Ahmad Zaini*
http://sastra-indonesia.com/
Aku tak mengerti apa yang diucapkan gadis yang berteduh di pendopo desa. Ia seperti meracau mengucap ke sana ke mari yang tidak jelas maksudnya. Dengan menahan hawa dingin aku hanya mendengarkan dan memperhatikan bibirnya mengucap yang ia suka. Kadang ia menangis, kadang ia tersenyum sendiri, kadang juga wajahnya mengekspresikan kemarahan pada seseorang.
“Maaf, Neng! Situ tidak apa-apa?” tanyaku.
Ia tak sedikit pun menoleh kepadaku. Ia terus meracau yang semakin tidak jelas maksudnya.
Bibir yang sejak tadi bergerak kulihat tampak semakin pucat. Rambutnya yang begitu rapi kini tampak basah oleh belaian butiran hujan yang tersapu angin. Tangannya mengepal terkadang disilang di dada. Tubuhnya menggigil kedinginan. Tas yang bergantung di pundaknya diletakkan di samping tubuhnya kemudian ia duduk bersandar pada tembok pendopo.
Hujan yang mengguyur bumi tak henti-henti. Kutatap langit masih hitam menggumpal dengan mendung yang bergelatungan di akar-akar langitnya. Kilat bersabung diiringi petir yang menggelegar. Hatiku semakin kecil karena aku hanya berdua dengan gadis yang terus meracau di pendopo.
“Neng, pakailah jaket ini!”
Ia melihat perlahan ketika kusodorkan jaket hitam untuk melindungi tubuhnya yang semakin menggigil. Tapi ia tak segera mengambil jaket yang kusodorkan itu. Kemudian aku perlahan menutupkan jaket ke tubuhnya yang duduk meringkuk bersandar di tembok pendopo desa.
“Neng, jangan engkau membuatku penasaran! Sebenarnya Neng itu siapa dan mau ke mana?”
“Herman! Awas kau!!” jawabnya dengan raut muka yang mendadak merah padam.
Aku semakin heran pada gadis ini. Antara pertanyaan dan jawaban tak berhubungan. Ia terus mengepal-ngepalkan tangannya seakan mengancam nama Herman yang diucapkannya tadi.
“Herman siapa?”
“Kurang ajar kau Herman! Kau telah menganiaya batinku hingga seperti ini. Silakan kau hidup dengan perempuan gatal itu. Tapi ingat aku tidak akan tinggal diam. Tunggu pembalasanku!!” ancamnya dengan suara yang semakin serak.
Aku mendengarkan dan selalu memperhatikan apa yang ia perbuat dan apa yang ia ucapkan. kalau mendengar apa yang diucapan sepertinya gadis ini adalah korban dari rasa cemburu pada kekasihnya. Ia mengalami depresi yang luar biasa hingga ia tak sadar dengan dirinya saat ini. Ia berkata seperti bukan kemauannya sendiri. Ia kuajak bicara juga tidak sambung.
Hari semakin petang namun hujan belum menunjukkan akan segera reda. Lampu-lampu di jalan depan pendopo juga sudah mulai menyala. Di jalanan juga sudah mulai sepi tak seperti tadi masih terlihat anak-anak dan para remaja desa itu berlari-lari sambil berhujan-hujan. Si gadis berdiri kemudian memandang ke atas. Ia lantas melemparkan jaket itu kepadaku lalu pergi tak mempedulikan hujan yang belum mereda.
“Neng, mau ke mana?” teriakku.
“Herman…! Aku datang…!”
Tak lama kemudian ia tak tampak di telan lebatnya hujan dan petang.
“Siapa dia? Aneh. Ia selalu memanggil-manggil nama Herman. Siapa dia sebenarnya. Dan ada hubungan apa dirinya dengan Herman?”
Suara hujan yang sejak tadi mengetuk atap pendopo desa terdengar semakin jarang. Tampaknya hujan akan segera reda. Jaket hitam kulit yang kupakaikan gadis tadi kemudian kupakai lagi. Telapak tanganku kujulurkan ke luar atap pendopo memastikan apakah hujan sudah benar-benar reda atau belum. Tetesan hujan masih mengenai tanganku tapi tidak sesering sewaktu gadis tadi masih di sini. Menunggu hujan benar-benar reda juga tidak pasti kapan redanya. Ah, kuputuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang saja.
Di tengah perjalan, penduduk desa berkerumun di pinggir jalan. Mereka seperti berebut melihat sesuatu. Aku berhenti dan ingin melihat apa yang sedang terjadi.
“Ada apa, Pak!”
“Mayat,” jawabnya.
Aku semakin penasaran. Kemudian kuterobos orang-orang yang bergerombol di pinggir jalan untuk bisa melihat mayat seperti yang dikatakan laki-laki tadi. Bau amis darah menyapa hidungku hingga perutku terasa mual. Kututup hidung dengan sapu tangan yang agak lembab terkena hujan. Dengan perasaan yang cemas kuperhatikan mayat yang tergeletak di pinggir jalan.
“Ya, Tuhan! Gadis itu,” ucapku kaget.
Para penduduk kemudian memperhatikanku semua.
“Apakah, Mas kenal dengan mayat ini?”
“Tidak. Tadi sewaktu hujan ia sempat berteduh di pendopo desa dengan saya,” jawabku.
Kemudian aku ceritakan semua kepada polisi yang datang di lokasi itu. Sikapnya yang aneh dan tidak bisa di ajak berkomunikasi.
“Ia selalu menyebut-nyebut nama Herman, Pak!”
Ketika kusebut nama Herman, para polisi yang menginterogasi saya seperti kaget.
“Ada apa, Pak?”
“Herman adalah pelaku pembunuhan mutilasi tiga hari yang lalu. Korbannya adalah seorang wanita yang diindikasi sebagai kekasih gelapnya. Hingga kini Herman masih menjadi buronan polisi. Dengan keterangan Anda tadi, kami menduga bahwa pembunuh gadis ini adalah orang yang sama yaitu Herman. Terima kasih atas keterangan Anda!”
“Sama-sama, Pak!”
Mayat gadis malang itu kemudian diangkat ke ambulance untuk diotopsi di rumah sakit. Para penduduk pun buyar meninggalkan tampat kejadian.
Dalam perjanalan pulang pikiranku masih terbayang gadis yang jadi korban pembunuhan itu. Wajahnya polos, cantik, dan lagi, ia suka meracau. Bau sedap parfumnya masih tercium dari jaket yang kukenakan ini. Kemudian aku teringat ketika ia menggigil kedinginan kubalut dengan jaket kemudian saat ia akan pergi, jaket ini dilemparkan begitu saja di pangkuanku. Tanpa ada ucapan terma kasih atau paling tidak kata pamit untuk pergi terlebih dulu.
Jujur saja ketika aku menatap mata sayunya hati ini tertarik untuk lebih mengenal dirinya. Namun apalah daya ia sulit diajak berkomunikasi. Bola mata yang sebenarnya bening yang kini tampak keruh, liar memandang sekitar. Sesekali aku melihat dirinya menatap diriku yang berdiri di sampingnya dengan pandangan tajam. Mungkin ia membayangkan diriku ini dengan lelaki yang selalu disebut-sebutnya itu.
Pagi harinya, pada halaman pertama surat kabar wajah gadis peracau tergambar dengan pose yang sangat menantang. Dalam headline surat kabar tersebut tertulis bahwa gadis itu adalah korban pembunuhan yang dilakukan oleh Herman, pamannya sendiri. Ia diberitakan bernama Selasih umur 25 tahun. Menurut pengakuan orang tuanya yang tertulis dalam berita, ia pergi dengan pamannya lima bulan yang lalu. Ia dijanjikan sebuah pekerjaan di kota. Namun setelah sampai di kota janji pamannya tak terwujud. Malah ia dijual pada seorang germo untuk dijadikan sebagai wanita pelacur. Selasih memberontak kemudian ia mengalami penyiksaan hingga depresi seperti itu. Untuk menghilangkan jejak atas perbuatannya, Herman kemudian mencari Selasih untuk dibunuh agar ia tidak bercerita kepada orang tuanya yang tak lain adalah kakak kandungnya sendiri. Namun akal busuk dari pamannya terkuak oleh kesaksian seorang pemuda. Menurut pemuda itu Selasih selalu menyebut-nyebut nama Herman. Akhirnya polisi berhasil menangkap Herman yang juga pelaku pembunuhan mutilasi pada korban lain tiga jam setelah pertistiwa tersebut. Demikian berita yang tertulis pada surat kabar pagi itu. ***
Wanar, Pucuk, Lamongan
___________________
* Ahmad Zaini, lahir di Lamongan, 7 Mei 1976. Karya-karyanya pernah dimuat di beberapa media cetak seperti Tabloid Telunjuk, Majalah MPA dan Radar Bojonegoro. Beberapa puisinya juga dimuat dalam Antologi Puisi Bersama seperti Bulan Merayap (DKL, 2004), Lanskap Telunjuk (DKL, 2004), Absurditas Rindu (Sastra Nesia Lamongan, 2006), Khianat Waktu, Antologi Penyair Jawa Timur (DKL, 2006). Selain menulis, juga sebagai tanaga edukatif di SMA Raudlatul Muta’allimin Babat Lamongan. Sekarang beralamat di Sanggar Sastra ”Telaga Biru”, Wanar, Pucuk, Lamongan. e-mail: ilazen@yahoo.co.id.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Sabtu, 08 Oktober 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Ginandjar Wiludjeng
A. Junianto
A. Kurnia
A. Qorib Hidayatullah
A. Yusrianto Elga
A.S Laksana
A’yat Khalili
Aang Fatihul Islam
Abdul Azis Sukarno
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi WM
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Malik
Abdul Razak
Abdul Rosyid
Abdul Wahab
Abdurrahman Wahid
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adam Chiefni
Ade P. Nasution
Adhitia Armitriant
Adi Prasetyo
Adrizas
AF. Tuasikal
Afriza Hanifa
Afrizal Malna
Agama Para Bajingan
Agnes Rita Sulistyawaty
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Buchori
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahmad Baso
Ahmad Faishal
Ahmad Fatoni
Ahmad Hasan MS
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Khotim Muzakka
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Naufel
Ahmad Rofiq
Ahmad S. Zahari
Ahmad Syauqi Sumbawi
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ahsanu Nadia
Aini Aviena Violeta
Ainul Fiah
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sekhu
Akhmad Sofyan Hadi
Akhmad Taufiq
Akhudiat
Akmal Nasery Basral
Alam Terkembang
Alang Khoiruddin
Alex R. Nainggolan
Alfian Dippahatang
Ali Audah
Ali Mahmudi CH
Ali Rif’an
Almania Rohmah
Ami Herman
Amien Wangsitalaja
Aminah
Aminullah HA.Noor
Amir Sutaarga
Anam Rahus
Anata Siregar
Andari Karina Anom
Andina Dwifatma
Andong Buku #3
Andre Mediansyah
Andri Awan
Anett Tapai
Anggie Melianna
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anjrah Lelono Broto
Anton Bae
Anton Kurnia
Anton Wahyudi
Anwar Nuris
Ardi Bramantyo
Ardus M Sawega
Arie MP Tamba
Arie Yani
Arief Joko Wicaksono
Arief Junianto
Ariera
Arif Bagus Prasetyo
Aris Kurniawan
Arman A.Z.
Arswendo Atmowiloto
Arti Bumi Intaran
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Asmaul Fauziyah
Asti Musman
Atafras
Awalludin GD Mualif
Ayu Wulan Sari
Aziz Abdul Gofar
Azizah Hefni
Bagus Takwin
Bahrul Ulum A. Malik
Balada
Bale Aksara
Balok Sf
Bambang Kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Beni Setia
Benny Arnas
Benny Benke
Beno Siang Pamungkas
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita
Berita Duka
Berita Koran
Bernando J Sujibto
Berthold Damshauser
BI Purwantari
Binhad Nurrohmat
Bobby Gunawan
Bonari Nabonenar
Brunel University London
Budaya
Budi Darma
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Burhanuddin Bella
Camelia Mafaza
Catatan
Cerbung
Cerpen
Chairul Akhmad
Chamim Kohari
Chavchay Syaifullah
Cover Buku
Cucuk Espe
D. Zaini Ahmad
D. Zawawi Imron
Dadang Ari Murtono
Dahta Gautama
Daisuke Miyoshi
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Danusantoso
Dareen Tatour
Darju Prasetya
David Kuncara
Denny Mizhar
Denza Perdana
Desi Sommalia Gustina
Desiana Medya A.L
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dewi Indah Sari
Dewi Susme
Dian Sukarno
Didik Harianto
Didik Kusbiantoro
Dina Jerphanion
Dina Oktaviani
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur
Dipo Handoko
Diyah Errita Damayanti
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Doddy Wisnu Pribadi
Dody Kristianto
Dody Yan Masfa
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dorothea Rosa Herliany
Dr Junaidi SS MHum
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi Wiyana
Dyah Ratna Meta Novia
Dyah Sulistyorini
Ecep Heryadi
Eddy Pranata PNP
Edeng Syamsul Ma’arif
Eep Saefulloh Fatah
EH Kartanegara
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Hendrawan Sofyan
Eko Hendri Saiful
Eko Windarto
Elnisya Mahendra
Elva Lestary
Emha Ainun Nadjib
Emil WE
Endah Sulwesi
Endo Suanda
Eppril Wulaningtyas R
Esai
Evan Ys
F. Moses
F. Rahardi
Fadlillah Malin Sutan
Fahmi Faqih
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Kurnianto
Fanani Rahman
Fanny Chotimah
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Febby Fortinella Rusmoyo
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Gabriel Garcia Marquez
Galang Ari P.
Galuh Tulus Utama
Gampang Prawoto
Gandra Gupta
Ganug Nugroho Adi
Gerson Poyk
Ghassan Kanafani
Gita Nuari
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gunoto Saparie
H.B. Jassin
Habibullah
Hadi Napster
Hadriani Pudjiarti
Halim HD
Halimi Zuhdy
Hamberan Syahbana
Han Gagas
Hanibal W. Y. Wijayanta
Hardi
Haris del Hakim
Haris Saputra
Harri Ash Shiddiqie
Hartono Harimurti
Hary B Kori’un
Hasan Aspahani
Hasan Junus
Hasif Amini
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
HE. Benyamine
Hendra Junaedi
Hendra Makmur
Heri CS
Heri Latief
Heri Listianto
Herman RN
Herry Lamongan
Heru CN
Heru Nugroho
Hikmat Gumelar
HL Renjis Magalah
Hudan Nur
Hujuala Rika Ayu
Huminca Sinaga
IBM. Dharma Palguna
Ibnu Wahyudi
Ida Farida
Idris Pasaribu
Ignas Kleden
Ignatius Haryanto
Iksan Basoeky
Ilham Khoiri
Imam Cahyono
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indiar Manggara
Indra Intisa
Indra Tjahyadi
Indra Tranggono
Indrian Koto
Ira Puspitaningsih
Irfan Budiman
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Iskandar Zulkarnain
Ismail Marzuki
Iva Titin Shovia
Iwan Kurniawan
Jabbar Abdullah
Jafar Fakhrurozi
Jalan Raya Simo Sungelebak
Jamal D. Rahman
Jamal T. Suryanata
Javed Paul Syatha
Jayaning S.A
JILFest 2008
Jody Setiawan
Johan Edy Raharjo
Johannes Sugianto
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Jual Buku
Jual Buku Paket Hemat
Juan Kromen
Julika Hasanah
Jurnalisme Sastrawi
Jusuf AN
Juwairiyah Mawardy
Ka’bati
Karanggeneng
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Keith Foulcher
Kemah Budaya Panturan (KBP)
Khansa Arifah Adila
Khoirul Inayah
Khoirul Rosyadi
Khudori Husnan
Ki Ompong Sudarsono
Kirana Kejora
Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Sastra Ilalang Indonesia
Korrie Layun Rampan
Kostela
Kritik Sastra
Kukuh S Wibowo
Kurnia Effendi
Kurniawan
Kuswaidi Syafi'ie
L.N. Idayanie
Laili Rahmawati
Lamongan
Lan Fang
Langgeng Widodo
Lathifa Akmaliyah
Leila S. Chudori
Lely Yuana
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Liestyo Ambarwati Khohar
Lina Kelana
Linda Sarmili
Liza Wahyuninto
Lucia Idayanie
Lukman A Sya
Lutfiah
Lynglieastrid Isabellita
M Arman AZ
M Ismail
M Thobroni
M. Afifuddin
M. Arwan Hamidi
M. Lukluk Atsmara Anjaina
M. Lutfi
M. Luthfi Aziz
M. Nurdin
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.S. Nugroho
Mahendra Cipta
Mahmud Jauhari Ali
Mahmud Syaltut Usfa
Mahmudi Arif Dahlan
Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Martin Aleida
Maruli Tobing
Mas Ruscita
Mashuri
Masuki M. Astro
Matroni
Matroni Muserang
Media: Crayon on Paper
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
MG. Sungatno
Mh Zaelani Tammaka
Mia Arista
Mia El Zahra
Mikael Johani
Misbahus Surur
Misran
Mohamad Ali Hisyam
Mohammad Eri Irawan
Much. Khoiri
Muh. Muhlisin
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Aris
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Rain
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun
Muhammadun AS
Muhidin M Dahlan
Mujtahid
Mujtahidin Billah
Mukti Sutarman Espe
Mulyadi SA
Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik
Munawir Aziz
Musfarayani
Musfi Efrizal
Nafisatul Husniah
Nandang Darana
Naskah Teater
Nelson Alwi
Ni Made Purnamasari
Nikmatus Sholikhah
Nina Herlina Lubis
Nina Susilo
Ning Elia
Noor H. Dee
Noval Jubbek
Novel-novel berbahasa Jawa
Novelet
Nunuy Nurhayati
Nur Azizah
Nur Hamzah
Nur Kholiq
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nurul Aini
Nurul Anam
Nurul Komariyah
Nuryana Asmaudi SA
Nyoman Tusthi Eddy
Obrolan
Okty Budiati
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Otto Sukatno CR
Oyos Saroso H.N.
Pagan Press
Pagelaran Musim Tandur
Palupi Panca Astuti
Parimono V / 40 Plandi Jombang
Pawang Surya Kencana
PDS H.B. Jassin
Petrus Nandi
Politik
Politik Sastra
Pradana Boy ZTF
Pramoedya Ananta Toer
Pramono
Pringadi AS
Prof Dr Fabiola D. Kurnia
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Puji Tyasari
Puput Amiranti N
Purnawan Andra
Purnawan Kristanto
Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin
Pustaka Ilalang Group
PUstaka puJAngga
Putu Wijaya
Qaris Tajudin
R. Ng. Ronggowarsito
Rachmad Djoko Pradopo
Radhar Panca Dahana
Rahmat Kemat Hidayatullah
Rahmat Sularso Nh
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rasanrasan Boengaketji
Raudal Tanjung Banua
Redland Movie
Reiny Dwinanda
Resensi
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Riki Dhamparan Putra
Riki Utomi
Ririe Rengganis
Risang Anom Pujayanto
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Roso Titi Sarkoro
Rozi Kembara
Rukardi
Rumah Budaya Pantura (RBP)
Rusmanadi
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Saiful Amin Ghofur
Saiful Anam
Sainul Hermawan
Sajak
Salamet Wahedi
Salman S. Yoga
Samsudin Adlawi
Samsul Anam
Sanggar Lukis Alam
Sanggar Pasir
Sanggar Rumah Ilalang KSII
Santi Puji Rahayu
Sapardi Djoko Damono
Saroni Asikin
Sartika Dian Nuraini
Sastra dan Kuasa Simbolik
Sastra Jawa Timur
Satmoko Budi Santoso
Saut Situmorang
Sayyid Fahmi Alathas
SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang
SelaSastra Boenga Ketjil
SelaSastra Boenga Ketjil #33
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Setia Naka Andrian
Shiny.ane el’poesya
Sholihul Huda
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sinopsis
Siti Khoeriyah
Siti Muyassarotul Hafidzoh
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputra
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Soegiharto
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sosiawan Leak
Spectrum Center Press
Sri Weni
Sri Wintala Achmad
Suci Ayu Latifah
Sucipto Hadi Purnomo
Sudirman
Sugi Lanus
Sukron Ma’mun
Sulaiman Djaya
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sungging Raga
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Supriyadi
Surya Lesmana
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Suyanto
Syaf Anton Wr
Syaifuddin Gani
Syaiful Amin
Syarif Wadja Bae
Sylvianita Widyawati
TanahmeraH ArtSpace
Tarmuzie (1961-2019)
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Presetyo
Teguh Setiawan
Teguh Winarsho AS
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Tia Setiadi
Tirto Suwondo
Tita Tjindarbumi
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan
Tosa Poetra
Tri Nurdianingsih
Triyanto Triwikromo
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Tulus S
Ulul Azmiyati
Umar Fauzi
Umar Fauzi Ballah
Umar Kayam
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Universitas Jember
Usman Arrumy
Utari Tri Prestianti
Viddy AD Daery
Virdika Rizky Utama
W Haryanto
W.S. Rendra
Wahyu Prasetya
Wan Anwar
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wina Bojonegoro
Wita Lestari
Wong Wing King
Wowok Hesti Prabowo
Xu Xi (Sussy Komala)
Y. Thendra BP
Y. Wibowo
Yanusa Nugroho
Yasraf Amir Piliang
Yayat R. Cipasang
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yopi Setia Umbara
Yudhi Herwibowo
Yudi Latif
Yusri Fajar
Yusuf Ariel Hakim
Yuval Noah Harari
Zacky Khairul Uman
Zainuddin Sugendal
Zamakhsyari Abrar
Zawawi Se
Zed Abidien
Zehan Zareez
Zhaenal Fanani
Zubaidi Khan
Zuniest
Tidak ada komentar:
Posting Komentar