Selasa, 15 Juni 2021

Catatan Perjalanan untuk Menepis Kesia-siaan (I)


Muhammad Yasir
 
Lamongan menjadi kota pertama yang kudatangi setelah petualangan keluarga kecilku yang kesekian. Tidak ada yang menarik hatiku sekali pun aku telah melewati sebuah gapura dengan nama Lamongan terpampang lebih tinggi dari badan seorang buruh remaja yang baru saja keluar dari pintu gerbang pabrik menjelang dunia benar-benar gelap. Wajahnya murung dan khawatir seakan-akan semangat hidupnya luntur, perlahan dan pasti. Buruh remaja itu melangkah dan sesekali mendongak ke langit; harap-harap warna oranye menyelimuti langit gugur menjadi emas. Aku bertanya-tanya, di sinikah orang-orang hidup dengan luka di sekujur tubuhnya kemudian datang semacam bayangan terkutuk untuk memerah mereka hingga kering kerontang lalu melempar mereka ke tambak garam? Atau dengan terpaksa mereka memasukan diri mereka sendiri ke dalam pipa berkilo meter untuk selamat dari kehidupan adalah kutukan? Pertanyaan-pertanyaan ini justru menggiring kuda besiku ke warung kecil yang hidup segan mati-tak-mau yang dijaga seorang anak lelaki menyedihkan, sepertiku. Karena sama-sama menyedihkan, tangan kiriku memeriksa isi saku celana dan aku menemukan uang lima ribu rupiah, kemudian segera kugumpal. Perasaan malu muncul. Bagaimana pun, aku telah menghina si anak lelaki, sekali pun aku sebenarnya ingin membeli rokok ketengan. Diriku yang lain merasa iba kepada si anak lelaki. Dalam hukum akal sehat, hal demikian tidak lantas memerdekakan diri sendiri dan juga orang lain.
 
Sebelumnya, aku telah membuat kesepakatan dengan seorang Penyair Penyendiri yang berhasil keluar dari parabel estetika yang diciptakan serampangan oleh kaum Penyair “Iklan Kecap” yang bercokol di renda-renda batu kapur kekuasaan atau di jendela kaca gedung dewan kesenian; harap-harap mendapat proyek Antologi Puisi Jawa Timur Satu Miliyar Rupiah. Ini adalah pertemuan pertama kami, jadi sudah semestinya aku harus menyiapkan tata bahasa, mimik, dan gerak tubuh agar mampu menepis kesia-siaan yang mulai tumbuh dalam perjalanan hidupku dan serentetan pertemuan dengan Pejalan Pedang dalam dunia Sastra Indonesia. Tidak lama setelah matahari tenggelam di balik atap Universitas Islam Darul ‘Ulum, seorang lelaki jangkung berbaju merah menyebrangi rel kereta api dan melangkah pasti ke arahku. Benar, bahwa dialah Penyair Penyendiri itu. Kemudian kami saling menyapa, diam-diam menyembunyikan masalah masing-masing. Setelah itu, kami melaju menuju sebuah toko buku kecil di tepi jalan miliknya. Kami sempat berbincang - tentu saja catatan ini bukan tentang apa yang kami perbincangan - dan sesekali tertawa terbahak-bahak ketika di ujung perbincangan nama Sutardji Calzoum Bachri yang konon Presiden Penyair itu muncul dari balik aspal dan kemudian dilindas truk fuso. Sebagai pemanasan, kami bersepakat bahwa atmosfir Sastra Indonesia di Jawa bagian Timur ini seperti roti bakar yang dipotong-potong kemudian disiram anggur.
 
Bagaimana Sastra Indonesia di Jawa bagian Timur ini menjadi seperti roti yang dipotong-potong kemudian disiram anggur? Penyair Penyendiri ini menjawab bahwa dirinya telah melakukan pembacaan, penghayatan, pemetaan, dan kritik-otokritik terhadap gelagat para medioker Sastra Indonesia yang tidak benar-benar mencintai Sastra Indonesia atau memanfaatkan dunia Sastra Indonesia sebagai tempat pelampiasan syndrom-narsistik mereka belaka sejak abad 20 hingga abad 21 ini. Dan, tentu saja, sebagai seorang yang bermoril, Penyair Penyendiri ini menerbitkan beberapa buku dan jurnal kritik sastra - yang terbaru “Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia”. Identifikasi yang matang terhadap syndrom-narsistik semacam di Jawa bagian Timur ini, baginya telah melahirkan mitos atau kebohongan besar dalam peradaban Sastra Indonesia. Pada akhir jawaban, dengan nada lirih dan sarat ironi, Penyair Penyendiri ini menganggap bahwa Sastra Indonesia di Jawa bagian Timur akan hancur oleh kekuasaan, apabila syndrom-narsistik yang diderita kebanyakan Sastrawan (banyak, tidak semua) tidak segera dibakar. Dalam fase mendengarkan ini, aku jadi teringat cerita pendek yang ditulis Leo Tolstoy dengan sangat epik yang bertajuk “Gandum Sebesar Telur” pada abad 19, 1886. Dalam cerita pendek itu, Tolstoy menggambarkan bahwa peradaban manusia sejatinya hanyalah persoalan ketundukan dan kepatuhan serta kemunduran yang mengerikan. Jika kita sama-sama mengingat cerita pendek itu, jelas di sana bahwasanya kritik Tolstoy terhadap semangat zaman kemunduran kehidupan manusia begitu menohok.
 
Setidaknya, ada tiga pola kemunduran yang menjadi pusat kritik Tolstoy. Pertama, ketika seorang lelaki - yang merupakan cucu dari tokoh pertama - yang berjalan dengan dua tongkat itu dipanggil menghadap Tsar untuk menjelaskan sebutir gandum yang diambilnya di tangan beberapa orang anak. Di sini, tampak bahwa peradaban baru manusia membuat banyak manusia itu sendiri mengalami ketidaktahuan sejarah. Kedua, ketika Tsar menyuruh pelayannya memanggil ayah lelaki itu. Rupanya, sama seperti anaknya, ayah lelaki itu berjalan dengan satu tongkat dan sama-sama mengalami ketidaktahuan sejarah mereka. Ketiga, Tsar yang teramat penasaran kembali menyuruh pelayannya untuk memanggil kakek lelaki itu. Kemudian datanglah seorang lelaki tua yang berjalan dengan gagah tanpa menggunakan tongkat seperti cucu dan anaknya sebelumnya. Kepada Tsar, dia berkata, “Hal ini bisa terjadi karena orang-orang sudah berhenti untuk hidup dari keringatnya sendiri, dan bergantung pada kerja keras sesama mereka. Di masa kami dulu, manusia hidup menurut Firman Tuhan. Kami berdiri di atas kaki kami sendiri dan tidak berhasrat merampas apa yang bukan menjadi hak kami.” Sampai di sini dapat disimpulkan bahwa Gandum Sebesar Telur ini sebagai Sastra Indonesia dan si lelaki, ayahnya, dan kakeknya ini sebagai semangat zaman kemunduran kehidupan manusia di dalam Sastra Indonesia.
 
Selain Tolstoy, tentu kita sama-sama ingat kritik menohok yang ditulis Kuntowijoyo dalam novelnya yang bertajuk “Pasar”. Bahwa tidak ada kedamaian dalam kehidupan manusia - Sastra Indonesia - dewasa ini. Orang-orang senantiasa bertikai menyoal perut. Pagi bicara perut. Siang bicara perut. Sore bicara perut. Malam bicara perut. Seakan-akan, kehidupan hanya tentang perut. Mereka lupa bahwa ada yang menyebabkan kelaparan. Bagiku, begitu juga dengan Sastra Indonesia sekarang ini. Kenaifan mereka terhadap rezim dan realitas yang disebabkannya dan ketakutan mereka terhadap kelaparan telah membuat mereka karib dengan pelacuran dan tindakan hina lainnya. Tanpa sekali pun, atau barangkali sudah hilang, komitmen keberanian dalam diri mereka untuk keluar dari watak patronistik dan kapitalisasi teks. Kehidupan mereka seakan mengikuti konstruksi laku konsumtif yang apabila tidak melacurkan diri, mereka akan ditolak para tetangga atau mati kelaparan sebelum menjadi selebritis koran dan pasar, tentunya. Demikianlah, seiring gelisah menggumpal di dada masing-masing, Lamongan tetaplah tenggelam dalam aroma busuk limbah B3.

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Ginandjar Wiludjeng A. Junianto A. Kurnia A. Qorib Hidayatullah A. Yusrianto Elga A.S Laksana A’yat Khalili Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Razak Abdul Rosyid Abdul Wahab Abdurrahman Wahid Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adam Chiefni Ade P. Nasution Adhitia Armitriant Adi Prasetyo Adrizas AF. Tuasikal Afriza Hanifa Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agnes Rita Sulistyawaty Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunyoto Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Baso Ahmad Faishal Ahmad Fatoni Ahmad Hasan MS Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Khotim Muzakka Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Naufel Ahmad Rofiq Ahmad S. Zahari Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Ainul Fiah Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Alex R. Nainggolan Alfian Dippahatang Ali Audah Ali Mahmudi CH Ali Rif’an Almania Rohmah Ami Herman Amien Wangsitalaja Aminah Aminullah HA.Noor Amir Sutaarga Anam Rahus Anata Siregar Andari Karina Anom Andina Dwifatma Andong Buku #3 Andre Mediansyah Andri Awan Anett Tapai Anggie Melianna Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Wahyudi Anwar Nuris Ardi Bramantyo Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arie Yani Arief Joko Wicaksono Arief Junianto Ariera Arif Bagus Prasetyo Aris Kurniawan Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asmaul Fauziyah Asti Musman Atafras Awalludin GD Mualif Ayu Wulan Sari Aziz Abdul Gofar Azizah Hefni Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Balok Sf Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Benny Arnas Benny Benke Beno Siang Pamungkas Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Bernando J Sujibto Berthold Damshauser BI Purwantari Binhad Nurrohmat Bobby Gunawan Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Burhanuddin Bella Camelia Mafaza Catatan Cerbung Cerpen Chairul Akhmad Chamim Kohari Chavchay Syaifullah Cover Buku Cucuk Espe D. Zaini Ahmad D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Dahta Gautama Daisuke Miyoshi Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Danusantoso Dareen Tatour Darju Prasetya David Kuncara Denny Mizhar Denza Perdana Desi Sommalia Gustina Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewi Indah Sari Dewi Susme Dian Sukarno Didik Harianto Didik Kusbiantoro Dina Jerphanion Dina Oktaviani Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur Dipo Handoko Diyah Errita Damayanti Djoko Pitono Djoko Saryono Doddy Wisnu Pribadi Dody Kristianto Dody Yan Masfa Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi SS MHum Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Wiyana Dyah Ratna Meta Novia Dyah Sulistyorini Ecep Heryadi Eddy Pranata PNP Edeng Syamsul Ma’arif Eep Saefulloh Fatah EH Kartanegara Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Hendrawan Sofyan Eko Hendri Saiful Eko Windarto Elnisya Mahendra Elva Lestary Emha Ainun Nadjib Emil WE Endah Sulwesi Endo Suanda Eppril Wulaningtyas R Esai Evan Ys F. Moses F. Rahardi Fadlillah Malin Sutan Fahmi Faqih Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Kurnianto Fanani Rahman Fanny Chotimah Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Febby Fortinella Rusmoyo Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Gabriel Garcia Marquez Galang Ari P. Galuh Tulus Utama Gampang Prawoto Gandra Gupta Ganug Nugroho Adi Gerson Poyk Ghassan Kanafani Gita Nuari Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunoto Saparie H.B. Jassin Habibullah Hadi Napster Hadriani Pudjiarti Halim HD Halimi Zuhdy Hamberan Syahbana Han Gagas Hanibal W. Y. Wijayanta Hardi Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Hartono Harimurti Hary B Kori’un Hasan Aspahani Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana HE. Benyamine Hendra Junaedi Hendra Makmur Heri CS Heri Latief Heri Listianto Herman RN Herry Lamongan Heru CN Heru Nugroho Hikmat Gumelar HL Renjis Magalah Hudan Nur Hujuala Rika Ayu Huminca Sinaga IBM. Dharma Palguna Ibnu Wahyudi Ida Farida Idris Pasaribu Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilham Khoiri Imam Cahyono Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indiar Manggara Indra Intisa Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ira Puspitaningsih Irfan Budiman Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Zulkarnain Ismail Marzuki Iva Titin Shovia Iwan Kurniawan Jabbar Abdullah Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D. Rahman Jamal T. Suryanata Javed Paul Syatha Jayaning S.A JILFest 2008 Jody Setiawan Johan Edy Raharjo Johannes Sugianto Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Juan Kromen Julika Hasanah Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN Juwairiyah Mawardy Ka’bati Karanggeneng Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Keith Foulcher Kemah Budaya Panturan (KBP) Khansa Arifah Adila Khoirul Inayah Khoirul Rosyadi Khudori Husnan Ki Ompong Sudarsono Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Sastra Ilalang Indonesia Korrie Layun Rampan Kostela Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie L.N. Idayanie Laili Rahmawati Lamongan Lan Fang Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lely Yuana Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Liestyo Ambarwati Khohar Lina Kelana Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lucia Idayanie Lukman A Sya Lutfiah Lynglieastrid Isabellita M Arman AZ M Ismail M Thobroni M. Afifuddin M. Arwan Hamidi M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Luthfi Aziz M. Nurdin M. Yoesoef M.D. Atmaja M.S. Nugroho Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Mahmud Syaltut Usfa Mahmudi Arif Dahlan Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Martin Aleida Maruli Tobing Mas Ruscita Mashuri Masuki M. Astro Matroni Matroni Muserang Media: Crayon on Paper Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Mia Arista Mia El Zahra Mikael Johani Misbahus Surur Misran Mohamad Ali Hisyam Mohammad Eri Irawan Much. Khoiri Muh. Muhlisin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun Muhammadun AS Muhidin M Dahlan Mujtahid Mujtahidin Billah Mukti Sutarman Espe Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Munawir Aziz Musfarayani Musfi Efrizal Nafisatul Husniah Nandang Darana Naskah Teater Nelson Alwi Ni Made Purnamasari Nikmatus Sholikhah Nina Herlina Lubis Nina Susilo Ning Elia Noor H. Dee Noval Jubbek Novel-novel berbahasa Jawa Novelet Nunuy Nurhayati Nur Azizah Nur Hamzah Nur Kholiq Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurul Aini Nurul Anam Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi SA Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Okty Budiati Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Otto Sukatno CR Oyos Saroso H.N. Pagan Press Pagelaran Musim Tandur Palupi Panca Astuti Parimono V / 40 Plandi Jombang Pawang Surya Kencana PDS H.B. Jassin Petrus Nandi Politik Politik Sastra Pradana Boy ZTF Pramoedya Ananta Toer Pramono Pringadi AS Prof Dr Fabiola D. Kurnia Prosa Puisi Puji Santosa Puji Tyasari Puput Amiranti N Purnawan Andra Purnawan Kristanto Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang Group PUstaka puJAngga Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Ng. Ronggowarsito Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Kemat Hidayatullah Rahmat Sularso Nh Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rasanrasan Boengaketji Raudal Tanjung Banua Redland Movie Reiny Dwinanda Resensi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Ririe Rengganis Risang Anom Pujayanto Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roso Titi Sarkoro Rozi Kembara Rukardi Rumah Budaya Pantura (RBP) Rusmanadi S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saiful Amin Ghofur Saiful Anam Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Salman S. Yoga Samsudin Adlawi Samsul Anam Sanggar Lukis Alam Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang KSII Santi Puji Rahayu Sapardi Djoko Damono Saroni Asikin Sartika Dian Nuraini Sastra dan Kuasa Simbolik Sastra Jawa Timur Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil SelaSastra Boenga Ketjil #33 Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sinopsis Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputra Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soegiharto Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Spectrum Center Press Sri Weni Sri Wintala Achmad Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudirman Sugi Lanus Sukron Ma’mun Sulaiman Djaya Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungging Raga Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Supriyadi Surya Lesmana Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyanto Syaf Anton Wr Syaifuddin Gani Syaiful Amin Syarif Wadja Bae Sylvianita Widyawati TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie (1961-2019) Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Presetyo Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Tia Setiadi Tirto Suwondo Tita Tjindarbumi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tosa Poetra Tri Nurdianingsih Triyanto Triwikromo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus S Ulul Azmiyati Umar Fauzi Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Utari Tri Prestianti Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W Haryanto W.S. Rendra Wahyu Prasetya Wan Anwar Wawan Eko Yulianto Wawancara Wina Bojonegoro Wita Lestari Wong Wing King Wowok Hesti Prabowo Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yanusa Nugroho Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yopi Setia Umbara Yudhi Herwibowo Yudi Latif Yusri Fajar Yusuf Ariel Hakim Yuval Noah Harari Zacky Khairul Uman Zainuddin Sugendal Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zed Abidien Zehan Zareez Zhaenal Fanani Zubaidi Khan Zuniest