(Wawancara dengan Eko Wahyudi, ketua Komite Seni Tradisional Dekajo dan ketua Palambang)
Fahrudin Nasrulloh
http://forumsastrajombang.blogspot.com/
Pembentukan Dewan Kesenian Jombang (Dekajo) pada 25 Februari 2010 di alun-alun Jombang menjadi harapan besar bagi tumbuh-kembangnya kesenian tradisi yang selama ini kurang begitu mendapatkan tempat di batin warganya juga pemerintah daerah. Pentingnya menakar sejauh mana pegiat kesenian menggali sekaligus memaknai sumber daya dan potensi kesenian, agar kesenian menjadi sebuah kesadaran publik. Salah satu pegiat kesenian yang selama ini dikenal adalah Eko Wahyudi. Ia merupakan ketua Palambang (Paguyuban Ludruk Arek Jombang) dan ketua Komite Seni Tradisional dalam Dewa Kesenian Jombang yang baru terbentuk itu. Di bawah ini adalah wawancara saya selama 1 jam 29 menit, pada 5 Maret 2010, di kantor Desanya di Jabon, dengan Pak Eko Wahyudi terkait pemikirannya soal pengembangan kesenian Jombang.
FN: Dengan terkukuhkannya DKJ pada 25 Februari 2010, anda telah terpilih sebagai ketua Komite Seni Tradisional, apa bayangan anda tentang bagaimana arah ke depan untuk memajukan seni-budaya di Jombang?
EW: Yang pertama saya akan segera mengumpulkan seniman tradisi yang ada di Jombang, maunya bagaimana, dan di situlah kita akan menyusun program, ya menyerap aspirasi dululah, sebelum kita rapat kerja. Yang terpenting adalah pemberdayaan seni tradisional dan pembinaannya. Bila perlu nanti masing-masing seni tradisonal mempunyai kelompok sendiri, seperti wayang, kan ada Pepadi, sebagai perkumpulan seniman wayang. Atau Palambang. Sehingga dengan itu koordinasi lebih mudah. Kita bentuk dulu organisasi perunit dari seni tradisi itu. Dari situ koordinasinya lewat ketua-ketua organisasi tersebut. Nah, data ini penting untuk pemetaan seni tradisi, kalau tidak begitu kita tidak tahu apa saja persoalannya. Juga kaderisasi seniman menjadi hal utama, dengan cara semisal pembentukan sanggar-sanggar kesenian. Contohnya, mana ada kaderisasi seniman ludruk? Nggak ada. Maka kantong-kantong kesenian berupa sanggar ini nanti diharapkan menjadi barometer untuk melihat perkembangan tiap kesenian. Yang membentuk sanggar itu bukan Dekajo, tapi kita mendorong pegiat seni untuk membuat sanggarnya sendiri. Anggaran akan coba didistribusikan lewat sanggar ini sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Para seniman senior akan melatih di sanggar-sanggar itu. Sehingga nanti kaderisasi mulai SD, SMP, SMA, dapat menimba pengalaman berkesenian di sini. Setelah itu tahun berikutnya kita mendorong Dekajo untuk mengadakan lomba-lomba agar ada semangat, apa itu piala bupati, atau yang lainnya yang ini dapat memicu kreativitas dan kecintaan terhadap kesenian Jombang.
FN: Perubahan zaman terus bergerak, dunia teknologi makin maju, dan masyarakat makin banyak pilihan dalam mengapresiasi hiburan dan persepsi mereka terhadap kesenian. Dalam kondisi demikian menurut anda di manakah posisi dan keberadaan seni tradisi?
EW: Pertama kita akan mengajak semua elemen pegiat seni tradisi untuk berkumpul merembukkan bagaimana seni tradisi Jombang dapat digemari warganya. Kita akan berusaha mengemasnya sebaik mungkin. Contohnya Palambang sendiri, pementasan diharapkan hanya 2 sampai 3 jam. Karena ruang-lingkup apresiasi masyarakat perlu dipertimbangkan. Tidak mungkin kita meyajikan pertunjukan ludruk semalam suntuk. Kita buat tontonan yang enak bagi mereka. Kedua, soal armada pemain, harus dibatasi, bukan 50-an lebih, mungkin 25 personil cukup. Kadang hal ini yang menjadi keberatan penanggap karena harus memberi makan semua pekerja ludruk itu. Selanjutnya tontonan ludruk harus menjadi tuntunan. Tidak main seenaknya sendiri. Misi-misi program pembangunan pemerintah disuarakan di sini. Demikian pula jenis kesenian lainnya. Nah, bagaimana menciptakan pertunjukan yang dapat dikangeni masyarakat, inilah tantangannya. Kita sudah merencakan bekerjasama dengan stasiun televisi, kemarin kita coba menjalin kerja bareng dengan Indosiar. Kita tunggu hasilnya.
FN: Bagaimana anda melihat seni tradisi dalam kaitannya dengan industri kreatif dan ekonomi kreatif?
EW: Kenapa sekarang generasi muda makin tidak meminati seni tradisi? Ini yang harus segera dicarikan formula untuk mengemas pertunjukan yang efisian dan baik saat dipentaskan. Yang terpenting lagi, bagaimanakah keterlibatan pegiat seni dengan warganya. Banyak sebenarnya warga yang masih mencintai seni tradisi. Terobosan yang kini saya tempuh, kebetulan saya sebagai pengurus Asosiasi Kepala Desa dan Perangkat Desa (AKPD) se kabupaten Jombang, saya sebagai wakil kepala tiga, bukan kapasitas saya sebagai anggota Dekajo. Nah di luar system ini, nanti bagaimana saya melakukan pemberdayaan kesenian di desa-desa. ada dana sekitar 7 sampai 8 juta dalam setahun. 2,5 juta yang selama ini sudah ada anggarannya untuk karang taruna, dan akan diusulkan ditambah dana 5 juta untuk seni tradisi. Kalau sudah ada anggaran itu, kita akan berupaya memberdayakan seni tradisi yang ada di desa maupun bisa mengusahakan pendanaan dari luar. Ada 306 desa di Jombang, ini akan jadi menarik untuk pengembangan ke depan, jika agenda ini dapat berjalan melalui koordinasi dalam koridor AKPD ini, insyaallah akan memunculkan satu perubahan baru.
FN: Sehubungan dengan dinamika ludruk, dalam 2 sampai 3 tahun terakhir ini seperti apakah anda melihat situasi dan kondisi ludruk di Jombang?
EW: Secara umum ludruk Jombang tidak mengalami perubahan secara siknifikan. Terkait rendahnya penguasaan menejemen ludruk dan kualitasnya yang kurang baik dalam konteks sebagai tontonan untuk masyarakat sekarang. Contohnya, katakanlah standar tanggapan 6 juta, tapi ada grup ludruk yang berani banting setir menerima tanggapan dengan harga 5 juta. Konsekwensinya, penyajian tanggapannya asal-asalan. Ini banyak terjadi di lapangan. Ya, kualitas tidak diperhatikan. Kurang pekanya seniman ludruk terhadap perkembangan jaman juga sangat mempengaruhi mutu sajian.
FN: Ada anggapan sebagian orang yang menilai bahwa ludruk sudah punah, ataukah malah peminat ludruknya yang telah punah?
EW: Masyarakat kita kini memang banyak yang merasa asing dengan seni tradisi. Terutama ludruk, tantangannya kompleks. Sajian pertunjukan ludruk masih banyak yang perlu dibenahi. Tidak semua problem dapat dijelaskan, karena soal ini juga terkait tidak hanya pada diri pribadi saya untuk memecahkannya. Ya berpulang kepada seniman ludruknya, SDM mereka, mau maju atau tidak. Jika mau maju, ya bagaimana ludruk bisa enak ditonton di masa yang serba banyak hiburan ini.
FN: Selama ini kita mengenal apa yang disebut dengan istilah Palambang atau kepanjangan dari Paguyuban Ludruk Arek Jombang. Apa yang melatari munculnya Palambang?
EW: Ceritanya begini: saya pribadi pada saat itu mencalonkan diri sebagai Kepala Desa Jabon di Kecamatan Jombang pada 2005-2006, kemudian saya menjalin semacam perkenalan lalu intens berhubungan dengan pimpinan Ludruk Sari Murni, Pak Tajuk Sutikno. Saya ngomong-ngomong kenapa sih Ludruk Sari Murni tidak aktif. Pak Tajuk menjawab bahwa dirinya sudah males menjalankan ludruknya. Terus pada suatu saat saya berjanji padanya, “Mas, besok kalau saya akan jadi lurah, ayo dilakokno ludruke.” Setelah itu, terus berkembang-berkembang, dan ketika saya jadi Kepala Desa, saya syukuran di desa saya dengan nanggap Ludruk Sari Murni. Pak Bupati Suyanto saya undang. Seorang teman Pak Yanto, yaitu Pak Rus Riyanto, orang TPI, juga datang. Suatu hari saya bersama Pak Rus Riyanto sowan ke Pak Yanto mengobrolkan ludruk dan lain-lain. Dari situ saya kenal akrab dengan Pak Bupati, bahkan sekarang seperti keluarga. Saya minta bantuannya bagaimana Ludruk Sari Murni bisa nobong keliling. Bantuan ini diharapkan bagaimana agar tidak ada pajak untuk izin keliling nobong. Yang utama adalah bagaimana kesenian ludruk tetap eksis. Pak Bupati setuju, terus saya diminta meneruskan dan menghadap Bu Wiwik (istri Pak Yanto yang saat itu menjadi ketua IPSBI: Ikatan Persatuan Seni Budaya Indonesia), ini atas usulan Pak Joko Suwarno, dengan tujuan seperti yang saya disampaikan kepada Pak Yanto. Maksudnya keliling nobong ke seluruh kecamatan di Jombang. “Lha ludruknya siapa?” sambut Bu Wiwik. “Ludruk Sari Murni, Bu.” “Yo ojo! Mosok Sari Murni tok, yo ambek ludruk liyane yang ada di Jombang,” sarannya. Nak ungkapan inilah embrio dari lahirnya Palambang. Kemudian kami berembuk: saya, Pak Joko Suwarno, Pak Tikno, Pak Gempur Humas, dan Mas Hadi Purwanto. Dari diskusi itu akhirnya kita memutuskan untuk membentuk organisasinya dahulu. Sari Murni sudah tidak kita bicarakan dalam pokok pembahasan di sini. Kita buat dil lagi. Lalu ada arisan lurah se Kecamatan Jombang di rumah saya. Saya juga ngundang para pimpinan ludruk. Pak Bupati hadir. Diskusi seputar ludruk intinya. Lha selang satu minggu, saya bekerjasama dengan Humas Pemda Jombang, Mas Pur itu. Di radio Suara Jombang telah ada agenda setiap bulan sekali siaran langsung seni tradisonal. Dananya 1 juta dari Disporabudpar. Lalu saya tantang Pak Tikno, ayo berani ngludruk gak, tak carikan duit, kata saya. Dana yang dibutuhkan saat itu sekitar 5 juta. Jadi saya tombok 4 juta-an untuk itu. Nah dalam acara ludrukan di halaman depan Suara Jombang itu, Bu Wiwik tambah tertarik. Terus akhirnya ada diskusi yang hasilnya dibentuklah Palambang pada awal 2007. Yang membentuk Humas Pemda diwakili oleh Mas Gempur dan Pak Agus. Ditunjuklah saya sebagai pimpinan Palambang. Saat itu semua pimpinan ludruk diundang. Yang diundang 23 grup, tapi yang hadir cuma 16. Dan seterusnya dan seterusnya.
FN: Sejauh manakah Palambang menjadi sebuah paguyuban yang kondusif bagi grup-grup ludruk dan mampu mewadahi aspirasi seniman ludruk di Jombang ataukah justru sebaliknya?
EW: Itu yang dulu, karena pada waktu setelah dibentuknya Palambang kita keliling dengan menggandeng 23 grup ludruk di Jombang. Tapi yang ikut hanya 18 grup. Yang 4 grup dari 18 itu tidak ikut, karena mereka memisahkan diri membentuk kelompok lain yang disebut Forpesbul, tapi mereka ini nggak jalan lama. Saat itu Palambang belum ada kegiatan konkrit. Hanya memberitakan keberadaan grup ludruk di Jombang kepada masyarakat. Dan 18 grup itu dikelilingkan untuk mendukung pencalonan kembali Pak Yanto sebagai Bupati pada 2008. Lha 4 grup ludruk yang di Forpesbul ini yang mendukung pencalonan bupati Pak Nyono hanya tampil sekali di Ngoro. Jadi di sini perlu diluruskan terkait kesenian yang mungkin dianggap dimanfaatkan oleh situasi politik pilkada waktu itu, maka, menurut saya, ini harus kita pandang bahwa keterkaitan grup-grup ludruk itu tatkala dikelilingkan adalah sebagai bentuk kecintaan Pak Yanto terhadap ludruk. Karena itu boleh-boleh saja dan sah-sah saja bila beliau menggandeng mereka untuk ikut mendukung pencalonannya. Jadi tidak perlu kita menyikapi secara negatif. Maka dari situ, Palambang sebagai corong pemerintah berfungsi untuk menyiarkan program-progam pembangunan di Kabupaten Jombang. Setelah kita keliling ke seluruh kecamatan yang berjumlah 23 kecamatan itu, hanya kurang 5 pementasan. Maksudnya 5 pementasan itu dipending. Karena sudah distop anggarannya dari Pemda saat Pak Ali Fikri menjabat sementara sebagai bupati karena Pak Yanto ikut tampil dalam pilkada. Tapi setelah Pak Yanto jadi Bupati lagi, 5 jadwal itu diteruskan dengan biaya dari kocek Pak Yanto sendiri. Semua ludruk yang ikut keliling itu tanggapannya masing-masing 4,5 juta.
FN: Kerja konkrit apa yang sudah anda lakukan bersama Palambang?
EW: Palambang sekarang segera akan mengumpulkan ketua-ketua grup ludruk se Kabupten Jombang untuk diskusi bersama berkaitan dengan kaderisasi. Dan sanggar Palambang harus segera dibangun. Jadi nanti kita diskusikan itu secepatnya.
FN: Berarti ini yang akan dilakukan? Bukan yang sudah dilakukan Palambang?
EW: Ya betul sekali, ini yang akan kita lakukan. Segera. Karena sekarang ada Dekajo juga. Karena selama ini kita masih dalam proses mengajukan proposal. Dan belum tentu disetujui sesuai dengan pengharapan.
FN: Berarti kerja konkrit yang sudah dilakukan Palambang nggak ada?
EW: Belum. Belum ada.
FN: Selain kaderisasi, apa program Palambang?
EW: Kita akan kelilingkan Palambang ke seluruh kabupaten di Jawa Timur. Tujuannya untuk meraih bukti bahwa kesenian ludruk itu berasal dari Jombang.
FN: Ini akan menyerap dana yang sangat besar. Seperti apa sumber anggarannya?
EW: Ya kita akan agendakan lewat Dekajo. Setidaknya 38 kabupaten di Jawa Timur akan kita kunjungi dengan sajian pertunjukan ludruk. Ya sampai 3 tahun ke depanlah rute keliling ludruk itu. Sampai 2013 masa akhir kepengurusan Dekajo yang baru dibentuk kemarin.
FN: Melihat kondisi ludruk yang digambarkan di atas tampak begitu banyak persoalannya, mulai dari senimannya yang kurang kreatif, soal apresiasi penontonnya, dan pengelolaan ludruk. Kira-kira menurut anda apa yang mendesak untuk terlebih dulu diselesaikan?
EW: Sebut saja ketika di tahun 2009, seperti dalam ludruk, dengan cara meminimalisir nomor induk. Harapan kita adalah bagaimana aturan itu bisa berjalan dengan baik. Artinya kenyataan di lapangan banyak seniman ludruk yang saling berseliweran dalam berbagai tanggapan. Disporabudpar harus jelas dengan mengacu pada kenyataan di lapangan. Saya menilai begitu mudahnya Disporabudpar memberikan nomor induk bagi setiap jenis kesenian. Ketika sudah diberi izin lurahnya ya sudah beres, di samping persyaratan lain semisal terkait jumlah anggotanya, dan Disporabudpar langsung membuatkan induknya. Anggota ganda itulah permasalahannya. Nah pertanyaan saya, apakah 26 grup ludruk yang ada di Jombang sekarang itu lengkap anggotanya, dan tidak terjadi silang-ganda antar grup satu dengan yang lainnya? Mustinya Disporabudpar mengecek itu di lapangan, sebagaimana pada tahun 1990-an duhulu. Ini sempat jadi gegeran antar seniman ludruk, antar kita, dan dengan pihak pemerintah.
FN: Persoalan lainnya apa, yang terkait itu?
EW: Begini, perlu segera Disporabudpar menertibkan persoalan induk kesenian. Satu, karawitan itu nggak usah dikasi induk. Masak ada induk karawitan. Sebab karawitan itu bagian dari alat perlengkapan dari seni tradisional. Wayang, ada karawitannya. Ludruk, ada karawitannya. Ia cuma pelengkap sebenarnya. Karawitan kalau ada induknya itu di lapangan kenyataannya malah menjadi “ludruk separuh”. Lihat saja sendiri, karawitan di situ ada remonya, ada lawakan ludruknya. Ya akhirnya ludruk nggak payu kan. Jadi ngrusak akhirnya karawitan itu. Ludruk separuh? Jadi lucu kan? Yang kedua, seni campursari. Ini juga sama kasusnya dengan karawitan. Tanggapan “karawitan plus” dan “campursarian plus” demikian yang tanggapannya biasanya hanya 3 sampai 4 juta tersebut harus segera ditertibkan, kalau tidak hancur ludruk kita. Orang, baik seniman ludruk maupun masyarakat penanggap, jadi pilih praktisnya. Keberadaan ludruk makin terancam, dan tidak lagi mengenal pertunjukan ludruk yang semestinya. Tapi hal ini tidak sekaku yang saya uraikan di atas, artinya kita juga tidak bisa menolak kenyataan lain berupa membatasi kreativitas, namun harus ada batas-batas tertentu yang harus dirembukkan kembali secara bersama-sama.
Harapan kita dari sosok Pak Eko Wahyudi yang memiliki prinsip hidup: “bersikap, berbuat, untuk mengabdi” ini ke depannya dapat bersumbangsih bagi perkembangan seni budaya di Jombang, khususnya ludruk, dengan mematrikan semboyan “mekaring seni lan budoyo agawe sentosaning nuso lan bangsa”.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Ginandjar Wiludjeng
A. Junianto
A. Kurnia
A. Qorib Hidayatullah
A. Yusrianto Elga
A.S Laksana
A’yat Khalili
Aang Fatihul Islam
Abdul Azis Sukarno
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi WM
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Malik
Abdul Razak
Abdul Rosyid
Abdul Wahab
Abdurrahman Wahid
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adam Chiefni
Ade P. Nasution
Adhitia Armitriant
Adi Prasetyo
Adrizas
AF. Tuasikal
Afriza Hanifa
Afrizal Malna
Agama Para Bajingan
Agnes Rita Sulistyawaty
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Buchori
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahmad Baso
Ahmad Faishal
Ahmad Fatoni
Ahmad Hasan MS
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Khotim Muzakka
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Naufel
Ahmad Rofiq
Ahmad S. Zahari
Ahmad Syauqi Sumbawi
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ahsanu Nadia
Aini Aviena Violeta
Ainul Fiah
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sekhu
Akhmad Sofyan Hadi
Akhmad Taufiq
Akhudiat
Akmal Nasery Basral
Alam Terkembang
Alang Khoiruddin
Alex R. Nainggolan
Alfian Dippahatang
Ali Audah
Ali Mahmudi CH
Ali Rif’an
Almania Rohmah
Ami Herman
Amien Wangsitalaja
Aminah
Aminullah HA.Noor
Amir Sutaarga
Anam Rahus
Anata Siregar
Andari Karina Anom
Andina Dwifatma
Andong Buku #3
Andre Mediansyah
Andri Awan
Anett Tapai
Anggie Melianna
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anjrah Lelono Broto
Anton Bae
Anton Kurnia
Anton Wahyudi
Anwar Nuris
Ardi Bramantyo
Ardus M Sawega
Arie MP Tamba
Arie Yani
Arief Joko Wicaksono
Arief Junianto
Ariera
Arif Bagus Prasetyo
Aris Kurniawan
Arman A.Z.
Arswendo Atmowiloto
Arti Bumi Intaran
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Asmaul Fauziyah
Asti Musman
Atafras
Awalludin GD Mualif
Ayu Wulan Sari
Aziz Abdul Gofar
Azizah Hefni
Bagus Takwin
Bahrul Ulum A. Malik
Balada
Bale Aksara
Balok Sf
Bambang Kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Beni Setia
Benny Arnas
Benny Benke
Beno Siang Pamungkas
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita
Berita Duka
Berita Koran
Bernando J Sujibto
Berthold Damshauser
BI Purwantari
Binhad Nurrohmat
Bobby Gunawan
Bonari Nabonenar
Brunel University London
Budaya
Budi Darma
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Burhanuddin Bella
Camelia Mafaza
Catatan
Cerbung
Cerpen
Chairul Akhmad
Chamim Kohari
Chavchay Syaifullah
Cover Buku
Cucuk Espe
D. Zaini Ahmad
D. Zawawi Imron
Dadang Ari Murtono
Dahta Gautama
Daisuke Miyoshi
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Danusantoso
Dareen Tatour
Darju Prasetya
David Kuncara
Denny Mizhar
Denza Perdana
Desi Sommalia Gustina
Desiana Medya A.L
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dewi Indah Sari
Dewi Susme
Dian Sukarno
Didik Harianto
Didik Kusbiantoro
Dina Jerphanion
Dina Oktaviani
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur
Dipo Handoko
Diyah Errita Damayanti
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Doddy Wisnu Pribadi
Dody Kristianto
Dody Yan Masfa
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dorothea Rosa Herliany
Dr Junaidi SS MHum
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi Wiyana
Dyah Ratna Meta Novia
Dyah Sulistyorini
Ecep Heryadi
Eddy Pranata PNP
Edeng Syamsul Ma’arif
Eep Saefulloh Fatah
EH Kartanegara
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Hendrawan Sofyan
Eko Hendri Saiful
Eko Windarto
Elnisya Mahendra
Elva Lestary
Emha Ainun Nadjib
Emil WE
Endah Sulwesi
Endo Suanda
Eppril Wulaningtyas R
Esai
Evan Ys
F. Moses
F. Rahardi
Fadlillah Malin Sutan
Fahmi Faqih
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Kurnianto
Fanani Rahman
Fanny Chotimah
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Febby Fortinella Rusmoyo
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Gabriel Garcia Marquez
Galang Ari P.
Galuh Tulus Utama
Gampang Prawoto
Gandra Gupta
Ganug Nugroho Adi
Gerson Poyk
Ghassan Kanafani
Gita Nuari
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gunoto Saparie
H.B. Jassin
Habibullah
Hadi Napster
Hadriani Pudjiarti
Halim HD
Halimi Zuhdy
Hamberan Syahbana
Han Gagas
Hanibal W. Y. Wijayanta
Hardi
Haris del Hakim
Haris Saputra
Harri Ash Shiddiqie
Hartono Harimurti
Hary B Kori’un
Hasan Aspahani
Hasan Junus
Hasif Amini
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
HE. Benyamine
Hendra Junaedi
Hendra Makmur
Heri CS
Heri Latief
Heri Listianto
Herman RN
Herry Lamongan
Heru CN
Heru Nugroho
Hikmat Gumelar
HL Renjis Magalah
Hudan Nur
Hujuala Rika Ayu
Huminca Sinaga
IBM. Dharma Palguna
Ibnu Wahyudi
Ida Farida
Idris Pasaribu
Ignas Kleden
Ignatius Haryanto
Iksan Basoeky
Ilham Khoiri
Imam Cahyono
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indiar Manggara
Indra Intisa
Indra Tjahyadi
Indra Tranggono
Indrian Koto
Ira Puspitaningsih
Irfan Budiman
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Iskandar Zulkarnain
Ismail Marzuki
Iva Titin Shovia
Iwan Kurniawan
Jabbar Abdullah
Jafar Fakhrurozi
Jalan Raya Simo Sungelebak
Jamal D. Rahman
Jamal T. Suryanata
Javed Paul Syatha
Jayaning S.A
JILFest 2008
Jody Setiawan
Johan Edy Raharjo
Johannes Sugianto
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Jual Buku
Jual Buku Paket Hemat
Juan Kromen
Julika Hasanah
Jurnalisme Sastrawi
Jusuf AN
Juwairiyah Mawardy
Ka’bati
Karanggeneng
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Keith Foulcher
Kemah Budaya Panturan (KBP)
Khansa Arifah Adila
Khoirul Inayah
Khoirul Rosyadi
Khudori Husnan
Ki Ompong Sudarsono
Kirana Kejora
Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Sastra Ilalang Indonesia
Korrie Layun Rampan
Kostela
Kritik Sastra
Kukuh S Wibowo
Kurnia Effendi
Kurniawan
Kuswaidi Syafi'ie
L.N. Idayanie
Laili Rahmawati
Lamongan
Lan Fang
Langgeng Widodo
Lathifa Akmaliyah
Leila S. Chudori
Lely Yuana
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Liestyo Ambarwati Khohar
Lina Kelana
Linda Sarmili
Liza Wahyuninto
Lucia Idayanie
Lukman A Sya
Lutfiah
Lynglieastrid Isabellita
M Arman AZ
M Ismail
M Thobroni
M. Afifuddin
M. Arwan Hamidi
M. Lukluk Atsmara Anjaina
M. Lutfi
M. Luthfi Aziz
M. Nurdin
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.S. Nugroho
Mahendra Cipta
Mahmud Jauhari Ali
Mahmud Syaltut Usfa
Mahmudi Arif Dahlan
Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Martin Aleida
Maruli Tobing
Mas Ruscita
Mashuri
Masuki M. Astro
Matroni
Matroni Muserang
Media: Crayon on Paper
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
MG. Sungatno
Mh Zaelani Tammaka
Mia Arista
Mia El Zahra
Mikael Johani
Misbahus Surur
Misran
Mohamad Ali Hisyam
Mohammad Eri Irawan
Much. Khoiri
Muh. Muhlisin
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Aris
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Rain
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun
Muhammadun AS
Muhidin M Dahlan
Mujtahid
Mujtahidin Billah
Mukti Sutarman Espe
Mulyadi SA
Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik
Munawir Aziz
Musfarayani
Musfi Efrizal
Nafisatul Husniah
Nandang Darana
Naskah Teater
Nelson Alwi
Ni Made Purnamasari
Nikmatus Sholikhah
Nina Herlina Lubis
Nina Susilo
Ning Elia
Noor H. Dee
Noval Jubbek
Novel-novel berbahasa Jawa
Novelet
Nunuy Nurhayati
Nur Azizah
Nur Hamzah
Nur Kholiq
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nurul Aini
Nurul Anam
Nurul Komariyah
Nuryana Asmaudi SA
Nyoman Tusthi Eddy
Obrolan
Okty Budiati
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Otto Sukatno CR
Oyos Saroso H.N.
Pagan Press
Pagelaran Musim Tandur
Palupi Panca Astuti
Parimono V / 40 Plandi Jombang
Pawang Surya Kencana
PDS H.B. Jassin
Petrus Nandi
Politik
Politik Sastra
Pradana Boy ZTF
Pramoedya Ananta Toer
Pramono
Pringadi AS
Prof Dr Fabiola D. Kurnia
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Puji Tyasari
Puput Amiranti N
Purnawan Andra
Purnawan Kristanto
Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin
Pustaka Ilalang Group
PUstaka puJAngga
Putu Wijaya
Qaris Tajudin
R. Ng. Ronggowarsito
Rachmad Djoko Pradopo
Radhar Panca Dahana
Rahmat Kemat Hidayatullah
Rahmat Sularso Nh
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rasanrasan Boengaketji
Raudal Tanjung Banua
Redland Movie
Reiny Dwinanda
Resensi
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Riki Dhamparan Putra
Riki Utomi
Ririe Rengganis
Risang Anom Pujayanto
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Roso Titi Sarkoro
Rozi Kembara
Rukardi
Rumah Budaya Pantura (RBP)
Rusmanadi
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Saiful Amin Ghofur
Saiful Anam
Sainul Hermawan
Sajak
Salamet Wahedi
Salman S. Yoga
Samsudin Adlawi
Samsul Anam
Sanggar Lukis Alam
Sanggar Pasir
Sanggar Rumah Ilalang KSII
Santi Puji Rahayu
Sapardi Djoko Damono
Saroni Asikin
Sartika Dian Nuraini
Sastra dan Kuasa Simbolik
Sastra Jawa Timur
Satmoko Budi Santoso
Saut Situmorang
Sayyid Fahmi Alathas
SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang
SelaSastra Boenga Ketjil
SelaSastra Boenga Ketjil #33
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Setia Naka Andrian
Shiny.ane el’poesya
Sholihul Huda
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sinopsis
Siti Khoeriyah
Siti Muyassarotul Hafidzoh
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputra
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Soegiharto
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sosiawan Leak
Spectrum Center Press
Sri Weni
Sri Wintala Achmad
Suci Ayu Latifah
Sucipto Hadi Purnomo
Sudirman
Sugi Lanus
Sukron Ma’mun
Sulaiman Djaya
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sungging Raga
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Supriyadi
Surya Lesmana
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Suyanto
Syaf Anton Wr
Syaifuddin Gani
Syaiful Amin
Syarif Wadja Bae
Sylvianita Widyawati
TanahmeraH ArtSpace
Tarmuzie (1961-2019)
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Presetyo
Teguh Setiawan
Teguh Winarsho AS
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Tia Setiadi
Tirto Suwondo
Tita Tjindarbumi
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan
Tosa Poetra
Tri Nurdianingsih
Triyanto Triwikromo
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Tulus S
Ulul Azmiyati
Umar Fauzi
Umar Fauzi Ballah
Umar Kayam
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Universitas Jember
Usman Arrumy
Utari Tri Prestianti
Viddy AD Daery
Virdika Rizky Utama
W Haryanto
W.S. Rendra
Wahyu Prasetya
Wan Anwar
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wina Bojonegoro
Wita Lestari
Wong Wing King
Wowok Hesti Prabowo
Xu Xi (Sussy Komala)
Y. Thendra BP
Y. Wibowo
Yanusa Nugroho
Yasraf Amir Piliang
Yayat R. Cipasang
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yopi Setia Umbara
Yudhi Herwibowo
Yudi Latif
Yusri Fajar
Yusuf Ariel Hakim
Yuval Noah Harari
Zacky Khairul Uman
Zainuddin Sugendal
Zamakhsyari Abrar
Zawawi Se
Zed Abidien
Zehan Zareez
Zhaenal Fanani
Zubaidi Khan
Zuniest
Tidak ada komentar:
Posting Komentar