Yudhi Herwibowo, Han Gagas
http://pawonsastra.blogspot.com/
Menemui Sosiawan Leak di rumahnya yang menyudut, lengang, karena agak terpencil menciptakan keintiman yang gayeng. Malam telah turun lebih sempurna, beserta Yudhi Herwibowo, saya menemui di lantai atas rumahnya yang bermotif etnik dan lapang. Sebelumnya seorang putrinya menyalami kami dengan takzim, lalu disusul anak laki-lakinya, disertai sapaan senyuman dari istri profil kita kali ini, perempuan berkerudung yang nampak habis sibuk di sebuah ruangan. Keadaan rumah yang bersih tertata rapi dengan anggota keluarga dan perilakunya yang santun lumayan menggeser persepsi awal saya tentang Mas Leak yang lebih sering nampak kusut dan kurang rapi. Begitulah Leak dimana-mana akan selalu apa adanya.
Memutuskan Sosiawan Leak sebagai profil adalah suatu perubahan bagi Pawon yang selama ini selalu mengangkat penulis perempuan, kini lebih berorientasi –setidaknya dalam waktu dekat- untuk mendekatkan pembaca Pawon pada penulis/sastrawan Solo sendiri baik laki-laki maupun perempuan.
Setelah berbincang-bincang ngalor-ngidul, tanpa alat rekam, hanya berbekal coret-coret kertas, saya mulai menyelingi dengan melemparkan pertanyaan:
Sejarah kepenyairan Anda?
Saya memulai menulis puisi sejak tahun 1987. Masa itu menulis puisi berbahaya.
Kenapa berbahaya?
Puisi-puisi saya adalah berusaha menangkap apa yang terjadi di masyarakat, kahanan sejatine, ada ketidakberesan di negara ini oleh rezim Soeharto.
Anda seangkatan dengan Wiji Thukul yang lenyap itu?
Wiji Tukul dalam arti proses lebih dulu, ia sekitar tahun 1983. Tapi selanjutnya kita bersama-sama.
Pak Wijang?
Ada Wijang juga. Pangkat Warek Al’Mauti itu diberi oleh Rendra (terkekeh~ kami juga).
Berarti boleh dikatakan anda bertiga seangkatan dan yang paling menonjol?
Sebenarnya banyak juga yang ingin bahkan bercita-cita menjadi penyair, sok nyair, dengan gaya yang aneh, perilaku yang tak biasa tapi esensinya tak ada, karya tak berisi, dulu seorang penyair terasa hebat di Jaman Soeharto apalagi di kalangan mahasiswa, tapi sebenarnya yang penyair dengan muatan karya yang baik amat jarang.
Perjalanan anda baik sebagai penyair, aktor, maupun sutradara?
Saya pernah jadi aktor di kelompok Teater Gidag-Gidig (Solo), TERA (Teater Surakarta), Teater Keliling (Jakarta), Wayang Suket (Solo). Di teater keliling ini saya bermain di perusahaan-perusahaan minyak. Saat itu gajinya besar sehingga bisa untuk menutup biaya kuliah saya.
Untuk drama saya pernah menulis lakon dan menyutradarai-nya untuk Teater Peron dan Thoekoel. Sejak tahun 1998 membentuk dan menjadi sutradara Kelompok Tonil Klosed (Kloearga Sedjahtra).
Sebagai penyair, pernah diundang di beberapa event sastra nasional, seperti “Konggres Sastra Indonesia” di Kudus, “Temu Sastrawan Indonesia” di Jambi, Revitalisasi Budaya Melayu di Tanjung Pinang, Festival Kebudayaan Aceh, Ubud Writers & Reader Festival dll. Puisi telah dimuat di berbagai media dan antologi event sastra, di samping ada yang terkumpul dalam “Umpatan” (1995), “Cermin Buram” (1996) dan “Dunia Bogambola” (2007).
Juga ber”Deklamasi Keliling” Jawa Tengah & Jawa Timur (1994), serta “Deklamasi Keliling Sumatra” (1995). Baca Puisi di Kampus & Ponpes Jawa Timur bareng WS Rendra & Brigitte Olenski (2002). Baca Puisi & Diskusi “Membaca Indonesia” dengan Martin Janskowski (Berlin, Jerman) & Dorothea Rosa Herliany di Madura, Surabaya, Solo dan Kudus (2006). Baca Puisi & Diskusi “Membaca Kota-kota” bersama Martin Janskowski (Berlin, Jerman) di Pati, Yogja, Semarang, Purwokerto, Wonosobo, Indramayu, Kediri dan Surabaya (2008). Baca Puisi & Diskusi “ JOHAN WOLFGANG von GOETHE, Perintis Dialog Islam-Barat” menyertai Berthold Damhauser (Bonn, Jerman) & Dorothea Rosa Herliany di Kudus, Semarang, Solo dan Magelang (2010).
April 2002 saya diundang di “Festival Puisi Internasional Indonesia “ yang diselenggarakan di Makassar, Bandung & Solo. Lalu, Mei 2003 diundang di Festival Puisi Internasional “The Road” (Bremen, Jerman). Saat itu pula diminta Universitas Hamburg & Universitas Passau (Jerman) untuk baca puisi dan menjadi narasumber diskusi.
Bulan Februari 2010, saya membuat “atisejati”, kelompok musik yang berpijak pada eksplorasi bentuk musik akustik dan kekuatan lirik.
Lebih enjoy mana drama-teater dibanding puisi?
Puisi, saya enjoy karena lebih leluasa dan terlunaskan. Dalam drama dan teater bila ada satu aktor tak datang kita akan ribet dan terganggu kerjanya. Pekerjaan bersama terkadang tidak lunas. Tapi puisi selalu melunaskan segala hal.
Saya jadi ingat Mas Timur dengan pakaian kebesarannya, atau Mas Rendra dengan gaya pesoleknya, Wijang juga dengan baju kepenyairannya yang berwarna kotak-kotak hitam putih itu, atau Afrizal Malna yang pelontos, lalu melihat anda gondrong. Apa-kah seorang penyair memang berciri khas masing-masing dalam arti fisik?
Saya gondrong lebih karena balas dendam. Orang tua melarang gondrong, jadi awalnya karena itu. Lagi pula saya ketika bercermin, nampak lebih ganteng dengan rambut panjang ini (terkekeh lagi)
Masa Mas Leak dulu sampai sekarang dengan bangunnya sastra di Solo sekitar satu dekade. Ada jeda yang kosong, bagaimana anda memandang hal ini?
Saya tidak merasa bahwa regenerasi, penyemaian dalam arti harus nyantrik, ngenger, belajar dengan rutin dan formal untuk orang lain yang ingin belajar berpuisi adalah sebuah kewajiban. Bahkan pada keluargapun saya sterilkan dari dunia sastra. Ketika saya menulis ada istri atau anak yang melihat saya stop atau menyuruhnya pergi. Saya tak mengajak anak sulung saya kemana-mana belajar berpuisi, berkenalan dengan sastrawan besar untuk koneksitas misalkan, saya tak melakukan itu, hal yang sangat lazim dilakukan oleh orang lain terutama dalam seni tradisi. Berpuisi menurut saya adalah pilihan sadar seseorang, dan bagi saya habis aqil balik anak saya boleh berpuisi seperti bapaknya. Jadi saya tak bisa semena-mena menarik anak ke dalam dunia saya, ini menyangkut psikologi dia. Tapi, walau saya sterilkan, saya pernah melihat puisinya di mading sekolahnya SMP Al Islam yang menurut saya cukup baik. Ia juga suka menggambar.
Saya pernah melihat Mas Leak pentas di Teater Arena TBS membawakan puisi yang telah anda “naiki” hingga ke Jerman, boleh cerita?
Puisi itu berjudul Phobia, kucipta tahun 2003. Mas Willy (panggilan Rendra) menyukai puisi itu dan karenanya menyebutku sebagai Penyair Gelombang Baru, baru dalam arti membawa tema keterasingan manusia akibat perkembangan teknologi komunikasi yang teramat cepat dan mewabah.
Boleh cerita awal mula perjalanan anda ke Jerman?
Sebelumnya saya sudah sering main ke kantung-kantung kesenian, pada tahun 2002-2003 saya sering diundang ke Jakarta membacakan sajak dan monolog di gedung kesenian, kadang juda sama Mas Arswendo. Sering ketika di Jakarta saya tidur di Bengkel Teaternya Mas Willy yang di masa-masa itu ada kegiatan Poetry On The Road di Bremmen Jerman atau festival sastra Internasional. Ada beberapa nama penyair nasional seperti Joko Pinurbo, Afrizal Malna, Soetardji, dan lain-lain juga Matori Al-elwa. Saya dan Matori inilah yang diadu dan dari sekian penyair itu justru saya yang terpilih ke sana yang akhirnya berlanjut hingga sekarang.
Kenapa anda terpilih?
Muatan puisi saya dan hukum panggung yang saya jalankan dengan baik. Puisi itu ya yang ada di buku, tapi kalau di panggung ya harus menguasai hukum panggung dengan baik. Sebagaimana novel yang difilmkan. Isi novel dengan film yang berdasar novel itu bisa dan boleh saja berbeda. Puisi di buku dengan puisi di panggung bisa menjadi berbeda karena biar ngeh di hadapan penonton dalam rangka menguasai hukum panggung itu.
Melihat perkembangan puisi sekarang dibanding jaman anda dulu?
Puisi-puisi sekarang saya amati memang lebih bernas tapi tidak macth dengan kehidupan. Penyair menurut saya harus nyemplung dalam masyarakat. Puisi-puisi sekarang banyak berbahan baku dari buku, televisi, dan internet. Saya lebih berbahan baku kahanan dengan jalan lelaku, laku rasa. Kahanan adalah bahan baku utama, nomer satu, sedang buku, televisi dan internet itu yang kedua. Nyemplung ke masyarakat menghirup fenomenanya, rentetan kejadian, keluh kesahnya, pikiran-pikirannya juga alam raya ini yang sudah tak lagi bisa terprediksikan. Masa hujan masih berlangsung hingga bulan Juni padahal dalam teori April-Oktober harusnya sudah kemarau, seperti itu.
Saya merasa karya penulis puisi Solo masih kalah jauh dengan penulis puisi kota lain terutama Jogja dan Makasar, ini bisa dilihat setidaknya di koran minggu. Apa komentar anda?
Saya juga merasa demikian, tapi saya tak khawatir, mungkin memang ada jalan lain. Tapi melihat kondisi sastra yang ramai beberapa tahun terakhir ini juga para penyairnya itu adalah perjalanan yang benar mungkin yang perlu diperdalam adalah kepekaan membaca kahanan tadi. Melalui koran dan buku itu jalan yang benar, saya juga menempuhnya. Kadang ingin puisi saya dimuat koran ya seperti absen gitu, artinya seperti untuk memenuhi keinginan publik.
***
Sosiawan Leak lahir di Solo, 23 September 1967 dengan nama Sosiawan Budi Sulistio. Ia merampungkan kuliah di Administrasi Negara FISIP UNS Solo tahun 1994. Leak adalah panggilan dari teman-temannya ketika SMA karena bakat alaminya sebagai adventourir, mengelana, hingga beberapa kali ke Bali dengan nggandhul truk, dll.
Setelah mewawancarai beliau, saya dimintanya membuka blog kalau-kalau saya memerlukan hal lain. Benar juga, dalam blognya saya menemukan naskah lakon yang sangat sungguh asyik, banyolan-banyolannya nyentrik dan sebagian besar orisinil. Penyair yang suka bercocok tanam ini memang bergaul dengan semua model orang, tak terbatasi segmen apapun, bila dia disuruh memilih dia akan lebih menyukai bergaul dengan masyarakat lumrah, dan bukan dari kalangan sastrawan –yang pusingnya sama, katanya- dan dari hasil pergaulannya sangat jelas tampak, minimal, dalam lakon-lakon yang ia tulis dengan jernih, memikat, dan apa adanya.
Di blognya pula ada kisah menarik tentang perjalanannya selama di Jerman yang serba teratur dan penuh pelayanan terbaik yang didibandingkannya dengan Indonesia yang serba semrawut dan sangat merugikan konsumen.
Jika anda ingin lebih memperdalam mengenai profil kita kali ini atau kurang puas dengan sajian wawancara dan profil tulisan saya ini, silakan mengunjungi Blog Sosiawan Leak dan facebooknya.
Han Gagas, 7 Juni 2010
Beralas Sajadah Kutulis Puisi
Sosiawan Leak
timpuh di sajadah
kutulis sajak
tentang pelacuran,
pornografi dan kehidupan malam.
tapi tidak ada mesias apalagi tuhan
kitab suci terbakar bersama tembakan
dan huru hara kartun nabi.
timpuh di sajadah
kutulis sajak
tentang mata anakku yang terpejam
kecapaian di tengah malam
entah karena mimpi atau lantaran permainan siang hari
tentang wajah ibunya yang dirajang-rajang usia
lantaran pekerjaan rumah, kenekalanku yang meremaja
atau kesibukan kerja.
tapi tidak ada malaikat
surga terbakar kenaikan harga
neraka menggurita di mana-mana
di tiap trafick light dan pojok kota
merdeka dan sentosa!
kaki tangannya menjelma tuhan, nabi, kitab suci
juga malaikat dan surga
bahkan juga puisi, timpuh dan sajadah ini.
Pelangi Mojosongo, Solo, Maret 2006
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Ginandjar Wiludjeng
A. Junianto
A. Kurnia
A. Qorib Hidayatullah
A. Yusrianto Elga
A.S Laksana
A’yat Khalili
Aang Fatihul Islam
Abdul Azis Sukarno
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi WM
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Malik
Abdul Razak
Abdul Rosyid
Abdul Wahab
Abdurrahman Wahid
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adam Chiefni
Ade P. Nasution
Adhitia Armitriant
Adi Prasetyo
Adrizas
AF. Tuasikal
Afriza Hanifa
Afrizal Malna
Agama Para Bajingan
Agnes Rita Sulistyawaty
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Buchori
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahmad Baso
Ahmad Faishal
Ahmad Fatoni
Ahmad Hasan MS
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Khotim Muzakka
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Naufel
Ahmad Rofiq
Ahmad S. Zahari
Ahmad Syauqi Sumbawi
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ahsanu Nadia
Aini Aviena Violeta
Ainul Fiah
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sekhu
Akhmad Sofyan Hadi
Akhmad Taufiq
Akhudiat
Akmal Nasery Basral
Alam Terkembang
Alang Khoiruddin
Alex R. Nainggolan
Alfian Dippahatang
Ali Audah
Ali Mahmudi CH
Ali Rif’an
Almania Rohmah
Ami Herman
Amien Wangsitalaja
Aminah
Aminullah HA.Noor
Amir Sutaarga
Anam Rahus
Anata Siregar
Andari Karina Anom
Andina Dwifatma
Andong Buku #3
Andre Mediansyah
Andri Awan
Anett Tapai
Anggie Melianna
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anjrah Lelono Broto
Anton Bae
Anton Kurnia
Anton Wahyudi
Anwar Nuris
Ardi Bramantyo
Ardus M Sawega
Arie MP Tamba
Arie Yani
Arief Joko Wicaksono
Arief Junianto
Ariera
Arif Bagus Prasetyo
Aris Kurniawan
Arman A.Z.
Arswendo Atmowiloto
Arti Bumi Intaran
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Asmaul Fauziyah
Asti Musman
Atafras
Awalludin GD Mualif
Ayu Wulan Sari
Aziz Abdul Gofar
Azizah Hefni
Bagus Takwin
Bahrul Ulum A. Malik
Balada
Bale Aksara
Balok Sf
Bambang Kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Beni Setia
Benny Arnas
Benny Benke
Beno Siang Pamungkas
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita
Berita Duka
Berita Koran
Bernando J Sujibto
Berthold Damshauser
BI Purwantari
Binhad Nurrohmat
Bobby Gunawan
Bonari Nabonenar
Brunel University London
Budaya
Budi Darma
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Burhanuddin Bella
Camelia Mafaza
Catatan
Cerbung
Cerpen
Chairul Akhmad
Chamim Kohari
Chavchay Syaifullah
Cover Buku
Cucuk Espe
D. Zaini Ahmad
D. Zawawi Imron
Dadang Ari Murtono
Dahta Gautama
Daisuke Miyoshi
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Danusantoso
Dareen Tatour
Darju Prasetya
David Kuncara
Denny Mizhar
Denza Perdana
Desi Sommalia Gustina
Desiana Medya A.L
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dewi Indah Sari
Dewi Susme
Dian Sukarno
Didik Harianto
Didik Kusbiantoro
Dina Jerphanion
Dina Oktaviani
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur
Dipo Handoko
Diyah Errita Damayanti
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Doddy Wisnu Pribadi
Dody Kristianto
Dody Yan Masfa
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dorothea Rosa Herliany
Dr Junaidi SS MHum
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi Wiyana
Dyah Ratna Meta Novia
Dyah Sulistyorini
Ecep Heryadi
Eddy Pranata PNP
Edeng Syamsul Ma’arif
Eep Saefulloh Fatah
EH Kartanegara
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Hendrawan Sofyan
Eko Hendri Saiful
Eko Windarto
Elnisya Mahendra
Elva Lestary
Emha Ainun Nadjib
Emil WE
Endah Sulwesi
Endo Suanda
Eppril Wulaningtyas R
Esai
Evan Ys
F. Moses
F. Rahardi
Fadlillah Malin Sutan
Fahmi Faqih
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Kurnianto
Fanani Rahman
Fanny Chotimah
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Febby Fortinella Rusmoyo
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Gabriel Garcia Marquez
Galang Ari P.
Galuh Tulus Utama
Gampang Prawoto
Gandra Gupta
Ganug Nugroho Adi
Gerson Poyk
Ghassan Kanafani
Gita Nuari
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gunoto Saparie
H.B. Jassin
Habibullah
Hadi Napster
Hadriani Pudjiarti
Halim HD
Halimi Zuhdy
Hamberan Syahbana
Han Gagas
Hanibal W. Y. Wijayanta
Hardi
Haris del Hakim
Haris Saputra
Harri Ash Shiddiqie
Hartono Harimurti
Hary B Kori’un
Hasan Aspahani
Hasan Junus
Hasif Amini
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
HE. Benyamine
Hendra Junaedi
Hendra Makmur
Heri CS
Heri Latief
Heri Listianto
Herman RN
Herry Lamongan
Heru CN
Heru Nugroho
Hikmat Gumelar
HL Renjis Magalah
Hudan Nur
Hujuala Rika Ayu
Huminca Sinaga
IBM. Dharma Palguna
Ibnu Wahyudi
Ida Farida
Idris Pasaribu
Ignas Kleden
Ignatius Haryanto
Iksan Basoeky
Ilham Khoiri
Imam Cahyono
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indiar Manggara
Indra Intisa
Indra Tjahyadi
Indra Tranggono
Indrian Koto
Ira Puspitaningsih
Irfan Budiman
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Iskandar Zulkarnain
Ismail Marzuki
Iva Titin Shovia
Iwan Kurniawan
Jabbar Abdullah
Jafar Fakhrurozi
Jalan Raya Simo Sungelebak
Jamal D. Rahman
Jamal T. Suryanata
Javed Paul Syatha
Jayaning S.A
JILFest 2008
Jody Setiawan
Johan Edy Raharjo
Johannes Sugianto
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Jual Buku
Jual Buku Paket Hemat
Juan Kromen
Julika Hasanah
Jurnalisme Sastrawi
Jusuf AN
Juwairiyah Mawardy
Ka’bati
Karanggeneng
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Keith Foulcher
Kemah Budaya Panturan (KBP)
Khansa Arifah Adila
Khoirul Inayah
Khoirul Rosyadi
Khudori Husnan
Ki Ompong Sudarsono
Kirana Kejora
Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Sastra Ilalang Indonesia
Korrie Layun Rampan
Kostela
Kritik Sastra
Kukuh S Wibowo
Kurnia Effendi
Kurniawan
Kuswaidi Syafi'ie
L.N. Idayanie
Laili Rahmawati
Lamongan
Lan Fang
Langgeng Widodo
Lathifa Akmaliyah
Leila S. Chudori
Lely Yuana
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Liestyo Ambarwati Khohar
Lina Kelana
Linda Sarmili
Liza Wahyuninto
Lucia Idayanie
Lukman A Sya
Lutfiah
Lynglieastrid Isabellita
M Arman AZ
M Ismail
M Thobroni
M. Afifuddin
M. Arwan Hamidi
M. Lukluk Atsmara Anjaina
M. Lutfi
M. Luthfi Aziz
M. Nurdin
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.S. Nugroho
Mahendra Cipta
Mahmud Jauhari Ali
Mahmud Syaltut Usfa
Mahmudi Arif Dahlan
Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Martin Aleida
Maruli Tobing
Mas Ruscita
Mashuri
Masuki M. Astro
Matroni
Matroni Muserang
Media: Crayon on Paper
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
MG. Sungatno
Mh Zaelani Tammaka
Mia Arista
Mia El Zahra
Mikael Johani
Misbahus Surur
Misran
Mohamad Ali Hisyam
Mohammad Eri Irawan
Much. Khoiri
Muh. Muhlisin
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Aris
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Rain
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun
Muhammadun AS
Muhidin M Dahlan
Mujtahid
Mujtahidin Billah
Mukti Sutarman Espe
Mulyadi SA
Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik
Munawir Aziz
Musfarayani
Musfi Efrizal
Nafisatul Husniah
Nandang Darana
Naskah Teater
Nelson Alwi
Ni Made Purnamasari
Nikmatus Sholikhah
Nina Herlina Lubis
Nina Susilo
Ning Elia
Noor H. Dee
Noval Jubbek
Novel-novel berbahasa Jawa
Novelet
Nunuy Nurhayati
Nur Azizah
Nur Hamzah
Nur Kholiq
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nurul Aini
Nurul Anam
Nurul Komariyah
Nuryana Asmaudi SA
Nyoman Tusthi Eddy
Obrolan
Okty Budiati
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Otto Sukatno CR
Oyos Saroso H.N.
Pagan Press
Pagelaran Musim Tandur
Palupi Panca Astuti
Parimono V / 40 Plandi Jombang
Pawang Surya Kencana
PDS H.B. Jassin
Petrus Nandi
Politik
Politik Sastra
Pradana Boy ZTF
Pramoedya Ananta Toer
Pramono
Pringadi AS
Prof Dr Fabiola D. Kurnia
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Puji Tyasari
Puput Amiranti N
Purnawan Andra
Purnawan Kristanto
Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin
Pustaka Ilalang Group
PUstaka puJAngga
Putu Wijaya
Qaris Tajudin
R. Ng. Ronggowarsito
Rachmad Djoko Pradopo
Radhar Panca Dahana
Rahmat Kemat Hidayatullah
Rahmat Sularso Nh
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rasanrasan Boengaketji
Raudal Tanjung Banua
Redland Movie
Reiny Dwinanda
Resensi
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Riki Dhamparan Putra
Riki Utomi
Ririe Rengganis
Risang Anom Pujayanto
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Roso Titi Sarkoro
Rozi Kembara
Rukardi
Rumah Budaya Pantura (RBP)
Rusmanadi
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Saiful Amin Ghofur
Saiful Anam
Sainul Hermawan
Sajak
Salamet Wahedi
Salman S. Yoga
Samsudin Adlawi
Samsul Anam
Sanggar Lukis Alam
Sanggar Pasir
Sanggar Rumah Ilalang KSII
Santi Puji Rahayu
Sapardi Djoko Damono
Saroni Asikin
Sartika Dian Nuraini
Sastra dan Kuasa Simbolik
Sastra Jawa Timur
Satmoko Budi Santoso
Saut Situmorang
Sayyid Fahmi Alathas
SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang
SelaSastra Boenga Ketjil
SelaSastra Boenga Ketjil #33
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Setia Naka Andrian
Shiny.ane el’poesya
Sholihul Huda
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sinopsis
Siti Khoeriyah
Siti Muyassarotul Hafidzoh
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputra
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Soegiharto
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sosiawan Leak
Spectrum Center Press
Sri Weni
Sri Wintala Achmad
Suci Ayu Latifah
Sucipto Hadi Purnomo
Sudirman
Sugi Lanus
Sukron Ma’mun
Sulaiman Djaya
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sungging Raga
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Supriyadi
Surya Lesmana
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Suyanto
Syaf Anton Wr
Syaifuddin Gani
Syaiful Amin
Syarif Wadja Bae
Sylvianita Widyawati
TanahmeraH ArtSpace
Tarmuzie (1961-2019)
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Presetyo
Teguh Setiawan
Teguh Winarsho AS
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Tia Setiadi
Tirto Suwondo
Tita Tjindarbumi
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan
Tosa Poetra
Tri Nurdianingsih
Triyanto Triwikromo
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Tulus S
Ulul Azmiyati
Umar Fauzi
Umar Fauzi Ballah
Umar Kayam
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Universitas Jember
Usman Arrumy
Utari Tri Prestianti
Viddy AD Daery
Virdika Rizky Utama
W Haryanto
W.S. Rendra
Wahyu Prasetya
Wan Anwar
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wina Bojonegoro
Wita Lestari
Wong Wing King
Wowok Hesti Prabowo
Xu Xi (Sussy Komala)
Y. Thendra BP
Y. Wibowo
Yanusa Nugroho
Yasraf Amir Piliang
Yayat R. Cipasang
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yopi Setia Umbara
Yudhi Herwibowo
Yudi Latif
Yusri Fajar
Yusuf Ariel Hakim
Yuval Noah Harari
Zacky Khairul Uman
Zainuddin Sugendal
Zamakhsyari Abrar
Zawawi Se
Zed Abidien
Zehan Zareez
Zhaenal Fanani
Zubaidi Khan
Zuniest
Tidak ada komentar:
Posting Komentar