Selasa, 07 Oktober 2008

DUKA TANGIS BUSA, XII: I - CXVIII

Nurel Javissyarqi*

Saat bayu menggeraikan anak-anakan rambutmu,
awan-gemawan berarak menutupi kulit cakrawala (XII: I).

Sayap-sayapnya membentangi bukit tiada gemintang,
lantas terdengarlah gending-gending berasal lereng pedusunan,
tempat muasal persinggahannya langgam tiada berbilang (XII: II).

Pada lembah selatan, tetembangan kadang sayu pula memburu,
tertiup musim dari belakang, atas tempaan jaman silam-semilam (XII: III).

Hari-hari tercurah air turjun tiada penghalang,
bagai melupakan siang pada bongkahan batu (XII: IV).

Tidurlah lelap, malam mendatangimu yang tak enak beranjak,
begitu pulas dihibur sebatang nyala lilin (XII: V).

Tidakkah bepergian? Jikalau menanti belum terbentuk keinginan,
memandang petani di lukisan, amat konyol terkagum tak ke sana (XII: VI).

Di saat menjemukan, percayalah terbebas, nyala obor kemerdekaan
mengepulkan asap menjilat pedut, atas pembakaran kayu semalam (XII: VII).

Bukankah sambillalu terkuasai gerak-gerik dari kesemayaman lunglai,
pohon jati musim kemarau daunnya terpendam menemui segaran (XII: VIII).

Hawa panas merontokkan daun-daun dilepas reranting tidak tersisa,
tinggal batang kering seakan mati, musim hujan mengembalikan lebat sayapnya,
bagai tak pernah terjadi gersang meranggas berpeluk nasib kerontang (XII: IX).

Bau-bau jerami tersulut nyala api, dinyanyian anak-anak tanah bencah,
bayu bersiulan pada kembang turi, sedang tubuh bambu menjulang suling,
daunnya berdendang, menggeraikan kemurnian hati pendatang (XII: X).

Syair menggiliat dari pucuk pena di panggung kertas putih,
menyambut awal kekosongan, melagukan perjuangan (XII: XI).

Merdunya senyum langit merekah di perkampungan,
segenggam debu disebar mengisi ruang panjang (XII: XII).

Menkremasi keris dipercikkan air suci upacara kembang,
mantra seunting sajak kenangan, di wajah saling pandang (XII: XIII).

Tubuh meliar di kamar terbatas, sejengkal-jengkal kesebalan,
waktu mengunyah bunga diam, batu beruap terbakar geram (XII: XIV).

Menelusuri kesunyian pekat sejauh hujan lebat gentayangan,
lenyap di antara was-was kepada batas perburuan gerimis (XII: XV).

Tidak lebih gemuruh samudra dalam dada penat, daun terseret arus
ke dasar rahasia, melarut waktumu, hanyut ditelan abad dilahirkan jaman (XII: XVI).

Bebatuan berserak di rahim semesta, tunduk runtuhnya masa ke tahta hati,
laksana petir menampar pohon, lahar tumpah mengubur badan candi (XII: XVII).

Penggalian sabda pujangga, mengangkat prasasti ular naga (XII: XVIII).

Di dalam percampuran, getaran ruh memasuki gairah abadi,
nyala cahaya meninggi kepada tingkat penglihatan hakiki (XII: XIX).

Berselendang pelangi, menghamburkan cahaya ke ubun-ubun
laksana kunang-kunang terbang malam diharumkan ingatan (XII: XX).

Pekabutan menyelimuti gelap berpendar tiada terjamah datangnya,
ia bawakan sekuntum janji menyetiai waktu demi pepucuk daun (XII: XXI).

Percayalah hidupnya seteguk mengkembalikan kenangan,
seawan ditiup kerendahan langit ketinggian bumi lebih berarti (XII: XXII).

Takdir terlahir sebelum embun tercipta, penantian penuh rindu
tinta bergolak mendidih, menggelegak parfum kental masa meruang abadi (XII: XXIII).

Selembar-lembar kertas putih bersuara, jadikan gelak tawa duka tangis busa,
tubuh semakin hangat di pantai senja, itu dahaga kangen pelaut terobati (XII: XXIV).

Ini butiran jangung terlempar ke pulau biru bernafas daun hijau (XII: XXV).

Ilalang kering melantunkan sabda angin bertarian asap perapian semalam,
kidungan lama terngiang menghentak di jalanan kenangan,
kaki-kaki kuda mengusik batu-batu dan debu tanah merah (XII: XXVI).

Seketika banjir berluap nalar diculik perasaan dirampok, bertahun
kehilangan dirimu, kereta lampau harmoninya pada rel sejarah (XII: XXVII).

Pada cermin pesolek, kabut lekang naas di kedalaman sensual jurang,
tercurah kejujuran denyutan mimpi prosesi basah,
tiada melarut di beranda kecuali percikan ruh sedari bara asmara (XII: XXVIII).

Ke kota lama, akrab bulan putih di ladang wengi, pejalan kaki berdebu
mendung mengapung, keringat beradu lembab, tidurnya temukan pipi sebelah
setipis kulit anggur atau kurma (XII: XXIX).

Masa mengajarkan memilih, sekejap berubah di tiap serpihan berdetak,
nasib bersulaman kehendak dan ketetapan masih kepada yang gaib (XII: XXX).

Setidaknya berkekuatan menentukan perubahan lewat pandangan dalam,
ini pengisian menghirup nyawa, denyutan aksara dentuman cahaya (XII: XXXI).

Bola-bola matamu mengartikan bentuk-warna pahit-manis kembang gula,
ada pada lidah anggun mencecap rasa (XII: XXXII).

Kau dendangkan kisah, sampurmu mengembalikan segala,
siapakah yang tertawa selagi kitab kewanitaannya di ujung putus asa?
Meringiskah, manakala algojo membabat leher lembutnya? (XII: XXXIII).

Ambillah kalbu persembahan, milikmu anggur perasan kesadaran,
akan darah kesunyian, serupa burung meninggalkan bayangan (XII: XXXIV)

; kepakannya melupakan silam, kini juga mendatang
tersebab bathinnya kesemsem pelita kekekalan (XII: XXXV).

Tangis tinta hitam mengharumkan kamar khusyukmu, langit mendung
irama ombak ke pulau serengkuh, sedetak nadi samudra membiru (XII: XXXVI).

Tinta habis tergantikan, sengaja tidak kan bertandang, berbulan terguncang,
menenangkan perahu jaman, demi pentas mengembalikan keyakinan (XII: XXXVII).

Tumpangan penjelajah menjadi perlambang, usah berbenci begitu dalam, ia
mengutuki diri, sumpah serapa takkan nekat di halus perawakanmu (XII: XXXVIII).

Ia tahu kau sungguh marah diterima, andai muak membaca,
cobalah simpan terlebih dulu, bukalah di kala senggang sangat lapang,
nantinya bakal mendapatkan persoalan sewajar tatapan (XII: XXXIX).

Masih tampak getarmu dari jauh, bukankah ia tengah lakukan?
Jiwa-jiwa lembut pertemuan ganjil, melihat diri berpandangan (XII: XL)

; pertama mengajak mengikuti mimpi, lainnya menyulam benang,
sedangkan kasih dan sayangnya, di antara kebimbangan mutlak (XII: XLI).

Dapatkan kebaikan diam di sekuntum senyum percakapan memikat
seolah dirantai kesadaran lain, ia tiang-tiang penyangga layar kapal (XII: XLII).

Adalah harapan berkepanjang, menemukan harum kembang di pesisir,
hadirmu mereronceng kembang, tujuh hari kemungkinan berabadi (XII: XLIII).

Lunglai lamunan tiada sanggup menggapai tinggal kenangan (XII: XLIV)

; merambat jiwa-jiwa pendaki pada puncak padat awan bersimpan kidungan,
itu kumpulan semut terapung, bagaikan kapal di permukaan air tenang (XII: XLV).

Sayap kaku bersalju, merunduk kerendahan awan seputih dingin memar,
serupa pesujud di kaki-kaki langit mengucurkan tangisan (XII: XLVI).

Terusik perapian berpijak, kabut melenturkan jemari daun
dan embun merawat denyutan sungai tiada terhingga (XII: XLVII).

Di mana tempat tidak memindahkan samudra,
walau pantai-pantainya tidaklah sama (XII: XLVIII).

Ruh setia takkan sontak, pelayaran mendarat pada ujung telatah,
memasuki hakekat, terdesak memberi atau dipaksa kondisi (XII: XLIX).

Pegunungan mendengkur dan beranjak siang kabut menjulang
mengharumkan kembang di lembah atas aliran sungai abadi (XII: L).

Butiran-butiran pasir dihempas ke pesisir,
suara-suara riuh terekam jaman kepada pantai dunia mendatang (XII: LI).

Fajar pun senja dedaunan kelapa, menyanyikan gubahan gemawan,
ketika kabut ketinggian purna, mengusap punggung kembara (XII: LII).

Sekali hentakan badai kepadamu, tapak kuda mengukir jalannya,
jauh jarak batin tertempuh, dayadinaya rindu menggerakkan kesadaran
menyusuri ladang ilalang terkira sebelum perjamuan (XII: LIII).

Bersua kepulan debu asap dupa,
burung-burung terbang menyisir kulit cakrawala (XII: LIV).

Siapa menarik-narik grafitasi sedari muka langit,
jiwanya kapas ditiup menurunkan benang (XII: LV).

Sesuci ladang retak tumbuh bersemi,
pandanganmu segera tahu keindahan (XII: LVI).

Oh gemawan laksana kuda terbang, dari pucuk-pucuk hijau,
kemungkinan daun-daun memahami datangnya matahari (XII: LVII).

Jika redup tertutup mendung, ayunan hari-hari di sepasang mata elang
serupa petikan anggur di kebun paling teduh, akrab bayu ribuan masa silammu
yang merindu kabar berita kekekalan (XII: LVIII).

Memetik renungan embun, cahaya mematangkan goyangan bimbang,
semua pun gugur, sedang mereka tak tahu, kita telah mencapainya (XII: LIX).

Tarian janur ditarik kebajikan, kau terima hembusan bayu jendela,
membuka langkah sepatu kalender panjang dunia penciptaan (XII: LX).

Marilah pulang kekasih,
sebelum senja di belakang, sedurung gelap di luar kemari (XII: LXI).

Hidangkan secangkir kehormatan, secawan roti di meja tua,
ajakan keikhlasan, harum diteguk penuh kesungguhan (XII: LXII).

Tiada tumpah habis tandas lupa pertemuan (XII: LXIII).

Sakit lupa berkesembuhan dengan menghafalkan tetembangan,
terngiang memahami diri, telah sampai laksana uap usah ditangkap,
rasakan terkumpulnya bulir-bulir embun di bajumu (XII: LXIV).

Atau resapi datangnya jiwa terbalut kulit daging hatimu,
kemarilah wajah lugu nan ayu, kepada musim bunga taman langit (XII: LXV).

Mengantarkan bau keagungan seribu kecupan, pada kelopakan merekah
atas lidah mentari menjilat tetangkai melengkung memahat jiwa (XII: LXVI).

Kalian penuh tanya dijawabnya berkecupan mesra
dengan kedipan mata kekupu baru bersinggah (XII: LXVII).

Di sebrang angan senyummu mengembang di pelataran, halus
ditumbui rerumputan di antara bebatuan setapak taman (XII: LXVIII)

; hisaplah nafas sesegar canda pemuda-pemudi menyirami jiwa
bunga bagimu untuk mereka sebagai kekisah istimewa (XII: LXIX).

Hatimu menggerayangi, kau menerima getar jiwa ruh cinta,
ikuti tarian sukma di panggung alunan nasib digubah (XII: LXX).

Ketika jauh teringat pituduh masa sebelum bersinggah,
tulisan inilah diterangi cahaya menangkap isinya (XII: LXXI).

Berkelana menuturkan tembang belum terdengar
atas kelahiran pinutur menggurat mega di angkasa senja,
bukankah lembar kalbu bertirai-tirai rasa malu? (XII: LXXII).

Kejujuran mengantarkan kejadian kata sebenarnya (XII: LXXIII).

Yang bebas bertemu di meja renungan terikat sebuku,
masa-masa mengikuti alur cerita bakal berangkat dari nafasmu (XII: LXXIV).

Senja semakin tenggelam dalam kebisuan malam,
adakah kau di belakang, berlalu kabut menutup pepintu rumah? (XII: LXXV).

Tangan-tangan keresahan di dada pemuda mencari pagi,
ingin kau kembali memetik sekuntum kembang mayang di hati (XII: LXXVI).

Merekah kecup sedalam nafas akhirmu
hingga seluruh tubuh mati rasa (XII: LXXVII).

Memasuki ruh jaman dirimu tersentak, mimpi terlempar ke jurang,
itu bayangmu melukis kelelawar digerakkan gelap malam (XII: LXXVIII).

Segelas kehormatan kau suguhkan di kota penuh warna,
cahaya lampu membenamkan rindu fajar terbit (XII: LXXIX).

Detak hati menyusuri sungai ke dataran panggung,
memiliki lekuk gelombang kesadaran hukum (XII: LXXX);

itu rintihan rantai kaki oleh senyummu
sanggup bertahan sampai kini (XII: LXXXI).

Penantian itu menebalkan lembar-lembar rindu, membebaskan penari
menghanyutkan jiwa-tubuh, mabuk meneguk menuang hasrat (XII: LXXXII).

Dada-dada penyaksi berdegup di setiap anak pantai menatap harap,
sukma mengeja terkubur padangan di perburuan mentari (XII: LXXXIII).

Ialah meresapi nafas-nafas letih yang tertanam di dasar bumi
dan ribuan pegunungan mengantarkan mata air hayati (XII: LXXXIV).

Semua mengangkasa bersama angin pegunungan menuruni lembah,
kala petir menampar burung menelusuri di rerimbun pohon (XII: LXXXV).

Jeritan dahan terlempar, namun para petani tetap membajak
bencah sawah dirinya, hujan tanam di musim bahagia (XII: LXXXVI).

Gerimis membangunkan wajah tersentak disiram muka siang, ia beranjak
sambil memunguti puntung, kala imaji habis ditelan kebisingan (XII: LXXXVII).

Di luar nalar-kalbu, mondar-mandir mencari jarum penentu, menyapu
ruang mengamati debu batas waktu, serupa penggali kubur (XII: LXXXVIII).

Beban lapar meringankan malam, gelombang dikejar bala tentara
berjubah fajar, hadir terik mentari berpendar di lautan (XII: LXXXIX).

Pantai kenangan merekam bayangan kaki-kaki bertelanjang
menyusuri pesisir ribuan mil dalam keyakinan menempa mencari (XII: XC)

; menelan masa tiada sadar merogok kantong bajunya yang sobek,
berjatuhan biji-biji jagung terlahir pada pedalaman penyadaran (XII: XCI).

Seteguk air tak hirau sakit menyerang-bersarang mendaki pebukitan,
khotbah laksana tetumbuhan mendukung jagad kelestarian alam (XII: XCII).

Datang bersuara serak setebal pintu tertampar,
menggedor dinding pertama, senyumnya seharum kembang padma (XII: XCIII).

Warna langit berubah tapi langkah kembara senantiasa terbimbing, apa
ini keheningan? Ia meninggalkan tempat, lenyap dari hadapan (XII: XCIV).

Menarik ujung pena, menari-nari merangkum rindu dari kumpulan
mata takdir bertemu, serupa cerutu tersulut hisapan menyandu (XII: XCV).

Ini gubahan tembang kenangan, daun-daun berdentang,
darah pemuda mengalirkan bara asmara di busur panah (XII: XCVI).

Yang melempengkan perut dekat tulang, nafasnya senyawa hilang
tarikan nasibnya menimba ilham kasih sayang setenang perawan (XII: XCVII).

Adalah menggantungkan hasrat pada lehermu paling jenjang,
seutas temali melingkar berharap lengan gelayutan mesra (XII: XCVIII).

Masih kau petik dawai jiwa mengeja pendakian tebing kalbumu, inilah
jurang terjal mempersilahkan batuan jatuh rompal ke dasar karang (XII: XCIX).

Ia masih berharap kau bersayap gemawan
melewati lembah menyeret suka duka (XII: C)

; awal gemetaran digoyang kesungguhan
adalah di hadapanmu kesaksian mereka (XII: CI).

Kesegaran hilir membawa ikan bermain deras di arus sungai batuan
cadas, lepaskan pengajaran menyisir rambut dikibas bayu pelepah (XII: CII).

Kau menjelma kabut menyelimuti malam-malam
kali mengikuti hawa sedap bersayap temaram (XII: CIII).

Yang santun melembutkan jiwamu menghadirkan dirinya,
menemukan tak terdengar ke dalam selubung kelembutan (XII: CIV)

; memperbesar buaian kandungan semesta dikerami bebijian hikmah,
kau meninggikan menembusi lipatan maya di dalam perut ibunda (XII: CV).

Kau tinggal mengikuti alur, naskah langit telah dipaparkan
serupa jejaring laba-laba ditarik memutari ketentuan (XII: CVI).

Manusia berjalan sederu debu hayat pengertian, atau inikah
nyala pada remang bimbang keteguhan, hadir demi akhir (XII: CVII).

Mereka menemukan rupa tidak menentu, relief tertimbun lumut waktu
dan terus setelah medapati kedalaman, memiliki lebih dari yang disandang,
seumpama kulit getah, pohon sanggup tegak bertahan olehnya (XII: CVIII).

Ia tak banyak bicara, yakin gerak tercepat senyummu di tempuh,
jalan bersambung-sinambung melompati daya reinkarnasi (XII: CIX).

Mengabaikan kesenangan demi ada meruh di dalam dadamu
berbenam rindu langit menebarkan awan di kota kaweruh (XII: CX)

; anak jaman gelisah, mendung berarak siang mengintai malam (XII: CXI).

Jemari tangan kaku, bendera diguyur kabut perasaan, anak negeri muntah
harta pencurian, dan kau hampir sejajar laut, sayang bertenggelaman (XII: CXII).

Menggedor debu tinggalkan tapak bayang penghabisan, rimbunan daun
menidurkan anak-anak berpeluk angin dedahan menerobos reranting pohonan,
warna-warna kalbumu atas pencarian sungguh mempesonakan (XII: CXIII).

Duduklah, ia kan mengisahkan yang kau alami nanti,
makhluk merayap pembawa kendali fikiran, dan kuda pacuan disebut nurani,
simaklah lapar-dahaga, agar merasa tiada keanehan serupa (XII: CXIV).

Keletihanmu sebelum ganjil mengkuasai diri, kau tahu
kesadaran sakit menuju puncak kerahasiaan sembuh (XII: CXV).

Datang mewabah perasaan berdebar,
duduklah dengan lemah-lembut, agar tutur katamu tidak blingsatan (XII: CXVI).

Tidakkah rantai pengikat tangan terputus dengan sekecup renungan?
Ini kemauannya, biar kau tahu pelajaran (XII: CXVII)

; hidup melempar pijar sinarmu sejauh getar gelisah
sebagai penyempurna pusaran nilai-nilai utama (XII: CXVIII).
----

*) Pengelana dari Lamongan, JaTim, yang menyukai dunia sastra.

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Ginandjar Wiludjeng A. Junianto A. Kurnia A. Qorib Hidayatullah A. Yusrianto Elga A.S Laksana A’yat Khalili Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Razak Abdul Rosyid Abdul Wahab Abdurrahman Wahid Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adam Chiefni Ade P. Nasution Adhitia Armitriant Adi Prasetyo Adrizas AF. Tuasikal Afriza Hanifa Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agnes Rita Sulistyawaty Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunyoto Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Baso Ahmad Faishal Ahmad Fatoni Ahmad Hasan MS Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Khotim Muzakka Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Naufel Ahmad Rofiq Ahmad S. Zahari Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Ainul Fiah Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Alex R. Nainggolan Alfian Dippahatang Ali Audah Ali Mahmudi CH Ali Rif’an Almania Rohmah Ami Herman Amien Wangsitalaja Aminah Aminullah HA.Noor Amir Sutaarga Anam Rahus Anata Siregar Andari Karina Anom Andina Dwifatma Andong Buku #3 Andre Mediansyah Andri Awan Anett Tapai Anggie Melianna Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Wahyudi Anwar Nuris Ardi Bramantyo Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arie Yani Arief Joko Wicaksono Arief Junianto Ariera Arif Bagus Prasetyo Aris Kurniawan Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asmaul Fauziyah Asti Musman Atafras Awalludin GD Mualif Ayu Wulan Sari Aziz Abdul Gofar Azizah Hefni Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Balok Sf Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Benny Arnas Benny Benke Beno Siang Pamungkas Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Bernando J Sujibto Berthold Damshauser BI Purwantari Binhad Nurrohmat Bobby Gunawan Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Burhanuddin Bella Camelia Mafaza Catatan Cerbung Cerpen Chairul Akhmad Chamim Kohari Chavchay Syaifullah Cover Buku Cucuk Espe D. Zaini Ahmad D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Dahta Gautama Daisuke Miyoshi Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Danusantoso Dareen Tatour Darju Prasetya David Kuncara Denny Mizhar Denza Perdana Desi Sommalia Gustina Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewi Indah Sari Dewi Susme Dian Sukarno Didik Harianto Didik Kusbiantoro Dina Jerphanion Dina Oktaviani Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur Dipo Handoko Diyah Errita Damayanti Djoko Pitono Djoko Saryono Doddy Wisnu Pribadi Dody Kristianto Dody Yan Masfa Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi SS MHum Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Wiyana Dyah Ratna Meta Novia Dyah Sulistyorini Ecep Heryadi Eddy Pranata PNP Edeng Syamsul Ma’arif Eep Saefulloh Fatah EH Kartanegara Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Hendrawan Sofyan Eko Hendri Saiful Eko Windarto Elnisya Mahendra Elva Lestary Emha Ainun Nadjib Emil WE Endah Sulwesi Endo Suanda Eppril Wulaningtyas R Esai Evan Ys F. Moses F. Rahardi Fadlillah Malin Sutan Fahmi Faqih Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Kurnianto Fanani Rahman Fanny Chotimah Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Febby Fortinella Rusmoyo Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Gabriel Garcia Marquez Galang Ari P. Galuh Tulus Utama Gampang Prawoto Gandra Gupta Ganug Nugroho Adi Gerson Poyk Ghassan Kanafani Gita Nuari Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunoto Saparie H.B. Jassin Habibullah Hadi Napster Hadriani Pudjiarti Halim HD Halimi Zuhdy Hamberan Syahbana Han Gagas Hanibal W. Y. Wijayanta Hardi Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Hartono Harimurti Hary B Kori’un Hasan Aspahani Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana HE. Benyamine Hendra Junaedi Hendra Makmur Heri CS Heri Latief Heri Listianto Herman RN Herry Lamongan Heru CN Heru Nugroho Hikmat Gumelar HL Renjis Magalah Hudan Nur Hujuala Rika Ayu Huminca Sinaga IBM. Dharma Palguna Ibnu Wahyudi Ida Farida Idris Pasaribu Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilham Khoiri Imam Cahyono Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indiar Manggara Indra Intisa Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ira Puspitaningsih Irfan Budiman Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Zulkarnain Ismail Marzuki Iva Titin Shovia Iwan Kurniawan Jabbar Abdullah Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D. Rahman Jamal T. Suryanata Javed Paul Syatha Jayaning S.A JILFest 2008 Jody Setiawan Johan Edy Raharjo Johannes Sugianto Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Juan Kromen Julika Hasanah Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN Juwairiyah Mawardy Ka’bati Karanggeneng Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Keith Foulcher Kemah Budaya Panturan (KBP) Khansa Arifah Adila Khoirul Inayah Khoirul Rosyadi Khudori Husnan Ki Ompong Sudarsono Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Sastra Ilalang Indonesia Korrie Layun Rampan Kostela Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie L.N. Idayanie Laili Rahmawati Lamongan Lan Fang Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lely Yuana Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Liestyo Ambarwati Khohar Lina Kelana Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lucia Idayanie Lukman A Sya Lutfiah Lynglieastrid Isabellita M Arman AZ M Ismail M Thobroni M. Afifuddin M. Arwan Hamidi M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Luthfi Aziz M. Nurdin M. Yoesoef M.D. Atmaja M.S. Nugroho Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Mahmud Syaltut Usfa Mahmudi Arif Dahlan Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Martin Aleida Maruli Tobing Mas Ruscita Mashuri Masuki M. Astro Matroni Matroni Muserang Media: Crayon on Paper Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Mia Arista Mia El Zahra Mikael Johani Misbahus Surur Misran Mohamad Ali Hisyam Mohammad Eri Irawan Much. Khoiri Muh. Muhlisin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun Muhammadun AS Muhidin M Dahlan Mujtahid Mujtahidin Billah Mukti Sutarman Espe Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Munawir Aziz Musfarayani Musfi Efrizal Nafisatul Husniah Nandang Darana Naskah Teater Nelson Alwi Ni Made Purnamasari Nikmatus Sholikhah Nina Herlina Lubis Nina Susilo Ning Elia Noor H. Dee Noval Jubbek Novel-novel berbahasa Jawa Novelet Nunuy Nurhayati Nur Azizah Nur Hamzah Nur Kholiq Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurul Aini Nurul Anam Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi SA Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Okty Budiati Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Otto Sukatno CR Oyos Saroso H.N. Pagan Press Pagelaran Musim Tandur Palupi Panca Astuti Parimono V / 40 Plandi Jombang Pawang Surya Kencana PDS H.B. Jassin Petrus Nandi Politik Politik Sastra Pradana Boy ZTF Pramoedya Ananta Toer Pramono Pringadi AS Prof Dr Fabiola D. Kurnia Prosa Puisi Puji Santosa Puji Tyasari Puput Amiranti N Purnawan Andra Purnawan Kristanto Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang Group PUstaka puJAngga Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Ng. Ronggowarsito Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Kemat Hidayatullah Rahmat Sularso Nh Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rasanrasan Boengaketji Raudal Tanjung Banua Redland Movie Reiny Dwinanda Resensi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Ririe Rengganis Risang Anom Pujayanto Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roso Titi Sarkoro Rozi Kembara Rukardi Rumah Budaya Pantura (RBP) Rusmanadi S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saiful Amin Ghofur Saiful Anam Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Salman S. Yoga Samsudin Adlawi Samsul Anam Sanggar Lukis Alam Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang KSII Santi Puji Rahayu Sapardi Djoko Damono Saroni Asikin Sartika Dian Nuraini Sastra dan Kuasa Simbolik Sastra Jawa Timur Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil SelaSastra Boenga Ketjil #33 Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sinopsis Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputra Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soegiharto Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Spectrum Center Press Sri Weni Sri Wintala Achmad Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudirman Sugi Lanus Sukron Ma’mun Sulaiman Djaya Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungging Raga Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Supriyadi Surya Lesmana Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyanto Syaf Anton Wr Syaifuddin Gani Syaiful Amin Syarif Wadja Bae Sylvianita Widyawati TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie (1961-2019) Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Presetyo Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Tia Setiadi Tirto Suwondo Tita Tjindarbumi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tosa Poetra Tri Nurdianingsih Triyanto Triwikromo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus S Ulul Azmiyati Umar Fauzi Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Utari Tri Prestianti Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W Haryanto W.S. Rendra Wahyu Prasetya Wan Anwar Wawan Eko Yulianto Wawancara Wina Bojonegoro Wita Lestari Wong Wing King Wowok Hesti Prabowo Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yanusa Nugroho Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yopi Setia Umbara Yudhi Herwibowo Yudi Latif Yusri Fajar Yusuf Ariel Hakim Yuval Noah Harari Zacky Khairul Uman Zainuddin Sugendal Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zed Abidien Zehan Zareez Zhaenal Fanani Zubaidi Khan Zuniest