Maruli Tobing
Kompas, 21 Okt 2007
Kemiskinan adalah bencana. Ia bukan sekadar persoalan memenuhi kebutuhan pangan, tetapi meniadakan harapan dan cita-cita manusia. Maka, amarah dan dendam kerap muncul ketika orang berjalan terbongkok-bongkok dan ringsek memikul beban kemiskinan.
Cerpenis Hamsad Rangkuti (64) merasakan bencana itu sebagai hal nyata saat ayahnya, Muhammad Saleh Rangkuty, mengatakan tidak punya uang untuk membeli buku. Hamsad yang baru duduk di bangku kelas I SMA di Tanjungbalai, Sumatera Utara, pada awal 1960, akhirnya harus berhenti sekolah.
Ia kembali ke kehidupan yang dia lakoni selama ini, yakni menemani ayahnya sebagai penjaga malam di pasar kota kecil, Kisaran, sekitar 150 kilometer dari Medan, Sumut. “Setiap kali saya berpapasan dengan pelajar SMA yang berangkat atau pulang sekolah, muncul dalam diri saya gejolak amarah dan dendam kepada Ayah,” ujar Hamsad.
Lahir 7 Mei 1943 di Medan, orangtuanya memberi nama Hasyim Rangkuti. Ketika masih balita, orangtuanya memboyong Hasyim pindah ke Kisaran, kota kecil yang dikelilingi perkebunan karet dan sawit. Dalam perjalanan waktu, Hasyim mengubah namanya menjadi Hamsad Rangkuti.
Hamsad tidak menjelaskan apakah kepindahan itu terkait dengan situasi Kota Medan menjelang usainya Perang Pasifik, yang disusul perang Medan Area dan pergolakan politik di dalam negeri. Dalam perang Medan Area (1946) melawan pasukan kolonial Belanda, barisan laskar menerapkan taktik bumi hangus dan mengungsikan penduduk secara besar-besaran.
Terkait atau tidak dengan perang kemerdekaan, orangtua Hamsad adalah wong cilik dalam arti sesungguhnya. Tidak mempunyai rumah tempat berteduh, kecuali menumpang di rumah saudara secara berpindah-pindah.
Ayahnya yang meninggal pada usia 88 tahun, hampir sepanjang hidupnya bekerja sebagai penjaga malam dan pemikul air di sebuah pasar di Kisaran. Ibunya menjual buah-buahan pada malam hari di depan bioskop. Dari penghasilan inilah keenam anaknya—tiga pria dan tiga wanita—bertahan hidup.
Dalam penulisan sejarah perang kemerdekaan, jenis wong cilik seperti Muhammad Saleh tidak tercatat. Sumbangsihnya dianggap nihil karena dianggap terikat pada perkara besar dan mendesak diselesaikan, yaitu memenuhi kebutuhan pangan. Penulis sejarah lebih gemar bertutur dan berilusi tentang “kepahlawanan” tokoh tertentu.
Lantas, seperti halnya kanker yang cenderung merambat ke bagian tubuh lain, kemiskinan juga demikian. Sejak duduk di bangku SD, Hamsad, anak keempat dari enam bersaudara, tidur di lorong-lorong kios menemani ayahnya.
Sementara ibunya, Djamilah, akhirnya terserang penyakit TBC. Penyakit ini makin ganas dari waktu ke waktu.
Atas keinginan mempertahankan hidup, Djamilah dibawa ke Medan untuk berobat. Itu pun dengan harapan saudara-saudara yang tinggal di kota tersebut akan tergugah membantu biaya.
Saudara adalah saudara dalam arti seluas-luasnya maupun khusus. Tetapi, ketika sampai pada masalah uang, ikatan darah tersebut menjadi semu dan hanya sebatas ucapan. Masing-masing pihak memilih menyembunyikan setiap rupiahnya sebagai tabungan pengaman pada zaman pergolakan politik.
Alhasil, seperti halnya warga miskin lainnya, perawatan di rumah sakit hanyalah impian. Djamilah akhirnya mengembuskan napas di Medan tahun 1954, atau lima tahun setelah pengakuan kedaulatan RI.
Dalam hal ini revolusi sosial di Sumatera Timur, termasuk Kisaran, yang dimotori kelompok kiri (1946), ternyata bukan merevolusionerkan hubungan produksi. Ia hanya sekadar aksi balas dendam dan penjarahan yang memakan banyak korban. Salah satu di antaranya adalah penyair Amir Hamzah, yang dibunuh secara biadab.
Maka di tengah eforia kemerdekaan dan revolusi bersenjata, mereka yang melarat tetap melarat dan terasing. Seperti halnya keluarga Muhammad Saleh.
Sejak sekolah rakyat
Hamsad mulai mengarang cerpen sejak duduk di bangku SD (dahulu SR, sekolah rakyat). Awalnya adalah kegemarannya membaca cerpen di surat kabar terbitan Medan yang ditempelkan di papan pengumuman kantor kawedanan. Lokasinya persis di depan pasar. “Kerap cerpen yang dimuat terjemahan karya Anton Chekhov, Hemingway, atau Maxim Gorky,” ujar Hamsad mengenang masa lalu.
Hamsad lalu menjadi tertarik menulis cerpen dengan memanfaatkan mesin ketik di kantor kawedanaan. Tanpa sepengetahuannya, sepupunya mengirim cerpennya ke salah satu surat kabar di Medan dan diterbitkan. Hamsad terperanjat, antara percaya dan tidak.
Sejak dimuatnya Sebuah Lagu di Rambung Tua, tumbuh keyakinan dirinya untuk menjadi penulis. Cerpen tersebut ditulis saat Hamsad di bangku kelas VI SD.
Setelah putus sekolah di SMA akibat kesulitan ekonomi, Hamsad yang memendam amarah dan kecewa kepada ayahnya sempat lama luntang-lantung di pasar Kisaran. Sikapnya mulai berubah setelah bergabung dengan sanggar drama setempat. Mementaskan drama di desa-desa dan gedung bioskop secara musiman, khususnya menjelang 17 Agustus.
Di sini persoalan purba muncul kembali. Ia harus makan agar tetap hidup. Pentas drama sendiri bukanlah bentuk pekerjaan yang dapat memberi nafkah. Alhasil, Hamsad bekerja sebagai pemecah batu. Kelak meningkat setahap lagi sebagai tukang cat atap rumah. Lowongan pekerjaan lain adalah hal mustahil karena saat itu berjubel angkatan muda pengangguran.
Lompatan besar dalam hidupnya terjadi ketika pindah ke Medan atas permintaan neneknya, tahun 1960. Berkat bantuan sepupunya, seorang militer berpangkat kapten TNI AD, Hamsad diterima bekerja sebagai pegawai negeri golongan C2 di Inspektorat Kehakiman Kodam II/Bukit Barisan.
Sejak itulah Hamsad mulai bernapas lega, menyisihkan uang membeli buku dan mesin ketik. Cerpen-cerpennya muncul di surat kabar terbitan Medan. Berbeda dengan cerpenis setempat yang gandrung pada kisah-kisah asmara, Hamsad tampil dengan sosok kritik sosial. Dengan sendirinya dia mengejutkan para seniman mapan di Medan.
Impiannya melihat ibu kota Indonesia terwujud ketika ia disertakan dalam delegasi Kongres Karyawan Pengarang Indonesia di Jakarta (1964). Mantan buruh bangunan ini merasa bersyukur karena dalam kongres tersebut dapat bertemu dengan pengarang-pengarang besar.
Namun, sejak itu pula Hamsad terpikat kehidupan seniman di Jakarta. Sekembalinya di Medan, ia gelisah. Pikirannya tetap melambung ke Jakarta. Hamsad kemudian mencari-cari jalan bagaimana caranya agar dapat ke Jakarta dan menetap di sana.
Tahun berikutnya hal ini terjawab. Ia disisipkan mewakili seniman berbasis NU dalam rombongan Kongres Tani di Jakarta (1965). Sejak itulah Hamsad menetap di Jakarta. Awalnya menumpang di rumah Zulharman Said dan Balai Budaya.
Pencatat naskah
Tidak ada yang abadi di dunia, kecuali kematian. Selama manusia dapat berpikir, meskipun dalam kepahitan, perubahan bukan hal mustahil. Hamsad Rangkuti mengalaminya ketika Arief Budiman menawarkan pekerjaan sebagai pencatat naskah di majalah Horison tahun 1969. “Tidak terbayangkan dahulu bahwa saya akan diterima bekerja di majalah sastra Horison,” kata Hamsad.
Hamsad merasa bangga dan meningkat statusnya. Walaupun hanya pencatat naskah, ia bekerja bersama sastrawan sekaliber HB Jassin. Lebih menggembirakan lagi, beberapa tahun kemudian ia “dipromosikan” sebagai korektor.
Keajaiban lain tiba-tiba muncul ketika Arief Budiman meminta Hamsad agar bersedia menjadi Pemimpin Redaksi Horison. Pada waktu itu keluar keputusan pemerintah mengenai perubahan SIT (surat izin terbit) menjadi SIUPP (surat izin usaha penerbitan pers). Permohonan SIUPP harus diajukan pemimpin redaksi yang lulus P4 dan anggota PWI. Celakanya, tidak seorang pun pimpinan Horison bersedia untuk itu.
Hamsad Rangkuti menerima tawaran tersebut karena mengikuti kursus P4 dan menjadi anggota PWI bukanlah kejahatan. “Saya tidak campur urusan politik, kecuali menulis karangan yang memuat kritik sosial,” ujarnya. Hamsad kemudian menjadi Pemimpin Redaksi Horison periode 1986-2002. Status yang dahulu kala dianggapnya “keramat”.
Tahun 2003, kumpulan cerpennya, Bibir dalam Pispot, memenangkan Khatulistiwa Literary Award. Ia mendapat hadiah Rp 70 juta dan British Council mensponsori perjalanannya bersama istri selama satu bulan di Inggris.
“Saya menangis menyaksikan lukisan asli Rembrandt dan (Vincent) van Gogh di museum, London. Tidak terbayangkan anak seorang penjaga malam di sebuah pasar berkesempatan menyaksikan langsung karya asli pelukis besar itu,” kata Hamsad.
Lebih dari sekadar mengenang masa lalu dan keprihatinan Hamsad terhadap jutaan anak-anak orang melarat, ihwal kemiskinan itu sendiri ternyata berkesinambungan. Seperti halnya usia Hamsad Rangkuti (64), kemiskinan hadir sebelum maupun setelah Indonesia merdeka. Beranak-pinak dan merembes di mana-mana.
Dalam hal ini kemerdekaan RI hanyalah sebatas ucapan, seperti halnya “selamat pagi” atau “apa kabar?”.
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/10/persona-hamsad-dari-lorong-pasar-di.html
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Ginandjar Wiludjeng
A. Junianto
A. Kurnia
A. Qorib Hidayatullah
A. Yusrianto Elga
A.S Laksana
A’yat Khalili
Aang Fatihul Islam
Abdul Azis Sukarno
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi WM
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Malik
Abdul Razak
Abdul Rosyid
Abdul Wahab
Abdurrahman Wahid
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adam Chiefni
Ade P. Nasution
Adhitia Armitriant
Adi Prasetyo
Adrizas
AF. Tuasikal
Afriza Hanifa
Afrizal Malna
Agama Para Bajingan
Agnes Rita Sulistyawaty
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Buchori
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahmad Baso
Ahmad Faishal
Ahmad Fatoni
Ahmad Hasan MS
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Khotim Muzakka
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Naufel
Ahmad Rofiq
Ahmad S. Zahari
Ahmad Syauqi Sumbawi
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ahsanu Nadia
Aini Aviena Violeta
Ainul Fiah
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sekhu
Akhmad Sofyan Hadi
Akhmad Taufiq
Akhudiat
Akmal Nasery Basral
Alam Terkembang
Alang Khoiruddin
Alex R. Nainggolan
Alfian Dippahatang
Ali Audah
Ali Mahmudi CH
Ali Rif’an
Almania Rohmah
Ami Herman
Amien Wangsitalaja
Aminah
Aminullah HA.Noor
Amir Sutaarga
Anam Rahus
Anata Siregar
Andari Karina Anom
Andina Dwifatma
Andong Buku #3
Andre Mediansyah
Andri Awan
Anett Tapai
Anggie Melianna
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anjrah Lelono Broto
Anton Bae
Anton Kurnia
Anton Wahyudi
Anwar Nuris
Ardi Bramantyo
Ardus M Sawega
Arie MP Tamba
Arie Yani
Arief Joko Wicaksono
Arief Junianto
Ariera
Arif Bagus Prasetyo
Aris Kurniawan
Arman A.Z.
Arswendo Atmowiloto
Arti Bumi Intaran
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Asmaul Fauziyah
Asti Musman
Atafras
Awalludin GD Mualif
Ayu Wulan Sari
Aziz Abdul Gofar
Azizah Hefni
Bagus Takwin
Bahrul Ulum A. Malik
Balada
Bale Aksara
Balok Sf
Bambang Kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Beni Setia
Benny Arnas
Benny Benke
Beno Siang Pamungkas
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita
Berita Duka
Berita Koran
Bernando J Sujibto
Berthold Damshauser
BI Purwantari
Binhad Nurrohmat
Bobby Gunawan
Bonari Nabonenar
Brunel University London
Budaya
Budi Darma
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Burhanuddin Bella
Camelia Mafaza
Catatan
Cerbung
Cerpen
Chairul Akhmad
Chamim Kohari
Chavchay Syaifullah
Cover Buku
Cucuk Espe
D. Zaini Ahmad
D. Zawawi Imron
Dadang Ari Murtono
Dahta Gautama
Daisuke Miyoshi
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Danusantoso
Dareen Tatour
Darju Prasetya
David Kuncara
Denny Mizhar
Denza Perdana
Desi Sommalia Gustina
Desiana Medya A.L
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dewi Indah Sari
Dewi Susme
Dian Sukarno
Didik Harianto
Didik Kusbiantoro
Dina Jerphanion
Dina Oktaviani
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur
Dipo Handoko
Diyah Errita Damayanti
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Doddy Wisnu Pribadi
Dody Kristianto
Dody Yan Masfa
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dorothea Rosa Herliany
Dr Junaidi SS MHum
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi Wiyana
Dyah Ratna Meta Novia
Dyah Sulistyorini
Ecep Heryadi
Eddy Pranata PNP
Edeng Syamsul Ma’arif
Eep Saefulloh Fatah
EH Kartanegara
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Hendrawan Sofyan
Eko Hendri Saiful
Eko Windarto
Elnisya Mahendra
Elva Lestary
Emha Ainun Nadjib
Emil WE
Endah Sulwesi
Endo Suanda
Eppril Wulaningtyas R
Esai
Evan Ys
F. Moses
F. Rahardi
Fadlillah Malin Sutan
Fahmi Faqih
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Kurnianto
Fanani Rahman
Fanny Chotimah
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Febby Fortinella Rusmoyo
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Gabriel Garcia Marquez
Galang Ari P.
Galuh Tulus Utama
Gampang Prawoto
Gandra Gupta
Ganug Nugroho Adi
Gerson Poyk
Ghassan Kanafani
Gita Nuari
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gunoto Saparie
H.B. Jassin
Habibullah
Hadi Napster
Hadriani Pudjiarti
Halim HD
Halimi Zuhdy
Hamberan Syahbana
Han Gagas
Hanibal W. Y. Wijayanta
Hardi
Haris del Hakim
Haris Saputra
Harri Ash Shiddiqie
Hartono Harimurti
Hary B Kori’un
Hasan Aspahani
Hasan Junus
Hasif Amini
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
HE. Benyamine
Hendra Junaedi
Hendra Makmur
Heri CS
Heri Latief
Heri Listianto
Herman RN
Herry Lamongan
Heru CN
Heru Nugroho
Hikmat Gumelar
HL Renjis Magalah
Hudan Nur
Hujuala Rika Ayu
Huminca Sinaga
IBM. Dharma Palguna
Ibnu Wahyudi
Ida Farida
Idris Pasaribu
Ignas Kleden
Ignatius Haryanto
Iksan Basoeky
Ilham Khoiri
Imam Cahyono
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indiar Manggara
Indra Intisa
Indra Tjahyadi
Indra Tranggono
Indrian Koto
Ira Puspitaningsih
Irfan Budiman
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Iskandar Zulkarnain
Ismail Marzuki
Iva Titin Shovia
Iwan Kurniawan
Jabbar Abdullah
Jafar Fakhrurozi
Jalan Raya Simo Sungelebak
Jamal D. Rahman
Jamal T. Suryanata
Javed Paul Syatha
Jayaning S.A
JILFest 2008
Jody Setiawan
Johan Edy Raharjo
Johannes Sugianto
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Jual Buku
Jual Buku Paket Hemat
Juan Kromen
Julika Hasanah
Jurnalisme Sastrawi
Jusuf AN
Juwairiyah Mawardy
Ka’bati
Karanggeneng
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Keith Foulcher
Kemah Budaya Panturan (KBP)
Khansa Arifah Adila
Khoirul Inayah
Khoirul Rosyadi
Khudori Husnan
Ki Ompong Sudarsono
Kirana Kejora
Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Sastra Ilalang Indonesia
Korrie Layun Rampan
Kostela
Kritik Sastra
Kukuh S Wibowo
Kurnia Effendi
Kurniawan
Kuswaidi Syafi'ie
L.N. Idayanie
Laili Rahmawati
Lamongan
Lan Fang
Langgeng Widodo
Lathifa Akmaliyah
Leila S. Chudori
Lely Yuana
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Liestyo Ambarwati Khohar
Lina Kelana
Linda Sarmili
Liza Wahyuninto
Lucia Idayanie
Lukman A Sya
Lutfiah
Lynglieastrid Isabellita
M Arman AZ
M Ismail
M Thobroni
M. Afifuddin
M. Arwan Hamidi
M. Lukluk Atsmara Anjaina
M. Lutfi
M. Luthfi Aziz
M. Nurdin
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.S. Nugroho
Mahendra Cipta
Mahmud Jauhari Ali
Mahmud Syaltut Usfa
Mahmudi Arif Dahlan
Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Martin Aleida
Maruli Tobing
Mas Ruscita
Mashuri
Masuki M. Astro
Matroni
Matroni Muserang
Media: Crayon on Paper
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
MG. Sungatno
Mh Zaelani Tammaka
Mia Arista
Mia El Zahra
Mikael Johani
Misbahus Surur
Misran
Mohamad Ali Hisyam
Mohammad Eri Irawan
Much. Khoiri
Muh. Muhlisin
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Aris
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Rain
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun
Muhammadun AS
Muhidin M Dahlan
Mujtahid
Mujtahidin Billah
Mukti Sutarman Espe
Mulyadi SA
Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik
Munawir Aziz
Musfarayani
Musfi Efrizal
Nafisatul Husniah
Nandang Darana
Naskah Teater
Nelson Alwi
Ni Made Purnamasari
Nikmatus Sholikhah
Nina Herlina Lubis
Nina Susilo
Ning Elia
Noor H. Dee
Noval Jubbek
Novel-novel berbahasa Jawa
Novelet
Nunuy Nurhayati
Nur Azizah
Nur Hamzah
Nur Kholiq
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nurul Aini
Nurul Anam
Nurul Komariyah
Nuryana Asmaudi SA
Nyoman Tusthi Eddy
Obrolan
Okty Budiati
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Otto Sukatno CR
Oyos Saroso H.N.
Pagan Press
Pagelaran Musim Tandur
Palupi Panca Astuti
Parimono V / 40 Plandi Jombang
Pawang Surya Kencana
PDS H.B. Jassin
Petrus Nandi
Politik
Politik Sastra
Pradana Boy ZTF
Pramoedya Ananta Toer
Pramono
Pringadi AS
Prof Dr Fabiola D. Kurnia
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Puji Tyasari
Puput Amiranti N
Purnawan Andra
Purnawan Kristanto
Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin
Pustaka Ilalang Group
PUstaka puJAngga
Putu Wijaya
Qaris Tajudin
R. Ng. Ronggowarsito
Rachmad Djoko Pradopo
Radhar Panca Dahana
Rahmat Kemat Hidayatullah
Rahmat Sularso Nh
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rasanrasan Boengaketji
Raudal Tanjung Banua
Redland Movie
Reiny Dwinanda
Resensi
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Riki Dhamparan Putra
Riki Utomi
Ririe Rengganis
Risang Anom Pujayanto
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Roso Titi Sarkoro
Rozi Kembara
Rukardi
Rumah Budaya Pantura (RBP)
Rusmanadi
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Saiful Amin Ghofur
Saiful Anam
Sainul Hermawan
Sajak
Salamet Wahedi
Salman S. Yoga
Samsudin Adlawi
Samsul Anam
Sanggar Lukis Alam
Sanggar Pasir
Sanggar Rumah Ilalang KSII
Santi Puji Rahayu
Sapardi Djoko Damono
Saroni Asikin
Sartika Dian Nuraini
Sastra dan Kuasa Simbolik
Sastra Jawa Timur
Satmoko Budi Santoso
Saut Situmorang
Sayyid Fahmi Alathas
SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang
SelaSastra Boenga Ketjil
SelaSastra Boenga Ketjil #33
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Setia Naka Andrian
Shiny.ane el’poesya
Sholihul Huda
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sinopsis
Siti Khoeriyah
Siti Muyassarotul Hafidzoh
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputra
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Soegiharto
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sosiawan Leak
Spectrum Center Press
Sri Weni
Sri Wintala Achmad
Suci Ayu Latifah
Sucipto Hadi Purnomo
Sudirman
Sugi Lanus
Sukron Ma’mun
Sulaiman Djaya
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sungging Raga
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Supriyadi
Surya Lesmana
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Suyanto
Syaf Anton Wr
Syaifuddin Gani
Syaiful Amin
Syarif Wadja Bae
Sylvianita Widyawati
TanahmeraH ArtSpace
Tarmuzie (1961-2019)
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Presetyo
Teguh Setiawan
Teguh Winarsho AS
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Tia Setiadi
Tirto Suwondo
Tita Tjindarbumi
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan
Tosa Poetra
Tri Nurdianingsih
Triyanto Triwikromo
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Tulus S
Ulul Azmiyati
Umar Fauzi
Umar Fauzi Ballah
Umar Kayam
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Universitas Jember
Usman Arrumy
Utari Tri Prestianti
Viddy AD Daery
Virdika Rizky Utama
W Haryanto
W.S. Rendra
Wahyu Prasetya
Wan Anwar
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wina Bojonegoro
Wita Lestari
Wong Wing King
Wowok Hesti Prabowo
Xu Xi (Sussy Komala)
Y. Thendra BP
Y. Wibowo
Yanusa Nugroho
Yasraf Amir Piliang
Yayat R. Cipasang
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yopi Setia Umbara
Yudhi Herwibowo
Yudi Latif
Yusri Fajar
Yusuf Ariel Hakim
Yuval Noah Harari
Zacky Khairul Uman
Zainuddin Sugendal
Zamakhsyari Abrar
Zawawi Se
Zed Abidien
Zehan Zareez
Zhaenal Fanani
Zubaidi Khan
Zuniest
Tidak ada komentar:
Posting Komentar