Selasa, 06 September 2011

Rendra dalam Kereta Kencana

Anjrah Lelono Broto
http://www.kompasiana.com/anjrah_lelono_broto

Akulah ronin yang mengembara
Air sawah minumanku
Dingin malam selimutku
Aku setia mengunjungimu (Rendra)

Bengkel Teater W.S. Rendra di Citayam Depok kembali berduka, kemarin para warganya repot mengatur penyelenggaraan jenazah sosok penyanyi yang I love you full, Mbah Surip, hari ini para warganya benar-benar berduka karena kepulangan ke haribaan-Nya, Si Burung Merak Rendra. Tepat pukul 22.05 tanggal 06 Agustus kemarin ronin (samurai yang menganggur) ini mengakhiri pengembaraannya karena penyakit jantung yang telah lama menggerogoti dirinya.

Lahir dengan nama Willibrodus Surendra Broto, 74 tahun silam, Rendra adalah salah satu sosok seniman besar Indonesia yang menggeluti dunia teater, puisi, juga film. Rangkaian kerja seninya telah memadati khazanah teater, kepenyairan, dan film di tanah air selama beberapa dekade. Sederet repertoar teater seperti “Bip-Bop”, “Panembahan Reso”, “Menunggu Godot”, “Macbeth”, “Perjuangan Suku Naga”, “Perampok”, “Khasidah Barzanzi”, “Mastodon dan Burung Kondor”, “Oeidipus Berpulang”, “Antigone”, dan lain sebagainya merupakan rangkaian kerja seni yang melambungkan namanya di dunia seni teater Indonesia. Bahkan di masa pemerintahan Orde Baru beberapa repertoar teater garapannya membuat ronin ini masuk dalam daftar hitam pemerintah.

Pada tahun 50-an, Rendra sangat dikenal masyarakat Solo karena puisi-puisinya di majalah Kisah, dan beberapa majalah lain di kawasan Joglosemar (Yogyakartam Solo, dan Semarang). Puisi-puisi ini kemudian dibukukan dalam antologi puisi “Balada Orang-Orang Tercinta”. Namun ketika lakon naskah teaternya “Orang-Orang di Tikungan Jalan” meraih hadiah pertama dalam lomba yang digelar Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Yogyakarta, masyarakat beralih mengenalnya sebagai seorang pekerja seni teater. Walaupun beredar juga beberapa cerpennya di majalah Minggu Pagi, seperti “Hutan Itu”, “Dua Jantan”, “Ia Sudah Bertualang”, dan lain-lain. Di sisi lain ia juga seorang aktor film, “Yang Muda Yang Bercinta” adalah sebuah film yang sangat mengundang apresiasi dan mengilhami generasi muda kala Indonesia kala itu.

Sebenarnya, Rendra ini seorang pekerja seni teater, penyair, cerpenis, atau aktor film?

Dalam sejarah penampilan pertamanya di panggung teater bersama Umar Kayam, mementaskan repertoar “Hanya Satu Kali” karya Jhon Galsworthy, Rendra mengatakan, “Wah saya malu. Ada hal-hal yang tidak mengenakkan saya, pertama, make-up itu dan menjadi orang lain itu. Kedua, layar yang harus dibuka dan ditutup itu.” (Rendra Berkisah Tentang Teaternya, 1983). Dari tulisannya ini kita semua dapat memahami bahwa pada dasarnya Rendra juga awam dengan dunia teater berikut madzab keseniannya seperti yang dicanangkan Antonin Artaud, Stanilavsky, Bertolt Brecht, maupun Grotowsky. selayaknya kesejatian berkesenian dan berkebudyaan, Rendra menggagas kebaruan, menjauhi tradisi make-up, menjadi orang lain, maupun naik-turunnya layar. Bahkan dengan bangga, dalam beberapa repetoar yang digelarnya, Rendra bersuka hati menjadi dirinya sendiri dan menampilkan bot-repote penataan properti yang sebelumnya tabu menjadi materi tontonan.

Dalam tulisannya tersebut Rendra juga mengatakan, “Teater modern tidak punya kekuatan ekonomi dan tidak punya tempat sosial yang jelas. Jadi ini harus dicapai, kita harus punya kekuatan ekonomis. Sumber dana harus datang dari kita sendiri. Karena itu, kami menolak subsidi”. Posisi kesenian teater yang terpinggirkan karena dominasi kesenian yang berorientasi pasar menyebabkan seorang seniman teater kurang mendapatkan income yang layak dari ranah yang digelutinya. Bahkan untuk biaya produksinya saja terkadang harus merogoh kocek pribadi dan atau mengharapkan donasi pihak-pihak tertentu yang terkadang menitipkan sesuatu. Pernyataan Rendra di atas memang cenderung nampak sebagai tantangan kepada semua elemen, termasuk dirinya sendiri, untuk menjalankan kredo berkesenian dan berkebudayaan yang independent, seni untuk seni.

Tanpa pretensi untuk mendiskreditkan kelompok teater lain, dalam salah satu sajaknya, Rendra secara lantang mengatakan “Kita menolak menjadi koma,”. Hal ini mengukuhkan dirinya sebagai seniman yang no regret and no return untuk melakukan kerja seni dan menghasilkan karya-karya yang independen dan berwibawa.

Kebaruan yang digagas oleh Rendra sangat menonjol ketika dirinya memperkenalkan konsep drama mini-kata, yang miskin dialog, menonjolkan aspek gerak, dan cenderung memberi ruang bagi beragam intrepretasi penontonnya. Namun, sebagaimana lazimnya kebaruan, segala sesuatu yang tidak sejalan dengan kemapanan tradisi cenderung ditanggapi secara negatif. Almarhum Trisno Sumardjo pun meragukannya sebagai sebuah teater. Repertoar “Bip-Bop” oleh beberapa mahasiswa psikologi UI dianggap sebagai permainan orang gendheng, bahkan di Yogyakarta disambut dengan lemparan-lemparan batu.

Ironis memang, tanggapan keras berupa lemparan batu tersebut muncul dari kalangan masyarakat Yogyakarta yang pernah menjadi habitat proses kreatifnya dan identik sebagai kota pelajar (kaum intelektual) dan kota priyayi. Namun, Rendra menanggapi fenomena tersebut lebih sebagai aksi brutal yang tidak berpijak pada pandangan estetika kesenian, melainkan moralitas semata. Bagi Rendra, hal itu hanya reaksi khas masyarakat agraris, feodalistis, dan konservatif, yang enggan menemui perubahan (kebaruan).

Dalam sejarah seni avant-garde, tanggapan negatif yang mengikuti kemunculan sesuatu yang baru adalah lumrah. Sebab, sesungguhnya, teater avant-garde membawa serta dalam dirinya semangat menantang seluruh masyarakat (Bakdi Soemanto, 2000). Namun, menghadapi tentangan semacam ini Rendra tidak tidaklah surut. Ia bahkan menantang mereka berdiskusi. Kita semua menyadari bahwa keberanian Rendra ini bertolak pada pemikiran bahwa konsep yang lahir dari pergulatan intens harus diperjuangkan.

Almarhum Wahyu Sihombing ketika mengkritisi repertoar Rendra yang berjudul “Hamlet” mengatakan, “WS Rendra telah membuka kartunya: mengada atau tidak mengada itulah soalnya. Dari sini Rendra berangkat memanggungkan ‘Hamlet’. Kemudian, dalam percakapan singkat di depan siswa-siswa LPKD baru-baru ini, Rendra menjelaskan lagi, dari soliluqui tokoh Hamlet ini ia melihat persoalan manusia yang abadi: kelemahan, kefanaan, dan usaha manusia bertanya.” (Hamlet = Rendra, 1969).

Sebagai manusia cerdas, Rendra senantiasa mengajak orang lain untuk bertanya dan mempertanyakan kembali. Alfons Taryadi menyebutnya sebagai ‘questioning’. Padahal apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kata ‘questioning’ sangat dekat pengertiannya dengan ‘menggugat’. Menggugat adalah sebuah roh berkesenian dan berkebudayaan yang diusung oleh Si Burung Merak ini. Seperti halnya dalam repertoar “Kaum Urakan” yang digelar di Pantai Parangtritis Yogyakarta, Rendra menggugat kemapanan yang menjadikan manusia bermetamorfosis menjadi individu yang mlempem.

Dengan mempertanyakan kembali dan menggugat, Rendra menantang. Termasuk menantang dirinya sendiri. Hal ini membuat kekuatan karya-karya teaternya bertumpu pada kondisi tragis manusia. Setiap kali manusia berhadapan dengan pola-pola kebudayaan dan tradisi, bahkan nasib yang dituliskan-Nya, mereka cenderung untuk terpaku dalam ketidakberterimaan, mempertanyakan, bahkan menggugat. Ketika Rendra mempertanyakan nasib, mengapa manusia harus hidup, melakoni sesuatu, kemudian mati, Rendra tengah berefleksi layaknya seorang filsuf.

Lalu mengapa Rendra yang hanya mempertanyakan kembali segala sesuatu dalam kehidupan harus masuk daftar hitam pemerintahan Orde Baru?

Rendra dianggap memiliki komitmen yang kuat kepada politik, repertoarnya yang berjudul “Perjuangan Suku Naga” dianggap pemerintah Orde Baru sebagai bentuk aksi seni yang dapat mengundang ‘kegelisahan’ masyarakat. Padahal menurut Alfons Taryadi (1994:157), dalam “Perjuangan Suku Naga”, Rendra tidak ingin menampilkan permainan kekuasaan berikut segala intrik yang ada di dalamnya. Namun Rendra lebih memandangnya dari perspektif disharmoni kehidupan, keterbelengguan kemerdekaan dalam dimensi kebudayaan.

Puisi-puisinya yang berbau politik, seperti dalam antologi “Potret Pembangunan dalam Puisi”, memang terkesan lugas dan memerahkan telinga penguasa. Begitu juga penampilan terakhirnya dalam deklarasi pencalonan pasangan Mega-Pro di Bantar Gebang beberapa waktu lalu, memang terkesan memihak salah satu kelompok dan menyerang kelompok lain. Akan tetapi, apabila ditelaah secara arif, ada elemen lain yang sejatinya lebih menyentuh kedalaman, yaitu yang membangkitkan daya hidup.

Seperti halnya pamflet dan selebaran Jhon Dryden di Inggris pada pertengahan abad ke-17 yang meskipun sarat dengan kata-kata yang keras dan lugas, estetika sastra yang ada di dalamnya tetap terasa. Letak keindahan karya-karya Rendra justru terletak pada kelugasan, ketegasan, dan kejelasan pesan. Kalaupun ada yang sakit hati dengan kata-kata yang disampaikan Rendra maka dengan sendirinya yang bersangkutan telah membuat pengakuan bahwa dirinyalah yang sedang menjadi objek imajinasi karya-karya Rendra.

Dalam karya-karyanya, Rendra acapkali membanggakan dirinya sebagai pencipta kepastian (Danarto, 2001). Sebagai seniman, Rendra sadar bahwa kebutuhan mendesak masyarakat Indonesia adalah kepastian. Tapi, dalam karya-karyanya secara lugas rasa herannya menyaksikan pemimpin, pemuka agama, maupun elemen masyarakat lain yang juga memegang kanal informasi justru cenderung menciptakan ketidakpastian-ketidakpastian. Melalui “Kereta Kencana” karya Eugene Ionescou, Rendra mampu menerangkannya tanpa muslihat. Kepastian terungkap dengan jelas, tanpa penonton merasa tertipu. Ia mengungkapkan hal-hal yang kedengarannya asing tapi sebenarnya itulah yang senantiasa terjadi di lingkungan kita, dari waktu ke waktu.

Sepotong sajak tentang ronin di atas yang tidak pernah didokumentasikan, kecuali oleh Danarto, telah secara gamblang menampilkan sosok Si Burung Merak, seniman besar Indonesia yang merdeka yang tetap setia mengunjungi masyarakat Indonesia, mengabarkan kemerdekaan berpikir, berkehendak, dan melakukan segala sesuatu. Namun, di detik-detik menjelang ke-64 tahun kemerdekaan bangsa Indonesia, sang ronin harus mengakhiri pengembaraannya, dalam kereta kencana, dirinya pasrah menemui kemerdekaan sejati bersama Sang Majikan (Tuhan).

Selamat Jalan Si Burung Merak.
***

Sumber: http://sosbud.kompasiana.com/2009/11/11/rendra-dalam-kereta-kencana/

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Ginandjar Wiludjeng A. Junianto A. Kurnia A. Qorib Hidayatullah A. Yusrianto Elga A.S Laksana A’yat Khalili Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Razak Abdul Rosyid Abdul Wahab Abdurrahman Wahid Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adam Chiefni Ade P. Nasution Adhitia Armitriant Adi Prasetyo Adrizas AF. Tuasikal Afriza Hanifa Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agnes Rita Sulistyawaty Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunyoto Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Baso Ahmad Faishal Ahmad Fatoni Ahmad Hasan MS Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Khotim Muzakka Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Naufel Ahmad Rofiq Ahmad S. Zahari Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Ainul Fiah Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Alex R. Nainggolan Alfian Dippahatang Ali Audah Ali Mahmudi CH Ali Rif’an Almania Rohmah Ami Herman Amien Wangsitalaja Aminah Aminullah HA.Noor Amir Sutaarga Anam Rahus Anata Siregar Andari Karina Anom Andina Dwifatma Andong Buku #3 Andre Mediansyah Andri Awan Anett Tapai Anggie Melianna Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Wahyudi Anwar Nuris Ardi Bramantyo Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arie Yani Arief Joko Wicaksono Arief Junianto Ariera Arif Bagus Prasetyo Aris Kurniawan Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asmaul Fauziyah Asti Musman Atafras Awalludin GD Mualif Ayu Wulan Sari Aziz Abdul Gofar Azizah Hefni Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Balok Sf Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Benny Arnas Benny Benke Beno Siang Pamungkas Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Bernando J Sujibto Berthold Damshauser BI Purwantari Binhad Nurrohmat Bobby Gunawan Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Burhanuddin Bella Camelia Mafaza Catatan Cerbung Cerpen Chairul Akhmad Chamim Kohari Chavchay Syaifullah Cover Buku Cucuk Espe D. Zaini Ahmad D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Dahta Gautama Daisuke Miyoshi Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Danusantoso Dareen Tatour Darju Prasetya David Kuncara Denny Mizhar Denza Perdana Desi Sommalia Gustina Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewi Indah Sari Dewi Susme Dian Sukarno Didik Harianto Didik Kusbiantoro Dina Jerphanion Dina Oktaviani Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur Dipo Handoko Diyah Errita Damayanti Djoko Pitono Djoko Saryono Doddy Wisnu Pribadi Dody Kristianto Dody Yan Masfa Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi SS MHum Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Wiyana Dyah Ratna Meta Novia Dyah Sulistyorini Ecep Heryadi Eddy Pranata PNP Edeng Syamsul Ma’arif Eep Saefulloh Fatah EH Kartanegara Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Hendrawan Sofyan Eko Hendri Saiful Eko Windarto Elnisya Mahendra Elva Lestary Emha Ainun Nadjib Emil WE Endah Sulwesi Endo Suanda Eppril Wulaningtyas R Esai Evan Ys F. Moses F. Rahardi Fadlillah Malin Sutan Fahmi Faqih Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Kurnianto Fanani Rahman Fanny Chotimah Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Febby Fortinella Rusmoyo Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Gabriel Garcia Marquez Galang Ari P. Galuh Tulus Utama Gampang Prawoto Gandra Gupta Ganug Nugroho Adi Gerson Poyk Ghassan Kanafani Gita Nuari Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunoto Saparie H.B. Jassin Habibullah Hadi Napster Hadriani Pudjiarti Halim HD Halimi Zuhdy Hamberan Syahbana Han Gagas Hanibal W. Y. Wijayanta Hardi Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Hartono Harimurti Hary B Kori’un Hasan Aspahani Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana HE. Benyamine Hendra Junaedi Hendra Makmur Heri CS Heri Latief Heri Listianto Herman RN Herry Lamongan Heru CN Heru Nugroho Hikmat Gumelar HL Renjis Magalah Hudan Nur Hujuala Rika Ayu Huminca Sinaga IBM. Dharma Palguna Ibnu Wahyudi Ida Farida Idris Pasaribu Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilham Khoiri Imam Cahyono Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indiar Manggara Indra Intisa Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ira Puspitaningsih Irfan Budiman Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Zulkarnain Ismail Marzuki Iva Titin Shovia Iwan Kurniawan Jabbar Abdullah Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D. Rahman Jamal T. Suryanata Javed Paul Syatha Jayaning S.A JILFest 2008 Jody Setiawan Johan Edy Raharjo Johannes Sugianto Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Juan Kromen Julika Hasanah Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN Juwairiyah Mawardy Ka’bati Karanggeneng Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Keith Foulcher Kemah Budaya Panturan (KBP) Khansa Arifah Adila Khoirul Inayah Khoirul Rosyadi Khudori Husnan Ki Ompong Sudarsono Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Sastra Ilalang Indonesia Korrie Layun Rampan Kostela Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie L.N. Idayanie Laili Rahmawati Lamongan Lan Fang Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lely Yuana Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Liestyo Ambarwati Khohar Lina Kelana Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lucia Idayanie Lukman A Sya Lutfiah Lynglieastrid Isabellita M Arman AZ M Ismail M Thobroni M. Afifuddin M. Arwan Hamidi M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Luthfi Aziz M. Nurdin M. Yoesoef M.D. Atmaja M.S. Nugroho Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Mahmud Syaltut Usfa Mahmudi Arif Dahlan Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Martin Aleida Maruli Tobing Mas Ruscita Mashuri Masuki M. Astro Matroni Matroni Muserang Media: Crayon on Paper Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Mia Arista Mia El Zahra Mikael Johani Misbahus Surur Misran Mohamad Ali Hisyam Mohammad Eri Irawan Much. Khoiri Muh. Muhlisin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun Muhammadun AS Muhidin M Dahlan Mujtahid Mujtahidin Billah Mukti Sutarman Espe Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Munawir Aziz Musfarayani Musfi Efrizal Nafisatul Husniah Nandang Darana Naskah Teater Nelson Alwi Ni Made Purnamasari Nikmatus Sholikhah Nina Herlina Lubis Nina Susilo Ning Elia Noor H. Dee Noval Jubbek Novel-novel berbahasa Jawa Novelet Nunuy Nurhayati Nur Azizah Nur Hamzah Nur Kholiq Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurul Aini Nurul Anam Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi SA Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Okty Budiati Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Otto Sukatno CR Oyos Saroso H.N. Pagan Press Pagelaran Musim Tandur Palupi Panca Astuti Parimono V / 40 Plandi Jombang Pawang Surya Kencana PDS H.B. Jassin Petrus Nandi Politik Politik Sastra Pradana Boy ZTF Pramoedya Ananta Toer Pramono Pringadi AS Prof Dr Fabiola D. Kurnia Prosa Puisi Puji Santosa Puji Tyasari Puput Amiranti N Purnawan Andra Purnawan Kristanto Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang Group PUstaka puJAngga Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Ng. Ronggowarsito Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Kemat Hidayatullah Rahmat Sularso Nh Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rasanrasan Boengaketji Raudal Tanjung Banua Redland Movie Reiny Dwinanda Resensi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Ririe Rengganis Risang Anom Pujayanto Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roso Titi Sarkoro Rozi Kembara Rukardi Rumah Budaya Pantura (RBP) Rusmanadi S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saiful Amin Ghofur Saiful Anam Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Salman S. Yoga Samsudin Adlawi Samsul Anam Sanggar Lukis Alam Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang KSII Santi Puji Rahayu Sapardi Djoko Damono Saroni Asikin Sartika Dian Nuraini Sastra dan Kuasa Simbolik Sastra Jawa Timur Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil SelaSastra Boenga Ketjil #33 Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sinopsis Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputra Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soegiharto Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Spectrum Center Press Sri Weni Sri Wintala Achmad Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudirman Sugi Lanus Sukron Ma’mun Sulaiman Djaya Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungging Raga Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Supriyadi Surya Lesmana Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyanto Syaf Anton Wr Syaifuddin Gani Syaiful Amin Syarif Wadja Bae Sylvianita Widyawati TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie (1961-2019) Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Presetyo Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Tia Setiadi Tirto Suwondo Tita Tjindarbumi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tosa Poetra Tri Nurdianingsih Triyanto Triwikromo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus S Ulul Azmiyati Umar Fauzi Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Utari Tri Prestianti Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W Haryanto W.S. Rendra Wahyu Prasetya Wan Anwar Wawan Eko Yulianto Wawancara Wina Bojonegoro Wita Lestari Wong Wing King Wowok Hesti Prabowo Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yanusa Nugroho Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yopi Setia Umbara Yudhi Herwibowo Yudi Latif Yusri Fajar Yusuf Ariel Hakim Yuval Noah Harari Zacky Khairul Uman Zainuddin Sugendal Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zed Abidien Zehan Zareez Zhaenal Fanani Zubaidi Khan Zuniest