Rabu, 02 Maret 2011

PERANG-PERANG BERKENDALA

Suryanto Sastroatmodjo
http://sastra-indonesia.com/

1.
Pada galibnya, lewat ujung senjata, mestinya Prabu Duryudana dan Bima Sena dapat memperlihatkan pertarungan dahsyat yang mengecutkan hati. Bharatayudha memperlihatkan, awal dan ujung pergulatan ini sebenarnya amat seimbang, karena sama-sama memiliki semangat kerbau jantan, dan sama-sama pula memendam dendam. Walau, di babak yang menentukan, Duryudana remuk kepalanya oleh gada rujakpala, sebagaimana saudaranya, Dursasana, yang lebih dahulu maju ke medan laga. Peristiwanya kiranya semirip Resi Bisma, yang oleh Pandawa dan Kurawa dihormati sebagai seorang pinisepuh yang berasal dari Poyang terdahulu, namun pada perang besar ini, dia justru memihak kerabat Kurawa. Adalah tragedi yang melecut sanubari, bahwa tokoh mahasakti ini harus menghadapi prajurit wanita Srikandi, yang sepenuhnya masih muda, lagipula tergolong alergis untuk menghadapi senapati-senapati tua, seperti Bisma. Toh, Bisma terguling oleh anakpanah-anakpanah merajam tubuh, dilepaskan oleh gendewa Srikandi. Anda, mungkin teringat kematian Prabu Salyapati oleh tangan Prabu Puntadewa(walau tak secara langsung), lantaran sukma Resi Bagaspati yang menagih janji kepada Salya (yang masa mudanya bernama Raden Narasoma) ini. Perang tanding dan perang memang berkelibatan, namun bukan saringgit dua kupang. Perang tanding, anya mempertemukan dua batin yang saling bertarung dan adu nalar, setelah zaman-zaman silam meracut kepahitan. Sementara itu, perang mempergelarkan rona-rona adu senjata dan adu-wawasan yang ingin saling meruntuhkan potensi masing-masing, setelah perundingan tak berhasil membikin titik temu yang dikehendaki. Tapi siapa harus dikasihani..?

2.
Berbicara tentangperang-perang Jawa yang berlangsung di abad ke-18, 19, hingga abad ke-20, senantiasa memperlihatkan garis yang kurang lebih sejajar. Kalau bukan karena semboyan “Ratu Adil” yang membawa konsekuensi pertahanan diri untuk melembagakan aksi-aksi kerakyatan yang radikal-keras semacam ini, maka acapkali juga bahwa kaum jelata menggunakan pula semboyan-semboyan yang berasal dari masa yang jauh silam, seperti bangkitnya kembali “Pajajaran Larang”,”Sigaluh Mimpang Jaya”, “Majapahit Rumuhan”, “Mataram Adiluwih”, yang dapat kita simak, pada pemberontakan Haji Kosim di Sindanglaya pada tahun 1886, Gerakan Nyai Dewi Rasminah di bekas tanah perdikan Ciasem (1890), Pemberonntakan yang dicetuskan Bagus Juntuk di Lowanu, Purworejo(1901), dan aksi bawah tanah yang diletupkan bekas dukun Jalampuan di Selang, Kebumen, penghujung 1903—di mana kesemuanya menyebarkan isim-isim, jimat-jimat, rajah-rajah, berikut ramalan yang membawa keesatan orang-orang kecil. Kesesatan di sini, misalnya dengan menunjukkan bahwa perang besar bakal tiba di akhir tahun, yang ditandai dengan kemarau panjang dan gerhana rembulan. Tindakan orang-orang rindu masa lampau, dan terdorong oleh gerakan berbau utopis ini, bukan lain adalah kepingin membangun Peradaban Lebih Jernih, seraya mengenyahkan pengaruh kebudayaan Eropa di satu pihak, dan membangun kembali kerajaan nenek moyang di pihak lain. Sebagai variant dari aksi-aksi sporadif begini, adalah warna keagamaan (biasanya Islam) yang disertakan sebagai bandingan, untuk menunjujjan, betapa unsur religious ikut dikumandangkan di langit kemelut jamannya. Dan bahwasanya, gerakan ini hanya bersifat lokal.

3.
Manakala gerakan Saminisme juga dipandang relevan untuk dibicarakan sebagai gerakan yang berlatar kerinduan akan zaan kemasan yang telah lampau, maka sementara itu kita saksikan, bahaimana dengan aksi diam, satyagraha, ahimsa, dan “senantiasa takkan melawan penindasan”, namun “dengan cita-cita dan sikap bertapa yang membisu”, mereka menggerakkan perlawanan yang meluas, kiranya nampak gambling telaahnya. Sedari 1880, lewat Samin Sepuh Suryowijoyo, hingga Samin Anom Suryosentiko, yang tertangkap di pertengahan tahun 1904—prinsip-prinsip juangnya meluas, hingga tertangkap ke berbagai distrik di Jatim dan Jateng. Aksi serupa pernah dilakukan oleh Mbah Suradal alias Kyai Jangkung, yang kala itu melebar ke wilayah kabupaten Pasuruan dan Probolinggo, hingga meresahkan penduduk, dan merepotkan penguasa Belanda. Bupati kedua wilayah tersebut, bahkan melakukan beberapa penghampiran, untuk melunakkan hati Kyai Jangkung, tapi sia-sia. Hingga dua tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 6 Maret 1880, diadakan suatu persetujuan yang ditandatangani di lereng GunungBromo, bahkan Dukun tertua di kwasana Siluwih, diangkat sebagai sesepuh adat Tengger. Ia diperkenankan melakukan upacara-upacara suci, tanpa diganggu oleh keributan dan kekisruhan wisata yang dikelola orang-orang kulit putih. Toh, pada tahun 1893, terjadi ontran-ontran Siwalan dan Trenggalung, karena tampilnya Mbah Jowaru alias Raden Adiratu, yang berhasil menghimpun anakcucunya yang tersebar di dukuh-dukuh tersebut. Dikisahkan, Dalem Kabupaten Malang sempat diserbu barisan berandalan desa dan selama hampir dua jam, Adipati beserta keluarganya di sandera. Baru huru-hara dapat ditanggulangi setelah pasukan Belanda dari garnisun kotamelakukan penyerbuan, membebaskan kabupaten, dan menewaskan Adiratu! Tapi tuntutan mereka, supaya kawasan Tengger dijadikan bumi perdikan, tak ditanggapi.

4.
Dalam pembentukan sikap yang lebih bersahabat serta lebih intim, maka dalam kehidupan pasca kemerdekaan, kita harus lebih meningkatkan lagi kerjasama yang berlangsung antara kelompok-kelompok sosial yang ada pada masa silamnya pernah terkotak-kotak dalam beberapa kasta yang setiapnya terasa mengembun amanat budaya yang cukup tinggi. Sebagai contoh, antara kaum ksatria yang tergolong ningrat di Jawa, dengan kelompok-kelompok waisya (usahawan) dan sudra (kelompok tanpa kerja, tanpa profesi) dan hingga paria (mereka tak terjamah, karena merupakan orang-orang urakan. Fungsionalitas yang menghubungkan antara kelas yang satu dengan yang lain, pada zaman Hindhu adalah fungsionalitas yang formal dan struktural, dan membawa serta kebutuhan massa yang jadi penyangga komunalnya, bahkan juga peneguh dinasti yang bertahta. Demikian pula, pertautan antara ksatruan dengnan kasta yang paling tinggi, yakni Brahmana—senantiasa terlihat akrab, lantaran yang disebut tertinggi itu berpengaruh dalam agama, tradisi, restu kehidupan, maupun tatanilai senibudaya yang mendukung legalnya pemerintahan. Memang sedari zaman pengaruh Islam di Jawa (akhir abad ke-15), saat matahari kerajaan Islam Demak naik, mengikis sisa-sisa kerajaan Majapahit, maka kasta ksatria “memenangi, bahkan Berjaya” di atas kasta tertinggi, sebagai pengganti brahmana-brahmana asli, pengaruhnya dikebiri, hingga menjadi kelas penaseat, tetapi secara pelan-pelan tak diberi peranan besar dalam politik maupun ekonomi. Hanya saja, mereka lebih banyak dilibatkan dalam persoalan-persoalan agama, adat istiadat dan kultur. Pada zaman Pajang dan Matarm (abad 16 hingga akhir 17), maka kelompok Wali lebih tersudut lagi, lantaran raja yang berkasta ksatria enggunakan gelar “Ratu, sekaligus Wali” (Khalifatullah Sayidin Panatagama), yang memotong jalur pengaruh Wali khususnya, dan ulama umumnya, lebih-lebih yang bersifat tradisional-agraris, sehingga wibawa mereka makin menipis di kalangan rakyat.

5.
Ujung ke ujung penguasaan terhadap kawula alit, niscaya mengandung seni yang lebih mudah ditelusuri, lantaran tatanilai yang diendapkannya, lewat pelbagai zaman. Kriteria apa yang kita pakai untuk mereka, sebagai dimensi-dimensi pembangunan manusia yang kompleks, ternyata membawa serta pemikiran pokok tentang esensi “ pengkastaan baru”. Artinya, bahwa seiring dnegan tumbuhnya patron-patron sosial yang meliputi kedaerahan yang luas ini, kita melihat, sejauh ini terdapat nilai tambah yang lebih akumulatif lagi, teruhlah, bahwa kelas yang tergolong priyayi, yakni kaum bangsawan, pada masa lampau memegang tongkat-tongkat kepemimpinan, dan pada masa kini, memiliki pula sarana-sarana pelestari kelasnya itu, dengan semakin banyak mencampuri bisini terselubung, yang sudah barang tentu di luar kesibukan yang “diizinkan oleh instansinya”. Penyalahgunaan wewenang juga terjadi pada lingkungan ini. Sedangkan kaum saudagar atau usahawan pada umumnya, banyak yang menggunakan lisensi berdasarkan koneksi yang diberkahi oleh”perkenalan dekat dengan pihak yang di atas”, yang tiada lain adalah alat-alat administrasi resmi pemerintah. Sudah jelas, dua kelas bersaing untuk memperebutkan lahan-lahan rezeki, bahkan terjadi pula sudra dan paria, yang menjadi kelompok yenga terseret kesana-kemari, mengikuti arus limbahnya pihak yang berwenang, masih terus menjadi Si Lebai Malang, dewasa ini.

6.
Buana berkembang, karena peperangan jua. Kisah pewayangan di dalam perbendaharaan susastra Nusantara acapkali menyuguhkan untar-gemuntang peperangan, yang bukan hanya diselimuti oleh kemelut tak berkesudahan, melainkan juga lebih banyak disulut oleh saling tuding, salah-menyalahkan, serta keserba-ingintahu-an dari pihak-pihak yangtak mempunyai tenggangrasa yang baik. Kemungkinan yang dapat ditarik dari pecahnya pemberontakan kawula cilik dalam percaturan babad-babad setempat, memperlihatkan bagaimana mereka saling “tidak diacuhkan” sebagai warga besar komunitas terhormat, yang diterjang-diganyang, dalam artian prinsip bertetangga baik. Atau, dengan meminjam falsafah perang Dunia Timur (Hindhu-Tiongkok), sifatnya mementingkan keluhuran motif, tak jarang untuk menegakkan sesuatu missi yang dianggap luhur. Namun demikian, jika sifatnya berandalan, ontran-ontran, jelas tiada motif luhur, selain kepentingan sektoral, kepentingan segelintir orang yang tanpa pikir panjang, tanpa rencana terperinci. Maka menjadi kewajiban kita semua, untuk mencegah konflik berkepanjangan jika soalnya hanya berkisar pada ukuran moral yang belum punya standard tertentu, yang masih kudu dimusyawarahkan. Dan itulah yang patut diingat, keutuhan bangsa jadi dasar-pijak tindakan!

* Penanggungjawab posting atas PuJa [PUstaka puJAngga]

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Ginandjar Wiludjeng A. Junianto A. Kurnia A. Qorib Hidayatullah A. Yusrianto Elga A.S Laksana A’yat Khalili Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Razak Abdul Rosyid Abdul Wahab Abdurrahman Wahid Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adam Chiefni Ade P. Nasution Adhitia Armitriant Adi Prasetyo Adrizas AF. Tuasikal Afriza Hanifa Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agnes Rita Sulistyawaty Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunyoto Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Baso Ahmad Faishal Ahmad Fatoni Ahmad Hasan MS Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Khotim Muzakka Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Naufel Ahmad Rofiq Ahmad S. Zahari Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Ainul Fiah Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Alex R. Nainggolan Alfian Dippahatang Ali Audah Ali Mahmudi CH Ali Rif’an Almania Rohmah Ami Herman Amien Wangsitalaja Aminah Aminullah HA.Noor Amir Sutaarga Anam Rahus Anata Siregar Andari Karina Anom Andina Dwifatma Andong Buku #3 Andre Mediansyah Andri Awan Anett Tapai Anggie Melianna Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Wahyudi Anwar Nuris Ardi Bramantyo Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arie Yani Arief Joko Wicaksono Arief Junianto Ariera Arif Bagus Prasetyo Aris Kurniawan Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asmaul Fauziyah Asti Musman Atafras Awalludin GD Mualif Ayu Wulan Sari Aziz Abdul Gofar Azizah Hefni Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Balok Sf Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Benny Arnas Benny Benke Beno Siang Pamungkas Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Bernando J Sujibto Berthold Damshauser BI Purwantari Binhad Nurrohmat Bobby Gunawan Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Burhanuddin Bella Camelia Mafaza Catatan Cerbung Cerpen Chairul Akhmad Chamim Kohari Chavchay Syaifullah Cover Buku Cucuk Espe D. Zaini Ahmad D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Dahta Gautama Daisuke Miyoshi Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Danusantoso Dareen Tatour Darju Prasetya David Kuncara Denny Mizhar Denza Perdana Desi Sommalia Gustina Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewi Indah Sari Dewi Susme Dian Sukarno Didik Harianto Didik Kusbiantoro Dina Jerphanion Dina Oktaviani Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur Dipo Handoko Diyah Errita Damayanti Djoko Pitono Djoko Saryono Doddy Wisnu Pribadi Dody Kristianto Dody Yan Masfa Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi SS MHum Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Wiyana Dyah Ratna Meta Novia Dyah Sulistyorini Ecep Heryadi Eddy Pranata PNP Edeng Syamsul Ma’arif Eep Saefulloh Fatah EH Kartanegara Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Hendrawan Sofyan Eko Hendri Saiful Eko Windarto Elnisya Mahendra Elva Lestary Emha Ainun Nadjib Emil WE Endah Sulwesi Endo Suanda Eppril Wulaningtyas R Esai Evan Ys F. Moses F. Rahardi Fadlillah Malin Sutan Fahmi Faqih Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Kurnianto Fanani Rahman Fanny Chotimah Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Febby Fortinella Rusmoyo Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Gabriel Garcia Marquez Galang Ari P. Galuh Tulus Utama Gampang Prawoto Gandra Gupta Ganug Nugroho Adi Gerson Poyk Ghassan Kanafani Gita Nuari Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunoto Saparie H.B. Jassin Habibullah Hadi Napster Hadriani Pudjiarti Halim HD Halimi Zuhdy Hamberan Syahbana Han Gagas Hanibal W. Y. Wijayanta Hardi Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Hartono Harimurti Hary B Kori’un Hasan Aspahani Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana HE. Benyamine Hendra Junaedi Hendra Makmur Heri CS Heri Latief Heri Listianto Herman RN Herry Lamongan Heru CN Heru Nugroho Hikmat Gumelar HL Renjis Magalah Hudan Nur Hujuala Rika Ayu Huminca Sinaga IBM. Dharma Palguna Ibnu Wahyudi Ida Farida Idris Pasaribu Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilham Khoiri Imam Cahyono Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indiar Manggara Indra Intisa Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ira Puspitaningsih Irfan Budiman Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Zulkarnain Ismail Marzuki Iva Titin Shovia Iwan Kurniawan Jabbar Abdullah Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D. Rahman Jamal T. Suryanata Javed Paul Syatha Jayaning S.A JILFest 2008 Jody Setiawan Johan Edy Raharjo Johannes Sugianto Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Juan Kromen Julika Hasanah Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN Juwairiyah Mawardy Ka’bati Karanggeneng Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Keith Foulcher Kemah Budaya Panturan (KBP) Khansa Arifah Adila Khoirul Inayah Khoirul Rosyadi Khudori Husnan Ki Ompong Sudarsono Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Sastra Ilalang Indonesia Korrie Layun Rampan Kostela Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie L.N. Idayanie Laili Rahmawati Lamongan Lan Fang Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lely Yuana Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Liestyo Ambarwati Khohar Lina Kelana Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lucia Idayanie Lukman A Sya Lutfiah Lynglieastrid Isabellita M Arman AZ M Ismail M Thobroni M. Afifuddin M. Arwan Hamidi M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Luthfi Aziz M. Nurdin M. Yoesoef M.D. Atmaja M.S. Nugroho Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Mahmud Syaltut Usfa Mahmudi Arif Dahlan Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Martin Aleida Maruli Tobing Mas Ruscita Mashuri Masuki M. Astro Matroni Matroni Muserang Media: Crayon on Paper Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Mia Arista Mia El Zahra Mikael Johani Misbahus Surur Misran Mohamad Ali Hisyam Mohammad Eri Irawan Much. Khoiri Muh. Muhlisin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun Muhammadun AS Muhidin M Dahlan Mujtahid Mujtahidin Billah Mukti Sutarman Espe Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Munawir Aziz Musfarayani Musfi Efrizal Nafisatul Husniah Nandang Darana Naskah Teater Nelson Alwi Ni Made Purnamasari Nikmatus Sholikhah Nina Herlina Lubis Nina Susilo Ning Elia Noor H. Dee Noval Jubbek Novel-novel berbahasa Jawa Novelet Nunuy Nurhayati Nur Azizah Nur Hamzah Nur Kholiq Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurul Aini Nurul Anam Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi SA Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Okty Budiati Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Otto Sukatno CR Oyos Saroso H.N. Pagan Press Pagelaran Musim Tandur Palupi Panca Astuti Parimono V / 40 Plandi Jombang Pawang Surya Kencana PDS H.B. Jassin Petrus Nandi Politik Politik Sastra Pradana Boy ZTF Pramoedya Ananta Toer Pramono Pringadi AS Prof Dr Fabiola D. Kurnia Prosa Puisi Puji Santosa Puji Tyasari Puput Amiranti N Purnawan Andra Purnawan Kristanto Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang Group PUstaka puJAngga Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Ng. Ronggowarsito Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Kemat Hidayatullah Rahmat Sularso Nh Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rasanrasan Boengaketji Raudal Tanjung Banua Redland Movie Reiny Dwinanda Resensi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Ririe Rengganis Risang Anom Pujayanto Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roso Titi Sarkoro Rozi Kembara Rukardi Rumah Budaya Pantura (RBP) Rusmanadi S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saiful Amin Ghofur Saiful Anam Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Salman S. Yoga Samsudin Adlawi Samsul Anam Sanggar Lukis Alam Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang KSII Santi Puji Rahayu Sapardi Djoko Damono Saroni Asikin Sartika Dian Nuraini Sastra dan Kuasa Simbolik Sastra Jawa Timur Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil SelaSastra Boenga Ketjil #33 Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sinopsis Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputra Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soegiharto Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Spectrum Center Press Sri Weni Sri Wintala Achmad Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudirman Sugi Lanus Sukron Ma’mun Sulaiman Djaya Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungging Raga Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Supriyadi Surya Lesmana Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyanto Syaf Anton Wr Syaifuddin Gani Syaiful Amin Syarif Wadja Bae Sylvianita Widyawati TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie (1961-2019) Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Presetyo Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Tia Setiadi Tirto Suwondo Tita Tjindarbumi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tosa Poetra Tri Nurdianingsih Triyanto Triwikromo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus S Ulul Azmiyati Umar Fauzi Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Utari Tri Prestianti Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W Haryanto W.S. Rendra Wahyu Prasetya Wan Anwar Wawan Eko Yulianto Wawancara Wina Bojonegoro Wita Lestari Wong Wing King Wowok Hesti Prabowo Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yanusa Nugroho Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yopi Setia Umbara Yudhi Herwibowo Yudi Latif Yusri Fajar Yusuf Ariel Hakim Yuval Noah Harari Zacky Khairul Uman Zainuddin Sugendal Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zed Abidien Zehan Zareez Zhaenal Fanani Zubaidi Khan Zuniest