Sabtu, 15 Oktober 2011

Harga Diri Ayam

Emha Ainun Nadjib
http://sastra-indonesia.com/

AYAM memang hewan atau binatang, tetapi tak sekadar hewan atau binatang, ia adalah juga ayam. Ia bahkan punya banyak identitas dan kemungkinan eksistensi yang lain.

Ayam juga makhluk dunia, warga dunia, bagian dari alam, peliharaan Pak Kardjo, temannya ayam lain, putra atau putrinya bapak ayam ibu ayam, penghuni kandang ayam pojok RT. Ayam adalah juga hewan, bukan bebek, bukan angsa, bukan burung bukan anjing, bahkan bukan manusia. Identitas mana yang primer mana yang sekunder, itu soal cara pandang.

Mana kedirian yang “sekadar”, mana yang “bahkan”, mana yang “utamanya”, itu soal konsep nilai dan bisa berbeda-beda. Sebuah cara pandang bisa meletakkan ayam sebagai “sekadar ayam”. Namun cara pandang lain menyebut “mending ayam”, maksudnya: umpamanya “dibandingkan manusia”. Lho kok dibandingkan manusia? Cara pandang itu menemukan bahwa ayam sangat mungkin lebih berguna bagi kehidupan seluruh makhluk alam semesta ini, sekurang-kurangnya bagi umat manusia, dibandingkan manusia sendiri.

Umpamanya masih lebih baik ayam yang tidak mungkin mencuri manusia dibandingkan “manusia pencuri ayam”. Bahkan ada cara pandang nilai yang meletakkan ayam di wilayah kemuliaan: segala perilaku ayam, langkahnya, makan minumnya, mati hidupnya, 100% menaati sunnah Tuhan atau tradisi penciptaan yang di-set up Tuhan. Ayam sepenuhnya patuh kepada Tuhan, sementara manusia dikasih peluang demokrasi: berpikir sendiri, menentukan sendiri keputusan-keputusan hidupnya.

Maka manusia bergerak ke berbagai kemungkinan arah: ada yang menjadi lebih baik dari ayam, ada yang lebih hina dari ayam. Ayam disembelih saja berguna dan hasil masakannya enak dimakan manusia. Sementara manusia tak enak dimakan dan tidak punya posisi nilai untuk baik disembelih. Ketika ayam disembelih, digoreng atau digodok: itulah puncak kemuliaan kemakhlukannya.

Kata Alquran lagi: bersuku-suku, berbangsa-bangsa itu tak lain tak bukan untuk berkenalan, berempati satu sama lain, saling menghormati, menyayangi, bekerja sama, menjadi negara, kerajaan, PBB, parpol, ormas, perusahaan, warung, masjid dan gereja, gardu, SMS, cyber world, dan segala macam produk kerja sama kemanusiaan yang lain. Maka lima pilar yang menyangga berdirinya Republik Indonesia – rakyat, kaum intelektual, TNI/Polri, kekuatan adat dan tradisi serta sumber-sumber keagamaan – harus diterjemahkan secara matang di dalam budaya dan konstitusi, harus dijadikan pijakan setiap inisiatif transformasi sejarah yang menentukan arah pembangunan di bidang apa pun.

Selama 62 tahun merdeka yang pegang kendali hanya dua: kaum intelektual dan tentara-polisi. Rakyat hanya tunggangan, agama, dan adat tradisi hanya dieksploitasi dan dikomoditaskan. Salah satu akibatnya, etnisitas menjadi sama dengan kekerdilan, identitas keagamaan menjadi eksklusivisme. Begitu kita berpikir tentang pluralisme, maunya ayam kita tak anggap ayam, melainkan kita sebut hewan saja. Ayam tak boleh menonjolkan keayamannya.

Bahkan ayam harus disembunyikan penampakan ayamnya. Ayam harus agak kebebek-bebekan, bebek harus keangsa-angsaan, kerbau harus jangan terlalu jelas kerbaunya, lembu kalau bisa mirip kerbau, anjing seyogianya mirip manusia dan manusia bagus kalau seperti anjing. Orang tidak bisa menjadi dirinya sendiri dan tak terbiasa melihat orang lain sebagai diri orang lain. Orang hanya siap melihat dirinya dalam keseragaman dengan kebanyakan orang. Orang sakit hati kalau menemukan orang lain tidak seperti dirinya.

Orang tidak tahan hati untuk berbeda. Kalau saya suka bergurau dengan kambing, para tetangga menyimpulkan saya adalah kambing. Kalau saya hadir ke acara partai komunis internasional, orang menyimpulkan saya sudah murtad dan keluar dari Islam. Padahal saya senang bergaul dengan setan, saya tidak pernah memusuhi setan, karena antara setan dengan saya sudah ada pemahaman dua pihak bahwa saya tidak mungkin mampu memengaruhi setan, sementara saya juga insya Allah tidak akan pernah membiarkan diri saya dipengaruhi oleh setan.

Maka setan lebih merupakan partner dialektika, sebagaimana kegelapan diperlukan untuk mempertegas cahaya, hitam diperlukan untuk menghayati putih dan warna-warna lain. Pada suatu waktu bersama kelompok Kiai Kanjeng kami tiba di Roma sesudah Aberdeen, London, dan Berlin. Begitu mendarat, layar televisi mengumumkan bahwa Paus Johannes Paulus II gerah alias sakit. Beberapa hari kemudian wafat. Kami pun ikhlas tidak jadi pentas. Karena kalau beliau wafat, pertandingan sepak bola di Roma atau mungkin seluruh Italia harus ditunda.

Semua tempat hiburan tutup. Yang buka cuma restoran dan warung. Tatkala Paus masih sakit, kami sempat berpentas di Teatro Dalmazia. Kemudian ketika kami menyiapkan pementasan di Teramo dan Napoli, ternyata Wali Kota Roma senang atas rencana pementasan Kiai Kanjeng di Roma sehingga memberi izin. Maka kami kembali menyiapkan diri dan membangun empati. Kami menyusun sejumlah aransemen baru untuk obituari Paus; saya menulis puisi:

Poesia per un Grande

L’uomo buono non puo’ morire Perche’ la bonta’ e’ piu’ forte della morte L’ uomo dal cuore sublime E’ il sole che irradia la terra Se lui muore Il sole si sposta Dal cielo Nell’anima di ogni essere umano L’uomo dall’animo puro Deve essere pronto a perdere se stesso Perche’ ognuno sente il diritto di possederlo E perche’ per amare tutti gli uomini Dovrebbe vivere mille anni Se l’uomo dall’animo puro Fa il suo dovere Di lasciare la terra In realta’ la terra non lo vuole lasciar andar via Milioni di persone lo piangono Mare e monti desiderano andare con lui Anzi la vita vorrebe fermarsi Piuttosto che continuare il suo cammino Senza essere accompagnata dall’uomo dall’animo sublime

Roma,5 Aprile 2005.

TENTU saja jangan menyangka saya bisa berbahasa Italia, apalagi menulis puisi berbahasa Italia. Sedangkan menulis puisi bahasa Indonesia saja dibolak-balik tetap tak kan sampai pada tingkat kemampuan Sutardji Calzoum Bachri, penyair asal Riau yang lahir dari rahim ibunya bahasa Indonesia.

Untunglah kekurangan berbahasa bisa bermanfaat untuk memperdekat hubungan kemanusiaan. Pluralisme tidak hanya berbekal kemampuan. Ketidakmampuan pun menjadi bekal yang baik, asal digoreng dari ketulusan hati. Ketika saya keliling Filipina pada 1980 bersama teman Ambon yang bahasa Inggrisnya hanya dua biji – “Yes” dan “No” – saya kalah dari dia soal memperoleh banyaknya teman. Dengan menggunakan bahasa badan, sorot mata, ekspresi wajah, teman saya itu menerobos siapa saja dan akhirnya menjadi sahabatnya.

Sementara saya sibuk minder karena bahasa Inggris saya juga hanya unggul beberapa biji dibanding dia. Kalau di luar negeri di mana kita berkomunikasi dengan bahasa Inggris, saya selalu mengawali pidato saya dengan, “Memohon maaf atas kacaunya bahasa Inggris saya karena dulu studi saya lebih fokus ke bahasa Arab.” Sementara kalau ke negara-negara Timur Tengah tinggal saya balik: “….fokus studi saya pada bahasa Inggris.”

Hadirin selalu tertawa. Semakin saya berusaha memperbaiki bahasa saya sehingga semakin tampak begonya, mereka semakin sayang sama saya. Puisi untuk Paus itu bahasa Indonesianya dibaca oleh istri saya, bahasa Italianya dibaca oleh teman Italia, musiknya oleh KiaiKanjeng dibikin sangat ‘gerejawi’ (sesungguhnya tidak ada musik, nada, irama yang beragama apa pun…).

Ditambah beberapa nomor lain yang memang kami aransemen khusus untuk publik Italia – penonton Indonesia hanya 5 sampai 7 orang, yang duduk di depan hanya 1 orang: cukuplah untuk membuat banyak orang menangis. Mungkin dalam bayangan mereka orang Islam itu hobinya makan orang, menggoreng jari-jari, kuping, dan buah pelir. Mungkin mereka selama ini berpendapat bahwa bagi orang Islam semua penghuni dunia yang tidak beragama Islam wajib dibunuh, disembelih, ditembak atau dibom. Mungkin secara antropologis mereka punya hipotesis bahwa kaum Muslimin kayaknya bukan berasal dari homo erectus atau homo sapien, mungkin homo bombus….

Ternyata orang Islam kenal cinta juga. Seusai pentas, selalu, tiga kali standing ovation, soundman KiaiKanjeng dijunjung duduk di atas pundak soundman setempat yang semula cemberut melulu sebelum pementasan. Rizki KiaiKanjeng terbesar di muka bumi ini adalah selalu diremehkan ke manapun mereka pergi, kemudian disayang dengan kadar yang plus karena menyesal meremehkan sebelumnya. Kecuali di Indonesia: KiaiKanjeng tidak diremehkan, juga tidak dijunjung karena tidak ada.

Yang jelas, setelah pementasan di Vatikan itu, juga setelah sekian puluh kali di berbagai negara, Kiai Kanjeng pentas dengan audiens lintas agama atau lain agama sama sekali, tidak seorang pun dari anggota KiaiKanjeng yang berganti agama, malah semakin pintar menggali dan mengembangkan rasa syukur.

Kiai Kanjeng juga tidak pernah berpikir bahwa orang non-Islam akan menjadi Muslim sesudah nonton Kiai Kanjeng karena kata Allah, “Sesungguhnya engkau tak bisa memberi petunjuk kepada siapa pun saja yang kau cintai, melainkan Allah yang memberi petunjuk kepada siapa saja yang Ia maui.” Tahun 2008 Kiai Kanjeng diundang ke Belanda berdasarkan pertimbangan sesudah adanya kasus Theo van Gogh.

Barusan di sebuah kampung Katolik di Sleman Utara Yogyakarta KiaiKanjeng juga diminta kasih pengajian, padahal penduduk Islamnya hanya penghuni tiga rumah. Di Pasuruan, Pesantren Darut Taqwa yang punya Universitas Yudharta, baru saja minggu kemarin membuka panggung untuk Kiai Kanjeng memandu silaturahmi antara para pastor, kiai-kiai, tokoh-tokoh Budha dan Hindu, dengan audiens yang juga campuran. Acara-acara semacam itu bukan untuk mencampuradukkan antara agama Islam dengan agama lain.

Justru dipakai untuk menarik bersama garis-garis “offside”, “handsball”, “cornerball” dst. di antara koridor-koridor teologi yang tegas perbedaannya, namun membuka pintu-pintu butulan kultural, kerja sama ilmu, kongsi ekonomi, dan komitmen politik menjunjung keadilan plural. Saya pribadi melakukan kontrak seumur hidup dunia akhirat tidak akan memasukkan kata “permusuhan” di dalam harddisk kalbu saya. Kalau dimusuhi saya oke, bahkan berterima kasih, sebab itu menguji cinta saya dan menambah kualitas cinta saya jika mampu saya pertahankan di hadapan kebencian dan permusuhan orang lain kepada saya.

Bagi saya, permusuhan tidak ada hubungannya dengan kehidupan, permusuhan hanya punya jodoh kematian. Permusuhan tidak punya ekspresi apa pun kecuali membunuh atau memusnahkan. Tak ada permusuhan dengan perang kata, debat pendapat, persaingan dagang, atau politik. Semua yang ada dalam kehidupan adalah cinta. Jika dipaksa melakukan permusuhan, langkah cuma satu: mati.

Maka saya tak pernah tega melihat orang didorong ke kematian di luar kehendak Tuhan. Misalnya disakiti, dianiaya, ditindas. Seorang sopir ditendang petugas di Bandara Juanda dengan sangat kasar, saya langsung meloncat ke petugas itu, saya banting, saya kunci dan baru saya lepaskan sesudah dia minta maaf kepada orang yang ditendangnya. Sedangkan ayam punya harga diri, apalagi sopir.

Pendalaman ilmu dan nilai seperti ini bisa kita perluas sampai detail dan beribu-ribu halaman kita hasilkan. Substansi yang akan kita ambil adalah bahwa ayam adalah ayam: ia tidak bisa hanya disebut hewan. Si Abdul, Bambang, John, bukan “hanya” manusia: ia juga orang Arab, Jawa atau Amerika. Ia juga orang Islam, orang Kristen, atau atheis. Pada mereka juga terdapat berbagai dimensi identitas: etnik, agama, budaya, golongan, jenis, spesies, gen, kelompok, kata Alquran: syu’ub wa qabail. Itulah pluralisme.

Suatu siang saya tiba di Tinambung, 350 km Makassar ke utara, keributan terjadi. “Pasukan Mandar”, sekitar 200 orang rakyat, beramai-ramai membawa senjata tajam naik motor, truk, Kijang, dll., menuju Kota Majene. Mereka akan menyerbu kelompok masyarakat di sana yang katanya “menghina Balanipa”. Balanipa adalah Kerajaan Mandar, 7 di pantai 7 di pegunungan, pusatnya di Tinambung. Balanipa adalah kata yang padanya terletak kehormatan dan harga diri suku Mandar. Ada orang-orang di Pasar Majene bilang bahwa Balanipa sudah tinggal khayalan dan omong kosong.

Orang-orang Tinambung naik pitam, ramai-ramai menyerbu Majene. Saya ajak seseorang sekenanya naik motor, ngebut sengebut-ngebutnya, kami kejar mereka, kami balap, dan sekitar 200 meter di depan rombongan motor saya hentikan dan saya parkir melintang di tengah jalan. Saya turun dan mencegat menghentikan mereka. “Kembali semua! Saya tunggu di masjid Jami’ bersama Mara’dia!”.

Mara’dia adalah sebutan untuk Raja Mandar. Mereka berbalik arah, saya menguntit di belakang mereka. Memasuki Tinambung mereka ke masjid, saya ke rumah Mara’dia, lapor ini itu kemudian kami sama-sama ke Masjid”. Suasana sangat tegang, sunyi, namun semua menundukkan muka. Saya membaca Surah An-Nur ayat 35, surat cahaya. Saya katakan kepada mereka “….musuh kita bukan manusia.”

Musuh kita adalah sistem yang sedang dibangun oleh sebagian manusia yang akan menghancurkan manusia. Sebentar lagi Jembatan Sungai Mandar di utara itu akan dibangun, kelak truk-truk akan masuk dan keluar wilayah Anda. Pikirkan truk itu akan membawa rezeki bagi masyarakat Tinambung ataukah akan merampok kekayaan Anda. Kalau Anda mulai berpikir untuk menjawab itu, maka itulah harga diri Mandar yang kembali dibangkitkan…”(*)

Dijumput dari: http://muhammad-abid.blogspot.com/2008/07/harga-diri-ayam.html

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Ginandjar Wiludjeng A. Junianto A. Kurnia A. Qorib Hidayatullah A. Yusrianto Elga A.S Laksana A’yat Khalili Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Razak Abdul Rosyid Abdul Wahab Abdurrahman Wahid Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adam Chiefni Ade P. Nasution Adhitia Armitriant Adi Prasetyo Adrizas AF. Tuasikal Afriza Hanifa Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agnes Rita Sulistyawaty Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunyoto Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Baso Ahmad Faishal Ahmad Fatoni Ahmad Hasan MS Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Khotim Muzakka Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Naufel Ahmad Rofiq Ahmad S. Zahari Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Ainul Fiah Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Alex R. Nainggolan Alfian Dippahatang Ali Audah Ali Mahmudi CH Ali Rif’an Almania Rohmah Ami Herman Amien Wangsitalaja Aminah Aminullah HA.Noor Amir Sutaarga Anam Rahus Anata Siregar Andari Karina Anom Andina Dwifatma Andong Buku #3 Andre Mediansyah Andri Awan Anett Tapai Anggie Melianna Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Wahyudi Anwar Nuris Ardi Bramantyo Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arie Yani Arief Joko Wicaksono Arief Junianto Ariera Arif Bagus Prasetyo Aris Kurniawan Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asmaul Fauziyah Asti Musman Atafras Awalludin GD Mualif Ayu Wulan Sari Aziz Abdul Gofar Azizah Hefni Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Balok Sf Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Benny Arnas Benny Benke Beno Siang Pamungkas Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Bernando J Sujibto Berthold Damshauser BI Purwantari Binhad Nurrohmat Bobby Gunawan Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Burhanuddin Bella Camelia Mafaza Catatan Cerbung Cerpen Chairul Akhmad Chamim Kohari Chavchay Syaifullah Cover Buku Cucuk Espe D. Zaini Ahmad D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Dahta Gautama Daisuke Miyoshi Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Danusantoso Dareen Tatour Darju Prasetya David Kuncara Denny Mizhar Denza Perdana Desi Sommalia Gustina Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewi Indah Sari Dewi Susme Dian Sukarno Didik Harianto Didik Kusbiantoro Dina Jerphanion Dina Oktaviani Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur Dipo Handoko Diyah Errita Damayanti Djoko Pitono Djoko Saryono Doddy Wisnu Pribadi Dody Kristianto Dody Yan Masfa Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi SS MHum Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Wiyana Dyah Ratna Meta Novia Dyah Sulistyorini Ecep Heryadi Eddy Pranata PNP Edeng Syamsul Ma’arif Eep Saefulloh Fatah EH Kartanegara Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Hendrawan Sofyan Eko Hendri Saiful Eko Windarto Elnisya Mahendra Elva Lestary Emha Ainun Nadjib Emil WE Endah Sulwesi Endo Suanda Eppril Wulaningtyas R Esai Evan Ys F. Moses F. Rahardi Fadlillah Malin Sutan Fahmi Faqih Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Kurnianto Fanani Rahman Fanny Chotimah Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Febby Fortinella Rusmoyo Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Gabriel Garcia Marquez Galang Ari P. Galuh Tulus Utama Gampang Prawoto Gandra Gupta Ganug Nugroho Adi Gerson Poyk Ghassan Kanafani Gita Nuari Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunoto Saparie H.B. Jassin Habibullah Hadi Napster Hadriani Pudjiarti Halim HD Halimi Zuhdy Hamberan Syahbana Han Gagas Hanibal W. Y. Wijayanta Hardi Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Hartono Harimurti Hary B Kori’un Hasan Aspahani Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana HE. Benyamine Hendra Junaedi Hendra Makmur Heri CS Heri Latief Heri Listianto Herman RN Herry Lamongan Heru CN Heru Nugroho Hikmat Gumelar HL Renjis Magalah Hudan Nur Hujuala Rika Ayu Huminca Sinaga IBM. Dharma Palguna Ibnu Wahyudi Ida Farida Idris Pasaribu Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilham Khoiri Imam Cahyono Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indiar Manggara Indra Intisa Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ira Puspitaningsih Irfan Budiman Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Zulkarnain Ismail Marzuki Iva Titin Shovia Iwan Kurniawan Jabbar Abdullah Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D. Rahman Jamal T. Suryanata Javed Paul Syatha Jayaning S.A JILFest 2008 Jody Setiawan Johan Edy Raharjo Johannes Sugianto Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Juan Kromen Julika Hasanah Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN Juwairiyah Mawardy Ka’bati Karanggeneng Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Keith Foulcher Kemah Budaya Panturan (KBP) Khansa Arifah Adila Khoirul Inayah Khoirul Rosyadi Khudori Husnan Ki Ompong Sudarsono Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Sastra Ilalang Indonesia Korrie Layun Rampan Kostela Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie L.N. Idayanie Laili Rahmawati Lamongan Lan Fang Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lely Yuana Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Liestyo Ambarwati Khohar Lina Kelana Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lucia Idayanie Lukman A Sya Lutfiah Lynglieastrid Isabellita M Arman AZ M Ismail M Thobroni M. Afifuddin M. Arwan Hamidi M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Luthfi Aziz M. Nurdin M. Yoesoef M.D. Atmaja M.S. Nugroho Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Mahmud Syaltut Usfa Mahmudi Arif Dahlan Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Martin Aleida Maruli Tobing Mas Ruscita Mashuri Masuki M. Astro Matroni Matroni Muserang Media: Crayon on Paper Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Mia Arista Mia El Zahra Mikael Johani Misbahus Surur Misran Mohamad Ali Hisyam Mohammad Eri Irawan Much. Khoiri Muh. Muhlisin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun Muhammadun AS Muhidin M Dahlan Mujtahid Mujtahidin Billah Mukti Sutarman Espe Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Munawir Aziz Musfarayani Musfi Efrizal Nafisatul Husniah Nandang Darana Naskah Teater Nelson Alwi Ni Made Purnamasari Nikmatus Sholikhah Nina Herlina Lubis Nina Susilo Ning Elia Noor H. Dee Noval Jubbek Novel-novel berbahasa Jawa Novelet Nunuy Nurhayati Nur Azizah Nur Hamzah Nur Kholiq Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurul Aini Nurul Anam Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi SA Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Okty Budiati Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Otto Sukatno CR Oyos Saroso H.N. Pagan Press Pagelaran Musim Tandur Palupi Panca Astuti Parimono V / 40 Plandi Jombang Pawang Surya Kencana PDS H.B. Jassin Petrus Nandi Politik Politik Sastra Pradana Boy ZTF Pramoedya Ananta Toer Pramono Pringadi AS Prof Dr Fabiola D. Kurnia Prosa Puisi Puji Santosa Puji Tyasari Puput Amiranti N Purnawan Andra Purnawan Kristanto Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang Group PUstaka puJAngga Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Ng. Ronggowarsito Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Kemat Hidayatullah Rahmat Sularso Nh Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rasanrasan Boengaketji Raudal Tanjung Banua Redland Movie Reiny Dwinanda Resensi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Ririe Rengganis Risang Anom Pujayanto Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roso Titi Sarkoro Rozi Kembara Rukardi Rumah Budaya Pantura (RBP) Rusmanadi S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saiful Amin Ghofur Saiful Anam Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Salman S. Yoga Samsudin Adlawi Samsul Anam Sanggar Lukis Alam Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang KSII Santi Puji Rahayu Sapardi Djoko Damono Saroni Asikin Sartika Dian Nuraini Sastra dan Kuasa Simbolik Sastra Jawa Timur Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil SelaSastra Boenga Ketjil #33 Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sinopsis Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputra Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soegiharto Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Spectrum Center Press Sri Weni Sri Wintala Achmad Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudirman Sugi Lanus Sukron Ma’mun Sulaiman Djaya Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungging Raga Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Supriyadi Surya Lesmana Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyanto Syaf Anton Wr Syaifuddin Gani Syaiful Amin Syarif Wadja Bae Sylvianita Widyawati TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie (1961-2019) Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Presetyo Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Tia Setiadi Tirto Suwondo Tita Tjindarbumi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tosa Poetra Tri Nurdianingsih Triyanto Triwikromo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus S Ulul Azmiyati Umar Fauzi Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Utari Tri Prestianti Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W Haryanto W.S. Rendra Wahyu Prasetya Wan Anwar Wawan Eko Yulianto Wawancara Wina Bojonegoro Wita Lestari Wong Wing King Wowok Hesti Prabowo Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yanusa Nugroho Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yopi Setia Umbara Yudhi Herwibowo Yudi Latif Yusri Fajar Yusuf Ariel Hakim Yuval Noah Harari Zacky Khairul Uman Zainuddin Sugendal Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zed Abidien Zehan Zareez Zhaenal Fanani Zubaidi Khan Zuniest