Nurdin Kalim, L.N. Idayanie
http://majalah.tempointeraktif.com/
Sastrawan angkatan Pujangga Baru, Achdiat Kartamihardja, ramah melayani puluhan penggemar yang antre meminta tanda tangan. Jari-jarinya yang sudah tampak keriput bergetar saat menorehkan pulpen di buku Manifesto Khalifatullah, Rabu sore pekan lalu, dalam acara peluncuran buku terbarunya itu di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. “Saya sangat bahagia bisa datang lagi ke sini,” ujar kakek yang 43 tahun terakhir menetap di Canberra, Australia, itu dengan sumringah.
Buku setebal 219 halaman yang diterbitkan Arasy Mizan, Bandung, itu bukanlah roman atau novel. Achdiat lebih suka menyebutnya “kispan” atau kisah panjang, sebagai pengganti istilah novelet.
Kisah panjang itu lahir dari pergumulan pemikiran dan keyakinan Achdiat, dalam menjalankan kegiatan keagamaan. Sekaligus merupakan proses perenungan makna hidup. Lewat buku tadi, ia kembali mengingatkan tujuan hidup manusia sebagai wakil Tuhan di dunia.
Lebih dari setengah abad lalu, saat berusia 37, Achdiat menulis roman Atheis. Roman sensasional yang berbicara tentang proses pencarian Tuhan. Dalam Khalifatullah, pencarian itu telah selesai. Buku itu lebih banyak mempertanyakan peran manusia di dunia yang kini diliputi pemikiran sekuler.
Sementara pada 1949 ia menentang ateisme lewat Atheis, kini lewat buku terbarunya itu, “Saya ingin menentang sekularisme,” ujar ikhwan Tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah dari Pesantren Godebag, Tasikmalaya, Jawa Barat itu. Pimpinan pesantren itu ayah dari Abah Anom, pemilik pesantren Suryalaya.
Achdiat mengisahkan dua peristiwa menarik yang kemudian menjadikan energi untuk menulis kisah panjang itu. Suatu hari dalam perjalanan dengan kereta api Canberra-Sydney, Achdiat berkenalan dengan seorang turis Amerika. Keduanya lantas terlibat perbincangan pelbagai hal, dari topik ringan hingga soal yang berat.
Dalam salah satu topik percakapannya mengenai Tuhan, sang turis, yang menganut paham sekuler, berkeyakinan bahwa Tuhan, dalam kehidupan alam semesta ini, tidaklah memiliki peran yang penting atau bahkan tak ada sama sekali. Yang mahapenting adalah manusia, yang berarti segala-galanya di alam semesta.
Di lain kesempatan, dalam jamuan makan di rumah koleganya di Canberra, Achdiat kembali terlibat perbincangan tentang Tuhan. Menurut tuan rumah, manusia adalah ciptaan alam. Tidak ada Yang Maha Pencipta. “Alam sendiri itulah Sang Maha Pencipta,” kata koleganya itu. Achdiat tak sependapat. Bagi dia, alam harus ada yang menciptakannya, yang tak lain adalah Tuhan. Perbincangan itu memang tak dimaksudkan mencari titik temu.
Namun dua peristiwa itu terus mengusiknya. Dan Achdiat terpompa mendalami aliran filsafat sekularisme itu melalui buku-buku. Hingga suatu hari, hasratnya kian menggebu untuk merespons sikap hidup sekularisme dalam bentuk semacam novel bertema imaniah-agamawi. “Saya langsung teringat kisah tentang khalifatullah,” ujarnya.
Sayang, semangatnya yang menggebu terhambat kondisi penglihatannya yang buruk akibat penyakit katarak yang telah dideritanya sejak sepuluh tahun terakhir. Terlebih oleh dokter dirinya dinyatakan terkena glaukoma, sehingga matanya terancam buta.
Beruntung, atas bantuan juru ketik dari Kedutaan Besar RI, Titin Fatimah, akhirnya ia bisa menyelesaikan buku itu. Proses penulisan buku itu melalui dua tahap. Pertama, ia merekam gagasannya yang ada di kepala lewat alat perekam. Lalu, rekaman suara tadi dialihkan ke bentuk tulisan oleh Titin Fatimah. “Proses pembuatan Khalifatullah sekitar dua sampai tiga bulan,” kata ayah empat anak, kakek 10 cucu dan 7 cicit itu menjelaskan.
l l l
Lahir di Cibatu, Garut, Jawa Barat, pada 6 Maret 1911, ia melewati masa kecilnya di lingkungan santri sebagai anak menak (priayi Sunda). Ayahnya, Kosasih Kartamihardja, pegawai sebuah bank rakyat di Kabupaten Garut. Sedangkan ibunya adalah adik seorang Wedana Ciawi, Tasikmalaya, Jawa Barat.
Setamat sekolah rendah (HIS), Achdiat melanjutkan ke MULO (setingkat SMP) di Bandung. Saat itulah, ia mulai keranjingan membaca buku karya sastrawan besar dunia koleksi ayahnya. Antara lain, buku William Shakespeare, Alexander Dumas, Leo Tolstoy, dan Multatuli. Boleh dibilang, buku-buku itulah yang telah mendorongnya menjadi seorang pengarang.
Anak kedua dari tujuh bersaudara itu kemudian melanjutkan ke AMS (setingkat SMA). Mula-mula ia masuk AMS Jurusan Bahasa dan Sastra Barat di Bandung. Tapi ia pindah ke AMS Solo, Jawa Tengah, Jurusan Bahasa dan Sastra Timur. Saat sekolah di Solo, Achdiat tinggal di rumah dokter Sulaeman Mangunhusodo, anak penggagas berdirinya Budi Utomo, dokter Wahidin Sudirohusodo. Padanyalah Achdiat banyak belajar.
Achdiat menuturkan pengalamannya ketika berada di kediaman dokter itu. Setiap malam purnama, Kanjeng Sinuhun Keraton Surakarta punya kebiasaan berkeliling kota dengan mengendarai mobil yang disopiri seorang Belanda. Klaksonnya memekik-mekik. Menurut tradisi, siapa saja yang berada di pinggir jalan yang dilalui mobil itu wajib berjongkok memberi hormat. “Dokter Sulaeman ikut berjongkok,” kata Achdiat seraya tertawa.
Pada 1932, Achdiat, yang satu kelas dengan penyair Amir Hamzah dan Sanusi Pane, akhirnya berhasil menamatkan sekolahnya di tingkat menengah. Sebenarnya ia ingin meneruskan kuliah di fakultas hukum. Tapi, karena saat itu sedang terjadi krisis (dikenal dengan malaise), dan ayahnya juga telah memasuki masa pensiun, ia pun kemudian memutuskan bekerja. Achdiat muda sempat bekerja di sejumlah media massa. Sebelum menjadi Kepala Redaksi Balai Pustaka, ia pernah menjadi redaktur Bintang Timur dan Mingguan Peninjauan, Betawi. Sambil bekerja, ia juga mengikuti kuliah-kuliah non-gelar filsafat Barat di Universiteit van Indonesia.
Mantan Kepala Jawatan Kebudayaan DKI itu banyak menulis esai dan kritik mengenai sastra, budaya, keagamaan, dan politik. Pada 1956, ia memperoleh Hadiah Sastra Nasional BMKN. Dan 15 tahun kemudian, ia mendapat kehormatan menerima Anugerah Seni dari Pemerintah RI.
Pada zaman ingar-bingar Orde Lama, mantan anggota Partai Sosialis Indonesia itu “menyingkirkan diri” ke Australia. Ia mengisahkan kepergiannya ke Negeri Kanguru itu diawali ketika suatu malam Profesor A.H. Jones dari Australian National University, Canberra, bertandang ke rumahnya di bilangan Galur, Jakarta Pusat. Jones mengundang Achdiat untuk mendirikan Departemen Kajian Indonesia di perguruan tinggi itu. Awalnya, Achdiat menolak. Tapi, karena dorongan istrinya, ia menyetujuinya. “Istri saya pengen ke luar negeri,” ujar mantan dosen Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Jakarta, itu mengisahkan.
l l l
Kini Achdiat telah berusia 94 tahun. Kulitnya keriput, giginya pun sebagian besar sudah ompong. Langkahnya tertatih dibantu sebatang tongkat, yang telah tiga tahun belakangan setia menemaninya ke mana-mana. Penggemar banyak cabang olahraga itu kini hanya bisa berjalan-jalan di sekitar rumahnya. “Itu pun hanya mampu berjalan maksimal 20 menit,” katanya.
Di rumahnya yang sentosa di pinggiran Kota Canberra, Achdiat melewati hari tuanya bersama Tati Suprapti Noor, istrinya yang dinikahinya pada 9 Juni 1938. Pasangan ini selalu seiring sejalan. Tapi kondisi indra keduanya sedikit berbeda. Achdiat memiliki pendengaran dan ingatan masih cukup kuat, hanya penglihatannya yang sudah kabur. Sebaliknya Suprapti, yang kini 88 tahun, sudah sulit mendengar dan sering lupa.
Selain berjalan-jalan, Achdiat mengisi harinya dengan membaca, meski dengan susah payah dibantu surya kanta (kaca pembesar). Ia sangat ingin membaca lagi tulisan Sir Frank Macfarlaine Burneton tentang “mati sempurna”. Burneton adalah seorang profesor sains dari St. John Curtin School of Medical Research, Australian National University, yang pada 1960 meraih Hadiah Nobel bersama pakar ilmu kedokteran dari Inggris, Sir Peter Medawar.
Dalam tulisan Burneton dinyatakan, kalau hidup kita sehat, niscaya akan panjang umur. Lalu ditutup dengan “mati sempurna”. Bagi Achidat, orang yang baik dan mengalami “mati sempurna”, jika dalam detik-detik terakhir hidup manusia, ingat dan pasrah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Achdiat berharap, kelak ketika maut menjemput, dirinya berada dalam kondisi seperti yang diyakininya.
Kini Achdiat masih memendam sejumlah impian, setelah Manifesto Khalifatullah diluncurkan. Dirinya masih ingin menerbitkan buku kumpulan cerpen religius. “Sekarang dalam proses penyelesaian.” Dan terakhir, ia ingin menulis kisah diri (otobiografi) yang diterbitkan Balai Pustaka. “Karena saya tumbuh dan dibesarkan oleh lembaga itu,” katanya.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Ginandjar Wiludjeng
A. Junianto
A. Kurnia
A. Qorib Hidayatullah
A. Yusrianto Elga
A.S Laksana
A’yat Khalili
Aang Fatihul Islam
Abdul Azis Sukarno
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi WM
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Malik
Abdul Razak
Abdul Rosyid
Abdul Wahab
Abdurrahman Wahid
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adam Chiefni
Ade P. Nasution
Adhitia Armitriant
Adi Prasetyo
Adrizas
AF. Tuasikal
Afriza Hanifa
Afrizal Malna
Agama Para Bajingan
Agnes Rita Sulistyawaty
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Buchori
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahmad Baso
Ahmad Faishal
Ahmad Fatoni
Ahmad Hasan MS
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Khotim Muzakka
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Naufel
Ahmad Rofiq
Ahmad S. Zahari
Ahmad Syauqi Sumbawi
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ahsanu Nadia
Aini Aviena Violeta
Ainul Fiah
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sekhu
Akhmad Sofyan Hadi
Akhmad Taufiq
Akhudiat
Akmal Nasery Basral
Alam Terkembang
Alang Khoiruddin
Alex R. Nainggolan
Alfian Dippahatang
Ali Audah
Ali Mahmudi CH
Ali Rif’an
Almania Rohmah
Ami Herman
Amien Wangsitalaja
Aminah
Aminullah HA.Noor
Amir Sutaarga
Anam Rahus
Anata Siregar
Andari Karina Anom
Andina Dwifatma
Andong Buku #3
Andre Mediansyah
Andri Awan
Anett Tapai
Anggie Melianna
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anjrah Lelono Broto
Anton Bae
Anton Kurnia
Anton Wahyudi
Anwar Nuris
Ardi Bramantyo
Ardus M Sawega
Arie MP Tamba
Arie Yani
Arief Joko Wicaksono
Arief Junianto
Ariera
Arif Bagus Prasetyo
Aris Kurniawan
Arman A.Z.
Arswendo Atmowiloto
Arti Bumi Intaran
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Asmaul Fauziyah
Asti Musman
Atafras
Awalludin GD Mualif
Ayu Wulan Sari
Aziz Abdul Gofar
Azizah Hefni
Bagus Takwin
Bahrul Ulum A. Malik
Balada
Bale Aksara
Balok Sf
Bambang Kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Beni Setia
Benny Arnas
Benny Benke
Beno Siang Pamungkas
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita
Berita Duka
Berita Koran
Bernando J Sujibto
Berthold Damshauser
BI Purwantari
Binhad Nurrohmat
Bobby Gunawan
Bonari Nabonenar
Brunel University London
Budaya
Budi Darma
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Burhanuddin Bella
Camelia Mafaza
Catatan
Cerbung
Cerpen
Chairul Akhmad
Chamim Kohari
Chavchay Syaifullah
Cover Buku
Cucuk Espe
D. Zaini Ahmad
D. Zawawi Imron
Dadang Ari Murtono
Dahta Gautama
Daisuke Miyoshi
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Danusantoso
Dareen Tatour
Darju Prasetya
David Kuncara
Denny Mizhar
Denza Perdana
Desi Sommalia Gustina
Desiana Medya A.L
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dewi Indah Sari
Dewi Susme
Dian Sukarno
Didik Harianto
Didik Kusbiantoro
Dina Jerphanion
Dina Oktaviani
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur
Dipo Handoko
Diyah Errita Damayanti
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Doddy Wisnu Pribadi
Dody Kristianto
Dody Yan Masfa
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dorothea Rosa Herliany
Dr Junaidi SS MHum
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi Wiyana
Dyah Ratna Meta Novia
Dyah Sulistyorini
Ecep Heryadi
Eddy Pranata PNP
Edeng Syamsul Ma’arif
Eep Saefulloh Fatah
EH Kartanegara
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Hendrawan Sofyan
Eko Hendri Saiful
Eko Windarto
Elnisya Mahendra
Elva Lestary
Emha Ainun Nadjib
Emil WE
Endah Sulwesi
Endo Suanda
Eppril Wulaningtyas R
Esai
Evan Ys
F. Moses
F. Rahardi
Fadlillah Malin Sutan
Fahmi Faqih
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Kurnianto
Fanani Rahman
Fanny Chotimah
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Febby Fortinella Rusmoyo
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Gabriel Garcia Marquez
Galang Ari P.
Galuh Tulus Utama
Gampang Prawoto
Gandra Gupta
Ganug Nugroho Adi
Gerson Poyk
Ghassan Kanafani
Gita Nuari
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gunoto Saparie
H.B. Jassin
Habibullah
Hadi Napster
Hadriani Pudjiarti
Halim HD
Halimi Zuhdy
Hamberan Syahbana
Han Gagas
Hanibal W. Y. Wijayanta
Hardi
Haris del Hakim
Haris Saputra
Harri Ash Shiddiqie
Hartono Harimurti
Hary B Kori’un
Hasan Aspahani
Hasan Junus
Hasif Amini
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
HE. Benyamine
Hendra Junaedi
Hendra Makmur
Heri CS
Heri Latief
Heri Listianto
Herman RN
Herry Lamongan
Heru CN
Heru Nugroho
Hikmat Gumelar
HL Renjis Magalah
Hudan Nur
Hujuala Rika Ayu
Huminca Sinaga
IBM. Dharma Palguna
Ibnu Wahyudi
Ida Farida
Idris Pasaribu
Ignas Kleden
Ignatius Haryanto
Iksan Basoeky
Ilham Khoiri
Imam Cahyono
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indiar Manggara
Indra Intisa
Indra Tjahyadi
Indra Tranggono
Indrian Koto
Ira Puspitaningsih
Irfan Budiman
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Iskandar Zulkarnain
Ismail Marzuki
Iva Titin Shovia
Iwan Kurniawan
Jabbar Abdullah
Jafar Fakhrurozi
Jalan Raya Simo Sungelebak
Jamal D. Rahman
Jamal T. Suryanata
Javed Paul Syatha
Jayaning S.A
JILFest 2008
Jody Setiawan
Johan Edy Raharjo
Johannes Sugianto
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Jual Buku
Jual Buku Paket Hemat
Juan Kromen
Julika Hasanah
Jurnalisme Sastrawi
Jusuf AN
Juwairiyah Mawardy
Ka’bati
Karanggeneng
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Keith Foulcher
Kemah Budaya Panturan (KBP)
Khansa Arifah Adila
Khoirul Inayah
Khoirul Rosyadi
Khudori Husnan
Ki Ompong Sudarsono
Kirana Kejora
Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Sastra Ilalang Indonesia
Korrie Layun Rampan
Kostela
Kritik Sastra
Kukuh S Wibowo
Kurnia Effendi
Kurniawan
Kuswaidi Syafi'ie
L.N. Idayanie
Laili Rahmawati
Lamongan
Lan Fang
Langgeng Widodo
Lathifa Akmaliyah
Leila S. Chudori
Lely Yuana
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Liestyo Ambarwati Khohar
Lina Kelana
Linda Sarmili
Liza Wahyuninto
Lucia Idayanie
Lukman A Sya
Lutfiah
Lynglieastrid Isabellita
M Arman AZ
M Ismail
M Thobroni
M. Afifuddin
M. Arwan Hamidi
M. Lukluk Atsmara Anjaina
M. Lutfi
M. Luthfi Aziz
M. Nurdin
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.S. Nugroho
Mahendra Cipta
Mahmud Jauhari Ali
Mahmud Syaltut Usfa
Mahmudi Arif Dahlan
Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Martin Aleida
Maruli Tobing
Mas Ruscita
Mashuri
Masuki M. Astro
Matroni
Matroni Muserang
Media: Crayon on Paper
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
MG. Sungatno
Mh Zaelani Tammaka
Mia Arista
Mia El Zahra
Mikael Johani
Misbahus Surur
Misran
Mohamad Ali Hisyam
Mohammad Eri Irawan
Much. Khoiri
Muh. Muhlisin
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Aris
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Rain
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun
Muhammadun AS
Muhidin M Dahlan
Mujtahid
Mujtahidin Billah
Mukti Sutarman Espe
Mulyadi SA
Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik
Munawir Aziz
Musfarayani
Musfi Efrizal
Nafisatul Husniah
Nandang Darana
Naskah Teater
Nelson Alwi
Ni Made Purnamasari
Nikmatus Sholikhah
Nina Herlina Lubis
Nina Susilo
Ning Elia
Noor H. Dee
Noval Jubbek
Novel-novel berbahasa Jawa
Novelet
Nunuy Nurhayati
Nur Azizah
Nur Hamzah
Nur Kholiq
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nurul Aini
Nurul Anam
Nurul Komariyah
Nuryana Asmaudi SA
Nyoman Tusthi Eddy
Obrolan
Okty Budiati
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Otto Sukatno CR
Oyos Saroso H.N.
Pagan Press
Pagelaran Musim Tandur
Palupi Panca Astuti
Parimono V / 40 Plandi Jombang
Pawang Surya Kencana
PDS H.B. Jassin
Petrus Nandi
Politik
Politik Sastra
Pradana Boy ZTF
Pramoedya Ananta Toer
Pramono
Pringadi AS
Prof Dr Fabiola D. Kurnia
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Puji Tyasari
Puput Amiranti N
Purnawan Andra
Purnawan Kristanto
Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin
Pustaka Ilalang Group
PUstaka puJAngga
Putu Wijaya
Qaris Tajudin
R. Ng. Ronggowarsito
Rachmad Djoko Pradopo
Radhar Panca Dahana
Rahmat Kemat Hidayatullah
Rahmat Sularso Nh
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rasanrasan Boengaketji
Raudal Tanjung Banua
Redland Movie
Reiny Dwinanda
Resensi
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Riki Dhamparan Putra
Riki Utomi
Ririe Rengganis
Risang Anom Pujayanto
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Roso Titi Sarkoro
Rozi Kembara
Rukardi
Rumah Budaya Pantura (RBP)
Rusmanadi
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Saiful Amin Ghofur
Saiful Anam
Sainul Hermawan
Sajak
Salamet Wahedi
Salman S. Yoga
Samsudin Adlawi
Samsul Anam
Sanggar Lukis Alam
Sanggar Pasir
Sanggar Rumah Ilalang KSII
Santi Puji Rahayu
Sapardi Djoko Damono
Saroni Asikin
Sartika Dian Nuraini
Sastra dan Kuasa Simbolik
Sastra Jawa Timur
Satmoko Budi Santoso
Saut Situmorang
Sayyid Fahmi Alathas
SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang
SelaSastra Boenga Ketjil
SelaSastra Boenga Ketjil #33
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Setia Naka Andrian
Shiny.ane el’poesya
Sholihul Huda
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sinopsis
Siti Khoeriyah
Siti Muyassarotul Hafidzoh
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputra
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Soegiharto
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sosiawan Leak
Spectrum Center Press
Sri Weni
Sri Wintala Achmad
Suci Ayu Latifah
Sucipto Hadi Purnomo
Sudirman
Sugi Lanus
Sukron Ma’mun
Sulaiman Djaya
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sungging Raga
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Supriyadi
Surya Lesmana
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Suyanto
Syaf Anton Wr
Syaifuddin Gani
Syaiful Amin
Syarif Wadja Bae
Sylvianita Widyawati
TanahmeraH ArtSpace
Tarmuzie (1961-2019)
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Presetyo
Teguh Setiawan
Teguh Winarsho AS
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Tia Setiadi
Tirto Suwondo
Tita Tjindarbumi
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan
Tosa Poetra
Tri Nurdianingsih
Triyanto Triwikromo
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Tulus S
Ulul Azmiyati
Umar Fauzi
Umar Fauzi Ballah
Umar Kayam
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Universitas Jember
Usman Arrumy
Utari Tri Prestianti
Viddy AD Daery
Virdika Rizky Utama
W Haryanto
W.S. Rendra
Wahyu Prasetya
Wan Anwar
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wina Bojonegoro
Wita Lestari
Wong Wing King
Wowok Hesti Prabowo
Xu Xi (Sussy Komala)
Y. Thendra BP
Y. Wibowo
Yanusa Nugroho
Yasraf Amir Piliang
Yayat R. Cipasang
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yopi Setia Umbara
Yudhi Herwibowo
Yudi Latif
Yusri Fajar
Yusuf Ariel Hakim
Yuval Noah Harari
Zacky Khairul Uman
Zainuddin Sugendal
Zamakhsyari Abrar
Zawawi Se
Zed Abidien
Zehan Zareez
Zhaenal Fanani
Zubaidi Khan
Zuniest
Tidak ada komentar:
Posting Komentar