Fahrudin Nasrulloh*
http://www.sastra-indonesia.com/
Jejak dari Pojok Kampung
Ada persepsi miring dan kelam hingga kini ihwal gerakan Partai Komunis Indonesia. Pertarungan politik dan ideologi dari masa ke masa memiliki momentum masing-masing. Penistaan dan pengasingan eks PKI, atau yang berada di selingkungannya, baik keluarga maupun sanak saudara, tidak mendapatkan tempat di negeri ini. Peristiwa Gestapu 1965 seolah menggebyah semua itu, dan kesejarahan komunisme di Indonesia kian memerah.
Satu-satunya saksi di mana kita bisa belajar bersama adalah dengan apa semua itu terkabarkan dan tertuliskan. Yang terceritakan barangkali sudah jarang kita temukan, lebih-lebih bagi generasi muda sekarang. Saya termasuk generasi yang lahir pada 1970-an yang di masa kecil saya benar-benar dihantui akan cerita-cerita “lubang buaya”. Terutama saat menonton film G 30S/PKI besutan Arifin C Noer itu. Umpatan giris “Darah itu merah, jendral!”, kala sosok perempuan di film itu mengayunkan silet di tangannya lantas mengiris pelan-pelan wajah sejumlah jendral, betapa masih terekam sampai sekarang. Lalu cerita-cerita itu bermunculan sendiri kala film tersebut usai atau di waktu lain saat jagongan dengan orang-orang tua tetangga saya yang mengalami masa gelap 1965 itu. Lek Ndani, diceritakan sebagai penjagal PKI dari barisan Anshor yang disokong TNI di Jombang. Ia pernah menangkap (dan banyak pula orang PKI yang telah dibantainya) dan menggeret seorang Gerwani (atau yang disangkanya Gerwani) ke pinggir pohonan pring di belakang rumahnya, di dekat persawahan. Gerwani itu dihajar disiksa, disiset kulitnya dalam sehari beberapa kali, agar ia bicara, agar ia bersuara. Tapi tidak. Lek Ndani pun mengajak tetangganya untuk melakukan hal yang sama, sesukanya dengan alat apa saja. Dalam waktu 3 hari yang perih-panas menyayat kuping, Gerwani itu mati, dan sekarang ia menjadi cerita setan yang gentayangan yang di malam-malam tertentu menghantui orang-orang yang lewat di situ.
Cerita itu menjadi “daging” memori yang tak pernah hilang. Penyembelihan dan pembantaian yang serupa ini banyak terjadi juga di daerah mana saja. Tidak hanya di buku-buku sejarah. Adik kakek saya, Man Lik, tinggal di kampung Njajar Santren, semasa hidupnya sangat bergelora dengan jiwa berjihad kala membabarkan pengalamannya tersebut kepada saya saat dia di Anshor dulu. Ia bersama 2 atau 3 temannya ditugasi menjagal orang-orang PKI (atau eks yang disangka PKI) yang kebanyakan terdiri dari para perempuan dan anak-anak. Ilmu kesaktian dan aji-aji kekebalan mereka tidak lagi diragukan. “Ada Gerwani yang hamil tua. Tapi ia harus disembelih. Agar saya tega dan tidak dihantuinya, maka, setelah menggorok dan memutuskan lehernya, saya angkat potongan kepala itu tinggi-tinggi, lalu darah mengucur deras dan saya mengglogoknya hingga tetes terakhir,” begitu ceritanya.
Di daerah kecamatan Wonosalam yang berhutan, di Jombang, yang kaya akan buah duren pertaniannya, diceritakan merupakan markas tentara dan simpatisan PKI dan menjadi tempat persembunyian pasca kegagalan Gestapu. Pun cerita Ludruk Arum Dalu dari Mojoagung yang merupakan underbow-nya Lekra yang disikat habis Anshor dan TNI di tahun 1965. Dalam penelitian ludruk Jombang yang kini sedang saya kerjakan, hampir kurang lebih 2 tahunan sejak 2008 saya belum menemukan seorang pun narasumber terpercaya dari anggota ludruk tersebut.
Cerita macam itu terus merayap dari telinga ke telinga. Berlelayapan sendiri. Seperti kabar burung tanpa sayap. Yang fakta bisa jadi fiksi, yang fiksi tiba-tiba bisa jadi fakta. Atau mungkin berada di tengah-tengahnya. Lek Ndani, Man Lik, dan orang-orang tua tetangga saya, beberapa sesepuh ludruk Jombang yang lamat-lamat mengingat tragedi Ludruk Arum Dalu adalah contoh dari sepersekian cerita yang berserak dari peta sejarah pergolakan politik-ideologi di negeri ini yang luput tercatat.
Obor Pemberontakan PKI 1926
Mereka yang tersunyikan dan terbisukan. Dan para eksil juga sastrawan Lekra, hanyalah bagian kecil yang mencoba menyuarakan kebisuan dan kesunyian itu. Misalnya Pramoedya Ananta Toer dengan karya-karyanya. Namun yang perlu kita cermati adalah pergerakan PKI yang melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Hindia Belanda dan antek-anteknya pada 12 Desember 1926. Ini menjadi tonggak penting dalam kesejarahan perjuangan Indonesia melawan imperialisme bahkan sebelum munculnya Sumpah Pemuda 1928. Dan peran sastra yang disorong para penulis komunis masa itu membuktikannya.
Pemberontakan 1926 telah menjadi catatan sejarah tersendiri dan dapat kita hikmati dalam kumpulan cerpen dan puisi Gelora Api 26 (Ultimus, Bandung: 2010). Sejumlah cerpenis tertoreh di sana: Zubir.A.A., Agam Wispi, Sugiarti Siswadi, S. Anantaguna, T. Iskandar A.S., A. Kembara. Sedang para penyairnya ada Alifdal, Chalik Hamid, Anantya, Nurdiana, Mahyuddin, Mawie Ananta Jonie, M. D. Ani, dan Z. Afif. Seperti cerpen berjudul “Sukaesih” karya sugiarti Siswadi, yang dibuka dengan baris-baris ini:
Darah siapakah yang menggenang merah
membasahi bumi priangan?
Ah, itulah darah Haji Hasan
dipotong seanak-bininya…
dan si perampok berkulit putih
mengamankan goloknya
Cerpen tersebut, dengan balutan estetika realis, mengisahkan secara apa adanya akan kegigihan seorang Sukaesih dalam menjalankan tugas-tugasnya sebagai komunis tulen. Dalam cerpen Agam Wispi “Rapat yang Penghabisan”, ia melukiskan tokoh-tokohnya yang sehabis melakukan rapat ditangkapi polisi Belanda. Yang menarik juga, tokoh komunis perempuan, Upik, yang cantik tapi bisu dengan kalimat: “Kecantikan yang menggoda dan kebisuan yang gelap hanyalah riak di permukaan air bagi mereka yang tak mengenalnya.” Tokoh Upik inilah, yang tetap bertahan menyimpan semua ingatan dari kegagalan rapat partai. Puisi-puisi di dalamnya menyiratkan slogan dan yel-yel perjuangan. Misalnya Anantya, dengan puisi “Mengangkat Tinggi Panjimu”. Puisi ini melukiskan gigihnya perjuangan yang akhirnya berujung kegagalan, namun si penyair tetap berseru: “Obor yang dinyalakan di malam gelap gulita ini, Kami serahkan kepada angkatan kemudian.” Dan puisi Nurdiana “November Bulan Historis” memuncaki pergolakan batinnya dengan penggalan bait puisi yang terakhir: Pemberontakan tahun dua enam, Sangkakala revolusi Indonesia!
Tanah Merah Boven Digul
Pemberontakan PKI tahun 1926-1927 yang gagal terhadap pemerintahan Hindia Belanda mengakibatkan banyak pejuang PKI yang diasingkan ke Boven Digul, di rimba raya Irian. Koesalah Soebagyo Toer memberi kesaksian dalam bukunya Tanah Merah yang Merah: Sebuah Catatan Sejarah (Ultimus, Bandung: 2010). Tan Malaka menyesalkan pemberontakan yang belum matang itu. Juga Stalin yang meminta agar pemberontakan itu dibatalkan setelah ia mendapatkan laporan dan Muso dan Alimin. Tapi pemberontakan itu tetap dilancarkan, dan memang benar-benar diporak-porandakan. Kegagalan ini wajar, Vladimir Lenin dengan partainya juga berkali-kali hancur sebelum sukses besar dengan revolusi sosialisnya tahun 1917. Fidel Castro pun juga pernah mengalami kehancuran bertubi-tubi, sebelum ia bangkit kembali menancapkan revolusi sosialnya yang pertama kali di benua Amerika tahun 1959.
Akibat besar dari kegagalan pemberontakan PKI 1926 sebagaimana yang ditulis Koesalah adalah harga mati yang mau tidak mau harus dibayar oleh mereka-mereka yang dibuang ke Digul. Menurut Darman, anak Digul putra Dardiri Soeromidjojo, perlawanan tersebut adalah pemberontakan nasional Indonesia yang pertama menentang kekuasaan kolonial Belanda. Persiapannya dilakukan di seluruh wilayah Indonesia: tidak hanya di Jawa, Sumatra, tapi juga di Sulawesi, Kalimantan, Maluku, dan Nusa Tenggara. Kendati semua itu dapat ditekuk Belanda. Kehidupan para tawanan di Digul, seperti digambarkan Rudolf Mrazek dan Takashi Shiraishi, benar-benar merusak. Merusak segala sendi kenormalan. “Rumah sakit gila”, terjangan malaria, TBC, kuburan impen-impen nasionalisme, pembuntungan cita-cita politik yang tak dapat lagi dipertahankan: dan itulah yang diharapkan Gubernur Jendral de Graeff.
Catatan sejarah Soebagyo tersebut mengingatkan kita pada pengalaman pahit I.F.M. Chalid Salim, adik H. Agus Salim, di Tanah Merah dalam bukunya Lima Belas Tahun Digul: Tempat Persemaian Kemerdekaan Indonesia (Bulan Bintang, Jakarta: 1977), dan pertama kali diterbitkan penerbit Contact dalam bahasa Belanda tahun 1973. Sejarah kamp konsentrasi Hindia Belanda ini bahkan jarang ditulis oleh orang Belanda. Karya Balans van Beleid yang ditulis Baudet dan Brugmans, hanya sepintas lalu menyebut Digul. Padahal sejarah kamp Digul yang terentang sejak 1928 sampai 1943 bisa menyibak banyak hal dalam kesejarahan Hindia Belanda dan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Selain Salim dan catatan sejarahnya itu, ada sosok Uska misalnya, yang bagi peneliti D. van der Meulen seperti yang dikutip W. Schermerhorn dalam mengapresiasi buku ini, lebih perih penderitaannya ketimbang yang diceritakan Salim. Meulen yang saat itu menjadi amtenar (pangreh praja) sempat bertemu Uska di Tanah Tinggi. “Ia digulis yang pantang menyerah. Ia tidak bisa ditaklukkan. Pada dirinya tersembunyi kepahitan, daripada jiwanya Salim,” kenangnya dalam karya yang ia tulis Ik Stond er Bij.
Digul bagi Salim adalah lambang perziarahan politik yang nyaris dilupakan Soekarno. Ia meratap dan minta ampun agar tidak dibuang ke Digul. Ini pengakuan Moh. Hatta, yang pernah jadi digulis bersama Sutan Syahrir. Belanda mengabulkan, dan mengasingkannya ke Flores, tentu dengan pertimbangan supaya si bung besar itu jiwanya “melembek”, dan tidak tambah berkobar bila ia didigulkan. Saat ia suatu hari terbang di atas tanah merah tahun 1963, ia hanya memberi penghormatan dari ketinggian udara, mungkin gentar dengan kamp neraka politik itu. Tapi Cindy Adams mencatat keharuan Soekarno: “Banyak komunis yang tubuhnya mengisi kuburan-kuburan tak bernama di Digul, mereka adalah pejoeang-pejoeang untuk kemerdekaan kita! Mereka tetap merupakan patriot besar!”
Karya-karya mantan digulis tidak sekedar catatan perjalanan, namun sebuah tindakan pembangkitan, sarana proletariat melawan kolonialisme, mengumpulkan jejak sejarah yang tercecer sebagai bandingan dari dokumen-dokumen Belanda yang sepihak. Agar suara-suara silam yang terbungkam terkubur, tidak disirnakan.
Dari Memoar Hingga Catatan Perjalanan
Kawula muda sekarang mungkin bertanya, komunisme itu apa? Tentu komunisme mengeram sejarah panjangnya sendiri. Boleh jadi gambaran entengnya seperti ini: “Sebelum menjadi apa-apa jadilah dulu seorang komunis”. ungkapan ini dirumuskan oleh generasi sosialis di kemudian hari yang disuling dari pemikiran seorang penyair sosialis Rusia, Nekrassov. Apa kiranya yang kita pahami tentang karya sastra yang dilahirkan dari ketegangan antara ideologi politik realisme sosialis dengan ideologi kapitalisme? Fakta sejarah baik berupa karya sastra, memoar, catatan perjalanan, maupun penelitian telah banyak mengabarkan kepada kita. Di antaranya adalah sebuah memoar yang berjudul Azalea: Hidup Mengejar Ijazah ( Klik Books, Jakarta: 2009) yang dianggit secara prosais oleh Asahan Alham, adik DN. Aidit dan Sobron Aidit. Nuansa petualangan romantik dengan latar tahun sekitar 1960-an ini padat-rinci dengan penghadiran tokoh sentral, Sulaiman. Pergolakan revolusioner kaum sosialis (PKI) hanya dijadikan lanskap, namun justru dari situlah kita dapat melihat sisi lain dan kepiawaian Asahan dalam mengolah kembali cerita-cerita masa lalunya.
Tatiana Lukman adalah seorang eksil dari pasangan M.H. Lukman (1920-1965) dengan Siti Niswati. Ayah Tatiana merupakan sosok penting di teras pimpinan PKI dan wakil ketua DPR Gotong Royong pada masa pemerintahan Presiden Soekarno di era 60-an. Sebagai anak dari tokoh PKI, Tatiana juga terkena imbas. Studinya di Tiongkok morat-marit dari tahun 1964-1966. Lalu pindah ke Kuba, kemudian ke Habana, Perancis, menjadi pengajar bahasa Perancis selama 12 tahun. Terakhir ia tinggal di Amsterdam, dan dari semua perjalanan itu ia terus mencatat kembara pengasingannya dalam bentuk novel Pantha Rhei dan memoar yang berjudul Pelangi (Ultimus, Bandung, 2010).
Kita juga bisa menyimak buku Perjalanan Jauh: Kisah Kehidupan Sepasang Pejuang (Ultimus, Bandung: 2010) karya M. Ali Chanafiah dan Salmiah Pane. Buku ini menceritakan perjalanan hidup mereka sebagai sepasang suami-istri yang ikut-andil dalam perjuangan kemerdekaan RI. Kisah tentang sebuah keluarga, dengan gaya penceritaan kakek-nenek kepada anak-cucunya. Sosok Pak Ali, yang pernah menjabat sebagai Duta Besar RI di Srilanka pada 1965, lebih cenderung sebagai pendidik, ketimbang politikus, sebagaimana yang dituturkan Asvi Varman Adam dalam pengantarnya. Ia pernah berjumpa dengan Pak Karno secara intens ketika proklamator itu diasingkan ke Bengkulu. Sedang istri Ali, Salmiah Pane, merupakan adik dari Sanusi Pane dan Armijn Pane, dua sosok yang tidak asing lagi dalam khazanah sastra Indonesia. Karya dari dua pengarang ini penting jadi bacaan yang berharga bagi masyarakat, untuk dapat meneladani kegigihan, watak kebangsaan, ketabahan, dan perjuangan nasionalisme yang tak kenal lelah.
Peran Sastra Realisme Sosialis dan Sastra Kita Kini
Tema kerakyatan dan spirit revolusiner dalam karya sastra realisme sosialis adalah “sastra keterlibatan” yang penuh seluruh terhadap kecamuk problematik kehidupan. Kendati kebenaran realisme sosialis yang diperjuangkan oleh sastrawannya adalah kebenaran doktriner sebagaimana yang ditancapkan Marxisme-Leninisme. Tapi itu hanyalah salah satu jalan. Watak berkarya mereka demi membangun militansi mempertahankan kemandirian berpikir dan mengembangkan antikapitalisme internasional. Tidak kenal kompromi, tak kenal menyerah. Ini terlukis dalam pemikiran Maxim Gorki, lewat novelnya Ibunda, menjadikan tonggak penting realisme sosialis dalam seni dan gagasan menatap hari depan, tidak patah arang sebab tangisan dan rengekan, melainkan bahwa cita-cita dan idealisme harus diperjuangkan dan terus dibangkitkan. Gorki sebagai sastrawan terkemuka Rusia tak memencilkan diri di menara gading, juga tak nyebut diri “pengarang murni”, yang hanya mau tahu dirinya sendiri. Sastra yang tidak hanya untuk sastra, namun keterlibatan sastrawan dengan kenyataan riil, misalnya politik, adalah suatu keharusan. “1001 kali seniman tidak berpolitik, 1001 kali pula politik akan mencampuri seniman,” demikian ungkapan tokoh Lekra Joebaar Ajeob.
Maka seniman harus tahu dan memahami politik, sejarah, dan ekses dari pengaruh luar yang menggerogoti nasionalisme dan watak kebudayaan bangsanya. Ia tak musti masuk partai. Tak alergi dengan politik. Kita bisa merujuk hal-ihwal karya yang bersinggungan dengan itu misalnya pada Komedi Manusia karya Balzac, Anak Revolusi karya Balfas, sajak “Diponegoro” karya Chairil Anwar, Percikan Revolusi dan Di Tepi Kali Bekasi karya Pamoedya Ananta Toer, Rasa Mardika karya Marco Kartodikromo, puisi “Elegi Jakarta” karya Rivai Apin, dan lain-lain. Sastra harus mempunyai fungsi sosial, mengabdi pada rakyat, dan beroriantasi dialektik dengan kenyataan, bahkan dapat diterapkan dalam kepartaian, seperti gagasan Lenin tahun 1905, untuk menjadi bagian penyokong mekanisme sosial-demokratik.
Bagaimana dengan sastra dan pengarang-pengarang muda saat ini? Tentu bukan sekadar merayakan dan mengurusi diri sendiri dalam kebebasan berkarya, dan tantangan itu sekarang lebih kompleks dan tersamar, di mana kini media teknologi kian canggih (fenomena bersastra via facebook misalnya), ruang dan kesempatan berdiskusi kecil-kecilan mengudar aneka gagasan makin sempit dan mahal, yang mana semua pergeseran itu dengan sendirinya melahirkan eksklusivitas, kejumudan, dan kepicikan.
Pada beberapa karya yang disinggung di atas, obor revolusiner seolah-olah tak pernah padam, sebab begitulah percampuhan manusia di jamannya. Ada sesuatu yang harus dinyalakan sendiri bagi tiap pengarang di masa kini, agar karya sastra mampu berperan konstruktif dan turut membangun masyarakatnya, tanpa kehilangan estetika sebagai landasan kreatifitasnya.
—
*Fahrudin Nasrulloh, bergiat di Komunitas Lembah Pring Jombang.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Ginandjar Wiludjeng
A. Junianto
A. Kurnia
A. Qorib Hidayatullah
A. Yusrianto Elga
A.S Laksana
A’yat Khalili
Aang Fatihul Islam
Abdul Azis Sukarno
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi WM
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Malik
Abdul Razak
Abdul Rosyid
Abdul Wahab
Abdurrahman Wahid
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Adam Chiefni
Ade P. Nasution
Adhitia Armitriant
Adi Prasetyo
Adrizas
AF. Tuasikal
Afriza Hanifa
Afrizal Malna
Agama Para Bajingan
Agnes Rita Sulistyawaty
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Buchori
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahmad Baso
Ahmad Faishal
Ahmad Fatoni
Ahmad Hasan MS
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Khotim Muzakka
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Naufel
Ahmad Rofiq
Ahmad S. Zahari
Ahmad Syauqi Sumbawi
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ahsanu Nadia
Aini Aviena Violeta
Ainul Fiah
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sekhu
Akhmad Sofyan Hadi
Akhmad Taufiq
Akhudiat
Akmal Nasery Basral
Alam Terkembang
Alang Khoiruddin
Alex R. Nainggolan
Alfian Dippahatang
Ali Audah
Ali Mahmudi CH
Ali Rif’an
Almania Rohmah
Ami Herman
Amien Wangsitalaja
Aminah
Aminullah HA.Noor
Amir Sutaarga
Anam Rahus
Anata Siregar
Andari Karina Anom
Andina Dwifatma
Andong Buku #3
Andre Mediansyah
Andri Awan
Anett Tapai
Anggie Melianna
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anjrah Lelono Broto
Anton Bae
Anton Kurnia
Anton Wahyudi
Anwar Nuris
Ardi Bramantyo
Ardus M Sawega
Arie MP Tamba
Arie Yani
Arief Joko Wicaksono
Arief Junianto
Ariera
Arif Bagus Prasetyo
Aris Kurniawan
Arman A.Z.
Arswendo Atmowiloto
Arti Bumi Intaran
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Asmaul Fauziyah
Asti Musman
Atafras
Awalludin GD Mualif
Ayu Wulan Sari
Aziz Abdul Gofar
Azizah Hefni
Bagus Takwin
Bahrul Ulum A. Malik
Balada
Bale Aksara
Balok Sf
Bambang Kempling
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Beni Setia
Benny Arnas
Benny Benke
Beno Siang Pamungkas
Bentara Budaya Yogyakarta
Berita
Berita Duka
Berita Koran
Bernando J Sujibto
Berthold Damshauser
BI Purwantari
Binhad Nurrohmat
Bobby Gunawan
Bonari Nabonenar
Brunel University London
Budaya
Budi Darma
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Burhanuddin Bella
Camelia Mafaza
Catatan
Cerbung
Cerpen
Chairul Akhmad
Chamim Kohari
Chavchay Syaifullah
Cover Buku
Cucuk Espe
D. Zaini Ahmad
D. Zawawi Imron
Dadang Ari Murtono
Dahta Gautama
Daisuke Miyoshi
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Danusantoso
Dareen Tatour
Darju Prasetya
David Kuncara
Denny Mizhar
Denza Perdana
Desi Sommalia Gustina
Desiana Medya A.L
Dewan Kesenian Lamongan (DKL)
Dewi Indah Sari
Dewi Susme
Dian Sukarno
Didik Harianto
Didik Kusbiantoro
Dina Jerphanion
Dina Oktaviani
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur
Dipo Handoko
Diyah Errita Damayanti
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Doddy Wisnu Pribadi
Dody Kristianto
Dody Yan Masfa
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dorothea Rosa Herliany
Dr Junaidi SS MHum
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi Wiyana
Dyah Ratna Meta Novia
Dyah Sulistyorini
Ecep Heryadi
Eddy Pranata PNP
Edeng Syamsul Ma’arif
Eep Saefulloh Fatah
EH Kartanegara
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Hendrawan Sofyan
Eko Hendri Saiful
Eko Windarto
Elnisya Mahendra
Elva Lestary
Emha Ainun Nadjib
Emil WE
Endah Sulwesi
Endo Suanda
Eppril Wulaningtyas R
Esai
Evan Ys
F. Moses
F. Rahardi
Fadlillah Malin Sutan
Fahmi Faqih
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Fajar Kurnianto
Fanani Rahman
Fanny Chotimah
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Febby Fortinella Rusmoyo
Felix K. Nesi
Festival Sastra Gresik
Gabriel Garcia Marquez
Galang Ari P.
Galuh Tulus Utama
Gampang Prawoto
Gandra Gupta
Ganug Nugroho Adi
Gerson Poyk
Ghassan Kanafani
Gita Nuari
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gunoto Saparie
H.B. Jassin
Habibullah
Hadi Napster
Hadriani Pudjiarti
Halim HD
Halimi Zuhdy
Hamberan Syahbana
Han Gagas
Hanibal W. Y. Wijayanta
Hardi
Haris del Hakim
Haris Saputra
Harri Ash Shiddiqie
Hartono Harimurti
Hary B Kori’un
Hasan Aspahani
Hasan Junus
Hasif Amini
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
HE. Benyamine
Hendra Junaedi
Hendra Makmur
Heri CS
Heri Latief
Heri Listianto
Herman RN
Herry Lamongan
Heru CN
Heru Nugroho
Hikmat Gumelar
HL Renjis Magalah
Hudan Nur
Hujuala Rika Ayu
Huminca Sinaga
IBM. Dharma Palguna
Ibnu Wahyudi
Ida Farida
Idris Pasaribu
Ignas Kleden
Ignatius Haryanto
Iksan Basoeky
Ilham Khoiri
Imam Cahyono
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indiar Manggara
Indra Intisa
Indra Tjahyadi
Indra Tranggono
Indrian Koto
Ira Puspitaningsih
Irfan Budiman
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Iskandar Zulkarnain
Ismail Marzuki
Iva Titin Shovia
Iwan Kurniawan
Jabbar Abdullah
Jafar Fakhrurozi
Jalan Raya Simo Sungelebak
Jamal D. Rahman
Jamal T. Suryanata
Javed Paul Syatha
Jayaning S.A
JILFest 2008
Jody Setiawan
Johan Edy Raharjo
Johannes Sugianto
Joko Pinurbo
Joko Sandur
Joni Ariadinata
Jual Buku
Jual Buku Paket Hemat
Juan Kromen
Julika Hasanah
Jurnalisme Sastrawi
Jusuf AN
Juwairiyah Mawardy
Ka’bati
Karanggeneng
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Keith Foulcher
Kemah Budaya Panturan (KBP)
Khansa Arifah Adila
Khoirul Inayah
Khoirul Rosyadi
Khudori Husnan
Ki Ompong Sudarsono
Kirana Kejora
Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Sastra Ilalang Indonesia
Korrie Layun Rampan
Kostela
Kritik Sastra
Kukuh S Wibowo
Kurnia Effendi
Kurniawan
Kuswaidi Syafi'ie
L.N. Idayanie
Laili Rahmawati
Lamongan
Lan Fang
Langgeng Widodo
Lathifa Akmaliyah
Leila S. Chudori
Lely Yuana
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Liestyo Ambarwati Khohar
Lina Kelana
Linda Sarmili
Liza Wahyuninto
Lucia Idayanie
Lukman A Sya
Lutfiah
Lynglieastrid Isabellita
M Arman AZ
M Ismail
M Thobroni
M. Afifuddin
M. Arwan Hamidi
M. Lukluk Atsmara Anjaina
M. Lutfi
M. Luthfi Aziz
M. Nurdin
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.S. Nugroho
Mahendra Cipta
Mahmud Jauhari Ali
Mahmud Syaltut Usfa
Mahmudi Arif Dahlan
Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Martin Aleida
Maruli Tobing
Mas Ruscita
Mashuri
Masuki M. Astro
Matroni
Matroni Muserang
Media: Crayon on Paper
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
MG. Sungatno
Mh Zaelani Tammaka
Mia Arista
Mia El Zahra
Mikael Johani
Misbahus Surur
Misran
Mohamad Ali Hisyam
Mohammad Eri Irawan
Much. Khoiri
Muh. Muhlisin
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Amin
Muhammad Aris
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Rain
Muhammad Taufiqurrohman
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun
Muhammadun AS
Muhidin M Dahlan
Mujtahid
Mujtahidin Billah
Mukti Sutarman Espe
Mulyadi SA
Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik
Munawir Aziz
Musfarayani
Musfi Efrizal
Nafisatul Husniah
Nandang Darana
Naskah Teater
Nelson Alwi
Ni Made Purnamasari
Nikmatus Sholikhah
Nina Herlina Lubis
Nina Susilo
Ning Elia
Noor H. Dee
Noval Jubbek
Novel-novel berbahasa Jawa
Novelet
Nunuy Nurhayati
Nur Azizah
Nur Hamzah
Nur Kholiq
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nurul Aini
Nurul Anam
Nurul Komariyah
Nuryana Asmaudi SA
Nyoman Tusthi Eddy
Obrolan
Okty Budiati
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Otto Sukatno CR
Oyos Saroso H.N.
Pagan Press
Pagelaran Musim Tandur
Palupi Panca Astuti
Parimono V / 40 Plandi Jombang
Pawang Surya Kencana
PDS H.B. Jassin
Petrus Nandi
Politik
Politik Sastra
Pradana Boy ZTF
Pramoedya Ananta Toer
Pramono
Pringadi AS
Prof Dr Fabiola D. Kurnia
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Puji Tyasari
Puput Amiranti N
Purnawan Andra
Purnawan Kristanto
Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin
Pustaka Ilalang Group
PUstaka puJAngga
Putu Wijaya
Qaris Tajudin
R. Ng. Ronggowarsito
Rachmad Djoko Pradopo
Radhar Panca Dahana
Rahmat Kemat Hidayatullah
Rahmat Sularso Nh
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rasanrasan Boengaketji
Raudal Tanjung Banua
Redland Movie
Reiny Dwinanda
Resensi
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Riki Dhamparan Putra
Riki Utomi
Ririe Rengganis
Risang Anom Pujayanto
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Roso Titi Sarkoro
Rozi Kembara
Rukardi
Rumah Budaya Pantura (RBP)
Rusmanadi
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Saiful Amin Ghofur
Saiful Anam
Sainul Hermawan
Sajak
Salamet Wahedi
Salman S. Yoga
Samsudin Adlawi
Samsul Anam
Sanggar Lukis Alam
Sanggar Pasir
Sanggar Rumah Ilalang KSII
Santi Puji Rahayu
Sapardi Djoko Damono
Saroni Asikin
Sartika Dian Nuraini
Sastra dan Kuasa Simbolik
Sastra Jawa Timur
Satmoko Budi Santoso
Saut Situmorang
Sayyid Fahmi Alathas
SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang
SelaSastra Boenga Ketjil
SelaSastra Boenga Ketjil #33
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Setia Naka Andrian
Shiny.ane el’poesya
Sholihul Huda
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sinopsis
Siti Khoeriyah
Siti Muyassarotul Hafidzoh
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputra
Siwi Dwi Saputro
Sjifa Amori
Slamet Rahardjo Rais
Soegiharto
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sosiawan Leak
Spectrum Center Press
Sri Weni
Sri Wintala Achmad
Suci Ayu Latifah
Sucipto Hadi Purnomo
Sudirman
Sugi Lanus
Sukron Ma’mun
Sulaiman Djaya
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sungging Raga
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Supriyadi
Surya Lesmana
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Suyanto
Syaf Anton Wr
Syaifuddin Gani
Syaiful Amin
Syarif Wadja Bae
Sylvianita Widyawati
TanahmeraH ArtSpace
Tarmuzie (1961-2019)
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Presetyo
Teguh Setiawan
Teguh Winarsho AS
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Tia Setiadi
Tirto Suwondo
Tita Tjindarbumi
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan
Tosa Poetra
Tri Nurdianingsih
Triyanto Triwikromo
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Tulus S
Ulul Azmiyati
Umar Fauzi
Umar Fauzi Ballah
Umar Kayam
Umbu Landu Paranggi
Universitas Indonesia
Universitas Jember
Usman Arrumy
Utari Tri Prestianti
Viddy AD Daery
Virdika Rizky Utama
W Haryanto
W.S. Rendra
Wahyu Prasetya
Wan Anwar
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wina Bojonegoro
Wita Lestari
Wong Wing King
Wowok Hesti Prabowo
Xu Xi (Sussy Komala)
Y. Thendra BP
Y. Wibowo
Yanusa Nugroho
Yasraf Amir Piliang
Yayat R. Cipasang
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yopi Setia Umbara
Yudhi Herwibowo
Yudi Latif
Yusri Fajar
Yusuf Ariel Hakim
Yuval Noah Harari
Zacky Khairul Uman
Zainuddin Sugendal
Zamakhsyari Abrar
Zawawi Se
Zed Abidien
Zehan Zareez
Zhaenal Fanani
Zubaidi Khan
Zuniest
Tidak ada komentar:
Posting Komentar