, kau tetap hidup, atau sebaliknya, dan apapun, sama saja bukan!? Sekarang hadapkanlah pistol itu dikepalamu, tariklah pelatuknya! Pastilah sama saja bukan!?”

Ditariklah pelatuk pistol yang digenggam tangan kanan Anjing muda itu, meledaklah, pecah kepalanya tertembus peluru!

Orang tua itu terpental menjauh dari tempat duduknya yang semula, tak ada apapun yang ia pikirkan lagi, sama saja dengan anak muda itu, tak ada apapun, atau ada apapun tak berhingga, sama saja.

Pak Tua dan seorang muda itu, benarlah mereka. Cinta atau sakit jiwa, keduanya adalah seni kehidupan yang selayaknya dinikmati dengan kesungguhan. Maka, tertawalah dan terus tertawa, berbahagia.

Pak Tua itu, ia ketakutan sekali setelah apa yang telah terjadi, wajahnya memucat. Ia melihat sobekan kertas yang digenggam si Anjing muda, lalu mengambilnya. Kertas itu dibukanya, bertuliskan;

Dem un bekannten Gott
Kepada Tuhan yang tak dikenal

Ich will dich kennen,
Kuingin mengenalmu,

Unbekannter,
Yang tak dikenal,

Due tief in meine Seele Greifender,
Kau, yang menggarap jiwaku dalam-dalam,

Mein Leben wie ein Sturm Durchschweifender,
yang mengembarai kehidupanku bagaikan badai,

Du Unfa?barer,
Kau yang tak dapat dimengerti,

mir Verwandter!
yang sejenis denganku!

Ich will dich kennen,
Kuingin mengenalmu,

selbst dir dienen
malahan menjadi hambamu

(Friedrich Nietzsche)

Malang, 19 Oktober 2011

Rabu, 14 Desember 2011

TENTANG PRASANGKA

Hasnan Bachtiar*
http://sastra-indonesia.com/

Sore lalu aku melihatnya tertunduk lesu, lelah tak bersemangat menikmati jalan hidup dengan penuh tanya. Aku mencoba membaca simbol-simbol gelisah dari mimik muka muram yang berteduh dalam senja. Menafsirkan pergumulan menjelang malam yang abu-abu, memang menampakkan keraguan dan tanya tentang sesuatu. Aku berusaha menerjemahkan prasangka. Kuingat Göethe melamun, Wie warën wir verloren? Ohn’ Lieb. Oh… aku betul-betul menyadarinya, bagaimana hidupku sungguh sia-sia? Tanpa cinta.

Rupanya semuanya berawal dari pertemuan dengan seorang gadis tiga bulan yang lalu. Ia memang pendiam, tetapi bukan berarti seorang yang beku, tak mungkin luluh oleh belaian lembut air yang mengalir.

Aku iba melihat dirinya. Lalu kusuruh orang kepercayaanku untuk mengenalkannya pada gadis istimewa itu. Keajaiban terjadi, dan atas kuasa Tuhan, benda mati seketika itu menjadi hidup dan ruh pilihan telah mengisi jasadnya. Kun, Fayakun. Dengan kuasa-Nya, wahai sesuatu yang Kuharap terjadi, terjadilah, maka terjadilah ia. Mudah sekali bagi Allah untuk menciptakan kehendak-Nya. Sungguh, mustahil bagi manusia, tiada yang mustahil bagi-Nya.

Senyumnya begitu sumringah, sejuk, nampak sekali penuh harapan. Dan ia mulai berani berbicara.

“Aku Pernah Melihatnya, melihat gadis itu, di suatu tempat beberapa bulan yang lalu. Anggun. Apa mungkin ia, malaikat itu?“

Abdiku menimpali, namun sebelumnya memang kuperingatkan agar sesantun mungkin melayaninya, sama sekali jangan sampai membikin batu yang mudah tersinggung menjadi retak. Ia bertutur;

“Iya aku tahu. Ia memang gadis pilihan untukmu. Aku ingin engkau bersamanya.“

- “Namun baginda, aku hanya seorang pria yang terluka.“

“Tetapi ia penyembuh luka bagimu, pembatas segala gelisah, peredam semurka amarah.“

- “Tidakkah pantas baginya orang yang lebih baik dari sekedar diriku, aku hanya seorang hina penuh dosa?“

“Aku tahu, bahkan ia putri terhormat, ia terlalu istimewa bagi sekedar dirimu. Tenanglah, yakinlah seteguh imanmu, ia akan merangkulmu bak gunung yang menjaga keseimbangan pejuru semesta.“

- “Aku ragu, bahkan aku tidak percaya siapapun baginda, lalu bagaimana mungkin aku hidup dengan makhluk yang tak mungkin kupercaya?“

“Ia cerminan iman anakku, ia taat, ia patuh, ia malaikat bagimu. Yakinlah dengan segenap keyakinan.“

- “Sepanjang hidupku hanyalah kegelapan dan aku terlahir sebagai durjana.“

“Tenanglah, ia berupa cahaya yang menerangi jalanmu, ia selalu menuntun langkahmu, lindungilah ia, maka ia akan melindungimu.“

Tepat saat mentari hampir memejamkan matanya, selimut hitam menyapu mesra bunga fajar dan azhan maghrib terlantun panjang semerdu rahasia ilahi yang hanya mampu terungkap oleh orang-orang shaleh. Sore itu, orang kepercayaanku menemui gadis itu;

“Ada yang ingin bertemu denganmu, wahai gadis suci.“ Itulah yang ia katakan sembari memberi sebersit senyum penuh pesona bak madu emas yang manis tiada tara.

- “Aku selalu terbuka bagi siapapun yang terhiasi dengan indahnya niat baik wahai saudariku.“ Jawab santunnya.

“Ia ingin bertemu denganmu dan siap berpisah suatu saat.“

- “Mengapa engkau menuliskan takdir yang kelam bagiku, baginya, bagi kita?“

Ia menunduk seraya mengerutkan dahi, kedua alis hitamnya bertarung. Nampak hatinya bergejolak hebat dan jiwa-jiwa yang mengisi jasadnya berdebat sengit. Ia merenung lama, namun kemudian meneteslah air mata surga dari seorang hawa mulia.

“Tak ada pilihan lain bagi ruh pilihan Allah, engkau yang terpilih, hanya engkau malaikat bersayap yang mampu menerangi kegelapan malam, bersyukurlah atas segala tulis-Nya.“

Ia tertunduk luluh, kelam, namun gelisah sangat. Sejurus kemudian menegadahkan wajahnya ke langit dengan sorot mata jauh menerawang angkasa. Menembus angkasa, menerobos kemelut prasangka. Sepertinya ia berdoa, meminta belas kasihan dari Sang Penguasa Kehidupan. Matanya nanar, bening dan terbuka lebar. Lalu cahaya di wajah gadis itu semakin bersinar, membersit senyuman ilahi, sepertinya ia mendengar jawaban langsung dari Tuhan dan seraya berkata pelan;

- “Aku akan menjalani hidupku, mewujudkan mimpiku dan dengan begitu, aku turut menuliskan takdirku, takdir kita berdua, antara aku dan dia.“

Orang suruhanku hanya menunduk sekali, simbol ikhlas menyetujui sesuatu.

Mereka saling memandang, jauh mendalami kehidupan masing-masing, larut dalam gaibnya batin, menembus lorong jiwa, menerobos kemelut ruh suci dan mengumandangkan sentuhan cinta walau tanpa bahasa. Tak ada apapun selain senyum satu sama lain, menunduk pasrah karena terbakar api asmara yang berkobar lebat dan terbuai dalam silang sengkarut pergumulan cinta yang rumit, tak kan mampu dinalar oleh para bijak sekalipun.

Hanya cahaya mereka berdua yang menerangi semesta raya. Cahaya yang menerangi segenap cahaya. Pintu surga terbuka dan menebarkan beribu aroma wangi hingga menembus tujuh selimut langit, memberkati bumi. Gelapnya mendung menjadi cerah, badai dan amukan petir mereda, tanah kering paceklik menuai kemakmuran karena terbelai mesra air kehidupan, dan segala gundah gulana, gelisah menjadi ketenangan, kebahagiaan dan rahmat.

Namun dua sisi kehidupan tetap harus ada. Baik dan buruk, dua sifat yang bertolak belakang, hampir selalu hadir dalam dimensi masing-masing. Meskipun seringkali larut dalam tata kosmos keseimbangan atas nama cinta.

Tiba-tiba malapetaka murka. Tiada daya dan upaya, hanya penyesalan, hitam dan kelam merangkul dalam harmoni sejati.

Bagiku, inilah asal mula persekutuan haram antara manusia dan malaikat, pertautan cinta terlarang sepanjang garis takdir Sang Ilahi. Manusia dengan wataknya yang pendosa dan malaikat yang harus selalu suci. Akan naif jika aku mempertukarkan kedua hal ini dan kemungkinan besar aku pasti salah, jika aku lebih berani menafsirkan simbol kodrati yang Tuhan berikan. Namun, jika aku berpengertian lain? Hasrat keingintahuanku akan sikap Tuhan terhadapku demikian menggebu. Akankah mempertukarkannya akan tetap mempertahankan harmoni kosmik?

Sore ini, aku masih memperhatikan wajahnya yang kelam penuh derita. Tak kunjung sembuh, seperti luka yang menganga merah, berbau amis dan terlalu parah. Mungkin tak akan terobati dan tak akan pernah terobati. Tapi itu hanyalah prasangka. Prasangka senja.

Aku duduk di rumah makan, menatapnya dari balik kaca bening berbentuk persegi panjang setinggi tembok dan memanjang. Rumah makan ini cukup bersih, nyaman, dengan menu bermacam-macam yang khas dan cukup ramai pengunjung. Mungkin karena harganya yang murah. Di ruang yang bingar ini, aku meniti sepi dan sendirian saja. Sembari melanjutkan lamunan, aku menikmati secangkir cappuccino.

Aku melihatnya duduk sambil berjongkok di emperan jalan, tepat di depan Unmuh kampus tiga dan bersandar di samping pohon besar yang rindang. Mukanya menunduk dan kedua tangannya merangkul kedua kakinya, meskipun sesekali menoleh tempat di mana aku duduk. Rambutnya tak tertata dan ia gemar menggaruknya walau tidak gatal. Mungkin “rasa gatal yang lain“ yang ia rasakan. Pakaiannya kaos lusuh berwarna hitam polos hampir kelabu, sama sekali nampak tak baru. Kedua kakinya terbalut celana jeans coklat yang kotor. Di alas kakinya melekat sepasang sendal jepit tipis dengan karet ungu yang hampir putus. Seluruh tubuhnya nampak dekil, berantakan, tak terurus.

Tempat di mana aku duduk, berselang satu meja kosong di depanku, aku melihat satu meja dengan empat kursi yang terisi penuh tiga orang lelaki dan seorang perempuan berkerudung putih yang rupawan, anggun dan mempesona. Sepertinya salah satu dari ketiga lelaki itu adalah kekasih perempuan itu, nampak dari sikapnya yang berbeda dari yang lainnya. Namun aku tak terlalu peduli dengan ketiganya, kecuali hanya satu hal saja, sorot mataku tak pernah lepas dari gerak mulut perempuan itu dan aku begitu teliti untuk memperhatikan setiap detail simbol petunjuknya.

Telingaku cukup terganggu dengan pembicaraan perempuan itu. Sepintas lalu aku mendengar ia berbicara tentang sahabatnya, sembari menoleh ke salah satu lelaki yang kupikir itu kekasihnya, lalu sesekali menatap ke lelaki yang sejak lama telah kuperhatikan. Lelaki yang duduk di emperan jalan dan bersandar di pohon besar, di seberang jalan.

Aku mendengar ia mengatakan, “sahabatku, Maya.“ Lalu dengan serpihan nada yang tersapu oleh angin kecil, betapa lembut, telah menggetarkan gendang pendengaranku. Ada hal yang menyentak pikiranku. Inilah alunan lagu prasangka. Simfoni nada prasangka teralun merdu sebagai cipta asa. Lalu dimensi batinku menemui persinggahannya.

Maya adalah sosok anggun dan mempesona. Parasnya manis, kulitnya sawo matang, perawakannya kecil dan tak terlalu tinggi. Pakaiannya selalu rapi dan terbalut kerudung yang tak terlalu lebar namun pantas dan pas. Tuturnya santun, nada wicaranya pelan, tata kalimatnya tertata, pilihan katanya sopan dan berbahasa baginya adalah berucap kebenaran sembari menebarkan senyum, ia selalu memberi kehidupan bagi lawan bicaranya.

Maya pernah bercerita sesuatu pada sahabatnya dan rupanya gadis cantik yang kutatap di seberang meja makan di dedapku adalah sahabatnya. Ia menceritakan sahabatnya yang lain, seorang lelaki, dan menurutku antara kedua sahabat tersebut tidak saling kenal, kecuali hanya Maya yang mengenal keduanya. Tetapi kemungkinan keduanya untuk bertemu, saling bertutur sapa dan saling mengenal itu ada, meskipun sebatas hanya bergumul dalam dinamika nalar dan menari dalam bentukan dunia imaji.

Ia melanjutkan cerita tentang derita sahabat Maya yang sungguh pilu. Tak ada jalan keluar kecuali kematian baginya. “Ya, pemuda itu kini mati. Otaknya tak berfungsi lagi selain hanya gumaman yang sama setiap saat, diulang-ulang tanpa beralih pada varian yang lain. ’Aku cinta kau kekasihku, aku cinta kau kekasihku, tetapi Tuhan tak menghendakiku.’ Hanya itu.“

Ku ingat sesuatu dari sepotong komentar itu. Kebenaran pada satu. Kebenaran mutlak pada hitungan yang sama. Seperti 1+1 dan hasilnya semua orang pasti tahu tanpa prediksi yang berarti, 2. Tiada yang mengingkari, tiada dusta di antara prasangka angka-angka. Ludwig Wittgenstein, Tractatus Logico Philosophicus… Prasangka ini, aku hanya ingin menyangkal “kebenaran“ yang utun dari angka-angka tidak hanya dalam angka-angka, namun manusia di balik angka itu. Si gila telah membabi-buta menghajar kebenaran itu dan menunjukkan simbol-simbol ke-gila-annya, mempermalukan kebenaran hitungan deret dengan hitungan deret yang bermakna dalam, “luka dalam“.

Bolehlah gadis itu menyebut dengan, “aku cinta kau kekasihku, aku cinta kau kekasihku, tetapi Tuhan tak menghendakiku,“ sebagai satu simbol (sign) yang menari dalam deret hitung yang sama. Namun jangan lupa, ia si gila di pohon itu juga manusia! Ada deret yang tak dimengerti, bahkan si gila itu adalah si jenius yang sedang mengejek kebenaran mutlak rasio angka-angka.

Kusruput cappuccino yang sudah tak panas lagi. O o o… nalarku mulai tak terkendali, menari-nari dalam nafas suci. Tak perlu dibatasi. Kalauku capek pastilah terjatuh lagi.

Masih kutatap pria yang jongkok itu. Si gila, atau bukan aku yang mengatakan si gila, aku hanya korban yang termakan sajian lezat perempuan cantik di depan mejaku. Lalu ia nyerocos panjang lebar tentang sahabat dari sahabatnya yang telah gila karena putus cinta dan mengulang-ulang setiap kata sebagai bagian dari irama putus cinta. Namun ingatanku masih satu, Maya sahabatku.

Semakin runyam rupanya, atas buku-buku Wittgenstein yang telah kutelan dan kumuntahkan lagi. Aduh, parah. Aku sedang kacau, lalu kusruput habis cappuccino di mejaku.

Nafasku mulai terputus-putus, kepalaku sakit sekali, jantungku berdenyut kencang… Lelahnya aku. Aku ingin mengeja alam imajiku. Pria itu menari dalam nalarku, sedangkan perempuan cantik, memainkan biola sendu mengiringinya. Lalu si Maya sahabatku, menyanyi merdu mengikuti not-not lagu yang kutimang dalam kertas melodi. Sakit hatiku karena ulah gila kekasihku, tersebutlah orkrestra romantika.

O o o… aku terlalu jauh terlempar dalam belantara imaji…, aku sadar dan harmoni ini hanya tentang prasangka peminum kopi. Ah, kuingin beranjak dari meja ini, karena cappuccinoku telah habis.

Jumat, 11 November 2011

Sajak-Sajak Hasnan Bachtiar

http://sastra-indonesia.com/
Daun Saka dari Surga

Daun saka, tlah jatuh dari surga

ada saka di balik pintu,
jelma hening dari rapuh

ada saka di balik jeruji erat,
rupa beban berlabuh berat

ada saka di ujung kebrutalan harimau,
singkap hikmah dari petaka

ada saka di hadapan cinta,
wujud kekosongan sebagai makna

saka yang penuh
gelasku terisi jernih
tiada keruh

saka yang utuh
abadi

16/9/2011



Pelukan Ibu

Saat kau balutkan kafan
untuk jasadku
wahai ibu
tangismu menerangi sukmaku

aku lahir dengan pelukmu
hingga waktu tibaku
dengan pelukmu jua

ibu, kuatkan aku
dengan doamu
ceritakan kisahku
untuk cucu-cucumu yang lucu

relakan aku
merelakanmu
ibuku,
surgaku

Rogojampi (Banyuwangi)



Salam untuk Kekasihku *

Kalau memang itulah yang kau inginkan wahai kekasihku, tak lagi mau menyerahkan nasibmu pada Tuhan, marilah hidup tanpa Tuhan, dan menghadapi kenyataan itu dengan lapang dada

Dengan tak bertuhan kau lebih religius, dengan tak bertuhan kau lebih muslimah, tidakkah muak setiap manusia dengan kebaikan-kebaikan dan kehati-hatian palsu bertopeng agama?

Oh… wahai engkau kekasihku serupa engkau sebagai engkau yang tlah menjadi engkau, biarkanlah engkau berlaku semau engkau

Wahai kekasihku, dengarlah, diri adalah keberanian yang tak terperi, justru yang kita hadapi kenyataan yang menyakitkan, tapi siapa tahu pertaruhan hidup hari depan? Karena penderitaan itulah kau akan hidup dengan berlari

Kekasihku…, beragamamu shalehah, tak ubahnya selera makan saja

Salamku untukmu, kekasihku Vira

Salam
Hasnan

Malang, 4 Juni 2010
*) ditulis di halaman A.R. Fakhruddin seusai membaca Khutbah di atas Bukit, Kuntowijoyo.



Tatkala *

Tatkala merasa kehilangan ide
terdiam, lalu beranjak menghadap ilahi

Tatkala dalam kekosongan dunia
tiada mengira sempurnakan akhirat

Tatkala cinta hempaskan sayap
orang-orang melarat, para buruh
dan pekerja-pekerja serabutan temukan harap

Tatkala berucap sederhana untuk ide besar
Mendikte ajaran-ajaran kemanusian
Menulis keberpihakan
merubah kepiluan dengan degub debar kebangkitan

Tatkala keterbatasan yang sangat hendak
melawan kuasa raja diraja angakara murka
bangunkan seribu ksatria untuk seribu tuan tiran yang rakus

Tatkala semua orang kagum
begitu rendah hati, membuka jendela jiwa untuk pengabdian hakiki

Sekarang,
tatkala masih banyak pekerjaan rumah untuk memberontak kezaliman
malah kau absen,
Tidak
Tatkala kami salah kira kau turut gerombolan kami
kau berwujud ide memimpin seluruh barisan untuk bangsa,
orang-orang miskin, buruh migran dan anak jalanan

Tatkala, kau abadi di hadapan dunia

Malang, 29 Maret 2011
*) Melanjutkan produktifitas Mbak Ratna dalam memihak orang-orang terpinggirkan.

A Rodhi Murtadho A. Ginandjar Wiludjeng A. Junianto A. Kurnia A. Qorib Hidayatullah A. Yusrianto Elga A.S Laksana A’yat Khalili Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Razak Abdul Rosyid Abdul Wahab Abdurrahman Wahid Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adam Chiefni Ade P. Nasution Adhitia Armitriant Adi Prasetyo Adrizas AF. Tuasikal Afriza Hanifa Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agnes Rita Sulistyawaty Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunyoto Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Baso Ahmad Faishal Ahmad Fatoni Ahmad Hasan MS Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Khotim Muzakka Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Naufel Ahmad Rofiq Ahmad S. Zahari Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Ainul Fiah Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Alex R. Nainggolan Alfian Dippahatang Ali Audah Ali Mahmudi CH Ali Rif’an Almania Rohmah Ami Herman Amien Wangsitalaja Aminah Aminullah HA.Noor Amir Sutaarga Anam Rahus Anata Siregar Andari Karina Anom Andina Dwifatma Andong Buku #3 Andre Mediansyah Andri Awan Anett Tapai Anggie Melianna Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Wahyudi Anwar Nuris Ardi Bramantyo Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arie Yani Arief Joko Wicaksono Arief Junianto Ariera Arif Bagus Prasetyo Aris Kurniawan Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asmaul Fauziyah Asti Musman Atafras Awalludin GD Mualif Ayu Wulan Sari Aziz Abdul Gofar Azizah Hefni Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Balok Sf Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Benny Arnas Benny Benke Beno Siang Pamungkas Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Bernando J Sujibto Berthold Damshauser BI Purwantari Binhad Nurrohmat Bobby Gunawan Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Burhanuddin Bella Camelia Mafaza Catatan Cerbung Cerpen Chairul Akhmad Chamim Kohari Chavchay Syaifullah Cover Buku Cucuk Espe D. Zaini Ahmad D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Dahta Gautama Daisuke Miyoshi Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Danusantoso Dareen Tatour Darju Prasetya David Kuncara Denny Mizhar Denza Perdana Desi Sommalia Gustina Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewi Indah Sari Dewi Susme Dian Sukarno Didik Harianto Didik Kusbiantoro Dina Jerphanion Dina Oktaviani Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur Dipo Handoko Diyah Errita Damayanti Djoko Pitono Djoko Saryono Doddy Wisnu Pribadi Dody Kristianto Dody Yan Masfa Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi SS MHum Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Wiyana Dyah Ratna Meta Novia Dyah Sulistyorini Ecep Heryadi Eddy Pranata PNP Edeng Syamsul Ma’arif Eep Saefulloh Fatah EH Kartanegara Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Hendrawan Sofyan Eko Hendri Saiful Eko Windarto Elnisya Mahendra Elva Lestary Emha Ainun Nadjib Emil WE Endah Sulwesi Endo Suanda Eppril Wulaningtyas R Esai Evan Ys F. Moses F. Rahardi Fadlillah Malin Sutan Fahmi Faqih Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Kurnianto Fanani Rahman Fanny Chotimah Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Febby Fortinella Rusmoyo Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Gabriel Garcia Marquez Galang Ari P. Galuh Tulus Utama Gampang Prawoto Gandra Gupta Ganug Nugroho Adi Gerson Poyk Ghassan Kanafani Gita Nuari Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunoto Saparie H.B. Jassin Habibullah Hadi Napster Hadriani Pudjiarti Halim HD Halimi Zuhdy Hamberan Syahbana Han Gagas Hanibal W. Y. Wijayanta Hardi Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Hartono Harimurti Hary B Kori’un Hasan Aspahani Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana HE. Benyamine Hendra Junaedi Hendra Makmur Heri CS Heri Latief Heri Listianto Herman RN Herry Lamongan Heru CN Heru Nugroho Hikmat Gumelar HL Renjis Magalah Hudan Nur Hujuala Rika Ayu Huminca Sinaga IBM. Dharma Palguna Ibnu Wahyudi Ida Farida Idris Pasaribu Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilham Khoiri Imam Cahyono Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indiar Manggara Indra Intisa Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ira Puspitaningsih Irfan Budiman Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Zulkarnain Ismail Marzuki Iva Titin Shovia Iwan Kurniawan Jabbar Abdullah Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D. Rahman Jamal T. Suryanata Javed Paul Syatha Jayaning S.A JILFest 2008 Jody Setiawan Johan Edy Raharjo Johannes Sugianto Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Juan Kromen Julika Hasanah Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN Juwairiyah Mawardy Ka’bati Karanggeneng Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Keith Foulcher Kemah Budaya Panturan (KBP) Khansa Arifah Adila Khoirul Inayah Khoirul Rosyadi Khudori Husnan Ki Ompong Sudarsono Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Sastra Ilalang Indonesia Korrie Layun Rampan Kostela Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie L.N. Idayanie Laili Rahmawati Lamongan Lan Fang Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lely Yuana Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Liestyo Ambarwati Khohar Lina Kelana Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lucia Idayanie Lukman A Sya Lutfiah Lynglieastrid Isabellita M Arman AZ M Ismail M Thobroni M. Afifuddin M. Arwan Hamidi M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Luthfi Aziz M. Nurdin M. Yoesoef M.D. Atmaja M.S. Nugroho Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Mahmud Syaltut Usfa Mahmudi Arif Dahlan Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Martin Aleida Maruli Tobing Mas Ruscita Mashuri Masuki M. Astro Matroni Matroni Muserang Media: Crayon on Paper Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Mia Arista Mia El Zahra Mikael Johani Misbahus Surur Misran Mohamad Ali Hisyam Mohammad Eri Irawan Much. Khoiri Muh. Muhlisin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun Muhammadun AS Muhidin M Dahlan Mujtahid Mujtahidin Billah Mukti Sutarman Espe Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Munawir Aziz Musfarayani Musfi Efrizal Nafisatul Husniah Nandang Darana Naskah Teater Nelson Alwi Ni Made Purnamasari Nikmatus Sholikhah Nina Herlina Lubis Nina Susilo Ning Elia Noor H. Dee Noval Jubbek Novel-novel berbahasa Jawa Novelet Nunuy Nurhayati Nur Azizah Nur Hamzah Nur Kholiq Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurul Aini Nurul Anam Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi SA Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Okty Budiati Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Otto Sukatno CR Oyos Saroso H.N. Pagan Press Pagelaran Musim Tandur Palupi Panca Astuti Parimono V / 40 Plandi Jombang Pawang Surya Kencana PDS H.B. Jassin Petrus Nandi Politik Politik Sastra Pradana Boy ZTF Pramoedya Ananta Toer Pramono Pringadi AS Prof Dr Fabiola D. Kurnia Prosa Puisi Puji Santosa Puji Tyasari Puput Amiranti N Purnawan Andra Purnawan Kristanto Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang Group PUstaka puJAngga Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Ng. Ronggowarsito Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Kemat Hidayatullah Rahmat Sularso Nh Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rasanrasan Boengaketji Raudal Tanjung Banua Redland Movie Reiny Dwinanda Resensi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Ririe Rengganis Risang Anom Pujayanto Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roso Titi Sarkoro Rozi Kembara Rukardi Rumah Budaya Pantura (RBP) Rusmanadi S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saiful Amin Ghofur Saiful Anam Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Salman S. Yoga Samsudin Adlawi Samsul Anam Sanggar Lukis Alam Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang KSII Santi Puji Rahayu Sapardi Djoko Damono Saroni Asikin Sartika Dian Nuraini Sastra dan Kuasa Simbolik Sastra Jawa Timur Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil SelaSastra Boenga Ketjil #33 Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sinopsis Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputra Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soegiharto Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Spectrum Center Press Sri Weni Sri Wintala Achmad Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudirman Sugi Lanus Sukron Ma’mun Sulaiman Djaya Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungging Raga Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Supriyadi Surya Lesmana Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyanto Syaf Anton Wr Syaifuddin Gani Syaiful Amin Syarif Wadja Bae Sylvianita Widyawati TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie (1961-2019) Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Presetyo Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Tia Setiadi Tirto Suwondo Tita Tjindarbumi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tosa Poetra Tri Nurdianingsih Triyanto Triwikromo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus S Ulul Azmiyati Umar Fauzi Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Utari Tri Prestianti Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W Haryanto W.S. Rendra Wahyu Prasetya Wan Anwar Wawan Eko Yulianto Wawancara Wina Bojonegoro Wita Lestari Wong Wing King Wowok Hesti Prabowo Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yanusa Nugroho Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yopi Setia Umbara Yudhi Herwibowo Yudi Latif Yusri Fajar Yusuf Ariel Hakim Yuval Noah Harari Zacky Khairul Uman Zainuddin Sugendal Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zed Abidien Zehan Zareez Zhaenal Fanani Zubaidi Khan Zuniest