Anjrah Lelono Broto
http://www.kompasiana.com/anjrah_lelono_broto
Akulah ronin yang mengembara
Air sawah minumanku
Dingin malam selimutku
Aku setia mengunjungimu (Rendra)
Bengkel Teater W.S. Rendra di Citayam Depok kembali berduka, kemarin para warganya repot mengatur penyelenggaraan jenazah sosok penyanyi yang I love you full, Mbah Surip, hari ini para warganya benar-benar berduka karena kepulangan ke haribaan-Nya, Si Burung Merak Rendra. Tepat pukul 22.05 tanggal 06 Agustus kemarin ronin (samurai yang menganggur) ini mengakhiri pengembaraannya karena penyakit jantung yang telah lama menggerogoti dirinya.
Lahir dengan nama Willibrodus Surendra Broto, 74 tahun silam, Rendra adalah salah satu sosok seniman besar Indonesia yang menggeluti dunia teater, puisi, juga film. Rangkaian kerja seninya telah memadati khazanah teater, kepenyairan, dan film di tanah air selama beberapa dekade. Sederet repertoar teater seperti “Bip-Bop”, “Panembahan Reso”, “Menunggu Godot”, “Macbeth”, “Perjuangan Suku Naga”, “Perampok”, “Khasidah Barzanzi”, “Mastodon dan Burung Kondor”, “Oeidipus Berpulang”, “Antigone”, dan lain sebagainya merupakan rangkaian kerja seni yang melambungkan namanya di dunia seni teater Indonesia. Bahkan di masa pemerintahan Orde Baru beberapa repertoar teater garapannya membuat ronin ini masuk dalam daftar hitam pemerintah.
Pada tahun 50-an, Rendra sangat dikenal masyarakat Solo karena puisi-puisinya di majalah Kisah, dan beberapa majalah lain di kawasan Joglosemar (Yogyakartam Solo, dan Semarang). Puisi-puisi ini kemudian dibukukan dalam antologi puisi “Balada Orang-Orang Tercinta”. Namun ketika lakon naskah teaternya “Orang-Orang di Tikungan Jalan” meraih hadiah pertama dalam lomba yang digelar Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Yogyakarta, masyarakat beralih mengenalnya sebagai seorang pekerja seni teater. Walaupun beredar juga beberapa cerpennya di majalah Minggu Pagi, seperti “Hutan Itu”, “Dua Jantan”, “Ia Sudah Bertualang”, dan lain-lain. Di sisi lain ia juga seorang aktor film, “Yang Muda Yang Bercinta” adalah sebuah film yang sangat mengundang apresiasi dan mengilhami generasi muda kala Indonesia kala itu.
Sebenarnya, Rendra ini seorang pekerja seni teater, penyair, cerpenis, atau aktor film?
Dalam sejarah penampilan pertamanya di panggung teater bersama Umar Kayam, mementaskan repertoar “Hanya Satu Kali” karya Jhon Galsworthy, Rendra mengatakan, “Wah saya malu. Ada hal-hal yang tidak mengenakkan saya, pertama, make-up itu dan menjadi orang lain itu. Kedua, layar yang harus dibuka dan ditutup itu.” (Rendra Berkisah Tentang Teaternya, 1983). Dari tulisannya ini kita semua dapat memahami bahwa pada dasarnya Rendra juga awam dengan dunia teater berikut madzab keseniannya seperti yang dicanangkan Antonin Artaud, Stanilavsky, Bertolt Brecht, maupun Grotowsky. selayaknya kesejatian berkesenian dan berkebudyaan, Rendra menggagas kebaruan, menjauhi tradisi make-up, menjadi orang lain, maupun naik-turunnya layar. Bahkan dengan bangga, dalam beberapa repetoar yang digelarnya, Rendra bersuka hati menjadi dirinya sendiri dan menampilkan bot-repote penataan properti yang sebelumnya tabu menjadi materi tontonan.
Dalam tulisannya tersebut Rendra juga mengatakan, “Teater modern tidak punya kekuatan ekonomi dan tidak punya tempat sosial yang jelas. Jadi ini harus dicapai, kita harus punya kekuatan ekonomis. Sumber dana harus datang dari kita sendiri. Karena itu, kami menolak subsidi”. Posisi kesenian teater yang terpinggirkan karena dominasi kesenian yang berorientasi pasar menyebabkan seorang seniman teater kurang mendapatkan income yang layak dari ranah yang digelutinya. Bahkan untuk biaya produksinya saja terkadang harus merogoh kocek pribadi dan atau mengharapkan donasi pihak-pihak tertentu yang terkadang menitipkan sesuatu. Pernyataan Rendra di atas memang cenderung nampak sebagai tantangan kepada semua elemen, termasuk dirinya sendiri, untuk menjalankan kredo berkesenian dan berkebudayaan yang independent, seni untuk seni.
Tanpa pretensi untuk mendiskreditkan kelompok teater lain, dalam salah satu sajaknya, Rendra secara lantang mengatakan “Kita menolak menjadi koma,”. Hal ini mengukuhkan dirinya sebagai seniman yang no regret and no return untuk melakukan kerja seni dan menghasilkan karya-karya yang independen dan berwibawa.
Kebaruan yang digagas oleh Rendra sangat menonjol ketika dirinya memperkenalkan konsep drama mini-kata, yang miskin dialog, menonjolkan aspek gerak, dan cenderung memberi ruang bagi beragam intrepretasi penontonnya. Namun, sebagaimana lazimnya kebaruan, segala sesuatu yang tidak sejalan dengan kemapanan tradisi cenderung ditanggapi secara negatif. Almarhum Trisno Sumardjo pun meragukannya sebagai sebuah teater. Repertoar “Bip-Bop” oleh beberapa mahasiswa psikologi UI dianggap sebagai permainan orang gendheng, bahkan di Yogyakarta disambut dengan lemparan-lemparan batu.
Ironis memang, tanggapan keras berupa lemparan batu tersebut muncul dari kalangan masyarakat Yogyakarta yang pernah menjadi habitat proses kreatifnya dan identik sebagai kota pelajar (kaum intelektual) dan kota priyayi. Namun, Rendra menanggapi fenomena tersebut lebih sebagai aksi brutal yang tidak berpijak pada pandangan estetika kesenian, melainkan moralitas semata. Bagi Rendra, hal itu hanya reaksi khas masyarakat agraris, feodalistis, dan konservatif, yang enggan menemui perubahan (kebaruan).
Dalam sejarah seni avant-garde, tanggapan negatif yang mengikuti kemunculan sesuatu yang baru adalah lumrah. Sebab, sesungguhnya, teater avant-garde membawa serta dalam dirinya semangat menantang seluruh masyarakat (Bakdi Soemanto, 2000). Namun, menghadapi tentangan semacam ini Rendra tidak tidaklah surut. Ia bahkan menantang mereka berdiskusi. Kita semua menyadari bahwa keberanian Rendra ini bertolak pada pemikiran bahwa konsep yang lahir dari pergulatan intens harus diperjuangkan.
Almarhum Wahyu Sihombing ketika mengkritisi repertoar Rendra yang berjudul “Hamlet” mengatakan, “WS Rendra telah membuka kartunya: mengada atau tidak mengada itulah soalnya. Dari sini Rendra berangkat memanggungkan ‘Hamlet’. Kemudian, dalam percakapan singkat di depan siswa-siswa LPKD baru-baru ini, Rendra menjelaskan lagi, dari soliluqui tokoh Hamlet ini ia melihat persoalan manusia yang abadi: kelemahan, kefanaan, dan usaha manusia bertanya.” (Hamlet = Rendra, 1969).
Sebagai manusia cerdas, Rendra senantiasa mengajak orang lain untuk bertanya dan mempertanyakan kembali. Alfons Taryadi menyebutnya sebagai ‘questioning’. Padahal apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kata ‘questioning’ sangat dekat pengertiannya dengan ‘menggugat’. Menggugat adalah sebuah roh berkesenian dan berkebudayaan yang diusung oleh Si Burung Merak ini. Seperti halnya dalam repertoar “Kaum Urakan” yang digelar di Pantai Parangtritis Yogyakarta, Rendra menggugat kemapanan yang menjadikan manusia bermetamorfosis menjadi individu yang mlempem.
Dengan mempertanyakan kembali dan menggugat, Rendra menantang. Termasuk menantang dirinya sendiri. Hal ini membuat kekuatan karya-karya teaternya bertumpu pada kondisi tragis manusia. Setiap kali manusia berhadapan dengan pola-pola kebudayaan dan tradisi, bahkan nasib yang dituliskan-Nya, mereka cenderung untuk terpaku dalam ketidakberterimaan, mempertanyakan, bahkan menggugat. Ketika Rendra mempertanyakan nasib, mengapa manusia harus hidup, melakoni sesuatu, kemudian mati, Rendra tengah berefleksi layaknya seorang filsuf.
Lalu mengapa Rendra yang hanya mempertanyakan kembali segala sesuatu dalam kehidupan harus masuk daftar hitam pemerintahan Orde Baru?
Rendra dianggap memiliki komitmen yang kuat kepada politik, repertoarnya yang berjudul “Perjuangan Suku Naga” dianggap pemerintah Orde Baru sebagai bentuk aksi seni yang dapat mengundang ‘kegelisahan’ masyarakat. Padahal menurut Alfons Taryadi (1994:157), dalam “Perjuangan Suku Naga”, Rendra tidak ingin menampilkan permainan kekuasaan berikut segala intrik yang ada di dalamnya. Namun Rendra lebih memandangnya dari perspektif disharmoni kehidupan, keterbelengguan kemerdekaan dalam dimensi kebudayaan.
Puisi-puisinya yang berbau politik, seperti dalam antologi “Potret Pembangunan dalam Puisi”, memang terkesan lugas dan memerahkan telinga penguasa. Begitu juga penampilan terakhirnya dalam deklarasi pencalonan pasangan Mega-Pro di Bantar Gebang beberapa waktu lalu, memang terkesan memihak salah satu kelompok dan menyerang kelompok lain. Akan tetapi, apabila ditelaah secara arif, ada elemen lain yang sejatinya lebih menyentuh kedalaman, yaitu yang membangkitkan daya hidup.
Seperti halnya pamflet dan selebaran Jhon Dryden di Inggris pada pertengahan abad ke-17 yang meskipun sarat dengan kata-kata yang keras dan lugas, estetika sastra yang ada di dalamnya tetap terasa. Letak keindahan karya-karya Rendra justru terletak pada kelugasan, ketegasan, dan kejelasan pesan. Kalaupun ada yang sakit hati dengan kata-kata yang disampaikan Rendra maka dengan sendirinya yang bersangkutan telah membuat pengakuan bahwa dirinyalah yang sedang menjadi objek imajinasi karya-karya Rendra.
Dalam karya-karyanya, Rendra acapkali membanggakan dirinya sebagai pencipta kepastian (Danarto, 2001). Sebagai seniman, Rendra sadar bahwa kebutuhan mendesak masyarakat Indonesia adalah kepastian. Tapi, dalam karya-karyanya secara lugas rasa herannya menyaksikan pemimpin, pemuka agama, maupun elemen masyarakat lain yang juga memegang kanal informasi justru cenderung menciptakan ketidakpastian-ketidakpastian. Melalui “Kereta Kencana” karya Eugene Ionescou, Rendra mampu menerangkannya tanpa muslihat. Kepastian terungkap dengan jelas, tanpa penonton merasa tertipu. Ia mengungkapkan hal-hal yang kedengarannya asing tapi sebenarnya itulah yang senantiasa terjadi di lingkungan kita, dari waktu ke waktu.
Sepotong sajak tentang ronin di atas yang tidak pernah didokumentasikan, kecuali oleh Danarto, telah secara gamblang menampilkan sosok Si Burung Merak, seniman besar Indonesia yang merdeka yang tetap setia mengunjungi masyarakat Indonesia, mengabarkan kemerdekaan berpikir, berkehendak, dan melakukan segala sesuatu. Namun, di detik-detik menjelang ke-64 tahun kemerdekaan bangsa Indonesia, sang ronin harus mengakhiri pengembaraannya, dalam kereta kencana, dirinya pasrah menemui kemerdekaan sejati bersama Sang Majikan (Tuhan).
Selamat Jalan Si Burung Merak.
***
Sumber: http://sosbud.kompasiana.com/2009/11/11/rendra-dalam-kereta-kencana/
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Ginandjar Wiludjeng
A. Junianto
A. Kurnia
A. Qorib Hidayatullah
A. Yusrianto Elga
A.S Laksana
A’yat Khalili
Aang Fatihul Islam
Abdul Azis Sukarno
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi WM
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Malik
Abdul Razak
Abdul Rosyid
Abdul Wahab
Abdurrahman Wahid
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adam Chiefni
Ade P. Nasution
Adhitia Armitriant
Adi Prasetyo
Adrizas
AF. Tuasikal
Afriza Hanifa
Afrizal Malna
Agama Para Bajingan
Agnes Rita Sulistyawaty
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Buchori
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahmad Baso
Ahmad Faishal
Ahmad Fatoni
Ahmad Hasan MS
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Khotim Muzakka
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Naufel
Ahmad Rofiq
Ahmad S. Zahari
Ahmad Syauqi Sumbawi
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ahsanu Nadia
Aini Aviena Violeta
Ainul Fiah
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sekhu
Akhmad Sofyan Hadi
Akhmad Taufiq
Akhudiat
Akmal Nasery Basral
Alam Terkembang
Alang Khoiruddin
Alex R. Nainggolan
Alfian Dippahatang
Ali Audah
Ali Mahmudi CH
Ali Rif’an
Almania Rohmah
Ami Herman
Amien Wangsitalaja
Aminah
Aminullah HA.Noor
Amir Sutaarga
Anam Rahus
Anata Siregar
Andari Karina Anom
Andina Dwifatma
Andong Buku #3
Andre Mediansyah
Andri Awan
Anett Tapai
Anggie Melianna
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anjrah Lelono Broto
Anton Bae
Anton Kurnia
Anton Wahyudi
Anwar Nuris
Ardi Bramantyo
Ardus M Sawega
Arie MP Tamba
Arie Yani
Arief Joko Wicaksono
Arief Junianto
Ariera
Arif Bagus Prasetyo
Aris Kurniawan
Arman A.Z.
Arswendo Atmowiloto
Arti Bumi Intaran
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Asmaul Fauziyah
Asti Musman
Atafras
Awalludin GD Mualif
Ayu Wulan Sari
Aziz Abdul Gofar
Azizah Hefni
Bagus Takwin
Bahrul Ulum A. Malik
Balada
Bale Aksara
Balok Sf
Bambang Kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Beni Setia
Benny Arnas
Benny Benke
Beno Siang Pamungkas
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita
Berita Duka
Berita Koran
Bernando J Sujibto
Berthold Damshauser
BI Purwantari
Binhad Nurrohmat
Bobby Gunawan
Bonari Nabonenar
Brunel University London
Budaya
Budi Darma
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Burhanuddin Bella
Camelia Mafaza
Catatan
Cerbung
Cerpen
Chairul Akhmad
Chamim Kohari
Chavchay Syaifullah
Cover Buku
Cucuk Espe
D. Zaini Ahmad
D. Zawawi Imron
Dadang Ari Murtono
Dahta Gautama
Daisuke Miyoshi
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Danusantoso
Dareen Tatour
Darju Prasetya
David Kuncara
Denny Mizhar
Denza Perdana
Desi Sommalia Gustina
Desiana Medya A.L
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dewi Indah Sari
Dewi Susme
Dian Sukarno
Didik Harianto
Didik Kusbiantoro
Dina Jerphanion
Dina Oktaviani
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur
Dipo Handoko
Diyah Errita Damayanti
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Doddy Wisnu Pribadi
Dody Kristianto
Dody Yan Masfa
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dorothea Rosa Herliany
Dr Junaidi SS MHum
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi Wiyana
Dyah Ratna Meta Novia
Dyah Sulistyorini
Ecep Heryadi
Eddy Pranata PNP
Edeng Syamsul Ma’arif
Eep Saefulloh Fatah
EH Kartanegara
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Hendrawan Sofyan
Eko Hendri Saiful
Eko Windarto
Elnisya Mahendra
Elva Lestary
Emha Ainun Nadjib
Emil WE
Endah Sulwesi
Endo Suanda
Eppril Wulaningtyas R
Esai
Evan Ys
F. Moses
F. Rahardi
Fadlillah Malin Sutan
Fahmi Faqih
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Kurnianto
Fanani Rahman
Fanny Chotimah
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Febby Fortinella Rusmoyo
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Gabriel Garcia Marquez
Galang Ari P.
Galuh Tulus Utama
Gampang Prawoto
Gandra Gupta
Ganug Nugroho Adi
Gerson Poyk
Ghassan Kanafani
Gita Nuari
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gunoto Saparie
H.B. Jassin
Habibullah
Hadi Napster
Hadriani Pudjiarti
Halim HD
Halimi Zuhdy
Hamberan Syahbana
Han Gagas
Hanibal W. Y. Wijayanta
Hardi
Haris del Hakim
Haris Saputra
Harri Ash Shiddiqie
Hartono Harimurti
Hary B Kori’un
Hasan Aspahani
Hasan Junus
Hasif Amini
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
HE. Benyamine
Hendra Junaedi
Hendra Makmur
Heri CS
Heri Latief
Heri Listianto
Herman RN
Herry Lamongan
Heru CN
Heru Nugroho
Hikmat Gumelar
HL Renjis Magalah
Hudan Nur
Hujuala Rika Ayu
Huminca Sinaga
IBM. Dharma Palguna
Ibnu Wahyudi
Ida Farida
Idris Pasaribu
Ignas Kleden
Ignatius Haryanto
Iksan Basoeky
Ilham Khoiri
Imam Cahyono
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indiar Manggara
Indra Intisa
Indra Tjahyadi
Indra Tranggono
Indrian Koto
Ira Puspitaningsih
Irfan Budiman
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Iskandar Zulkarnain
Ismail Marzuki
Iva Titin Shovia
Iwan Kurniawan
Jabbar Abdullah
Jafar Fakhrurozi
Jalan Raya Simo Sungelebak
Jamal D. Rahman
Jamal T. Suryanata
Javed Paul Syatha
Jayaning S.A
JILFest 2008
Jody Setiawan
Johan Edy Raharjo
Johannes Sugianto
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Jual Buku
Jual Buku Paket Hemat
Juan Kromen
Julika Hasanah
Jurnalisme Sastrawi
Jusuf AN
Juwairiyah Mawardy
Ka’bati
Karanggeneng
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Keith Foulcher
Kemah Budaya Panturan (KBP)
Khansa Arifah Adila
Khoirul Inayah
Khoirul Rosyadi
Khudori Husnan
Ki Ompong Sudarsono
Kirana Kejora
Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Sastra Ilalang Indonesia
Korrie Layun Rampan
Kostela
Kritik Sastra
Kukuh S Wibowo
Kurnia Effendi
Kurniawan
Kuswaidi Syafi'ie
L.N. Idayanie
Laili Rahmawati
Lamongan
Lan Fang
Langgeng Widodo
Lathifa Akmaliyah
Leila S. Chudori
Lely Yuana
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Liestyo Ambarwati Khohar
Lina Kelana
Linda Sarmili
Liza Wahyuninto
Lucia Idayanie
Lukman A Sya
Lutfiah
Lynglieastrid Isabellita
M Arman AZ
M Ismail
M Thobroni
M. Afifuddin
M. Arwan Hamidi
M. Lukluk Atsmara Anjaina
M. Lutfi
M. Luthfi Aziz
M. Nurdin
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.S. Nugroho
Mahendra Cipta
Mahmud Jauhari Ali
Mahmud Syaltut Usfa
Mahmudi Arif Dahlan
Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Martin Aleida
Maruli Tobing
Mas Ruscita
Mashuri
Masuki M. Astro
Matroni
Matroni Muserang
Media: Crayon on Paper
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
MG. Sungatno
Mh Zaelani Tammaka
Mia Arista
Mia El Zahra
Mikael Johani
Misbahus Surur
Misran
Mohamad Ali Hisyam
Mohammad Eri Irawan
Much. Khoiri
Muh. Muhlisin
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Aris
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Rain
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun
Muhammadun AS
Muhidin M Dahlan
Mujtahid
Mujtahidin Billah
Mukti Sutarman Espe
Mulyadi SA
Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik
Munawir Aziz
Musfarayani
Musfi Efrizal
Nafisatul Husniah
Nandang Darana
Naskah Teater
Nelson Alwi
Ni Made Purnamasari
Nikmatus Sholikhah
Nina Herlina Lubis
Nina Susilo
Ning Elia
Noor H. Dee
Noval Jubbek
Novel-novel berbahasa Jawa
Novelet
Nunuy Nurhayati
Nur Azizah
Nur Hamzah
Nur Kholiq
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nurul Aini
Nurul Anam
Nurul Komariyah
Nuryana Asmaudi SA
Nyoman Tusthi Eddy
Obrolan
Okty Budiati
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Otto Sukatno CR
Oyos Saroso H.N.
Pagan Press
Pagelaran Musim Tandur
Palupi Panca Astuti
Parimono V / 40 Plandi Jombang
Pawang Surya Kencana
PDS H.B. Jassin
Petrus Nandi
Politik
Politik Sastra
Pradana Boy ZTF
Pramoedya Ananta Toer
Pramono
Pringadi AS
Prof Dr Fabiola D. Kurnia
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Puji Tyasari
Puput Amiranti N
Purnawan Andra
Purnawan Kristanto
Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin
Pustaka Ilalang Group
PUstaka puJAngga
Putu Wijaya
Qaris Tajudin
R. Ng. Ronggowarsito
Rachmad Djoko Pradopo
Radhar Panca Dahana
Rahmat Kemat Hidayatullah
Rahmat Sularso Nh
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rasanrasan Boengaketji
Raudal Tanjung Banua
Redland Movie
Reiny Dwinanda
Resensi
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Riki Dhamparan Putra
Riki Utomi
Ririe Rengganis
Risang Anom Pujayanto
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Roso Titi Sarkoro
Rozi Kembara
Rukardi
Rumah Budaya Pantura (RBP)
Rusmanadi
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Saiful Amin Ghofur
Saiful Anam
Sainul Hermawan
Sajak
Salamet Wahedi
Salman S. Yoga
Samsudin Adlawi
Samsul Anam
Sanggar Lukis Alam
Sanggar Pasir
Sanggar Rumah Ilalang KSII
Santi Puji Rahayu
Sapardi Djoko Damono
Saroni Asikin
Sartika Dian Nuraini
Sastra dan Kuasa Simbolik
Sastra Jawa Timur
Satmoko Budi Santoso
Saut Situmorang
Sayyid Fahmi Alathas
SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang
SelaSastra Boenga Ketjil
SelaSastra Boenga Ketjil #33
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Setia Naka Andrian
Shiny.ane el’poesya
Sholihul Huda
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sinopsis
Siti Khoeriyah
Siti Muyassarotul Hafidzoh
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputra
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Soegiharto
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sosiawan Leak
Spectrum Center Press
Sri Weni
Sri Wintala Achmad
Suci Ayu Latifah
Sucipto Hadi Purnomo
Sudirman
Sugi Lanus
Sukron Ma’mun
Sulaiman Djaya
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sungging Raga
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Supriyadi
Surya Lesmana
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Suyanto
Syaf Anton Wr
Syaifuddin Gani
Syaiful Amin
Syarif Wadja Bae
Sylvianita Widyawati
TanahmeraH ArtSpace
Tarmuzie (1961-2019)
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Presetyo
Teguh Setiawan
Teguh Winarsho AS
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Tia Setiadi
Tirto Suwondo
Tita Tjindarbumi
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan
Tosa Poetra
Tri Nurdianingsih
Triyanto Triwikromo
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Tulus S
Ulul Azmiyati
Umar Fauzi
Umar Fauzi Ballah
Umar Kayam
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Universitas Jember
Usman Arrumy
Utari Tri Prestianti
Viddy AD Daery
Virdika Rizky Utama
W Haryanto
W.S. Rendra
Wahyu Prasetya
Wan Anwar
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wina Bojonegoro
Wita Lestari
Wong Wing King
Wowok Hesti Prabowo
Xu Xi (Sussy Komala)
Y. Thendra BP
Y. Wibowo
Yanusa Nugroho
Yasraf Amir Piliang
Yayat R. Cipasang
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yopi Setia Umbara
Yudhi Herwibowo
Yudi Latif
Yusri Fajar
Yusuf Ariel Hakim
Yuval Noah Harari
Zacky Khairul Uman
Zainuddin Sugendal
Zamakhsyari Abrar
Zawawi Se
Zed Abidien
Zehan Zareez
Zhaenal Fanani
Zubaidi Khan
Zuniest
Tidak ada komentar:
Posting Komentar