Nurel Javissyarqi*
Saat bayu menggeraikan anak-anakan rambutmu,
awan-gemawan berarak menutupi kulit cakrawala (XII: I).
Sayap-sayapnya membentangi bukit tiada gemintang,
lantas terdengarlah gending-gending berasal lereng pedusunan,
tempat muasal persinggahannya langgam tiada berbilang (XII: II).
Pada lembah selatan, tetembangan kadang sayu pula memburu,
tertiup musim dari belakang, atas tempaan jaman silam-semilam (XII: III).
Hari-hari tercurah air turjun tiada penghalang,
bagai melupakan siang pada bongkahan batu (XII: IV).
Tidurlah lelap, malam mendatangimu yang tak enak beranjak,
begitu pulas dihibur sebatang nyala lilin (XII: V).
Tidakkah bepergian? Jikalau menanti belum terbentuk keinginan,
memandang petani di lukisan, amat konyol terkagum tak ke sana (XII: VI).
Di saat menjemukan, percayalah terbebas, nyala obor kemerdekaan
mengepulkan asap menjilat pedut, atas pembakaran kayu semalam (XII: VII).
Bukankah sambillalu terkuasai gerak-gerik dari kesemayaman lunglai,
pohon jati musim kemarau daunnya terpendam menemui segaran (XII: VIII).
Hawa panas merontokkan daun-daun dilepas reranting tidak tersisa,
tinggal batang kering seakan mati, musim hujan mengembalikan lebat sayapnya,
bagai tak pernah terjadi gersang meranggas berpeluk nasib kerontang (XII: IX).
Bau-bau jerami tersulut nyala api, dinyanyian anak-anak tanah bencah,
bayu bersiulan pada kembang turi, sedang tubuh bambu menjulang suling,
daunnya berdendang, menggeraikan kemurnian hati pendatang (XII: X).
Syair menggiliat dari pucuk pena di panggung kertas putih,
menyambut awal kekosongan, melagukan perjuangan (XII: XI).
Merdunya senyum langit merekah di perkampungan,
segenggam debu disebar mengisi ruang panjang (XII: XII).
Menkremasi keris dipercikkan air suci upacara kembang,
mantra seunting sajak kenangan, di wajah saling pandang (XII: XIII).
Tubuh meliar di kamar terbatas, sejengkal-jengkal kesebalan,
waktu mengunyah bunga diam, batu beruap terbakar geram (XII: XIV).
Menelusuri kesunyian pekat sejauh hujan lebat gentayangan,
lenyap di antara was-was kepada batas perburuan gerimis (XII: XV).
Tidak lebih gemuruh samudra dalam dada penat, daun terseret arus
ke dasar rahasia, melarut waktumu, hanyut ditelan abad dilahirkan jaman (XII: XVI).
Bebatuan berserak di rahim semesta, tunduk runtuhnya masa ke tahta hati,
laksana petir menampar pohon, lahar tumpah mengubur badan candi (XII: XVII).
Penggalian sabda pujangga, mengangkat prasasti ular naga (XII: XVIII).
Di dalam percampuran, getaran ruh memasuki gairah abadi,
nyala cahaya meninggi kepada tingkat penglihatan hakiki (XII: XIX).
Berselendang pelangi, menghamburkan cahaya ke ubun-ubun
laksana kunang-kunang terbang malam diharumkan ingatan (XII: XX).
Pekabutan menyelimuti gelap berpendar tiada terjamah datangnya,
ia bawakan sekuntum janji menyetiai waktu demi pepucuk daun (XII: XXI).
Percayalah hidupnya seteguk mengkembalikan kenangan,
seawan ditiup kerendahan langit ketinggian bumi lebih berarti (XII: XXII).
Takdir terlahir sebelum embun tercipta, penantian penuh rindu
tinta bergolak mendidih, menggelegak parfum kental masa meruang abadi (XII: XXIII).
Selembar-lembar kertas putih bersuara, jadikan gelak tawa duka tangis busa,
tubuh semakin hangat di pantai senja, itu dahaga kangen pelaut terobati (XII: XXIV).
Ini butiran jangung terlempar ke pulau biru bernafas daun hijau (XII: XXV).
Ilalang kering melantunkan sabda angin bertarian asap perapian semalam,
kidungan lama terngiang menghentak di jalanan kenangan,
kaki-kaki kuda mengusik batu-batu dan debu tanah merah (XII: XXVI).
Seketika banjir berluap nalar diculik perasaan dirampok, bertahun
kehilangan dirimu, kereta lampau harmoninya pada rel sejarah (XII: XXVII).
Pada cermin pesolek, kabut lekang naas di kedalaman sensual jurang,
tercurah kejujuran denyutan mimpi prosesi basah,
tiada melarut di beranda kecuali percikan ruh sedari bara asmara (XII: XXVIII).
Ke kota lama, akrab bulan putih di ladang wengi, pejalan kaki berdebu
mendung mengapung, keringat beradu lembab, tidurnya temukan pipi sebelah
setipis kulit anggur atau kurma (XII: XXIX).
Masa mengajarkan memilih, sekejap berubah di tiap serpihan berdetak,
nasib bersulaman kehendak dan ketetapan masih kepada yang gaib (XII: XXX).
Setidaknya berkekuatan menentukan perubahan lewat pandangan dalam,
ini pengisian menghirup nyawa, denyutan aksara dentuman cahaya (XII: XXXI).
Bola-bola matamu mengartikan bentuk-warna pahit-manis kembang gula,
ada pada lidah anggun mencecap rasa (XII: XXXII).
Kau dendangkan kisah, sampurmu mengembalikan segala,
siapakah yang tertawa selagi kitab kewanitaannya di ujung putus asa?
Meringiskah, manakala algojo membabat leher lembutnya? (XII: XXXIII).
Ambillah kalbu persembahan, milikmu anggur perasan kesadaran,
akan darah kesunyian, serupa burung meninggalkan bayangan (XII: XXXIV)
; kepakannya melupakan silam, kini juga mendatang
tersebab bathinnya kesemsem pelita kekekalan (XII: XXXV).
Tangis tinta hitam mengharumkan kamar khusyukmu, langit mendung
irama ombak ke pulau serengkuh, sedetak nadi samudra membiru (XII: XXXVI).
Tinta habis tergantikan, sengaja tidak kan bertandang, berbulan terguncang,
menenangkan perahu jaman, demi pentas mengembalikan keyakinan (XII: XXXVII).
Tumpangan penjelajah menjadi perlambang, usah berbenci begitu dalam, ia
mengutuki diri, sumpah serapa takkan nekat di halus perawakanmu (XII: XXXVIII).
Ia tahu kau sungguh marah diterima, andai muak membaca,
cobalah simpan terlebih dulu, bukalah di kala senggang sangat lapang,
nantinya bakal mendapatkan persoalan sewajar tatapan (XII: XXXIX).
Masih tampak getarmu dari jauh, bukankah ia tengah lakukan?
Jiwa-jiwa lembut pertemuan ganjil, melihat diri berpandangan (XII: XL)
; pertama mengajak mengikuti mimpi, lainnya menyulam benang,
sedangkan kasih dan sayangnya, di antara kebimbangan mutlak (XII: XLI).
Dapatkan kebaikan diam di sekuntum senyum percakapan memikat
seolah dirantai kesadaran lain, ia tiang-tiang penyangga layar kapal (XII: XLII).
Adalah harapan berkepanjang, menemukan harum kembang di pesisir,
hadirmu mereronceng kembang, tujuh hari kemungkinan berabadi (XII: XLIII).
Lunglai lamunan tiada sanggup menggapai tinggal kenangan (XII: XLIV)
; merambat jiwa-jiwa pendaki pada puncak padat awan bersimpan kidungan,
itu kumpulan semut terapung, bagaikan kapal di permukaan air tenang (XII: XLV).
Sayap kaku bersalju, merunduk kerendahan awan seputih dingin memar,
serupa pesujud di kaki-kaki langit mengucurkan tangisan (XII: XLVI).
Terusik perapian berpijak, kabut melenturkan jemari daun
dan embun merawat denyutan sungai tiada terhingga (XII: XLVII).
Di mana tempat tidak memindahkan samudra,
walau pantai-pantainya tidaklah sama (XII: XLVIII).
Ruh setia takkan sontak, pelayaran mendarat pada ujung telatah,
memasuki hakekat, terdesak memberi atau dipaksa kondisi (XII: XLIX).
Pegunungan mendengkur dan beranjak siang kabut menjulang
mengharumkan kembang di lembah atas aliran sungai abadi (XII: L).
Butiran-butiran pasir dihempas ke pesisir,
suara-suara riuh terekam jaman kepada pantai dunia mendatang (XII: LI).
Fajar pun senja dedaunan kelapa, menyanyikan gubahan gemawan,
ketika kabut ketinggian purna, mengusap punggung kembara (XII: LII).
Sekali hentakan badai kepadamu, tapak kuda mengukir jalannya,
jauh jarak batin tertempuh, dayadinaya rindu menggerakkan kesadaran
menyusuri ladang ilalang terkira sebelum perjamuan (XII: LIII).
Bersua kepulan debu asap dupa,
burung-burung terbang menyisir kulit cakrawala (XII: LIV).
Siapa menarik-narik grafitasi sedari muka langit,
jiwanya kapas ditiup menurunkan benang (XII: LV).
Sesuci ladang retak tumbuh bersemi,
pandanganmu segera tahu keindahan (XII: LVI).
Oh gemawan laksana kuda terbang, dari pucuk-pucuk hijau,
kemungkinan daun-daun memahami datangnya matahari (XII: LVII).
Jika redup tertutup mendung, ayunan hari-hari di sepasang mata elang
serupa petikan anggur di kebun paling teduh, akrab bayu ribuan masa silammu
yang merindu kabar berita kekekalan (XII: LVIII).
Memetik renungan embun, cahaya mematangkan goyangan bimbang,
semua pun gugur, sedang mereka tak tahu, kita telah mencapainya (XII: LIX).
Tarian janur ditarik kebajikan, kau terima hembusan bayu jendela,
membuka langkah sepatu kalender panjang dunia penciptaan (XII: LX).
Marilah pulang kekasih,
sebelum senja di belakang, sedurung gelap di luar kemari (XII: LXI).
Hidangkan secangkir kehormatan, secawan roti di meja tua,
ajakan keikhlasan, harum diteguk penuh kesungguhan (XII: LXII).
Tiada tumpah habis tandas lupa pertemuan (XII: LXIII).
Sakit lupa berkesembuhan dengan menghafalkan tetembangan,
terngiang memahami diri, telah sampai laksana uap usah ditangkap,
rasakan terkumpulnya bulir-bulir embun di bajumu (XII: LXIV).
Atau resapi datangnya jiwa terbalut kulit daging hatimu,
kemarilah wajah lugu nan ayu, kepada musim bunga taman langit (XII: LXV).
Mengantarkan bau keagungan seribu kecupan, pada kelopakan merekah
atas lidah mentari menjilat tetangkai melengkung memahat jiwa (XII: LXVI).
Kalian penuh tanya dijawabnya berkecupan mesra
dengan kedipan mata kekupu baru bersinggah (XII: LXVII).
Di sebrang angan senyummu mengembang di pelataran, halus
ditumbui rerumputan di antara bebatuan setapak taman (XII: LXVIII)
; hisaplah nafas sesegar canda pemuda-pemudi menyirami jiwa
bunga bagimu untuk mereka sebagai kekisah istimewa (XII: LXIX).
Hatimu menggerayangi, kau menerima getar jiwa ruh cinta,
ikuti tarian sukma di panggung alunan nasib digubah (XII: LXX).
Ketika jauh teringat pituduh masa sebelum bersinggah,
tulisan inilah diterangi cahaya menangkap isinya (XII: LXXI).
Berkelana menuturkan tembang belum terdengar
atas kelahiran pinutur menggurat mega di angkasa senja,
bukankah lembar kalbu bertirai-tirai rasa malu? (XII: LXXII).
Kejujuran mengantarkan kejadian kata sebenarnya (XII: LXXIII).
Yang bebas bertemu di meja renungan terikat sebuku,
masa-masa mengikuti alur cerita bakal berangkat dari nafasmu (XII: LXXIV).
Senja semakin tenggelam dalam kebisuan malam,
adakah kau di belakang, berlalu kabut menutup pepintu rumah? (XII: LXXV).
Tangan-tangan keresahan di dada pemuda mencari pagi,
ingin kau kembali memetik sekuntum kembang mayang di hati (XII: LXXVI).
Merekah kecup sedalam nafas akhirmu
hingga seluruh tubuh mati rasa (XII: LXXVII).
Memasuki ruh jaman dirimu tersentak, mimpi terlempar ke jurang,
itu bayangmu melukis kelelawar digerakkan gelap malam (XII: LXXVIII).
Segelas kehormatan kau suguhkan di kota penuh warna,
cahaya lampu membenamkan rindu fajar terbit (XII: LXXIX).
Detak hati menyusuri sungai ke dataran panggung,
memiliki lekuk gelombang kesadaran hukum (XII: LXXX);
itu rintihan rantai kaki oleh senyummu
sanggup bertahan sampai kini (XII: LXXXI).
Penantian itu menebalkan lembar-lembar rindu, membebaskan penari
menghanyutkan jiwa-tubuh, mabuk meneguk menuang hasrat (XII: LXXXII).
Dada-dada penyaksi berdegup di setiap anak pantai menatap harap,
sukma mengeja terkubur padangan di perburuan mentari (XII: LXXXIII).
Ialah meresapi nafas-nafas letih yang tertanam di dasar bumi
dan ribuan pegunungan mengantarkan mata air hayati (XII: LXXXIV).
Semua mengangkasa bersama angin pegunungan menuruni lembah,
kala petir menampar burung menelusuri di rerimbun pohon (XII: LXXXV).
Jeritan dahan terlempar, namun para petani tetap membajak
bencah sawah dirinya, hujan tanam di musim bahagia (XII: LXXXVI).
Gerimis membangunkan wajah tersentak disiram muka siang, ia beranjak
sambil memunguti puntung, kala imaji habis ditelan kebisingan (XII: LXXXVII).
Di luar nalar-kalbu, mondar-mandir mencari jarum penentu, menyapu
ruang mengamati debu batas waktu, serupa penggali kubur (XII: LXXXVIII).
Beban lapar meringankan malam, gelombang dikejar bala tentara
berjubah fajar, hadir terik mentari berpendar di lautan (XII: LXXXIX).
Pantai kenangan merekam bayangan kaki-kaki bertelanjang
menyusuri pesisir ribuan mil dalam keyakinan menempa mencari (XII: XC)
; menelan masa tiada sadar merogok kantong bajunya yang sobek,
berjatuhan biji-biji jagung terlahir pada pedalaman penyadaran (XII: XCI).
Seteguk air tak hirau sakit menyerang-bersarang mendaki pebukitan,
khotbah laksana tetumbuhan mendukung jagad kelestarian alam (XII: XCII).
Datang bersuara serak setebal pintu tertampar,
menggedor dinding pertama, senyumnya seharum kembang padma (XII: XCIII).
Warna langit berubah tapi langkah kembara senantiasa terbimbing, apa
ini keheningan? Ia meninggalkan tempat, lenyap dari hadapan (XII: XCIV).
Menarik ujung pena, menari-nari merangkum rindu dari kumpulan
mata takdir bertemu, serupa cerutu tersulut hisapan menyandu (XII: XCV).
Ini gubahan tembang kenangan, daun-daun berdentang,
darah pemuda mengalirkan bara asmara di busur panah (XII: XCVI).
Yang melempengkan perut dekat tulang, nafasnya senyawa hilang
tarikan nasibnya menimba ilham kasih sayang setenang perawan (XII: XCVII).
Adalah menggantungkan hasrat pada lehermu paling jenjang,
seutas temali melingkar berharap lengan gelayutan mesra (XII: XCVIII).
Masih kau petik dawai jiwa mengeja pendakian tebing kalbumu, inilah
jurang terjal mempersilahkan batuan jatuh rompal ke dasar karang (XII: XCIX).
Ia masih berharap kau bersayap gemawan
melewati lembah menyeret suka duka (XII: C)
; awal gemetaran digoyang kesungguhan
adalah di hadapanmu kesaksian mereka (XII: CI).
Kesegaran hilir membawa ikan bermain deras di arus sungai batuan
cadas, lepaskan pengajaran menyisir rambut dikibas bayu pelepah (XII: CII).
Kau menjelma kabut menyelimuti malam-malam
kali mengikuti hawa sedap bersayap temaram (XII: CIII).
Yang santun melembutkan jiwamu menghadirkan dirinya,
menemukan tak terdengar ke dalam selubung kelembutan (XII: CIV)
; memperbesar buaian kandungan semesta dikerami bebijian hikmah,
kau meninggikan menembusi lipatan maya di dalam perut ibunda (XII: CV).
Kau tinggal mengikuti alur, naskah langit telah dipaparkan
serupa jejaring laba-laba ditarik memutari ketentuan (XII: CVI).
Manusia berjalan sederu debu hayat pengertian, atau inikah
nyala pada remang bimbang keteguhan, hadir demi akhir (XII: CVII).
Mereka menemukan rupa tidak menentu, relief tertimbun lumut waktu
dan terus setelah medapati kedalaman, memiliki lebih dari yang disandang,
seumpama kulit getah, pohon sanggup tegak bertahan olehnya (XII: CVIII).
Ia tak banyak bicara, yakin gerak tercepat senyummu di tempuh,
jalan bersambung-sinambung melompati daya reinkarnasi (XII: CIX).
Mengabaikan kesenangan demi ada meruh di dalam dadamu
berbenam rindu langit menebarkan awan di kota kaweruh (XII: CX)
; anak jaman gelisah, mendung berarak siang mengintai malam (XII: CXI).
Jemari tangan kaku, bendera diguyur kabut perasaan, anak negeri muntah
harta pencurian, dan kau hampir sejajar laut, sayang bertenggelaman (XII: CXII).
Menggedor debu tinggalkan tapak bayang penghabisan, rimbunan daun
menidurkan anak-anak berpeluk angin dedahan menerobos reranting pohonan,
warna-warna kalbumu atas pencarian sungguh mempesonakan (XII: CXIII).
Duduklah, ia kan mengisahkan yang kau alami nanti,
makhluk merayap pembawa kendali fikiran, dan kuda pacuan disebut nurani,
simaklah lapar-dahaga, agar merasa tiada keanehan serupa (XII: CXIV).
Keletihanmu sebelum ganjil mengkuasai diri, kau tahu
kesadaran sakit menuju puncak kerahasiaan sembuh (XII: CXV).
Datang mewabah perasaan berdebar,
duduklah dengan lemah-lembut, agar tutur katamu tidak blingsatan (XII: CXVI).
Tidakkah rantai pengikat tangan terputus dengan sekecup renungan?
Ini kemauannya, biar kau tahu pelajaran (XII: CXVII)
; hidup melempar pijar sinarmu sejauh getar gelisah
sebagai penyempurna pusaran nilai-nilai utama (XII: CXVIII).
----
*) Pengelana dari Lamongan, JaTim, yang menyukai dunia sastra.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Ginandjar Wiludjeng
A. Junianto
A. Kurnia
A. Qorib Hidayatullah
A. Yusrianto Elga
A.S Laksana
A’yat Khalili
Aang Fatihul Islam
Abdul Azis Sukarno
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi WM
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Malik
Abdul Razak
Abdul Rosyid
Abdul Wahab
Abdurrahman Wahid
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adam Chiefni
Ade P. Nasution
Adhitia Armitriant
Adi Prasetyo
Adrizas
AF. Tuasikal
Afriza Hanifa
Afrizal Malna
Agama Para Bajingan
Agnes Rita Sulistyawaty
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Buchori
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahmad Baso
Ahmad Faishal
Ahmad Fatoni
Ahmad Hasan MS
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Khotim Muzakka
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Naufel
Ahmad Rofiq
Ahmad S. Zahari
Ahmad Syauqi Sumbawi
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ahsanu Nadia
Aini Aviena Violeta
Ainul Fiah
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sekhu
Akhmad Sofyan Hadi
Akhmad Taufiq
Akhudiat
Akmal Nasery Basral
Alam Terkembang
Alang Khoiruddin
Alex R. Nainggolan
Alfian Dippahatang
Ali Audah
Ali Mahmudi CH
Ali Rif’an
Almania Rohmah
Ami Herman
Amien Wangsitalaja
Aminah
Aminullah HA.Noor
Amir Sutaarga
Anam Rahus
Anata Siregar
Andari Karina Anom
Andina Dwifatma
Andong Buku #3
Andre Mediansyah
Andri Awan
Anett Tapai
Anggie Melianna
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anjrah Lelono Broto
Anton Bae
Anton Kurnia
Anton Wahyudi
Anwar Nuris
Ardi Bramantyo
Ardus M Sawega
Arie MP Tamba
Arie Yani
Arief Joko Wicaksono
Arief Junianto
Ariera
Arif Bagus Prasetyo
Aris Kurniawan
Arman A.Z.
Arswendo Atmowiloto
Arti Bumi Intaran
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Asmaul Fauziyah
Asti Musman
Atafras
Awalludin GD Mualif
Ayu Wulan Sari
Aziz Abdul Gofar
Azizah Hefni
Bagus Takwin
Bahrul Ulum A. Malik
Balada
Bale Aksara
Balok Sf
Bambang Kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Beni Setia
Benny Arnas
Benny Benke
Beno Siang Pamungkas
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita
Berita Duka
Berita Koran
Bernando J Sujibto
Berthold Damshauser
BI Purwantari
Binhad Nurrohmat
Bobby Gunawan
Bonari Nabonenar
Brunel University London
Budaya
Budi Darma
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Burhanuddin Bella
Camelia Mafaza
Catatan
Cerbung
Cerpen
Chairul Akhmad
Chamim Kohari
Chavchay Syaifullah
Cover Buku
Cucuk Espe
D. Zaini Ahmad
D. Zawawi Imron
Dadang Ari Murtono
Dahta Gautama
Daisuke Miyoshi
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Danusantoso
Dareen Tatour
Darju Prasetya
David Kuncara
Denny Mizhar
Denza Perdana
Desi Sommalia Gustina
Desiana Medya A.L
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dewi Indah Sari
Dewi Susme
Dian Sukarno
Didik Harianto
Didik Kusbiantoro
Dina Jerphanion
Dina Oktaviani
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur
Dipo Handoko
Diyah Errita Damayanti
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Doddy Wisnu Pribadi
Dody Kristianto
Dody Yan Masfa
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dorothea Rosa Herliany
Dr Junaidi SS MHum
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi Wiyana
Dyah Ratna Meta Novia
Dyah Sulistyorini
Ecep Heryadi
Eddy Pranata PNP
Edeng Syamsul Ma’arif
Eep Saefulloh Fatah
EH Kartanegara
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Hendrawan Sofyan
Eko Hendri Saiful
Eko Windarto
Elnisya Mahendra
Elva Lestary
Emha Ainun Nadjib
Emil WE
Endah Sulwesi
Endo Suanda
Eppril Wulaningtyas R
Esai
Evan Ys
F. Moses
F. Rahardi
Fadlillah Malin Sutan
Fahmi Faqih
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Kurnianto
Fanani Rahman
Fanny Chotimah
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Febby Fortinella Rusmoyo
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Gabriel Garcia Marquez
Galang Ari P.
Galuh Tulus Utama
Gampang Prawoto
Gandra Gupta
Ganug Nugroho Adi
Gerson Poyk
Ghassan Kanafani
Gita Nuari
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gunoto Saparie
H.B. Jassin
Habibullah
Hadi Napster
Hadriani Pudjiarti
Halim HD
Halimi Zuhdy
Hamberan Syahbana
Han Gagas
Hanibal W. Y. Wijayanta
Hardi
Haris del Hakim
Haris Saputra
Harri Ash Shiddiqie
Hartono Harimurti
Hary B Kori’un
Hasan Aspahani
Hasan Junus
Hasif Amini
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
HE. Benyamine
Hendra Junaedi
Hendra Makmur
Heri CS
Heri Latief
Heri Listianto
Herman RN
Herry Lamongan
Heru CN
Heru Nugroho
Hikmat Gumelar
HL Renjis Magalah
Hudan Nur
Hujuala Rika Ayu
Huminca Sinaga
IBM. Dharma Palguna
Ibnu Wahyudi
Ida Farida
Idris Pasaribu
Ignas Kleden
Ignatius Haryanto
Iksan Basoeky
Ilham Khoiri
Imam Cahyono
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indiar Manggara
Indra Intisa
Indra Tjahyadi
Indra Tranggono
Indrian Koto
Ira Puspitaningsih
Irfan Budiman
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Iskandar Zulkarnain
Ismail Marzuki
Iva Titin Shovia
Iwan Kurniawan
Jabbar Abdullah
Jafar Fakhrurozi
Jalan Raya Simo Sungelebak
Jamal D. Rahman
Jamal T. Suryanata
Javed Paul Syatha
Jayaning S.A
JILFest 2008
Jody Setiawan
Johan Edy Raharjo
Johannes Sugianto
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Jual Buku
Jual Buku Paket Hemat
Juan Kromen
Julika Hasanah
Jurnalisme Sastrawi
Jusuf AN
Juwairiyah Mawardy
Ka’bati
Karanggeneng
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Keith Foulcher
Kemah Budaya Panturan (KBP)
Khansa Arifah Adila
Khoirul Inayah
Khoirul Rosyadi
Khudori Husnan
Ki Ompong Sudarsono
Kirana Kejora
Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Sastra Ilalang Indonesia
Korrie Layun Rampan
Kostela
Kritik Sastra
Kukuh S Wibowo
Kurnia Effendi
Kurniawan
Kuswaidi Syafi'ie
L.N. Idayanie
Laili Rahmawati
Lamongan
Lan Fang
Langgeng Widodo
Lathifa Akmaliyah
Leila S. Chudori
Lely Yuana
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Liestyo Ambarwati Khohar
Lina Kelana
Linda Sarmili
Liza Wahyuninto
Lucia Idayanie
Lukman A Sya
Lutfiah
Lynglieastrid Isabellita
M Arman AZ
M Ismail
M Thobroni
M. Afifuddin
M. Arwan Hamidi
M. Lukluk Atsmara Anjaina
M. Lutfi
M. Luthfi Aziz
M. Nurdin
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.S. Nugroho
Mahendra Cipta
Mahmud Jauhari Ali
Mahmud Syaltut Usfa
Mahmudi Arif Dahlan
Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Martin Aleida
Maruli Tobing
Mas Ruscita
Mashuri
Masuki M. Astro
Matroni
Matroni Muserang
Media: Crayon on Paper
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
MG. Sungatno
Mh Zaelani Tammaka
Mia Arista
Mia El Zahra
Mikael Johani
Misbahus Surur
Misran
Mohamad Ali Hisyam
Mohammad Eri Irawan
Much. Khoiri
Muh. Muhlisin
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Aris
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Rain
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun
Muhammadun AS
Muhidin M Dahlan
Mujtahid
Mujtahidin Billah
Mukti Sutarman Espe
Mulyadi SA
Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik
Munawir Aziz
Musfarayani
Musfi Efrizal
Nafisatul Husniah
Nandang Darana
Naskah Teater
Nelson Alwi
Ni Made Purnamasari
Nikmatus Sholikhah
Nina Herlina Lubis
Nina Susilo
Ning Elia
Noor H. Dee
Noval Jubbek
Novel-novel berbahasa Jawa
Novelet
Nunuy Nurhayati
Nur Azizah
Nur Hamzah
Nur Kholiq
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nurul Aini
Nurul Anam
Nurul Komariyah
Nuryana Asmaudi SA
Nyoman Tusthi Eddy
Obrolan
Okty Budiati
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Otto Sukatno CR
Oyos Saroso H.N.
Pagan Press
Pagelaran Musim Tandur
Palupi Panca Astuti
Parimono V / 40 Plandi Jombang
Pawang Surya Kencana
PDS H.B. Jassin
Petrus Nandi
Politik
Politik Sastra
Pradana Boy ZTF
Pramoedya Ananta Toer
Pramono
Pringadi AS
Prof Dr Fabiola D. Kurnia
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Puji Tyasari
Puput Amiranti N
Purnawan Andra
Purnawan Kristanto
Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin
Pustaka Ilalang Group
PUstaka puJAngga
Putu Wijaya
Qaris Tajudin
R. Ng. Ronggowarsito
Rachmad Djoko Pradopo
Radhar Panca Dahana
Rahmat Kemat Hidayatullah
Rahmat Sularso Nh
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rasanrasan Boengaketji
Raudal Tanjung Banua
Redland Movie
Reiny Dwinanda
Resensi
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Riki Dhamparan Putra
Riki Utomi
Ririe Rengganis
Risang Anom Pujayanto
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Roso Titi Sarkoro
Rozi Kembara
Rukardi
Rumah Budaya Pantura (RBP)
Rusmanadi
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Saiful Amin Ghofur
Saiful Anam
Sainul Hermawan
Sajak
Salamet Wahedi
Salman S. Yoga
Samsudin Adlawi
Samsul Anam
Sanggar Lukis Alam
Sanggar Pasir
Sanggar Rumah Ilalang KSII
Santi Puji Rahayu
Sapardi Djoko Damono
Saroni Asikin
Sartika Dian Nuraini
Sastra dan Kuasa Simbolik
Sastra Jawa Timur
Satmoko Budi Santoso
Saut Situmorang
Sayyid Fahmi Alathas
SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang
SelaSastra Boenga Ketjil
SelaSastra Boenga Ketjil #33
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Setia Naka Andrian
Shiny.ane el’poesya
Sholihul Huda
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sinopsis
Siti Khoeriyah
Siti Muyassarotul Hafidzoh
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputra
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Soegiharto
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sosiawan Leak
Spectrum Center Press
Sri Weni
Sri Wintala Achmad
Suci Ayu Latifah
Sucipto Hadi Purnomo
Sudirman
Sugi Lanus
Sukron Ma’mun
Sulaiman Djaya
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sungging Raga
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Supriyadi
Surya Lesmana
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Suyanto
Syaf Anton Wr
Syaifuddin Gani
Syaiful Amin
Syarif Wadja Bae
Sylvianita Widyawati
TanahmeraH ArtSpace
Tarmuzie (1961-2019)
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Presetyo
Teguh Setiawan
Teguh Winarsho AS
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Tia Setiadi
Tirto Suwondo
Tita Tjindarbumi
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan
Tosa Poetra
Tri Nurdianingsih
Triyanto Triwikromo
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Tulus S
Ulul Azmiyati
Umar Fauzi
Umar Fauzi Ballah
Umar Kayam
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Universitas Jember
Usman Arrumy
Utari Tri Prestianti
Viddy AD Daery
Virdika Rizky Utama
W Haryanto
W.S. Rendra
Wahyu Prasetya
Wan Anwar
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wina Bojonegoro
Wita Lestari
Wong Wing King
Wowok Hesti Prabowo
Xu Xi (Sussy Komala)
Y. Thendra BP
Y. Wibowo
Yanusa Nugroho
Yasraf Amir Piliang
Yayat R. Cipasang
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yopi Setia Umbara
Yudhi Herwibowo
Yudi Latif
Yusri Fajar
Yusuf Ariel Hakim
Yuval Noah Harari
Zacky Khairul Uman
Zainuddin Sugendal
Zamakhsyari Abrar
Zawawi Se
Zed Abidien
Zehan Zareez
Zhaenal Fanani
Zubaidi Khan
Zuniest
Tidak ada komentar:
Posting Komentar