Sabtu, 08 Oktober 2011

Gadis Peracau

Ahmad Zaini*
http://sastra-indonesia.com/

Aku tak mengerti apa yang diucapkan gadis yang berteduh di pendopo desa. Ia seperti meracau mengucap ke sana ke mari yang tidak jelas maksudnya. Dengan menahan hawa dingin aku hanya mendengarkan dan memperhatikan bibirnya mengucap yang ia suka. Kadang ia menangis, kadang ia tersenyum sendiri, kadang juga wajahnya mengekspresikan kemarahan pada seseorang.
“Maaf, Neng! Situ tidak apa-apa?” tanyaku.
Ia tak sedikit pun menoleh kepadaku. Ia terus meracau yang semakin tidak jelas maksudnya.
Bibir yang sejak tadi bergerak kulihat tampak semakin pucat. Rambutnya yang begitu rapi kini tampak basah oleh belaian butiran hujan yang tersapu angin. Tangannya mengepal terkadang disilang di dada. Tubuhnya menggigil kedinginan. Tas yang bergantung di pundaknya diletakkan di samping tubuhnya kemudian ia duduk bersandar pada tembok pendopo.

Hujan yang mengguyur bumi tak henti-henti. Kutatap langit masih hitam menggumpal dengan mendung yang bergelatungan di akar-akar langitnya. Kilat bersabung diiringi petir yang menggelegar. Hatiku semakin kecil karena aku hanya berdua dengan gadis yang terus meracau di pendopo.
“Neng, pakailah jaket ini!”
Ia melihat perlahan ketika kusodorkan jaket hitam untuk melindungi tubuhnya yang semakin menggigil. Tapi ia tak segera mengambil jaket yang kusodorkan itu. Kemudian aku perlahan menutupkan jaket ke tubuhnya yang duduk meringkuk bersandar di tembok pendopo desa.

“Neng, jangan engkau membuatku penasaran! Sebenarnya Neng itu siapa dan mau ke mana?”
“Herman! Awas kau!!” jawabnya dengan raut muka yang mendadak merah padam.
Aku semakin heran pada gadis ini. Antara pertanyaan dan jawaban tak berhubungan. Ia terus mengepal-ngepalkan tangannya seakan mengancam nama Herman yang diucapkannya tadi.
“Herman siapa?”
“Kurang ajar kau Herman! Kau telah menganiaya batinku hingga seperti ini. Silakan kau hidup dengan perempuan gatal itu. Tapi ingat aku tidak akan tinggal diam. Tunggu pembalasanku!!” ancamnya dengan suara yang semakin serak.

Aku mendengarkan dan selalu memperhatikan apa yang ia perbuat dan apa yang ia ucapkan. kalau mendengar apa yang diucapan sepertinya gadis ini adalah korban dari rasa cemburu pada kekasihnya. Ia mengalami depresi yang luar biasa hingga ia tak sadar dengan dirinya saat ini. Ia berkata seperti bukan kemauannya sendiri. Ia kuajak bicara juga tidak sambung.

Hari semakin petang namun hujan belum menunjukkan akan segera reda. Lampu-lampu di jalan depan pendopo juga sudah mulai menyala. Di jalanan juga sudah mulai sepi tak seperti tadi masih terlihat anak-anak dan para remaja desa itu berlari-lari sambil berhujan-hujan. Si gadis berdiri kemudian memandang ke atas. Ia lantas melemparkan jaket itu kepadaku lalu pergi tak mempedulikan hujan yang belum mereda.
“Neng, mau ke mana?” teriakku.
“Herman…! Aku datang…!”
Tak lama kemudian ia tak tampak di telan lebatnya hujan dan petang.
“Siapa dia? Aneh. Ia selalu memanggil-manggil nama Herman. Siapa dia sebenarnya. Dan ada hubungan apa dirinya dengan Herman?”

Suara hujan yang sejak tadi mengetuk atap pendopo desa terdengar semakin jarang. Tampaknya hujan akan segera reda. Jaket hitam kulit yang kupakaikan gadis tadi kemudian kupakai lagi. Telapak tanganku kujulurkan ke luar atap pendopo memastikan apakah hujan sudah benar-benar reda atau belum. Tetesan hujan masih mengenai tanganku tapi tidak sesering sewaktu gadis tadi masih di sini. Menunggu hujan benar-benar reda juga tidak pasti kapan redanya. Ah, kuputuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang saja.

Di tengah perjalan, penduduk desa berkerumun di pinggir jalan. Mereka seperti berebut melihat sesuatu. Aku berhenti dan ingin melihat apa yang sedang terjadi.
“Ada apa, Pak!”
“Mayat,” jawabnya.
Aku semakin penasaran. Kemudian kuterobos orang-orang yang bergerombol di pinggir jalan untuk bisa melihat mayat seperti yang dikatakan laki-laki tadi. Bau amis darah menyapa hidungku hingga perutku terasa mual. Kututup hidung dengan sapu tangan yang agak lembab terkena hujan. Dengan perasaan yang cemas kuperhatikan mayat yang tergeletak di pinggir jalan.

“Ya, Tuhan! Gadis itu,” ucapku kaget.
Para penduduk kemudian memperhatikanku semua.
“Apakah, Mas kenal dengan mayat ini?”
“Tidak. Tadi sewaktu hujan ia sempat berteduh di pendopo desa dengan saya,” jawabku.
Kemudian aku ceritakan semua kepada polisi yang datang di lokasi itu. Sikapnya yang aneh dan tidak bisa di ajak berkomunikasi.
“Ia selalu menyebut-nyebut nama Herman, Pak!”
Ketika kusebut nama Herman, para polisi yang menginterogasi saya seperti kaget.
“Ada apa, Pak?”
“Herman adalah pelaku pembunuhan mutilasi tiga hari yang lalu. Korbannya adalah seorang wanita yang diindikasi sebagai kekasih gelapnya. Hingga kini Herman masih menjadi buronan polisi. Dengan keterangan Anda tadi, kami menduga bahwa pembunuh gadis ini adalah orang yang sama yaitu Herman. Terima kasih atas keterangan Anda!”
“Sama-sama, Pak!”
Mayat gadis malang itu kemudian diangkat ke ambulance untuk diotopsi di rumah sakit. Para penduduk pun buyar meninggalkan tampat kejadian.

Dalam perjanalan pulang pikiranku masih terbayang gadis yang jadi korban pembunuhan itu. Wajahnya polos, cantik, dan lagi, ia suka meracau. Bau sedap parfumnya masih tercium dari jaket yang kukenakan ini. Kemudian aku teringat ketika ia menggigil kedinginan kubalut dengan jaket kemudian saat ia akan pergi, jaket ini dilemparkan begitu saja di pangkuanku. Tanpa ada ucapan terma kasih atau paling tidak kata pamit untuk pergi terlebih dulu.

Jujur saja ketika aku menatap mata sayunya hati ini tertarik untuk lebih mengenal dirinya. Namun apalah daya ia sulit diajak berkomunikasi. Bola mata yang sebenarnya bening yang kini tampak keruh, liar memandang sekitar. Sesekali aku melihat dirinya menatap diriku yang berdiri di sampingnya dengan pandangan tajam. Mungkin ia membayangkan diriku ini dengan lelaki yang selalu disebut-sebutnya itu.

Pagi harinya, pada halaman pertama surat kabar wajah gadis peracau tergambar dengan pose yang sangat menantang. Dalam headline surat kabar tersebut tertulis bahwa gadis itu adalah korban pembunuhan yang dilakukan oleh Herman, pamannya sendiri. Ia diberitakan bernama Selasih umur 25 tahun. Menurut pengakuan orang tuanya yang tertulis dalam berita, ia pergi dengan pamannya lima bulan yang lalu. Ia dijanjikan sebuah pekerjaan di kota. Namun setelah sampai di kota janji pamannya tak terwujud. Malah ia dijual pada seorang germo untuk dijadikan sebagai wanita pelacur. Selasih memberontak kemudian ia mengalami penyiksaan hingga depresi seperti itu. Untuk menghilangkan jejak atas perbuatannya, Herman kemudian mencari Selasih untuk dibunuh agar ia tidak bercerita kepada orang tuanya yang tak lain adalah kakak kandungnya sendiri. Namun akal busuk dari pamannya terkuak oleh kesaksian seorang pemuda. Menurut pemuda itu Selasih selalu menyebut-nyebut nama Herman. Akhirnya polisi berhasil menangkap Herman yang juga pelaku pembunuhan mutilasi pada korban lain tiga jam setelah pertistiwa tersebut. Demikian berita yang tertulis pada surat kabar pagi itu. ***

Wanar, Pucuk, Lamongan
___________________
* Ahmad Zaini, lahir di Lamongan, 7 Mei 1976. Karya-karyanya pernah dimuat di beberapa media cetak seperti Tabloid Telunjuk, Majalah MPA dan Radar Bojonegoro. Beberapa puisinya juga dimuat dalam Antologi Puisi Bersama seperti Bulan Merayap (DKL, 2004), Lanskap Telunjuk (DKL, 2004), Absurditas Rindu (Sastra Nesia Lamongan, 2006), Khianat Waktu, Antologi Penyair Jawa Timur (DKL, 2006). Selain menulis, juga sebagai tanaga edukatif di SMA Raudlatul Muta’allimin Babat Lamongan. Sekarang beralamat di Sanggar Sastra ”Telaga Biru”, Wanar, Pucuk, Lamongan. e-mail: ilazen@yahoo.co.id.

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Ginandjar Wiludjeng A. Junianto A. Kurnia A. Qorib Hidayatullah A. Yusrianto Elga A.S Laksana A’yat Khalili Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Razak Abdul Rosyid Abdul Wahab Abdurrahman Wahid Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adam Chiefni Ade P. Nasution Adhitia Armitriant Adi Prasetyo Adrizas AF. Tuasikal Afriza Hanifa Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agnes Rita Sulistyawaty Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunyoto Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Baso Ahmad Faishal Ahmad Fatoni Ahmad Hasan MS Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Khotim Muzakka Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Naufel Ahmad Rofiq Ahmad S. Zahari Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Ainul Fiah Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Alex R. Nainggolan Alfian Dippahatang Ali Audah Ali Mahmudi CH Ali Rif’an Almania Rohmah Ami Herman Amien Wangsitalaja Aminah Aminullah HA.Noor Amir Sutaarga Anam Rahus Anata Siregar Andari Karina Anom Andina Dwifatma Andong Buku #3 Andre Mediansyah Andri Awan Anett Tapai Anggie Melianna Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Wahyudi Anwar Nuris Ardi Bramantyo Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arie Yani Arief Joko Wicaksono Arief Junianto Ariera Arif Bagus Prasetyo Aris Kurniawan Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asmaul Fauziyah Asti Musman Atafras Awalludin GD Mualif Ayu Wulan Sari Aziz Abdul Gofar Azizah Hefni Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Balok Sf Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Benny Arnas Benny Benke Beno Siang Pamungkas Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Bernando J Sujibto Berthold Damshauser BI Purwantari Binhad Nurrohmat Bobby Gunawan Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Burhanuddin Bella Camelia Mafaza Catatan Cerbung Cerpen Chairul Akhmad Chamim Kohari Chavchay Syaifullah Cover Buku Cucuk Espe D. Zaini Ahmad D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Dahta Gautama Daisuke Miyoshi Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Danusantoso Dareen Tatour Darju Prasetya David Kuncara Denny Mizhar Denza Perdana Desi Sommalia Gustina Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewi Indah Sari Dewi Susme Dian Sukarno Didik Harianto Didik Kusbiantoro Dina Jerphanion Dina Oktaviani Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur Dipo Handoko Diyah Errita Damayanti Djoko Pitono Djoko Saryono Doddy Wisnu Pribadi Dody Kristianto Dody Yan Masfa Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi SS MHum Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Wiyana Dyah Ratna Meta Novia Dyah Sulistyorini Ecep Heryadi Eddy Pranata PNP Edeng Syamsul Ma’arif Eep Saefulloh Fatah EH Kartanegara Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Hendrawan Sofyan Eko Hendri Saiful Eko Windarto Elnisya Mahendra Elva Lestary Emha Ainun Nadjib Emil WE Endah Sulwesi Endo Suanda Eppril Wulaningtyas R Esai Evan Ys F. Moses F. Rahardi Fadlillah Malin Sutan Fahmi Faqih Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Kurnianto Fanani Rahman Fanny Chotimah Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Febby Fortinella Rusmoyo Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Gabriel Garcia Marquez Galang Ari P. Galuh Tulus Utama Gampang Prawoto Gandra Gupta Ganug Nugroho Adi Gerson Poyk Ghassan Kanafani Gita Nuari Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunoto Saparie H.B. Jassin Habibullah Hadi Napster Hadriani Pudjiarti Halim HD Halimi Zuhdy Hamberan Syahbana Han Gagas Hanibal W. Y. Wijayanta Hardi Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Hartono Harimurti Hary B Kori’un Hasan Aspahani Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana HE. Benyamine Hendra Junaedi Hendra Makmur Heri CS Heri Latief Heri Listianto Herman RN Herry Lamongan Heru CN Heru Nugroho Hikmat Gumelar HL Renjis Magalah Hudan Nur Hujuala Rika Ayu Huminca Sinaga IBM. Dharma Palguna Ibnu Wahyudi Ida Farida Idris Pasaribu Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilham Khoiri Imam Cahyono Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indiar Manggara Indra Intisa Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ira Puspitaningsih Irfan Budiman Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Zulkarnain Ismail Marzuki Iva Titin Shovia Iwan Kurniawan Jabbar Abdullah Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D. Rahman Jamal T. Suryanata Javed Paul Syatha Jayaning S.A JILFest 2008 Jody Setiawan Johan Edy Raharjo Johannes Sugianto Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Juan Kromen Julika Hasanah Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN Juwairiyah Mawardy Ka’bati Karanggeneng Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Keith Foulcher Kemah Budaya Panturan (KBP) Khansa Arifah Adila Khoirul Inayah Khoirul Rosyadi Khudori Husnan Ki Ompong Sudarsono Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Sastra Ilalang Indonesia Korrie Layun Rampan Kostela Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie L.N. Idayanie Laili Rahmawati Lamongan Lan Fang Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lely Yuana Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Liestyo Ambarwati Khohar Lina Kelana Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lucia Idayanie Lukman A Sya Lutfiah Lynglieastrid Isabellita M Arman AZ M Ismail M Thobroni M. Afifuddin M. Arwan Hamidi M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Luthfi Aziz M. Nurdin M. Yoesoef M.D. Atmaja M.S. Nugroho Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Mahmud Syaltut Usfa Mahmudi Arif Dahlan Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Martin Aleida Maruli Tobing Mas Ruscita Mashuri Masuki M. Astro Matroni Matroni Muserang Media: Crayon on Paper Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Mia Arista Mia El Zahra Mikael Johani Misbahus Surur Misran Mohamad Ali Hisyam Mohammad Eri Irawan Much. Khoiri Muh. Muhlisin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun Muhammadun AS Muhidin M Dahlan Mujtahid Mujtahidin Billah Mukti Sutarman Espe Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Munawir Aziz Musfarayani Musfi Efrizal Nafisatul Husniah Nandang Darana Naskah Teater Nelson Alwi Ni Made Purnamasari Nikmatus Sholikhah Nina Herlina Lubis Nina Susilo Ning Elia Noor H. Dee Noval Jubbek Novel-novel berbahasa Jawa Novelet Nunuy Nurhayati Nur Azizah Nur Hamzah Nur Kholiq Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurul Aini Nurul Anam Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi SA Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Okty Budiati Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Otto Sukatno CR Oyos Saroso H.N. Pagan Press Pagelaran Musim Tandur Palupi Panca Astuti Parimono V / 40 Plandi Jombang Pawang Surya Kencana PDS H.B. Jassin Petrus Nandi Politik Politik Sastra Pradana Boy ZTF Pramoedya Ananta Toer Pramono Pringadi AS Prof Dr Fabiola D. Kurnia Prosa Puisi Puji Santosa Puji Tyasari Puput Amiranti N Purnawan Andra Purnawan Kristanto Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang Group PUstaka puJAngga Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Ng. Ronggowarsito Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Kemat Hidayatullah Rahmat Sularso Nh Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rasanrasan Boengaketji Raudal Tanjung Banua Redland Movie Reiny Dwinanda Resensi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Ririe Rengganis Risang Anom Pujayanto Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roso Titi Sarkoro Rozi Kembara Rukardi Rumah Budaya Pantura (RBP) Rusmanadi S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saiful Amin Ghofur Saiful Anam Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Salman S. Yoga Samsudin Adlawi Samsul Anam Sanggar Lukis Alam Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang KSII Santi Puji Rahayu Sapardi Djoko Damono Saroni Asikin Sartika Dian Nuraini Sastra dan Kuasa Simbolik Sastra Jawa Timur Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil SelaSastra Boenga Ketjil #33 Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sinopsis Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputra Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soegiharto Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Spectrum Center Press Sri Weni Sri Wintala Achmad Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudirman Sugi Lanus Sukron Ma’mun Sulaiman Djaya Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungging Raga Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Supriyadi Surya Lesmana Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyanto Syaf Anton Wr Syaifuddin Gani Syaiful Amin Syarif Wadja Bae Sylvianita Widyawati TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie (1961-2019) Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Presetyo Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Tia Setiadi Tirto Suwondo Tita Tjindarbumi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tosa Poetra Tri Nurdianingsih Triyanto Triwikromo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus S Ulul Azmiyati Umar Fauzi Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Utari Tri Prestianti Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W Haryanto W.S. Rendra Wahyu Prasetya Wan Anwar Wawan Eko Yulianto Wawancara Wina Bojonegoro Wita Lestari Wong Wing King Wowok Hesti Prabowo Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yanusa Nugroho Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yopi Setia Umbara Yudhi Herwibowo Yudi Latif Yusri Fajar Yusuf Ariel Hakim Yuval Noah Harari Zacky Khairul Uman Zainuddin Sugendal Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zed Abidien Zehan Zareez Zhaenal Fanani Zubaidi Khan Zuniest