Sabtu, 03 September 2011

Hamsad, dari Lorong Pasar di Kisaran

Maruli Tobing
Kompas, 21 Okt 2007

Kemiskinan adalah bencana. Ia bukan sekadar persoalan memenuhi kebutuhan pangan, tetapi meniadakan harapan dan cita-cita manusia. Maka, amarah dan dendam kerap muncul ketika orang berjalan terbongkok-bongkok dan ringsek memikul beban kemiskinan.

Cerpenis Hamsad Rangkuti (64) merasakan bencana itu sebagai hal nyata saat ayahnya, Muhammad Saleh Rangkuty, mengatakan tidak punya uang untuk membeli buku. Hamsad yang baru duduk di bangku kelas I SMA di Tanjungbalai, Sumatera Utara, pada awal 1960, akhirnya harus berhenti sekolah.

Ia kembali ke kehidupan yang dia lakoni selama ini, yakni menemani ayahnya sebagai penjaga malam di pasar kota kecil, Kisaran, sekitar 150 kilometer dari Medan, Sumut. “Setiap kali saya berpapasan dengan pelajar SMA yang berangkat atau pulang sekolah, muncul dalam diri saya gejolak amarah dan dendam kepada Ayah,” ujar Hamsad.

Lahir 7 Mei 1943 di Medan, orangtuanya memberi nama Hasyim Rangkuti. Ketika masih balita, orangtuanya memboyong Hasyim pindah ke Kisaran, kota kecil yang dikelilingi perkebunan karet dan sawit. Dalam perjalanan waktu, Hasyim mengubah namanya menjadi Hamsad Rangkuti.

Hamsad tidak menjelaskan apakah kepindahan itu terkait dengan situasi Kota Medan menjelang usainya Perang Pasifik, yang disusul perang Medan Area dan pergolakan politik di dalam negeri. Dalam perang Medan Area (1946) melawan pasukan kolonial Belanda, barisan laskar menerapkan taktik bumi hangus dan mengungsikan penduduk secara besar-besaran.

Terkait atau tidak dengan perang kemerdekaan, orangtua Hamsad adalah wong cilik dalam arti sesungguhnya. Tidak mempunyai rumah tempat berteduh, kecuali menumpang di rumah saudara secara berpindah-pindah.

Ayahnya yang meninggal pada usia 88 tahun, hampir sepanjang hidupnya bekerja sebagai penjaga malam dan pemikul air di sebuah pasar di Kisaran. Ibunya menjual buah-buahan pada malam hari di depan bioskop. Dari penghasilan inilah keenam anaknya—tiga pria dan tiga wanita—bertahan hidup.

Dalam penulisan sejarah perang kemerdekaan, jenis wong cilik seperti Muhammad Saleh tidak tercatat. Sumbangsihnya dianggap nihil karena dianggap terikat pada perkara besar dan mendesak diselesaikan, yaitu memenuhi kebutuhan pangan. Penulis sejarah lebih gemar bertutur dan berilusi tentang “kepahlawanan” tokoh tertentu.

Lantas, seperti halnya kanker yang cenderung merambat ke bagian tubuh lain, kemiskinan juga demikian. Sejak duduk di bangku SD, Hamsad, anak keempat dari enam bersaudara, tidur di lorong-lorong kios menemani ayahnya.

Sementara ibunya, Djamilah, akhirnya terserang penyakit TBC. Penyakit ini makin ganas dari waktu ke waktu.

Atas keinginan mempertahankan hidup, Djamilah dibawa ke Medan untuk berobat. Itu pun dengan harapan saudara-saudara yang tinggal di kota tersebut akan tergugah membantu biaya.

Saudara adalah saudara dalam arti seluas-luasnya maupun khusus. Tetapi, ketika sampai pada masalah uang, ikatan darah tersebut menjadi semu dan hanya sebatas ucapan. Masing-masing pihak memilih menyembunyikan setiap rupiahnya sebagai tabungan pengaman pada zaman pergolakan politik.

Alhasil, seperti halnya warga miskin lainnya, perawatan di rumah sakit hanyalah impian. Djamilah akhirnya mengembuskan napas di Medan tahun 1954, atau lima tahun setelah pengakuan kedaulatan RI.

Dalam hal ini revolusi sosial di Sumatera Timur, termasuk Kisaran, yang dimotori kelompok kiri (1946), ternyata bukan merevolusionerkan hubungan produksi. Ia hanya sekadar aksi balas dendam dan penjarahan yang memakan banyak korban. Salah satu di antaranya adalah penyair Amir Hamzah, yang dibunuh secara biadab.

Maka di tengah eforia kemerdekaan dan revolusi bersenjata, mereka yang melarat tetap melarat dan terasing. Seperti halnya keluarga Muhammad Saleh.

Sejak sekolah rakyat

Hamsad mulai mengarang cerpen sejak duduk di bangku SD (dahulu SR, sekolah rakyat). Awalnya adalah kegemarannya membaca cerpen di surat kabar terbitan Medan yang ditempelkan di papan pengumuman kantor kawedanan. Lokasinya persis di depan pasar. “Kerap cerpen yang dimuat terjemahan karya Anton Chekhov, Hemingway, atau Maxim Gorky,” ujar Hamsad mengenang masa lalu.

Hamsad lalu menjadi tertarik menulis cerpen dengan memanfaatkan mesin ketik di kantor kawedanaan. Tanpa sepengetahuannya, sepupunya mengirim cerpennya ke salah satu surat kabar di Medan dan diterbitkan. Hamsad terperanjat, antara percaya dan tidak.

Sejak dimuatnya Sebuah Lagu di Rambung Tua, tumbuh keyakinan dirinya untuk menjadi penulis. Cerpen tersebut ditulis saat Hamsad di bangku kelas VI SD.

Setelah putus sekolah di SMA akibat kesulitan ekonomi, Hamsad yang memendam amarah dan kecewa kepada ayahnya sempat lama luntang-lantung di pasar Kisaran. Sikapnya mulai berubah setelah bergabung dengan sanggar drama setempat. Mementaskan drama di desa-desa dan gedung bioskop secara musiman, khususnya menjelang 17 Agustus.

Di sini persoalan purba muncul kembali. Ia harus makan agar tetap hidup. Pentas drama sendiri bukanlah bentuk pekerjaan yang dapat memberi nafkah. Alhasil, Hamsad bekerja sebagai pemecah batu. Kelak meningkat setahap lagi sebagai tukang cat atap rumah. Lowongan pekerjaan lain adalah hal mustahil karena saat itu berjubel angkatan muda pengangguran.

Lompatan besar dalam hidupnya terjadi ketika pindah ke Medan atas permintaan neneknya, tahun 1960. Berkat bantuan sepupunya, seorang militer berpangkat kapten TNI AD, Hamsad diterima bekerja sebagai pegawai negeri golongan C2 di Inspektorat Kehakiman Kodam II/Bukit Barisan.

Sejak itulah Hamsad mulai bernapas lega, menyisihkan uang membeli buku dan mesin ketik. Cerpen-cerpennya muncul di surat kabar terbitan Medan. Berbeda dengan cerpenis setempat yang gandrung pada kisah-kisah asmara, Hamsad tampil dengan sosok kritik sosial. Dengan sendirinya dia mengejutkan para seniman mapan di Medan.

Impiannya melihat ibu kota Indonesia terwujud ketika ia disertakan dalam delegasi Kongres Karyawan Pengarang Indonesia di Jakarta (1964). Mantan buruh bangunan ini merasa bersyukur karena dalam kongres tersebut dapat bertemu dengan pengarang-pengarang besar.

Namun, sejak itu pula Hamsad terpikat kehidupan seniman di Jakarta. Sekembalinya di Medan, ia gelisah. Pikirannya tetap melambung ke Jakarta. Hamsad kemudian mencari-cari jalan bagaimana caranya agar dapat ke Jakarta dan menetap di sana.

Tahun berikutnya hal ini terjawab. Ia disisipkan mewakili seniman berbasis NU dalam rombongan Kongres Tani di Jakarta (1965). Sejak itulah Hamsad menetap di Jakarta. Awalnya menumpang di rumah Zulharman Said dan Balai Budaya.

Pencatat naskah

Tidak ada yang abadi di dunia, kecuali kematian. Selama manusia dapat berpikir, meskipun dalam kepahitan, perubahan bukan hal mustahil. Hamsad Rangkuti mengalaminya ketika Arief Budiman menawarkan pekerjaan sebagai pencatat naskah di majalah Horison tahun 1969. “Tidak terbayangkan dahulu bahwa saya akan diterima bekerja di majalah sastra Horison,” kata Hamsad.

Hamsad merasa bangga dan meningkat statusnya. Walaupun hanya pencatat naskah, ia bekerja bersama sastrawan sekaliber HB Jassin. Lebih menggembirakan lagi, beberapa tahun kemudian ia “dipromosikan” sebagai korektor.

Keajaiban lain tiba-tiba muncul ketika Arief Budiman meminta Hamsad agar bersedia menjadi Pemimpin Redaksi Horison. Pada waktu itu keluar keputusan pemerintah mengenai perubahan SIT (surat izin terbit) menjadi SIUPP (surat izin usaha penerbitan pers). Permohonan SIUPP harus diajukan pemimpin redaksi yang lulus P4 dan anggota PWI. Celakanya, tidak seorang pun pimpinan Horison bersedia untuk itu.

Hamsad Rangkuti menerima tawaran tersebut karena mengikuti kursus P4 dan menjadi anggota PWI bukanlah kejahatan. “Saya tidak campur urusan politik, kecuali menulis karangan yang memuat kritik sosial,” ujarnya. Hamsad kemudian menjadi Pemimpin Redaksi Horison periode 1986-2002. Status yang dahulu kala dianggapnya “keramat”.

Tahun 2003, kumpulan cerpennya, Bibir dalam Pispot, memenangkan Khatulistiwa Literary Award. Ia mendapat hadiah Rp 70 juta dan British Council mensponsori perjalanannya bersama istri selama satu bulan di Inggris.

“Saya menangis menyaksikan lukisan asli Rembrandt dan (Vincent) van Gogh di museum, London. Tidak terbayangkan anak seorang penjaga malam di sebuah pasar berkesempatan menyaksikan langsung karya asli pelukis besar itu,” kata Hamsad.

Lebih dari sekadar mengenang masa lalu dan keprihatinan Hamsad terhadap jutaan anak-anak orang melarat, ihwal kemiskinan itu sendiri ternyata berkesinambungan. Seperti halnya usia Hamsad Rangkuti (64), kemiskinan hadir sebelum maupun setelah Indonesia merdeka. Beranak-pinak dan merembes di mana-mana.

Dalam hal ini kemerdekaan RI hanyalah sebatas ucapan, seperti halnya “selamat pagi” atau “apa kabar?”.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/10/persona-hamsad-dari-lorong-pasar-di.html

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Ginandjar Wiludjeng A. Junianto A. Kurnia A. Qorib Hidayatullah A. Yusrianto Elga A.S Laksana A’yat Khalili Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Razak Abdul Rosyid Abdul Wahab Abdurrahman Wahid Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adam Chiefni Ade P. Nasution Adhitia Armitriant Adi Prasetyo Adrizas AF. Tuasikal Afriza Hanifa Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agnes Rita Sulistyawaty Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunyoto Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Baso Ahmad Faishal Ahmad Fatoni Ahmad Hasan MS Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Khotim Muzakka Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Naufel Ahmad Rofiq Ahmad S. Zahari Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Ainul Fiah Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Alex R. Nainggolan Alfian Dippahatang Ali Audah Ali Mahmudi CH Ali Rif’an Almania Rohmah Ami Herman Amien Wangsitalaja Aminah Aminullah HA.Noor Amir Sutaarga Anam Rahus Anata Siregar Andari Karina Anom Andina Dwifatma Andong Buku #3 Andre Mediansyah Andri Awan Anett Tapai Anggie Melianna Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Wahyudi Anwar Nuris Ardi Bramantyo Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arie Yani Arief Joko Wicaksono Arief Junianto Ariera Arif Bagus Prasetyo Aris Kurniawan Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asmaul Fauziyah Asti Musman Atafras Awalludin GD Mualif Ayu Wulan Sari Aziz Abdul Gofar Azizah Hefni Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Balok Sf Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Benny Arnas Benny Benke Beno Siang Pamungkas Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Bernando J Sujibto Berthold Damshauser BI Purwantari Binhad Nurrohmat Bobby Gunawan Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Burhanuddin Bella Camelia Mafaza Catatan Cerbung Cerpen Chairul Akhmad Chamim Kohari Chavchay Syaifullah Cover Buku Cucuk Espe D. Zaini Ahmad D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Dahta Gautama Daisuke Miyoshi Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Danusantoso Dareen Tatour Darju Prasetya David Kuncara Denny Mizhar Denza Perdana Desi Sommalia Gustina Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewi Indah Sari Dewi Susme Dian Sukarno Didik Harianto Didik Kusbiantoro Dina Jerphanion Dina Oktaviani Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur Dipo Handoko Diyah Errita Damayanti Djoko Pitono Djoko Saryono Doddy Wisnu Pribadi Dody Kristianto Dody Yan Masfa Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi SS MHum Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Wiyana Dyah Ratna Meta Novia Dyah Sulistyorini Ecep Heryadi Eddy Pranata PNP Edeng Syamsul Ma’arif Eep Saefulloh Fatah EH Kartanegara Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Hendrawan Sofyan Eko Hendri Saiful Eko Windarto Elnisya Mahendra Elva Lestary Emha Ainun Nadjib Emil WE Endah Sulwesi Endo Suanda Eppril Wulaningtyas R Esai Evan Ys F. Moses F. Rahardi Fadlillah Malin Sutan Fahmi Faqih Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Kurnianto Fanani Rahman Fanny Chotimah Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Febby Fortinella Rusmoyo Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Gabriel Garcia Marquez Galang Ari P. Galuh Tulus Utama Gampang Prawoto Gandra Gupta Ganug Nugroho Adi Gerson Poyk Ghassan Kanafani Gita Nuari Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunoto Saparie H.B. Jassin Habibullah Hadi Napster Hadriani Pudjiarti Halim HD Halimi Zuhdy Hamberan Syahbana Han Gagas Hanibal W. Y. Wijayanta Hardi Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Hartono Harimurti Hary B Kori’un Hasan Aspahani Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana HE. Benyamine Hendra Junaedi Hendra Makmur Heri CS Heri Latief Heri Listianto Herman RN Herry Lamongan Heru CN Heru Nugroho Hikmat Gumelar HL Renjis Magalah Hudan Nur Hujuala Rika Ayu Huminca Sinaga IBM. Dharma Palguna Ibnu Wahyudi Ida Farida Idris Pasaribu Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilham Khoiri Imam Cahyono Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indiar Manggara Indra Intisa Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ira Puspitaningsih Irfan Budiman Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Zulkarnain Ismail Marzuki Iva Titin Shovia Iwan Kurniawan Jabbar Abdullah Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D. Rahman Jamal T. Suryanata Javed Paul Syatha Jayaning S.A JILFest 2008 Jody Setiawan Johan Edy Raharjo Johannes Sugianto Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Juan Kromen Julika Hasanah Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN Juwairiyah Mawardy Ka’bati Karanggeneng Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Keith Foulcher Kemah Budaya Panturan (KBP) Khansa Arifah Adila Khoirul Inayah Khoirul Rosyadi Khudori Husnan Ki Ompong Sudarsono Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Sastra Ilalang Indonesia Korrie Layun Rampan Kostela Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie L.N. Idayanie Laili Rahmawati Lamongan Lan Fang Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lely Yuana Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Liestyo Ambarwati Khohar Lina Kelana Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lucia Idayanie Lukman A Sya Lutfiah Lynglieastrid Isabellita M Arman AZ M Ismail M Thobroni M. Afifuddin M. Arwan Hamidi M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Luthfi Aziz M. Nurdin M. Yoesoef M.D. Atmaja M.S. Nugroho Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Mahmud Syaltut Usfa Mahmudi Arif Dahlan Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Martin Aleida Maruli Tobing Mas Ruscita Mashuri Masuki M. Astro Matroni Matroni Muserang Media: Crayon on Paper Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Mia Arista Mia El Zahra Mikael Johani Misbahus Surur Misran Mohamad Ali Hisyam Mohammad Eri Irawan Much. Khoiri Muh. Muhlisin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun Muhammadun AS Muhidin M Dahlan Mujtahid Mujtahidin Billah Mukti Sutarman Espe Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Munawir Aziz Musfarayani Musfi Efrizal Nafisatul Husniah Nandang Darana Naskah Teater Nelson Alwi Ni Made Purnamasari Nikmatus Sholikhah Nina Herlina Lubis Nina Susilo Ning Elia Noor H. Dee Noval Jubbek Novel-novel berbahasa Jawa Novelet Nunuy Nurhayati Nur Azizah Nur Hamzah Nur Kholiq Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurul Aini Nurul Anam Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi SA Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Okty Budiati Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Otto Sukatno CR Oyos Saroso H.N. Pagan Press Pagelaran Musim Tandur Palupi Panca Astuti Parimono V / 40 Plandi Jombang Pawang Surya Kencana PDS H.B. Jassin Petrus Nandi Politik Politik Sastra Pradana Boy ZTF Pramoedya Ananta Toer Pramono Pringadi AS Prof Dr Fabiola D. Kurnia Prosa Puisi Puji Santosa Puji Tyasari Puput Amiranti N Purnawan Andra Purnawan Kristanto Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang Group PUstaka puJAngga Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Ng. Ronggowarsito Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Kemat Hidayatullah Rahmat Sularso Nh Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rasanrasan Boengaketji Raudal Tanjung Banua Redland Movie Reiny Dwinanda Resensi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Ririe Rengganis Risang Anom Pujayanto Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roso Titi Sarkoro Rozi Kembara Rukardi Rumah Budaya Pantura (RBP) Rusmanadi S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saiful Amin Ghofur Saiful Anam Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Salman S. Yoga Samsudin Adlawi Samsul Anam Sanggar Lukis Alam Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang KSII Santi Puji Rahayu Sapardi Djoko Damono Saroni Asikin Sartika Dian Nuraini Sastra dan Kuasa Simbolik Sastra Jawa Timur Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil SelaSastra Boenga Ketjil #33 Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sinopsis Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputra Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soegiharto Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Spectrum Center Press Sri Weni Sri Wintala Achmad Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudirman Sugi Lanus Sukron Ma’mun Sulaiman Djaya Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungging Raga Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Supriyadi Surya Lesmana Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyanto Syaf Anton Wr Syaifuddin Gani Syaiful Amin Syarif Wadja Bae Sylvianita Widyawati TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie (1961-2019) Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Presetyo Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Tia Setiadi Tirto Suwondo Tita Tjindarbumi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tosa Poetra Tri Nurdianingsih Triyanto Triwikromo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus S Ulul Azmiyati Umar Fauzi Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Utari Tri Prestianti Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W Haryanto W.S. Rendra Wahyu Prasetya Wan Anwar Wawan Eko Yulianto Wawancara Wina Bojonegoro Wita Lestari Wong Wing King Wowok Hesti Prabowo Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yanusa Nugroho Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yopi Setia Umbara Yudhi Herwibowo Yudi Latif Yusri Fajar Yusuf Ariel Hakim Yuval Noah Harari Zacky Khairul Uman Zainuddin Sugendal Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zed Abidien Zehan Zareez Zhaenal Fanani Zubaidi Khan Zuniest