Minggu, 11 Juli 2010

Energi Baru Achdiat

Nurdin Kalim, L.N. Idayanie
http://majalah.tempointeraktif.com/

Sastrawan angkatan Pujangga Baru, Achdiat Kartamihardja, ramah melayani puluhan penggemar yang antre meminta tanda tangan. Jari-jarinya yang sudah tampak keriput bergetar saat menorehkan pulpen di buku Manifesto Khalifatullah, Rabu sore pekan lalu, dalam acara peluncuran buku terbarunya itu di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. “Saya sangat bahagia bisa datang lagi ke sini,” ujar kakek yang 43 tahun terakhir menetap di Canberra, Australia, itu dengan sumringah.

Buku setebal 219 halaman yang diterbitkan Arasy Mizan, Bandung, itu bukanlah roman atau novel. Achdiat lebih suka menyebutnya “kispan” atau kisah panjang, sebagai pengganti istilah novelet.

Kisah panjang itu lahir dari pergumulan pemikiran dan keyakinan Achdiat, dalam menjalankan kegiatan keagamaan. Sekaligus merupakan proses perenungan makna hidup. Lewat buku tadi, ia kembali mengingatkan tujuan hidup manusia sebagai wakil Tuhan di dunia.

Lebih dari setengah abad lalu, saat berusia 37, Achdiat menulis roman Atheis. Roman sensasional yang berbicara tentang proses pencarian Tuhan. Dalam Khalifatullah, pencarian itu telah selesai. Buku itu lebih banyak mempertanyakan peran manusia di dunia yang kini diliputi pemikiran sekuler.

Sementara pada 1949 ia menentang ateisme lewat Atheis, kini lewat buku terbarunya itu, “Saya ingin menentang sekularisme,” ujar ikhwan Tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah dari Pesantren Godebag, Tasikmalaya, Jawa Barat itu. Pimpinan pesantren itu ayah dari Abah Anom, pemilik pesantren Suryalaya.

Achdiat mengisahkan dua peristiwa menarik yang kemudian menjadikan energi untuk menulis kisah panjang itu. Suatu hari dalam perjalanan dengan kereta api Canberra-Sydney, Achdiat berkenalan dengan seorang turis Amerika. Keduanya lantas terlibat perbincangan pelbagai hal, dari topik ringan hingga soal yang berat.

Dalam salah satu topik percakapannya mengenai Tuhan, sang turis, yang menganut paham sekuler, berkeyakinan bahwa Tuhan, dalam kehidupan alam semesta ini, tidaklah memiliki peran yang penting atau bahkan tak ada sama sekali. Yang mahapenting adalah manusia, yang berarti segala-galanya di alam semesta.

Di lain kesempatan, dalam jamuan makan di rumah koleganya di Canberra, Achdiat kembali terlibat perbincangan tentang Tuhan. Menurut tuan rumah, manusia adalah ciptaan alam. Tidak ada Yang Maha Pencipta. “Alam sendiri itulah Sang Maha Pencipta,” kata koleganya itu. Achdiat tak sependapat. Bagi dia, alam harus ada yang menciptakannya, yang tak lain adalah Tuhan. Perbincangan itu memang tak dimaksudkan mencari titik temu.

Namun dua peristiwa itu terus mengusiknya. Dan Achdiat terpompa mendalami aliran filsafat sekularisme itu melalui buku-buku. Hingga suatu hari, hasratnya kian menggebu untuk merespons sikap hidup sekularisme dalam bentuk semacam novel bertema imaniah-agamawi. “Saya langsung teringat kisah tentang khalifatullah,” ujarnya.

Sayang, semangatnya yang menggebu terhambat kondisi penglihatannya yang buruk akibat penyakit katarak yang telah dideritanya sejak sepuluh tahun terakhir. Terlebih oleh dokter dirinya dinyatakan terkena glaukoma, sehingga matanya terancam buta.

Beruntung, atas bantuan juru ketik dari Kedutaan Besar RI, Titin Fatimah, akhirnya ia bisa menyelesaikan buku itu. Proses penulisan buku itu melalui dua tahap. Pertama, ia merekam gagasannya yang ada di kepala lewat alat perekam. Lalu, rekaman suara tadi dialihkan ke bentuk tulisan oleh Titin Fatimah. “Proses pembuatan Khalifatullah sekitar dua sampai tiga bulan,” kata ayah empat anak, kakek 10 cucu dan 7 cicit itu menjelaskan.

l l l

Lahir di Cibatu, Garut, Jawa Barat, pada 6 Maret 1911, ia melewati masa kecilnya di lingkungan santri sebagai anak menak (priayi Sunda). Ayahnya, Kosasih Kartamihardja, pegawai sebuah bank rakyat di Kabupaten Garut. Sedangkan ibunya adalah adik seorang Wedana Ciawi, Tasikmalaya, Jawa Barat.

Setamat sekolah rendah (HIS), Achdiat melanjutkan ke MULO (setingkat SMP) di Bandung. Saat itulah, ia mulai keranjingan membaca buku karya sastrawan besar dunia koleksi ayahnya. Antara lain, buku William Shakespeare, Alexander Dumas, Leo Tolstoy, dan Multatuli. Boleh dibilang, buku-buku itulah yang telah mendorongnya menjadi seorang pengarang.

Anak kedua dari tujuh bersaudara itu kemudian melanjutkan ke AMS (setingkat SMA). Mula-mula ia masuk AMS Jurusan Bahasa dan Sastra Barat di Bandung. Tapi ia pindah ke AMS Solo, Jawa Tengah, Jurusan Bahasa dan Sastra Timur. Saat sekolah di Solo, Achdiat tinggal di rumah dokter Sulaeman Mangunhusodo, anak penggagas berdirinya Budi Utomo, dokter Wahidin Sudirohusodo. Padanyalah Achdiat banyak belajar.

Achdiat menuturkan pengalamannya ketika berada di kediaman dokter itu. Setiap malam purnama, Kanjeng Sinuhun Keraton Surakarta punya kebiasaan berkeliling kota dengan mengendarai mobil yang disopiri seorang Belanda. Klaksonnya memekik-mekik. Menurut tradisi, siapa saja yang berada di pinggir jalan yang dilalui mobil itu wajib berjongkok memberi hormat. “Dokter Sulaeman ikut berjongkok,” kata Achdiat seraya tertawa.

Pada 1932, Achdiat, yang satu kelas dengan penyair Amir Hamzah dan Sanusi Pane, akhirnya berhasil menamatkan sekolahnya di tingkat menengah. Sebenarnya ia ingin meneruskan kuliah di fakultas hukum. Tapi, karena saat itu sedang terjadi krisis (dikenal dengan malaise), dan ayahnya juga telah memasuki masa pensiun, ia pun kemudian memutuskan bekerja. Achdiat muda sempat bekerja di sejumlah media massa. Sebelum menjadi Kepala Redaksi Balai Pustaka, ia pernah menjadi redaktur Bintang Timur dan Mingguan Peninjauan, Betawi. Sambil bekerja, ia juga mengikuti kuliah-kuliah non-gelar filsafat Barat di Universiteit van Indonesia.

Mantan Kepala Jawatan Kebudayaan DKI itu banyak menulis esai dan kritik mengenai sastra, budaya, keagamaan, dan politik. Pada 1956, ia memperoleh Hadiah Sastra Nasional BMKN. Dan 15 tahun kemudian, ia mendapat kehormatan menerima Anugerah Seni dari Pemerintah RI.

Pada zaman ingar-bingar Orde Lama, mantan anggota Partai Sosialis Indonesia itu “menyingkirkan diri” ke Australia. Ia mengisahkan kepergiannya ke Negeri Kanguru itu diawali ketika suatu malam Profesor A.H. Jones dari Australian National University, Canberra, bertandang ke rumahnya di bilangan Galur, Jakarta Pusat. Jones mengundang Achdiat untuk mendirikan Departemen Kajian Indonesia di perguruan tinggi itu. Awalnya, Achdiat menolak. Tapi, karena dorongan istrinya, ia menyetujuinya. “Istri saya pengen ke luar negeri,” ujar mantan dosen Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Jakarta, itu mengisahkan.

l l l

Kini Achdiat telah berusia 94 tahun. Kulitnya keriput, giginya pun sebagian besar sudah ompong. Langkahnya tertatih dibantu sebatang tongkat, yang telah tiga tahun belakangan setia menemaninya ke mana-mana. Penggemar banyak cabang olahraga itu kini hanya bisa berjalan-jalan di sekitar rumahnya. “Itu pun hanya mampu berjalan maksimal 20 menit,” katanya.

Di rumahnya yang sentosa di pinggiran Kota Canberra, Achdiat melewati hari tuanya bersama Tati Suprapti Noor, istrinya yang dinikahinya pada 9 Juni 1938. Pasangan ini selalu seiring sejalan. Tapi kondisi indra keduanya sedikit berbeda. Achdiat memiliki pendengaran dan ingatan masih cukup kuat, hanya penglihatannya yang sudah kabur. Sebaliknya Suprapti, yang kini 88 tahun, sudah sulit mendengar dan sering lupa.

Selain berjalan-jalan, Achdiat mengisi harinya dengan membaca, meski dengan susah payah dibantu surya kanta (kaca pembesar). Ia sangat ingin membaca lagi tulisan Sir Frank Macfarlaine Burneton tentang “mati sempurna”. Burneton adalah seorang profesor sains dari St. John Curtin School of Medical Research, Australian National University, yang pada 1960 meraih Hadiah Nobel bersama pakar ilmu kedokteran dari Inggris, Sir Peter Medawar.

Dalam tulisan Burneton dinyatakan, kalau hidup kita sehat, niscaya akan panjang umur. Lalu ditutup dengan “mati sempurna”. Bagi Achidat, orang yang baik dan mengalami “mati sempurna”, jika dalam detik-detik terakhir hidup manusia, ingat dan pasrah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Achdiat berharap, kelak ketika maut menjemput, dirinya berada dalam kondisi seperti yang diyakininya.

Kini Achdiat masih memendam sejumlah impian, setelah Manifesto Khalifatullah diluncurkan. Dirinya masih ingin menerbitkan buku kumpulan cerpen religius. “Sekarang dalam proses penyelesaian.” Dan terakhir, ia ingin menulis kisah diri (otobiografi) yang diterbitkan Balai Pustaka. “Karena saya tumbuh dan dibesarkan oleh lembaga itu,” katanya.

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Ginandjar Wiludjeng A. Junianto A. Kurnia A. Qorib Hidayatullah A. Yusrianto Elga A.S Laksana A’yat Khalili Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Razak Abdul Rosyid Abdul Wahab Abdurrahman Wahid Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adam Chiefni Ade P. Nasution Adhitia Armitriant Adi Prasetyo Adrizas AF. Tuasikal Afriza Hanifa Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agnes Rita Sulistyawaty Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunyoto Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Baso Ahmad Faishal Ahmad Fatoni Ahmad Hasan MS Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Khotim Muzakka Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Naufel Ahmad Rofiq Ahmad S. Zahari Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Ainul Fiah Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Alex R. Nainggolan Alfian Dippahatang Ali Audah Ali Mahmudi CH Ali Rif’an Almania Rohmah Ami Herman Amien Wangsitalaja Aminah Aminullah HA.Noor Amir Sutaarga Anam Rahus Anata Siregar Andari Karina Anom Andina Dwifatma Andong Buku #3 Andre Mediansyah Andri Awan Anett Tapai Anggie Melianna Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Wahyudi Anwar Nuris Ardi Bramantyo Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arie Yani Arief Joko Wicaksono Arief Junianto Ariera Arif Bagus Prasetyo Aris Kurniawan Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asmaul Fauziyah Asti Musman Atafras Awalludin GD Mualif Ayu Wulan Sari Aziz Abdul Gofar Azizah Hefni Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Balok Sf Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Benny Arnas Benny Benke Beno Siang Pamungkas Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Bernando J Sujibto Berthold Damshauser BI Purwantari Binhad Nurrohmat Bobby Gunawan Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Burhanuddin Bella Camelia Mafaza Catatan Cerbung Cerpen Chairul Akhmad Chamim Kohari Chavchay Syaifullah Cover Buku Cucuk Espe D. Zaini Ahmad D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Dahta Gautama Daisuke Miyoshi Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Danusantoso Dareen Tatour Darju Prasetya David Kuncara Denny Mizhar Denza Perdana Desi Sommalia Gustina Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewi Indah Sari Dewi Susme Dian Sukarno Didik Harianto Didik Kusbiantoro Dina Jerphanion Dina Oktaviani Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur Dipo Handoko Diyah Errita Damayanti Djoko Pitono Djoko Saryono Doddy Wisnu Pribadi Dody Kristianto Dody Yan Masfa Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi SS MHum Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Wiyana Dyah Ratna Meta Novia Dyah Sulistyorini Ecep Heryadi Eddy Pranata PNP Edeng Syamsul Ma’arif Eep Saefulloh Fatah EH Kartanegara Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Hendrawan Sofyan Eko Hendri Saiful Eko Windarto Elnisya Mahendra Elva Lestary Emha Ainun Nadjib Emil WE Endah Sulwesi Endo Suanda Eppril Wulaningtyas R Esai Evan Ys F. Moses F. Rahardi Fadlillah Malin Sutan Fahmi Faqih Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Kurnianto Fanani Rahman Fanny Chotimah Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Febby Fortinella Rusmoyo Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Gabriel Garcia Marquez Galang Ari P. Galuh Tulus Utama Gampang Prawoto Gandra Gupta Ganug Nugroho Adi Gerson Poyk Ghassan Kanafani Gita Nuari Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunoto Saparie H.B. Jassin Habibullah Hadi Napster Hadriani Pudjiarti Halim HD Halimi Zuhdy Hamberan Syahbana Han Gagas Hanibal W. Y. Wijayanta Hardi Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Hartono Harimurti Hary B Kori’un Hasan Aspahani Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana HE. Benyamine Hendra Junaedi Hendra Makmur Heri CS Heri Latief Heri Listianto Herman RN Herry Lamongan Heru CN Heru Nugroho Hikmat Gumelar HL Renjis Magalah Hudan Nur Hujuala Rika Ayu Huminca Sinaga IBM. Dharma Palguna Ibnu Wahyudi Ida Farida Idris Pasaribu Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilham Khoiri Imam Cahyono Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indiar Manggara Indra Intisa Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ira Puspitaningsih Irfan Budiman Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Zulkarnain Ismail Marzuki Iva Titin Shovia Iwan Kurniawan Jabbar Abdullah Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D. Rahman Jamal T. Suryanata Javed Paul Syatha Jayaning S.A JILFest 2008 Jody Setiawan Johan Edy Raharjo Johannes Sugianto Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Juan Kromen Julika Hasanah Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN Juwairiyah Mawardy Ka’bati Karanggeneng Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Keith Foulcher Kemah Budaya Panturan (KBP) Khansa Arifah Adila Khoirul Inayah Khoirul Rosyadi Khudori Husnan Ki Ompong Sudarsono Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Sastra Ilalang Indonesia Korrie Layun Rampan Kostela Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie L.N. Idayanie Laili Rahmawati Lamongan Lan Fang Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lely Yuana Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Liestyo Ambarwati Khohar Lina Kelana Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lucia Idayanie Lukman A Sya Lutfiah Lynglieastrid Isabellita M Arman AZ M Ismail M Thobroni M. Afifuddin M. Arwan Hamidi M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Luthfi Aziz M. Nurdin M. Yoesoef M.D. Atmaja M.S. Nugroho Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Mahmud Syaltut Usfa Mahmudi Arif Dahlan Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Martin Aleida Maruli Tobing Mas Ruscita Mashuri Masuki M. Astro Matroni Matroni Muserang Media: Crayon on Paper Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Mia Arista Mia El Zahra Mikael Johani Misbahus Surur Misran Mohamad Ali Hisyam Mohammad Eri Irawan Much. Khoiri Muh. Muhlisin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun Muhammadun AS Muhidin M Dahlan Mujtahid Mujtahidin Billah Mukti Sutarman Espe Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Munawir Aziz Musfarayani Musfi Efrizal Nafisatul Husniah Nandang Darana Naskah Teater Nelson Alwi Ni Made Purnamasari Nikmatus Sholikhah Nina Herlina Lubis Nina Susilo Ning Elia Noor H. Dee Noval Jubbek Novel-novel berbahasa Jawa Novelet Nunuy Nurhayati Nur Azizah Nur Hamzah Nur Kholiq Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurul Aini Nurul Anam Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi SA Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Okty Budiati Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Otto Sukatno CR Oyos Saroso H.N. Pagan Press Pagelaran Musim Tandur Palupi Panca Astuti Parimono V / 40 Plandi Jombang Pawang Surya Kencana PDS H.B. Jassin Petrus Nandi Politik Politik Sastra Pradana Boy ZTF Pramoedya Ananta Toer Pramono Pringadi AS Prof Dr Fabiola D. Kurnia Prosa Puisi Puji Santosa Puji Tyasari Puput Amiranti N Purnawan Andra Purnawan Kristanto Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang Group PUstaka puJAngga Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Ng. Ronggowarsito Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Kemat Hidayatullah Rahmat Sularso Nh Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rasanrasan Boengaketji Raudal Tanjung Banua Redland Movie Reiny Dwinanda Resensi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Ririe Rengganis Risang Anom Pujayanto Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roso Titi Sarkoro Rozi Kembara Rukardi Rumah Budaya Pantura (RBP) Rusmanadi S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saiful Amin Ghofur Saiful Anam Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Salman S. Yoga Samsudin Adlawi Samsul Anam Sanggar Lukis Alam Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang KSII Santi Puji Rahayu Sapardi Djoko Damono Saroni Asikin Sartika Dian Nuraini Sastra dan Kuasa Simbolik Sastra Jawa Timur Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil SelaSastra Boenga Ketjil #33 Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sinopsis Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputra Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soegiharto Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Spectrum Center Press Sri Weni Sri Wintala Achmad Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudirman Sugi Lanus Sukron Ma’mun Sulaiman Djaya Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungging Raga Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Supriyadi Surya Lesmana Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyanto Syaf Anton Wr Syaifuddin Gani Syaiful Amin Syarif Wadja Bae Sylvianita Widyawati TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie (1961-2019) Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Presetyo Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Tia Setiadi Tirto Suwondo Tita Tjindarbumi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tosa Poetra Tri Nurdianingsih Triyanto Triwikromo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus S Ulul Azmiyati Umar Fauzi Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Utari Tri Prestianti Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W Haryanto W.S. Rendra Wahyu Prasetya Wan Anwar Wawan Eko Yulianto Wawancara Wina Bojonegoro Wita Lestari Wong Wing King Wowok Hesti Prabowo Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yanusa Nugroho Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yopi Setia Umbara Yudhi Herwibowo Yudi Latif Yusri Fajar Yusuf Ariel Hakim Yuval Noah Harari Zacky Khairul Uman Zainuddin Sugendal Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zed Abidien Zehan Zareez Zhaenal Fanani Zubaidi Khan Zuniest